Category Archives: Stories

Aku Tak Mau Pulang, Nick

AkuTak Mau Pulang, Nick

 

Jam menunjukkan pukul sembilan malam, ketika dokter Nick Woodward meninggalkan Rumah Sakit. Matahari musim panas yang belum sempurna tenggelam menyambutnya ramah.  Dengan santai Nick mengendarai mobil sport berwarna biru metalik di sepanjang pinggiran danau Erie yang telah mulai sepi dari pecinta ski air. Angin hangat berhembus lembut lewat di atas kepala Nick dan mempermainkan rambut pirangnya. Sekilas Nick melirik wajahnya lewat kaca spion. Wajah itu masih tetap tampan walau sudah ada kerut-kerut halus di sekitar mata dan bibirnya. Nick tersenyum.

‘Aku sudah mulai tua,’ gumamnya bangga.

Nick memperlambat mobilnya ketika memasuki Theresia Street.  Dari jalan ini biasanya dia dapat melihat Sita, anaknya sedang duduk di balkon yang segera akan berlari turun bila melihat mobil yang dikendarainya. Begitu Nick keluar dari mobil anak itu telah berdiri di depannya siap dengan ciuman dan pelukan sayang. Tapi malam ini Sita tidak tampak. Ada sedikit rasa kecewa di hati Nick. Sesampai di depan rumah Nick membunyikan klakson panjang. Tidak ada yang keluar. Kemudian Nick memijit tombol otomatis pembuka pintu garasi dan meluncurkan mobilnya masuk sambil terus membunyikan klakson berharap Sita akan keluar. Mobilnya baru berhenti ketika akan menabrak sepeda balap berwarna merah milik Sita. Anak itu tidak keluar ke mana-mana pikir Nick.

‘Sita!’ panggil Nick sambil keluar dari mobil. Tidak ada sahutan.

‘Sita!’ panggilnya lebih keras lagi dan membuka pintu garasi yang langsung berhubungan dengan dapur.

‘Sit..,’ panggilan itu terhenti di ujung lidah. Matanya terpaku pada selembar kertas yang tertempel di dinding dapur. Di kertas itu dengan spidol merah tebal tertulis ’Happy Birthday, Sita.’ Tulisan tangan Sita sendiri

‘Ya, Tuhan,’ desis Nick lesu. ‘Sebegini pelupakah aku sehingga hari ulang tahun anakku satu-satunya pun terlupa? Hari yang paling penting dalam hidupku.’ Beberapa saat Nick diam tidak bergerak merenungi poster di depannya. Ketika tersadar, dengan cepat dia menaiki anak tangga menuju kamar Sita.

‘Sita..,’ panggil Nick lembut di depan daun pintu yang bertuliskan “Sita’s Room” di antara sticker berbagai Nateam kupu-kupu. Beberapa kali Nick mengetuk pintu berharap pintu itu akan terkuak dan muncul wajah manis anaknya. Setelah lama pintu itu bergeming, Nick membukanya. Tidak dikunci. Nick memasuki kamar itu tetapi Sita tidak ada.

Nick mengamati seantero ruangan; tempat tidur dengan bed cover warna merah muda dengan gambar kupu-kupu. Di pojok ruangan sebuah tongkat softball dengan glove yang tergantung di atasnya, meja belajar yang penuh dengan buku-buku olahraga dan di lantai yang beralaskan karpet yang juga berwarna merah muda bertebaran berpuluh-puluh boneka yang berlainan bentuk, jenis, serta ukuran. Di dinding hanya terdapat beberapa lukisan. Gambar kupu-kupu yang Sita buat pada waktu berusia enam tahun dan di atas perapian… Nick menahan nafas. Setiap kali memandang lukisan itu ada segores kepedihan yang dalam tapi nikmat sehingga tanpa disadarinya dia sering menyelinap ke kamar anaknya untuk memandang lukisan itu. Lukisan bekas istrinya Nina.

‘Maaf, Nina, aku tidak bermaksud melupakan hari bahagia kita. Kalau saja aku tidak begitu sibuk dengan pasienku, hal ini tidak akan terjadi. Sekarang apa yang harus kulakukan? Anak kita pasti mengira aku tidak mempedulikannya.’ Nick mengeluh pada gambar istrinya.

Dengan lesu Nick turun lagi. Dia duduk di dapur tanpa mempedulikan untuk menyalakan lampu terlebih dahulu. Dalam kegelapan dia dapat melihat dengan jelas peristiwa-peristiwa yang dialaminya ketika menanti kelahiran anaknya.

AkuTak Mau Pulang, Nick

Siang itu Nina uring-uringan terus.  Tidak ada satupun yang benar dan pas di matanya.  Semua perawat wanita di rumah sakit kena dampratannya. Nick tahu kalau saja Nina bukan seorang dokter suster-suster itu akan balik mendapratnya karena kemarahan Nina rasanya terlalu dibuat-buat.

‘Oke, Nina, ada apa?’ tanya Nick dalam perjalanan pulang.  Mereka berdua bekerja pada rumah sakit yang sama.

‘Apa maksudmu?’ tanya Nina pura-pura tidak tahu maksud pertanyaan Nick.

‘Sehari ini kamu marah sebanyak enam puluh tiga kali tanpa tersenyum sekali pun,’ jawab Nick.

‘Sebanyak itu? Aku tidak menghitungnya tadi,’ sahut Nina

‘Donna sampai-sampai seperti bertemu setan setiap kali melihatmu.  Jangan keras-keras terhadap mereka, Nin.  Kamu selamanya lembut, sehingga kamu marah sedikit saja mereka sudah tahu kalau mereka berbuat kesalahan,’

‘Membela?’ tanya Nina sengit. Matanya yang hitam indah membulat. Nick tersenyum. Belum pernah dia melihat istrinya marah-marah. Baginya, Nina adalah gadisnya yang selalu lembut dan penuh pengertian. Sedikit cerewet, mungkin. Nina tambah dongkol melihat Nick tersenyum. Nick tertawa.

‘Jangan cengar-cengir, enggak cakep tahu,’ tegur Nina. Nick tertawa lebih keras. Nina menutup kedua telinganya dengan jari dan bersandar sambil menanti Nick menghentikan tawanya. Nick menurunkan tangan Nina.

‘Ayo, Nina, katakan apa sebenarnya?’ tanya Nick.

‘Tidak ada apa-apa,’ jawab Nina biasa.

‘Pasti ada apa-apa. Kamu tidak pernah marah kepada perawat-perawatmu. Kalau kamu marah kepadaku itu lumrah. Setiap hari kamu lakukan itu,’ kejar Nick. Nina memelototkan matanya.

‘Kalau kukatakan bisa pingsan kamu,’ jawab Nina pendek. Ganti Nick yang bingung dan Nina tersenyum.

‘Kamu jatuh cinta pada laki-laki lain?’ tanya Nick ragu. Nina tertawa senang dan memegangi perutnya menahan geli.

‘Kamu pikir aku sudah gila untuk membiarkanmu bebas dan memberikan suamiku yang ganteng untuk perawat-perawat cantik itu?’ tanya Nina di tengah tawanya.

‘Kalau begitu tidak ada sesuatu yang akan membuatku pingsan. Aku hanya akan pingsan bila kamu berniat pergi dariku. Bahkan mungkin bisa sampai mati.’

‘Rayuan gombal,’ sahut Nina masih dengan tawa. Nick berhasil membuat Nina tertawa tetapi dia tidak berhasil mengorek apa yang ingin dikatakan Nina tadi.

Sesampai di rumah Nina langsung menyibukkan diri di dapur, menyiapkan makan malam. Sementara Nick duduk tepat di kursi yang sekarang didudukinya sambil mengamati istrinya yang sedang bekerja.

‘Cucian di bawah tugasmu, Nick,’ Nina memperingatkan.

‘Ya, aku tahu,’ jawab Nick malas.

‘Kalau tahu jangan cuma duduk di situ memandang orang bekerja. Enggak enak kalau bekerja di bawah pengawasan mata seperti itu,’ omel Nina.

‘Aku tidak memandang orang bekerja. Aku memandang istriku,’ jawab Nick sambil beranjak dan mendekati Nina. Dipeluknya Nina dari belakang dan dicium leher bagian belakangnya dengan lembut. Nina menggeliat melepaskan diri.

‘Cucianmu, Nick!’ tegur Nina.

‘Nanti setelah makan malam,’ jawab Nick mencari alasan agar bisa berdekatan dengan istrinya. Dia berusaha memeluk Nina lagi. Nina menjauh.

‘Aku tahu kamu masih penasaran,’ tebak Nina,’ kamu ingin tahu apa yang akan kukatakan tadi. Aku tak mau mengatakannya sebelum tugasmu beres. Ayo, Nick sayang, cucianmu,’

‘Nin…’ Nick masih mencoba membujuk. Nina menggeleng. Dengan cepat Nick turun ke basement tempat kedua mesin cucinya berada. Dipilihnya baju-baju yang halus untuk dimasukkan ke mesin cuci yang satu dan handuk-handuk serta seprei-seprei ke mesin cuci yang lainnya. Siulan yang biasa mengiringi dia bekerja tidak terdengar.

‘Beres, Nin,’ Nick mengumumkan ketika tiba di dapur kembali. Nina yang sedang mengatur meja makan menoleh dan memberikan senyuman penuh rahasia.

‘Hari ini kamu benar-benar aneh,’ komentar Nick sambil membuka lemari es dan mengeluarkan lettuce, beberapa buah tomat dan timun untuk membuat salad.  Nina tidak menanggapi komentarnya.

Nick berusaha untuk makan secepatnya gar bisa mendengar apa yang akan dikatakan istrinya. Tetapi sebaliknya Nina seakan mengulur-ulur waktu. Jika biasanya yang menghidangkan makanan penutup Nina, tetapi malam itu Nick yang khusus memilihkan. Bukan karena apa-apa, hanya ingin agar makan malam itu cepat usai.

‘Cepat sedikit dong, Nin,’ desak Nick tak sabar melihat istrinya tenang-tenang menikmati apple pie

‘Oke, kita cuci dulu piring-piring ini, jadi bila kamu pingsan nanti, semuanya sudah beres,’ Nina bangkit dan menumpuk piring-piring kotor. Nick makin penasaran. Dihadangnya Nina dan diambilnya piring-piring yang berada di tangannya dan diletakkan kembali ke atas meja.

‘Nina, jangan ulur-ulur waktu, please. Aku bisa mati penasaran,’ pintanya.

‘Kita akan punya bayi, Nick,’ bisik Nina lirih. Nick membelalak kaget. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

‘Maaf, Nick, aku yang salah,’ bisik Nina kembali hampir diiringi tangis. Nick tersadar dari keadaannya. Dengan cepat direngkuhnya Nina dan dimasukkan ke dalam pelukannya sambil tertawa bahagia.

‘Terima kasih, Nina. Terima kasih,’ katanya berulang-ulang. Nina mendorong tubuh Nick dan dipandangnya Nick dengan pandangan heran.

‘Nick, lupakah kamu dengan perjanjian kita? Bukankah kita telah berjanji untuk tidak memiliki anak di dalam perkawinan ini. Demi kebaikan anak-anak kita sendiri, Nick.’

‘Kamu yang menginginkannya, Nin. Bukan aku,’ jawab Nick berusaha menjaga emosinya agar Nina tidak tersinggung.

‘Tapi kamu menyetujuinya, Nick.’ Nina terbelalak karena tidak menduga Nick akan sependapat dengannya.

‘Kalau aku dulu setuju, itu supaya kamu mau kawin denganku. Aku terlampau mencintaimu, Nin, sehingga tanpa anak pun aku bersedia hidup bersamamu. Tapi sesungguhnya sudah lama aku merindukan anak darimu. Aku tidak berani meminta kepadamu karena aku sudah berjanji. Kamu mengerti maksudku kan, Nin,’ Nick berusaha berbicara dengan tenang. Dulu sewaktu mereka masih berpacaran, Nina pernah menjelaskan dengan panjang lebar alasan mengapa dia tidak mau punya anak jika dia harus kawin dengan orang kulit putih.

‘Kamu tahu akibatnya, Nick?’ tanya Nina parau, dia mulai menangis. ‘Anak kita, Nick! Dia yang akan menderita. Dia tidak akan mempunyai negara yang bisa dibanggakannya. Dia bukan Amerika karena ibunya orang Indonesia dan dia tidak bisa mengaku orang Indonesia sebab dia berkewarganegaraan Amerika. Oh, Nick,’ keluh Nina. Nick bingung mengapa masalah seperti itu dipersoalkan.

‘Nina, dia anak kita. Aku tidak peduli apakah dia Indonesia atau dia Amerika. Buat apa kau pikirkan kebangsaan, Nin? Kamu sendiri orang Indonesia mau kawin dengan orang Amerika. Kalau kamu menginginkan anak kita berkewargaan Indonesia, kita usahakan, Nin,’ hibur Nick.

‘Kamu serius dengan kata-katamu?’ tanya Nina bimbang. Dia tidak lagi mempedulikan kewarganegaraan.   Sebelumnya yang dia kuatirkan adalah jika Nick tidak menghendaki anak yang dikandungnya sebab ketika dia berbicara tentang tidak baiknya memiliki anak indo, Nick menyetujui seratus persen. Seakan Nick ikut mendukung pendapatnya.

‘Nina, kalau selama hidup kamu anggap aku tidak pernah berbicara serius. Inilah saatnya aku benar-benar serius dengan apa yang kau ucapkan.’

‘Oh, Nick…’ Nina memeluk Nick dan menelusupkan kepalanya ke dada Nick. Nick tersenyum bahagia. Belum pernah selama hidupnya dia mengalami kebahagiaan seperti itu. Anaknya akan dilahirkan oleh wanita yang paling dicintainya. Adakah kebahagiaan melebihi itu? Nick kemudian mengangkat wanita mungilnya dan membawanya ke lantai atas. Nick tidak pingsan mendengar kabar itu tapi dia tidak lupa akan tugasnya. Piring-piring kotor dibiarkannya tetap berada di meja makan hingga keesokan harinya.

AkuTak Mau Pulang, Nick

Nina mulai mengambil cuti ketika kandungannya memasuki usia enam bulan. Sebenarnya dia masih mampu bekerja, tetapi Nick menghendakinya demikian. Semua tugasnya diambilalih Nick. Baik tugas rumah sakit maupun tugas rumah tangga. Nick memanjakannya melebihi seorang ratu. Setiap pagi, sebelum Nick pergi ke Rumah Sakit, mereka berdua berjalan-jalan menikmati Clayton, kota kecil yang cantik di pesisir danau Erie. Menikmati musim semi di sepanjang pesisir sambil menikmati nyanyian burung robin.

‘Nin, aku sudah memilih dokter yang akan melahirkan anak kita. Dokter Wyatt,’ Nick mengabarkan dengan gembira pada suatu malam. Nina sedang asyik membaca koran.

‘Aku tidak mau,’ sahut Nina tanpa memandang kepada Nick.

‘Hei, dia dokter yang paling hebat di negeri ini. Aku tidak akan mempercayakan bayiku dilahirkan oleh dokter lain.

‘Sudah kukatakan aku tidak mau,’ sanggah Nina dan meletakkan koran yang dibacanya.

‘Kamu sudah mempunyai dokter pilihan?’ tanya Nick. Nina mengangguk sambil menunjuk Nick.

‘Kamu, Nick,’ ucapnya mantap. Nick kaget.

‘Nina, kamu gila,’ teriak Nick protes. ‘Kamu tahu aku tidak akan mampu melakukannya Pertamu aku bukan seorang dokter kandungan. Kedua, memasukkan jarum di lenganmu saja aku tidak berani, apa lagi untuk melahirkan. Nina, jangan masukkan pikiran seperti itu ke dalam otakmu.’

‘Dengar, Nick, aku tidak akan mengijinkan anakku disentuh orang lain selain ayahnya pada hari pertamanya dia berada di dunia ini. Dan kamu sebagai ayahnya harus menanggung resiko ini,’ jerit Nina.

‘Nina, kamu tahu aku tidak bisa,’ Nick membujuk dengan lembut. ‘Berpikirlah yang positif, Nin. Tidak ada salahnya anak kita dilahirkan orang lain. Ijinkanlah dokter Wyatt untuk melakukannya. Aku akan mendampinginya. Oke?’

‘Tidak!’ jawab Nina pendek.

‘Bagaimana jika suamimu bukan seorang dokter, apakah dia juga terkena kewajiban untuk melahirkan anakmu?’ Nick kehabisan akal.

‘Aku telah kawin dengan seorang dokter,’ jawab Nina masa bodoh. Nick masih berusaha meyakinkan Nina bahwa dia tidak akan sanggup untuk melahirkan anaknya, tapi dengan kalem Nina menjawab.

‘Kamu melahirkan anakmu atau anakmu akan kubiarkan tetap berada di dalam perutku.

‘Akhirnya Nick menyerah. Dialah yang melahirkan Sita ke dunia, didampingi dokter Wyatt tentunya. Dialah orang yang pertama kali dapat menyentuh kulit anaknya. Memberikan sentuhan kasihnya yang pertama. Saat itu dia memahami mengapa Nina begitu ngotot memaksakan agar dia yang melahirkan anaknya.

Namun kini dia sendiri telah melupakan hari itu. Hari di mana dia bersimbah keringat dan penuh kekuatiran mencoba menolong anaknya agar bisa meniup dan menghembuskan nafas dunia. Hari di mana di penuh kebahagiaan mendekap anaknya yang tak berdaya dan juga hari di mana dia menciumi dan membelai ibu dari anak yang dilahirkannya itu.

 AkuTak Mau Pulang, Nick

Nick bangkit kemudian berdiri di depan jendela memandang danau Erie. Bulan sudah menampakkan diri membuat bayangan indah sekaligus misterius karena sebagian sinar bulan terhalang oleh pohon-pohon yang berada di pulau-pulau di tengah danau. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan seseorang yang duduk di dermaga dengan kaki yang menjuntai ke dalam air. Dari potongan tubuhnya Nick tahu kalau bayangan itu milik anaknya. Anaknya yang mewarisi tinggi Nick, tetapi kulit dan rambutnya lebih cenderung ke Nina. Sedangkan matanya adalah perpaduan antara mata Nick dan mata Nina. Ada rasa nyeri di dada Nick melihat Sita dalam keadaan seperti itu. Begitu sendiri dan sendu.

Nick berjalan mendekati Sita. Langkahnya ringan takut mengagetkan. Tapi karena dermaga itu hanya dibuat dari kayu yang sederhana, goyangan sedikit pun mampu menggoyangkan seluruh dermaga. Sita menoleh. Dalam cahaya bulan Nick melihat mata anaknya berkaca. Nick tertegun.

Aku pernah melihat mata persis seperti mata itu sebelumnya. Dimana? pikir Nick. Nina? Ya, Nina pernah mempunyai mata dalam keadaan seperti itu Kapan?

Dua belas tahun yang lalu Nick melihat Nina dengan mata yang berkaca seperti mata anaknya saat ini. Nina tidak menangis, hanya matanya berkaca ketika meninggalkan ruang pengadilan yang memutuskan perceraian mereka dan menyerahkan anak mereka satu-satunya yang saat itu berumur empat tahun ke tangan Nick. Nina tidak menangis.   Tapi justru pada matanya yang berkaca itu Nick dapat melihat duka yang sangat dalam. Oh, Nina.

Nick menggelengkan kepalanya berusaha mengusir bayangan bekas istrinya sebelum mendekati Sita.

‘Sita,’ tegur lembut sambil berjongkok di sisi anaknya, ’maafkan aku,’ sambungnya. Sita tidak menyahut. Dia menggoyang-goyangkan kakinya di dalam air membentuk ombak-ombak kecil.

‘Aku tahu aku telah melalaikan kewajibanku sebagai seorang ayah…,’ Nick menunggu reaksi anaknya. Namun Sita tetap membungkam

‘Kamu mau memaafkan ayahmu ‘kan? Tadi ada seorang ibu yang memerlukan operasi darurat. Aku satu-satunya dokter yang berada di Rumah Sakit, jadi akulah yang harus menolongnya.’   Nick mencari alasan yang setengahnya benar. Memang tadi dia melakukan operasi mayor, tetapi bukan itu penyebab kelupaannya. Sita masih diam.

‘Sita, bicaralah sesuatu. Marahilah ayahmu bila itu yang kamu inginkan. Jangan berdiam diri seperti ini,’ bujuk Nick. Kembali bayangan Nina hadir. Nick tak pernah bisa menghadapi Nina jika Nina yang biasanya ceriwis itu ngambek dan membisu. Kini tanpa dididik Sita mewarisi keahlian ibunya.

‘Sita, katakan apa yang ada di dalam hatimu. Bagaimana aku bisa mengetahui apa yang kau inginkan jika kamu tidak mengatakannya kepadaku.’

‘Okey, Nick. Aku bosan hidup di Clayton ini. Kalau saja aku mempunyai sedikit keberanian, aku sudah minggat dari dulu,’ jerit Sita. Dia tidak pernah memanggil Nick dengan sebutan ‘daddy’ seperti anak-anak Amerika lainnya. Sejenak Nick tertegun. Dia tidak bisa mempercayai pendengarannya. Kemudian direngkuhnya Sita ke dalam pelukannya. Anak itu kemudian menangis keras, airmatanya menembus kemeja Armani yang dipakai Nick dan membasahi dadanya. Nick membiarkannya sambil membelai rambut hitam Sita, matanya memandang ke atas, kosong.

‘Nick, maafkan aku. Aku tidak sungguh-sungguh dengan kata-kataku,’ bisik Sita tersendat-sendat dan mempererat pelukannya. “ Aku merasa begitu sendiri di sini, Nick. Aku merasa bukan di sini tempatku yang sesungguhnya. Aku bukan milik Clayton.’

Nick berusaha menahan gejolak yang timbul secara tiba-tiba di hatinya. Dua belas tahun yang lalu ada seorang wanita yang menyatakan hal yang serupa yang menyebabkan dirinya kehilangan wanita itu untuk selama-lamanya.

‘Sita, temanmu di Clayton banyak. Ada aku di sini. Ada juga Nate, pamanmu. Kamu tidak sendirian. Begitu banyak orang yang mencintaimu di sini. Clayton adalah tempatmu. Sita. Kamu dilahirkan di sini. Kamu tidak boleh mempunyai perasaan seperti itu,’ hibur Nick.  Dia tahu Sita sangat kesepian.

‘Kamu, Nate dan yang lain-lainnya adalah milik Clayton. Rumah Sakit membutuhkanmu. Clayton membutuhkanmu, sedang aku … tidak seorangpun membutuhkanku di sini,’ Sita terisak.

‘Sita, aku membutuhkanmu. Sangat membutuhkanmu. Ketahuilah itu potong,’ Nick cepat. Ada air mata di sudut   matanya. ‘Kalau aku lupa hari ulang tahunmu, tidaklah berarti aku tidak membutuhkanmu, Sit,’ sambung Nick. Kemudian diciumnya pipi Sita yang penuh dengan air mata. Sita tersenyum merasakan kasih sayang ayahnya .

‘Selamat Ulang Tahun, sayang. Hari ini tak ada kado yang dapat kuberikan. Tapi terimalah cintaku,’ bisik Nick. Sita tersenyum manis.

‘Itu sudah cukup, Nick. Tapi jangan lupa besok hadiahnya,’ Sita memperingatkan. Sita telah kembali kepada sifat aslinya yang tidak pernah membiarkan duka bersarang di hatinya lebih dari lima menit. Hal ini yang sedikit banyak dapat menghibur hati Nick. Membesarkan seorang anak tanpa seorang ibu benar-benar hal yang tidak gampang. Dia selalu khawatir jika anaknya nanti tumbuh tidak normal karena kepincangannya dalam memberikan cinta. Dia takut anaknya nanti tumbuh sebagai anak yang pendiam dan selalu berduka.

Terimakasih Tuhan, telah Kau beri aku anak semanis Sita. Nick memandang ke atas seakan dia tahu Tuhan berada di atasnya dan mendengarkan rasa syukurnya.

 AkuTak Mau Pulang, Nick

Pagi sekali Sita telah keluar dari rumah. Pada musim panas dimana sebagian besar kawannya dapat tidur hingga siang, dia terpaksa bangun lebih awal. Bagi Sita tidak mungkin bisa tidur dengan teriakan-teriakan para pemain ski air dan bisingnya mesin-mesin perahu boat. Rumah mereka berada di luar kota dan dikelilingi oleh air danau. Hanya bagian depan yang menghadap ke timur saja yang tidak. Pada musim-musim yang lain, rumah itu selalu sepi dan damai, tetapi pada musim panas kedamaian itulah yang paling didambakannya.

Sita berjalan di dermaga dengan menenteng sebungkus besar roti tawar. Itulah kebiasaanya setiap pagi, memberi makan burung-burung camar. Dan camar-camar itu telah hafal dengan kebiasaannya. Mereka akan terbang mendekat bila mendengar siulan Sita. Sita tersenyum menyambut sahabat-sahabat kecilnya, kemudian dia mulai memotong rotinya menjadi irisan-irisan kecil dan kemudian ditaburkannya ke atas. Camar-camar itu terbang tak sepotong rotipun yang sempat jatuh ke bawah. Suara mereka hingar-bingar, mengalahkan deru kapal bermotor. Beberapa kali Sita memotong dan menaburkan rotinya hingga habis. Dan jika Sita telah mengibas-ngibaskan bungkus palstiknya yang kosong, tanpa dikomando lagi kawanan camar itu akan terbang menghilang di balik awan.

Sita masih saja berdiri di ujung dermaga mengamati para pemain ski. Ada beberapa kawannya yang lewat dan melambai.

‘Hai, Sita!‘ teriak seseorang dengan celana renang berwarna biru tua dengan strip putih. David Sweeney, murid yang paling popular di sekolah Sita.

‘Hai!‘ balas Sita sambil melambai. David mau membalas melambai, tetapi tiba-tiba keseimbangannya hilang. Pegangannya pada tali penarik lepas dengan serta merta dia tercebur ke dalam air. Teman-temannya yang berada di perahu penarik tertawa berderai. Sita ikut tertawa.

Papan luncur Davidn yang muncul pertama kemudian diikuti oleh kepalanya.

‘Sita, jangan berdiri di situ,’ teriak David pada kesempatan pertama dia bisa ngomong kembali. ‘Kamu mengacaukan konsentrasiku,’ sambungnya berkelakar. Kembali mereka semua tertawa. Pipi Sita merah menahan malu. Sita memperhatikan mereka berlalu dan memandang gerakan lincah David di atas papan skinya.

Tiba-tiba Sita melihat sebuah katamaran muncul dari balik pulau Kelleys. Melihat dua layarnya yang berwarna-warni bak pelangi, Sita tahu kalau katamaran itu adalah ‘Sita’, katamaran yang paling indah di seluruh Clayton, milik Nate, saudara kembar ayahnya. Sita menanti hingga kapal itu mendekat. Ketika kapal itu bersandar pada dermaga, cepat-cepat Sita berjalan menuju ke depan pintu keluar. Nate muncul dengan senyum lebar di tengah-tengah kumis dan jambangnya dengan bungkusan besar di tangannya.

‘Hello, Indonesia!’ teriaknya nyaring. Sita tersenyum sambil memandang pamannya yang semakin hari semakin kumal.

‘Ciri khas seorang pelaut,’ kata Nate dulu, ‘seorang pelaut tidak ada yang setampan Nick. Kalau aku bersih, aku sudah jadi dokter sekarang.’ Dahulu – belasan tahun lalu –  Nate adalah seorang kapten pada perusahaan pelayaran internasional. Tetapi begitu dia mampu membeli ‘Sita’ dia tidak pernah ke luar dari danau Erie. Paling jauh berlayar sampai Buffalo di New York.

Nate meloncat turun tepat di depan Sita. Sesudah menurunkan bungkusannya dia mengambil Sita dengan kedua tangannya yang kokoh dan mengangkatnya ke atas dan memutar tubuhnya bak baling-baling. Sita berteriak-teriak protes.

‘Lepaskan, Nate! Lepaskan! Aku bukan anak kecil lagi!’ Nate tertawa keras sambil menurunkan Sita. Inilah bedanya dengan Nick, pikir Sita. Aku tidak pernah melihat Nick tertawa bebas. Kehidupan Nick terlalu formil dan seakan ada kesedihan yang tidak pernah berhasil kusibak.’

‘Aku tahu kamu telah besar sekarang. Berapa umurmu, honey?’ Sita cemberut. Kemarin ulang tahunnya yang keenambelas dan tidak seorangpun mengingatnya. Sweet Sixteen. Semua temannya selalu merayakan sweet sixteen dengan gegap gempita.

‘Ayo, Sita, cheer up. Aku cuma mengganggumu,’ Nate berkata sambil tertawa. Kemudian dia membungkuk dan mengambil bungkusan yang tadi diletakkannya. ‘Nah ini dia hadiah bagi gadis tercantik di Clayton yang kemarin tepat berusia enam belas tahun.’ Nate mengulurkan bungkusannya.

‘Nate?’ Sita bertanya tidak percaya. Nate mengangguk kemudian mencium pipi keponakannya. Sita tertawa geli tersentuh jambang dan kumis Nate

‘Kupikir kamu lupa, karena kemarin kamu tidak pulang. Kemana saja kamu? ‘tanya Sita menyelidik. Kembali Nate tertawa.

‘Sudah kukatakan beberapa hari yang lalu kepadamu bahwa aku ada obyek besar di Detroit. Semalam aku berniat menelponmu, tapi…’ Nate tak melanjutkan.

‘Kamu mabuk di sebuah bar.’ Sita yang meneruskan. Nate tertawa terpingkal-pingkal dan tidak menyangkal dugaan Sita.

‘Ayo masuk! Aku belum sarapan. Ada sarapan untukku?’ tanya Nate dan menggandeng Sita.

‘Sebanyak yang kamu inginkan. Tadi Nick membuat pancake.’ Ketika mereka masuk Nick masih berada di dapur. Dia menoleh dan mengajak Nate makan.

‘Belum berangkat, Nick?’ tegur Nate.

‘Hari ini aku akan terbang ke Boston mengambil alat-alat yang kupesan. Aku akan berada di sana tiga hari. Kamu tidak akan pergi, kan?’ tanya Nick. Nate menggeleng dan mengambil piring yang langsung diisi dengan empat potong pancake sekaligus.

‘Wow!‘ tiba-tiba terdengar jerit kekaguman dari Sita. Dia telah membuka hadiah dari Nate. Di dalam bungkusan itu dia mendapatkan Manuel Rodriguez Jr, sebuah gitar klasik spanyol yang sudah lama dia impikan serta sebuah buku musik berisi not dan lyric lagu-lagu Bob Dylan.

‘Makasih, Nate,’ teriak Sita kemudian dia menekuni gitarnya.  Menyetel dawainya dan mencoba memainkan beberapa lagu.

‘Sita, kamu mau ikut berlayar?’ tanya Nate.

‘Sita?’ panggil Nate ketika Sita tidak memberi respon.

‘Apa?’ tanya Sita tanpa mendongakkan kepalanya.

‘Kamu mau ikut berlayar?’ kali ini Nick yang berbicara sebab mulut Nate masih penuh dengan makanan.

‘Ke Cleveland?’ tanya Sita mulai ada perhatian. Nate menggeleng.

‘Ke Canada,’ jawabnya.

‘Nggak mau, bosan ke Canada terus.’

‘Aku butuh guide.  Hari ini kapalku akan mengantarkan siswa pertukaran pelajar.  Tom tidak bisa ikut ada pertandingan baseball.’

‘Berapa berani kau bayar aku?’ tantang Sita. Nick tersenyum memandang putrinya.

‘Sebut yang kamu inginkan dan akan kubayar,’ sahut Nate.

‘Bagaimana jika dua kali yang biasa Tom terima?’ tanya Sita. Nick dan Nate memandang Sita sambil geleng-geleng kepala.

‘Sita, jangan mata duitan,’ tegur Nick sambil tersenyum.

‘Aku enggak mata duitan, Nick. Cuma mencari tambahan penghasilan. Dia terima tawaranku ya syukur enggak ya namanya enggak sayang ponakan.’ Nate tertawa keras dan Nick juga menyumbang tawa.

 AkuTak Mau Pulang, Nick

Sita dan Nate berada di di depan kemudi di bagian belakang agak ke atas dari katamaran tersebut.  Nate memegang kemudi dan Sita duduk mencangklong di depannya sambil bercerita macam-macam. Hanya kepada Natelah Sita dapat berbincang bebas sebab Nick selalu sibuk dengan Rumah Sakitnya. Mereka sedang menuju ke pusat kota Clayton untuk menjemput penumpang-penumpang Nate.

‘Apa hadiah dari Nick? ‘tanya Nate acuh.

‘Ini,’ jawab Sita sambil memperlihatkan kalung yang dipakainya yang diberikan oleh Nick semalam menjelang tidur. Nate mengerutkan dahinya melihat kalung dengan liontin berbentuk kuda laut dari batu safir berwarna biru cemerlang.

‘Bukankah itu yang dulu selalu dikenakan Nina?’ tanya Nate. Sita mengangguk cepat.

‘Nate, Kamu kenal mama?’ tanya Sita pelan. Nate tertawa.

‘Sita … Sita. Apakah kamu pikir aku tidak kenal istri saudara kembarku yang juga ibu dari keponakanku?’

‘Maksudku … Apakah kamu tahu mengapa mereka bercerai?’ Sita bertanya hati-hati sebab menurut pengalamannya, jika dia bertanya hal ini kepada ayahnya dia tidak pernah memperoleh jawaban.  Nate memandang Sita lama, kemudian menggeleng.

‘Kamu berbohong kepadaku.  Aku tahu kalau kamu tahu.  Kamu orang paling dekat  Nick.  Aku yakin  Nick pernah berkeluh kesah kepadamu. Ayo, Nate, ceritakan kepadaku. Aku sudah dewasa, aku berhak mengetahui sesuatu tentang ibuku.’

‘Sita, tidak ada yang dapat kuceritakan kecuali kalau kedua orangtuamu sama-sama orang yang keras kepala. Mereka menganggap diri mereka beridealisme kuat. Tapi mereka tolol. Membiarkan idealisme mereka menghancurkan diri mereka sendiri.’

‘Aku tidak tahu maksudmu.’

‘Kelak kamu akan mengetahuinya.  Kalau Nick menganggap kamu sudah siap, dia akan bercerita,’ jawab Nate. ‘Ayo Sita, jangan bicara tentang hal itu lagi. Hari terlalu indah untuk membicarakan tentang perceraian.’

Sita diam saja. Baik, aku tahu Kamu tidak bakalan bercerita tentang hal itu.  Tetapi ada seseorang yang tahu.  Aku akan bertanya pada Sue. Kalau dia dulu hampir menjadi ibu tiriku dia tentu kenal Nick sampai ke bagian dalamnya.

‘Apa yang kamu lamunkan?’ tanya Nate memecah kesunyian.

‘Seperti apa Indonesia itu hingga mama tega meninggalkanku untuk pulang ke Indonesia,’ jawab Sita bohong.

‘Seperti danau Erie saat ini,’ jawab Nate melantur.

Mereka berdiam diri sesudahnya, masing-masing asyik dengan pikirannya sendiri.  Sesampai di dermaga umum di pusat kota Clayton, Sita langsung meloncat turun.

‘Jam berapa kita berangkat, Nate? ‘tanya Sita dari bawah.  Nate menjulurkan kepalanya kemudian menunjukkan kesepuluh jari tangannya.  Masih ada waktu satu setengah jam, pikir Sita melihat jam yang melilit di pergelangan tangannya.

‘Aku mau mampir ke toko Sue dulu, Nate,’ teriak Sita sambil berlalu.

‘Jangan sampai terlambat,’ Nate mengingatkan. Sita menoleh dan membuat lingkaran dengan telunjuk dan ibu jarinya sebagai tanda ‘beres’.

Sita berjalan-jalan sepanjang pusat pertokoan yang masih sepi. Hanya ada beberapa toko saja yang buka.

‘Untung Sue sudah membuka tokonya,’ gumam Sita ketika melihat toko kecil di ujung jalan.  Sita mempergegas langkahnya.

‘Hello, Sue!’ tegur Sita pada seorang wanita cantik yang berdiri di belakang mesin hitung. Wanita itu mendongakkan kepalanya dan membalas sapaan Sita.

‘Apa kabar, Indie?’ tanya Sue.  Indie adalah kependekan dari Indonesia.  Sebutan itu dulu untuk memanggil Nina sebagai panggilan sayang dari sahabat-sahabatnya dan kini sebutan itu telah menjadi milik Sita.

‘Biasa saja, Sue. Masih tetap dua pria plus seorang gadis cantik di dalam sebuah rumah,’ jawab Sita sambil menarik sebuah kursi dan mendudukkan dirinya di depan Sue. Sue tertawa.

‘Tidak ada niat untuk menambah pria lagi? ‘tanya Sue.

‘Dua sudah terlalu banyak Sue. Kamu mau mengambil seorang di antaranya?’ tantang Sita. Sue kaget tapi dia cepat menguasai keadaan. Ah Sita hanya bergurau.

‘Sue, aku ingin bertanya sesuatu,’ Sita mulai menjalankan misinya. ‘Ceritakan sesuatu tentang Indie. Indie yang terdahulu. Ceritakan apa saja tentang dia,’ Sita mengambil permen karet yang berada di depannya, mengupasnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sue menarik nafas panjang.

‘Seorang wanita hebat,’ Sue memulai. Sita tersenyum, dia senang ibunya mendapat pujian. ‘Seharusnya aku membencinya karena dia telah merebut Nick dari tanganku. Tapi aku tidak bisa, aku mengagumi dia, Sita. Aneh kan?’

‘Merebut Nick? Bukankah kamu datang sesudah Indie pergi ?’ tanya Sita. Sue menggeleng.

‘Aku kenal Nick sejak kecil. Kami dibesarkan bersama dan kami sering berkencan. Semua orang tahu kalau Nick kekasihku. Setelah tamat SMA Nick meneruskan belajarnya ke Havard, disanalah dia bertemu Indie dan jatuh cinta. Siang malam aku berdoa agar Indie menolak cinta Nick, karena menurut Nick sendiri Indie dicintai banyak orang’ Sue diam beberapa saat memandang gadis yang mengunyah permen karet di depannya.

‘Tetapi doaku tidak terkabul. Indie memilih Nick. Mereka kawin dan tinggal di Clayton. Kamu dapat membayangkan hatiku saat itu. Pemuda yang kudambakan untuk menjadi suamiku telah kawin dengan wanita lain. Aku patah hati, tetapi aku tidak bisa membandingkan diriku dengan Indie. Indie pandai, cantik dan ramah dalam sekejab saja seluruh hati di Clayton telah berada di genggaman tangannya. Semua warga Clayton menjadi sahabatnya dan melupakan kepahitan hatiku. Aku meninggalkan Clayton dan baru kembali beberapa tahun kemudian, saat itu kamu telah lahir. Kalau kepergianku membawa kehancuran hatiku, aku pulang dengan pandangan yang berbeda. Aku tidak lagi iri kepada Indie karena sudah selayaknya wanita seperti dia mendapatkan cinta Nick. Aku mulai bersahabat dengan Indie. Benar-benar sahabat, Sita. Jika ada orang yang mengatakan bahwa akulah yang membawa malapetaka ke tengah keluargamu itu tidak benar. Bohong!’ Sita melihat mata Sue berkaca. Dia mempercayai wanita ini. Ada sesuatu pada dirinya yang membuat dia mempercayainya.

‘Kalau saja aku berkuasa di pengadilan itu. Permohonan cerai mereka akan kutolak. Mereka saling mencintai dan perceraian itu hanya menghancurkan dua-duanya,’ Sue menghapus air matanya dengan punggung tangannya.

‘Mengapa mereka ingin bercerai?’ tanya Sita.

‘Aku tidak tahu.’

‘Kamu hadir di pengadilan.’

‘Memang, Sita. Tetapi alasan yang mereka kemukakan tidak masuk akal. Nick dan Indie seakan-akan telah sepakat untuk memberikan alasan-alasan yang bisa membuat pengadilan menyetujui perceraian mereka. Indie bahkan tidak memprotes ketika mereka memutuskan untuk memberikan dirimu ke tangan Nick. Itu tidak mungkin, Sita. Kamu adalah segala-galanya bagi Indie. Aku tidak tahu apa yang ada di belakang sandiwara mereka.’

‘Terimakasih, Sue, kamu mau bercerita. Aku senang mengetahui bahwa ibuku mencintaiku.’

‘Aku hanya ingin agar kamu tidak mempercayai omongan yang tersebar di Clayton yang menganggap bahwa akulah penyebab kehancuran keluargamu. Nick pernah memintaku untuk menjadi ibumu tapi kutolak karena aku tahu dia tidak mencintaiku. Dia  hanya menginginkan aku untuk menjagamu. Dan itu tak dapat kuterima karena aku toh bisa tetap menjagamu tanpa harus menjadi istri seseorang yang hatinya ada pada wanita lain yang juga sahabatku sendiri.’ Kali ini Sita memandang Sue dengan pandangan kekaguman. Dulu dia jengkel jika Sue sering datang ke rumahnya, membersihkan rumah, memasak, mencuci dan sebagainya. Dulu Sita mengira bahwa Sue melakukan hal itu karena dia menginginkan Nick. Sita melihat jamnya.

‘Jam sepuluh!’ serunya kaget dan meloncat turun dari kursi. ‘Ya Tuhan, aku terlambat. Sue, aku harus segera pergi,’ teriak Sita dan berlari keluar. Dia berlari terus hingga dermaga umum, tanpa mempedulikan omelan orang-orang yang kena tabrak. Dia baru menarik nafas lega ketika melihat ‘Sita’ yang masih setia menunggu.

AkuTak Mau Pulang, Nick

Semua penumpang sudah naik semua ketika Sita tiba. Dia masih sempat memperhatikan penumpang-penumpangnya. Semuanya masih muda belia.

‘Kamu telat, Sit,’ tegur Nate. Sita tersenyum penuh penyesalan.

‘Sorry Nate, aku terlalu asyik tadi,’ jawab Sita. Nate mengangguk. Untung tidak marah, kata hati Sita. Begitu Sita berada di ruang kemudi, kapal kecil itu segera bertolak.

‘Selamat pagi semua. Saya Nate Woodward mengucapkan terima kasih kepada anda semua yang telah mau berlayar bersama ‘Sita’. Hari ini merupakan pelayaran istimewa bagi saya karena anda semua datang dari Negara yang berbeda. Saya harap pelayaran ini juga merupakan sesuatu yang istimewa bagi anda dan merupakan kenangan yang dapat anda bawa pulang ke negeri anda. Dan untuk itu saya telah menyediakan seorang guide istimewa yaitu Sita Woodward atau boleh panggil dia Indonesia. Nah inilah dia.’ Nate memberikan pengeras suaranya kepada Sita.

‘Selamat pagi!!”  Sita membuka dengan suaranya yang manis.  ‘Nate mereka siapa sih?’ tanya Sita berbisik sesudah meletakkan tombol pada posisi off.

‘Para pertukarang pelahar AFS yang akan kembali ke negeri mereka masing-masing.  Mereka mampir di Clayton selama tiga hari.  Besok mereka menuju ke New York dan pulang.’

‘Oo…’  Sita berseru.

‘Selamat pagi,’ Sita mengulangi salamnya.  ‘Sekarang kalian berada di atas danau Erie, danau yang menghubungkan atau memisahkan Amerika dengan Canada. Pulau-pulau yang ada di sekitar adalah pulau-pulau yang   tergabung dalam gugusan kepulauan yang bernama Thousand Isles. Jembatan yang berada jauh di belakang juga bernama jembatan Thousand   Isles yang menghubungkan Canada   dan   Amerika   lewat jalan   darat.’

Sita menerangkan.  Dia sering ikut Nate berlayar dan mengganti tugas Tom sebagai guide amatir.  Dia begitu hafal dengan nama pulau-pulau yang ratusan jumlahnya bahkan sampai yang terkecil dengan segala keistimewaannya. Dia tahu dimana dia dapat mendapatkan buah cherry yang lezat atau tempat dimana banyak terdapat kelinci.

Kapal Nate menyusup di antara pulau-pulau yang gelap karena terlindung dedaunan. Kemudian keluar pada daerah yang luas dengan pemandangan yang begitu indahnya. Tiba-tiba tampak sebuah pulau dengan sebuah bangunan yang tinggi menjulang, tua dan angker.  Nate mengelilingi pulau itu.

‘Pulau ini merupakan lambang cinta sejati,’ tutur Sita. “ Bangunan yang tampak angker itu dahulu direncanakan untuk dibuat sebuah istana yang megah dari seorang suami untuk istrinya yang paling dia cintai. Dia tidak pernah menceritakan rencananya itu kepada istrinya karena bangunan itu akan diberikan sebagai hadiah pada ulang tahun perkawinan mereka. Tetapi belum sampai waktunya si istri meninggal dunia. Sejak saat itu sang suami dirawat di rumah sakit jiwa dan tak pernah keluar lagi. Bangunan itu terbengkalai dan menjadi kediaman kelelawar. Itulah sebabnya pulau ini bernama pulau kelelawar.’

Sita menekan tombol off dan menoleh kepada Nate.

‘Nate masih adakah lelaki yang mencintai istrinya seperti dia? ‘tanya Sita. Nate tertawa.

‘Ada… Ada,’ jawab Nate   ‘Pamanmu. Nate Woodward.’ Sita tertawa.

‘Kawin saja Kamu tidak bagaimana kamu bisa bicara seperti itu?’

‘Kau pikir aku memilih tidak kawin tanpa alasan?’

‘Kamu pernah patah hati? ‘tanya Sita. Dia belum pernah melihat Nate akrab dengan wanita atau membicarakan nama seorang wanita. Nate tertawa terbahak-bahak. Sita menghidupkan mikenya.

‘Yang kalian dengar ini adalah tawa kapten kita, Nate. Dia baru saja menyatakan bahwa dialah satu-satunya orang yang bisa mencintai wanita sedalam pangeran kelelawar,’  Sita berkata jelas. Nate repot menahan tawanya. Dipandang keponakannya dengan mata melotot, tapi Sita tenang-tenang saja.

‘Nate, aku mengulangi, pernahkah kamu patah hati?’ Sita kuatir. Untuk orang setua Nate dan belum kawin? pasti ada alasan tertentu dan satu-satunya yang masuk ke dalam otak Sita adalah ‘patah hati’

‘Dulu pernah, tapi sudah tersambung kembali. Kamu tak perlu kuatir aku akan segera kawin,’ jawab Nate serius. Sita tersenyum. ‘Kamulah yang pertama mendengar kabar ini,’ sambung Nate. Sita membelalak tak percaya.

‘Kau?’ tanyanya heran. Nate mengangguk pasti.

‘Siapa wanita yang begitu tolol mau kawin denganmu?’ tanya Sita yang masih menduga Nate hanya bergurau.

‘Sue,’ jawab Nate.

‘Nate jangan main-main. Sue bisa marah mendengar gurauan kita,’ tegur Sita dongkol. Ini sudah keterlaluan. Kasihan Sue.

‘Sita, kalau aku berbohong kepadamu, kamu mau percaya, kini aku serius kamu malah tidak percaya,’ jawab Nate tenang. Sita bimbang. Setengahnya dia percaya, setengahnya tidak.

‘Kamu tidak mengucapkan selamat kepadaku?’ tanya Nate ketika memandang Sita tertegun. Sita meloncat dan mencium Nate.

‘Kamu tahu, Nate? Aku sangat bahagia,’ katanya dan bergayut pada lengan Nate.

‘Bodoh benar kamu. Mau tak mau perhatianku kepadamu akan berkurang.’

‘Aku tidak peduli. Aku bosan hidup dengan dua laki-laki yang semuanya tak punya istri. Seperti tidak laku padahal kalian berdua tampan semua,’ goda Sita. Dalam hati dia bertanya, betul-betul mencintai Nate kah Sue, atau hanya pelarian karena tak bisa mendapatkan saudara kembarnya? Mudah-mudahan Sue benar-benar mencintai Nate.

‘Hei tugasmu !’ Nate memperingatkan ketika mereka hampir memasuki pulau Robinson. Sita meraih mikenya dan,

‘Sebentar lagi kita akan memasuki wilayah Canada. Ada beberapa petugas yang akan memasuki kapal kita untuk memeriksa paspor kalian. Saya harap kalian menyiapkannya. Terimakasih,’ katanya ramah.

Kapal itu bersandar di sebuah selat yang hanya muat untuk sebuah kapal. Beberapa detik kemudian tiga orang berseragam biru tua masuk kapal dan memeriksa penumpang.

‘Sita, aku turun dulu mencari makanan. Kamu mau sesuatu?’

‘Bawakan aku roastbeef, Nate. Ukuran sedang saja dan coke.’

Sesudah Nate turun, Sita berdiri di belakang kemudi sambil melihat kesibukan para petugas perbatasan. Tiba-tiba ada seorang gadis berdiri di bawah tangga kemudi. Sita memperhatikan sejenak kemudian mengembangkan senyumnya. Gadis ini mirip mama. Rambutnya yang hitam lurus, matanya dan kulitnya juga bajunya… Sita menjadi malu. Gadis di depannya mengenakan rok batik rapi sedang dirinya… jeans lusuh dan Tshirt bergambar John Travolta. Tiba-tiba Sita merasa dirinya terlalu urakan dibanding gadis itu.

‘Hai, boleh aku naik ke situ? ‘tegur gadis tersebut.

‘Silahkan. Maaf aku berlaku kurang sopan tadi,’ Sita memohon maaf menyadari bahwa dirinya telah meneliti gadis tadi.

‘Namaku Lily,’ gadis itu memperkenalkan diri.

‘Aku Sita. Kamu juga pelajar AFS?’ Lily mengangguk.

‘Aku tadi sempat mendengar kalau namamu juga Indonesia, benar?’ tanya Lily

‘Oh, itu…’ Sita menjadi salah tingkah, ‘mereka memanggilku demikian karena ibuku orang Indonesia.’

‘Ibumu orang Indonesia? Aku juga orang Indonesia. Bisa aku bertemu ibumu? Sudah setahun aku tak berjumpa dengan orang Indonesia.’ Lily berbicara   cepat karena luapan rasa gembira. Sita juga gembira bisa bertemu seseorang yang senegara dengan ibunya, tetapi sekejab kemudian dia sadar.

‘Sayang kamu tidak bisa bertemu dengan ibuku. Ibuku telah bercerai dengan ayahku dan telah kembali ke Indonesia,’ Sita menjelaskan dengan jujur.

‘Oo …’ Lily kecewa. ‘Kamu tahu dimana ibumu berada? maksudku kotanya.’

‘Aku tidak tahu, terlalu panjang namanya dan sukar untuk diucapkan. Yang terang di Jawa,’ jawab Sita polos.

‘Jakarta?’

‘Bukan, tapi mirip dengan itu.’

‘Yogyakarta?’ tebak Lily lagi.

‘Ya itu dia. Apa tadi?’

‘Yogyakarta. Aku juga berasal dari Yogyakarta,’ jawab Lily.

‘Kalau begitu kamu pasti kenal ibuku,’ Lily menggeleng.

‘Yogyakarta penduduknya lebih dari dua setengah juta. Tidak mungkin kita saling mengenal seperti di Clayton ini.’

‘O…,’ ganti Sita yang kecewa. ‘Pernahkah kamu mendengar tentang Dokter Nina Woodward?’ Lily menggeleng lagi. Dia menyesal telah mengecewakan gadis dihadapannya.

‘Kamu tahu alamat ibumu?’ tanya Lily berusaha menolong.

‘Aku tidak tahu, dia tidak pernah berkabar. Satu-satunya yang kuketahui hanyalah bahwa dia dilahirkan di kotamu.’ Sita merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet, mencabut selembar photo dan ditunjukkan kepada Lily. Foto Sita yang duduk di pangkuan ibunya.

‘Ini aku dan ibuku waktu aku berusia empat tahun. Siapa tahu nanti kamu bertemu wanita seperti ini. Sampaikan salam dan cintaku padanya.’ Lily meneliti photo itu sejenak.

‘Aku pernah melihat foto ini sebelumnya. Dimana ya? ‘gumamnya. Sita menanti harap-harap cemas.

‘Aku tahu,’ Lily berteriak. ‘Dokter Nina Santoso. Kamu tadi bilang siapa?’

‘Kamu benar, namanya Nina. Woodward adalah nama ayahku. Kamu tahu dimana dia tinggal? Alamatnya? Aku ingin berkirim surat kepadanya,’ kata Sita antusias. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.

‘Ada nama di belakang namanya, berarti ibuku sudah kawin lagi. Sudahkah dia mempunyai anak, Lily?’

‘Santoso bukan nama suaminya. Itu nama almarhum ayahnya. Dia tidak pernah kawin. Orang-orang di sekitar mengira kalau dia terlalu pandai untuk menikah. Aku tidak menyangka dia telah berputri sebesar ini.’

‘Kalau begitu kamu tahu alamatnya,’ seru Sita gembira. Lily mengangguk kemudian bertanya kalau Sita mempunyai kertas untuk menuliskan alamat itu. Sita mencari di laci dan menemukan selembar kertas dan balpoint. Lili menuliskan sebuah alamat. Dokter Nina Santoso tinggal tiga rumah di sebelah kanan rumahnya jadi dia tinggal menambah tiga angka dari nomer rumahnya sendiri.

‘Terimakasih, Lily,’ tutur Sita berkali-kali sambil memasukkan alamat itu ke dalam dompetnya. Kemudian Sita bertanya tentang Indonesia dan bagaimana caranya agar bisa sampai ke sana.

‘Kamu ingin ke Indonesia?’ tanya Lily

‘Ya. Kalau dulu aku tidak berkeinginan untuk pergi karena waktu itu aku takut tidak bisa menemukannya. Tetapi sekarang dengan alamat sejelas ini? Hanya Tuhan yang tahu betapa besar keinginanku.’

                                                                     ***

Perkawinan Nate dan Sue dilangsungkan secara sederhana dan karena langit cerah mereka mengadakan pesta di katamaran. Hanya beberapa kerabat dekat saja yang hadir. Sita dapat melihat wajah Nate yang sebenarnya karena jambang dan kumisnya telah tercukur bersih. Dalam keadaan seperti itulah Nate benar-benar mirip Nick, Nate mengenakan stelan berwarna merah hati dan Sue mengenakan pakaian pengantin berwarna putih bersih.

‘Sue cantik sekali ya Nick?’ bisik Sita di telinga Nick mencoba mengajuk hati Nick terhadap Sue. Nick mengangguk.

‘Setiap gadis akan tampak cantik pada hari perkawinannya karena saat itu adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya.’

‘Apakah Sue bahagia?’ tanya Sita berbisik. Nick bingung akan arah dari pertanyaannya.

‘Kenapa Kamu bertanya seperti itu?’

‘Cuma ingin tahu saja.’

‘Tentu saja dia bahagia. Dia mencintai Nate dan dapat kawin dengan orang yang dicintainya adalah suatu kebahagiaan. Suatu saat kamu akan mengalaminya.’ Nick memegang hidung anaknya. Sita tidak bertanya lagi. Apakah Nick tidak tahu kalau Sue mencintainya?

Sue dan Nate akan tinggal di Theresia Street sebab Nick menghendaki agar Sita tidak merasa dilupakan oleh Nate. Baik Nate maupun Sue menyetujui usul itu. Tetapi kenyataannya mereka berempat belum pernah tinggal di dalam atap yang sama. Begitu pesta perkawinan usai, Nate dan Sue pergi berbulan madu ke Bahama. Seminggu sebelum bulan madu itu habis, Nick harus pergi ke Auckland, New Zealand untuk suatu konperensi dan harus tinggal di sana selama satu bulan. Sita menduga bahwa Nick hanya mencari-cari alasan agar tidak tinggal serumah dengan Sue. Tetapi mengapa? Apakah Nick juga mencintai Sue? Ah urusan orang tua selalu rumit.

Seminggu yang sepi. Sementara menanti Nate kembali, Sita hanya ditemani oleh ibu Sue. Pada saat itulah kerinduan kepada ibunya memuncak. Dia memutuskan untuk melarikan diri. Aku harus memjumpai wanita yang telah melahirkanku. Harus.

AkuTak Mau Pulang, Nick

Sore itu Sita sedang mengayuh sepedanya sepanjang James Street yang lenggang ketika dia merasa ada langkah kaki kuda di dekatnya Sita menoleh. David Sweeney sedang tersenyum ke arahnya di atas punggung seekor kuda hitam berkilat.

Dari mana?’ tegur David.

‘Latihan,’ jawab Sita sambil memperlihatkan sarung tangan softballnya. Mereka berjalan beriringan. Dave sibuk mengendalikan kudanya agar dapat mengimbangi kecepatan sepeda balap Sita.

‘Ayahku bilang kalau kamu mau pergi jauh. Kemana?’ tanya David. Ayah David adalah direktur Bank dimana Sita menabung uangnya. Kemarin Sita mengambil seluruh tabungannya dan ayah David menanyakan untuk apa uang itu.

‘Ke Indonesia,’ jawab Sita lirih.

‘Indonesia?’ ulang David. ‘Beberapa lama kamu akan berada disana?’

‘Aku tidak tahu. Mungkin lama mungkin juga sebentar, tergantung Dave.’

‘Tergantung apa?’ tanya David ingin tahu.

“Apakah aku kerasan atau tidak.’

‘Apakah itu berarti jika kamu kerasan kamu tidak akan kembali lagi?’ Sita tersenyum melihat kekhawatiran yang terekspresi pada wajah David.

‘Apakah aku tidak menjadi bahan pertimbangan?’ tanya David lagi.

‘Kamu? Memangnya kenapa?’ Sita tidak mengerti.

‘Kalau kamu pergi aku akan kehilangan dirimu. Kamu tahu sudah lama aku memperhatikan kamu. Kurasa aku mencintaimu,’ jawab David lugu sambil menghentikan kudanya karena mereka telah sampai di depan Katedral dan Sita harus membelok ke kiri.

‘Wow cara klasik dalam menyatakan cinta, di atas punggung kuda.’ Sita mencoba bergurau walau pernyataan David tadi telah mengacaukan perasaannya. David tertawa . Sita tertawa dan langitpun ikut tertawa.

‘Akan kujadikan bahan pertimbangan, Dave. Sungguh. Sampai jumpa.’

AkuTak Mau Pulang, Nick

 Di depan rumah Nate telah menunggunya. Dia telah pulang dua hari yang lalu.

‘Tumben menanti di depan rumah. Mana Sue?’

‘Ada yang ingin kubicarakan denganmu,’ jawab Nate serius. Sita merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dia meninggalkan sepedanya di luar dan berjalan masuk mengikuti Nate. Apakah Nate sudah mengetahui kalau Sue tidak mencintainya? pikir Sita gamang.

‘Bill Sweeney menelponku,’ Nate membuka percakapan. Sita menarik nafas lega. ‘Untuk apa uang itu, Sita? ‘tanya Nate.

‘Apakah Mr. Sweeney tidak mengatakan?’ balas Sita.

‘Sita, aku ingin mendengar darimu sendiri.’

‘Aku mau ke Indonesia,’ jawab Sita mantap. ‘Aku telah menghubungi travel agent dan menanyakan biayanya dan kurasa uangku cukup untuk membiayaiku pergi.’ Nate terperanjat. Belum pernah selama hidupnya terkejut seperti kali ini.

‘Untuk apa kau ke Indonesia? Liburan sekolah hampir habis.’

‘Menemui mama,’ jawab Sita pendek.

‘Sita, kau sadar dengan apa yang akan kau lakukan?’

‘Tentu saja. Apakah suatu keganjilan jika seorang anak ingin menemui orang yang telah melahirkannya.’

‘Tentu saja tidak. Tapi Kamu pergi tanpa rencana.’

‘Aku telah lama merencanakan, Nate. Lebih lama dari yang kamu duga,’ jawab Sita. Dia telah membulatkan hatinya bahwa tak ada sesuatu yang akan dapat merintangi maksudnya.

‘Tanpa sepengetahuan Nick?’

‘Kamu tahu Nick tidak akan mengijinkanku pergi, itulah sebabnya aku akan pergi sekarang selagi Nick tidak di rumah.’

‘Lalu kamu anggap apa aku ini, Sita?’ tanya Nate mencoba bersikap tenang.

‘Nate … ‘ Sita tidak berkutik.

‘Aku tidak akan mengijinkanmu,’ suara Nate rendah. Sita terpana. Selamanya Nate selalu menuruti kemauannya dan kini Nate telah menolak tanpa mempertimbangkan lebih dahulu. ‘Kamu boleh pergi jika Nick sudah kembali.’

‘Kamu bukan ayahku,’ jerit Sita jengkel.

‘Aku diberi wewenang untuk menjagamu,’ Nate mencoba mengendalikan emosinya.

‘Aku tidak mau tahu. Kalau kamu tidak mengijinkan aku akan pergi tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Aku akan pergi tanpa pamit.’

‘Sita, kamu tidak tahu dimana ibumu berada. Indonesia tidak hanya sebesar Clayton, luas sekali, Sita. Kamu tidak akan bisa menemuinya,’ bujuk Nate halus.

‘Aku punya alamatnya, Nate,’ Sita menyebutkan alamat ibunya dan dari mana alamat itu diperolehnya. Nate terdiam sesaat. Anak ini telah melangkah terlalu jauh. Aku tak akan bisa menariknya mundur.

‘Bagaimana jika dia telah pindah sedang uangmu hanya cukup untuk satu kali penerbangan ke Indonesia?’ Nate mengetahui kelemahan keponakannya karena Bill Sweeney juga menerangkan berapa jumlah uang yang telah ditarik Sita

‘Aku tidak tahu. Jadi pengemis mungkin. Kalau kamu menginginkan aku selamat dan menginginkan aku kembali ke sini lagi berikan aku uang saku tambahaan.’ Mau tidak mau Nate tersenyum. Baru saja mereka bertengkar mempertahankan pendapat mereka masing-masing dan kini Sita menginginkan dia memberinya uang saku tambahan.

‘Kamu pikir aku akan memberinya?’

‘Kamu akan memberi, Nate. Aku tahu itu. Kamu selamanya begitu manis kepadaku,’ omong Sita seenaknya sambil keluar lagi, mengambil sepedanya dan pergi. Nate termangu, dalam hati dia tahu bahwa dia tidak akan berhasil membujuk keponakannya untuk membatalkan rencananya.

 AkuTak Mau Pulang, Nick

Bujukan Nate yang bertubi-tubi ditambah bujukan manis Sue tidak mempan. Pikiran Sita telah dipenuhi oleh bayangan-bayangan manis tentang ibunya dan Indonesia. Dia telah mulai mengepak barang-barangnya. Boneka-boneka mana yang dianggap patut untuk menyertai perjalanan wisatanya.

‘Kapan kamu berangakat, Sita?’ tanya Sue di depan pintu kamar Sita. Sita memberi tanda agar Sue masuk. Sue masuk dan duduk di tempat tidur Sita, memandang Sita memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.

‘Minggu depan,’ jawab Sita sambil mencium boneka mungil yang kemudian diletakkannya kembali karena sudah terlalu banyak boneka yang akan dibawanya.

‘Jangan mencoba membujukku lagi, Sue. Kamu tahu aku benar-benar ingin berjumpa dengan mama.’ Sue mengangguk. Kemudian memberikan beberapa lembar puluhan dollar.

‘Belilah baju-baju yang manis, Sita. Indie selalu rapi berpakaian, tentu dia menginginkan anaknya menuruni kerapiannya. Jangan memakai jeans pada pertemuanmu yang pertama.’ Sue berkata lembut. Sita mendekati Sue, mencium pipinya yang halus dan mengucapkan terimakasih.

‘Kamu selalu penuh pengertian, Sue. Aku menyesal kamu jadi ibu tiriku.’

‘Sita … Sita. Seorang bibi lebih baik daripada seorang ibu tiri,’ Sue tertawa senang.

Kalau Nate berkata bahwa dia tidak mau tahu dengan kepergian Sita, itu hanya omongannya saja. Diantara mereka bertiga, Natelah yang paling sibuk dan repot. Setiap kali dia memperingatkan Sita, kalau-kalau   Sita melupakan sesuatu. Menyiapkan pesan tempat dan membelikan Sita ticket pesawat berikut sebuah buku traveller check. Dia sendiri mengantarkan Sita ke Kennedy Airport.

‘Kamu akan kembali lagi kan, Sita?’ tanya Nate. Saat itu pukul dua belas malam. Pesawat Lufthansa yang akan membawa Sita Frankfurt hampir berangkat. Sita mengangguk, hatinya rawan.

‘Tentu, Nate. Sampaikan salamku untuk Sue dan … ‘Sita memeluk Nate dan menciumnya. Nate membalas mencium keponakannya lama. Aku merasa kamu tidak akan pernah kembali lagi, Sita.

‘Dan siapa? ‘tanya Nate.

‘David,’ jawab Sita sambil berlari karena panggilan terakhir telah terdengar.

‘ David siapa?’ teriak Nate penasaran. Baru kali ini keponakannya menunjukkan gejala yang aneh.

‘David Sweney,’ Sita berteriak dan menghilang.

AkuTak Mau Pulang, Nick

Sedianya pesawat yang ditumpangi Sita akan mendarat di Soekarno Hatta pada jam dua siang dua hari berikutnya. Sita ganti pesawat di Frankfurt dan menginap semalam di kota itu.  Tetapi di Singapura ada pesawat yang rusak di runway, terpaksa semua penerbangan untuk hari itu tertunda. Pesawat Sita baru masuk pada pukul tujuh malam.

Sita melepas jacket biru yang dipakainya selama perjalanan sambil menuruni tangga pesawat. Ditangannya dia membawa boneka panda putih dengan belang hitam di telinga dan sekitar matanya.

‘Phoebe, inilah tanah mamaku. Aku tahu kamu pasti menyukainya karena aku sangat menyukai tanah ini,’ bisik Sita ditelinga boneka pandanya. Dia bernafas dalam berusaha mengambil udara Indonesia sebanyak mungkin sambil mengikuti arus penumpang yang keluar menuju pintu yang telah ditunjuk.

Kekhawatiran Sita muncul setelah semua urusan imigrasi beres. Kemana aku harus pergi sekarang? Dimana aku harus menginap malam ini? Ya Tuhan tunjukkanlah jalanmu, aku berada di tanah yang asing. Dia mendekap bonekanya makin erat mencoba mencari ketenangan pada mahluk tak bernyawa itu. Dikumpulkannya dua koper yang dibawanya dan duduk disalah satu koper itu. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan seseorang yang sangat dikenalnya.

‘Nick …’ panggil Sita dan berlari memeluk Nick yang berdiri terlindung pilar. Dia lupa pada kopernya. Sita menciumi Nick gemas. Nick mengelus-elus rambut Sita bahagia. Dia telah menunggu kedatangan anaknya sejak pukul dua siang dengan segala kegelisahannya dan kini anak itu telah ada dalam pelukannya.

Seminggu yang lalu Nate menelponnya mengatakan bahwa dia tidak berdaya untuk mencegah kenekadan Sita. Tanpa pikir panjang Nick meninggalkan konperensi dan terbang ke Jakarta lebih awal.

‘Sedang apa kamu disini, Nick?’ tanya Sita setelah ia sadar bahwa seharusnya dia tak akan menjumpai Nick dalam pelariannya.

‘Menjemputmu tentu saja.’

‘Menjemputku? Kamu tahu kalau …?’  Nick tersenyum.

‘Perasaan seorang ayah sangat peka, Sita. Aku punya firasat bahwa aku akan menjumpaimu disini,’ jawab Nick bohong. Sita tahu kalau Nick berbohong tetapi dia tidak dapat mengira-ngira bagaimana Nick bisa mengetahuinya.  Baik Nate dan Sue sudah bersumpah untuk tidak memberitahu ayanya.  Kecuali mereka mengingkari sumpah mereka.  Sita dan Nick berjalan menuju tempat dimana Sita meninggalkan kopernya.

‘Kita menjumpai mama hari ini, Nick?’ tanya Sita tidak sabar.

‘Tidak bisa. Sudah tidak ada penerbangan lagi untuk hari ini. Aku sudah pesan ticket untuk besok pagi,’ jawab Nick. ‘Kita bermalam di Jakarta malam ini.’

Dalam perjalanan menuju hotel mata Sita tidak pernah berkedip. Indonesia adalah negara tropis pertama yang dikunjunginya. ‘Luar Negri’ bagi Sita hanyalah Negara-negara Eropah yang pernah dikunjunginya bersama teman-temannya. Dan kini menyaksikan   Indonesia kekagumannya tak bisa disembunyikan.

‘Pantas mama lupa pada danau Erie,’ gumam Sita tidak sadar. Nick melirik anaknya tanpa berkomentar.

AkuTak Mau Pulang, Nick

‘Sita… Sita ..’ Nick menepuk-nepuk pipi anaknya agar bangun. Begitu sampai di hotel dan melihat tempat tidur langsung Sita jatuh tertidur.

‘Sita … bangun sayang,’ bisik Nick. Sita menggeliat malas.

‘Sita, makan dulu, yuk.’

‘Kamu saja. Aku ngantuk,’ jawab Sita. Nick mengangkat Sita dan mendirikannya di lantai.

‘Sudah hampir jam dua belas. Aku tahu kamu belum makan sejak tiga hari yang lalu.’

‘Kamu pikir kami tidak diberi makan di pesawat? ‘tanya Sita sambil menuju wastafel dan membasuh mukanya. Nick tertawa ringan.

‘Kamu pikir aku mau mempercayai jika kamu berkata bahwa kamu menyantap semua makanan yang dihidangkan? Sedang di rumah saja makanmu sukar apalagi di pesawat yang tidak ada seorangpun mengawasimu.’ Sita tidak membantah.

Mereka berjalan berdua di bawah terang lampu Jakarta yang romantis. Nick memilih sebuah restaurant kecil yang sudah sepi. Sementara menanti pesanan Nick bercerita tentang Nina.

‘Beberapa bulan setelah kamu lahir, Nina mulai gelisah. Saat itu politik di Indonesia sedang anti Amerika. Amerika adalah musuh Indonesia. Dimana-mana terdapat demonstrasi dengan spanduk-spanduk yang bertuliskan “America, go to hell.” Nina bingung. Dia tidak tahu dimana dia harus berdiri. Kemudian datang panggilan bahwa dia harus pulang ke Indonesia. Nina datang ke Amerika dengan beasiswa dari Negara untuk menuntut ilmu untuk diterapkan di Indonesia. Aku mencoba menahannya, membujuknya dengan mengatakan bahwa dia telah mempunyai dirimu. Tapi Nina merasa bahwa dirinya telah menghianati negaranya. Kami sering bertengkar tentang hal itu. Sedang surat-surat dari Indonesia makin gencar.’

Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Sita tersenyum pada pelayan itu yang dibalas dengan anggukan.

‘Tahun-tahun itu suasana  politik di Indonesia sedang kritis. Nina tidak berdaya. Dia merasa bahwa Indonesia membutuhkannya, sebab itulah yang ditulis pada setiap surat yang diterimanya. Nina mengajakku untuk mengikutinya pindah ke Indonesia. Kukatakan padanya bahwa aku tidak bisa karena saat itu aku satu-satunya dokter di Clayton. Dokter yang paling dekat adalah dokter Wyatt dan dia tinggal di Alexandria Bay. Nina ngotot, dia bilang dia dibutuhkan di Indonesia dan dia orang Indonesia. Semua orang menyalahkan kami karena baik aku maupun Nina tak ada yang mengalah. Kamu harus tahu, Sita, kami berdua saling mencinta tapi kewajiban terhadap umat manusia dan Negara tidak bisa terkalahkan oleh cinta pribadi. Aku berkewajiban terhadap Clayton dan Nina berkewajiban terhadap negaranya. Itulah sebabnya kami memilih perceraian sebagai jalan keluarnya. Demi Tuhan aku menyesalkan keputusan itu. Tetapi kami tidak mempunyai pilihan lain. Kami pergi ke pengadilan dan memohon perceraian. Perceraian itu disetujui dan Kamu ikut bersamaku. Sejak saat itulah aku merasakan kehancuranku.’

‘Tidak pernahkah kamu mencoba untuk menghubungi mama, Nick?’

‘Sekali aku bertemu dengannya di Boston beberapa tahun setelah Indonesia kembali stabil.

‘Boston? Kenapa kamu tak pernah bercerita, Nick? Mengapa dia tidak mampir?’

‘Aku yang menghendakinya. Aku memohon kepadanya agar dia tak berkunjung ke Clayton. Aku merasa bahwa kehidupan kita saat itu telah mulai tenang dan satu lagi aku telah meminta Sue menjadi istriku. Walau akhirnya permintaanku itu ditolak Sue.’ Nick tertawa kecut, mentertawakan dirinya. Sita tercenung. Aku pernah begitu dekat dengan mama tapi aku tidak pernah tahu.

‘Kamu tidak pernah menghubunginya lagi?’

‘Aku terlalu malu untuk melakukannya, Sita.’

AkuTak Mau Pulang, Nick

‘Nick, bunga apa yang paling disukai mama?’ tanya Sita di los pasar kembang, Yogya. Nick berpikir sejenak kemudian menggeleng.

‘Dia menyukai segala macam kembang, sejauh yang bisa kuingat.’

‘Bunga apa yang paling sering berada di kamar tidurmu?’

‘Setiap hari berganti bunga, Sit, pilih saja yang paling kamu sukai, dia tentu menyukainya.’

‘Bunga apa yang paling banyak pada pesta perkawinanmu. Bukankah itu bunga yang paling disenangi wanita?’

‘Anyelir,’ teriak Nick senang karena bisa mengingat sesuatu.

‘Anyelir merah tua?’ tebak Sita, karena bunga itu bunga kesukaannya. Nick mengangguk. Mereka membeli dua ratus tangkai anyelir yang kemudian disusun oleh Sita dalam sebuah keranjang bambu.

Mereka naik becak menuju rumah Nina. Berbagai macam perasaan bergolak di hati keduanya. Bahagia, rindu, gelisah, was-was dan segala Nateam berbaur menjadi satu.

Becak yang mereka tumpangi berhenti pada sebuah rumah bercat putih bersih dengan halaman luas. Dari halamannya   saja Sita tahu kalau ibunya mencintai segala macam kembang karena halaman itu dipenuhi dengan bermacam-macam tanaman. Di halaman itu juga ada sebuah pohon sawo yang rimbun yang membuat suasana rumah itu kelihatan begitu damai. Nick membayar tukang becak dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa Indonesia. Sita heran.

‘Kamu bisa berbahasa Indonesia, Nick?’

‘Aku mahir, Sita. Nina yang mengajariku. Di rumah dulu bahasa yang kami pakai bahasa Indonesia jadi kalau kami sedang mengucapkan kata-kata romantis tak ada seorangpun yang tahu,’ jawab Nick berseloroh. Sita tersenyum.

‘Kamu bisa merayu, Nick? Kupikir kamu orang yang paling kaku si seluruh jagad ini,’ Nick tertawa.

‘Lihat saja nanti kalau sudah ketemu ibumu,’

Mereka berjalan menuju pintu. Nick menekan bel. Dua-duanya gelisah. Seorang wanita tua muncul, dia memandang Nick dan Sita berganti-ganti, Nick menyapa.

‘Nick? ‘tanya wanita tua itu setelah lama memandang keduanya. Nick mengangguk dan menciumnya. Ibu Nina. Nick pernah bertemu wanita ini tiga kali dalam hidupnya. Pertama ketika melamar Nina untuk menjadi istrinya. Kedua di Washington pada waktu perkawinannya dan ketiga pada waktu kelahiran Sita. Ibu Nina mengajak mereka berdua masuk setelah mencium cucunya dengan puas. Sesampai di dalam wanita itu berbicara panjang kepada Nick. Sita tak tahu apa yang mereka bicarakan. Dia melihat Nick berkali-kali mengangguk tapi kemudian Nick duduk dengan lemas. Wajahnya pucat pasi. Nafasnya turun naik tak teratur

‘Nick, ada apa? Katakan Nick. Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan,’ Sita berjongkok di depan lutut ayahnya. Nick memandang Sita lama dan dalam kemudian menutup matanya kembali. Kemudian dari sela-sela bibirnya yang pias terdengar bisikan.

‘Nina telah pergi, Sita. Dua bulan yang lalu. Ada tumor dalam otaknya,’                       Nick berbicara terpatah-patah. Sudah berkali-kali Nick mengabarkan berita kematian kepada sanak keluarga dari pasiennya yang tidak dapat tertolong tapi kali ini lehernya seakan tercekat. Yang meninggal bukan pasiennya sedang yang dikabarinya juga bukan seorang yang asing baginya. Yang meninggal adalah orang yang dalam waktu tujuh tahun selalu   dijumpainya setiap kali dia terbangun dari tidur di pagi hari, yang telah memberinya kasih yang tak pernah pupus dimakan aktu juga yang bayangannya tak pernah lepas dari hati dan pikirannya. Sedang yang harus dikabarinya adalah anaknya sendiri. Oh Tuhan kenapa ini harus terjadi.

Sita memandang ayahnya tak percaya kemudian kepada ibu Nina. Wanita tua itu mengangguk pelan. Sita terhuyung ke belakang. Matanya memandang nanar dan tubuhnya bergetar hebat kemudian dia menjerit.

‘Tidak! Tidak! Tidak mungkin mama pergi. Dia belum bertemu a… ‘dan dia roboh di lantai. Anyelir merah yang dibawanya tersebar di sekitar tubuhnya. Membuat suatu figura yang mengelilingi tubuhnya yang   putih bagaikan kapas. Kalau saja pemandangan itu bukan pemandangan duka maka tubuh Sita dan anyelir merah tua akan membuat pemandangan yang indah untuk dilihat.

Nick memandang anaknya yang pingsan tanpa berusaha untuk menolong. Aku tak berani membangunkanmu, Sita. Aku tak punya sesuatu yang dapat kuberikan kepadamu jika terbangun, bahkan sebuah mimpipun tidak. Aku yang melahirkanmu ke dunia ini dengan penuh harapan agar aku bisa membahagiakan hidupmu ternyata justru akulah yang menghancurkan kebahagiaanmu. Kalau saja aku tidak keras kepala, semuanya ini tidak harus terjadi.

Nick berjongkok di sisi tubuh anaknya, menyisihkan anyelir-anyelir yang berada di sekitar pipi anaknya dan kemudian dia membungkuk dan mencium pipi Sita yang dingin bagai batu marmer. Air matanya deras membasahi pipi anaknya. Hukumlah aku, Sita. Hukumlah aku yang seberat-beratnya ! Biar agak berkurang rasa berdosaku kepadamu dan kepada ibumu. Akulah laki-laki paling kejam di dunia ini. Hukumlah aku.

AkuTak Mau Pulang, Nick

Awan tebal menutup langit kota Yogya malam itu. Hanya ada beberapa bintang yang nampak. Yogyaku muram dan angin malam menyenandungkan lagu-lagu duka. Sita duduk di bawah pohon sawo sambil memandang jauh ke depan ke tempat tukang-tukang becak berkumpul di bawah tiang listrik yang muram cahayanya. Disampingnya Nick duduk memandang anaknya sendu.

‘Sita, kita harus segera pulang. Sekolah sudah mulai,’ bisik Nick lembut.

‘Aku tidak mau pulang, Nick. Di sinilah tempatku,’ jawab Sita lirih. Suaranya seakan datang dari alam lain. Nick mencari kata-kata yang tepat. ‘Sita, tidakkah kamu rindu kepada teman-temanmu d Clayton. Rindu pada Nate dan Sue?’ Sita terpana. Sekilas terbayang wajah Nate, Sue dan yang terakhir David yang duduk di atas punggung kuda yang sedang mengucapkan kata-kata cinta untuk dirinya. Kamu berjanji untuk mempertimbangkannya, Sita. Sita menggeleng.

‘Mama menghendaki kita untuk tinggal di sini, Nick. Dan aku akan menuruti keinginan mama.’

‘Aku tidak bisa, Sita. Bagaimana dengan Rumah Sakit?’

‘Sudah banyak dokter sekarang. Tapi kalau kamu memang ingin pulang, pulanglah, Nick. Aku akan tetap berada di sini,’ Sita berbicara tanpa emosi. Tidak seperti biasanya jika dia menginginkan kemauannya untuk dituruti.

‘Sita, kamu tahu aku sangat membutuhkanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu.

‘Aku telah hidup bersamamu selama enam belas tahun penuh. Sekarang giliranku untuk tinggal bersama Mama.’

‘Tapi Nina telah tiada.’

‘Ada pusaranya, Nick. Dan aku akan merawat pusara mama. Tak ada orang lain yang melakukannya, Nick.’   Nick terdiam. Tiba-tiba terdengar panggilan dari dalam

‘Sita.’

‘Dalem, eyang,’ jawab Sita dari luar dengan bahasa Jawa yang halus. Nick memandang anaknya takjub.

‘Sudah malam, nak, mau hujan lagi, masuklah nanti   sakit.’

‘Ya, eyang,’ jawab Sita. Dia berdiri kemudian menunduk mencium pipi Nick.

‘Selamat malam, Nick,’ Nick membalas ciuman Sita dan membiarkannya pergi.

Nick masih lama duduk di luar, mengamati awan hitam yang memuramkan suasana. Kamu telah berani melahirkan anakmu, Nick. Mengapa Kamu tak berani melakukan sesuatu untuknya? Apa yang akan kamu dapati di Clayton? Tak ada sesuatupun yang tersisa di sana untukmu, Nick. Jangan kau buat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya Nick. Akankah Kamu kehilangan anakmu untuk sesuatu yang tak kau ketahui.

Nick bangkit berjalan masuk dan berbisik di depan pintu kamar anaknya.

‘Aku selalu bersamamu, Sita.’

AkuTak Mau Pulang, Nick

TAMAT

Advertisements

“Bu Kar dan Bung Aznen Yang Terhormat …”

Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

 

Belum pernah aku merasa begitu khawatir akan umurku seperti sekarang ini.  Setiap hari matahari datang dan pergi tanpa meninggalkan pengaruh bagiku. Tahun demi tahun berlalu tanpa sekalipun aku merasa terancam.  Setiap tanggal 9 April dengan gembira kurayakan pertambahan umurku.  Aku selalu merasa muda.  Juga ketika umurku berubah dari 29 menjadi 30 pada tanggal 9 April lalu. Mungkin sampai saat ini aku masih merasa belum perlu khawatir kalau saja Riris, teman kantorku tidak merencanakan perkawinannya.

Ketika Riris mengatakan kalau dia dan Joko akan menikah, aku menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.  Mereka sudah enam tahun berpacaran.  Tetapi beberapa jam kemudian aku menyadari ada sesuatu yang tidak beres.  Bukan pada Riris atau Joko, tetapi pada diriku sendiri.

Aku sadar bahwa semua temanku sudah pada kawin, sudah mempunyai keluarga sendiri.  Bahkan sudah sejak bertahun-tahun yang lalu.  Nita teman SMU-ku anaknya sudah tiga.  Yani, karibku waktu mahasiswa, anak sulungnya sudah masuk SD.

Semakin aku menoleh ke belakang, semakin nyata kalau semua orang yang dekat denganku sudah kawin.  Tinggal aku sendiri yang belum.  Mending kalau aku sudah merencanakannya seperti Riris.  Tapi masalahnya, pacar pun aku tidak punya.  Nah, memang benar ‘kan kalau ada sesuatu yang tidak beres pada diriku? Tapi apa?

Aku memang tidak secantik Bunga Citra Lestari. Tapi aku tidak jelek. Orang bilang mataku indah dan hidungku bagus.  Tinggiku sedang dan tubuhku proporsional.  Dengan IQ 138, aku tergolong cerdas.  Aku supel dalam pergaulan sehingga aku bisa diangkat sebagai Manajer Pemasaran pada sebuah perusahaan multinasional.  Teman wanitaku banyak.  Teman priaku tidak kalah banyak.  Hanya sayang tidak seorang pun dari mereka yang merasa cukup dekat denganku untuk melamarku menjadi istri.

Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, pikiran itu begitu menggangguku.  Aku yakin ada yang salah dengan diriku.  Tapi apa aku tidak tahu.  Aku membutuhkan bantuan seorang psikolog.  Barangkali.. Ya, barangkali, Ira, psikolog di Departemen personalia bisa membantuku untuk menemukan jawabannya.

Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

Aku tengah memasukkan data ke dalam komputerku, ketika telepon di meja kerjaku berteriak-teriak minta diangkat. Meja kerjaku dengan meja kumputer sengaja aku pisahkan agar tidak setiap saat mataku menatap layar. Kudiamkan saja dengan harapan akan berhenti dengan sendirinya.  Ternyata tidak. Krang kring itu masih juga berlanjut hingga semua ujung syarafku berdiri tegang.  Terpaksa kutinggalkan komputerku untuk meladeni penelpon yang bawel itu.

‘Selamat siang, Lely di sini.’ Sedongkol-dongkolnya hatiku, ternyata aku masih bisa ramah juga.

‘Buset, Lel, kok lama banget baru diangkat?’ terdengar gerutuan dari seberang.  Hanya dua orang di kantor ini yang berani membusetkan aku. General Managerku dan Riris. Dan yang ini jelas suara Riris.

‘Kamu sendiri juga tidak tahu etika,’ sahtku ringan. ‘Kalau lama tidak diangkat letakkan lagi dong.  Barangkali saja aku sedang ke toilet.’

Riris tertawa gelak, ‘Aku tahu dengan pasti kalau kamu ada di kamarmu, Lel.  Sebelum aku menelpon kusuruh Lusi untuk mengintip ke kamarmu,’ jawab Riris setelah tawanya reda.

‘Ada keperluan apa sih pakai nyuruh orang ngintip segala?’

‘Ini sudah hampir jam dua, Lel.  Tidak lapar?’ jawab Riris.  Tentu saja dia benar. Kalau kami berdua sedang berada di kantor, kami selalu makan siang bersama di kantin.

‘Sorry, Ris,’ aku mengaku salah. “Sebentar lagi ya? Aku lagi nanggung nih. Sepuluh menit lagi aku ke kamarmu,’ janjiku.

‘Oke, kutunggu kamu sepuluh menit lagi.  Jangan lebih. Bisa pingsan aku,’ pesan Riris sebelum menmutuskan hubungan.

Cepat-cepat aku kembali ke komputerku. Beberapa data yang tersisa segera kuinput, untuk mendapatkan analisa kotor.  Tepat sepuluh menit kemudian aku sudah berdiri di depan kamar kerja Riris. Dari luar aku bisa mendengar tawa Riris yang nyaring.  Bukan tawa orang yang hampir pingsan karena kelaparan.

Masuk ke dalam, aku melihat Riris dan Lusi, sekretarisnya, sedang menghadapi sebuah edisi majalah Femina.

‘Ini kantor atau perpustakaan?’ tanyaku dengan suara yang kubuat seserius mungkin. ‘Perempuan tertawa ngakak. Terdengar si Elang bisa-bisa kalian kena PHK,’ sambungku sambil menyebut nama General Manager kami.

‘Dengar ini, Lel,’ kata Riris tidak menanggapi omonganku.  ‘Seorang ibu mengirim surat ke Bu Kar.  Dia bilang anak perempuannya yang selama ini merupakan kambing hitam di keluarga, setelah kawin dan punya rumah sendiri jarang mengunjungi ibunya. Padahal si ibu yang menjodohkan mereka dulu.  Si anak merasa lebih bebas dan lebih bahagia daripada dulu.  Kini si ibu merasa kecewa karena telah menjodohkan anaknya,’ lanjut Riris. Setelah terdiam beberapa detik dia menambahkan.  “Lusi, bilang jangan-jangan yang mengirim surat itu ibu Lusi,’ Riris tertawa. Lusi nyengir lucu.

Aku terpana. Sebuah kesadaran menghantam tepat di otak kecilku.  Ibu itu mempunyai masalah yang mengganggunya sehingga dia menulis surat kepada Bu Kar. Aku juga sedang mempunyai masalah. Masalah itu juga menggangguku. Mengapa tidak kubawa masalahku ke Bu Kar dan Bung Aznen?  Menghadapi Ira yang psikolog dan teman kerjaku sendiri, agak sungkan dan mungkin akan menyiksaku.

 Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

Ternyata menulis surat buat Bu Kar lebih sulit daripada menulis cerpen atau membuat laporan tahunan bagi para pemegang saham.  Berhari-hari lamanya hanya satu kalimat yang berhasil kutulis. “Bu Kar dan Bung Aznen yang terhormat”. Tidak lebih.

Pernah aku menambahkan seperti ini.

Bu Kar dan Bung Aznen yang terhormat,

Saya seorang gadis Jawa, 30 tahun, manajer pemasaran pada sebuah perusahaan asing, tinggi 161, berat 48, kulit kuning, mata indah, hidung bagus. Berpenampilan menarik. Mendambakan…

Tetapi segera kusobek.  Surat seperti ini lebih cocok untuk Kontak jodohnya Kompas daripada rubrik Dari Hati ke Hati.

Pernah pula aku menulisnya dengan lebih hati-hati. Lebih serius dan lebih terinci. Tetapi setelah selesai dan kubaca ulang, aku sadar kalau orang yang kugambarkan di surat itu adalah tokoh fiktif, bukan diriku sendiri.  Kuulangi lagi dari awal, tetapi hasilnya masih belum diriku.  Begitu terus.  Akhirnya Cuma kembali ke Bu Kar dan Bung Aznen yang terhormat.

Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

Sejak aku berniat menulis surat buat Bu Kar dan Bung Aznen, aku selalu meninggalkan kantor sesudah jam tujuh malam.  Sesudah jam lima sore, saat jam kerja usai, aku akan segera mengambil flashdisk-ku dan mulai menyusun surat keluhanku.

Sesudah hari kesepuluh dan hampir setengah boks kertas masuk ke keranjang sampah, baru suratku yang berisi curahan hati yang kurasa tidak cengeng berhasil kutulis.  Karena waktu itu sudah agak larut, sehabis kucetak segera saja kumatikan komputerku. Tanpa sempat mengambil suratku dari printer, bergegas kukunci kamar kerjaku dan kutinggalkan kantor. Pikirku toh tidak ada seorang pun yang berani mengotak-atik kamarku.

Ternyata aku salah perhitungan.  Esok paginya, sesampai di kantor, kulihat kamar kerjaku terbuka.  Dan hampir saja aku pingsan ketika melihat suratku buat Bu Kar dan Bung Aznen sudah terletak dengan rapi di atas meja kerjaku dan di sampingnya ada lagi sebuah surat yang lain.  Surat balasan!!  Dengan kemarahan setinggi Empire Building, kubaca surat tersebut.  Begini bunyinya.

Anakku Lely,

Bu Kar dan Bung Aznen sudah mempelajari masalahmu dengan matang. Jawabannya cukup mudah. Hentikan memikirkan dirimu sendiri. Buka matamu lebar-lebar. Ada seseorang  yang ingin menjadikanmu sebagai istrinya. Dia begitu dekat. Tetapi karena kamu terlalu memikirkan dirimu sendiri dengan persyaratan-persyaratan yang tidak masuk akal, maka kamu tidak bisa melihatnya dengan jelas.  Buka mata hatimu, kamu akan mengetahui siapa dia.

Salam,

Bu Kar dan Bung Aznen.

‘Mbak Harti!’ teriakku lantang begitu surat tersebut selesai kubaca.  Mbak Harti, sekretarisku datang dengan tergesa-gesa.  Belum lagi dia berhenti, sudah kuberondong dia dengan pertanyaan.

‘Mbak Harti, siapa tadi yang membuka kamar saya? Siapa saja yang masuk ke sini dan menggunakan komputer saya? Siapa …’ aku berhenti ketika melihat mbak Harti memandangku bingung.

‘Waktu saya datang pintu kamar Mbak sudah sudah terbuka, saya pikir mbak datang lebih dulu.  Dan dari tadi saya tidak meihat ada orang yang  masuk ke kamar mbak.  Kenapa, Mbak?  Ada data yang hilang?’ tanya mbak Harti khawatir.  Kugelengkan kepalaku sambil mencoba mengingat-ingat apakah aku kemarin lupa mengunci pintu. Tetapi rasanya mustahil. Lalu siapa yang membuka kamarku? Siapa yang telah membaca suratku buat Bu Kar dan Bung Aznen dan menulis surat balasan yang kurang ajar itu?

Hanya aku, mbak Harti dan Karlan, Office Buy kami yang punya kunci pintu kamarku.  Dan aku yakin mbak Harti dan Karlan tidak akan berani berbuat sekurangajar itu kepadaku. Jangan-jangan sewaktu membersihkan kamar kerjaku tadi pagi, Karlan lupa menguncinya kembali dan orang lain masuk ke kamarku.  Tapi siapa?

‘Mbak Harti, tolong dong panggil Karlan,’ ucapku pelan.

Begitu aku selesai meminta tolong keoada mbak Harti, teleponku berdering. Erlangga, General Manageku. Dia meminta aku segera menemui dia di kantornya.  Kalau dia bilang segera, itu berarti benar-benar segera.  Dia tidak mau menunggu.  Terpaksa urusan pribadiku kutunda.

‘Mbak Harti, saya ke kantor GM dulu. Kalau Karlan datang, suruh dia menunggu sebentar,’ pesanku sambil berlari.

Erlangga Waskita atau si Elang sedang berbicara di telepon ketika aku tiba di depan pintu kamarnya yang terbuka.  Dia memberiku tanda untuk masuk dan duduk di depannya.  Sementara dia meneruskan pembicaraan teleponnya, aku duduk di depannya dan merasa beruntung mempunyai kesempatan untuk mengamati dirinya dari dekat.

Garis-garis wajahnya adalah garis-garis wajah tipikal orang yang mempunyai kemauan keras, galak, angkuh dan agak dingin. Persis dengan seekor elang. Untung matanya yang kelam selalu bersinar hangat,  Dan kalau dia mau tersenyum kerut-kerut di sekeliling bibir dan matanya akan bertambah dalam dan kesan angkuh dan dinginnya sama sekali tidak tampak.  Pada umurnya yang hampir empat puluh, Erlangga nampak masih belia. Aku tidak bisa melihat sehelai rambut kelabu pun di rambutnya yang hitam

‘Oke, Lel, bagaimana menurut pendapatmu?’ tanya Erlangga memecah konsentrasiku. Aku tidak tahu sejak kapan dia menghentikan pembicaraan telponnya.

‘Tentang apa?’ tanyaku gelagapan.

‘Tentang aku. Apakah menurutmu aku tergolong ganteng?’ sahutnya ringan.  Jadi rupanya di sadar juga kalau aku tengah menilai dirinya.  Untuk menutupi rasa maluku aku tertawa.

‘Ya lumayanlah,’ selorohku.

‘Hanya lumayan Hmm..?’ gumam Erlangga dengan senyum di sudut bibirnya. Tapi hanya sedetik. Sedetik kemudian dia sudah kembali angker dan serius.

Dengan singkat dia memberitahu aku bahwa beberapa direksi dari Kantor Pusat dan para manajer pemasaran dari negara-negara Asia Pasifik hari ini tiba di Indonesia dan langsung menuju ke pabrik kami di Surabaya.  Erlangga menginginkan agar aku pergi bersamanya ke Surabaya hari ini.

‘Kenapa mendadak?’ tanyaku heran. Baru kali ini orang-orang kantor pusat dan orang-orang penting dari Asia Pasifik datang tanpa gembar-gembor terlebih dahulu.

‘Strategi pemasaran kita untuk bulan depan bocor. Saingan kita, Wheelco, mulai menggunakan strategi yang sama dua hari yang lalu.  Kita harus merombak total strategi kita.  Ada kemungkinan proposalmu yang tadinya ditolak akan dipakai, asal kamu bisa meyakinkan mereka,’ kata Erlangga.  Matanya yang kelam bersinar.  Walau sekejap, aku sempat menangkap ada kekaguman dan harapan dalam mata kelam itu.

‘Lalu kapan kita akan berangkat ke Surabaya?’ tanyaku. Adanya kemungkinan bagiku untuk mempertahankan proposal benar-benar membuatku bersemangat.

‘Secepat kamu bisa mempersiapkan bahan presentasi dan perlengkapanmu,’ ucapnya. ‘Kita mungkin harus tinggal di Surabaya untuk dua atau tiga hari,’

‘Oke beri saya waktu dua jam. Saya harus mempersiapkan data terkini dan minta sopir ibu saya untuk mengantar koper dari rumah,’ janjiku.

Kembali ke kamar kerjaku, mbak Harti melaorkan bahwa Karlan hari ini tidak masuk. Laporan yang seharusnya membuatku semakin bingung lagi.  Tapi karena ada hal yang lebih penting di kepalaku, aku tidak begitu menanggapinya. Dalam saat-saat seperti ini, aku beranggapan bahwa karierku jauh lebih penting daripada kehidupan asmaraku. Aku tidak peduli kalau aku satu-satunya wanita yang belum kawin.  Aku tidak peduli ada orang Aung usil dan mengetahui bahwa sesungguhnya aku kesepian. Sebagai gantinya aku meminta tolong mbak Harti untuk membantuku mempersiapkan bahan presentasi yang harus aku bawa ke Surabaya.

 Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

Aku dan Erlangga tiba di Bandara Soetta agak awal.  Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum penumpang dipersilakan naik ke pesawat. Kesempatan yang ada kugunakan untuk membuka-buka kembali proposal strategi pemasaranku. Aku tidak ingin kedodoran dalam rapat nanti.

Erlangga duduk di sampingku di ruang tunggu eksekutif.  Kakinya yang panjang dia selonjorkan ke depan dan bahunya bersandar dengan santai.  Matanya mengawasi dengan penuh perhatian ke orang-orang yang ada di ruang tunggu tersebut. Jarang aku melihat dia dalam keadaan santai seperti itu.  Biasanya dia selalu serius.  Tak peduli dimana pun dia berada, dia tidak bisa duduk dengan diam.

Beberapa menit berlalu.  Erlangga berdiri. Menggerak-gerakkan badannya sebentar kemudian melangkah meninggalkanku.  Aku tidak tahu berapa lama dia pergi, tahu-tahu dia sudah kembali dengan membawa dua teh botol di tangannya.  Yang satu dia ulurkan ke arahku.

‘Terima kasih,’ ucapku sambil memindahkan perhatianku dari dokumen yang ada di pangkuanku.

‘Kamu benar-benar ingin proposalmu yang dipakai ya?’ komentarnya.  Aku mengangguk dengan pasti.  Dengan Erlangga aku tidak harus malu untuk menunjukkan ambisiku. Ambisi, kata yang kadang dianggap berkonotasi negatif.  Tapi bukan oleh Erlangga. Dia tahu dengan pasti aku sudah mencurahkan semua pengetahuan dan keringatku untuk menyusun proposal strategi pemasaran itu.

Sekali lagi Erlangga tersenyum misterius dan kembali duduk di sampingku. Sesudah berdiam diri beberapa saat, Erlangga mendehem.  Kututup lagi proposalku dan memandang dia.

‘Lel, boleh aku menanyakan sesuatu?’ ucapnya ragu.

‘Silakan,’

‘Siapa sih Bu Kar dan Bung Aznen itu?’ tanyanya. Dia mengeluarkan pertanyaan itu dengan pelan.  Tapi efeknya pada diriku benar-benar hebat.  Aku membelalak tidak percaya.  Jantungku seakan terbang meninggalkan dadaku.

‘Jadi kamu yang membaca suratku!’ tuduhku dengan kemarahan penuh.  Aku tidak tahu bagaimana warna wajahku saat itu.  Hanya aku yakin semua darahku naik ke kepala.

‘Tidak dengan sengaja,’ ucap Erlangga seenaknya.

‘Tidak dengan sengaja?’ jeritku.

‘Ayo dong, Lel, jangan teriak-teriak,’ bujuk Erlangga.  ‘Surat itu tidak berada di dalam amplop, jadi kukira boleh dibaca oleh semua orang,’ dalihnya.

‘Tapi surat itu ada di dalam kamarku. Dan semua yang ada di dalam kamarku adalah rahasia.  Lagi pula untuk apa kamu blusukan ke kamarku?’

‘Dengar baik-baik,’ kata Erlangga dengan nada perintah seorang boss kepada bawahannya. ‘Tadi malam aku menerima telepon dari New York tentang rapat darurat ini.  Aku membutuhkan proposalmu.  Kutelpon HP-mu tidak aktif.  Kutelpon ke rumahmu kamu belum pulang.  Aku langsung balik ke kantor. Aku pinjam kunci dari Karlan, masuk ke kamarmu dan mulai menggunakan komputermu.  Ketika aku mau mencetak proposalmu, aku melihat suratmu itu masih ada di printer.  Maaf, seharusnya aku memang tidak membacanya.’  Kalimat terakhir dia ucapkan dengan tulus.

‘Aku juga teledor,‘ gumamku.  Setengah untuk diriku sendiri dan setengahnya untuk Erlangga. ‘Tapi kamu tidak perlu membuat komentar konyol dan menyakitkan seperti itu,’ lanjutku buru-buru.

‘Aku hanya berusaha untuk membantumu,’

‘Oh, ya?’ dengusku tidak percaya.

‘Selama ini aku mengenalmu sebagai orang yang tidak membutuhkan orang lain,’ Erlangga meneruskan tanpa mengindahkan komentarku.  ‘Kamu tahu apa yang kamu inginkan dan kamu tahu bagaimana cara mendapatkannya.  Bukan kebiasaanmu untuk meminta bantuan orang lain bila menemui kesulitan. Jadi kalau kamu sampai menulis surat seperti itu, aku menyimpulkan kalau kamu benar-benar membutuhkan bantuan. Nah, aku berniat untuk membantumu.’

‘Dengan merasa iba dan membuat lelucon seperti itu?’

‘Demi Tuhan, Lel, itu bukan lelucon,’ potong Erlangga tajam.  ‘Dan tentang iba .. Aku sama sekali tidak kasihan kepadamu. Kalau ada yang harus aku kasihani, itu bukan dirimu.  Melainkan pria-pria di sekelilingmu yang selalu merasa yakin kamu tahu apa yang mereka inginkan. Yang merasa tahu kamu menyadari perasaan mereka.  Aduh, Lel, sebegitu tololnyakah kamu sehingga kamu tidak tahu kalau cinta itu tidak harus diomongkan, tapi cukup ditunjukkan dengan tingkah laku nyata?’  Sebenarnya Erlangga masih ingin meneruskan pidatonya, untung panggilan untuk menaiki pesawat keburu terdengar.  Cepat-cepat kukemasi kertas-kertasku dan kumasukkan ke dalam tas jinjingku.

Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

Selama penerbangan ke Surabaya aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak memulai percakapan dengan Erlangga.  Aku takut percakapan itu nanti akan kembali ke masalah surat yang ingin kukirim buat Bu Kar dan Bung Aznen.  Dan kalau itu terjadi, aku yakin aku tidak akan bisa mengendalikan emosiku.

Aku berusaha memusatkan pikiranku pada rapat yang akan datang. Mencoba membayangkan situasinya dan kata-kata yang ingin kukemukakan.  Tetapi karena Erlangga duduk begitu dekat dan memperhatikan semua gerak-gerikku, hal itu benar-benar sulit.  Akhirnya aku menyerah.

‘Kalau kamu begitu pandai membaca orang, mengapa sampai setua ini kamu juga belum kawin?’ serangku tiba-tiba.  Kalau aku mengharapkan dia kehilangan keseimbangan, aku salah besar.  Erlangga justru tertawa senang mendengar pertanyaanku, Kembali aku merasa dibodohkan.

‘Jadi menurutmu aku sudah begitu tua, ya?’ rajuknya.

‘Bukan itu pertanyaan saya?’

‘Kalau kamu benar-benar ingin tahu jawabannya, Lel,’ ucapnya. ‘aku telah jatuh cinta pada wanita yang tidak tahu bahwa aku sangat mencintainya. Dia sama sekali tidak mempunyai gambaran.  Sama sekali,’

Aku tahu dia cuma bermaksud untuk menggodaku dengan pernyataan seperti itu. Tapi aku tidak mau kalah dengan mudah.

‘Kalau dia tidak tahu kalau kamu mencintainya, mengapa tidak kamu beritahu dia?’

‘Terus terang aku takut dia akan menolakku.  Persyaratan-persyaratan yang dia ajukan benar-benar tidak masuk akal,’ jawab Erlangga, persis kata-kata yang dia tulis untukku. Kini aku benar-benar bernafsu untuk melecehkannya.

‘Dalam posisimu sebagai general manager, aku tidak percaya kamu tidak berani mengambil resiko,’

‘Aku menunggu saat yang tepat, Lel.  Menunggu saat yang tepat,’ gumam Erlangga sambil memejamkan matanya.

Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

Rapat hari itu berjalan dengan alot.  Banyak ide baru yang dilontarkan, tapi langsung dibantai dengan sadis. Semua saling beradu kepintaran, beradu pengalaman dan beradu argumentasi.  Suara melengking tinggi, dianggap lumrah.  Juga gebrakan meja.  Dinginnya AC sama sekali tidak mampu untuk mendinginkan kepala.

Ketika giliranku untuk membawakan proposalku tiba, aku tahu aku bakal diserang habis-habisan.  Aku sadar aku berada di tengah-tengah dunia yang didominasi pria.  Kenyataan bahwa aku wanita semakin membangkitkan ego kelakian mereka. Komentar-komentar sinis, sanggahan-sanggahan keras harus aku hadapi dengan kepala dingin.

Selama aku mempertahankan proposalku dari serangan para manager pemasaran negara lain, Erlangga duduk dengan tenang dan memperhatikan aku dari jauh. Baru kalau aku benar-benar tersudut, dia akan membantuku dengan argumentasi-argumentasinya.

Aku benar-benar lega ketika menjelang rapat ditutup, ide dasar dari proposalku bisa diterima oleh peserta rapat.  Besok tinggal membahas dengan tim kecil untuk pekerjaan rincinya.

Keluar dari ruang sidang baru aku merasakan kelelahan yang luar biasa. Dan sewaktu berada di dalam mobil perusahaan yang membawa kami berdua dari pabrik menuju hotel tangan Erlangga merangkul pundakku, aku menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Aku merasa begitu lelah dan membutuhkan perlindungannya.

‘Melihat ketenangamu waktu menangkis serangan para gurita marketing di dalam rapat tadi, aku tidak bisa mempercayai kalau malam sebelumnya kamu menulis surat seperti itu,’ bisik Erlangga di samping telingaku.  Suratku untuk bu Kar tentu maksudnya.  Tidak ada nada menghina dalam suaranya.

‘Ada saat-saat tertentu dimana aku sama sekali tidak peduli dengan karierku. Saat-saat dimana aku sangat membutuhkan orang yang mengerti aku.  Orang yang mengerti kalau aku tidak sekuat  yang orang-orang bayangkan,’ sahutku.  Aku tidak peduli apakah sopir kami menguping percakapan kami atau tidak.

‘Saat seperti ini?’ ajuk Erlangga sambil mempererat pelukannya.  Entah mengapa aku menganggukkan kepalaku. Barangkali karena kau sudah terlalu capai untuk berdebat.

‘Kalau begitu tidak ada saat yang lebih tepat dari sekarang ini,’ ucap Erlangga. Aku tidak tahu arah dari ucapannya itu. Aku melepaskan diri dari tangannya dan memandang dia dengan heran.

‘Kamu ingat pertanyaanmu yang terakhir di pesawat siang tadi?’ tanyanya. ‘Kamu bertanya mengapa aku tidak mau mengambil resiko dan melamar gadis yang kucintai. Dan kujawab, ‘Aku menunggu saat yang tepat, Lel’  Ingat?’ tanya Erlangga. Setelah mengambil nafas dalam dia melanjutkan.  “Kurasa sekarang adalah saat yang sangat tepat.  Kamu terlalu capai untuk menolak lamaranku.  Ya ‘kan?’

‘Erlangga Waskita, mengapa berbelit-belit?  Aapakah kamu sedang mencoba mengatakan sesuatu kepadaku?’ tanyaku tidak sabar.

‘Tentu saja, tolol,’ tukasnya.  ‘Aku sedang melamarmu. Aku tidak berani melakukannya selama kamu penuh energi dan merasa tidak membutuhkan orang lain.’

Aku tergelak mendengarkan ocehannya. ‘Elang, aku benar-benar menghargai niatmu untuk membantuku,’ kataku.  “Tapi kamu tidak harus mengorbankan dirimu sendiri dengan melamarku seperti itu,’

‘Lely, ternyata kamu lebih buta dari yang kuperkirakan.  Ketika aku menulis surat balasan kemarin malam, aku memang mencoba untuk membantumu untuk membuka mata hatimu.  Tapi kalau aku melamarmu sekarang, ini untuk kepentinganku sendiri. Sudah terlalu lama aku menunggumu untuk menyadari bahwa aku mempunyai perhatian khusus kepadamu. Menyadari kalau diam-diam aku ingin lebih dari sekedar atasanmu. Terlalu lama aku makan hati mendengar jawabanmu setiap kali ada orang yang menanyakan kapan kamu berniat untuk kawin.  Oh, sampai sekarang saya belum butuh suami.  Saya lebih suka hidup sendiri.  Kamu pikir enak mendengar perkataan seperti itu setiap saat?’

‘Ayo dong, Lang, berhentilah bercanda.  Aku lagi capai,’

‘Siapa yang bercanda?  Kamu benar-benar tidak masuk akal.  Kalau orang menyatakan cintanya melalui isyarat, kamu tidak bisa menangkap artinya. Kalau diucapkan, kamu tidak menganggapnya serius.  Bagaimana caranya agar aku bisa meyakinkanmu?’

‘Jadi kamu serius?’

‘Tentu saja aku serius.  Sesampai di hotel nanti, aku ingin kamu menelpon orangtuamu dan membertahukan kepada mereka kalau sekembali kita dari Surabaya aku akan meminangmu dan kita akan segera kawin.’

‘Erlangga kamu benar-benar gila.  Kamu mengajak kawin dan sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk berpikir dan mencernanya terlebih dahulu.’

‘Betul. Aku ingin mendengar jawabanmu sekarang. Aku tidak mau menunggu. Apalagi menunggu setelah proposal pemasaranmu diterima dan dilaksanakan.  Kamu akan merasa terlalu sukses dan tidak membutuhkan teman hidup lagi,’

‘Kamu salah, Lang.  Kesuksesan itu tidak akan berarti bagiku kalau tidak ada orang lain yang ikut menikmatinya.

‘Apakah itu berarti kamu menerima lamaranku?’

“Aku tidak tahu.  Berilah aku kesempatan. Paling tidak sampai kita tiba di hotel,’

Malam itu, sesudah menelpon ayah dan bunda di Jakarta dan sebelum tertidur, aku sempat memikirkan tentang Bu Kar dan Bung Aznen.  Belum sempat suratku kukirim, aku sudah menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku. Terima kasih, Bu Kar. Terima kasih, Bung Aznen.

Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

 

 

Gotehan

Gotehan

Nita, sepupuku, menentangku ketika kukatakan aku akan menyetir mobil sendiri ke Gotehan.  Dia mengingatkan kalau aku belum terbiasa untuk menyetir di ruas jalan sebelah kiri dan menawarkan sopirnya untuk mengantarku.  Dengan tegas kutolak tawarannya.   Nita tidak kenal putus asa dan terus beragumentasi dengan panjang lebar.   Dia   baru berhenti sesudah kukatakan kalau aku ingin menghadapi masalahku seorang diri.

Namun begitu keluar dari kota Surabaya aku mulai menyesali keputusanku.   Truk-truk, bis-bis serta kendaran-kendaraan lain yang berseliweran tak beraturan benar-benar membuatku ngeri.  Menghadapi kemacetan di depan pasar Krian nyaris membuatku berputar dan mengurungkan niatku.  Untung aku segera sadar kalau jalan yang aku tempuh sudah terlampau panjang.   Aku sadar kalau kehidupanku tidak akan kembali normal sebelum aku pergi ke Gotehan.

Gotehan

Minggu lalu kehidupanku masih berjalan dengan normal.   Senin pagi aku masih menuju ke kantorku yang berada di Embarcadero, San Francisco dengan berbagai proposal investasi yang aku siapkan selama akhir pekan.  Namun kenormalran itu  seakan berhenti di depan meja Pam, resepsionis kami.  Setelah mendesahkan sapaan selamat paginya yang khas, Pam menjelaskan kalau ada seseorang yang sedang menungguku di meeting room.

‘Pam, ini baru jam setengah enam.’ protesku.  ‘Kamu tahu aku tidak pernah menerima tamu sebelum jam sembilan.’

Karena waktu New York yang tiga jam lebih awal  dibanding San Francisco, para fund manager  perusahaan-perusahaan investasi di San Fransisco,  sudah harus siaga di kantor sebelum jam enam pagi untuk menunggu saat dibukanya bursa efek di New York.  Sudah berkali-kali kuingatkan Pam, walaupun aku sudah berada di kantor aku belum mau menemui tamu sebelum jam sembilan pagi.  Tiga jam pertama biasa kumanfaatkan untuk bekerja  di depan monitor.

‘Bukan tamu biasa, Lei,’ kilah Pam,  ‘Dia saudaramu dan dia sudah menunggu lebih dari setengah jam.’

‘Saudara?  Ayolah,  Pam, aku tidak punya saudara disini.’

‘Aku yakin dia saudaramu.  Wajah kalian mirip sekali.’  Jawab Pam pasti.  Aku tidak mau berdebat lagi.  Bagi Pam semua orang berkulit coklat mempunyai wajah yang sama.  Bila bertemu orang Hawaii dia akan bilang kalau mereka mirip aku.  Bertemu orang Thailand dia bilang saudaraku.  Bertemu orang Philipina  apalagi.  Jadi waktu memasuki ruang rapat aku sudah siap untuk bertemu dengan orang yang berasal dari negara manapun.  Bahkan orang Brazil atau Argentina sekalipun.

Ternyata observasi Pam kali ini tepat. Bukannya tamuku mirip aku, tapi dia memang orang Indonesia.  Berusia sekitar empat puluhan dengan postur dan tinggi yang sedang.   Ketika melihat aku masuk ruangan dia segera meletakkan dokumen yang sedang dibacanya, berdiri dan mengulurkan tangannya ke arahku.

‘Leily ?’ tanyanya.  ‘Saya Satrio dari Kantor Pengacara Satrio, Bonar dan……’ siapa aku tidak ingat.  Mungkin gara-gara  terkejut mendengar kelanjutan  kata-katanya.

‘Saya  diminta keluarga Sukarsono untuk menemui Anda…’ lanjut Satrio pelan.  Namun yang pelan itu mampu untuk menggoncangkan diriku dengan dahsyat.  Lututku bergetar dengan hebat.  Cepat-cepat aku duduk di kursi yang terdekat.

‘Leily, Anda masih ingat kan dengan keluarga Sukarsono ?’ tanya Satrio menyalahartikan kebisuanku.  Tentu saja aku masih ingat.  Bagaimana aku bisa melupakan mereka  bila aku pernah sangat mencintai salah satu  di antara mereka.

‘Leily..?’ tanya Satrio.  Kuanggukkan kepalaku sambil menunggu kata-kata selanjutnya.

‘Apakah Anda tahu kalau Bapak dan Ibu Nugra Sukarsono sudah meninggal dunia?’ tanya Satrio tanpa ekspresi.  Aku tersentak.

‘Kenapa  ? Kapan ?’ tanyaku kaget.

‘Ibu Sukarsono meninggal tiga tahun lalu karena sakit jantung dan Bapak meninggal selang beberapa bulan kemudian karena gagal ginjal.’  Aku terpaku.   Apapun yang pernah mereka lakukan terhadapku, kabar tersebut tetap menyedihkanku juga.  Kasihan Pra..  Dia pasti sangat kehilangan mereka.

‘Sejak beliau berdua meninggal dunia, kami berusaha mencari Anda.  Semua keluarga Anda yang kami hubungi tidak ada yang bersedia memberitahu dimana Anda berada.  Keluarga Anda sangat setia.  Beberapa bulan kami sempat menghentikan pencarian kami, karena jejak yang kami telusuri berkali-kali buntu .’

‘Mengapa kalian mencari saya ?  Apakah kalian akan menuduh saya sebagai penyebab kematian mereka ?’ tanyaku defensif.  Satrio menggelengkan kepalanya.

‘Nama Anda tercantum sebagai salah seorang yang mendapatkan pekebunan cengkih di Gotehan, Jombang serta…’

‘Apa ?’ sergahku.

‘Lima tahun yang lalu Bapak dan Ibu Sukarsono membuat wasiat yang mencantumkan Anda dan Pradipta sebagai ahli waris terhadap perkebunan cengkih mereka.  Ada juga beberapa kekayaan lain diserahkan khusus untuk Anda.  Saya membawa daftarnya disini.’ Satrio menjelaskan sambil menunjuk tas kerjanya.

‘Anak-anak keluarga Sukarsono juga heran mengapa Anda masuk sebagai ahli waris.   Tidak dijelaskan alasan mengapa mereka memasukkan nama Anda.  Sekarang, dengan harga cengkih yang jatuh Pradipta berniat untuk menjual kebun tersebut.  Ada seorang pengusaha yang berniat membeli tanah tersebut untuk dijadikan hotel.  Namun, tanpa persetujuan Anda, Pradipta tidak bisa menjualnya.’

‘Saya tidak mau kekayaan mereka.  Mereka boleh melakukan apa saja terhadap kekayaan mereka.   Saya tidak peduli.  Saya akan menulis pernyataan bahwa saya menolak manjadi ahli waris mereka dan Anda bisa menjadi saksinya.’  ucapku cepat.

‘Untuk kekayaan yang lain mungkin bisa kita lakukan,’ ucap Satrio sabar, ‘tapi khusus tanah yang di Gotehan ada klausal khusus yang menyatakan bahwa Anda dan Pra– boleh bersama maupun sendiri– harus menandatangani persetujuan penjualan di depan lurah Gotehan.  Kalau saja lurah Gotehan tidak terlalu tua untuk saya ajak kesini, akan saya ajak kesini sehingga kami tidak harus menyusahkan Anda.  Pradipta berpesan kepada saya agar  kami  tidak menyusahkan Anda.’

‘Bagaima kabarnya ?’ aku tidak kuasa untuk tidak menanyakannya.

‘Pradipta ?  Oh, dia baik-baik saja.  Dia sangat sukses dalam memimpin perusahaan keluarganya,’  cerita Satrio.   ‘Sebelum berangkat kesini saya sempat makan siang di kantornya  dengan dia dan anak…’

‘Anak ?’ potongku tanpa sadar.

‘Oh, Anda belum tahu?   Pra mempunyai anak perempuan berusia empat atau lima tahunan yang sangat dibanggakannya.  Cantik mirip sekali dengan Pra…’ lanjut Satrio tanpa menyadari kebekuanku.  Tiba-tiba wajah  Anggita berkelebatan di kepalaku.   Anggi yang tidak pernah dikenal ayahnya apalagi dibanggakannya.   Hatiku seakan terhimpit batu.  Tiba-tiba muncul tekadku untuk melepaskan diriku dan Anggita dari semua ikatan masa laluku.  Aku ingin bebas sebebas-bebasnya dari pengaruh keluarga Sukarsono.  Bila untuk itu aku harus datang ke Gotehan aku akan datang.

Gotehan

Setelah beberapa kali  jip yang kupinjam dari Nita nyaris tergilas truk gandeng akhirnya sampai juga aku di depan menara air menjelang kota Jombang. Kubelokkan mobil ke kiri meninggalkan kebisingan jalan raya dengan kendaran-kendaraan kelas beratnya.  Beberapa saat kemudian aku mulai memasuki jalan desa yang mulus yang diteduhi rindangnya pohon-pohon yang berjajar di kiri dan kanannya.  Hanya sesekali mobilku berpapasan dengan sepeda motor dan gerobag sapi

Tanpa kusadari anganku membawaku kembali ke masa lampau. Ke masa ketika aku masih begitu naif.  Masa ketika  duniaku berputar di sekeliling Pra. Masa dimana Pra mengajakku melewati jalan-jalan desa ini sambil mengunyah kacang rebus yang kami beli di mulut pinto tol Mojokerto. Sambil sesekali kami ikrarkan cinta dan kesetiaan.

Setamat sekolah aku bekerja di bagian Marketing Perusahaan Keluarga Sukarsono, salah satu perusahaan terbesar di Surabaya.     Pada waktu itu  Perusahan memegang lisensi beberapa sepatu olahraga dari Korea dan sedang mencoba menjajagi kemungkinan untuk sepatu kulitnya.   Karena aku seorang akuntan dan lumayan dalam menulis proposal aku dilibatkan di dalam team Pradipta yang bertanggung jawab terhadap Pengembangan Perusahaan.  Kami sering mengerjakan proyek bersama.

Lama kelamaan, hubungan yang tadinya bersifat profesional berubah menjadi pribadi.  Sangat pribadi.  Agar tidak menjadi gunjingan di kantor, Pradipta meminta agar hubungan kami dirahasiakan. Aku menurutinya.  Pradipta menjelaskan kalau dia tidak bisa mengajakku jalan-jalan di Surabaya karena takut ketahuan orang.  Aku memahaminya.   Sebagai gantinya setiap akhir pekan Pradipta mengajaku menyusuri jalan-jalan desa ini menuju perkebunan cengkihnya.

Alangkah bodohnya aku.  Tentu saja Pradipta tidak menginginkan hubungan kami diketahui orang.  Dia sudah bertunangan dan akan kawin dalam waktu dekat.   Sayangnya aku terlambat mengetahui hal tesebut.    Sangat terlambat.

Seumur hidupku aku tidak akan pernah melupakan hari itu.  Saat itu Pradipta sedang berada di Jepang.  Dari Jepang dia mengabarkan kalau Perusahaan kami telah memenangkan tender. Ayah Pradipta merayakan keberhasilan tersebut dengan mengundang kami semua makan malam bersama keluarganya di rumah mereka.

Pada saat kami tengah menikmati hidangan, Pak Nugra memperkenalkan anggota keluarganya.  Sebagai wakil dari Pradipta yang belum pulang, dia memperkenalkan calon istri Pradipta.  Ratih.  Wanita yang sangat cantik, anggun dan nampak sangat dewasa.  Wanita yang pas sekali dengan Pra.

‘Tiga bulan lagi Pradipta dan Ratih akan melangsungkan perkawinan mereka.  Kami harap kalian semua bisa menghadirinya.’ Pak Nugra mengakhiri sambutannya dan sekaligus mengakhiri hidupku.

Kepedihanku tidak berhenti disitu.  Usai makan malam, pak Nugra meminta aku untuk tinggal.  Kemudian di depan istri,  anak-anak dan calon menantunya dia mengatakan kalau Pradipta telah meminta dia untuk menyampaikan kepadaku agar aku tidak salah menafsirkan perhatian Pradipta.  Pradipta tidak pernah mencintaiku dan berharap agar aku tidak mengejar-ngejar dia lagi.

‘Kami mengerti perasaanmu, Leily.’ ucap ibu Pradipta manis tapi berbisa.  ‘Untuk menghindari rasa malumu di depan teman-teman kantor, mulai besok kamu tidak perlu ke kantor lagi.  Pak Nugra telah menyuruh bagian penggajian untuk mentransfer gaji terakhirmu serta sekedar uang jasa yang dapat kamu pergunakan untuk biaya hidup sebelum kamu mendapatkan pekerjaan lain……’ Aku tidak mendengar kelanjutan kata-katanya.  Aku berlari dan berlari tanpa pernah menoleh lagi.

Enam bulan kemudian kulahirkan Anggita.


Gotehan

Jalan di depanku mulai menanjak dan berkelok.  Kumatikan AC mobil dan kubuka jendela lebar-lebar.  Kubiarkan angin pegunungan yang lembut membelai rambutku.  Sebutir air mata bergulir di pipiku.  Oh, betapa aku mencintai tempat ini.

Karena tidak mengetahui dimana rumah lurah Gotehan, mobil kuarahkan langsung ke rumah kebun keluarga Sukarsono.  Aku akan meminta ibu Warti, perawat rumah itu untuk mengantarku ke rumah pak lurah.

Rumah kayu di atas bukit  berlatar belakang rimbunnya hutan cengkih itu masih persis seperti yang kuingat.  Rasa-rasanya baru minggu lalu aku dan Pra menghabiskan waktu kami disitu.

Kuparkir mobilku di tempat pengeringan cengkih.  Begitu aku meloncat dari mobil, entah dari mana munculnya, ibu Warti telah berdiri di depanku.

‘Non Leily, saya tidak percaya kalau Non benar-benar datang.’ isaknya dengan mata berkaca-kaca.  ‘Mas Pra meminta saya membersihkan dan menyiapkan kamar untuk Non.  Katanya sewaktu-waktu  Non akan datang.’

‘Mas Pra sering kesini ?’

‘Enggak, Non.  Sejak Non pergi mas Pra enggak pernah kesini lagi.’ jawab bu Warti.  ‘Tiba-tiba minggu lalu mas Pra muncul dan bilang kalau Non akan datang.’

Sesudah ditelpon Satrio, pikirku.

Setelah selesai meributkan aku yang tidak membawa koper dan tidak berniat untuk tinggal lama di Gotehan, bu Warti  menuntunku memasuki rumah  Kalau dari luar rumah itu nampak tidak berubah, ternyata di dalamnya banyak perubahan.  Di salah satu sisi ruang tamu yang tadinya hanya jendela-jendela kecil sekarang telah berubah menjadi kaca besar sehingga dengan bebas dapat memandang keluar.  Pohon-pohon cengkih yang tadinya menghadang di depannya sudah ditebang diganti dengan hamparan padang rumput.  Dari tempatku berdiri aku bisa memandang ke bukit seberang.  Di atas bukit seberang ada sebuah rumah peristirahatan dengan kolam renang infinity di bibir tebing.

‘Non, ini ada titipan surat dari ibu,’ ibu Warti muncul kembali memecahkan keheningan.  ‘Ibu berpesan kalau saya harus menyimpan surat ini baik-baik dan hanya memberikannya kepada Non’ lanjutnya sambil mengangurkan sebuah amplop.

‘Kapan diberikannya ?’

‘Sebulan sebelum beliau wafat.’ jawab bu Warti.  Aku duduk dan pelan-pelan kubuka surat tersebut.  Surat dengan tulisan tangan yang indah.

Gotehan

 Leily, anakku (kalau engkau mengijinkan aku untuk memanggilmu demikian)..

Sebenarnya aku berharap dapat mengatakan ini semua langsung kepadamu.  Tapi dengan kondisi kesehatanku yang semakin memburuk, aku tidak yakin kalau Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu lagi denganmu.  Namun aku percaya suatu saat nanti kamu akan datang ke Gotehan dan membaca suratku ini.

Pertemuan kita yang terakhir telah berubah menjadi tragedi.  Bukan hanya untukmu, Leil, tapi juga untuk keluarga kami.  Kami telah lancang mencampuri urusan pribadi kalian.   Kami merasa kamilah yang paling tahu apa yang akan membuat Pradipta berbahagia.  Kami sadar tidak ada alasan apapun yang dapat membenarkan tindakan kami terhadap kalian berdua.

Sewaktu Pra pulang dan mengetahui apa yang terjadi, hidupnya berakhir disitu.  Baginya matahari tidak pernah bersinar lagi.  Seketika Pra menjadi orang asing bagi kami.  Tanpa emosi sama sekali.  Kalau dia marah kepada kami dia tidak tunjukkan kemarahannya.   Tapi sejak saat itu kami tidak pernah lagi mendengar tawa dan candanya.  Kami tidak bisa meraih hatinya. 

Pernah kusarankan kepadanya untuk mencarimu.   Dia tidak mau.  Dia bilang kalau kau benar-benar mencintainya dan mempercayainya, kamu tidak akan meninggalkannya.

Kami tidak menyalahkanmu, Leil.  Kamu masih begitu muda dan kami terlalu kejam terhadapmu.

Karena Pra tidak mau mencarimu, maka aku dan ayah Pra melakukannya untuknya.  Ternyata mencarimu sangat sulit..  Keluargamu tidak ada yang bersedia berbicara kepada kami.   Permintaan maaf kami yang bertubi-tubi tidak menggemingkan mereka.  Itu merupakan awal dari kecurigaan kami kalau hubuganmu dengan Pra lebih dalam dari dugaan kami.

Dari bu Warti kami mendengar kalau kamu dan Pra sering menghabiskan waktu kalian di Gotehan.  Gotehan merupakan rumah cinta kalian berdua.  Firasatku mengatakan kalau pada waktu kamu meninggalkan Surabaya, kamu tengah mengandung anak Pra, cucu kami.

 Aku hampir gila memikirkan itu.  Setelah aku mengemis ribuan kali dan penyakit mulai menggerogotiku, akhirnya ibumu mau mengatakan kalau kamu telah melahirkan anak perempuan.  Tanpa informasi mengenai nama anakmu, dan dimana kamu dan cucuku berada.   Ibumu juga meminta kami untuk tidak mengatakan hal itu kepada Pradipta.   Beliau meminta kami untuk tidak mengganggu ketenanganmu.

Aku hormati permintaan itu, walau dengan hati yang sangat berat.  Ingin rasanya aku menuntut, tapi setelah apa yang kami lakukan terhadapmu apakah kami masih mempunyai hak ?

Leily, anakku..

Sampai saat ini Pra belum tahu mengenai anak kalian.   Aku pulangkan hal itu kepadamu..  Walaupun aku ingin Pra mengetahuinya, mungkin kamu punya alasan untuk tidak melakukannya.  Mungkin pada waktu kamu baca surat ini baik kamu dan Pra sudah punya keluarga sendiri-sendiri.  Dan untuk kebaikan semua orang kamu memilih untuk melupakan semua masa lalu.  Aku hormati itu.

Tapi, Leil, aku dan ayah Pra tahu kalau kami mempunyai cucu.  Kami ingin meninggalkan sesuatu untuknya. Jangan kamu tolak pemberian kami.  Dan mengenai Gotehan….Aku tahu tempat ini akan selalu mempunyai arti khusus bagimu.  Kami memberikannya untukmu dan Pra.

Harapanku yang terakhir, Leil, kamu bisa memaafkan kami semua

Nenek anakmu.

Gotehan

Kucoba untuk mengevaluasi perasaanku setelah membaca surat ibu Pra.  Tidak ada.  Kosong.  Hampa.  Bahkan rasa benci, dendam ataupun sebercik kepuasan yang kuharapkan muncul, ternyata tidak muncul.  Apakah aku sudah terbebas dari masa laluku?

Kuhembuskan nafas panjang dan berdiri termenung di depan jendela.  Rumah peristirahatan di bukit seberang kelihatan cantik.  Perkebunan ini akan segera berubah menjadi rumah-rumah peristirahatan cantik seperti itu, pikirku.

‘Rumah di seberang itu rumah mas Pra ?’ cerita ibu Warti,  ‘Waktu kesini minggu lalu Mas Pra bilang kalau dia akan segera memboyong istri dan anaknya.’

‘Saya kira tanah ini akan dijual untuk dijadikan hotel,’ bisikku.

‘Mas Pra tidak akan mengijinkannya.  Dia menyayangi tempat ini.’

‘Sekarang siapa yang tinggal di tempat itu?’ tanyaku

‘Tidak ada.’  sahut bu Warti.

Tiba-tiba muncul keinginanku untuk mengintip tempat itu.  Aku ingin tahu tempat seperti apa yang disiapkan Pra untuk istri dan anaknya.  Setelah itu aku akan memberikan bagian tanahku untuknya dan benar-benar berlalu dari hidupnya.

Pelan-pelan kudaki bukit untuk menuju ke rumah Peristirahatan Pra.  Aku muncul di samping kiri kolam renang dan langsung berhadapan dengan rumpun anyelir yang sedang berbunga lebat. Aku meneruskan perjalanan menuju teras dengan dipan kayu dan bantal-bantal hiasnya.  Tiba-tiba pintu teras terbuka lebar dan di depanku berdiri Pradipta.  Pradiptaku dulu.  Duniaku tiba-tiba berputar keras.  Aku jatuh sempoyongan dan Pra menangkapku.

‘Jangan berani pingsan sekarang.’  ancam Pra sambil mendudukkanku di dipan.  ‘Banyak yang harus kita bicarakan.  Sesudah itu kamu boleh tidur sesukamu.’ lanjutnya.  Pelan-pelan kubuka mataku.  Pra duduk dekat sekali di sampingku sambil memandangku kuatir.  Kulihat kerinduan di matanya.  Pelan-pelan senyumnya terkuak.

‘Selamat datang kembali ke rumah, Leil. ‘ bisiknya.  ‘Kamu pergi terlalu lama.  Anggi dan aku sangat merindukanmu.’

‘Anggi  ??’ aku tersentak kaget  ‘Kamu tahu tentang Anggi ??’  Pra tersenyum sedih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

‘Secara kebetulan.’ ucap Pra.  ‘Suatu hari adikku Rini bertemu Nita di Tunjungan Plaza sedang jalan-jalan dengan Anggi.  Begitu melihat Anggi yang mirip aku, Rini segera menyadari kalau Anggi adalah anakku.  Rini melaporkannya kepadaku.  Waktu kutemui Nita membantah dan berkeras kalau Anggi adalah anak kandungnya.   Setelah aku yakinkan dan berjanji kalau aku tidak akan mengambil Anggi tanpa persetujuanmu, barulah Nita menyerah.  Aku juga meminta Nita untuk memberitahu kamu kalau aku sudah tahu semuanya.  Melihat reasksimu tadi, aku rasa Nita tidak pernah memenuhi permintaanku.  Kamu belum tahu kalau aku sudah mengetahui tentang Anggi dan Anggi sering menginap di rumahku’

‘Bagiamana reaksi istrimu ?’ tanyaku kuatir.

‘Istri ?’ ulang Pra diikuti tawanya yang nyaring.  ‘Kamu pikir aku akan kawin dengan orang lain selain dirimu ?’

‘Bu Warti bilang kalau kamu akan segera memboyong istri dan anakmu kesini..’ ucapku.

‘Benar.  Aku akan memboyong kamu dan Anggi kesini, Leil.’ bisiknya.  ‘Kalau kamu mau.’

Tentu saja aku mau.

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Keenam)

Ribuan mil dari mama 6

Cerita Sebelumnya:

Lucinda Stanton adalah gadis yang beribukan wanita Indonesia dan ayah Amerika.  Karena perceraian orang tuanya dia ikut ibunya yang kemudian menikah lagi dan tinggal di Indonesia.  

Setelah lima belas tahun berpisah dengan ayah dan saudara kembarnya, ia dikirim oleh ibunya untuk tinggal di Amerika.  

Ayahnya menyambut Lucinda dengan hangat.  Tetapi David, saudara kembarnya menerimanya dengan kebencian dan Deidre, kekasih David ikut-ikutan.  Kesedihan Lucinda menerima perlakuan David agak terobati karena persahabatannya dengan para pengurus rumah tangga Stanton, terutama Oscar dan Irene.

Tuan Stanton mendapat serangan jantung mendadak.  David menuduh Lucinda sebagai penyebabnya.  Dia juga menuduh Lucinda datang ke Amerika karena menginginkan warisan saja.  David kemudian meminta Lucinda untuk kembali ke Indonesia, tetapi Lucinda melarikan diri ke kota Daytona dan tinggal di sebuah hotel dekat pantai.  Di sini dia berkenalan dengan Michelle, seorang peragawati.

Karena kebetulan, Lucy berkenalan dengan Mark Wayne, seorang mahasiswa yang bekerja musiman sebagai penjaga pantai.  Mark berusaha bersahabat dengan Lucy, namun Lucy enggan, mengingat pesan Michelle bahwa semua penjaga pantai adalah play boy.  Pandangan Lucy berubah, ketika pemuda itu menyelamatkan seorang anak yang hampir tenggelam di pantai.

Michelle menikah dan Lucy sendiri di hotel.  Ia kesepian, tetapi Mark sering menemaninya, bahkan dia sudah mengutarakan cintanya.  Ternyata Mark tahu kalau Lucy adalah saudara kembar David, temannya sekampus.  David juga kenal seluruh keluarga Stanton, karena pertaniannya bersebelahan dengan pertanian keluarga Stanton.  Mark juga membuka rahasia kalau Irene adalah adik Lucy, hasil perselingkuhan ayahnya dengan Mimo, adik perempuan Batista bersaudara.  Perselingkuhan yang telah menyebabkan perceraian kedua orang tua Lucy dan David.

‘Kamu bohong,’ desisku tidak yakin.  Aku mulai ragu.  Kalau mendengar nada suara Mark, aku yakin dia telah berkata jujur, tapi untuk mempercayai Irene adalah adikku, anak ayahku, hatiku masih belum mau menerima.  Mark memandangku lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun.  Seakan melalui kediamannya dia ingin meyakinkan hatiku.

‘Mark, katakanlah kalau kamu bohong,’ pintaku.  Mark menggelengkan kepalanya.

‘Jadi …jadi …  Irene benar-benar adikku? Irene anak papa? Oh…  tahukah papa tentang hal ini? Mengapa Irene tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang ini? Mengapa? Mengapa, Mark?’ jeritku tak menentu.  Mark menangkap bahuku kemudian mendekap tubuhku erat.

‘Lucy, tenang,’ bisik Mark lembut.

‘Irene adalah adikku.  Dia adikku,’ bisikku berkali-kali.

‘Jangan salahkan Irene, Lucy.  Dia tidak berdosa.  Dia datang ke keluarga Stanton tanpa maksud buruk.  Dia hanya ingin melihat orang yang menyebabkan dia ada di dunia ini.  Dia tidak ingin menuntut apa-apa dari keluargamu.  Itulah sebabnya tidak seorang pun yang mengetahui siapa dia sebenarnya.   Tidak juga ayahmu,’ Mark menerangkan.  Bayangan Irene berkelebat dalam otakku.  Wajah murungnya. Ketertutupannya.  Tatapan sendunya.  Semua itu mendukung kebenaran cerita Mark.

Lama sekali Mark membiarkan aku tenggelam dalam alam pikiranku yang serba ruwet.  Nasibku sendiri masih tidak menentu, kini harus di tambah dengan persoalan Irene.  Alangkah malangnya anak itu.

‘Lucy,’ panggil Mark.

‘Mark, aku harus mencari Irene,’ kataku cepat.  ‘Walau bagimana pun dia adalah adikku.  Aku takut sesuatu yang buruk telah terjadi padanya.  Dan lagi Irene berhak mendapatkan pengakuan dari Papa.  Terlepas apakah Papa mau atau tidak.  Papa harus bertanggung jawab,’ lanjutku berapi-api.  Mark tersenyum lega.  Sejak tadi dia kuatir aku akan mengutuk Irene karena dia (maksudku ibunya) telah menghancurkan keluargaku.

‘Jangan kuatir, Lucy, Irene pasti selamat.  Dan Manuel tahu dimana dia berada,’ sahut Mark menenangkanku.  ‘Sekarang bagaimana dengan dirimu sendiri.  Kamu tidak akan tinggal di hotel ini untuk selamanya bukan?’ tanya Mark.

‘Aku tidak tahu, Mark.  Aku tidak tahu.’

‘Bagaimana kalau kita pulang ke Kentucky?’ usul Mark.

‘Mark, jangan masukkan ide gila itu ke dalam otakmu.  Aku tidak akan kembali ke Stanton lagi,’ protesku.

‘Aku tidak menyuruh kamu kembali kepada ayahmu.  Aku bilang kita kembali ke Kentucky.  Ke rumahku.  Aku yakin Mommy, Daddy dan adik-adikku akan senang menerima calon istriku.  Bagaimana?  Setuju?’ tanya Mark.  Kutatap dia lama sebelum menjawab.

‘Aku menunggu, Lucy,’ ucap Mark.  Dan tanpa kusadari, kepalaku telah mengangguk dengan sendirinya.  Sekejab kulihat mata Mark berbinar cerah.  Hanya sekejab karena setelah itu Mark memelukku sehingga tidak memungkinkan bagiku untuk melihat ke dalam matanya.

Ribuan mil dari mama 6 b

Sambutan keluarga Mark benar-benar bukan main!  Aku tidak pernah memimpikan adanya keluarga yang akan merangkulku sedemikian hangat.  Dari si bungsu Eric, sampai ke Grannie Sally, begitu gembira menerima kedatanganku, seakan sejak dulu aku adalah bagian dari kelurga ini, yang telah menghilang untuk beberapa tahun dan kini kembali ke pangkuan lagi.  Semua orang menyuguhiku kasih sayang dengan cara yang bermacam-macam.  Grannie mulai merajut sweater untukku dalam menghadapi musim dingin nanti.   Bahkan dia mulai merancang kaos tangan yang akan kukenankan pada pesta perkawinan dengan cucunya.  Daddy menunjukkan perhatiannya dengan menggodaku terus menerus.  Mommy mendekatiku melalui pendekatan batin yang lembut, melalui sikap keibuannya.  Tonny dan Eric berusaha memasukkan aku ke dalam hidup mereka melalui kegiatan-kegiatan, cerita-cerita hangat dan perhatian mereka yang tulus.  Sedang Mark menunjukkan cintanya melalui kedua matanya.  Bila dia sudah menatapku, aku merasa siap untuk menghadapi segala tantangan hidup.

Hari demi hari kulalui dengan ceria.  Kehidupan macam inilah yang sejak dulu ingin kumiliki.  Menjadi bagian dari sebuah keluarga.  Walau belum lagi ada ikatan resmi antara aku dan Mark, tapi aku adalah bagian dari keluarga Wayne ini.  Aku adalah anak gadis satu-satunya dari keluarga Wayne.  Aku dan Mark telah memutuskan untuk tidak menikah dulu sebelum usiakku genap dua puluh tahun.  Kami sama-sama menyadari bahwa kami belum siap untuk mengarungi kehidupan rumah tangga, walau rasanya cinta kami yang menggunung cukup kuat untuk menahan serangan badai yang bagaimanpun besarnya.

Untuk sementara ini Mark akan melanjutkan kuliahnya dan aku sendiri pun juga sedang bersiap-siap untuk mendaftar pada sebuah college.  Tidak ada lagi keinginan untuk masuk Universitas, apalagi Cincinnati.  Kemungkinan berpapasan dengan David terlalu besar, sedang untuk keluar dari perkebunan Wayne saja aku tidak punya keberanian kecuali di malam hari.  Ruang gerakku hanyalah di perkebunan Wayne, tapi cukup untuk membuatku sibuk sepanjang hari.

Sebegitu jauh aku belum mendengar kabar tentang Irene.  Aku sudah yakin bahwa dia adikku.  Malam ini Mommy telah menceritakan semua tentang Mama kepadaku.  Mama mengalami kesukaran ketika mengandung aku dan David sehingga harus sering tinggal di Rumah Sakit.  Pada saat sedang dalam kesulitan itu datanglah Mimo, teman kuliah Mama meminta ijin untuk mengadakan riset di perkebunan Stanton.  Tanpa prasangka apapun Mama menerima Mimo, karena Mimo toh sahabat Mama.  Ketika Mama melahirkan aku dan David, terjadilah apa yang sebenarnya tak boleh terjadi.  Papa mengkhianati Mama! Mama tidak bisa memaafkannya.  Dia terlampau mencintai Papa dan cinta Mama yang terlampau besar itulah yang akhirnya meracuni Mama.

Segala rintangan telah Mama hadapi dengan gigih untuk bisa mendampingi Papa, termasuk harus kehilangan keluarganya, karena keluarga Mama tak pernah menyetujui perkawinan itu.  Mama telah berkoban terlalu besar.  Tapi apa yang Mama peroleh dari pengorbanan itu? Selagi dia berjuang untuk menghidupi dua bocah buah kasih mereka, suaminya tengah main gila dengan sahabatnya.  Demi aku dan David mama berusaha untuk bertahan.  Tapi khirnya pertahanan itu hancur dan terjadilah perceraian itu.  Perceraian yang menyebabkan keluarga Stanton terbagi.

‘Bagaimana dengan Mimo?’ tanyaku.

‘Mimo segera pergi dari perkebunan Stanton begitu dia merasa ibumu telah mencium hubungannya dengan ayahmu.  Dan dia tak pernah muncul-muncul lagi sejak itu.  Ternyata di meninggal ketika melahirkan Irene ke dunia,’ jawab Mommy.  Aku tepekur.  Kasihan Irene.  Dia yang tidak berdosa harus mengalami nasib yang malang sejak dia dilahirkan.

‘Tahukah Papa bahwa Irene anaknya?’ tanyaku.  Mommy menggeleng beberapa kali.

‘Ayahmu benar-benar bertaubat sejak itu.  Tapi  perkawinannya terlanjur tidak bisa lagi dipertahankan.  Dia sebenarnya sangat mencintai ibumu.  Hanya ibumulah satu-satunya wanita yang pernah singgah di hatinya.  Ayahmu benar-benar terpukul dengan perceraian itu.  Tahun-tahun pertama dia sama sekali tidak acuh dengan dirinya sendiri juga dengan David.  Kerjanya hanyalah mengutuk dirinya sendiri karena telah melukai hati ibumu.  Georgie dan Clemmielah yang menjalankan bahtera oleng itu,’ cerita Mommy.  ‘Ayahmu baru sadarkan diri sesudah mendengar ibumu telah kawin lagi.’

‘Menurut saya, Mommy, Papa bukannya menyesali diri, lebih tepat kalau dikatakan Papa dendam terhadap Mama karena Mama tega meninggalkan David dan Papa,’ selaku.

‘Mengapa  kamu berpikiran semacam itu, Lucy?’ tanya Mommy.

‘Kalau Papa ada sedikit saja perhatian terhadap Mama, mengapa Papa tak sekali pun menanyakan keadaan Mama?’

‘Oh, Lucy, menyebut nama ibumu pun, ayahmu merasa tidak pantas apalagi menanyakan keadaanya.’

‘Lalu alasan apa yang tepat untuk mengatakan pengusiran Papa terhadapku? Cinta kepada Mama?’

‘Pengusiran?’ tanya Mommy heran.

‘Mommy, saya pergi dari rumah itu karena Papa tidak menghendaki saya berada di situ,’ aku menjelaskan pelan.

‘Bukan karena David?  Bukankah kalian bertengkar?’ tanya Mommy tak percaya.  Kugelengkan kepalaku.

‘Well …  e …  e …  memang saya dan David tidak bisa akrab.  Tetapi itu tidak cukup untuk membuat saya minggat.  Papa menginginkan saya kembali kepada Mama, tetapi saya tidak bisa melakukan itu.  Terlalu berat bagi Mama.’

‘Lucy, kamu yakin dengan apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mengerti mengapa Bill, ayahmu, bisa berbuat seperti itu?’ Mommy bertanya dengan wajah yang bingung.

‘Mommy, saya pun tidak bisa mengerti.  Tak pernah bisa.  Papa tidak sanggup untuk mengasuhku.  Itu saja yang dikatakan Papa.’

‘Tapi ayahmu begitu bahagia waktu menanti kedatanganmu,’ bantah Mommy.  ‘Dia ceritakan kepada semua orang yang dikenalnya bahwa anak perempuannya akan kembali kepadanya.’

‘Tapi itulah yang dilakukan Papa.  Memberiku uang setas penuh dan menyilahkan saya untuk angkat kaki dan mengatakan antara saya dan Stanton sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.’

‘Lucy, I can’t believe it!’  teriak Mama.  ‘Bill mengatakan itu semua kepadamu? Apakah kamu mendengarnya? I just can’t believe it.’

Ya semuanya memang sulit untuk di percaya, tapi itulah kenyataan yang menimpaku.

Ribuan mil dari mama 6 b

Tidak kujumpai seorang pun di rumah ketika aku terbangun di pagi hari.  Semua ruang telah kumasuki tapi semuanya lengang.  Ke mana mereka semua.

‘Eric! Tonny!’ panggilku dari pintu ruang bawah, karena biasanya mereka sedang mengerjakan tugas musim panas mereka di lantai bawah.  Tidak kudengar sahutan.

‘Eric!’ panggilku lagi sambil berlari keluar.  Aku bertubrukan dengan Mark di depan pintu.  Dia menangkapku kemudian menciumku ringan.

‘Siapa yang kamu cari sweetheart?’ tanyanya.

‘Di mana semua orang, Mark? Sepi sekali?’

‘Ada di Louisville Fair Ground, untuk mempersiapkan pasar malam.  Masa kamu lupa? Kamu sudah di beritahu kan?’ Mark menerangkan.  Aku Cuma bisa geleng-geleng kepal menyadari kealpaanku.  Berkali-kali mereka sudah membicarakan mengenai pasar malam tahunan ini.  Bahkan tadi malam di meja makan mereka berdiskusi seru mengenai stan pameran mereka dan apa saja yang akan mereka gelar di sana.

‘Hei, ada berita gembira untukmu,’ seru Mark, ‘Aku sudah menemukan alamat Irene.’

‘Mark?’ tanyaku untuk meyakinkan.  Mark mengangguk mantap.

‘Antarkan aku ke sana Mark,’ pintaku.

‘Tentu sweetheart, tentu.  Tapi aku harus balik ke fair ground dulu mengantarkan benih-benih.  Atau kamu mau ikut?’ Mark menawarkan.

‘Ikut?’ ulangku sambil menggeleng.  Begitu banyak orang yang berada di sana dan terlalu besar resikonya.

‘Aku segera kembali,Lucy,’ pesan Mark sebelum pergi lagi.  Begitu Mark berlalu aku segera menuju ke kamarku untuk ganti baju.  Tetapi belum lagi sepuluh menit kudengar suara mobilnya berhenti di depan rumah.  Cepat amat, pikirku sambil berlari turun.

‘Kok cepat amat Mark, belum lagi a …’ dan kata-kataku berhenti di ujung lidah.  Yang berdiri di depanku bukan Mark.  Tetapi dia adalah orang yang selama ini kutakutkan untuk berjumpa.  David Stanton.  Ya dia adalah David dengan matanya yang sangat amat dingin.  Tubuhku bergetar hebat.

‘Apa yang kau inginkan?’ tanyaku serak.

‘Ikut aku!’ perintah David dingin.

‘Apa?’

‘Ikut aku!’ ulang David sambil manarik tubuhku ke luar.  Aku meronta, tapi cengkraman David pada pergelangan tanganku terlampau kencang sehingga sia-sia sajalah usahaku.

‘Lepaskan aku! Lepaskan aku!’ protesku berkali-kali.  Tetapi telinga David seakan sudah tuli, dia terus saja menyeretku menuju mobilnya.  Dibukanya pintu mobil dan dengan kasar dia mendorongku untuk duduk di kursi penumpang.  Sebelum dia menuju ke tempat duduk kemudi dia menekan tombol otomatis yang  diset untuk anak-anak sehingga tidak mungkin dibuka dari dalam.  Tidak bakal ada kesempatan bagiku untuk meloncat turun selagi dia asyik dengan kemudinya.

Ribuan mil dari mama 6 b

Mobil David melaju meninggalkan perkebunan Wayne.  Sementara itu aku tak henti-henti memuntahkan makian dan kata-kata kotor ke arahnya.  David tak menggubrisku.  Mulutnya tetap terkatup rapat dan tulang-tulang rahangnya yang kuat mencerminkan kekerasan hatinya.  Aku putus asa.

‘Kamu tidak berhak melakukan ini terhadapku.  Kamu bukan apa-apaku.  Aku bebas menentukan apa-apa yang ingin kujalani dalam hidup ini.  Demi Tuhan aku sangat membencimu.  Kalau toh di dunia ini hanya ada dua orang, kamu dan aku, aku tetap tidak akan sudi bertegur sapa denganmu.  Aku terlampau amat sangat membencimu.  Camkanlah itu, Master Stanton!’ kataku menutup omelanku karena aku menyadari hati David tak akan tergugah dan memulangkanku ke perkebunan Wayne lagi.  Aku sudah pasrah.  Apapun yang akan terjadi, terjadilah.  David menoleh ke arahku sejenak tapi tak berucap apa-apa.

Oh, Mark pasti akan segera menyadari kepergianku.  Tahukah dia kalau David telah membawaku, pikirku sedih.  Hampir saja aku berjumpa dengan Irene, tapi kini David telah menghancurkan harapanku.  Mengap David selalu memadamkan impian indahku?

Aku berdiam diri sesudah itu sambil menatap hutan-hutan buatan di sepanjang highway.  David terus saja melaju meninggalkan negara bagian Kentucky dan masuk ke Ohio.  Mobilnya berjalan kencang seakan tak ’kan pernah berhenti.  Ternyata tiba pula saatnya bagi dia untuk menghentikan mobil itu yaitu di Akron untuk mengisi bensin.

‘Mau ke toilet dulu, Lucy?’ tanya David pelan sesudah tangki mobil terisi penuh.  Aku terkejut mendengar nada suaranya yang lain.  Tapi hanya sejenak.  Cepat-cepat kugelengkan kepalaku sebagai jawabannya.  Kembali dia menjalankan mobilnya.

Kami berhenti lagi di Pittsburg untuk makan siang.  Kami duduk berhadap-hadapan di sebuah meja kecil, tapi hati kami ribuan mil jaraknya.  Tragisnya hidup ini.  Dia saudara kembarku.  Sembilan bulan lebih kami meringkus di rahim yang sama.  Tetapi mengapa aku tidak pernah bisa mendekati hatinya?

‘Apa yang akan kau lakukan terhadapku, David?’ tanyaku tidak segeram tadi.  David mengangkat wajahnya, matanya tidak sesadis pagi tadi kemudian dia menggelengkan kepalanya pelan.

‘Kamu harus kembali ke Indonesia,’ desahnya.

‘Apa bedanya aku berada di sini dan aku berada di Indonesia?’ tanyaku berusaha tenang.  ‘Aku tidak akan mengganggumu.  Bukankah seperti katamu dulu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi antara aku dan Stanton.  Aku tidak mengenakan nama Stanton lagi.’

‘Tidak!’ bantah David.  ‘Lebih baik bagimu untuk tetap berada di Indonesia.’

‘David, aku tidak akan …,’ kataku berusaha protes tetapi David sudah beranjak dari kursinya dan mengajakku segera pergi.

‘Jadi kamu akan mengantarku pulang ke Indonesia?’ tanyaku setelah kembali berada di dalam mobil.

‘Ya, sampai JFK, New York,’ jawab David.  Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku tidak membawa paspor.

‘Kamu tidak akan bisa mengeluarkanku dari Amerika,’ seruku sambil tertawa.  David menoleh.

‘Mengapa tidak?’ tantangnya.

‘Pasporku tertinggal di rumah Wayne.’

‘Tidak jadi masalah,’ jawab David tenang.  ‘Kita pergi dulu ke kedutaan besar Indonesia di Washington dan melaporkan bahwa paspormu telah hilang.’ Aku terdiam.  David telah mempersiapkan segalanya dengan matang.  Semua gertakanku tidak mempan baginya.

‘David, mengapa tak kamu kembalikan saja aku ke keluarga Wayne? Aku berjanji tak ’kan mengusikmu,’ bujukku merubah siasat.

‘Itu pantangan terbesar bagiku.  Wayne adalah saingan Stanton yang paling besar.’

‘Mereka begitu baik tehadapku.’

‘Itu karena kamu sedang jatuh cinta.  Sejak dulu kala sudah terjadi persaingan antara Stanton dan Wayne.  Bahkan dulu Papa dan Mr.  Wayne bersaing hebat dalam memperebutkan Mama,’ ucap David bangga.  Aku terperanjat mendengar dia mengalamatkan Mama bukan ‘ibumu’.

‘Ah, Mr.  Wayne sudah melupakan peristiwa itu,’ belaku.

‘Omong kosong,’ bantah David, ‘Mereka tetap dendam terhadap Stanton, apalagi setelah Deidre akrab denganku.’

‘Apa hubungannya Deidre dengan Wayne?’

‘Dia adalah satu-satunya gadis yang dicintai Mark.’

‘Tidak mungkin.  Mark mencintai aku.’ sanggahku seketika.

‘Tidak sadarkah kau, Lucy, bahwa Mark berusaha membalas dendam melalui dirimu.  Dia sangat mencintai Di tapi Di telah menolaknya.  dan mendekatimu.  Walau bagaimanapun juga kamu mempunyai darah Stanton.  Mark berharap dengan melukai hatimu, dia juga melukai Stanton.’

‘Kamu bohong!’ geramku.

‘No, Lucy, no.  Aku sungguh-sungguh.  Sebelum kamu terlalu dekat dengan Mark, maka sebaiknya kamu menjauh.  Dia tidak bersungguh-sungguh terhadapmu.  Percayalah aku.’

‘Apa maksudmu dengan sebelum aku terlalu dekat dengan Mark? Aku sudah terlalu dekat dengan Mark.  Aku dan dia sudah kawin dan saat ini aku sedang mengandung anaknya, anak yang berdarah Wayne,’ ucapku ingin melihat reaksinya.

‘Apa?!!!’ gelegar David.

‘Kamu telah mendengarnya tadi,’ jawabku berbohong lagi.

‘Oh God, no!’ desis David menyerupai sebuah erangan.  Wajahnya mendadak menjadi pucat pasi dan dadanya turun naik tidak teratur.  Aku tertegun, apalagi setelah melihat ke dalam matanya.  tidak ada lagi ketegaran dan keangkuhan di sana.  Mata itu menggambarkan hati yang sangat terluka, tiada gairah hidup yang ada hanyalah kekecewaan seakan dia telah menderita kekalahan total.

Tiba-tiba kulihat sebuah truck yang memasuki highway dengan kecepatan tinggi.  David tidak melihatnya.

‘David, awas!!’ teriakku memperingatkan.  David berusaha menguasai kemudi.  Tetapi aku melihat tubuh dan tangan David bergetar.  Dia masih shock dengan keteranganku tadi.  Dia berusaha keras untuk menghindari tabarakan tanpa memperhitungkan bahwa di depan kami ada sebuah tikungan yang amat tajam.  David menginjak rem dengan mendadak.  Terdengar bunyi jeletit rem yang keras.  Terlambat!! Mobil kami berguling dan kuteriakkan namanya sebelum sekelilingku menjadi gelap pekat.  Aku tak sadarkan diri.

Ribuan mil dari mama 6 b

‘Lucy …  Lucy …  kamu sudah bangun?’ sayup-sayup kudengar sebuah pertanyaan dari suara yang asing.  Ingin sekali aku membuka mata dan melihat siapa yang bertanya.  Tidak berhasil.

‘Lucy, are you awake?’ kembali suara itu mengiang.  Aku berusaha makin keras untuk membuka mataku.

‘Lucy, kamu mendengar suaraku?’ pertanyaan itu makin gencar.  Hampir.  Mataku hampir terbuka.  Dan ketika mata ini terbuka kulihat siapa pemilik suara itu.  Seorang laki-laki setengah baya berpakaian serba putih.  Rumah sakit! Mengapa aku ada di sini, pikirku kacau.  Kucoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.

‘David!’ teriakku lantang.  ‘Dimana David? Aku telah membunuhnya,’ teriakku berkali-kali setelah berhasil mengingat apa yang menyebabkanku berada di Rumah Sakit ini.

‘David! David! David!’ teriakku histeris.  Aku telah membunuh saudara kembarku sendiri.  Kalau saja aku tidak berbohong padanya tentang Mark, tentu dia tidak akan kehilangan keseimbangan dan peristiwa ini tidak harus terjadi.  Aku benar-benar menyesal hingga tubuhku menjadi tegang setengah mati.

‘David!’ jeritku kalut.

‘Lucy, tenang.  Kakakmu selamat.  Dia sedang berusaha menghubungi ayahmu,’ hibur dokter itu.  Aku tahu dia bohong.

‘Tidak! David telah mati.  Aku yang membunuhnya.  Antarkan aku melihat mayatnya,’ tuntutku sambil berusaha bangun.  Tiba-tiba aku merasakan nyeri yang luar biasa di punggungku.  Aku meringis menahan sakit dan tergeletak kembali.  Tangisku tak lagi terbendung.  Barulah aku menyadari bahwa aku menyayangi David.  Tapi kini David telah tiada sebelum sempat aku nyatakan cintaku.  Kututup mataku rapat untuk mengenangkan bayangan David.

‘David …  David …’ kubisikkan namanya berkali-kali dengan harapan dia bisa mendengarnya.

‘Lucy …’ kudengar sapaan lembut.  Suara David.  Dari surgakah datangnya? Aku takut untuk membuka mataku.  Tiba-tiba tanganku di sentuh dan namaku kembali di bisikkan.  Pelan sekali kubuka mataku kembali.

‘David?’ tanyaku tidak yakin.  Dia memang berdiri di dekatku.  Tapi sadarkah aku atau ini hanya sekedar impian?’

‘Lucy, …’ bisik David serak.

‘David!’ teriakku gembira.  Kupeluk dirinya erat dan takkan kulepaskan lagi.  David menangis sesunggukan di pelukanku.

‘Maafkan aku, Lucy.  Maafkan aku,’ isaknya.

‘David, aku yang salah.  Hampir saja aku membunuhmu.’

‘Tidak, Lucy.  Akulah yang terlalu egoistis.  Hanya diriku saja yang kupikirkan tanpa pernah memikirkan hati dan perasaanmu.  Seminggu ini aku seperti orang gila saja.  Kalau kamu belum juga sadar hari ini aku sudah siap untuk membunuh diri.’

‘Seminggu?’ tanyaku.  ‘Selama itu aku tak sadarkan diri?’

‘Ya dan itu membuatku gila.  Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.  Kamu mau memaafkan aku ‘kan, Lucy? Berilah aku kesempatan untuk memperbaiki diri! Berilah aku kesempatan untuk mencintaimu dengan tulus,’ bisik David.

Kupandang dia lama dan dalam.  Kucari pandangan dingin dalam matanya.  Tidak lagi bersisa.  Mata itu kini berisi cinta dan dan penyesalan.  Mampukah untuk mengecewakan dia sedang sesungguhnya aku sangat mencintainya? Pelan sekali kuanggukkan kepalaku.  Mata david bersinar cerah kemudian dia merengkuhku ke dalam pelukannya dan tangis kebahagiaan kamipun tumpahlah.

‘Aduh!’ jeritku tak tertahan ketika tangan David menyentuh punggungku.

‘Maaf, Lucy,’ ucap David sambil melepaskan pelukannya.

‘Ada apa di punggungku, Dave? Nyeri sekali.’ Tanyaku.

‘Mereka terpaksa memecah kaca mobil waktu menolong kita.  Dan punggungmu tergores pecahan kaca waktu mengeluarkan kamu,’ jawab David.  ‘Sudah di jahit sekarang,’ lanjutnya.

‘David,’ panggilku setelah kami berdiam diri untuk waktu yang agak lama.  Devid menatapku sambil kedua tangannya memainkan tanganku.

‘Ya?’ tanya david.

‘Ah, tak usah saja,’ sahutku ragu.

‘Katakanlah apa yang ingin kau katakan,’ kata David.

‘Tentang Mark.  Benarkah hanya Deidre saja yang dicintainya? Apakah aku sama sekali tidak ada dalam hatinya?’

‘Kamu mencintai dia?’ tanya David sambil memandangku dalam.  Aku mengangguk pasti.  Memang aku mencintai Mark.  David tersenyum lebar.  Sayang aku tidak mengerti arti senyumannya.

‘Tidak ada gadis lain yang dapat mengalahkanmu, Lucy.  Aku yakin Mark pasti mencintaimu.  Lupakan tentang Deidre.  Mark tidak pernah merasa memiliki Deidre, jadi sudah tentu dia tidak merasa kehilangan Deidre.’

‘Tapi …’

‘Tapi apa.  Lucy?’

‘Kamu pernah  bilang bahwa …’

‘Lupakan itu, Lucy, lupakanlah.  Aku tidak sadar dengan apa yang kuucapkan.  Percayalah bahwa Mark mencintaimu.  Sudah berapa bulan usia kandunganmu?’ tanya David mengejutkan.

‘David,’ bisikku lirih, ‘Aku tidak sedang hamil dan antara aku dan Mark belum ada ikatan perkawinan.’

‘Jadi?!’ tanya David sambil menahan tawa.

‘Ya, Dave, kita saling membohongi untuk saling menyakiti,’ jawabku sambil tertawa.  David juga tertawa.  Inilah pertama kalinya kami tertawa bersama.

‘Kita mulai dari awal lagi, Lus.  Marilah kita berjanji untuk senantiasa terbuka satu sama lainnya.  Tidak ada lagi dusta dan sandiwara.  Kita sudah begitu menderita dengan ulah kita sendiri.’

‘Apakah kamu menderita? Kukira hanya aku saja yang menderita.  Kamu begitu keras kepala dan angkuh.’

‘Bukankah hati kita hanya satu, Lus?’ jawab David.  ‘Akupun menderita sepertimu.’

‘Tapi mengapa kamu begitu saja memusuhiku? Aku datang dengan cinta, Dave, tapi kau sambut aku dengan kebencian,’ tanyaku hati-hati.  David terdiam lama sebelum menjawab.

‘Aku tidak sadar dengan diriku sendiri, lucy.  Deidre terlalu mempengaruhiku dengan gagasannya tentang warisan Papa.  Padahal sesungguhnya aku tidak begitu perduli dengan warisan itu.  Hanya …  mungkin …  mungkin, Lucy, aku iri dengan kebahagiaanmu.  Kamu selalu mendapatkan yang terbaik.’

‘Apa maksudmu, Dave?’

‘Mungkin aku terlalu kekanak-kanakan.  Aku begitu sakit hati ketika Mama memilih kamu untuk ikut dia.  Mengapa bukan aku? Mengapa Mama membiarkan aku ikut Papa, padahal Mama tahu pasti Papa tidak akan memperdulikanku?’ ucap David sentimentil.

‘David, kamu ingin tahu jaawbannya? Aku perna bertanya kepada Mama tentang hal ini.  Waktu itu aku bertanya mengapa bukan aku yang iktu Papa.  Mengapa harus David? Lalu jawab Mama, ‘kalau saja aku berhak, maka kalian akan kubawa semua.  Tapi karena aku hanya berhak membawa satu dari kalian mak kupilih kamu, karena aku yakin Davidlah yang kuat mendampingi ayahmu.  Dan lagi kamu dulu sakit-sakitan maka kuputuskan kamu yang kubawa.’

David termenung mendengar kata-kataku.

‘Pernahkah Mama berpikir tentang aku?’ tanya David kemudian.

‘David!’ seruku.  ‘Setiap menit Mama selalu memikirkanmu.  Kau pikir Mama melupakanmu begitu saja?’ David tersenyum malu mendengar teguranku.

‘Seperti kataku tadi, Lucy, aku terlalu berpikir tentang diriku sendiri.  Setiap saat Papa berbicara denganku tentang dirimu maka waktu itu pula aku menyadari bahwa kamu begitu diperhatikan.  Itulah yang membuatku iri, seakan aku tidak berarti apa-apa di mata Papa.  Aku takut bila kamu tetap berada di samping Papa kedudukanku akan tergeser dan aku akan hilang begitu saja.’

‘Masihkah kamu mempunyai perasaan seperti itu?’ tanyaku.

‘Tidak lagi, Lucy.  Tidak lagi.’ Jawab David.  Kuambil tangan david dan kucium.  David tersenyum.

‘Apakah berarti bahwa aku boleh tetap berada di sini?’

‘Tidak!’ jawab David cepat.

‘David!’ protesku tak habis pikir.

‘Kamu tidak boleh tetap berada di sini.  Ingat ini Rumah Sakit, Lucy.  Rumahmu ada di Louisville,’ jawabnya sambil tertawa.  Kucubit dia sekuat tenaga dan David menjerit.  Tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka dan muncullah wajah-wajah terkasih; Papa.  Mark dan Irene.  Aku tidak tahu nama siapa yang harus kuteriakkan pertama kali.  Akibatnya aku hanya menatap mereka tak berkedip tanpa mengucapkan sepatah kata pun.  Tahu-tahu aku telah di hujani ciuman mereka.

‘Bagaimana kalian tahu aku berada di sini?’ akhirnya mampu juga aku untuk bertanya.

‘Orang tua Mark datang menemuiku dan mengatakan bahwa menantu mereka telah menghilang.’ Jawab Papa sambil mengedipkan sebelah matanya.  semua tertawa kecuali aku dan Mark.  ‘Ternyata menantu mereka itu adalah anakku yang juga pernah menghilang dua bulan yang lalu.  Karena waktu menantu mereka menghilang itu bersamaan waktunya dengan menghilangnya anak laki-lakiku, maka kami sepakati untuk menganggap mereka menghilangnya bersama-sama.  Hingga akhirnya kuterima telepon dari anak laki-lakiku tentang kecelakaan yang menimpa mereka.  Nah, cukup jelas sekarang?’ lanjut Papa berbelit-belit.

‘Irene?’ tanyaku untuk menyingkap kehadiran Irene di kamar ini.  Papa menghela nafas sejenak kemudian memandang kami semua silih berganti.

‘Mengapa tak kau katakan kepada Papa begitu kamu mengetahuinya, Lucy? Mengapa orang lain yang harus bercerita kepada Papa?’ Papa ganti bertanya.

‘Saya menanti saat yang tepat, Papa,’ jawabku.  ‘Siapa yang memberitahu Papa?’

‘Menantuku ini dan orang tuanya,’ jawab Papa sambil menepuk bahu Mark.  Mak tersenyum jengah.

‘Hei, apa-apaan ini? Apa yang kalian perbincangkan?’ tanya David kebingungan.

‘Irene adalah adikmu, Dave,’ jawab Papa.  David terperanjat.  Matanya bergerak cepat dari Papa ke Irene, kembali lagi ke Papa kemudian berhenti padaku.  Kuanggukkan kepalaku untuk meyakinkan dirinya.  Dengan cepat dia berdir dari sisiku dan berjalan mendekati Irene yang berdiri dengan tegang.  Diambilnya wajah Irene dengan kedua tangannya dan dipelajarinya lama.

‘Mengapa tak kau katakan dari dulu, Irene?’ bisik David lembut.  Mata Irene berkaca-kaca menatap David dan bibirnya bergetar menahan haru.

‘Irene adikku,’ desah David sambil memeluk Irene.

Angin sore berhembus lembut, mempermainkan pucuk-pucuk pinus di depan sana.  Bunga-bunga Dandelion kuning bergoyang-goyang mengucapkan salam kepada kuda-kuda jantan Kentucky yang sedang bercanda riang.  Dan di atas salah satu punggung kuda itu David bertengger.  Sinar matanya menimpa dadanya yang telanjang hingga dari tubuhnya seakan memancarkan cahaya.

Kutoleh Papa yang duduk di samping Irene, pandangan Papa juga berada pada David.

‘Aku gembira David bisa lepas dari Deidre.  Gadis itu berpengaruh tidak baik padanya,’ bisik Papa.  Aku, Mark dan Irene tidak berkomentar walau dalam hati kami sependapat dengan Papa.

‘Dan, Lucy …  kapan kamu melangsungkan perkawinanmu dan memberi Papa cucu-cucu yang manis?’ tanya Papa kepadaku.  Kulirik Mark yang duduk di sampingku, dia tersenyum lebar ke arahku.

‘Ah, tidak seharusnya Papa bertanya kepadaku.  Lucy sih sudah siap Cuma Mark saja yang belum,’ jawabku.  Mark membelalakkan matanya.

‘Jangan membalikkan fakta, Miss,’ protesnya.  ‘Detik ini pun aku mau,’ lanjutnya.  Papa dan Irene tertawa.

‘Kalau begitu tunggu apa lagi?’ tanya Papa.

‘Begini, Papa,’ aku menerangkan, ‘Mark dan David akan pergi ke Indonesia dulu.  Meminta ijin kepada Mama.  Na, kalau Mama sudah memberi lampu hijau baru …’

‘Kapan kalian akan pergi?’ potong Papa ke arah Mark.

‘Secepatnya,’ jawab Mark pasti.

‘Bagus! Aku yakin Mama Lucy akan mengijinkan,’ jawab Papa.

‘Papa begitu yakin?’ tanyaku.  Papa tidak menjawab.  Tapi seperti juga Papa aku yakin Mama akan mengijinkan perkawinan kami.  Mark terlampau baik untuk di tolak.

‘Nona, Lucinda …’ panggil David yang entah kapan telah ada di depan kami.  ‘Maukah Anda berkuda denganku?’

‘Dengan senang hati, tuan muda,’ jawabku sambil beranjak dari sisi Mark.  ‘Sebentar ya, Mark?’ bisikku pada Mark.  ‘Ngobrol-ngobrollah dulu dengan mertua dan adik ipar,’ Mark mengangguk dan memperhatikan kami berlalu.

Aku duduk di belakang David sambil memeluk tubuhnya erat.  Tiba-tiba terpandang olehku sebuah bekas luka di punggungnya.

‘David, apa ini?’ tanyaku.

‘Setahun yang lalu aku terjatuh dari sepeda motor,’

‘Lucu ya, Dave? Aku juga mempunyai bekas luka dipunggung.’

‘Apanya yang lucu? Bukankah kita saudara kembar? Kalau kamu terluka aku pun ikut terluka,’ jawab David berkelakar sambil mempercepat lari kudanya.

‘David,’ bisikku.

‘Hmm?’ tanya David tanpa berusaha memelankan lari kuda.

‘Aku mencintaimu,’ ucapku.  Aku tahu aku harus mengucapkan kata-kata itu.  Serta merta David menghentikan kudanya, kemudian dia menoleh ke arahku.  Ditatapnya aku lama dan dalam.

‘Siapa yang lebih kau cintai, aku atau Mark?’ tanyanya.

‘Oh, David, engku gila!’ teriakku sambil memukul punggungnya.  ‘Jangan katakan kalau kamu cemburu pada Mark,’ David tertawa terbahak-bahak dan matanya berputar-putar dengan kocaknya.

‘Tentu saja tidak.  Cuma …  rasanya belum lama aku memilikimu kini kamu akan menjadi milik Mark,’ ucap David polos.

‘David, kamu tahu aku akan tetap menjadi milikmu.  Aku akan selalu membutuhkanmu.  Bukankah kita hanya mempunyai satu hati?’ David mengangguk.  Sebuah senyum hangat tersungging di bibirnya.  Kemudian dia mencium dahiku lembut.

‘Akupun mencintaimu, Lucy,’ bisiknya.  Dan entah dari mana datangnya tahu-tahu dunia ini penuh dengan cinta.  Bahkan burung-burng yang terbang bergerombol di atas pun bergerak karena cinta.  Alangkah indahnya dunia ini.     

Tamat.

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Kelima)

Ribuan mil dari mama 5

Cerita Sebelumnya:

Lucinda Stanton adalah gadis yang beribukan wanita Indonesia dan ayah Amerika.  Karena perceraian orang tuanya dia ikut ibunya yang kemudian menikah lagi dan tinggal di Indonesia.  

Setelah lima belas tahun berpisah dengan ayah dan saudara kembarnya, ia dikirim oleh ibunya untuk tinggal di Amerika.  

Ayahnya menyambut Lucinda dengan hangat.  Tetapi David, saudara kembarnya menerimanya dengan kebencian dan Deidre, kekasih David ikut-ikutan.  Kesedihan Lucinda menerima perlakuan David agak terobati karena persahabatannya dengan para pengurus rumah tangga Stanton, terutama Oscar dan Irene.

Tuan Stanton mendapat serangan jantung mendadak.  David menuduh Lucinda sebagai penyebabnya.  Dia juga menuduh Lucinda datang ke Amerika karena menginginkan warisan saja.  David kemudian meminta Lucinda untuk kembali ke Indonesia, tetapi Lucinda melarikan diri ke kota Daytona dan tinggal di sebuah hotel dekat pantai.  Di sini dia berkenalan dengan Michelle, seorang peragawati.

Karena kebetulan, Lucy berkenalan dengan Mark Wayne, seorang mahasiswa yang bekerja musiman sebagai penjaga pantai.  Mark berusaha bersahabat dengan Lucy, namun Lucy enggan, mengingat pesan Michelle bahwa semua penjaga pantai adalah play boy.  Pandangan Lucy berubah, ketika pemuda itu menyelamatkan seorang anak yang hampir tenggelam di pantai.

Aku tahu Mark merasa aneh mendengar jawabanku tetapi aku tidak peduli. Dia kemudian bertanya tentang bermacam hal. Tentang Indonesia dan tentang diriku.  Bila dia bertanya tentang Indonesia maka aku akan menjawab dengan jujur, tetapi bila dia mulai bertanya tentang diriku maka akan kucari jawab yang kira-kira akan memuaskannya.

‘Hei, aku telah terlalu banyak bercerita tentang diriku, bagaimana dengan dirimu sendiri?’ kualihkan percakapan kami karena aku sangat tertekan bila bercerita tentang keluargaku.

‘Aku berasal dari Kentucky,’ Mark memulai ceritanya.

‘Kentucky?’  potongku cepat, ‘Dekat dengan Louisville?’

‘Kamu pernah ke Louisville?’ ganti Mark yang bertanya.

‘Belum.  Cuma pernah dengar saja.  Rumah Kolonel Sandersnya KFC.’ jawabku mencoba bercanda. Ya Tuhan hampir saja…

‘Rumahku di luar kota Louisville,’  lanjut Mark.  Ingin benar aku bertanya luar kota sebelah mana.  Tapi kalau aku bertanya tentu dia akan curiga, maka kubiarkan rasa ingin tahuku tidak terpenuhi.  ‘Di sana ada Mom, ada Dad dan ada dua adik laki-lakiku, Tony dan Eric. Waktu mereka belum lahir, aku pernah di ajak berlibur oleh orangtuaku di pantai di Delaware dan di sana aku hampir mati tenggelam, untung aku di selamatkan oleh seorang lifeguard.  Sejak saat itu aku bercita-cita untuk menjadi seorang lifeguard.’

‘Sudah berapa lama kamu menjadi lifeguard, Mark?’

‘Sudah tiga kali musim panas.’

‘Jadi kamu hanya beredar disini pada waktu musim panas?’ tanyaku. Mark mengangguk.

‘Musim-musim lainnya kuhabiskan di kampus.  Menjengkelkan memang, tapi Mom dan Dad sangat mengharapkanku untuk melanjutkan sekolah,’ keluh Mark.

‘Dan kamu sekolah sekolah di…?’ selidikku.

‘Cincinnati,’ jawab Mark lesu.  Cincinnati!!?  Bukankah David juga kuliah di sana?  Pernahkah Mark ketemu David? Saling kenalkah mereka, pikirku kalut.  Tentu tidak.  Bantahku sendiri.  Kalau Mark kenal David tentu dia akan segera menyadari kemiripanku dengan David.  Dalam kebingunganku itu tanpa kusadari aku melihat ke jam tanganku.  Astaga, sudah saatnya makan malam!

‘Sorry, Mark, aku harus segera kembali ke hotel.   Sudah jam makan malam,’  kataku sambil bangkit.  Tentu Michelle sudah menantiku, pikirku sambil mengibas-ngibaskan pasir yang menempel di celanaku.  Mengapa aku jadi lupa waktu?  Mark juga ikut berdiri.

‘Besok kamu main di pantai?’ tanya Mark.  Aku mengangguk.

‘Kunanti kamu di sini, OK?’  kata Mark sebelum aku berlari menuju hotel.

Ribuan mil dari mama 5 b

Michelle telah pergi ke ruang makan ketika aku sampai di hotel karena kujumpai kamarnya gelap dan terkunci. Bergegas aku menyusulnya.

‘Dari mana saja, Non?’  tegur Michelle.

‘Jalan-jalan di pantai,’ sahutku sambil duduk di seberangnya.

‘Jalan-jalan di pantai atau pacaran di pantai?’  selidik Michelle sambil menahan senyum.   ‘Tadi aku menyusulmu ke pantai, tapi karena engkau begitu asyik maka kubiarkan saja,’ lanjutnya.  Aku tidak tahu bagaimana warna wajahku waktu itu tapi aku merasa semua darahku mengalir ke sana.

‘Ah, kami hanya ngobrol saja,’ belaku.

‘Apakah dia mulai merayumu?’

‘Michelle . . . ! dia tidak punya maksud apa-apa, jadi tidak diperlukan rayuan,’ balasku sengit.  Tapi Michelle malah tertawa. Cepat-cepat kupanggil Les untuk menyiapkan makananku dan tak bercerita apa-apa kepada Michelle hingga makan malam selesai.

‘Lucy, kamu marah?’ tanya Michelle dalam perjalanan menuju kamar kami.  Aku diam saja.  Marah sih tidak, cuma dongkol.

‘Sorry kalau aku membuatmu tersinggung.  Aku hanya berseloroh tadi,’ kata Michelle penuh penyesalan.

‘Aku sama sekali tidak marah, cuma . . . ah, tak tahu mengapa.’

‘Oke, hati-hati sajalah. Bagaimana pun juga dia seorang lifeguard dan reputasi lifeguard tidak bisa kita anggap enteng.  Tapi apa yang dia lakukan tadi pagi membuat nilai dirinya naik.  Mungkin saja dia dia tidak seburuk lifeguard lainnnya.  Mungkin dia benar-benar mencintaimu.

‘Wow… siapa yang bicara tentang cinta?’ potongku.

‘Aku bilang mungkin, dear Lucy.’  Mengapa sekarang kamu jadi mudah tersinggung? Mungkin yang mungkin itu tengah terjadi pada dirimu saat ini,’ bantah Michelle. Kupelototi dia, tapi dia tenag-tenang saja.

‘Mau menemaniku jalan-jalan, Lucy?’ tanya Michelle.  Aku menggeleng.

‘Oke, aku akan jalan-jalan sendiri, siapa tahu ketemu sama lifeguardmu,’ goda Michelle lagi.  Dia masih tetap menggodaku hingga kuturuti permintaannya untuk menemaninya jalan-jalan.

Ribuan mil dari mama 5 b

Kami melangkah pelan menelusuri pantai yang remang-remang. Michelle berjalan dengan wajah menunduk dan kakinya mengais-ngais pasir yang di laluinya.

‘Lucy, bagaimana bila kukatakan kepadamu kalau aku akan kawin besok pagi?’ tiba-tiba Michelle berbisik lirih.

‘Apa?’ aku masih juga bertanya walau kalimat yang di ucapkan Michelle sudah kudengar dengan jelas.

‘Besok pagi aku akan kawin, Lucy.’

‘Michelle, jangan  bercanda!’  tegurku. Tapi kulihat Michelle menggelengkan kepalanya.

‘Aku sendiri pun pada mulanya tidak percaya ketika dia menyatakan bahwa kami akan kawin besok pagi. ‘Kukira dia sedang bergurau, ternyata tidak. ‘Kami benar-benar akan kawin besok pagi di Presbitarian Church di Orlando.’

‘Dengan siapa kamu akan kawin dan mengapa sangat mendadak dan tanpa rencana?’

‘Dengan Bob Turner.’

‘Bosmu?’ tanyaku kurang yakin.  Hanya seorang Bob Turner yang kukenal yaitu pemilik Daytona Fashion Center.

Kalau Michelle benar-benar kawin, tinggalah aku sendiri di hotel ini tanpa kawan.  Mengapa semuanya begitu cepat berlalu? Mengapa pertemuan dan perpisahan selalu membayangi langkahku?

‘Kamu tidak mengucapkan selamat kepadaku?’  tanya Michelle membuyarkan lamunanku.

‘Oh, tentu saja.  Selamat Michelle!  I’m so happy for you” ucapku sambil memeluk Michelle erat. ‘Tapi kamu tahu aku sedih untuk berpisah denganmu.’

‘Kamu kira hanya kamu saja yang sedih? Tapi kita akan tetap berhubungan, Lucy. Kamu sudah kuanggap sebagai adikku sendiri,” bisik Michelle sambil melepaskan pelukan. ‘Kamu harus hadir pada perkawinanku dan menemaniku selama seminggu di Orlando.’

‘Menemanimu? Yang benar saja, kamu sudah ditemani Bob.”

‘Lucy . . ., Bob akan sibuk selama itu. Dia akan mengurus keberangkatan kami ke Eropa.  Dia akan mengadakan pameran di Paris dan Milan, sekaligus bulan madu kami.  Kita masih punya waktu, Lucy. Kita dapat jalan-jalan bersama. Ke Disney World, misalnya. Oke, Lucy?’

‘Michelle, aku . . . aku.’

‘Kenapa?’

‘Kalau saja kamu memberitahunya tadi pagi maka aku akan menjawab ya dengan pasti. Tapi kalau sekarang . . . Oh, Michelle, kamu tahu aku tidak membawa sebuah baju pun yang pantas untuk suatu perkawinan. Semua pakaianku terlalu santai,”

‘Lucy . . . Lucy,’ desah Michelle. ‘Apa gunanya aku berkeja di rumah mode kalau aku tidak bisa meyediakan sebuah baju untukmu.’

Malam itu kami berdua sama-sama tidak bisa tidur. Tapi alasan yang mendasarinya berbeda. Kalau Michelle tegang menghadapi perkawinan dan masa depannya yang penuh dengan impian indah, sementara aku gelisah menghadapi masa depanku yang semakin tak pasti dan harus kutempuh sendiri.

Ribuan mil dari mama 5 b

Alun ombak malam ini sangat tenang, setenang mataku yang menatap kosong pada langit-langit kamar yang tidak ada seekor cicaknya pun. Michelle telah terbang ke Eropa tadi pagi dan kini aku kembali ke kamar hotel ini, entah untuk berapa lama lagi.  Sudah kuputuskan diriku untuk tidak kembali ke Indonesia sebelum sakit hatiku hilang dan sebelum aku bisa berdiri sendiri dengan tegar.

Sebuah ketukan lirih tergetar di pintuku.  Sekejab bayangan Michelle melintas.  Ah bukan! Michelle telah pergi.  Lalu siapa? Perlahan aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan menuju pintu. Dengan ragu pintu kubuka dan . . .

‘Mark!’  seruku kaget melihat siapa yang berdiri di depanku.

‘Lucy, are you okay?’ tanya Mark kuatir.

‘Apa?’ aku tidak mengerti yang ditanyakannya.

‘Kamu tidak apa-apa?’  ulang Mark.  Aku menggeleng.

‘Memangnya ada apa?’ tanyaku.

‘Seminggu yang lalu kamu berjanji untuk menemuiku di pantai tetapi sejak saat itu pula kamu tidak pernah muncul.’

‘Oh, itu,’ sahutku dengan tawa. ‘Mark menatapku tidak mengerti.  Kemudian kujelaskan semuanya.  Tentang perkawinan Michelle yang dadakan dan tentang tempat-tempat yang kukunjungi bersama Michelle selama seminggu di Orlando.  Baru sesudah aku menyelesaikan kisahku.  Mark bernafas lega.

‘Kukira kamu telah pulang ke Indonesia, tanpa mengucapkan selamat tinggal,’  ucapnya.  Kemudian dia menatapku lama dan dalam.  Jantungku berdetak lebih kencang. Tuhan, jangan biarkan aku jatuh cinta pada mahluk satu ini.  Mark masih juga belum memindahkan matanya dari wajahku membuat diriku salah tingkah.

‘Mark, jangan pandang aku seperti itu,’ pintaku.

‘Kenapa?’ tanyanya sambil tersenyum dan meraih bahuku.  Aku menghindar.  Ini tidak boleh terjadi.  Sama sekali tidak boleh.  Aku di sini bukan untuk jatuh cinta. Tapi kalau aku sedang tidak jatuh cinta, mengapa aku tidak kuasa untuk menentang pandang matanya?

‘Tak ingin jalan-jalan ke pantai, Lus?  Malam sangat indah untuk dinikmati,’ usul Mark.  Aku ragu.  Berbahayakah bila aku berjalan bersama dengannya?

‘Lucy?’  Mark meminta kepastian.

‘Baik,’  jawabku terlepas begitu saja.  Aku sendiri pun terkejut waktu mendengarnya.  Ada apa dengan dirimu, Lucy?  Tidak bisakah kamu mengontrol dirimu sendiri? Sudah masuk dalam perangkapnyakah kau?

Ribuan mil dari mama 5 b

Malam memang sangat indah dengan bulan yang bersinar penuh di atas laut. Ada segumpal awan putih tipis yang membentuk peta pulau Jawa di bawah bulan. Dan di awan itu kulihat tawa manja Yani, gelak Anto dan senyum manis Adit. Tiba-tiba mataku terasa panas. Aku rindu mereka. Seharusnya malam ini aku berada di samping mereka dan menceritakan kisah-kisah yang dulu pernah diceritakan mama kepadaku. Tapi apa yang kukerjakan sekarang ini? Berjalan di tanah yang asing dengan ditemani oleh seseorang yang asing pula. Apa yang sebenarnya kucari di sini? Cinta seorang ayah dan saudara kembar?

‘Lucy,’  panggilan Mark menyadarkanku. Dia berjalan di sampingku dengan kedua tangannya berada di saku jacketnya.

‘Ya?’ sahutku.

‘Kok diam saja? Bicaralah.’

‘Bicara tentang apa?’

‘Bicara apa saja. Tentang bulan, misalnya. Atau laut. Atau tentang cintamu kepadaku,’ sambung Mark.

‘Apa?!! Ih memangnya aku cinta padamu?’ tangkisku cepat.

‘Apakah benar-benar tidak?’ tantang Mark penuh keyakinan.

‘Tidak,’ jawabku tak kalah yakin.

‘Kamu bohong,’ tuduh Mark.

‘Mark, yang punya hati kan aku.  Aku bilang tidak, ya tidak. Kamu pikir setiap gadis akan jatuh cinta kepadamu? Kamu salah, Mark. Memang banyak gadis-gadis yang tergila-gila pada lifeguard tapi aku tidak termasuk di dalamnya,” bantahku emosi.  Aku menyangka Mark akan mengelak dan menangkis seranganku, ternyata dia hanya tersenyum manis.

‘Lucy, kamu tahu mengapa aku begitu kuatir waktu kamu tidak muncul-muncul? Aku takut kamu telah kembali ke Indonesia.” Tanya Mark yang disusul dengan jawabannya sekalian. Aku senang karena dia telah mengalihkan pembicaraan tentang cinta.

‘Kalau aku kembali ke Indonesia kenapa?’

‘Nah itu yang tidak kuinginkan. Aku belum mengatakannya kepadamu.’

‘Mengatakan apa?’

‘Mengatakan kalau aku mencintaimu,’ jawab Mark biasa.  Kembali lagi ke masalah cinta.  Apakah karena bulan purnama, apakah karena ombak yang mencumbu pantai dengan lembut yang membuat malam ini begitu romantis hingga apa-apa yang di ucapkan harus berbau cinta?

‘Jangan ngaco kamu,’  kuperingatkan dia.

‘Aku serius, Lucy.  Aku mencintaimu,’ bantah Mark sengit.  Awas, lucy, dia telah mengeluarkan serangannya. Waspadalah!

‘Lucy, mengapa  tidak berkomentar?’ kejar Mark ketika melihat aku tidak bereaksi atas ungkapan cintanya.

‘Bagaimana aku harus berkomentar? Kamu becanda melulu sih. Mark, jangan bicara lagi tentang cinta, oke?’

‘Mengapa tidak?’

‘Karena aku tidak menginginkannya,’ jawabku pendek. Mark menatapku lama. Gila, manusia ini pandai sekali bermain sandiwara. Dia bisa menatapku seakan dia benar-benar mencintaiku.  Mata itu. . ., mata itu berisi sejuta cinta.

‘Aku tidak bercanda, Lucy,’ bisik Mark.  Aku diam saja dan aku masih tetap diam ketika Mark mendekatkan wajahnya ke wajahku.  Aku sudah bisa merasakan hangat nafasnya, tetapi aku masih saja tidak bergeming. Kakiku seakan sudah menyatu dengan pasir di bawahnya dan tidak mau kuajak beranjak.  Wajah Mark semakin dekat.  Sedetik kemudian bibirnya mulai menyentuh bibirku dengan lembut.

Ribuan mil dari mama 5 b

Aku sedang mandi ketika telepon di kamarku berdering.  Pasti Michelle, tebakku yakin.  Cepat-cepat aku menyambar handuk dan keluar dari bak mandi.

‘Michelle!’ sapaku penuh semangat.

‘Bukan Michelle, Lucy,’ kudengar sebuah sahutan dari ujung sana yang memang bukan suara Michelle.

‘Oh, halo Mark,’ tegurku tidak seantusias tadi.

‘Kecewa, Lucy?  Kamu menanti telepon dari Michelle?’ tanya Mark.

‘Emmm, Michelle berjanji untuk meneleponku.  Tadi kukira dia.’

‘Ingat, dia ‘kan pengantin baru.  Maklumi saja kalau dia belum sempat menghubungimu dan lagian baru beberapa hari Michelle pergi.”

‘Ya, benar juga,’  kuhibur diriku sendiri.

‘Lucy, kamu lagi ngapain?’ tanya Mark. Kupandang tubuhku yang dililiti handuk di cermin. Tiba-tiba aku tersenyum. Mark tidak boleh tahu ini. Dia bisa bangga bisa bercakap-cakap dengan gadis yang hanya terbungkus handuk minim.

‘Tidak ada, Mark. kamu tahu aku tidak punya pekerjaan.’

‘Bersiap-siaplah kalau begitu. Sebentar lagi kujemput,’ kata Mark.

‘Ke mana?’

‘Ada sebuah restoran Italia yang eksotik di luar kota.  Aku ingin mengajakmu ke sana,’

‘Mark . . .’  aku mencoba memprotes tapi Mark sudah tidak mendengarnya.

Beberapa saat kemudian dia muncul di depan pintu kamarku.  Tapi Mark yang kali ini lain dari Mark yang biasa kukenal.  Dia bukan Mark yang mengenakan celana renang, bertelanjang dada dengan pluit tergantung di lehernya dan kaca mata hitam pekat melekat di matanya.  Bukan pula Mark yang bercelana jeans dengan T shirt  putih dengan tulisan ‘lifeguard’ berwarna merah menyala melintang di dadanya.  Mark kali ini adalah Mark yang resmi dengan pakaian yang resmi pula.  Kemeja berwarna biru langit dan celana panjang berwarna biru gelap.  Sangat serasi pada tubuhnya.  Untung tadi aku segera tanggap ketika Mark memintaku untuk bersiap-siap pergi ke rumah makan yang eksotik sehingga pakaian yang kukenakan pun bukan pakaian yang biasa kupakai.  Melainkan salah satu pakaian pemberian Michelle sebelum dia terbang ke Eropa.  Pakaian dari rumah modenya.

Rumah makan yang kami tuju benar-benar seperti yang dikatakan Mark.  Eksotik, Artistik . . ., pokoknya, wah.  Sebuah bangunan kuno dengan pilar-pilar marmer putih polos, tanpa guratan penanda umur.  Dari karpet, taplak meja hingga ke tirai-tirai jendela berwarna merah tua sangat cocok dengan kursi-kursi kayu bersandaran tinggi yang ada. Di mana-mana bergantungan lampu-lampu kristal yang bersinar redup.  Di setiap meja terdapat jembangan yang juga kristal dengan dua tangkai anyelir merah muda di dalamnya.  Semuanya menawan.

‘Mark, jangan tertawakan aku bila aku membuat tindakan-tindakan yang konyol. ‘Aku belum pernah masuk restoran yang semewah ini,’ bisikku di telinga Mark sambil menanti greeter yang akan menempatkan kami di meja yang telah di pesan Mark,

‘Jangan kuatir,  aku juga belum pernah,’ jawab Mark juga berbisik.  Kami saling melempar pandangan dan tersenyum bersama.

Seorang greeter berpakaian tuxedo lengkap mengantar kami ke sebuah meja di balkon yang menghadap ke luar. Dari tempat kami duduk terlihat laut Atlantik yang membentang di kejauhan.

Tidak selang berapa lama kemudian waiter yang akan melayani kami muncul.  Pengetahuan tentang makanan yang ditawarkan di restoran tersebut dia kuasai dengan benar, sehingga mudah bagiku untuk memilih makanan yang ingin aku coba.

‘Senang tempat ini, Lucy?’ tanya Mark ketika waiter kami telah pergi mengambil pesanan kami.  Aku mengangguk.  Untuk berbicara rasanya aku tak sanggup.  Mata Mark menatapku dengan lembut.  Betapa aku menyukai mata itu. Mata yang seolah tak ‘kan mampu untuk berubah menjadi dingin.  Mata yang berisi sejuta cinta dan tak pernah sempat untuk memancarkan kebencian dan dendam. Kalau saja David mempunyai mata seperti yang dipunyai Mark.

Selagi Mark menuangkan anggur ke dalam gelasnya, kutebarkan pandanganku ke sekeliling.  Tiba-tiba mataku terpaut pada seorang gadis kulit hitam yang duduk seorang diri di pojok balkon. Ada sesuatu padanya yang menggerakkan mataku untuk memandang dia sekali lagi.  Gadis itu pernah kulihat sebelumnya.  Aku yakin tentang hal itu. Tulang pipinya yang menonjol serta rambut keriting yang di tarik kebelakang, aku pernah melihatnya,. Di mana?  Di mana?  Kutelusuri garis kenanganku yang belum begitu panjang di negeri ini dan …

‘Gabriella,’ bisik hatiku.  Yah, gadis itu bernama Gabriella, yang kujumpai di JFK Airport waktu itu.   Dia yang dulu memeriksa pasporku dan dia pula yang mengantarku menemui pilot. Aku harus menegurnya, putus hatiku. Tetapi belum lagi teguran itu keluar dari mulutku, kulihat seorang pria mendekatinya. Kutangguhkan niatku dan mengamati si pria.

‘Ya Tuhan,’  keluhku tidak sadar.  Aku kenal benar dengan pria itu.  Manuel Batista!  Tiba-tiba aku panik luar biasa.  Manuel tidak boleh melihatku berada di sini.  Dia akan segera melapor ke Papa. Aku harus pergi sebelum dia sempat melihatku.

‘Ada apa, Lucy?’  tanya Mark yang mungkin mendengar keluhanku.

‘Mark, aku harus pergi.  Harus pergi,’  kataku sambil beranjak dari tempat dudukku.  Mark memandangku tidak mengerti.

‘Maafkan aku, Mark,’  bisikku sepenuh hati.

‘Lucy, kenapa?’  tanya Mark heran.  Aku sudah tidak sadar dengan sekelilingku lagi.  Yang kuinginkan hanyalah segera keluar dari tempat ini sebelum Manuel mengenaliku.  Maka tanpa menjawab pertanyaan Mark aku berjalan setengah berlari meninggalkan dirinya.

‘Lucy, tunggu dulu!’ kudengar panggilan Mark.  Tapi aku sudah terlampau panik untuk menghentikan langkah. Aku berjalan terus dan berjalan kadang kuselingi dengan lari-lari kecil.  Ketika kulihat sebuah toko kecil, segera aku masuk ke sana dan dari sana aku memesan taxi untuk mengantarku pulang ke hotel.

Tangisku tumpah di kamar.  Ketakutan dan penyesalan berbaur menjadi satu di dadaku.  Takut Manuel melihatku dan menyesal harus mengecewakan Mark.  Kenapa dia yang begitu baik harus kukecewakan?  Tidak itu saja, dia harus menanggung malu karena gadis yang diajak kencan telah melarikan diri darinya.  Orang lain tidak akan mau tahu.  Bagi mereka tidak diperlukan alasan yang mendasari sikapku.  Yang terang aku telah meninggalkan Mark.  Oh, Mark pasti tersinggung dengan ulahku.  Dia tidak akan sudi unutk menemuiku lagi.  Tapi apakah aku memang punya muka untuk menemui Mark lagi?  Tidak!  Aku tak punya keberanian untuk itu.  Aku tidak berani menatp wajahnya lagi. Aku tak berhak.  Aku telah membuat malu dia, walau untuk alasan yang bagaimanapun.

Pelan-pelan aku beranjak dari tempat tidurku. Kukeluarkan ransel dan pakaian-pakaianku dari dalam lemari. Besok pagi-pagi benar aku akan pergi dari tempat ini untuk menghindari kewajiban bertatap muka dengan Mark.  Sebuah kesedihan yang dahsyat tiba-tiba dan tanpa rencana menyerang ulu hatiku. Aku harus mengucapkan salam perpisahan pada hari-hari indah yang sempat terkecap di Daytona. Dan harus mengucapkan salam perpisahan pada cinta yang sempat mekar dalam pelarianku.  Mark, aku mencintaimu.

Kutahan sekuat tenaga untuk tidak menangis, tapi masih juga air mata ini keluar dan membasahi pipi.  Sampai kapan engkau akan berlari, Lucy?

‘Lucy . . ‘ kugelengkan kepalaku.  Bukan, itu bukan suara Mark.

‘Lucy . . .’  suara itu masih juga kudengar. Kegelengkan kepalaku lebih keras lagi.

‘Lucy, aku tahu kamu ada di dalam. Bukalah pintu untukku, please?” suara itu makin jelas. Kulihat jam yang melilit di pergelangan tanganku. Jam setengah satu!  Tidak mungkin suara itu nyata. Suara itu hanya ada dalam bayanganku.

‘Lucy, please?’ pinta suara itu lagi, kali ini di tambah dengan ketukan di pintu. Aku diam tak begeming. Tiba-tiba gerendel pintu bergerak dan sesaat kemudian pintu terbuka. Ya, aku lupa menguncinya tadi.

‘Lucy!  Seru Mark.  Sesaat aku terpana.  Aku tidak mengharapkan dia akan muncul malam ini.

‘Lucy . . .’  panggil Mark lirih sambil memegang bahuku. Aku tidak percaya dengan pendengaranku. Yang kunantikan adalah bentak dan caci maki Mark atas tingkahku bukan suara halus dan tatapan lembutnya.

‘Mark, maafkan aku,’  ucapku tersendat sambil menjatuhkan diri dalam pelukannya.  Air mata yang kuharapkan akan berhenti kini justru membanjir dengan deras.  Mark makin mempererat pelukannya.  Dalam pelukan itu aku merasa terlindung.

‘Tidak ada yang perlu kau takutkan, Lucy,’  bisik Mark sambil membelai rambutku.

‘Mark, pria itu . . . pria itu,’  aku mencoba untuk menerangkan pada Mark.  Ternyata sangat sulit.

‘Emanuel maksudmu?’  tanya Mark pelan. Aku tertengadah kaget.

‘Mark, kamu kenal dia?’ tanyaku tenang.  Mark mengangguk.

‘Tentu saja aku kenal dia.  Emanuel Batista bekerja pada perkebunan Stanton dan perkebunan itu bersebelahan dengan perkebunan kami.’

‘Kamu tahu siapa Mister Stanton itu?’

‘Bukankah dia ayahmu?’

‘Mark!!’ seruku kaget, sambil melepaskan diri darinya.  Mataku nanar menatapnya. Sekonyong-konyong tidak  ada lagi air mata yang mengalir.

‘Sejak kapan kamu tahu bahwa aku anak Stanton?” tanyaku berang. Tiba-tiba saja aku merasa di khianati.  Selama ini Mark pasti sudah tahu siapa aku dan dia pura-pura tidak tahu.  Munafik.

‘Terus terang sejak aku melihatmu aku menduga kalau kamu mempunyai darah Stanton.  Tetapi aku ragu.  Mungkin kebetulan saja kamu mempunyai wajah yang mirip dengan David Stanton.  Aku lupa bahwa David mempunyai saudara kembar yang ikut ibunya.  Aku benar-benar lupa.  Aku baru ingat malam ini, itu pun sesudah berbincang dengan Emanuel.  Jangan kira kalau selama ini  aku membohongimu, Lucy,’ Mark menerangkan dengan sabar. Tiba-tiba saja seluruh tubuhku menjadi lemas seakan tak bertulang. A ku merasakan suatu kelelahan yang luar biasa dan aku terduduk tak berdaya.

‘Aku akan pulang ke Indonesia segera.  Tak ada gunanya main sembunyi-sembunyian lagi.  Mata Stanton ada di mana-mana yang akan segera melihatku di mana pun aku berada,’ pikirku pasrah.

‘Lucy, kamu tidak akan menyerah begitu saja’kan?’ tanya Mark.   Jadi aku tadi tidak hanya berpikir tapi juga telah mengucapkannya.

‘Apa saja yang telah diceritakan Emanuel kepadamu?’ tanyaku sekedar bertanya karena aku sama sekali tidak menanti jawaban.

‘Semuanya, Lucy.’

‘Oh, dia tidak tahu.  Dia akan segera melapor kepada Papa dan Papa akan . . . Apa yang harus kulakukan kini? Berlari lagi?’  gumamku pada diri sendiri.

Take it easy, Lucy.  Dia tidak akan melapor pada ayahmu karena dia telah berjanji pada Irene untuk tidak menceritakan kepada siapapun di mana kamu berada,”

‘Irene?’ tanyaku sama sekali tidak tahu hubungannya.

‘Ya. Irene telah menceritakan semuanya pada Emanuel.’

‘Irene? Mengapa Irene mengingkari janjinya?’

‘Lucy, dengar baik-baik,’ perintah Mark. “Sejak kamu pergi dari Louisville, Irene pun ikut pergi pula meninggalkan perkebunan Stanton. Tapi dia merasa mempunyai kewajiban untuk menyembunyikan pengetahuannya tentang di mana kamu berada. Maka dia menceritakannya pada Emanuel yang kebetulan adalah paman Irene dengan syarat Emanuel harus meneruskan tugas-tugas yang kau bebankan pada Irene, seperti mengumpulkan surat-surat yang datang dari Indonesia.

‘Jadi Irene adalah kemenakan Batista? Mengapa dia tidak pernah bercerita dan mengapa pula dia harus pergi dari perkebunan Stanton? Aku benar-benar bingung,” keluhku.

‘Menurut Batista, Irene merasa berdosa kepadamu. Dia yakin ketidakakrabanmu dengan David yang menyebabkan kamu melarikan diri dari Louisville gara-gara dirinya,”

‘Mark, kamu membuatku semakin bingung,’ ucapku.  Mark berjalan mendekat kemudian duduk di sampingku.  Di raihnya kedua tanganku dan digenggamnya dalam genggaman yang hangat.  Sebelum dia bercerita, dia menatapku lama untuk mengukur apakah aku siap mendengar kisahnya atau tidak.

‘Irene adalah adikmu, Lucy,’  bisik Mark pelan.  Aku membelalak tidak mengerti.

‘Ibu Irenelah yang menyebabkan keretakkan perkawinan orang tuamu.  Aku tidak tahu banyak tentang hal itu tapi Mom tahu segalanya dan kamu bisa bertanya kepadanya langsung nanti bila kamu bertemu ibuku.”

‘Mark, jangan main-main!’ hardikku.  Aku benar-benar tersinggung dengan kelakar Mark.  Ini sudah keterlaluan.

‘Lucy, aku tidak main-main, ibuku tahu tentang hal ini. Manuel dan Mauricio juga tahu tentang ini.  Mimo, ibu Irene adalah Batista yang paling kecil. Batista bungsu.  Irene adalah hasil hubungan Mimo dengan ayahmu.’

to be continued ….

Tentang Tami: Tembang Terakhir

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Adegan NCIS lagi tegang-tegangnya, ketika wajah Jethro Gibbs terhalang oleh  munculnya pesan singkat Santi di layar TV-ku.  Agar pesan dan telpon dari pelangganku tidak terlewatkan selagi aku terlena nonton TV, aku sengaja mengkaitkan telpon selulerku ke pesawat TV.  Akibatnya ya seperti ini.  Bukan hanya sms dari pelangganku saja yang sering mengganggu kenikmatanku menonton, tapi juga sms-sms dari teman yang tidak mendatangkan bisnis seperti sms Santi ini.

 JANGAN LUPA  PERTUNJUKAN MEGAN MALAM INI !!!!!!!!  AJAK CLAY JUGA…. AKU SUDAH SIAPKAN MAKANAN TIDAK PEDAS UNTUKNYA !!!!!!!

Tulisannya persis seperti itu.  Dengan huruf besar semua dan dengan belasan tanda seru, seolah untuk menekankan betapa pentingnya pertunjukan Megan ini untuk dirinya.  Kalau sampai aku tidak muncul, dia akan murka sekali.

Mark Harmon seketika kehilangan daya tariknya.  Aku bergegas ke kamar untuk berganti pakaian yang lebih tebal.  Udara di luar lumayan dingin dan untuk menuju ke rumah Santi di Port Orchard aku harus naik feri dulu dari Seattle ke Bremerton selama satu jam dilanjut dengan naik mobil selama kurang lebih dua puluh menit.  Sekarang sudah jam lima lewat.  Mudah-mudahan aku aku bisa naik feri yang enam sore.  Aku harus buru-buru. Tidak ada waktu untuk menghubungi Clay.  Kedua-duanya akan aku lakukan nanti di atas feri saja.

Kukeluarkan Mini Cooperku dari garasi.  Untung kemarin aku sempat mengisi bensin, jadi aku bisa langsung ke terminal feri tanpa harus mampir di pompa bensin terlebih dahulu.  Mobil miniku masuk di terminal feri pada detik-detik teakhir.  Telat semenit saja, aku harus menunggu feri berikutnya satu jam lagi dan pertunjukan Megan sudah pasti akan terlewatkan.  Megan, anak Santi dan Greg, dari umur belia sudah belajar memainkan harpa.  Di usianya yang sekarang, 15 tahun, dia sudah piawai memainkan dawai.  Sesekali ibunya mengundang teman-teman dekatnya untuk makan malam dan Megan akan memainkan dua atau tiga komposisi.

Setelah memarkir mobilku, yang tentu saja terletak di bagian paling belakang feri, aku segera naik ke lantai atas, membeli segelas kopi dan menuju ke anjungan kapal bagian belakang.  Pada bulan Februari seperti ini, tidak ada seorang pun yang beminat untuk duduk di tempat terbuka.  Jadi seluruh anjungan belakang menjadi milikku.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Perlahan dan pasti, MV Sealth, feri yang kutumpangi mulai meninggalkan sandaran dan berlayar menjauhi Seattle, yang mulai memamerkan kerlap-kerlip lampu malamnya.  Bangunan-bangunan tinggi di Seattle yang kalau siang hari kelihatan gagah dan angkuh berubah menjadi romantis di senja hari. Di bagian paling kiri, terisolasi dari bangunan-bangunan tinggi lainnya, menjulang bangunan favoritku, Space Needle, yang di usianya yang ke 50 tahun masih tetap saja kelihatan kontemporer dan mampu bersaing dengan bangunan-bangunan lainnya.

Kucoba menelpon Clay.  Seperti biasa, tidak peduli sesibuk apapun, pada dering yang kedua dia menjawab telponku.

Hi, hon, what’s up?’ sapanya antusias

‘Pertunjukan Megan ternyata malam ini, Clay,’ ucapku.  Lebih dari dua minggu lalu, Santi sudah mengedarkan undangannya lewat sms dan aku benar-benar lupa.

‘Aku masih ada dua pasien, Tam.  Kamu mau menunggu aku atau kamu mau berangkat duluan nanti aku susul?’ tanya Clay.  Aku yakin dia pasti masih sangat sibuk.  Aku tidak ingin mengganggunya.

‘Aku sudah ada di atas feri, Clay,’ sahutku.  ‘Lagi pula kamu tidak harus datang.  Nanti kupamitkan ke Santi kalau kamu masih ada pasien dan kubawakan lemper buatannya,’ janjiku.  Bule satu ini demen sekali lemper isi ayam.  Apalagi buatan Santi.

‘Kamu yakin …

‘Sangat yakin.’

‘OK, hati-hati nyetirnya.  Jalanan licin kalau musim dingin seperti ini.’

‘Ya, kek…,’ sahutku seperti biasa kalau dia sudah mulai dengan nasehat-nasehatnya.

Setelah memasukkan telponku ke dalam tas, aku mulai menikmati indahnya Puget Sound, perairan di depan kota Seattle di saat matahari mulai tenggelam.  Karena bentuknya teluk, perairan disini sangat tenang.  Dari kejauhan menjulang deretan pegunungan Olympic yang berselimutkan salju.  Di kiri dan kananku berderet pulau-pulau kecil yang nampak kabur terhalang kabut.  Sesekali ada pancaran cahaya lampu dari pulau yang menyeruak menembus kabut.

Keheningan Puget Sound tiba-tiba terkoyak oleh derit pintu yang terbuka.  Seorang pemuda keluar dan sontak jantungku berhenti berdetak.  Di depanku berdiri Bara.  Bara dari masa dua puluh tahun silam.  Baraku yang masih berusia remaja. Kugelengkan kepalaku dengan keras untuk memastikan kalau aku tidak sedang bermimpi.   Ada yang salah dengan logikaku..  Remaja di depanku paling banter berusia tujuh belas tahun.  Sementara Baraku sudah menjelang usia 40 tahun.  Mustahil dia Bara.  Kecuali Bara sudah berubah menjadi Edward Cullen dengan keabadian remajanya.

Pemuda di depanku mengembangkan senyumnya.  Senyuman khas Bara.  Bagaimana mungkin ada seseorang yang begitu mirip Bara.  Anak Barakah dia?

‘Indonesia or Filipino?’ tanyaku membuka percakapan, walaupun seribu persen aku yakin kalau dia anak Indonesia dan mempunyai hubungan erat dengan Bara.

‘Indonesia,’ jawabnya hangat dan ramah.

‘Mau ke rumah tante Santi di Port Orchard?’ tebakku

‘Iya. Tante juga mau kesana?’ sahutnya  sambil bersandar di pagar pengaman di depanku.  Kuanggukkan kepalaku ‘Ibu saya teman kuliah tante Santi.  Bunda minta saya untuk datang ke pertunjukan Megan,’ remaja itu menjelaskan. Dia menjelaskan dengan bahasa Indonesia yang lancar, namun aku bisa menangkap kalau bahasa Indonesia bukan bahasa pertamanya.  Anak ini besar atau lahir di Amerika.

‘Teman tante Santi di Bloomington Indiana?’ tanyaku menyelidik  Tiba-tiba muncul keinginanku untuk mengetahui semua tentang anak ini.  Barangkali dengan mengetahui tentang dia, aku bisa mengetahui ihwal Bara.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tanpa ada peringatan terlebih dahulu, sekonyong-konyong anganku melintas balik ke hampir 20 tahun silam.  Balik ke kampus Bulaksumur, Yogya. Balik ke masa remajaku yang penuh dengan kenangan manis yang sekaligus getir.  Umurku waktu itu baru 17 tahun, mahasiswa baru yang jatuh cinta kepada kakak kelasnya,  Bara.  Betapa indahnya cinta remaja.  Betapa tidak adilnya kehidupan.

Di saat dunia luas mulai terbuka di depan mataku, di saat aku begitu mencintai kehidupan dan siap mengepakkan sayap untuk menggapai cita-cita, Leukimia mengincar nyawaku dengan kejam.  Aku yang pemain inti basket di universitas, yang doyan naik turun gunung, yang nilai ujian terendahnya B+, yang punya cowok ganteng bernama Bara, harus berperang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhku.

Pengobatan demi pengobatan kujalani dengan sabar.  Dari chemotherapy yang merontokkan semua rambutku hingga pengobatan alternatif yang tidak jelas juntrungannya.  Di sela-sela pengobatan itu, jalinan cintaku dengan Bara terajut dengan indah dan kokoh.  Bara adalah alasan utamaku untuk mempertahankan hidup yang semakin hari semakin berat.  Bara adalah batu cadasku di saat aku hampir putus asa.  Di saat seluruh tubuhku bengkak dan penuh dengan benjolan, Bara masih menganggapku gadis tercantik dan dengan bangganya memamerkanku ke seluruh dunia.  Bara adalah cahaya yang menerangi kelamnya masa depanku.

Namun, harapan hidupku semakin hari semakin tipis, hingga tidak ada lagi yang tersisa.  Melihat Bara yang tadinya menguatkanku berubah menjadi beban.  Setiap kali penyakitku kumat kulihat penderitaan hebat di mata Bara.  Dia yang pada mulainya tenang, mulai sering panik.  Dia mulai menelantarkan masa depannya.  Dia lebih sering mangkir dari kampus dan beredar di rumah sakit menemaniku.

Di penghujung perjuanganku, di saat tubuhku menolak segala jenis pengobatan, datang undangan dari Universitas Washington di Seattle untuk menjadi salan satu pasien uji coba pengobatan dengan sistem stem-cell.  Semua biaya mereka tanggung.  Karena sudah tidak ada alternatif lain, akhirnya berangkatlah aku ke Seatlle.

Bara masih sempat mengantarku di Bandara Soetta.  Sebelum keberangkatku, aku memaksanya berjanji untuk melupakanku dan melanjutkan hidupnya.  Aku tidak mempunyai apa-apa yang bisa aku janjikan untuknya.  Sama sekali tidak ada.   Jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa tidak mempunyai peluang di Seattle.  Aku pergi untuk tidak kembali

Ternyata, pengobatan di Seattle menunjukkan hasil yang berbeda. Setelah lebih dari tiga tahun aku dinyatakan bersih dari Leukimia.  Aku mendapatkan masa depanku kembali.  Aku punya waktu untuk bercinta lagi. Aku bisa menghubungi Bara kembali.

‘Jangan,’ cegah abangku Tommy saat kuungkapkan keinginanku untuk menghubungi Bara.  ‘Bara sudah melanjutkan hidupnya.  Dia sedang mengambil S2 dan sebentar lagi akan kawin dengan gadis lain.  Kamu sendiri yang menginginkn itu.  Jangan kamu ganggu dia.’

Aku pun maklum.  Inilah harga yang harus kubayar untuk kesembuhanku. Aku mendapatkan hidupku tapi aku harus melepaskan cintaku. Merasa tidak ada lagi alasan untuk balik ke Yogya, akupun memutuskan untuk tinggal di Amerika.   Walaupun pahit dan menyesakkan dada, kukubur dalam-dalam kenanganku bersama Bara.

 OLYMPUS DIGITAL CAMERA

‘Tante ..’ panggilan anak itu menyadarkanku dan menarikku kembali ke masa kini.

‘Maaf, kamu mengingatkanku pada seseorang,’ ucapku.  ‘Pertanyaannya tadi apa?’ lanjutku. Anak itu tertawa.  Gelak tawanya persis seperti gelak tawa Bara kala menertawakan kekonyolanku.

‘Saya tadi bilang ke tante, nama saya Tommy, tante siapa?’ ucapnya sabar.  Untuk beberapa detik aku diam terpana.  Bara menamakan anaknya Tommy, seperti nama kakakku?  Apakah kalau anaknya perempuan dia akan menamakanya Tami?

‘Nama tante Tami.’ ucapku.  Pemuda di depanku yang ternyata bernama Tommy  tertawa membahana.  Jika tadi aku belum yakin kalau dia anak Bara, kini aku yakin sekali.  Seyakin matahari terbit dari timur setiap paginya.

‘Nama kita mirip ya?’ olokku.

‘Bukan itu saja, tante,’ jawab Tommy.  ‘Pacar ayah saya dulu namanya juga Tami, makanya saya dinamakan Tommy.  Dari nama pacar ayah,’ lanjut Tommy.  Aku terkesima.  Bara sama sekali tidak merahasiaka masa lalunya.

‘Bundamu tidak keberatan kamu dinamakan Tommy?’ tanyaku menyelidik.  Tommy terdiam beberapa saat.

‘Ayah saya orangnya sangat keras dan kaku, Tante,’ ucapnya kemudian.  ‘Bunda memilih untuk mengalah.  Bunda selalu mengalah. Mereka pernah mengalami masa-masa sulit.  Sekarang sudah jauh lebih baik,’ sambungnya ringan.  Dia bercerita seolah aku adalah tantenya yang sudah dia kenal sejak lahir.

‘Jangan-jangan tante adalan Tami, cewek ayahmu dulu,’ pancingku juga berlagak ringan.

‘Tidak mungkin, Tante,’ jawab Tommy cepat.  ‘Taminya ayah sudah meninggal sebelum ayah ketemu Bunda.’  Aku terdiam.  Hatiku seketika membeku.  Ternyata bagi Bara aku sudah mati.  Untung saat itu peluit panjang sudah dibunyikan, pertanda kapal mulai merapat di Bremerton.  Karena Tommy tidak membawa mobil, kutawarkan kepadanya untuk ikut bersamaku.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selama dua puluh menit perjalanan dari Brementon ke Port Orchard, aku mencoba menggali informasi dari Tommy.  Mencoba memahami apa yang membuat Bara yang dulu kukenal sangat lembut dan penuh pengertian berubah menjadi kaku dan berkeras untuk menamakan anaknya Tommy, tanpa mempertimbangkan perasaan istrinya.

Sudah banyak mobil yang parkir di halaman rumah Santi ketika kami sampai di sana.  Rumah Santi letaknya terpencil, jauh dari tetangga.  Di kiri dan kanan bangunan utamanya yang besar dipenuhi dengan hutan pinus dan halaman belakangnya adalah pantai pribadi.  Kalau musim panas, kami sering mencari kerang untuk dimasak bersama.  Greg, suami Santi adalah seorang dokter bedah jantung, dan bekerja di rumah sakit yang sama dengan Clay.  Clay lah yang memerkenalkan aku dengan Santi dan Greg, bukan sebaliknya.

Santi sudah menunggu di depan pintu ketika kami datang.  Sama sekali di luar kebiasaanya.  Sambil memelukku dia berkata ke arah Tommy.

‘Ayah dan Bundamu ada di kamar tamu atas, Tom.’

Aku membelalakkan mataku, tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Santi.  Tommy segera menghambur ke dalam.

‘Kamu tahu siapa ayah Tommy?’ tanya Santi berbisik.  Kuanggukkan kepalaku.

‘Bara ada disini?’ tanyaku tidak percaya.  Santi menggangguk, menggamit lenganku dan menggandengku menjauhi rumah menuju pantai.  Lampu-lampu di sepanjang jalan setapak menuju ke pantai sudah menyala dengan terang.

‘Dan kamu tidak memberitahuku kalau dia ada disini?  Kukira kamu temanku, San,’ protesku.

‘Aku temanmu, Tam, percayalah.  ‘Bara memintaku untuk tidak memberitahumu.  Kalau kamu tahu kamu pasti tidak akan datang,’

‘Tentu saja aku tidak akan datang,’ sergahku.  ‘Kamu sadar enggak sih, San, betapa canggungnya pertemuan ini?  Lagian dari mana Bara bisa tahu tentang keberadaanku?’

‘Dari Facebook,’ jawab Santi singkat

‘Aku tidak punya akun Facebook, San’ bantahku sengit.

‘Dari akunku.  Mita mengunggah beberapa foto perkawinannya.  Ada foto kita berdua disana.  Bara melihat foto itu dan menanyakan tentang kamu.  Karena aku tidak tahu kalau aku harus merahasiakan keberadaanmu, ya aku jawab apa adanya,’ Santi menjelaskan.  ‘Bara dan istrinya, Maya ingin bertemu denganmu.  Aku katakan kepada mereka kalau kamu akan datang pada  acara Megan ini.  Dan mereka sengaja datang untuk menemuimu.’

‘Mereka datang jauh-jauh dari Indonesia?’

‘Mereka tinggal di Portland, Tam.  Setelah lulus dari Indiana mereka  kerja di Portland.’  Aku tertegun.  Tidak menyangka kalau selama ini Bara berada hanya tiga jam dari tempat tinggalku.

‘Apa yang kamu ketahui tentang aku dan Bara?’ selidikku.

‘Banyak,’ jawab Santi.  ‘Aku roommate Maya dari tingkat satu hingga lulus, Tam.  Aku menjadi saksi perubahan dramatis Maya sejak kemunculan Bara di Bloomington.  Dia jungkir balik mencoba menggapai cinta Bara yang sudah habis kikis untukmu.  Aku kasihan melihat dia bersaing dengan hantumu.  Seingatku Bara pernah bilang kalau hatinya sudah mati bersamaan dengan kematian gadisnya.  Aku dan Maya mengira kalau kamu benar-benar sudah mati, Tam.  Belasan tahun aku mengenalmu dan aku tidak pernah tahu kalau kamu adalah gadis Bara’

‘Bagi Bara aku sudah lama mati, San,’ bisikku.

‘Omong kosong,’ bantah Santi sengit. ‘Bara tidak pernah bisa melupakanmu.  Di matanya kamu sempurna sehingga Maya harus berjuang keras untuk bersaing dengan bayanganmu.  Dan kurasa kamupun demikian juga.  Bara adalah tolok ukurmu.  Dia juga yang membuatmu menolak lamaran Clay kan?’

‘Clay tidak pernah melamarku..’ bantahku.  Tiba-tiba aku membutuhkan Clay di berada di sampingku saat ini juga.  Membutuhkan dia untuk mengatakan apa yang harus aku lakukan dalam menghadapi Bara yang tiba-tiba berada dalam jangkauanku.  Tanpa aku sadari ternyata selama ini aku banyak mengandalkan Clay dalam memutuskan sesuatu.

‘Untung dia tidak melamarmu,’ sahut Santi.  ‘Kalau sampai dia melamarmu, kamu akan terbirit-birit meninggalkannya.  Dan kamu akan menjadi wanita tua yang kesepian tanpa teman sekaligus kekasih,’ ucap Santi sambil melihat ke arah rumah.

‘Temuilah mereka, Tam,’ lanjut Santi.  ‘Sudah saatnya kalian menghadapi hantu masa lalu kalian dan melangkah maju. Yuk masuk, sudah saatnya untuk makan malam..’ ajaknya mengalihkan pembicaraan.

‘Kamu masuklah dulu, San.  Aku butuh waktu sebentar untuk menyendiri,’ ucapku.  Santi memandangku sejenak kemudian menganggukkam kepalanya.  Setelah berpesan agar aku segera menyusulnya dia meninggalkanku.

Tentang Tami 7

Aku duduk mematung di atas batang pohon yang tumbang terbawa arus. Memandang ke depan.  Ke gelapnya malam yang menggelantung di atas laut yang mendesah halus.  Cepat atau lambat aku harus menemui Bara dan istrinya.  Pada saat aku siap untuk beranjak dan menuju ke rumah utama, aku melihat sesosok bayangan yang berjalan dengan cepat dan pasti ke arahku.  Aku berdiri dan menanti dengan cemas.  Aku kenal betul pemilik bayangan itu.  Seribu tahun dari sekarang pun aku masih akan tetap mengenalinya.

‘Tami…?’ bisiknya ragu.  Hanya sekejab.  Sekejab kemudian dia sudah merengkuhku ke dalam pelukannya yang erat.  Erat sekali hingga aku nyaris tidak bisa bernafas.  Dua puluh tahun yang memisahkan kami sirna sudah. Tanpa bekas. Kami kembali ke masa lalu.  Ke masa dimana pelukan Bara mampu menghilangkan semua ketakutan di dalam diriku. Tidak ada kata-kata yang terucap, takut kalau kata-kata justru akan membuyarkan momen yang indah ini.  Lama kami berada dalam keadaan seperti itu.  Hingga sebutir air mata Bara bergulir menimpa pipiku.  Aku tersadar dan melepaskan diri dari pelukan Bara, mengambil jarak, namun masih tetap menggenggam kedua tangannya.

‘Aku tidak menyangka  kita bisa bertemu lagi, Bar,’ kataku dengan susah payah sambil menghapus air mata dari pipinya.

‘Mereka semua membohongiku, Tam,’ ucapnya serak.  ‘Mereka membohongiku.  Membohongiku,’ ucapnya berkali-kali.

‘Siapa yang membohongimu?’ tanyaku bingung.

‘Semuanya … Ayahmu, ibumu. kakakmu Tommy dan istrinya, Oki.  Kira-kira dua bulan setelah keberangkatanmu ke Amerika, mereka bilang kalau pengobatanmu gagal.  Mereka bilang kalau kamu sudah meninggal.’

‘Mungkin kamu salah mengerti ..’

‘Tidak, Tam,’ sanggah Bara.  ‘Itu yang mereka katakan.  Aku tidak percaya ketika mereka bilang kalau kamu sudah meninggal.  Aku masih merasakan keberadaanmu.  Aku masih merasakan detak jantungmu.  Tapi mereka terus meyakinkanku.  Mereka bahkan mengadakan tahlilan dan peringatan 40 harimu dengan mengundang anak-anak panti asuhan.  Mengapa kamu tidak berusaha untuk menghubungiku, Tam?’

‘Pengobatanku sangat berat, Bar.’ kataku.  ‘Mempertahankan hidupku saja sulit.  Aku tidak punya daya untuk memikirkan hal lainnya.  Aku tidak tahu mengapa mereka membohongimu.  Tapi aku yakin mereka melakukan itu karena mereka menyayangimu, Bar.  Kalau aku di posisi mereka, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.  Aku pasti tidak akan rela melihat kamu menyia-nyiakan hidupmu, menungguku tanpa ada kepastian.  Sekarang lihatlah, kamu punya Maya dan Tommy.  Oh ya, aku ketemu Tommy di atas feri, dia benar-benar mirip kamu.’

Wajah Bara yang tadinya tegang seketika menjadi santai mendengar nama anaknya kusebut.  Dia berusaha untuk tersenyum.

‘Untuk beberapa bulan setelah kepergianmu, aku depresi berat.  Aku sangat menderita.  Aku gila, Tam.   Aku masih merasakan kehadiranmu.    Satu-satunya jalan untuk mengabaikan kehadiranmu hanya belajar dan belajar.  Kuliah kukebut dan aku lulus dengan predikat mahasiswa terbaik.  Aku tidak bahagia, Tam.  Aku juga tidak bahagia ketika mendapat beasiswa penuh tanpa ikatan ke Bloomington.  Untung disana aku ketemu Maya.  Dia yang menyelamatkan hidupku.  Dia yang mengajariku untuk tersenyum lagi dan menunjukkan kepadaku kalau hidup ini masih layak untuk dinikmati,’ tutur Bara.  Untuk pertama kalinya, dalam hatiku, aku berterimakasih kepada Maya yang pantang putus asa dalam mencintai Bara.

‘Kamu cinta Maya, Bar?’ tanyaku terlepas begitu saja.  Tidak pada tempatnya bagiku untuk menanyakan hal itu. Aku sama sekali tidak berhak untuk menanyakannya.  Bara tersenyum.

‘Awalnya tidak, Tam,’ akunya. ‘Hatiku terlampau hampa untuk mencinta.  Tapi aku tahu Maya wanita baik, wanita yang sangat baik.  Aku tahu dia mencintaiku tanpa syarat.  Mencintai aku yang sudah remuk dan tidak lagi memiliki hati. Aku tahu aku tidak akan menemukan wanita sebaik dia.  Setelah selesai kuliah, terdorong naluriku yang kuat kulamar dia untuk jadi istriku.  Aku tidak tahu kapan aku mulai mencintainya.  Yang jelas sejak bersamanya, memikirkanmu tidak lagi menyesakkan dadaku.  Kamu menjadi kenangan yang indah, sementara Maya adalah cintaku yang nyata,’ lanjut Bara sepenuh hati.  Kupeluk dia kembali dan kudaratkan kecupan di pipi kiri dan kanannya untuk menghapus segala kepedihan yang pernah dia derita gara-gara kepergianku.

‘Aku bahagia untukmu, Bar. Benar-benar bahagia untuk kamu, Maya dan Tommy.  Maafkan aku bila aku pernah menjadi sumber penderitaanmu.’

‘Bagaimana dengan dirimu, Tam?  Apakah kamu bahagia?’ tanya Bara konsern.  Bahagiakah aku?

‘Aku tidak tahu, Bar,’ sahutku jujur.  ‘Umurku 38 tahun.  Masih hidup.  Sehat. Punya usaha disain perhiasan sendiri.  Punya rumah yang baru lunas kalau umurku 55 tahun nanti.  Punya teman setia yang bernama Clay, yang kata Santi tidak berani melamarku karena takut aku akan lari terbirit-birit meninggalkannya… Mungkin kalau disimpulkan, ya aku cukup bahagia,’  Bara tersenyum mendengar penuturan singkatku yang sudah mencakup semua yang ingin dia ketahui.

‘Apakah kamu mencintai Clay?’ tanya Bara diluar dugaan.  Kalau aku boleh menanyakan apakah dia mencintai Maya, tentunya dia pun boleh menanyakan hal yang sama kepadaku.

‘Mungkin seperti kamu, Bar, aku agak lamban untuk menyadarinya,’ sahutku.  Clay masih dokter intern ketika aku mulai menjalani pengobatan.  Dokter termuda di dalam tim dokter yang menanganiku, sehingga lebih mudah bagiku untuk berkomunikasi dengannya ketimbang dengan dokter-dokter lainnya.  Setelah aku sembuh pun, Clay selalu berada di dekatku.  Dia yang membantuku untuk kembali kuliah. Membantuku mendirikan usaha sendiri setelah kuliahku selesai.   Ketika rumah di sebelah rumah Clay dijual,  Clay yang mendorongku untuk membelinya.  Jadi secara fisik kami memang dekat.  Sementara secara perasaan, aku tidak pernah menganalisanya.

‘Sebaiknya kita masuk ke rumah, Bar.  Pertunjukan Megan pasti sudah dimulai dan aku ingin ketemu Maya,’ ajakku mengalihkan pembicaraan.  Bara setuju.   Berdua kami mulai melangkah menuju ke rumah utama.  Lengan kanan Bara memeluk pundakku. Kebiasaan lama… berjaga kalau-kalau aku mendadak pingsan selagi berjalan.  Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum.

‘Aku sudah sehat sekarang, Bar.  Kamu tidak perlu menjagaku lagi,’ bisikku.  Dia tertawa pelan, tapi tetap memelukku.  Dia masih juga memelukku ketika kami memasuki ruang keluarga yang luasnya hampir seluas Balairung, kampus Bulaksumur.  Kutebarkan pandangku keseluruh ruangan.  Megan sudah siap dengan harpanya dan sebagian besar  tamu sudah duduk manis membentuk setengah lingkaran di depannya. Beberapa masih berdiri di dekat meja makan.  Megan yang pertama menyadari kehadiran kami.

‘Tante Tami, mau mengiringiku dengan piano?’ Megan menawarkan ke arahku.  Semua   menoleh ke arah kami.  Termasuk seorang wanita cantik yang berdiri di  samping Santi di dekat meja makan, yang memandangku dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.  Inilah Maya.  Istri Bara dan bunda Tommy.  Aku tersenyum ke arahnya.  Melalui senyumku ingin kusampaikan terima kasihku karena telah menyelamatkan Bara.

‘Tidak malam ini, Meg,’ ucapku ke arah Megan sambil melepaskan diri dari pelukan Bara dan menghampiri Maya.  Bara berjalan tepat di belakangku.  Belum sempat Bara memperkenalkan aku dengan Maya.  Aku sudah memeluk Maya dan mencium pipi kirinya.

‘Bunda, ini Tami,’ kata Bara. ‘Tam, ini Maya istriku.’

‘Aku tahu!!’  Aku dan Maya menyahut serentak.  Dengan sahutan itu, kekakuan di antara kami pun mencair.  Hilang tanpa bekas.

‘Kukira kalian sudah berada di atas feri dan melarikan diri berdua,’ seloroh Maya.

‘Rencananya seperti itu,’ sahut Bara.  ‘Ternyata Tami lebih senang melarikan diri dengan orang lain’

‘Makasih, Tam,’ sahut Maya.  ‘Wah, aku harus lebih waspada sekarang.  Sebagai hantu saja, Tami sudah saingan berat, apalagi segar bugar kayak remaja gini,’ lanjutnya ringan.  Baru saja aku mau membalas ucapan Maya, Megan sudah mulai memainkan jari-jari lentiknya.  Aku bergegas mencari tempat duduk yang kosong.  Kulihat sofa satu dudukan di bawah lukisan Thomas Kinkade.  Aku menuju ke sana.  Dengan sudut mataku, aku melihat Bara dan Maya mengambil tempat duduk berdampingan, agak jauh dari tempatku.  Sebelum larut dalam permainan Megan aku panjatkan syukur  kepada Tuhan karena telah menyatukan Bara dan Maya.  Mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi.

Ketika Megan mulai memainkan komposisi kedua, tiba-tiba ada yang duduk di lengan sofaku.  Aku menoleh dan mendongakkan wajahku.  Clay mengembangkan senyum manisnya.  Belum pernah aku segembira ini melihat kehadirannya.  Aku bergeser dan mempersilahkan dia untuk berbagi sofa denganku.

‘Kukira kamu tidak datang, Clay,’ bisikku.

‘Dan membiarkanmu menemui mantan pacarmu seorang diri? Not a chance,’ jawab Clay tepat di telingaku. Aku tersenyum dan otomatis menoleh ke arah Bara dan Maya yang ternyata sedang memandang ke arah kami.  ‘Clay’ kuucapkan nama Clay tanpa suara ke arah Bara dan Maya.   Bara menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempol tangan kanannya seakan memberikan persetujuannya.  Aku bernafas lega.  Kusandarkan kepalaku ke dada Clay.  Kutemukan kedamaian disana.

‘Pertemuanku dengan Bara adalah sebuah encore, Clay.  Tembang terakhir sebelum pertunjukan usai.  Mulai sekarang, hanya ada kita berdua.  Tidak ada lagi hantu masa lalu yang berkeliaran di antara kita,’ janjiku.

Austin, February 2014

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Have a Romantic Valentine, Friend…

 

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Keempat)

ribuanmi4

Cerita Sebelumnya:

Lucinda Stanton adalah gadis yang beribukan wanita Indonesia dan ayah Amerika.  Karena perceraian orang tuanya dia ikut ibunya yang kemudian menikah lagi dan tinggal di Indonesia.  

Setelah lima belas tahun berpisah dengan ayah dan saudara kembarnya, ia dikirim oleh ibunya untuk tinggal di Amerika.  

Ayahnya menyambut Lucinda dengan hangat.  Tetapi David, saudara kembarnya menerimanya dengan kebencian dan Deidre, kekasih David ikut-ikutan.  Kesedihan Lucinda menerima perlakuan David agak terobati karena persahabatannya dengan para pengurus rumah tangga Stanton, terutama Oscar dan Irene.

Tuan Stanton mendapat serangan jantung mendadak.  David menuduh Lucinda sebagai penyebabnya.  Dia juga menuduh Lucinda datang ke Amerika karena menginginkan warisan saja.  David kemudian meminta Lucinda untuk kembali ke Indonesia, tetapi Lucinda melarikan diri ke kota lain

Taksi yang kutumpangi berjalan menyusur pantai meninggalkan keramaian kota Jacksonville.  Pantai yang gersang tanpa pepohonan.   Pasirnya berwarna putih kusam.  Tidak ada yang menarik.  Pantai ini kalah jauh dari pantai-pantai di Indonesia.  Sekitar dua jam kemudian kami memasuki kota kecil Daytona.   Ada sebaris pohon palem yang hampir meranggas di pusat kota.  Walaupun demikian Daytona mempunyai karisma tersendiri.  Suasana liburan serta merta terasa. Di mana-mana kelihatan orang berjalan kaki dengan riang.  Mobil yang lalu lalang bisa di hitung dengan jari.  Tak seorang pun bepenampilan murung, kecuali aku mungkin.

Sesudah agak lama berputar-putar di pusat kota, supir taksi membelokkan mobilnya ke kiri ke arah pantai. Suasanan pantai lebih menunjukkan suasana santai. Penuh dengan manusia yang sedang berenang dan sekedar berjemur di bawah terik matahari. Kemudian taksiku memasuki halaman sebuah hotel yang nampak begitu indah.  Sebuah hotel butik yang ditujukan untuk penyewa jangka panjang dengan pelayanan lengkap, termasuk tiga kali makan.

Seorang room boy mengantarku ke kamar yang kupesan dari airport.  Sebuah kamar yang luas dan  terpisah dari bangunan induk hotel.  Berderet dengan tiga kamar lainnya dan menghadap ke pantai.   Sepanjang siang aku mengurung diri di kamar.   Aku mersasa benar-benar sendirian kini.  Setiap orang saling memiliki. Aku tidak.  Mama memiliki adik-adikku dan Oom No.  David memiliki Papa.  Papa memiliki David.  Tetapi aku?  Tak seorang pun yang kumiliki kini.  Tidak ada seorang pun yang mempedulikan apakah aku masih hidup atau sudah mati.  Mama pasti mengira aku masih bersama Papa.  Papa dan David pasti juga mengira kalau aku sudah kembali ke Mama dan mereka tidak peduli apakah aku benar-benar sudah pulang atau belum.  Aku bukan Stanton lagi.  Tak ada lagi hubungan antara diriku dengan Stanton.  Oh tragisnya hidup ini.   Tapi aku sudah memilih untuk menjalani  hidup yang tragis ini.

ribuanmi4

Pukul tujuh, bel panggilan makan malam berdering.  Aku tidak lapar tetapi bangkit juga dari tempat tidur.  Kulihat diriku di dalam cermin.  Mataku sangat merah dan mataku sembab oleh bekas air mata. Kubasuh mukaku dulu sebelum keluar dari kamar.  Waktu keluar dari kamar, penghuni kamar sebelah kiriku  juga keluar. Seorang gadis yang sangat cantik dengan perawakan yang begitu semampai.

‘Hello!’  sapanya ramah sambil menutup pintu kamarnya.

‘Hai,’   jawabku gugup.

‘Kamu penghuni kamar ini?’ tanyanya.  Kuanggukkan kepalaku.  ‘Sudah lama aku ingin punya tetangga dan baru sekarang kesampaian. Namaku Michelle,’ lanjut gadis itu memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya hangat.

‘Aku Lucy.  Kamu sendirian saja?’  tanyaku sambil kujabat tangannya. Dia mengangguk.

‘Kamu  mau makan malam ‘kan?  Kita bisa duduk semeja,’  usul  Michelle. Aku merasa sedikit terhibur.  Makan sendirian benar-benar tidak nyaman terutama di tempat yang ramai seperti ruang makan di hotel ini.

Kami duduk di teras ruang makan yang menghadap  ke laut lepas. Hembusan angin sore yang hangat kental beraroma garam.   Michelle mulai menceritakan tentang dirinya. Dia seorang peragawati yang berasal dari Boston dan pada musim panas bekerja pada sebuah rumah mode di Daytona.

‘Kamu tinggal di hotel ini sepanjang musim panas?’  tanyaku.

‘Ya.  Itu perjanjianku dengan boss.  Aku tidak mau tinggal di apartemen, membereskan tempat tidur dan mengurusi hal-hal domestik lainnya,” jawab Michelle sambil tertawa.  Aku menyadari gadis di depanku ini begitu banyak tawanya. ‘ Nah, itu waiter kita, Les,…’ ucap Michele sambil menunjuk pada seorang pemuda yang berjalan ke arah kami.

‘Selamat malam, Michelle!’ tegur waiter itu.

‘Malam, Les.  Ada orang baru yang duduk di meja ini.  Kamarnya di sebelah kanan kamarku.  Lucy, kenalkan, Les,’ Michele memperkenalkan kami berdua.

‘Hallo,’  sapaku.

‘Senang berkenalan denganmu, Lucy,’ balas Les sambil tersenyum.   ‘Sekarang apa yang dapat kuambilkan untuk kalian?’ lanjutnya.

‘Seperti biasanya. Dan Lucy, apa yang kamu inginkan?’ tanya Michelle. ‘ Tidak banyak yang dapat kamu pilih di sini,’ sambung Michele berbisik tapi cukup keras untuk didengar Les. Les tersenyum tapi tidak membantah kata-kata Michelle.

‘Apa yang istimewa untuk hari ini?’ tanyaku.

‘Idaho red angus dilumuri mint lalu ditaburi suwiran lobster dan tumis sayuran dan dilengkapi dengan kentang mini kukus,’

‘Itu yang istimewanya apalagi yang biasa,’ komentar Michele diiringi tawanya yang khas.

‘Kamu membuat nafsu makan Lucy hilang,’ Les memperingatkan.

‘Oke, kuambil yang istimewannya tapi tanpa lobster,’ jawabku.   Les tersenyum senang dan segera berlalu.  Sesudah makan malam Michelle mengeluarkan rokoknya.

‘Rokok?’ Michelle menawarkan.

‘Terima kasih.  Aku tidak merokok,’ jawabku. Michelle menyulut sebatang untuknya.  Sisanya di letakkan di atas meja dan di putar-putarkan beberapa kali.

‘Lucy, kamu mempunyai darah Amerika Latin? Mexico atau Cuba?’  tanya Michele tiba-tiba. Kugelengkan kepalaku.

‘Amerika Asli?’ tanyanya tak percaya.

‘Juga bukan. Aku orang Indonesia.’

‘Indonesia?’ ulang Michele untuk meyakinkan.  ‘Sangat jauh dari sini.  Kamu datang ke sini sendirian? Berapa umurmu?’ tanya Michele dengan cepatnya. Aku tertawa mendengar kecepatan bicaranya itu.

‘Sembilan belas dan akan menjadi dua puluh tahun pada musim gugur,’

‘Sembilan belas? Ah, kamu pasti bercanda. Enam belas kukira lebih tepat,’ olok Michelle.

‘Mau lihat pasporku?’ gurauku.

‘Tidak . . . tidak,’ jawab Michelle sambil tertawa.  Kemudian kami bercakap-cakap ringan.  Tentang mode,  tentang remaja,  tentang pantai dan penjaga pantainya.  Selama bercerita itu Michele merokok terus menerus.  Aku heran mengapa giginya masih tetap putih dan bibirnya tidak rusak oleh tembakau.

Lifeguard . . .,” keluh Michele tentang penjaga pantai , ‘mereka benar-benar hebat tetapi juga bajingan’ lanjutnya.

‘Mengapa demikian?’ tanyaku antusias.

‘Kamu akan melihatnya sendiri,’ kilah Michele.  ‘Mereka akan duduk di kursi mereka yang tinggi, begitu gagah dan begitu tampan.  Bertelanjang dada dan berkacamata gekap pura-pura mengawasi keamanan pantai. Padahal yang sesungguhnya mereka awasi adalah gadis-gadis berbikini. Karena kaca mata hitam yang mereka kenakan,  mata mereka bisa bebas berkelana ke sana ke mari,’ Aku terkesima mendengar cerita Michelle bak dengan begitu gadis kecil mendengar dongeng ibunya sebelum tidur.

”Tapi anehnya,’ lanjut Michelle, ‘w alaupun semua orang tahu kalau mereka itu petualang, masih juga mereka dipuja-puja. Dimana pun mereka berada, gadis-gadis cantik akan mengerumuni bahkan mau bermain cinta dengan mereka.’

‘Ah, ‘ cetusku tidak sadar.

‘Jangan heran, Lucy.  Bahkan kalau ada kesempatan mau rasanya aku bercinta dengan mereka.’

‘Kamu mau?’

‘Yah.  Mereka begitu tampan dan gagah. Begitu muda dan crunchy . Sebelum aku terikat dengan perkawinan nanti,  aku mau bermain dengan mereka dulu,’ kata Michelle bermimpi.  ‘Kamu harus hati-hati terhadap mereka.  Mereka jago merayu.  Tanpa kamu sadari kamu sudah masuk dalam perangkap mereka. Dan kalau mereka sudah mendapatkannya, finish.

‘Selalu begitu?’

‘Selalu.  Siang hari  kamu berkenalan dengan salah satu dari mereka.  Sedikit rayuan gombal, malam harinya kamu sudah ada dalam pelukannya. . . Kamu akan membawa kesan itu seumur hidupmu sedang si dia sudah lupa keesokan harinya dan siap dengan gadis yang lain,”

‘Sekejam itu?’

‘Mereka tidak kejam, Lucy. Kalau gadisnya mau, mau di bilang apa?  Tidak ada unsur paksaan dalam hal ini. Dan biasanya yang senang itu justru si gadis. Kalau gadisnya cerdas, dia akan cari lifeguard yang lain.  Mereka benar-benar memikat,”

‘Apakah semua lifeguard demikian?’

‘Wah, tentang hal itu aku tidak tahu.  Tapi kebanyakan, Lucy. Kebanyakan.  Dari pengamatanku yang selalu tinggal disini setiap musim panas, kebanyakan dari mereka ya seperti itu.   Kalau kamu tidak ingin jadi korban, jangan dekati mereka.  Mereka tidak akan mendekatimu bila kamu tidak menunjukkan minat.  Itu salah satu yang kukagumi dari mereka.  Kalau kamu ingin selamat, hindarilah mereka,” nasehat Michele.

‘Engkau membuatku takut pada mereka,’  kataku jujur.

‘He, jangan!!’ teriak Michele.  ‘Mereka tidak apa-apa jika, . . . seperti kataku tadi, engkau tak ada minat terhadap mereka.  Mereka dapat menjadi teman yang baik. Engkau dapat saja bergaul dengan mereka tanpa harus berpacaran,’  jawab Michele blak-blakan.

ribuanmi4

Itulah awal perjumpaanku dengan Michelle.  Aku bersyukur dapat berjumpa dengan gadis seperti dia.  Dengan dia rasa asingku terhadap sekeliling bisa menghilang begitu saja.  Setiap sore sehabis pulang dari kerja, Michelle selalu menemaniku berjalan-jalan sepanjang pantai.  Atau kadang-kadang kami pergi ke kota nonton atau makan di tempat-tempat yang baru.  Sembilan tahun yang membedakan umur kami tidak lagi terasa.  Dengan dia aku dapat berbincang bebas. Dengan dia aku bisa tertawa lepas.  Michelle juga menjanjikan sebuah pekerjaan untukku.  Tapi untuk satu bulan pertama ini aku ingin rileks.  Aku ingin menikmati liburan.  Sesudah itu aku akan mulai memikirkan masa depanku.

‘Kamu benar-benar tidak mau ikut, Lucy?’  tanya Michelle sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.  Sebentar lagi dia akan pergi ke Orlando dalam suatu pegelaran mode selama seminggu.

‘Lucy?’  tanya Michelle lagi.  Rupanya dia tidak melihat aku sudah menggeleng tadi.

‘Tidak, aku cuma akan merepotkanmu saja. Lagipula kamu pasti akan sibuk terus jadi tak ada waktu untuk jalan-jalan. Kamu pun pasti tidak mau mengajakku ke Disney World,’ jawabku. Michele tertawa renyah mendengar jawabanku.

‘Dengar, aku berjanji suatu saat akan mengajakmu ke sana. Oke?’  sahut Michelle.

‘Lucy, aku benar-benar tidak tega meninggalkanmu seorang diri di sini,’ ucap Michelle setelah terdiam beberapa saat.

‘Kamu pikir aku bakal mati bila kamu tinggal?’

‘Mati sih, enggak.  Kalau setengah mati  mungkin,’ ganggu Michelle. ‘Baik-baiklah menjaga diri.  Aku akan selalu menelponmu,’ lanjut Michelle seperti seorang kakak kepada adiknya.

‘Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, Chelle.  Mungkin aku akan mencoba memacari lifeguard selagi kamu pergi’ gurauku.

Sure,’ cibir Michelle menantang.  ‘Apa yang kamu inginkan sebagai oleh-oleh?’ lanjutnya.  Aku menggeleng.

‘Tidak ada?’ tanya Michelle.

‘Kamu kembali dengan selamat saja aku sudah senang,’

‘Jangan ngamuk bila aku benar-benar tidak bawa oleh-oleh?’  pesan Michele sebelum pergi.

Kepergian Michelle ternyata berakibat juga pada diriku.  Aku benar-benar merasa kesepian.  Mau jalan-jalan malas karena tidak ada teman.  Mau mengurung diri di kamar juga tidak enak.  Akhirnya aku cuma duduk di pagar beton di depan kamarku sambil memandang laut dan melamun. Kalau sudah begini aku kembali teringat akan nasibku dan membuatku ingin menangis.  Maka pada hari ketiga kuputuskan diriku untuk berenang sendiri di pantai.

Pakaian renangku sudah siap kupakai, jadi nanti tinggal melepas pakaian luarku saja sebelum berenang.  Aku berjalan menyusur pantai mencari tempat yang agak lapang, tetapi rasanya semua tempat penuh dengan manusia. Aku berjalan terus dan berjalan hingga kudapatkan tempat yang benar-benar sepi.

Kuletakkan tas yang kubawa di pasir dan sebelum melepas pakaian aku berjalan dulu ke dalam air untuk melihat keadaan. Air laut itu begitu segar kontras dengan panasnya udara.

‘Hei, Miss!’  tiba-tiba kudengar sebuah panggilan.  Secara refleks aku menoleh.   Wow, seorang lifeguard.  Persis seperti yang digambarkan Michelle, tampan dan gagah.  Mau apa dia?

‘Memanggilku?’ tanyaku bodoh.

‘Ya.  Sudah berkali-kali kamu kupanggil,  bahkan aku sudah meniup peluit segala, tapi rupanya kamu tidak mendengar,’  jawab sang lifeguard sambil melepas kaca mata hitamnya.  Matanya benar-benar biru, sebiru laut Atlantik kala itu.

‘Memanggilku untuk apa?’  aku bertanya.  Dia mengembangkan sebuah senyum yang sangat menawan.  Pantas mereka begitu di puja-puja.  Gumam hatiku.

‘Kamu melihat buoys  itu?’ tanyanya sambil menunjuk bola-bola karet berwarna jingga yang mengapung di atas air.

‘Ya,’  jawabku bingung.

‘Itu adalah batas daerah yang boleh di gunakan untuk berenang.  Dari sini ke sana adalah daerah terlarang,’  dia menjelaskan dengan sabar. Ouch, alangkah tololnya aku. Mengapa aku tidak melihatnya tadi? Mengapa aku tidak curiga menjumpai daerah yang begini sepi sedang tak jauh dari sini berlimpah ruah manusianya?

Dengan cepat aku beranjak menuju ke tas yang tadi aku tinggalkan, memungutnya dan berlari menuju hotel, Lifeguard tadi masih berdiri di tempatnya ketika aku pergi. Aku begitu malu. Pasti dia menertawakanku dan akan diceritakannya kepada teman-teman sesama lifeguard tentang ketololan yang baru saja kubuat dan mereka akan tertawa bersama.

Sesampai di hotel aku segera mengunci diri di kamar, untung tidak lama kemudian Michelle menelponku sehingga aku bisa sedikit melupakan peristiwa tadi. Tentu saja peristiwa itu tidak kuceritakan kepada Michele.  Bila kuceritakan kepadanya, tentu dia akan tertawa terpingkal-pingkal.

Keesokan harinya aku masih tidak berani keluar, apalagi ke pantai. Lifeguard itu pasti berada di sana dan tentu teman-temannya pun begitu antusias untuk melihat si gadis tolol.  Maka sepanjang siang aku berada di kamar dan nonton drama serial di televisi.  Sesudah dua hari mengurung diri, akhirnya aku bosan juga, maka kulangkahkan kakiku untuk menuju ke pusat kota.  Berjalan-jalan di kompleks pertokoan membuatku teringat pada Irene.  Aku pernah berjalan-jalan di Louisville Mall bersama Irene dan membeli  ransel untuk Adit.

Tiba-tiba aku sadar kalau sudah lama aku tidak berkabar kepada Mama. Aku sadar bahwa aku seharusnya mengirim ransel untuk Adit dan dan sesuatu untuk Anto  dan Yani.  Aku sadar aku telah melalaikan kewajibanku.  Aku akan mekukan hal itu sekarang juga selagi aku masih ingat.

Dengan gaya seorang ahli seperti Irene, aku mulai berbelanja.  Pertama kali, kubeli ransel untuk Adit, karena ranselnya sudah kupakai kemudian sebuah iPod Nanountuk Anto dan Barbie untuk Yani. Sebelum semuanya itu kubungkus dengan rapi, kuselipkan selembar kertas yang kutulisi sedikit kabar tentang Mbak Lucy mereka (kabar bohong tentunya).  Tapi itu sudah cukup untuk mengabarkan bahwa aku masih hidup.

Masalah yang timbul selanjutnya adalah menentukan letak kantor pos. Aku benar-benar tidak tahu, maka aku berjalan tidak tentu arah dengan harapan dapat menemukan kantor pos itu. Tetapi setelah berputar-putar lama dan tanpa petunjuk bakal menemukan kantor pos itu, maka kuberanikan diriku untuk bertanya kepada seorang wanita tua yang sedang berhenti di tepi jalan.

‘Maaf, anak muda, aku sendiri sorang pelancong,’ jawabnya.  Aku hampir putus asa ketika tiba-tiba saja dia datang.  Dia, si lifeguard yang telah melarangku berenang tempo hari.  Sial, mengapa aku harus bertemu lagi dengannya?

‘Ada kesulitan?’ tegurnya ramah sambil tersenyum.

‘Tidak,’  jawabku cepat.

‘Dia ingin tahu letak kantor pos.  Bisakah kamu menolongnya?’  wanita tua itu berkata tanpa kuminta.  Aku kaget, tak menyangka dia akan berkata seperti itu. Si lifeguard sekarang tahu kalau aku telah membohonginya.  Tetapi dia justru  tersenyum lebar.

‘Mari kutunjukkan,’  katanya.

‘Engkau tidak harus mengantarku.  Cukup kau beritahu dimana,’ cegahku.

‘Aku tidak akan menawarkan diri kalau tidak kebetulan saja harus berjalan ke arah yang sama. Aku harus pergi ke rumah temanku dan melewati kantor pos,’ jawabnya.   Sesudah mengucapkan terima kasih kepada wanita tua itu, aku dan si lifeguard berjalan bersama menuju kantor pos. Selama perjalanan itu kami saling berdiam diri.

‘Itu kantor posnya,’ serunya dari seberang kantor pos, setelah kami berjalan bersama hampir selama sepuluh menit.

‘Terima kasih,’ ucapku dan berniat untuk meninggalkannya.

‘Sebentar,  kuantar kamu ke sana,” katanya menawarkan diri.  Aku tidak bisa menolaknya karena dia telah berjalan di sampingku menyeberangi jalan.

Ternyata bungkusan yang akan kukirim ke Indonesia di tolak karena bungkusnya kurang tebal.  Barang itu harus kumasukkan ke dalam karton tebal dan di beri celotape yang kuat. Aku bingung darimana bisa mendapatkan kotak tebal.

‘Kawanku memiliki toko kecil di depan sana, aku yakin dia punya kotak seperti yang kamu butuhkan,’  si lifeguard menyelami kebingunganku. Letak toko temannya satu blok dari kantor pos.  Sebuah toko kecil yang menjual barang-barang souvenir khas Florida.

Seorang gadis berambut keriting pirang sedang memeriksa perhiasan dagangannya ketika kami masuk. Dia tak menyadari kehadiran kami dan masih tetap menunduk. Si lifeguard menekan bel.  Bunyinya benar-benar nyaring. Si gadis kaget dan menoleh ke arah kami.

‘Mark!!’ teriaknya riang. ‘Angin apa yang telah membawamu kemari?’  tanyanya sambil mengawasi si lifeguard yang ternyata bernama Mark. Tiba-tiba dia tertegun waktu menatapku.

‘Dona, kenalkan temanku, Lucy.   Lucy . . . Donna.’ Mark memperkenalkan kami.  Sejenak aku terpana.  Dari mana dia bisa tahu namaku?  Dan dia memperkenalkan aku senbagai temannya?  Fuih sejak kapan pula itu?  Tetapi aku tidak bisa terlalu lama keheranan karena Donna sudah menyapaku.

‘Hai,’  balasku.

‘Ada sesuatu yang dapat kubantu, Mark?’  tanya Donna.

‘Ya. Lucy membutuhkan sebuah kotak untuk mengirim barang lewat pos.  Kamu mempunyainya kan?’

‘Kotak? Kotak macam ini?’  tanya Dona sambil memperlihatkan sebuah kotak berukuran sedang.

‘Ya,’ seruku gembira.

Donna memberikan kotak itu kepadaku dilengkapi pula dengan celotape.  Sementara aku sibuk dengan pekerjaanku, Dona dan Mark asyik mengobrol.  Aku tidak tahu apa yang mereka percakapkan.  Tetapi sebentar-sebentar kudengar derai tawa mereka.  Mudah-mudahan saja mereka tidak sedang mendiskusikan diriku.

Setelah selesai membungkus barang-barangku dan mencantumkan alamat, aku berpamitan kepada Donna dan Mark.  Namun Mark tidak mengijinkan aku pergi ke kantor pos sendiri, dia takut aku tersesat.  Maka kami berjalan beriringan lagi  menuju ke kantor pos.

‘Mark, bagaimana kamu bisa tahu kalau namaku Lucy?’ kutanya dia dalam perjalanan. Mark tersenyum misterius sambil menggoyang-goyangkan kotakku yang dibawanya.

‘Orang sepertimu sangat pantas untuk mempunyai nama Lucy.’

‘Enggak lucu.’

‘Tapi benar kan namamu memang Lucy?’ tanyanya.  Kudiamkan saja pertanyaan itu karena kami sudah masuk ke kantor pos.

‘Terima kasih atas bantuanmu, Mark,’  ucapku sekeluar dari kantor pos. Kemudian aku berjalan meninggalkannya. Baru saja aku berjalan tiga langkah, dia memanggilku.

‘Kamu mau kemana?’  tanyanya.

‘Pulang ke hotel,’

‘Kalau begitu kita dapat jalan bareng,” katanya sambil menyusulku.

‘Bukankah kamu harus pergi ke rumah temanmu?’ tanyaku heran.  Mark tersenyum seakan dia tahu kalau senyumannya sangat menawan.

‘Aku sudah pergi ke sana tadi. Ingat Dona?  Nah, dia itu temanku. Kita sudah pergi ke sana tadi,” jawab Mark seenaknya.  Kutatap dia penuh kedongkolan.  Aku tahu dia tadi sama sekali tidak berniat pergi ke toko Donna. Dia pergi ke sana karena aku butuh kotak.

‘Hei, jangan marah dulu. Kalau tadi kukatakan aku hanya ingin mengantarmu, tentu kamu tidak akan mau, benar kan?’

‘Benar,’  jawabku singkat.  Kudengar Mark tertawa ringan. Sebenarnya apa sih maunya pemuda ini?

‘Mengapa kamu begitu ketakutan bila melihatku, Lucy?’  tanya Mark setelah kami terdiam beberapa saat.  Aku kaget dan menatapnya lama.  Bertemu saja baru dua kali ini bagaimana mungkin dia tahu kalau aku takut terhadapnya.

‘Kamu pantas untuk dicurigai,’  jawabku ngawur.

‘Dicurigai untuk apa?’  tanyanya penasaran.

‘Dicurigai sebagai orang jahat.  Kalau kamu orang baik-baik kamu pasti ngaku dari mana bisa tahu namaku,’ serangku.

‘Jadi kamu masih penasaran?’  sahut Mark sambil tertawa.  ‘Aku pernah dengar kakakmu memanggilmu Lucy,’ akhirnya Mark mengaku. Walau pengakuannya justru makin membingungkanku.

‘Kakakku? Kakakku yang mana?’

‘Gadis pirang yang sering jalan-jalan bersamamu di pantai.’

‘Oh,Michelle maksudmu?  Dia bukan kakakku.’

‘Bukan kakakkmu?’

‘Bukan. Dia penghuni kamar sebelah.’

‘Tapi kalian berdua mirip dan sangat akrab,’  Mark tidak puas.

‘Dari mana kamu tahu kalau kami akrab?’

‘Aku sering melihat kalian berdua di pantai, di kota, di restoran Cina di depan Daytona Fashion Center,’ jawab Mark. Aku begitu terpana karena tempat-tempat yang baru saja disebutkannya memang tempat-tempat yang paling sering kukunjungi bersama Michele.

‘Bagaimana kamu bisa tahu? Aku belum pernah melihatmu disana?’  tanyaku keheranan.

‘Aku bisa tahu karena aku mengawasimu dan kamu tidak melihatku karena memang aku tidak ingin dilihat, jelas?’  tanyanya. Kutatap dia lama sebelum menjawab.

‘Kamu benar-benar pantas untuk dicurigai.  Untuk apa  kamu pakai mengawasi segala?’

‘Karena aku pengawas pantai,’ jawab Mark seenak perutnya. Aku benar-benar dongkol dan kupercepat langkahku untuk meninggalkannya. Mark juga mempercepat langkahnya hingga bisa mengiringi jalanku.

‘Marah?’ tanya Mark.

‘Ya,’

‘Oh, Lucy, aku tidak bermaksud buruk. Aku sendiri tidak sadar mengapa aku begitu suka memperhatikanmu. Mungkin karena . . .’ Mark tidak meneruskan kalimatnya.

‘Karena apa?’

‘Tidak. Kamu akan lebih marah bila kuteruskan.’

‘Teruskanlah.’

‘Oke, kamu yang meminta. Mungkin karena dorongan hati. Waktu aku melihatmu untuk yang pertama kali, hatiku membisikkan bahwa inilah gadis yang bakal menjadi istriku,’ jawab Mark kalem.  Aku kaget setengah mati.  Untung aku cepat teringat kata-kata Michelle sebelum keburu besar kepala, ‘Mereka jagoan merayu, Lucy,  tanpa kamu sadari kamu sudah masuk ke dalam perangkap mereka.” Maka aku cuma tersenyum saja mendengar kata-kata itu.

‘Kok tersenyum?’  tanya Mark. Aku cuma mengangkat bahu saja. Sesudah itu kami saling berdiam diri.

‘Untuk siapa barang-barangmu tadi? Sahabat pena?’  tanya Mark memecah kebisuan.

‘Untuk adik-adikku.’

‘Adik-adikmu? Mereka berada di Indonesia? Dengan siapa mereka pergi ke sana? Mengapa kamu tidak ikut?’ tanya Mark beruntun.

‘Mereka tidak pergi ke Indonesia. Mereka tinggal di sana sejak mereka dilahirkan.  Indonesia  rumah kami,” jawabku.  Aku senang bisa melihat wajah Mark yang kaget dan tidak percaya.

‘Jadi kamu orang Indonesia?’  tanyanya untuk meyakinkan.  Aku mengangguk pasti.  Mata Mark makin membelalak karena terkejut.

‘Dengan siapa kamu datang ke Florida?”

‘Sendiri,’ jawabku. Reaksi Mark benar-benar di luar dugaan. Dia begitu kaget hingga menghentikan langkahnya dan menatapku tidak berkedip.

‘Dengar, Lucy, jangan kau katakan kepada siapapun bahwa kamu berada di sini sendirian. Itu sangat berbahaya bagimu apalagi jika mereka tahu kamu orang asing.”

‘Mengapa?’

‘Mengapa? Karena kejahatan di musim panas seperti ini sangat meningkat, pencurian, perampokan, penodongan . . .”

‘Aku tak mempunyai barang-barang berharga,’potongku cepat.

‘Bagaimana dengan dirimu sendiri? Begitu banyak pemerkosaan yang terjadi setiap minggunya,’ sahut Mark. Aku terdiam mendengar kata-katanya. Apalagi kata-kata tersebut di ucapkan dengan serius seakan dia benar-benar ingin melindungiku.

‘Sorry, Lucy, aku tidak bermaksud menakut-nakutimu, hanya berhati-hatilah. Jangan katakan kepada siapapun bahwa kamu kemari tanpa pengawal.’

‘Aku telah mengatakannya kepadamu,’

‘Kamu dapat mempercayaiku. Aku seorang lifeguard, bertugas untuk menjaga keamanan pantai,’  jawab Mark.

‘Dan lagi, Lucy, bila berada di tempat umum jangan canggung dan takut-takut. Bersikaplah seolah-olah ada seorang yang siap untuk membelaimu,’ nasihat Mark dilanjutkan.

‘Apakah aku kelihatan canggung bila di depan umum?’ tanyaku.  Mark hanya tersenyum mendengar pertanyaanku.

Mark mengantarku hingga ke depan hotel. Sebelum berpisah dia berpesan.

‘Ingat untuk mengunci pintu setiap akan keluar dan begitu masuk kamar walaupun kamu hanya berniat untuk keluar atau masuk sebentar. Jangan langsung kau bukakan pintu bila ada yang mengetuk, lihat dulu orangnya,’

‘Akan kuingat itu,’jawabku sambil tersenyum. Kalau mendengar nada suaranya dia benar-benar serius menasehati. Tapi kalau mengingat reputasi para lifeguard aku menjadi ragu.

ribuanmi4

Aku sering melihat Mark berada di pantai, tetapi terlalu jauh untuk menegurnya, apalagi dia selalu dikerubungi gadis-gadis manis. Kadang kulihat pula seakan dia mau tersenyum kepadaku, tapi aku pura-pura tak melihatnya karena di sampingku ada Michelle. Aku takut Michelle akan mengira kalau aku sudah bermain-main denga lifeguard. Tapi hari itu aku tidak bisa lagi untuk pura-pura tidak melihatnya.

Hari itu tanggal 4 Juli.  Hari kemerdekaan Amerika Serikat.  Sejak hari sebelumnya persiapan-persiapan untuk menyambut hari kemerdekaan itu sudah kentara. Toko-toko kecil sudah menghias diri dengan rumbai-rumbai berwarna biru, merah, serta putih.  Warna bendera Amerika.

Jam lima sore aku dan Michelle sudah menunggu di pagar beton di depan kamar kami bersama dengan ratusan orang lainnya yang ingin menyaksikan karnaval. Semua manusia Daytona tumplek menjadi satu di sepanjang jalan pantai.

Jam setengah enam iring-iringan karnaval itu mulai tampak.  Begitu riuh, begitu gaduh tapi tidak menyebabkan orang jengkel. Barisan pertama adalah barisan Drum Band dari SMA Daytona dengan pakaian yang gemerlapan. Beberapa majoret menari dengan lincahnya di tengah jalan. Dan mereka melangkah dengan lembut ketika ‘Star Spangled Banner’  berkumandang.  Semua orang yang duduk di pinggi jalan berdiri menghormat. Telapak tangan kanan di letakkan di dada.

Drum Band berlalu, disusul dengan sebuah truck berhias dari walikota dan staffnya, diikuti oleh departemen pemadam kebakaran. Kemudian mobil-mobil berhias dari lembaga-lembaga, yayasan-yayasan dan klub-klub lainnya. Barisan itu sangat panjangnya seakan tak akan pernah berakhir. Malam telah turun tapi tak seorangpun ingat akan makan malam yang telah dijadwalkan jamnya.

Tiba-tiba terdengar teriakan dan jeritan-jeritan histeris yang mayoritas berasal dari para gadis remaja. Ternyata mereka meneriaki sebuah truck yang akan lewat yang berisi rombongan Lifeguard.

Aku menahan nafas melihat mereka.  Semuanya gagah dan tampan dalam pakaian kebesaran mereka yang lengkap minus kacamata hitam. Mereka melambai pada gadis-gadis yang mereka lalui dan dibalas dengan teriakan-teriakan histeris.  Betapa hebat daya pikat mereka.

‘Lucy, lihatlah bajingan-bajingan itu,’ bisik Michele di telingaku.  Aku tertawa mendengar komentarnya sebab ada nada kekaguman di dalamnya. Setelah mereka agak dekat, aku melihat Mark ada di antara mereka.  Dia tersenyum dan melambaikan tangannya kearahku.  Aku tidak berani membalas lambaian tangan itu dan pura-pura tak melihatnya. Tapi malangnya rombongan itu berhenti di depan kami agak lama. Aku tidak bisa berpura-pura lagi, kubalas senyumannya.

‘Rupanya si kecil Lucy sudah mulai main-main dengan Lifeguard,’  kata Michelle pelan.  Aku kaget setengah mati.

‘Siapa?’tanyaku pura-pura tidak tahu.

‘Kamu.’

‘Aku?’  tanyaku berusaha mengelak. Michelle tertawa senang.

‘Pura-pura, hmm?’

‘Mengapa harus pura-pura? Dia tidak melambai padaku tapi  padamu,’ucapku. Tawa Michele makin menjadi tapi dia tidak menambah komentar apa-apa. Rombongan demi rombongan berlalu. Kemudian mobil-mobil pribadi berhias membuntuti di belakangnya. Hiasan mobil-mobil itu lucu-lucu, hingga segan rasanya untuk meninggalkan tempat.

‘Michele! Lucy!’  tiba-tiba terdengar panggilan untuk kami. Dan diantara mobil-mobil berhias itu tampak Les, waiter kami dan Ken, temannya yang juga waiter.

‘Ayo ikut!’ teriak les. Aku ragu tapi Michelle segera meloncat turun dan menarikku untuk mengikutinya. Tanpa kusadari aku telah berada di dalam mobil Les dan mengikuti rombongan karnaval.

‘Mau kemana kita?’  tanyaku sesudah agak sadar.

‘Putar-putar,’ jawab Les enak.  Rombongan karnaval itu ternyata berputar-putar mengelilingi setiap jalanan yang ada di Daytona kemudian kembali lagi ke pantai, dan di sana diadakan pesta kembang api dan petasan yang sangat megah.  Pesta itu berlangsung hingga pagi hari.

ribuanmi4

Ombak yang berdebur pagi ini lain dari biasanya.  Lebih keras dan lebih gemuruh.  Biasanya laut di pagi hari sangat tenang, nyaris tanpa suara.  Tapi kali ini mampu membangunkanku dari tidur yang lelap.

Dari jendela kamarku aku dapat melihat air laut yang menggelora. Air laut itu hampir mencapai jalan raya. Sebentar lagi pasti akan sampai ke pagar di depan kamarku. Awan tebal menggelantung berat di atas laut. Burung-burung camar terbang hiruk pikuk kebingungan. Kantukku begitu saja hilang melihat semuanya. Dengan cepat aku keluar kamar. Michelle ternyata sudah bangun. Dia berdiri termangu. Tangannya ditompangkan di pagar beton dan menatap ombak laut.

‘Chelle,’  panggilku. Dia menoleh dan mengisyaratkan agar aku mendekat.  Kudekati dia.

‘Ada anak tenggelam,’  bisiknya.

‘Apa?’

‘Ada anak tenggelam. Di sana!’ tunjuk Michelle ke satu arah. Di tempat yang ditunjuk kulihat ada kerumunan orang yang cukup banyak. Semuanya kelihatan panik dan memandang ke tengah laut.

‘Tidak ada yang memberi pertolongan?’ tanyaku.

‘Ada seorang Lifeguard yang masuk kedalam air tapi sampai kini belum muncul lagi.’

‘Hanya seorang?’

‘Yang lainnya masih tidur kukira. Mereka berpesta sampai pagi dan pasti mabuk-mabukkan,’ jawab Michele. Kemudian dia mengajakku untuk mendekati kerumunan tersebut.

Seorang wanita muda meratap, tentu dia ibu dari si anak yang dibawa ombak.  Beberapa orang berusaha menghiburnya, yang lainnya berharap cemas, menanti munculnya si lifeguard dan anak yang ingin di tolongnya. Hujan mulai turun dan angin berhembus dengan kencangnya. Tak seorang pun yang berniat untuk beranjak dari situ. Tidak juga Michele dan tidak pula aku. Semua ingin tahu nasib si anak dan nasib si lifeguard.

Tiba-tiba nampak sebuah kepala yang menyembul di tengah-tengah ombak.  Beberapa saat kemudian nampak sosok tubuhnya dan lebih kemudian lagi nampak tubuh bocah yang terdekap erat oleh tubuh yang lebih besar.

‘Anakku, . . . anakku,’ jerit si wanita yang tadi menangis sambil berusaha untuk berlari ke laut tapi di cegah oleh orang-orang yang mengelilinginya. Lifeguard yang masuk ke dalam laut tadi berenang mendekati pantai, melawan ombak besar yang berusaha mengembalikan dirinya ke tengah lagi. Tentu sangat sukar baginya untuk mempertahankan diri dengan seorang bocah dalam pelukannya.  Begitu tiba di tempat yang dangkal dia menghentikan renangnya.

‘Mark!’ seruku tidak sadar ketika melihat siapa yang muncul. Dia begitu gagah dalam pakaian renangnya tapi tampak sangat kelelahan. Seorang bocah yang tidak bisa di sebut kecil lagi berada dalam dukungannya. Begitu sampai di pantai dia segera berlari menuju pos PPPK tanpa mempedulikan orang-orang yang berkerumun menantinya.  Orang-orang tersebut kemudian mengikutinya menuju ke pos PPPK.  Sementara itu aku dan Michele dengan pakaian yang sudah basah kuyup berjalan pulang.

Siang harinya cuaca berubah seratus delapan puluh derajat. Langit begitu jernih tanpa secuil awan pun dan laut begitu tenang. Tak ada sisa badai dan pantai kembali dipenuhi oleh manusia.  Michelle menggerutu karena harus pergi ke rumah mode sedang hari sangat indah untuk dinikmati.

Walaupun hari sangat indah tetapi aku benar-benar ngantuk, maka siang itu kugunakan untuk tidur.  Bangun-bangun sudah jam setengah lima. Kemudian aku berjalan-jalan di sepanjang pantai. Setelah lelah berjalan aku duduk di pasir. Pantai sudah agak sepi sehingga bisa melihat tenangnya laut tanpa terhalang oleh punggung atau paha orang di depanku. Kutekuk lututku dan kudekatkan ke dada, dan menikmati angin sore yang berhembus sejuk.

Keadaan sekelilingku membuatku merenungi hidup. Tiba-tiba segumpal kerinduan terhadap ibu dan adik-adikku memenuhi dada membuatku ingin menjerit dan menangis meraung-raung.  Aku tidak menyukai kehidupan yang kutempuh saat ini. Aku benci, benci.  Aku merindukan sebuah keluarga normal. Tetapi tidak ada sebuah keluarga pun yang mau menerimaku. Keluarga Oom No? Itu bukan untukku, aku bukan keturunan Oom No. Keluarga Papa? Apalagi, papa terang-terangan telah mengusirku. Sebenarnya aku ini milik siapa? Aku ingin dimiliki dan memiliki. Ingin sekali, Tuhan tahu itu.

Tiba-tiba sepasang kaki berhenti di depanku. Kutegadahkan wajahku. Mark berdiri di sana tampak begitu tinggi.

‘Boleh aku duduk di sini?’ tanyanya.  Belum lagi sempat kujawab dia sudah menjatuhkan diri di sampingku.

‘Apa yang kamu lamunkan, Lucy?’  tanya Mark sesudah agak lama dia duduk dan kami belum membuka percakapan.

‘Tidak ada,’ jawabku bohong.  ‘Aku sedang menikmati pemandangan di depanku’

‘Dan pikiranmu dimana?’

‘Di sini,’ kataku sambil menunjuk dahi.  Mark tertawa ringan.  Alangkah senangnya aku mendengar tawa itu.  Penampilan Mark kali ini benar-benar berbeda dengan penampilannya pagi tadi.  Tadi pagi dia tampak sangat kelelahan, sedang kali ini dia seakan siap untuk berlari mengelilingi dunia.  Segar bugar.

‘Bagaimana kabar anak yang kamu tolong pagi tadi?’  tanyaku.

‘Sedikit shock.  tapi selebihnya tidak ada masalah,” jawab Mark. “Hei, dari mana kamu tahu tentang anak yang tenggelam?’  lanjut Mark keheranan.

‘Aku melihatmu,’

‘Kamu?’  tanya Mark tidak percaya.  ‘Pagi-pagi sudah bangun dan berhujan-hujan?’

‘Setiap hari aku bangun pagi,’ bantahku.

”Tapi tidak untuk hari ini.  Semalam kulihat kamu berada di pantai hingga larut,’  ucap Mark mengejutkanku.

‘Kamu melihatku?’

‘Ya.  Dengan Michelle dan dua orang pemuda,’ sahut Mark dengan nada aneh yang tidak bisa kumengerti.

‘Aku tidak melihatmu.’

‘Tentu saja tidak, kalian begitu asyik,’ olok Mark sambil tersenyum mengajuk.  Aku tertawa dan tidak memberi ulasan atas pendapatnya.

‘Mengapa dia bisa tenggelam, Mark?’  aku kembali ke masalah semula.

‘Ibunya yang cari penyakit. Sudah tahu langit begitu gelap dan ombak sangat besar, masih juga dia mengajak anaknya untuk berenang. Begitu tahu kalau anaknya menghilang baru dia teriak-teriak  meminta tolong,’  jawab Mark jengkel.

‘Tentu kamu sedang enak-enak tidur,’ tebakku.

Nope. Aku tidak bisa tidur semalam. Aku sedang jalan-jalan ketika kudengar teriakannya,’ sanggah Mark. ‘Kamu tahu mengapa aku tidak bisa tidur? Memikirkanmu, Lucy. Mengapa kamu bisa seakrab itu dengan pemuda-pemuda yang bersamamu semalam sedang denganku kamu selalu menghindar,’ lanjut Mark seenaknya.  Aku tahu dia cuma bergurau maka aku tertawa saja mendengarnya.

‘Sekarang aku bersamamu,’ sahutku masih dengan tawa. Mark juga tertawa. Seorang lifeguard lain lewat di depan kami dengan seorang gadis di lengannya. Dia menyapa Mark. Pasti gadis itu baru saja di kenalnya, pikirku.

‘Lucy, . . ‘ panggil Mark.  Aku sadar bahwa aku telah mengawasi Life Guard yang baru saja lewat dengan mata tidak berkedip.

‘Ya?’ tanyaku.

‘Mengapa kamu  memilih berlibur ke sini bukankah pantai-pantai di Indonesia sangat eksotik?’

‘Mencari sesuatu yang lain,’ bohongku. Mark kelihatannya merenung, aku ragu apakah dia mendengar perkataanku atau tidak.

‘Kalau kamu mencari sesuatu yang lain, mengapa tidak pergi ke Alaska? Di sana kamu akan melihat salju yang aku yakin tak akan kamu jumpai di negerimu.

‘Sebab, . . .’  dan aku tak bisa meneruskan.

‘Apakah Daytona terkenal di Indonesia?’ Mark melepaskanku dari kewajiban untuk menjawab pertanyaannya yang lebih dulu. Aku menggeleng-geleng beberapa kali.

‘Aku belum pernah mendengar nama pantai ini sebelumnya. Aku baru mendengarnya dalam perjalananku ke Jacksonville,’ jawabku. Tanpa kusadari aku telah membongkar rahasiaku sendiri.

‘Jadi kamu berniat ke Jacksonville dan menyimpang kemari?’

‘Tidak juga,’

‘Lalu?’

‘Aku tidak mempunyai tujuan yang pasti,’ jawabku. Aku tahu Mark merasa aneh mendengar jawabanku

to be continued ….

Melintas Perbatasan (Bagian 2)


Melintas Perbatasan

         

Indi adalah mahasiswa terakhir yang datang di Auditorium pada Jum’at pagi.  Semuanya telah berada di dalam bis dan siap untuk berangkat.  Begitu dia masuk ke dalam bis, greyhound itu segera meluncur meninggalkan Auditorium tanpa menunggu Indi duduk terlebih dahulu.

‘Uuueet, setan gundul!’ umpat Indi dalam bahasa Indonesia ketika dia hampir terjerembab ke depan.

‘Tidak baik gadis mengumpat,’ tegur Kahar.  Indi nyengir mendengar kata-kata Kahar.  Tanpa berkomentar dia menuju ke bis bagian belakang karena dia melihat Tom ada di depan.  Dia sudah berjanji kepada Diane untuk menjauhi Tom sejauh-jauhnya.

Por favor,’ Juan mempersilahkan Indi duduk di sampingnya,  di kursi paling belakang  bersebelahan dengan toilet.

Gracias,’ jawab Indi sambil duduk.  Koper kecil yang dibawanya diletakkan di bawah kursinya.

Bis mereka meluncur cepat meninggalkan kota Kent menuju ke Interstate Highway yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.

Selama perjalanan itu Indi lebih banyak berdiam diri.  Dia memandang ke luar jendela ke hutan-hutan buatan di tepi jalan raya yang dibuat untuk mengurangi polusi.  Sesudah matanya lelah dia memejamkan matanya.  Juan yang duduk di sampingnya asyik membaca buku politik.  Dari gambar sampulnya Indi tahu kalau buku itu tentang politik Hugo Chavez di Venezuela.

Mauricio dan Manuel dua mahasiswa Brazil yang duduk di depan Indi mulai membawakan lagu-lagu Spanyolnya dengan iringan gitar yang ngawur.  Mula-mula bunyi gitar dan nyanyian mereka tidak begitu mengganggu Indi,  tetapi lama-kelamaan mengganggu juga.   Apalagi ditambah suara Luis yang ikut-ikutan menyanyi.

‘Hey, Brazil gila, kalau enggak becus nyanyi jangan nyanyi,’ teriak Indi sambil menggoyang-goyangkan kursi di depannya.  Mauricio bangkit dan menoleh kebelakang.  Diangkatnya gitarnya tinggi-tinggi dan berkata,

Si, senorita.  Will you play this guitar?’   Dia tersenyum menawan.  Giginya putih-putih dan rata.  Indi menggeleng.

‘Kalau aku yang memainkannya sudah pasti permainanku jauh lebih indah dari permainanmu.  Aku takut kamu menjadi minder.’   Yang mendengar perkataan Indi tertawa keras,  yang duduk di depan menoleh semua.

‘Omonganmu besar, tetapi kamu sebenarnya tidak bisa,’ olok Manuel dan Luis bersamaan.

‘Ha ha ha, kalian butuh bukti?  Berikan gitarmu, Mauricio,’ pinta Indi.  Mauricio mengulurkan gitarnya.  Juan berhenti membaca dan ikut nimbrung.

‘Oke apa yang kalian minta?’ tanya Indi dengan posisi siap untuk bermain gitar.’   ‘Barbacoa, burrito, carnita, enchiladas, quesadilas, tortillas, chimichangas atau guacamole?’ kata Indi  secepat kilat menyebutkan nama-nama makanan yang ada di dalam menu Salsalitas, restoran Mexico kegemarannya.  Karena yang ada di bagian belakang bis rata-rata mahasiswa dari Amerika Selatan dan Amerika Tengah,  maka tidak heran kalau tawa mereka meledak.  Tawa itulah yang mengundang mereka-mereka yang duduk di depan untuk bergabung di bagian belakang bis.

‘Indi, kamu mau menyanyi atau tidak?’ tanya mereka.

Oh, si,’ Indi mengiyakan.  Kemudian dia memetik gitar itu dengan jemari ahlinya.  Semuanya terpukau dan mereka lebih terpukau lagi ketika Indi mulai menyanyikan syair Bésame Mucho dengan gaya jazz  tanpa cela.

Bésame, bésame mucho
Como si fuera esta noche
La última vez
 
Bésame, bésame mucho
Que tengo miedo a perderte
Perderte después
 
Quiero tenerte muy cerca
Mirarme en tus ojos
Verte junto a mi
Piensa que tal ves mañana
Yo ya estaré lejos
Muy lejos de ti

Tepukan hangat terdengar ketika Indi menyelesaikan lagu itu.

Gracias.  Gracias,’ ucap Indi sambil membungkuk.   Tiba-tiba Luis berseru nyaring,

‘Tom, kamu dengar permintaan Indi barusan?  Besame Mucho! Kiss me much!.’  Indi kaget bukan main.  Dengan perbendaharaan bahasa Spanyolnya yang minim dia  mencoba menerjemahkan lagu itu di dalam kepalanya.  Kira-kira isinya seperti ini.

Cium aku, terus cium aku
Seakan malam ini,
malam terakhir kita
 
Cium aku, terus cium aku
Aku takut kehilanganmu,
Kehilanganmu lagi
 
Aku ingin bersamamu
Menatap matamu
Berada di sampingmu
Mungkin besok 
Aku akan jauh darimu
Sangat jauh darimu

 Mengapa aku harus menyanyikan lagu yang merana seperti itu, sesal Indi dalam hati.  Teman-temannya tertawa senang.  Oh, besame mucho…  Ciumi aku! Indi malu sekali.  Semua darahnya seakan mengalir ke wajahnya.  Tawa Luis makin menjadi-jadi.   Indi hanya bisa memandang Luis gusar.   Tiba-tiba mata Indi bertubrukan dengan mata Tom yang entah sejak kapan berdiri tepat di belakang Luis.  Tom melemparkan senyum jenaka.  Indi menggigit bibir bawahnya.  Dongkol.

‘Ayo, Indi nyanyi lagi!’ pinta Cecil.

‘Ogah,’ jawab Indi.

‘Kok ngambek,’ ucap Antonio.  Tapi Indi tetap tidak mau menyanyi lagi.  Gitar kemudian dia serahkan kepada Hans yang kemudian mengiringi teman-teamannya bernyanyi.

Melintas Perbatasan

Tanpa terasa mereka telah memasuki kota Cleveland dan bis berhenti di tempat peristirahatan milik Greyhound dimana disitu terdapat beberapa rumah makan, toko kue, toko buku dan toko souvenir.

Semua orang turun dengan bergegas maklum perut sudah berteriak minta diisi.  Indi melihat Tom turun lebih dahulu bersama Ursula dan Nibia.  Indi juga melihat Luis, Antonio, Mauricio dan Manuel berjalan menuju arah yang berlawanan dengan Tom yaitu menuju ke sebuah bangsal yang menyediakan makanan-makanan dalam mesin.

‘Hei, Luis,  tunggu!’ teriak Indi sambil menyusul Luis.

‘Mau kemana?’ tanya Indi setelah dekat dengan mereka.

‘Mau beli rokok dulu,’ Antonio yang mendahului menjawab.

‘Berikan uangmu padaku, nanti kuambilkan,’  kata Indi sambil tersenyum misterius.

‘Ayo, Tonino, berikan uangmu padaku.  Aku senang bermain-main dengan mesin rokok,’  bujuk Indi.  Antonio memberikan uang 5 dollar  yang tadi digenggamnya dengan ragu.  Indi memainkan uang tersebut.  Setelah dekat dengan sebuah mesin rokok di sudut bangsal Indi bertanya,

‘Rokok apa?’

‘Winston,’ jawab Luis.

‘Berapa bungkus?’ tanya Indi.  Semua memandang Indi dengan heran.

‘Berapa?’

‘Indi, uangnya hanya cukup untuk satu bungkus,’ Luis menerangkan.

‘Jadi kalian cuma ingin satu bungkus?  Cuma satu bungkus?’  kata Indi kemudian yang membuat teman-temannya makin keheranan.  Dengan pasti Indi memasukkan uang 5 dollar  tadi ke dalam mesin rokok.  Kemudian dia menekan tombol Winston untuk mengeluarkan rokok pilihannya dengan cepat sambil kaki kanannya menendang pojok mesin bagian bawah dengan keras sekali.

‘Plok…  Plok…  Plok…’  tiga bungkus rokok Winston berjatuhan dari mesin itu.  Teman-temannya terpaku.  Mereka memandang berganti-ganti dari Indi ke tiga bungkus rokok yang tersebar di bawah mereka.

‘Bagaiman kau bisa melakukannya?’ tanya Maurucio setelah reda kekagetannya.

‘Cepat ambil rokoknya,’ perintah Indi.  Teman-temannya segera memunguti rokok tersebut dan dimasukkan ke dalam jacket.

‘Indi, bagaimana kau melakukannya?’ tanya Mauricio yang merasa belum mendapatkan jawaban Indi.  Indi tidak menjawab, saat itu dia melihat Tom memasuki aula.

‘Indi, Nibia membutuhkan bantuanmu,’ ucap Tom.

‘Oke, aku segera kesana,’ sahut Indi agar Tom meninggalkannya.

‘Itu tadi rahasia kita, jangan bocorkan kepada siapapun,’ pesan Indi kepada teman-temannya.  Kemudian dia meninggalkan mereka untuk berjalan bersama Tom menuju rumah makan.  Yang ditinggalkan hanya mampu berpandang-pandangan dan mengangkat bahu.

Melintas Perbatasan

Indi sedang menurunkan kopernya untuk dibawa ke kamarnya ketika Ursula menghadangnya.

‘Tidak keberatan bila sekamar denganku, Indi?’ tanyanya.

‘Aku sudah berjanji untuk sekamar dengan Claudia, coba kamu bicara dengannya mungkin dia mau bertukar tempat,’ saran Indi.  Pasti ada sesuatu yang ingin dikatakannya kepadaku, pikir Indi.  Tom?  Ya,  pasti tentang Tom.

Ternyata Claudia tidak keberatan untuk bertukar tempat sehingga Indi terpaksa harus tidur sekamar dengan Ursula.  Dia merasa yakin kalau Ursula ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi Ursula kelihatan bimbang.  Sampai mereka akan tidur, Ursula belum berkata apa-apa.

‘Urs, ada yang ingin kamu sampaikan kepadaku?’ tanya Indi hati-hati.

‘Yap,’ jawab Ursula cepat sambil bangkit dari tidurnya.  Dimatikan rokok yang sedari tadi dipegangnya dan berjalan tidak menentu.

‘Katakanlah,’ ucap Indi sambil memperbaiki duduknya.  Ursula ragu-ragu.

‘Aku membencimu, Indi,’ katanya tiba-tiba.

‘Benci sekali!’  Indi kaget setengah mati mendengar pengakuan itu tetapi dia berusaha untuk tetap tenang.

‘Mengapa kamu membenciku?’ tanya Indi setelah terlebih dahulu membasahi bibirnya yang tiba-tiba kering.

‘Karena kamu memiliki semua yang tidak kumiliki,’ jawab Ursula parau.  Indi memandangnya tidak mengerti.

‘Aku tidak akan membencimu jika semua kelebihanmu  itu tidak kamu gunakan untuk menyerang dan menghancurkanku,’ lanjut Ursula.

‘Urs, aku tidak tahu apa maksudmu dan kelebihan apa yang kamu bicarakan itu?’

‘Kamu tahu semua itu dengan pasti,’ sela Ursula ketus.’

‘Kamu tahu dirimu cantik, pandai, pintar bergaul, populer.  Kamu tahu semua keinginanmu bisa terpenuhi dengan kelebihan-kelebihan yang kamu miliki itu.  Kamu dicintai semua orang, tak seorangpun pernah membencimu, tetapi kini aku membencimu persis kebencian seribu orang dijadikan satu.’   Indi terpana, dia tidak menyangka kalau Ursula yang lembut itu akan memberondonginya dengan kata-kata pedas seperti itu. Hatinya tiba-tiba menjadi pilu.

‘Kamu bisa bergaul dengan siapa saja, menyakiti hati siapa saja tetapi kamu masih akan tetap dicintai.  Sedang aku sekuat tenaga berusaha untuk mendapatkan cinta seorang, kau dengar, Indi, hanya seorang pria tetapi aku tidak pernah mendapatkannya.  Dan ketika aku hampir berhasil, kamu mencegahnya dengan paksa.’

‘Urs, kalau Tom yang kamu maksudkan, maafkan aku.   Aku tidak punya maksud untuk menghancurkan hubungan kalian.  Demi Tuhan, aku tidak tahu kalau kedatanganku ke apartemennya tempo hari merusak segalanya.’

‘Kamu tidak tahu?’ potong Ursula sinis.  ‘Omong kosong.  Kamu memang sengaja datang.  Kamu tahu dia sangat mencintaimu dan akan melakukan apa saja untukmu dan kau gunakan hal itu untuk mempermainkan dirinya.’

‘Ursula, hentikan itu…’   pinta Indi lirih.

‘Tidak!’ bantah Ursula keras kepala.  ’Sudah lama aku ingin mengatakan apa yang ada di otakku tentang dirimu.  Kamu lebih jahat dari seorang pelacur.  Seorang pelacur akan memberikan cintanya kepada orang banyak tanpa mengharapkan balasan cinta.  Sedang kamu…  Kamu tidak puas hanya memperoleh beberapa cinta.   Kamu mengharapkan beribu cinta tanpa sekalipun kamu pernah memberi.  Seharusnya kamu malu pada dirimu sendiri.’

‘Hentikan itu !’suara Indi serak.  Dadanya turun naik tak teratur.  Sakit hati dan tersinggung.  Sebutir air mata menggelintir di pipinya.  Sejenak Ursula terpana melihat gadis yang dianggapnya begitu kuat itu menangis.

‘Mengapa tak kau biarkan Tom mencintaiku, Indi?  Kamu dengan mudah bisa mendapatkan gantinya,’ kata Ursula.

‘Kamu salah, Urs, Kamu salah.’

‘Karena mencintai laki-laki yang sedang kamu jadikan objek permainanmu?’ tanya Ursula tanpa perasaan.

‘Ursula, hentikan tuduhanmu,’ pinta Indi memelas. ‘Hentikan tuduhanmu!  Kamu boleh membenciku, tapi dengar dulu apa yang akan kukatakan.’

‘Tidak perlu membela diri, Indi sayang.  Mengapa kamu begitu ketakutan bila kubenci?’

‘Ursula Kessler, hentikan!’ bentak Indi.  Ursula kaget mendengar bentakan Indi yang tiba-tiba itu.

‘Dengar baik-baik, Urs.  Kamu ingin aku berkata jujur kepadamu? Akan kukatakan.  Aku mencintai Tom, sangat mencintainya dan aku juga membutuhkannya,’ ungkap Indi.  Ursula tertegun.

‘Tetapi mengapa kamu mempermainkannya?’ bisik Ursula.

‘Aku tidak mempermainkan Tom.  Walaupun aku sangat membutuhkannya, tapi aku juga membutuhkan diriku sendiri,’ jawab Indi dengan air mata berlinang.  ’Lebih dari delapan belas tahun aku menjadi boneka orang lain, sekarang aku ingin menjadi diriku sendiri.  Menjadi Indi yang utuh.  Tidak seorangpun kuijinkan mempengaruhi diriku, tidak Tom, tidak kau dan tidak siapapun,’ lanjut Indi dengan bisikan.  Ursula terdiam.  Keinginannya untuk mengalahkan Indi menguap entah kemana

‘Sejak aku dilahirkan aku telah menjadi milik orang lain.  Milik orang tuaku.  Mereka telah memilihkan kehidupan untukku, kehidupan yang mereka nilai paling baik untukku,’ kata Indi dengan suara sumbang.  ’Aku adalah anak tunggal dari seorang bangsawan.  Bangsawan, Urs.  Ada nama kebangsawanan di depan namaku.  Oh alangkah menterengnya istilah itu.  Sejak kecil aku sudah dididik untuk menjadi seorang putri.  Tingkah lakuku sudah disiapkan polanya, tinggal aku menurutinya.  Tidak sulit.  Aku tidak boleh tertawa terbahak.  Aku tidak boleh menentang perkataan ayah bundaku.  Aku harus menunduk bila berhadapan dengan mereka.  Ucapan-ucapanku harus lemah lembut.’   Tiba-tiba Indi tertawa.  Suatu tawa getir yang berisi sejuta duka.  Ursula tertegun.  Dia kini berhadapan dengan seorang gadis yang lain.  Bukan gadis yang selama ini diirikannya.

‘Dan aku memang gadis yang lembut dan patuh,’ lanjut Indi.  ’Aku mengerti apa yang mereka tuntut dariku.  Aku kerjakan apa yang mereka inginkan, tanpa pernah menggerutu, karena memang begitulah seharusnya sikap anak seorang ningrat.  Aku adalah anak kebanggaan yang tidak pernah mengumpat.  Tutur kataku manis.  Aku penurut, sebegitu penurut.  Percayakah Kamu selama delapan belas tahun tak pernah sekalipun aku membantah perkataan orang tuaku?  Bahkan aku tidak membantah ketika orang tuaku menjodohkanku dengan anak salah seorang teman ayah yang juga masih berdarah biru.  Kuanggap perjodohan itu memang merupakan jalan hidupku.  Aku pasrah.  Aku percaya orang tuaku telah memilih suatu kehidupan yang terbaik bagiku bukankah aku adalah boneka mereka? Dan aku akan tetap menjadi boneka mereka bila saja peristiwa itu tidak terjadi.  Peristiwa yang telah merubah seluruh jalan hidupku.’   Indi berhenti sejenak’.  Air matanya mulai berjatuhan.

‘Sejak dini aku sudah dipersiapkan untuk menjadi istri seorang ningrat.  Pergaulanku sudah pula ditentukan.  Akupun tidak mengecewakan harapan mereka.  Hari pernikahanku ditentukan.  Perkawinan yang megah, Urs, karena kedua orang tua kami adalah orang-orang yang terpandang di kotaku.  Dua ribu undangan telah dibagikan.  Pakaian pengantin telah siap.  Rumah serta gedung pertemuan sudah dihias.

Tetapi apa yang terjadi…?  Sehari sebelum perkawinan dilangsungkan, saat di rumahku sedang ada acara siraman, bridal shower kalau orang Amerika menyebutnya, laki-laki itu menghilang.’   Butiran-butiran mutiara mulai berjatuhan dari kedua mata Indi dan Ursula.  Tubuh Indi terguncang menahan emosi yang meledak-ledak di dadanya.

‘Dia menghilang tanpa seorangpun tahu dimana dia berada.  Yang dia tinggalkan hanya sehelai kertas dengan tulisan ’Aku tidak sudi kawin dengan gadis yang tidak kucintai.’   Dan gadis itu adalah aku…  Aku yang selalu manis dan menurut.  Aku yang tak pernah berkata kasar dan menyakiti hati orang.’

‘Indi…’   panggil Ursula sambil pindah ke tempat tidur Indi.  Dia tidak ingin Indi meneruskan kisahnya.

‘Kau bayangkan bagaimana hebohnya keluargaku.  Mereka sudah tidak sempat lagi untuk membatalkan undangan.  Hingga ketika tamu-tamu yang diundang datang ke resepsi yang mereka jumpai hanyalah orangtua pengantin wanita yang linglung.  Aku benar-benar terpukul dan sakit hati.  Aku mengalami tekanan jiwa dan tekanan jiwaku memuncak ketika surat kabar lokal memuat kisah cintaku yang gagal.  Semua orang mengelu-elukan laki-laki yang telah meninggalkanku sebagai seorang pahlawan yang telah berani mendobrak tradisi lama.  Tetapi mengapa dia tidak pernah mengatakan bahwa dia tak mau dikawinkan denganku sebelum semuanya begitu terlambat? Mengapa dia begitu pengecut?  Kalau saja waktu itu aku sudah seperti aku yang sekarang ini, aku tidak akan peduli.  Tetapi waktu itu umurku baru delapan belas tahun dan belum pernah mengalami kesulitan hidup.’

‘Indi, jangan kau teruskan,’ pinta Ursula ketika melihat Indi begitu tersiksa dalam mengisahkan ceritanya.

‘Tidak, kamu harus mengetahuinya.  Lebih dari empat bulan aku dirawat di rumah sakit jiwa.  Si Indi yang manis dan penurut, mengalami depresi berat dan telah menjadi gila.  Ketika aku keluar dari rumah sakit itu, tak ada lagi kehidupan yang tersisa untukku.  Semua orang, termasuk orang tua yang selalu kujunjung tinggi menganggapku tidak waras.  Maka kuputuskan diriku untuk menjadi gila lagi.  Aku mengeluarkan tuntutan kepada orang tuaku untuk mengirimku ke Amerika Serikat.  Tentu saja aku ditertawakan.  Apa yang akan dilakukan seorang gadis gila di Amerika? Aku nekat.  Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku melawan perkataan orang tuaku, orang yang menatap matanyapun aku tidak berani.  Kuambil sebilah keris pusaka keluarga dan siap untuk melakukan bunuh diri bila permintaanku tidak dituruti.  Aku menang.  Tuntutan kedua kukeluarkan, aku tidak ingin seorangpun mengikuti kepergianku.’  Indi menghela nafas panjang.

‘Sejak itulah aku terbebas dari tangan orang-orang yang memproklamirkan diri bahwa mereka mencintaiku.  Aku bebas yang sebebas-bebasnya, karena sejak itu aku tidak pernah mengatakan dimana aku sesungguhnya berada.  Itulah sebabnya aku tidak pernah menerima sepucuk suratpun dari Indonesia.  Ingin kubuktikan bahwa aku mampu berdiri sendiri.  Semua predikat yang melekat padaku kubuang.  Aku mulai banyak omong, sifat pendiamku hilang.  Aku tidak mau mendengarkan perkataan orang lain.  Mengerjakan apa yang ingin kukerjakan:  jadi pelayan restaurant, ikut perkumpulan tari, belajar gitar dan bergaul dengan siapa saja yang kukehendaki.  Hidupku adalah mutlak milikku.  Indi yang penurut dan manis telah mati, yang ada kini hanyalah Indi yang gila.  Indi yang gila. Indi yang lebih buruk dari pelacur.  Indi yang kau benci.’ Indi mengakhiri ceritanya.  Dia masih menangis sesenggukan, Ursula memeluknya berusaha untuk memberinya ketenangan.

‘Indi, maafkan aku,’ bisik Ursula tersendat-sendat.

‘Aku memang gila, gumam Indi.

‘Tidak, Indi.  Kamu masih tetap Indi yang manis.  Aku tidak pernah membencimu,’ kata Ursula sambil mempererat pelukannya.

‘Aku tidak pernah menceritakan kisahku ini kepada siapapun.  Tidak kepada Diane yang selama tiga tahun sekamar denganku.  Aku ingin mengubur kenangan buruk ini selama-lamanya, tetapi kamu paksa aku untuk mengingatnya kembali? Mengapa, Urs?’ tanya Indi dengan isaknya.  Ursula membelai rambut Indi.

‘Maafkan aku yang egois ini Indi,’ bisiknya lirih.  Indi menarik nafas panjang sambil melepaskan diri dari pelukan Ursula.

‘Maafkan aku hingga kehilangan kontrol,’ kata Indi pelan. ’Aku memang ingin menceritakan hal ini kepadamu agar kamu tahu aku tidak pernah berniat untuk mempermainkan Tom.  Aku mencintai Tom dan membutuhkannya.  Dialah satu-satunya laki-laki yang pernah kucinta.  Betapa aku membutuhkannya, tetapi aku juga membutuhkan diriku sendiri.  Aku takut akan kehilangan diriku yang baru kutemukan tiga tahun yang lalu.  Semakin aku akrab dengan Tom, semakin aku kehilangan jati diriku.  Aku takut, aku hanya akan menjadi bayang-bayang Tom.  Gadis Tom’

‘Indi, Tom akan mengerti,’ bisik Ursula lembut.  Nada ketus dalam ucapan-ucapannya telah tiada.  Indi menggeleng lemah.

‘Urs,  aku ngantuk,’ kata Indi.  Dia benar-benar lelah.

‘Tidurlah,’ kata Ursula sambil membantu Indi membaringkan diri.  Indi nampak begitu lemah dan tak berdaya.  Sekejab saja dia telah terlelap.  Ursula menyelimutinya.  Dipandangnya gadis yang terbaring di hadapannya dengan tatapan iba.

Penderitaanmu jauh lebih besar dari penderitaanku, Indi.  Mengapa kau tanggung duka sebesar itu seorang diri? Dan mengapa pula aku sempat mengirikan kebahagiaan yang baru sesaat kautemukan? Mengapa aku tidak pernah curiga bila kadang aku melihatmu tiba-tiba merenung di tengah candamu? Mengapa aku tidak pernah curiga bila melihat pandangan matamu kadang-kadang kosong dan jauh?

‘Indi, mengapa kau simpan deritamu sendiri?’ bisik Ursula sambil mencium pipi Indi yang masih basah oleh air mata.

 Melintas Perbatasan

Polisi perbatasan itu memeriksa pasport Indi lama sekali.  Berkali-kali halaman-halaman pasport itu dibolak-balik.

‘Dari Indonesia?’ tanya petugas imigrasi Canada itu untuk meyakinkan.

‘Ya,’  jawab Indi heran karena toh di pasport itu sudah jelas tertulis.

Would you follow me, please?’

‘Kemana?’ tanya Indi makin heran.  Semua paspor teman-temannya sudah diperiksa dan dicap yang berarti mereka diijinkan untuk memasuki Canada tanpa kesulitan apapun.

‘Ke kantor.’

‘Untuk apa?’ tanya Indi lagi tetapi petugas itu sudah berjalan mendahuluinya dengan membawa pasport Indi serta.  Indi berpandang-pandangan dengan teman-temannya tidak mengerti.

‘Ketahuan kalau kamu nyolong rokok kemarin,’ komentar Luis.  Indi mendelikkan matanya kemudian mengejar petugas perbatasan tadi.  Di belakangnya Tom membuntutinya.

‘Ada apa, Indi?’ tanya Tom yang berhasil menyusul Indi.

‘Aku tidak tahu,’ jawab Indi.  Beberapa saat kemudian mereka disuruh masuk ke kantor komandan perbatasan dan disilahkan duduk.

‘Miss Indi Irawan?’ tanya sang komandan yang berambut botak.  Indi mengangguk.  ‘Anda memerlukan visa untuk masuk ke Canada.’

‘Visa?’ tanya Indi dan Tom bersama-sama.  Ganti si kepala botak yang mengangguk.

‘Sebelum kami berangkat kemari, saya telah mengubungi Kedutaan Besar Canada di Buffalo dan saya mendapatkan informasi bahwa kami tidak memerlukan visa untuk kunjungan sehari di Jackson Port,’ kali ini Tom yang menjelaskan.

‘Saya yakin anda tidak menyebutkan dari mana teman-teman anda itu berasal,’ kata si komandan perbatasan.

‘Apa bedanya?’ tanya Indi setelah melihat Tom terdiam mendengar kata-kata kepala perbatasan tadi.

‘Ada negara-negara, termasuk di dalamnya Indonesia, dimana setiap warganya untuk masuk ke Canada harus memiliki visa.’

‘Tetapi mengapa Anda mengijinkan Kahar yang dari Malaysia, Gil dari Filipina dan Wiwan dari Thailand untuk memasuki wilayah anda padahal kami sama-sama dari Asia Tenggara?’

‘Teman Malaysia Anda, warga Singapore dan dua teman Anda yang dari Filipina dan Thailand Mereka memiliki visa.  Mereka sudah pernah berkunjung sebelumnya’   jawab komandan perbatasan itu singkat.  Indi terdiam.  Mengapa dia tidak mempunyai informasi penting seperti ini.

‘Jadi saya tidak diijinkan memasuki Canada?’

‘Nona akan kami ijinkan bila nona memiliki visa.  Anda bisa mengurus visa anda di Buffalo.’

‘Buffalo?’ Berapa jam kami harus pergi kesana? 10 jam pulang balik paling sedikit, padahal kami hanya akan berada di Jackson Port untuk beberapa jam saja,’ sanggah Tom.

‘Maaf, anak muda.  Peraturannya seperti itu.’   Indi benar-benar mendongkol mendengar perkataan itu.

‘Disini tidak bisa menerbitkan visa on arrival?’ kerjar Tom lagi.  Sang komandan menggelengkan kepalanya.

‘Bagaimana jika saya memaksa masuk?’.  Apakah saya akan diberondong dengan tembakan peluru?’ tanya Indi seenaknya.  Komandan perbatasan itu terpana mendengar perkataan Indi.

‘Nona, ketahuilah, saya sendiri menyesal harus melarang nona masuk.  Tetapi memang inilah hukum yang berlaku dan mungkin saya harus melakukan seperti apa yang baru saja nona ucapkan.’

‘Oke, terimakasih,’ kata Indi tenang sambil mengambil pasportnya dan berjalan keluar.  Tom masih berusaha meyakinkan komandan bahwa dia akan bertanggung jawab terhadap semuanya bila Indi diijinkan masuk.  Tidak berhasil.

‘Tidak ada jalan lain, kita ke Buffalo dulu,’ kata Tom pada Indi di luar kantor komandan perbatasan.  Indi menggeleng.

‘Ada jalan yang lebih baik,’ ucapnya.’Kalian pergi saja ke Jackson Port dan tinggalkan aku disini.’

‘Indi…’   Tom tidak menyetujui gagasan Indi.

‘Tom, hanya itu satu-satunya jalan.  Kita sudah tidak punya waktu lagi untuk ke Buffalo.  Kasihan anak-anak yang lain.’

‘Bagaimana dengan dirimu?’

‘Aku tidak apa-apa.  Aku akan menunggu kalian disini.’

‘Baiklah.  Aku akan menemanimu.’

‘Tidak.’   Potong Indi cepat.’   Kamu adalah ketua rombongan, kamu harus ikut mereka.’

‘Indi aku tidak bisa meninggalkanmu seorang diri.’

‘Kamu harus pergi.’   Kata Indi pendek.  Kemudian mereka masuk ke dalam bis lagi membicarakan hal tersebut.  Teman-teman Indi memutuskan untuk pergi ke Buffalo dulu.  Tetapi dengan tegas Indi menolak keputusan itu.

‘Mengapa kalian tidak mau meninggalkan aku disini? Percayalah aku tidak apa-apa.  Aku bisa pergi ke Canada di lain waktu.’

‘Indi, kita telah pergi bersama, kita…’   kata Nibia.

‘Omong kosong,’ potong Indi.’   Kalau kalian tidak tega meninggalkan aku disini bawalah aku ke Perbatasan Amerika Serikat.  Aku akan menunggu disana, oke?’

‘Kurasa Indi benar.  Itu jalan yang terbaik bagi kita,’ kata Ursula menengahi.  Semua orang memandang Ursula heran, tetapi Indi tersenyum.  Dalam senyumnya itu ia ingin mengatakan terimakasih.

 Akhirnya mereka membawa Indi ke perbatasan Amerika Serikat, kira-kira dua kilometer dari perbatasan Canada.

‘Jaga dirimu baik-baik,’ pesan Tom sebelum dia naik ke dalam bis kembali.  Di tepuknya pipi Indi dua kali sambil menatap mesra.  Indi mengangguk kemudian memandang bis itu pelan-pelan meninggalkan dirinya.

Setelah bis itu tak tampak lagi Indi memasuki kantor perbatasan.  Seorang polisi berkulit hitam menegurnya.

‘Bukankah kamu tadi bersama rombongan mahasisiwa Kent?’

‘Ya,’ jawab Indi.  ’Mereka tidak mengijinkanku ke Canada.’

‘Hanya kau sendiri yang tidak diijinkan masuk?’

‘Ya.  Mungkin aku memiliki tampang terorrist,’ jawab Indi kesal.

‘Dari negara mana kamu?’ tanya polisi itu lagi.

‘Indonesia.’

‘Indonesia? Bagaimana hubungan politik negaramu dengan Canada?’ Indi menggeleng.  Dia sama sekali tidak tahu tentang itu.

‘He, ayo duduk disana.  Namaku Joe, kita bisa ngobrol-ngobrol,’ ajak polisi hitam itu kepada Indi.  Indi menyebutkan namanya sendiri dan berjalan mengikuti Joe ke sebuah ruang yang terdapat beberapa pesawat televisi yang memonitori kegiatan jalan raya dan perbatasan.  Indi dikenalkan pada petugas-petugas perbatasan yang ada yang semuanya ramah-ramah.  Kemudian Indi mulai tertarik untuk ikut mengawasi pesawat televisi yang ada disana.  Tiba-tiba dalam pesawat itu tampak dua orang pengendara sepeda motor yang dihentikan oleh seorang petugas.  Mereka disuruh mengangkat tangan dan di geledah.

‘Kalian apriori terhadap pengendara sepeda motor,’ kata Indi.  Letnan Blake, komandan perbatasan tersenyum mendengar komentar itu.

‘Mengapa kamu berpikiran macam itu?’ tanyanya.

‘Di setiap highway, bila ada pengendara sepeda motor, maka sudah dapat dipastikan sopir-sopir truck akan memepetnya terus.’   Letnan Blake tertawa mendengar jawaban Indi.  Indi melihat petugas perbatasan sepeda motor itu mengeluarkan bungkusan kecil dari saku jacket salah satu pengendara.

‘Apa itu?’ tanya Indi.

‘George, nona muda ini ingin tahu apa yang kamu temukan?’ tanya Letnan Blake melalui interkom.  Yang dipanggil menghadapkan wajahnya ke kamera.

‘Apalagi?  Pot,’ jawabnya.

‘Kau dengar? Ganja.  Itulah sebabnya kami apriori terhadap mereka,’ kata Letnan Blake.  Untung kamu tidak tinggal di Yogya.  Di Yogya semua orang naik sepeda motor,   pikir Indi.  Letnan Blake kemudian meninggalkan ruang itu untuk mengadakan pemeriksaan terhadap dua orang pemuda tadi.

Setelah selesai melakukan pemeriksaan Letnan Blake kembali lagi menghampiri Indi.

‘Indi, apa cita-citamu?’ tanyanya mengejutkan.

‘Jadi presiden,’ jawab Indi ngawur.  Yang mendengar jawabannya tertawa.

‘Presiden punya hak untuk mengumumkan perang.  Bila aku jadi presiden maka pertama kali yang kulakukan adalah mengumumkan perang kepada Canada, karena pernah tidak mengijinkan aku masuk ke wilayahnya,’ sambung Indi.  Tawa mereka makin riuh.

‘Kamu berani menyelundup?’ bisik Letnan Blake.  Indi membelalakkan matanya.  ’Aku tahu kamu berani.  Aku akan membantumu menyelundup ke Canada.  Joe Kamu juga akan membantu?’ sambungnya.  Joe mengangguk mantap.  Indi ternganga.

‘Bagaimana bila tertangkap?’ tanya Indi mulai bimbang.

‘Dua bulan penjara atau ketembak peluru.  Tapi aku yakin kamu tidak akan tertangkap.  Kalau toh kamu tertangkap akan kusediakan seorang pengacara hebat untukmu.’

Setelah lama mempertimbangkan, akhirnya Indi menyetujui rencana gila itu.  Dia dan Joe akan menyelundup lewat danau Erie.  Mereka akan dinanti oleh Letnan Blake di daratan Canada yang akan mengantar Indi ke Jackson Port.

Perahu patroli yang membawa Indi dan Joe meluncur cepat di atas air.  Indi meluncur cepat di atas air.  Indi benar-benar gelisah.  Berkali-kali dia duduk dan berdiri tak menentu.  Joe tersenyum melihat tingkah Indi.

‘Relaks, Indi.’

‘Bagaimana aku bisa relaks kalau setiap saat peluru bisa bersarang di tubuhku.’

‘Jadi presiden juga diancam peluru terus,’ goda Joe.

‘Itu kalau di Amerika,’ bantah Indi.  Di Indonesia presiden dicintai rakyatnya, tak seorangpun yang berniat untuk membunuhnya.’

Akhirnya perahu mereka mendarat di sebuah dermaga tanpa mengalami kesulitan sedikitpun.  Indi gembira melihat Letnan Blake yang telah menantinya.  Kemudian dia dibawa ke Jackson dengan mengendarai sebuah mobil sport tanpa atap.

Melintas Perbatasan

‘Indi, apa yang kau lakukan disini?’ Bagaimana Kamu bisa sampai kemari?’ tanya Tom yang melihat kehadiran Indi di Jackson Port.  Sama sekali tidak ada nada gembira di dalam ucapannya.

‘Menyelundup,’ jawab Indi tenang.

 ‘Indi, jangan main-main!’ Tom memperingatkan.

‘Aku tidak main-main.  Mereka tidak mengijinkan aku masuk secara baik-baik maka terpaksa kulakukan jalan ini.’

‘Kamu tahu apa akibatnya?’ tanya Tom setengah marah.

‘Dua bulan penjara kalau tertangkap.’

‘Indi, berhentilah bercanda,’ tegur Tom.

‘Apa yang harus kukatakan kepadamu?  Kamu ingin aku mengatakan bahwa aku tidak menyelundup padahal iya.’

‘Kapan kamu mau merubah sikap kekanak-kanakanmu?’ tanya Tom ‘Kamu tahu apa yang kau lakukan sangat berbahaya.  Tidak hanya bagimu tapi juga untuk kita semua.  Indi, mulailah memikirkan orang lain, jangan kamu turuti kehendakmu saja,’ tegur Tom marah.

‘Jangan kuatir, Tom, hanya akulah satu-satunya orang yang akan menanggung semua resikonya.  Aku menyelundup atas prakarsaku sendiri,’ sahut Indi ketus.

‘Bagaimana kalau kamu tertangkap?  Kamu kira kami akan tega membiarkanmu meringkuk di penjara tanpa mengusahakan sesuatupun? Berhentilah menyusahkan orang lain.  Aku benar-benar tidak mengerti dirimu.  Hanya orang yang tidak waras yang melakukan hal-hal seperti yang kamu lakukan,’ kata Tom tambah marah.  Indi tercenung dan tersinggung disamakan dengan orang yang tidak waras.

‘Aku tidak bakalan menyusahkan orang lain.  Kalau aku harus masuk penjara jangan kamu takut.  Aku tidak akan berteriak-teriak minta tolong, dan kalau toh aku harus berteriak-teriak minta tolong sudah dapat kupastikan bukan namamu yang akan kusebut,’ ucap Indi sambil meninggalkan Tom.  Tom memandang dia termangu, yang dipandang tenang-tenang saja melenggang mendekati teman-temannya yang lain dan mulai bercanda dengan riuh.

Kalau Indi nampak tidak terpengaruh atas pertengkaran yang baru saja terjadi, hal itu karena dia terlalu pandai bersandiwara.  Sebenarnya dia merasa terluka dengan pertengkaran tersebut.

Tom secara tidak langsung telah mengatakan kalau aku gila, pikir Indi gundah.  Dari mana dia tahu hal itu? Tidak ada orang lain yang tahu kecuali Ursula.  Apakah Ursula menceritakan kepada Tom kalau aku pernah gila?

Kemudian Indi memisahkan diri dari teman-temannya dan berjalan menyusur pantai dengan kepala menunduk.  Selang beberapa saat kemudian dia menuju ke sebuah stand minuman menemui Letnan Blake.

‘Kurasa Canada tidak begitu ramah padaku,’ kata Indi.

‘Hei.  ada apa?’ tanya Letnan Blake sambil memandang gadis di depannya yang tampak murung bertolak belakang dengan waktu berangkatnya.

‘Aku ingin pulang,’ kata Indi jujur.

‘Pulang?’ tanya Letnan Blake tidak percaya.

‘Teman-temanmu kelihatannya belum berniat untuk pulang.’

‘Aku lebih senang menanti mereka di perbatasan.’

‘Kamu sungguh-sungguh?  Bukan hanya karena kamu merasa sungkan karena kutunggui?’ tanya letnan Blake.  Indi menggeleng.  Letnan Blake kemudian bangkit dari tempat duduknya.  Sesudah Indi berpesan kepada Kahar bahwa dia akan menanti di perbatasan, mereka lalu meninggalkan Jackson Port.

 Selama perjalanan itu Indi lebih banyak berdiam diri dan Letnan Blakepun segan untuk mengusik ketenangan Indi.  Indi masih memikirkan ucapan-ucapan Tom kepadanya.  Selamanya Tom tidak pernah berkata sekeras itu kepadaku, pikirnya.  Mengapa tadi malam aku harus menceritakan kisah hidupku kepada Ursula.  Sekejab saja pasti semua orang akan tahu kalau aku, Indi Irawan pernah gila.  Ya Tuhan, kemana lagi harus kularikan diri ini?

‘Hei, mengapa lewat sini?’ teriak Indi kalut ketika tersadar dari lamunannya dan melihat perbatasan Canada hanya berjarak kira-kira satu kilometer dari tempatnya berada.’   Aku penyelundup, ingat?’ sambung Indi mengingatkan.   Letnan Blake hanya tersenyum.

‘Sudah terlambat untuk berputar, Miss’

‘Mereka akan menangkapku,’ bisik Indi kuatir.

‘Berdoalah mudah-mudahan tidak,’ hibur Letnan Blake tanpa berusaha untuk memperlambat jalan mobilnya.  Indi semakin gelisah dan mulailah dia komat-kamit berdoa.

Ketika akhirnya mobil itu sampai di pos pemeriksaan, ketakutan Indi sudah tidak tertahankan lagi.  Wajahnya memucat dan keringat dingin mulai mengucur deras di leher dan punggungnya.  Tiba-tiba muncul orang yang paling dikuatirkannya, sang komandan perbatasan.

Habislah aku, desis Indi.  Tetapi tanpa diduga komandan perbatasan itu tersenyum hangat dan  mendekat.

‘Senang di Jackson Port?’ tanyanya ramah.  Indi membelalak tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

‘Bapak tahu kalau saya masuk Canada?’ tanya Indi setelah terdiam beberapa saat.  Sang komandan dan Letnan Blake tertawa.  Indi semakin tidak mengerti.

‘Kenalkan Indi, Letnan Brown,’ kata Letnan Blake memperkenalkan. ’Tadi dia kutelpon dan kuminta untuk mengijinkan kamu masuk Canada.  Dan…  dia mengijinkannya.’

‘Jadi…  Jadi saya tidak menyelundup?’ tanya Indi.  Darahnya mulai mengalir di wajahnya kembali.  Letnan Blake dan Letnan Brown tertawa hangat dan Indipun mampu untuk tertawa lagi.

‘Kalau tahu seperti itu…’   kata Indi setelah dia dan Letnan Blake meninggalkan pos pemeriksaan dan mulai memasuki USA.

‘Kalau tahu seperti itu apa?’

‘Aku tidak harus tegang setengah mati.’

‘Apakah kamu tadi tegang?  Kulihat kamu begitu tenang,’ komentar Letnan Blake.  Indi tidak menyahut.  Berarti Joe tadi sudah tahu kalau tidak ada sebuah pelurupun yang mengancamku.

Ketika mereka sampai di perbatasan Amerika, Indi disambut meriah oleh polisi-polisi perbatasan dan Joe tak henti-hentinya menggoda  ‘sang calon presiden’ yang baru saja menyelundup.

‘Kalian brengsek semua.  Kenapa tadi tidak memberi tahu?’ sungut Indi gemas.  Kalau aku tahu aku tidak menyelundup maka pertengkaran dengan Tom tadi bisa dihindarkan dan aku bisa tinggal disana lebih lama, pikir Indi.  Sekarang sudah terlambat, semua orang pasti sudah tahu kalau aku penah gila lantaran ditinggal pergi oleh seorang laki-laki.  Alangkah hinanya.

Melintas Perbatasan

Jam enam sore Greyhound yang membawa mahasiswa-mahasiswa itu tiba di perbatasan Amerika.  Terdengar suara riuh memanggil-manggil nama Indi.  Sedang Indi sendiri asyik berada di depan sebuah monitor, mengawasi lalu lintas di depan kantor perbatasan.

‘Ini Luis, dari Chile,’ Indi menerangkan kepada Joe yang duduk di dekatnya ketika melihat Luis turun dari bis dan terambil oleh kamera.  ’Ini Tonino, Claudia, Nibia,’ sambung Indi.

‘Yang  paling kanan siapa?’ tanya Joe sambil menunjuk gadis berkulit hitam, sewarna dengan kulitnya.

‘Kerrie dari Barbados.’

‘Indi, teman-temanmu sudah menanti!’teriak Letnan Blake memecahkan keasyikan Indi.  Indi bangkit dengan malas.

‘Joe terimakasih banyak,’ bisik Indi.  Joe mengangguk sambil menjabat tangan Indi yang terulur kepadanya.  Sesudah pamitan dengan semua polisi yang ada di ruang itu Indi ke luar, Joe dan Letnan Blake mengantarnya hingga di depan bis.

‘Jangan lupa perbatasan Amerika di Thousand Bridge dan sering-sering kirim email pada kami bila pulang ke Indonesia dan jadi presiden,’ kata Letnan Blake sambil tersenyum.  Indi hanya mampu tersenyum dan melambaikan tangannya.  Teman itu ada di mana-mana.

Seperti biasanya Indi segera menuju ke bis bagian belakang.  Dia berusaha untuk tidak memandang Tom ketika melewatinya.  Baru saja dia duduk, Luis, Antonio, Mauricio dan Manuel sudah mengelilinginya.

‘Untukmu,’ kata Luis sambil mengulurkan sebatang coklat.

‘Tadi kami bermaksud untuk memberimu banyak tapi gagal.’

‘Tidak punya uang?’ tanya Indi.  Luis, Antonio, Mauricio dan Manuel menggeleng serempak.

‘Waktu kami makan siang tadi…’ kata Luis memulai ceritanya, ’tiba-tiba kami teringat pada  gadis cantik dari Indonesia yang tidak diperkenankan untuk masuk ke Canada.  Kami ingin memberi dia sesuatu yang akan membuatnya bahagia,’ Indi tersenyum manis.

‘Coklat adalah makanan kegemarannya,’ sambung Antonio, ’maka kukeluarkan uang lima dollar  untuk membeli sepuluh batang coklat.’   Kali ini Indi tak kuasa menahan tawanya.  Lima dollar untuk sepuluh batang coklat?

‘Kamu mau nyuri?’ tanya Indi di tengah tawanya.  Empat kepala disekelilingnya mengangguk bersama. ’Terus bagaimana?’

‘Gagal,’ sahut Manuel.  ’Sampai lama kami berdiri di depan mesin coklat dan main tendang tapi yang keluar cuma satu batang saja.  Luis makin kalap, dia tendang mesin itu berkali-kali dengan keras hingga seorang petugas keamanan datang.’

‘Apa?’ tanya Indi kaget.

‘Petugas keamanan.  Hampir saja kita kena tangkap,’ jawab Luis.  Orangnya serem deh, tinggi dan besar.  Suaranya menggelegar ketika dia bertanya Apa yang kamu lakukan?’ sambung Luis sambil menirukan suara petugas keamanan yang dimaksudkannya.  ’Aku tak berkutik untung Tom segera datang dan menyelamatkan kami.  Dia katakan kepada orang tadi bahwa kami telah berkali-kali memasukkan uang ke dalam mesin tetapi tidak ada yang keluar.  Woi kalau tidak…  penjara deh,’ sambungnya sambil tertawa.

‘Kamu tahu apa yang terjadi sesudah itu? Mereka memasang tanda  Rusak pada mesin yang tidak bersalah tersebut,’ Mauricio menerangkan.

‘Dan Tom marah setengah mati,’ sela Antonio.  ’Dia ngomel panjang lebar.  Dia benar-benar malu karena ada temannya yang mau jadi pencuri.  Kemudian kukatakan kepadanya. ’Eh, Tom, kamu tahu siapa guru pencurinya? Gadis kecilmu, Tom, Indi.’   Uh kasihan Tom, dia langsung terdiam,’ sambung Antonio dengan tawa gelinya.

‘Mengapa kamu katakana itu kepadanya? Dia sudah cukup marah kepadaku karena aku menyelundup tadi,’ tanya Indi.

‘Indi dia sudah marah sebelum kamu menyelundup.  Justru kamu sendiri yang menambah kemarahannya,’ bela Luis.  Tiba-tiba Indi merasa lelah bukan main.  Ah aku memang banyak menimbulkan kesulitan bagi Tom.  Belum habis kekuatiran Tom terhadap Luis dan kawan-kawannya muncul aku dengan masalah yang lain.  Dan kesemuanya akulah yang menyebabkannya, tak heran kalau dia marah seperti siang tadi.  Maafkan aku, Tom.

‘Indi…’   panggil Antonio

‘Pergi dari sini semua.  Aku lelah,’ usir Indi.

‘Kamu marah?’ tanya Antonio.

‘Marah sekali,’ kata Indi sambil tersenyum.

‘Na sana pergi aku mau tidur.’   Teman-temannya menurutinya dan meninggalkannya dia seorang diri di deretan kursi paling belakang.  Dia tidak main-main ketika mengatakan dia lelah.  Lelah pikiran dan badan.  Sekejab saja dia sudah jatuh tertidur.  Suara berisik teman-temannya yang bergurau tak mampu menganggunya.

Lama sekali dia tertidur.  Ketika dia terbangun, malam sudah tiba.  Teman-temannya telah tertidur kelelahan.  Tiba-tiba Indi merasa kalau ada sebuah tangan yang melingkar akrab di bahunya.  Tangan yang sudah sangat dikenalnya.  Dengan cepat Indi menoleh ke wajah si pemilik tangan.

‘Apa yang kamu lakukan disini?’ tanya Indi lirih.

‘Memelukmu,’ jawab Tom pendek.  Indi menahan nafas sambil berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Tom.  Tetapi Tom justru makin mempererat pelukannya. ‘Mau lari kemana kamu, Indi?’

‘Tom, apakah Ursula mengatakan sesuatu kepadamu?’ tanya Indi.  Tom tidak segera menjawab.  Indi menanti.  Akhirnya Tom mengangguk.

‘Apa yang dia katakan kepadamu?’

‘Untuk apa kamu tahu?’

‘Penting sekali.’

‘Kamu akan marah kepada Ursula?’ tanya Tom. ’Dia bermaksud baik, In.  Dia melihat kamu dan aku bertengkar di Jackson Port, dia tahu aku sangat menyayangimu maka dia ceritakan kisahmu sesudah kamu pergi dengan polisimu.’

‘Apa yang dia katakan kepadamu?’ tuntut Indi berusaha menjaga agar nada suaranya tidak meninggi.

‘Kalau kamu mencintaiku dan membutuhkanku,’ bisik tom sambil menatap Indi dalam.

‘Apa lagi?’

‘Sudah.’

‘Pasti ada lagi,’ desak Indi.

‘Dengar baik-baik Indiku, aku sangat mencintaimu.  Kembalilah kepadaku dan aku berjanji untuk tidak merubah dirimu.  Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan asal jangan tinggalkan aku.  Kamu mau mengambil rokok di mesin rokok, aku tidak akan melarangmu atau bahkan kalau kamu akan menyelundup ke Canada.’

‘Bagaimana kalau tertangkap?’ tanya Indi tolol.

‘Aku akan menyertaimu di penjara.  Berilah aku kesempatan untuk mencintaimu, Indi, oke?’

‘Apakah Ursula tidak menceritakan kalau aku pernah gila?’

‘Apa?’

‘Aku pernah gila Tom,’ bisik Indi sambil menceritakan tentang masa lalunya.  Semuanya itu diceritakan dengan berbisik karena Indi tidak ingin Juan yang duduk di depannya ikut mendengar.  Kalau sewaktu menceritakan tentang hal tersebut kepada Ursula Indi menangis kali ini dia tidak bahkan kadang-kadang dia justru tertawa.

‘Kamu tidak rindu kepada orang tuamu?’ tanya Tom setelah Indi selesai dengan ceritanya.

‘Tentu saja aku rindu mereka.’

‘Mengapa tidak kamu kabari mereka tentang keberadaanmu dirimu.  Mereka akan gembira mendengar kabar tentang anak tunggal mereka.’

‘Apakah kamu mulai mengaturku, Tom?’

‘Oh, Indi.  Ini lain.  Pernahkah Kamu membayangkan bagaimana bingungnya hati mereka? ataukah Kamu menyalahkan mereka atas nasib buruk yang menimpamu dan tindakanmu ini sebagai tindakan balas dendam?’ tanya Tom.’   Padahal mereka melakukan semuanya itu demi kebahagianmu.’

‘Tom, aku tidak tahu.  Jangan kau desak aku.’

‘Oke, lakukan apa yang kamu anggap tepat.  Tapi kamu mau kembali kepadaku kan?’ tanya Tom.  Indi tidak menjawab.

‘Indi?’ desak Tom.

‘Aku akan tanya ayah dan ibuku dulu.  Aku akan menelpon mereka sesampai kita di Kent,’

‘Indi?’  Tom tak percaya.

‘Ya, Tom.  Aku akan mengabari mereka.  Biarlah mereka ikut bahagia bersama kita.  Aku tahu mereka akan bahagia,’  kata Indi terharu.  Matanya berkaca.  Tom mendongakkan wajah Indi dan menciumnya dengan lembut.  Tiba-tiba entah disengaja atau tidak Mauricio menyanyikan Besame Mucho.

 Tamat

Melintas Perbatasan (Bagian 1)

Melintas Perbatasan

          KENT STATE UNIVERSITY terletak di kota kecil Kent di Ohio.  Seperti kampus-kampus di Amerika lainnya kampus ini begitu tenang dan damai.  Padang-padang rumput yang luas mengelilingi setiap bangunan serta pohon-pohon oak rindang berada di sepanjang jalan-jalan kampus yang mulus.  Hijau merupakan warna dominan selama musim semi, musim panas dan permulaan musim gugur seperti sekarang ini.  Dua bulan lagi daun-daun oak yang berwarna hijau itu akan berubah menjadi kuning, oranye dan merah yang cerah yang akan memberi warna pada kampus.  Untuk saat ini yang menjadi hiasan kampus adalah tubuh-tubuh molek berbikini yang berbaring di padang rumput di depan asrama-asrama mahasisiwa yang sedang menikmati sisa-sisa matahari musim panas.

Indi baru saja keluar dari salah satu bangunan tua yang merupakan tempat kuliah bagi mahasiswa yang memperdalam ilmu ekonomi.  Tubuhnya yang ramping terbungkus oleh jeans berwarna biru tua dan kemeja berwarna putih dengan gambar-gambar abstrak yang sewarna dengan celananya.  Langkahnya ringan melintasi padang rumput yang berhiaskan bunga-bunga dandelion.  Tas yang tergantung di pundaknya bergoyang seirama dengan gerak tubuhnya.  Sekali-sekali dia membenahi rambut yang tergerai hingga pundaknya, tetapi angin sore yang berhembus agak kencang akan merusaknya kembali.

Indi  berniat untuk pulang ke asrama dengan bis, tetapi ketika melihat banyaknya orang yang berkerumun di halte, maka niatnyapun urung.  Dia memutuskan untuk berjalan kaki.  Untung asramanya tidak begitu jauh hanya beberapa blok dari tempatnya berdiri sekarang dan masih berada di lingkungan kampus.  Tetapi baru saja dia berjalan beberapa meter, sebuah Subaru berhenti di dekatnya.  Juan, mahasiswa dari Spanyol menjulurkan kepalanya keluar.

‘ Hallo, Indi!  Ayo kuantar,’ ajaknya.  Indi membalas salam Juan dan mengangguk pasti.  Hmm … kebetulan, pikirnya.

Juan membukakan pintu untuknya dan Indi masuk dengan santai.  Diletakkannya buku-buku yang tebal yang dibawanya di antara dirinya dan Juan.

Juan membukakan pintu untuknya dan Indi masuk dengan santai.  Diletakkannya buku-buku yang tebal yang dibawanya di antara dirinya dan Juan.

Cómo estás, Juan? Cuánto tiempo sin verte,’ Indi menanyakan kabar Juan ketika Juan  siap untuk menjalankan mobilnya kembali.

‘Hahaha..muy bien.  Dari mana kamu bisa bahasa itu,’ tanya Juan penasaran

‘Kamu yang mengajariku, masa lupa,’ jawab Indi.  Juan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum hangat.  Mobil yang mereka naiki melewati auditorium yang penuh dengan patung-patung kontemporer.  Indi paling senang melewati daerah ini karena patung-patung itu mengingatkan dirinya pada taman Ismail Marzuki.  Sebuah spanduk besar tergantung di dekat sebuah patung telanjang dengan tulisan    ‘Kita bakar Akron Malam Ini’.

‘Kamu datang ke stadion nanti malam?’ tanya Juan yang juga membaca spanduk tersebut.  Indi menggeleng sambil menarik nafas panjang.

Aku harus bekerja nanti malam,’  jawabnya sedih.  Ada pertandingan sepak bola nanti malam dan lawannyapun tak tanggung-tanggung, Akron, musuh bebuyutan Kent.  Berarti Kenny’s, rumah makan dimana dia bekerja akan penuh dan dia terpaksa harus kerja keras.  Itu yang tidak disukainya.

‘Kamu masih bekerja di Kenny’s?’ tanya Juan.

‘Kemana lagi?’ keluh Indi.’   Jarang yang  mau memperkerjakan mahasiswa asing macam kita, Juan.

‘Jam berapa kamu bisa bebas?’

‘Sekitar jam sembilan.  Memangnya kenapa?’

‘Ada pertemuan KFS seusai pertandingan.’

‘Dimana?’ tanya Indi antusias.

‘Apartemen Tom.’

‘Apartemen Tom?’ ulang Indi.  Nada suaranya mengherankan Juan.  Setelah diam beberapa saat dia bertanya.

‘Ada apa, Indi?’

‘Hmm?’ Indi berlagak tidak mengerti pertanyaan Juan

‘Ada apa dengan Tom dan kamu? Kalian sekarang jarang terlihat bersama lagi.  Ada masalah?’

‘Tidak ada apa-apa, Juan.  Mengapa kamu tanyakan itu?’

‘Kamu tidak datang ke Home Coming dan ketika kulihat Tom datang bersama Ursula, kupikir …’

‘Oh, Tom berhak untuk bergaul dengan siapa saja,’ potong Indi kalem walau  sebenarnya dia agak kaget juga.  Tepat saat itu mobil yang mereka tumpangi telah berada di depan asrama Indi.  Juan menghentikan mobilnya.

Gracias, Juan,’ ucap Indi sambil keluar.  ’Te veré esta noche.’

‘Kamu akan datang?’ tanya Juan mendengar Indi berjanji untuk bertemu dengannya nanti malam.  Indi tergelak

‘Kamu pikir aku tidak berani untuk datang?’ goda Indi.  Juan mengangkat kedua bahunya.

‘Perlu kujemput?’  tanya Juan.

‘Tidak perlu, Juan, aku akan datang sendiri,’ sahut Indi.

‘Indi, …!’  panggil Juan ketika Indi mulai memasuki halaman asrama.

‘Ya?’  Indi memutar tubuhnya dengan indah.

‘Beri tahu aku kalau kamu benar-benar putus dengan Tom.  Aku tidak keberatan untuk menggantikan kedudukannya.’

I’ll keep it in mind,’ jawab Indi sambil tertawa keras.  Juan juga tertawa kemudian menjalankan subarunya.  Sesudah mobil Juan menghilang dari pandangan barulah Indi memasuki halaman asrama.

Tom sudah mendapatkan ganti.  Ursula memang tepat untuk Tom, pikir Indi sambil berjalan.  Tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang kosong pada dirinya.  Indi, bukankah itu yang kamu kehendaki? Mengapa kamu kecewa sekarang?  tanya otak Indi.  Indi menggelengkan kepalanya dengan keras.  Kemudian matanya memandang ke atas ke mega-mega yang berarak.  Yah … Mengapa aku harus bersedih?  Bergegas dia memasuki asrama lewat pintu samping.  Melihat-lihat kalau-kalau ada surat untuknya walau dia tahu pasti tidak akan ada sepucuk surat pun yang dialamatkan untuk dirinya.  Sesudah itu dia masuk lift menuju ke kamarnya di tingkat empat.

Diane, teman sekamar Indi belum datang ketika Indi sampai di kamarnya.  Diletakkannya semua buku serta tasnya di lantai yang beralaskan karpet berwarna beige, pilihannya bersama Diane.  Kemudian dia membaringkan dirinya di tempat tidur sambil matanya menerawang ke seluruh penjuru kamar.  Tiba-tiba matanya terpaut pada meja kecil yang terletak di antara tempat tidurnya dengan tempat tidur Diane.  Di atas meja kecil itu ada sebuah figura dompet untuk dua foto ukuran postcard.  Salah satunya sudah terisi foto Jimmy, pacar Diane yang mengenakan seragam sepak bola Kent dengan sebuah bola di tangan dan senyum lebar di bibirnya.  Dia tampak begitu gagah.  Sedang figura yang satunya kosong.  Disitu dulu dipasang foto Tom yang juga mengenakan seragam sepak bola Kent dengan bola di tangan serta senyum lebar di bibirnya.  Dan dia juga begitu gagah.  Tetapi foto itu dilepas Indi pada akhir musim semi yang lalu.

‘Indi, mengapa kamu lepas foto Tom?’ Indi ingat Diane bertanya dengan heran waktu melihat dia melepas foto Tom.

‘Aku ingin suasana baru.  Itu saja.’

‘Kamu bertengkar dengan Tom?’ tebak Diane.  Indi menggeleng.

‘Tidak.  Tidak ada pertengkaran.  Hanya aku dan Tom sudah memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri.  Kamu tahu aku dan Tom sangat bertolak belakang.’

‘Karena dia putih dan kamu kuning?!‘ jerit Diane emosi.  ’Demi Tuhan, Indi, sekarang bukan jamannya lagi’

‘Bukan masalah kulit, Diane.  Bukan masalah dia Eropa dan aku Asia. Tapi lihatlah aku dan Tom.  Kami sangat berlainan.  Tom begitu sabar, pendiam, setia, penuh pengertian sedang aku … Aku adalah kebalikannya tak bisa tenang, cerewet, besar mulut dan mau menang sendiri.  Apakah mungkin dua kutub dipersatukan?’

‘Aku ingin tanya dari mana ide konyol itu berasal?  Darimu atau dari Tom?’

‘Dari kami berdua,’ jawab Indi bohong.  Ide itu seratus persen berasal darinya.  Tom sama sekali tidak setuju.  Dia terlampau mencintai Indi dan ide untuk berpisah itu begitu menggusarkan hatinya.  Mereka bertengkar hebat ketika Indi mengemukakan keinginannya.  Tapi bukanlah Indi kalau dia mau menyerah.  Dia mengemukakan berbagai alasan dari yang masuk akal hingga yang asal ngomong.  Keputusannya adalah mutlak dan tak dapat diganggu gugat.  Sekali dia berkata putus maka putuslah hubungan itu.  Beberapa hari kemudian Tom pulang ke Swiss dan berada disana selama musim panas tanpa pamit pada Indi dan kembali lagi ke Kent pada permulaan semester juga tanpa memberi tahu kedatangannya pada Indi.  Mereka belum bertemu lagi sejak pertengkaran hebat itu.

Dan kini Tom telah mendapatkan ganti,  bisik Indi.

Dengan malas dia bangkit dari tempat tidurnya kemudian membuka laci meja dan mengambil sebuah potret.  Bukan potret Tom tetapi potret Diane.  Potret itu lalu dipasang di figura yang kosong di samping potret Jimmy.  Sekarang di figura itu yang nampak adalah sepasang remaja yang sangat serasi, bukan lagi dua pemuda tampan dan gagah yang sedang memegang bola dengan senyum lebar di bibir mereka

Sesudah puas memandang foto Diane dan Jimmy, Indi bersiap-siap untuk pergi bekerja.  Ditatap wajahnya lama di kaca.  Dia merasa ada sesuatu yang lain dalam wajah itu tetapi tidak berhasil menemukan dimana letak kelainannya.  Kemudian dia menyambar jacket yang tergantung di belakang pintu dan berjalan keluar.

Melintas Perbatasan

KENNY’S memiliki semua persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi salah satu restaurant cepat saji favorit.  Letaknya begitu strategis, berhadapan dengan pintu gerbang utama Universitas Kent.   Bangunannya dirancang secara malang, apik dan artistik yang memaksa mata untuk terpukau bila memandangnya.   Menunya lumayan beragam dengan harga mahasiswa.  Dan yang terpenting Kenny’s mempunyai pelayan-pelayan yang prima dan terpilih.   Semuanya tampan dan cantik.  Mungkin inilah faktor utama yang menyebabkan pengunjung Kenny’s selalu berlimpah.

 Setiap malam halaman parkir di sisi kiri dan belakang rumah makan selalu penuh apalagi setiap akhir pekan dan hari-hari dimana Unversitas Kent menjadi tuan rumah pertandingan sepak bola.  Pelayan-pelayan yang terlatih itu sempat dibuat kelabakan oleh tamu yang tumplek yang puas hanya bisa duduk di dalam mobil mereka sendiri di tempat parkir karena tempat duduk yang disediakan di dalam dan diluar bangunan induk telah terisi oleh orang-orang yang datang lebih awal.

Malam ini termasuk salah satu malam yang padat.  Disamping Kent menjadi tuan rumah pertandingan sepak bola, malam ini adalah malam minggu.  Indi yang bertugas melayani pembeli bersama gadis lainnya hampir-hampir tak sempat untuk bernafas lagi.  Sebentar-sebentar dia harus menggunakan interkom yang menghubungkan dirinya dengan dapur untuk mendiktekan kembali makanan yang dipesan pembeli sementara itu jari-jari tangannya bermain lembut di atas mesin hitung dan dia dituntut pula untuk selalu mengembangkan senyum profesionalnya.  Belum selesai dia melayani seorang pembeli, pembeli yang lain sudah berteriak tak sabar.

‘Sibuk, Indi?’  tanya seorang gadis yang sudah berdiri di depan Indi.

‘Ya Tuhan, Cecil!’ jerit Indi.   ’Hampir aku tidak mengenalimu,’  lanjut Indi sambil tersenyum.   Bukan senyum profesionalnya lagi tapi senyum seorang gadis yang kelelahan.  Cecil tertawa sambil menyebutkan makanan yang diinginkannya.

‘Dua double cheeseburger, medium well dengan onion panggang dan lettuce, dua frenchfries sedang, dua strawberry pie, Bob.’   Ulang Indi melalui interkom.

‘Delapan belas dolar enam puluh lima sen, Cecil,’ katanya pada Cecil.   ‘Kamu nonton pertandingan tadi?’ tanya Indi sambil menanti Cecil mengambil uangnya.

‘Wah hebat sekali Swiss kita… dia mencetak dua touch down.  Seharusnya Kamu melihatnya bermain tadi,’  jawab Cecil sambil mengulurkan satu lembar dua puluh dollar.  Indi tersenyum lucu.  Sebenarnya dia tidak memerlukan komentar Cecil tadi.  Semua orang di restaurant itu telah membicarakannya.  Tom, si pirang dari Swiss dapat mencetak dua touch down berturut-turut di saat pertandingan hampir berakhir sehingga permainan yang tadinya draw bisa dimenangkan Kent dengan empat belas angka.

‘Kamu tidak datang ke apartemen Tom?’ ganti Cecil yang bertanya.

‘Begitu tugasku disini selesai aku akan kesana.  Nancy seharusnya sudah datang untuk menggantikanku sekarang.’   Jawab Indi sambil meyerahkan uang kembalian.

’Kamu tidak datang?’ tanya Indi.  Sementara itu makanan yang dipesan Cecil datang melalui roda berjalan.  Indi meraihnya dan diletakkan di atas baki.  Sesudah ditambahkan dengan dua gelas minuman, baki itu diserahkan pada Cecil.

‘Aku tidak bisa datang, ada date yang agak serius.  Aku akur-akur saja putusan rapat nanti,’ jawab Cecil sambil mengedipkan sebelah matanya.  Indi tersenyum senang.  Mereka tidak bisa ngobrol lama karena pembeli di belakang Cecil sudah menanti dengan tak sabar.

Nancy yang ditunggu-tunggu Indi baru muncul jam sembilan lebih sepuluh menit.  Sepuluh  menit terlambat dari waktu yang seharusnya.

‘Dari mana saja, Miss Nancy Drew?  Ada misteri yang harus dipecahkan?’ tanya Indi dongkol.  Nancy tersenyum malu dan berdiri di samping Indi siap mengambil alih tugas.

‘Maaf, Indi aku tidak bisa keluar dari stadion tadi.  Penuh sesak,’  Nancy mencoba menjelaskan keterlambatannya.  ’Oh ya, aku ketemu Tom tadi.  Dia titip salam dan cintanya buatmu,’ sambungnya.  Indi mencibir, dia tahu Tom tidak bakalan titip salam lagi untuk dirinya, apalagi cinta.  Kemudian dia menepuk bahu Nancy sebagai tanda tugas telah diserahkan.

‘Indi!’   panggil Nancy.

‘Kerja yang baik,’ sahut Indi tidak menoleh.

Sesudah mengganti pakaian kerja Kenny’s dengan pakaian biasanya, Indi segera keluar dari kamar ganti dan mau pergi diam-diam lewat pintu belakang.  Ternyata di depan dapur dia dihadang oleh Kenneth Finch, si pemilik restaurant.

‘Mau kemana?’ tanya Ken  heran.

‘Pulang tentu saja,’ sahut Indi

‘Tidak sekarang, Indi.  Kamu lihat kita begitu memerlukan tenaga saat ini,’ kata Ken menghiba.  Indi menggerakkan kepalanya dengan gerakan yang lucu.

‘Sorry, boss.  Sekarang sudah jam sembilan lewat seperempat dan tugasku sudah berakhir tadi jam sembilan,’ jawab Indi acuh sambil melewati Ken.

‘Jangan jual mahal kamu!’ teriak Ken.  Indi membalikkan badannya dan tersenyum kocak.

‘Aku ada keperluan penting, Ken.  Ada rapat KFS.’

‘Apa itu?’  Bob si juru masak yang ikut mendengar pembicaraan mereka ikut nimbrung.

‘KFS.  Kent’s Foreign Students.  Kumpulan mahasiswa-mahasiswa asing,’ jawab Indi.  ‘Aku harus hadir di sana karena aku salah seorang pengurusnya,’ sambungnya

‘Baiklah,’ Ken mengalah, ’aku tahu kemauanmu tidak bisa dicegah.  Dimana rapat itu diadakan?’

‘Apartemen Raintree,’ jawab Indi jujur.  Ken dan Bob terbahak mendengar jawaban itu.

‘Mengapa kalian tertawa?’ tanya Indi curiga.

‘Di apartemen Tom kan?’ goda Bob masih dengan tawa.

‘Masa bodoh!’ jawab Indi sambil berlalu.  Dia baru saja akan membuka pintu belakang ketika Ken memanggilnya kembali.

‘Ada apa?’ tanya Indi jengkel.

‘Gaji minggu ini tidak kamu ambil?  Tidak butuh uang?’ tanya Ken.  Wajah Indi yang tadinya keruh kini menjadi cerah kembali.  Kelelahannya hilang mendengar kata-kata itu.

‘Gila, hampir lupa aku kalau hari ini hari Sabtu,’ gumamnya sambil mengikuti Ken memasuki ruang kerjanya.  Ruang itu berbeda dengan ruang-ruang lain yang berada di restaurant, kecil dan penuh dengan buku-buku literatur.  Jika restaurant itu tidak seramai seperti sekarang ini, Ken akan menenggelamkan dirinya dalam buku-buku tersebut.  Dia adalah mahasiswa Arsitektur, teman kuliah Tom.

Sementara Ken menuliskan cek untuknya, Indi duduk di kursi putar sambil menggerak-gerakkan kursi itu ke kiri dan ke kanan.

‘Indi, Kamu benar-benar seruis dengan Tom?’ tanya Ken, mendongakkan wajahnya dari buku cek yang sedang dihadapinya.

‘Sorry tidak bisa memberi jawaban.  Itu masalah pribadi.’

‘Woi, jadi aku belum kamu anggap cukup dekat untuk mengetahui rahasiamu.’

‘Kalau rahasiaku kuberitahukan kepadamu, boss, namanya bukan rahasia lagi,’ jawab Indi.  Ken tertawa sambil menandatangani cek yang tadi tertunda.  Cek itu kemudian diulurkan kepada Indi yang segera disahut Indi dengan cepat.

‘Makasih, Ken,’  teriak Indi dan menghilang meninggalkan Ken yang termenung di depan buku ceknya.

Melintas Perbatasan

Indi keluar melalui pintu belakang kemudian berjalan lewat jalan samping menuju ke jalan raya.  Angin malam berhembus dingin.  Indi merapatkan jacketnya dan mempercepat langkahnya untuk mengurangi dinginnya malam.

Di langit ada sepotong bulan yang berusaha untuk mengirimkan sinarnya ke bumi, tetapi kalah oleh terangnya lampu-lampu sepanjang jalan itu.  Sisa-sisa pertandingan masih terlihat.  Bar-bar dan restaurant-restaurant penuh dengan warga Kent yang sedang merayakan kemenangan timnya.  Di depan setiap Bar dan Restaurant terdapt tulisan-tulisan dengan lampu berwarna-warni yang intinya memberi semangat kepada kesebelasan Kent.  Tetapi yang membuat Indi tersenyum adalah tulisan di depan Dorado Bar.  Disitu tertulis, Tom, kutraktir kau disini.

Setelah melewati Ramada Inn, Indi belok ke kanan.  Jalan di depannya kini gelap, hanya lampu-lampu mercury kecil saja yang menjadi penerang jalan.  Indi agak gentar.  Tom melarangnya jalan di tempat ini sendirian.  Tapi itu dulu.  Dulu sebelum dia sadar bahwa dia bukan pasangan yang baik bagi Tom.  Sekarang Tom tak berhak untuk melarangnya lagi.  Dia adalah dia.

Ketika melewati sebuah bangunan yang siangnya digunakan untuk bengkel dan malamnya dibiarkan kosong, ketakutan Indi tak tertahankan lagi.  Pernah seorang mahasiswa Kent diperkosa di tempat ini.  Indi bergidik.  Dipercepat langkahnya, setengah berlari.  Dia baru bisa bernafas lega ketika melihat apartemen Raintree yang terang di hadapannya.

Setelah menenangkan nafasnya barulah Indi memasuki lobby apartemen itu.  Disana ada beberapa pasang muda-mudi yang sedang pacaran.  Indi segera menuju ke deretan anak tangga.  Apartemen Tom ada di tingkat tiga dan biasanya Indi menggunakan lift untuk menuju ke sana, tapi kali ini Indi memilih untuk menggunakan tangga biasa.  Dia baru saja menyadari bahwa sebenarnya dia enggan dan takut untuk berjumpa dengan Tom, tetapi untuk berbalik dan melewati daerah yang baru saja dia lewati dia lebih tidak mau lagi.  Jadi untuk mengulur-ulur waktu digunakannya tangga itu.

Keraguan Indi mencapai puncaknya ketika dia telah berdiri di depan pintu apartemen Tom.

Masuk… Tidak… Masuk… Tidak… Masuk.  Ya Tuhan mengapa aku sebegini pengecut?  Mengapa aku tidak berani menghadapi Tom?  Bukankah aku sendiri yang memilih keadaan macam ini?  Aku harus menunjukkan pada Tom bahwa aku konsekwen dengan putusanku dulu untuk tetap berkawan.  Kemudian pelan-pelan diketuknya pintu itu.  Suara langkah terdengar mendekat sejenak kemudian pintu terkuat.  Antonio, mahasiswa dari Italia yang membukakan pintu untuknya.

Buon giorno, Tonino!’ Indi memberi salam dalam bahasa Italia sambil tersenyum manis, dia sama sekali tidak tampak gundah.  Tonino adalah panggilan akrab bagi Antonio.  Antonio membalas salam Indi dalam bahasa Italia pula dan mempersilahkan Indi masuk.  Di dalam sudah banyak mahasiswa dan mahasisiwi yang berkumpul.  Indi melihat Tom duduk di samping Ursula, gadis Austria yang pergi ke pesta Home Coming dengan Tom.  Tom tampak agak kaget melihat siapa yang datang.

‘Hallo semua!’ seru Indi berusaha untuk bersikap biasa walau sebenarnya dia canggung setengah mati.  Kemudian dia duduk disamping Kahar mahasiswa dari Malaysia dan berbisik-bisik dalam bahasa Melayu.

‘Hei Tom, kudengar Kamu baru pulang dari Swiss ada oleh-oleh untukku?’ tanya Indi selang beberapa saat.  Tom terhenyak mendengar pertanyaan Indi yang tak disangka-sangka itu.  Dia hanya bisa tersenyum kecut dan memandang Indi tajam.  Indi tersenyum penuh kemenangan.  Kau lihatlah aku, Tom, aku bisa sesantai ini dan Kamu tidak.  Kemudian diraihnya keripik kentang yang ada di depannya dan mulai makan.  Sementara itu matanya mengawasi seluruh apartemen.  Tak banyak yang berubah.

‘Bisa kita teruskan pembicaraan kita?’  Hans Norwegia, si ketua KFS memulai.

‘Boleh aku tahu ini tentang apa?’ sela Indi.

‘Lebih baik kuulangi dari awal sehingga yang tadi belum datang bisa mendengarnya,’ kata Ursula sambil melihat ke tablet yang dibawanya.

Gadis itu begitu manis dan feminin.  Mata biru dan rambut pirangnya mirip milik Tom.  Mereka berdua sangat serasi, pikir Indi sambil memandang Ursula yang duduk di samping Tom.

‘Kita merencanakan untuk pergi ke Jackson Port, Canada pada akhir pekan yang akan datang,’ ucap Ursula lembut.  Indi harus iri pada kelembutan suara Ursula. ’Yang bertanggung jawab dalam perjalanan ini adalah Tom dengan dibantu oleh Tonino, Alberto dan Juan.’   Selama Ursula berbicara itu Indi melihat kalau mata Tom selalu memandang Ursula.  Dan pandangannya lain , pikir Indi yang tiba-tiba merasa berduka.  Cemburu? Tidak, bantah Indi sengit.

‘Oke, Tom, Kamu mau membicarakan rencanamu?’ Ursula memberi Tom kesempatan.  Sebelum Tom memulai berbicara dia memandang semua teman-temannya, tetapi ketika sampai pada Indi dengan cepat dipindahkan ke yang lainnya seakan memandang Indi begitu menusuk hatinya.  Indi menyadari hal itu pula tetapi pura-pura tidak tahu.

‘Begini…  Kita berangkat hari Jum’at pagi jam 8 dari Auditorium.  Juan telah menyewa greyhound untuk kita.  Kita akan makan siang di Cleveland.  Saya kira Indi bersedia mengurusi makanan kita seperti waktu-waktu yang lalu.’   Katanya, kali ini Indi terpaksa harus memandang Tom tanpa ekspresi.

‘Bukannya aku menolak, tapi aku ingin menjadi wisatawan biasa.  Setiap kali kita mengadakan acara, aku selalu sibuk.  Bahkan aku sering harus mengeluarkan uang dari sakuku sendiri,’ kata Indi.  Kalimat terakhir cuma gurauan saja.  Luis, temannya dari Chile tertawa ngakak mendengar penolakan Indi.

‘Apalagi harus berurusan dengan anak-anak Amerika Selatan macam Luis,’ sambung Indi tidak mengacuhkan tawa Luis.  ’Makannya banyak dan tidak  ingat  jatah teman-temannya.  Bagaimana kalau kali ini kita serahkan saja pada gadis Amerika Selatan.  Nibia misalnya?’ usul Indi.  Nibia yang namanya disebut berteriak  protes.

‘Ayo Nibia, terima usul itu,’ dorong Luis.  ‘Nanti kubantu kau.  Kita bisa mendapatkan untung dari kerja ini seperti yang biasa Indi terima.’    Indi tersenyum lebar mendengar olok-olok Luis.

‘Bagaimana, Nibia?’ tanya Tom.  Dia merasa Indi menolak tugas itu karena kali ini dia yang bertanggung jawab.  Nibia bimbang.

‘Tentu saja kamu tidak akan bekerja sendirian.  Aku pasti membantumu demikian pula Wiwan, Keiko dan yang lain-lainnya.  Kamu hanya mengkoordinasikan saja, oke?’  bujuk  Indi.

‘Si,’ jawab Nibia akhirnya setuju.

 Sesudah urusan perjalanan selesai, maka pertemuan dilanjutkan dengan obrolan santai.  Indi berjalan ke dapur untuk mencari minuman.  Tanpa disengaja ketika melewati meja belajar Tom , dia melihat kalau foto dirinya yang biasanya dipasang disitu sudah tidak ada lagi.  Indi tercenung.  Kemudian dia membuka lemari es untuk mencari minuman yang diinginkannya dan berusaha melupakan hal tersebut.

‘Aku tidak mempunyainya,’ tiba-tiba terdengar suara Tom.  Indi tidak menyangka kalau Tom sudah berdiri di belakangnya.  Waktu dia berjalan menuju dapur tadi dia melihat Tom masih bercakap-cakap dengan Ursula.

’Sudah lama aku tidak membeli gingerale,’ lanjut Tom.  Gingerale adalah minuman kegemaran Indi dan Tom dulu selalu menyimpan di lemari es untuknya.  Indi memaksakan diri untuk tersenyum

‘Tidak apa-apa, susupun jadi,’ jawab Indi sambil mengeluarkan karton susu.  Dia menuangkan sedikit ke dalam gelas yang dibawanya dan menawarkan pada Tom kalau dia juga mau.  Tom menggeleng sambil matanya menatap langsung ke mata Indi.  Indi melihat mulut Tom terbuka siap untuk mengatakan sesuatu, tetapi mulut itu kembali terkatup lagi.

Mengapa jadi begini kaku?  keluh Indi.  Bukan ini yang kukehendaki.  Aku tidak ingin Tom mencintaiku lagi tapi tidak lantas jadi begini jauh.

‘Bagaimana keluargamu di Swiss, Tom?’ tanya Indi berusaha mencairkan suasana.

‘Baik-baik,’ jawab Tom sambil memandang Indi lama.  Indi kecut menyadari bahwa pandangan Tom masih seperti dulu, dalam dan lembut.  Indi menghindari pandangan itu, tetapi tangan Tom lebih cekatan diraihnya bahu Indi dan memaksanya untuk menatap matanya.

‘Indi,…’   suara Tom bergetar.  Indi menggelengkan kepalanya.

‘Mengapa kamu membohongi dirimu sendiri? Kamu masih mencintaiku,’ bisik Tom sambil matanya tak lepas dari mata Indi.

‘Tidak !’ jawab Indi sambil melepaskan diri dari tangan Tom.  Kemudian dia berjalan setelah  memberikan sebuah senyum yang tidak bisa ditafsirkan artinya oleh Tom.

Melintas Perbatasan

‘Bangun! Bangun! Bangun!’  teriak Diane sambil membuka tirai jendela kamarnya.  Sinar matahari menyerbu masuk.  Indi terpaksa membuka matanya karena silau.

‘Hei, apa yang kamu lakukan?!’ teriak Indi dongkol.  Diane tertawa senang.  Biasanya yang membuka tirai jendela adalah Indi dan biasanya dia yang berteriak-teriak protes.

‘Bangun,  non, sudah jam enam.’

‘Diane, kamu masih waras? Ini hari Minggu, tolol!’ gerutu Indi.

‘Mau kemana kamu?’ tanya Indi ketika melihat Diane sudah rapi.  Indi menggeliatkan badannya beberapa kali dan duduk bersila di atas tempat tidurnya.  Kantuknya masih belum hilang.  Semalam dia tidak bisa tidur.  Resah! Dia masih terjaga ketika Diane masuk ke kamar dengan mengendap-endap takut mengagetkannya tetapi dia terlalu malas untuk menegurnya.

‘Enggak ke kamar mandi?’ Saran Diane ketika melihat Indi tak beranjak dari tempat tidurnya.  Indi menguap kemudian pelan-pelan dia turun dan seperti kapal oleng berjalan ke kamar mandi.

Ketika kembali ke kamarnya lagi, Indi kaget melihat sebuah figura dempet yang lain di samping figura dempet yang berisi foto Jimmy dan Diane.  Di figura itu dia lihat dirinya sendiri dan.  ..  Tom.  Diane tersenyum melihat kekagetan Indi.

‘Surprise!’ teriaknya.

‘Lelucon konyol,’ komentar Indi sambil menuju meja dimana figura itu berada dan membaliknya.  Diane mengambil figura itu dan diamatinya.

‘Kalian begitu serasi.  Cantik dan tampan.  Tahukah kau, In, kalian mempunyai senyum yang sama?’ kata Diane.  Indi tidak menanggapinya, dia sedang berganti pakaian dan membelakangi Diane.

‘Indi…’   panggil Diane.

‘Ya?’

‘Pemuda seperti apakah yang kamu cari? Apakah Tom tidak cukup baik bagimu? Apakah Kamu merasa orang Asia lebih berkualitas dari lainnya?’

‘Ya,’  jawab Indi pendek sambil meletakkan pakaian kotornya di kolong tempat tidur.

‘Indiiiiiiii…  ,’teriak Diane.

‘Jangan sewot.  Dia terlalu baik buatku,’ ralat Indi.  ’Aku akan pergi sekarang dan bila aku pulang nanti aku tidak ingin melihat foto itu masih berada di atas meja,’ sambungnya.  Diane memandangnya nanar.

‘Mau kemana kamu? Aku mau mengajakmu pergi.’

‘Kamu? Kamu mau mengajakku pergi pada hari Minggu?’ tanya Indi tidak percaya.  Mereka sering pergi bersama, tetapi hari Minggu adalah hari khusus Diane dan Jimmy.

‘Ya,’ jawab Diane mantap.’   Aku dan Jimmy merencanakan untuk pergi ke luar kota dan berkuda.  Kamu harus ikut.’

‘Aku tidak mau mengganggumu.  Pergilah kalian berdua, jangan risaukan aku.  Aku akan jalan-jalan ke auditorium, banyak acara yang menarik pagi ini.’

‘Indi aku dan Jimmy benar-benar mengharap Kamu mau ikut.’

‘Terima kasih atas perhatian kalian.  Tapi pagi ini George Robbins akan mengadakan konsert pertamanya sebagai orang yang bisa melihat.  Dia baru saja menjalani operasi mata.  Aku ingin melihatnya.’

‘Indi, ikutlah aku, please?’ bujuk Diane.  Indi heran, biasanya kalau dia malas untuk diajak pergi,  Diane tidak akan mengajaknya pergi.

‘Ada apa sebenarnya.  Aku ingin kamu jujur?’ tanya Indi.

‘Emmm.. Jimmy juga akan mengajak Tom, jadi…’   jawab Diane, tapi sebelum dia selesai, Indi telah keluar dari kamar.

‘Indi!  Indiii!’ teriak Diane sambil membuka pintu kamarnya.  Indi pura-pura tidak mendengar panggilan Diane, dia berjalan sepanjang koridor yang masih senyap.

‘Indii…  !’teriak Diane lebih keras.

‘Indi !’

‘Indi, Kamu keras kepala, sombong, tolol, …’ omel Diane keras.  Indi tersenyum mendengar omelan Diane tersebut, kemudian dia masuk ke lift.  Sebelum pintu lift tertutup Indi melambai dan tersenyum pada Diane yang memandangnya dengan dongkol kemudian membalas Indi dengan kepalan tangan.

Indi tidak langsung menuju auditorium.  Dia berjalan-jalan di sekitar stadion kemudian duduk di sebuah bukit kecil di dekat sebuah batu peringatan yang dipasang untuk mengenang lima mahasiswa Kent yang tertembak dan terbunuh pada waktu mengadakan demontrasi dan bentrok dengan polisi federal beberapa puluh tahun yang lalu.  Di dekat batu itu setiap hari ada beberapa tangkai bunga segar entah siapa yang meletakkannya.

 Dari tempat Indi duduk sekarang, dia bisa melihat pemandangan ke segala jurusan.  Gedung arsitektur berada di sebelah kirinya.  Di depannya agak kebawah adalah taman dengan bunga-bunga mawar yang sedang berkembang.  Di sebelah kanan jauh adalah asrama mahasiswa bagi mahasiswa yang telah berkeluarga.

Jam sembilan Indi baru meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju auditorium.  Dia hanya berada di auditorium sejenak kemudian pergi ke sanggar tari Guy Lumbardo di pusat kota.  Sudah lama Indi tak menjejakkan kakinya disana.  Pelatihnya sangat senang melihat Indi datang dan menawarkan peran dalam pertujukkan ballet yang akan datang.  Tetapi ditolak Indi.  Dia belum mau menari lagi.  Dia melihat latihan hingga sore hari.  Dan ketika pelatihnya mengajaknya untuk makan siang bersamanya, Indi tidak tega untuk menolaknya lagi.  Ketika hari hampir malam barulah Indi ingat untuk pulang.

Diane telah menantinya ketika dia masuk.  Dia tidak membalas sapaan Indi.  Masih marah, pikir Indi sambil mengeluarkan pakaian-pakaian kotornya yang berada di jemari bagian bawah dan di kolong tempat tidurnya.

‘Semoga Kamu puas dengan dirimu sendiri,’ ucap Diane rendah.  Indi memandang Diane tidak berkomentar.

‘Kasihan Tom,’ lanjut Diane.

‘Diane, itu masalah pribadi…’

‘Dan aku tak perlu campur tangan.’ Diane meneruskan. ’Tapi kali ini aku terpaksa harus berpihak pada Tom, karena kamu sudah kelewatan’

‘Aku tidak melakukan kesalahan apapun.’

‘Kesalahanmu terlalu banyak.’

‘Tolong sebutkan,’ tantang Indi.

‘Indi, bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu dan Tom masih akan tetap bersahabat walau kalian tidak pacaran lagi?  Tapi apakah tindakanmu itu tindakan seorang sahabat?’ tanya Diane. ’Berapa patah kata yang kau ucapkan semalam di apartemen Tom?  Dan alasan apa yang akan kau kemukakan untuk tidak ikut berkuda tadi pagi?  Konsert George Robbins? Konsert itu baru akan diadakan minggu depan dan tadi pagi hanyalah konsert seniman-seniman kampus yang aku tahu pasti kamu tidak menyukainya,’ sambung Diane cepat.  Indi terdiam.  Mati kutu.

‘Indi kalau kamu sudah tak mau bersahabat dengan Tom, mengapa Kamu datang ke apartemennya semalam? Tom heran atas kedatanganmu.’

‘Karena ada pertemuan KFS.  Apakah dia tak mengatakannya?’

‘Indi, jangan munafik! Bukan itu tujuan utamamu.  Kamu hanya akan melihat keadaan Tom.  Kamu akan tersenyum puas bila melihat Tom menderita karena ulahmu.  Dan itu telah kau buktikan semalam.  Kamu ingin melihat dia menderita lagi dengan tidak memenuhi ajakanku tadi pagi.’

‘Aku tidak sejahat yang kamu kira,’ sanggah Indi.

‘Lebih jahat?  Indi, kalau kamu tidak mencintai Tom lagi mengapa tidak kamu biarkan dia mencintai wanita lain?’

‘Aku tidak  pernah menghalang-halangi dia untuk mencintai siapapun.  Apakah dia merasa aku menghalang-halanginya?’

‘Bukan dia yang merasa, tapi Ursula?’

‘Ursula?’

‘Dia mencintai Tom.  Dia bilang kepadaku tadi pagi.  Dan dia merasa hampir berhasil mendapatkan cinta Tom andai saja kamu tidak masuk lagi di dalam kehidupan Tom.  Sudah empat bulan kamu tidak berhubungan lagi dengan Tom, tetapi tiba-tiba saja kamu muncul di apartemen Tom seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan menghancurkan segalanya,’ Indi terpana mendengar kata-kata Diane.

‘Indi, apakah kamu masih mencintai Tom?’

‘Tidak lagi kurasa,’ jawab Indi tak pasti.

‘Kamu tahu aku sangat menyayangimu’ Indi.  Aku ingin kamu kembali kepada Tom kalau kamu masih mencintainya.  Tetapi jika memang kamu tidak mencintainya lagi…  tolonglah bebaskan mereka.  Tom dan Ursula sama-sama terombang-ambing atas sikapmu.’

‘Maksudmu?’ tanya Indi tidak mengerti.

‘Pilihlah salah satu, kembali kepada Tom atau jauhi dia sama sekali.’

‘Baik.  Akan kujauhi dia sejauh-jauhnya,’ kata Indi sambil memasukkan pakaian-pakaian kotornya ke dalam tas kertas.  Dia tidak berani memandang Diane takut dari matanya bisa terbaca isi hati yang sesungguhnya.

‘Indi…’

‘Aku mau mencuci pakaian.  Kamu ikut?’ tanya Indi tidak memberi kesempatan Diane untuk melanjutkan kata-katanya.  Diane segera bangkit dari tempatnya dan mengeluarkan pakaian-pakaian kotornya dari kolong tempat tidur.

‘Indi…’

‘Cepatlah Diane, ini hari Minggu biasanya ruang cuci akan penuh,’ ajak Indi tidak sabar.

‘Indi biarkan aku menyelesaikan omonganku terlebih dulu.’

‘Kalau mau membicarakan tentang Tom, aku tidak mau dengar,’ kata Indi sambil membuka pintu.

‘Kamu menyakiti hatimu sendiri,’ bisik Diane.  Indi tidak menyahut.  Dia menyuruh Diane keluar dulu kemudian dia menutup pintu dan menguncinya dari luar.  Berdua mereka berjalan menuju ke ruang cuci di lantai paling bawah.  Canda mereka tidak terdengar.

Nafas Muda Kota Yogya

Untuk ketiga kalinya Dina harus menghentikan sepeda motornya karena traffic light menyala merah.  Sekejab dia melirik pada pengendara trail yang berhenti di sampingnya.  Pemuda berpakaian urakan yang tadi juga berhenti di traffic light kedua di simpang tiga Gondomanan.  Pemuda itu menggerak-gerakkan tangan kanannya yang berada di stang gas sehingga bunyi mesinnya meraung-raung.  Dina menoleh dan menatap tak senang ke arahnya.  Pemuda itu balas menatap Dina dan mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum lebar hingga ujung bibirnya hampir menyentuh daun telinga.  Dengan cepat Dina membuang muka.  Pemuda itu tertawa mengejek.

 ‘Pemuda sinting!’ maki Dina dalam hati.  Pemuda itu makin mempercepat frekuensi gerakan tangannya sambil tangannya yang satunya lagi menekan knob klakson berkali-kali sehingga menimbulkan suara yang membisingkan telinga dan memusingkan kepala.

 ‘Yakis kamu!’ teriak Dina dongkol.  Yakis dalam bahasa Ternate berarti monyet.  Dina mendapatkan kata itu dari Yance yang  berasal dari Maluku Utara.

 ‘Apa?’ tanya pemuda itu lantang berusaha mengalahkan bunyi mesin motornya sendiri.  Dina tak sudi menjawab.  Pemuda itu mengecilkan gasnya dan bertanya lagi.

‘Ya …  kis,’ jawab dina.

‘Apa itu?’ tanya si pemuda bingung.

‘Ya kamu itu,’ jawab Dina acuh.

‘Aku tidak mengerti,’ kata pemuda itu dengan polos sehingga kesan sok jagoan yang baru saja ditunjukkannya luntur.  Dina menahan tawa.

‘Makanya sekolah yang benar biar mengerti,’ kata dina sambil mengalihkan perhatiannya.  Kali ini dia menatap mobil sport berwarna  biru metallic yang berhenti tepat di depannya.  Begitu mulus dan …

‘Hei itu ulang tahunku …itu inisialku!!!’ cetusnya tidak sadar ketika tanpa disengaja matanya nyasar ke plat nomer mobil itu…  AB-2808-DR.  Kemudian dia menjulurkan kepalanya ingin melihat wajah yang ada di dalam mobil.  Tidak berhasil.

 ‘Enggak sekeren mobilnya,’ komentar si pemuda ’Yakis’ melihat ulah Dina.

‘Enggak  minta pendapatmu,’ bentak Dina.  Untung lampu  lalu lintas segera berganti hijau hingga dina dapat melejitkan sepeda motornya.

Di depan Hotel Melia Purosani,  Dina dapat mendahului mobil metallic yang tadi berhenti di depannya.  Ketika tepat  berada di samping kanan mobil itu, Dina melongok untuk melihat pengemudinya.  Tetapi begitu melihat wajahnya langsung dia tancap gas.

‘Lagi-lagi  Tionghoa.  Tak ada orang pribumi asli yang  dapat naik sedan semewah itu,’ pikirnya kecewa.   Di belokan Pasar Kembang ganti mobil tadi yang mendahului Dina.  Dina berpikir sejenak sebelum mempercepat  kendaraannya. Tepat di bawah Kretek Kewek Dina dapat berada di samping mobil itu.  Tapi …  Entah disengaja atau tidak pemuda yang berada di dalam mobil itu meludah.  Ujung rok Dina terkena sedikit.  Langsung Dina memaki.  Semua kata-kata kotor yang pernah didengar dan dibacanya meluncur dari mulutnya sederas aliran Kali Code.  Sayang sang pengemudi mobil biru metallic enggak  bisa mendengarnya.  Itu membuat Dina  semakin dongkol.

‘China  yakis! Tak tahu aturan, enggak pernah diajar adat,’ gerutunya sambil meminggirkan  motornya.  Sesudah mematikan mesin dia mengambil  tissue dari dalam tasnya dan mulai membersihkan rok yang terkena percikan air liur.  Sebenarnya yang terkena hanya sedikit saja, tetapi  berhubung hatinya panas maka rok yang dikenakannya seakan benar-benar kotor dan  bau.  Selagi dia berpikir apa yang akan dilakukannya  kemudian, datang si pemuda ’Yakis’ dan berhenti di dekatnya.

‘Ada  apa? Mogok ya?’ tanyanya penuh perhatian.   Dina siap membentaknya dengan kata-kata  pedas, tapi urung.

‘Ah enggak,’  jawab Dina manis.  ’kamu ingat China gila yang tadi berhenti di depan kita?’ Dina  merobah siasat.’Hmm …  siapa tahu Yakis  ini bisa diajak kompromi untuk menghajar si China keparat,’ pikir Dina dalam hati.

‘Yang  mana?’ tanya si pemuda sambil mengernyitkan dahi.

‘Yang  pakai mobil sport biru metallic mulus tadi.’

‘O  iya.  Kenapa?’

‘Nih  lihat apa yang dilakukannya,’ kata Dina sambil menunjuk roknya yang sudah tak ada  apa-apanya lagi.  ’Ngeludahin aku, anak Indonesia  asli,’ lanjut Dina.

‘Ah enggak  disengaja barangkali,’ pemuda itu mengeluarkan pendapatnya.

‘Pasti disengaja,’ bantah Dina.  ’China-China di sini semuanya memang begitu.  Merasa diri kaya.  Merasa diri penting karena dapat tinggal di  sepanjang jalan-jalan penting.  Mereka sukanya  berlagu.  Ih …  sebel,’ omel Dina sambil menstater motornya.

‘Kurasa  tidak semuanya begitu,’ pemuda itu berargumentasi.

‘Semuanya  begitu.  Kalau ada China yang baik itu namanya  tidak normal.  Anomali.  Suatu perkecualian yang jarang  terjadi.  Kalau mereka suatu saat berbaik  hati, pasti ada maksud yang disembunyikan.’ Dina menekankan setiap kata yang dianggapnya  penting dan menjalankan sepeda motornya.

‘Kalau  demikian kamu bersikap prejudis.  Tidak baik  seperti itu.’

‘Aku  tak butuh nasihatmu.  Kalau aku prejudis terhadap  China itu adalah hakku,’ potong Dina sambil mengebutkan motornya.  Si pemuda ikut-ikutan mengebutkan motor trailnya  hingga selalu dapat menyamai kecepatan  Dina.

‘Aku  sudah sampai,’ kata Dina ketika mereka telah berada di depan sekolah Dina.  Pemuda itu menghentikan sepeda motornya sementara Dina telah membelok masuk halaman sekolah.

‘Hei,  sebentar!’ teriak pemuda itu.  Dina menghentikan  motornya dan menoleh.

‘Ada  apa? “

‘Namamu  siapa?’ tanya si Pemuda.  Dina tertawa nyaring.

‘Namaku  Yakis,’ teriak Dina sambil meneruskan perjalanan.

Ketika  Dina memasuki kelasnya, semua temannya sudah berada di dalam kelas.  Seperti biasanya jika ada pekerjaan rumah maka  dapat dipastikan semua temannya akan datang lebih awal dan mengcopy pekerjaan rumah  temannya yang mempunyai otak cemerlang.  Kemudian  Dina mendudukkan dirinya di samping Yance, gadis berkulit putih berambut  panjang yang sedang asyik menulis.

‘Buram  amat wajahmu.  Ada problem?’ tanya Yance tanpa  menoleh ke Dina.

‘Aku  baru saja dihina seseorang.  kamu mau menolongku?’  tanya dina.  Yance menghentikan pekerjaannya,  menatap dina serius.

‘Siapa  yang menghinamu? Kuganyang dia,’ bisik Yance sambil menutup bukunya.  Diam-diam Dina mengagumi temannya yang satu ini.  Walaupun wajahnya tidak secantik teman-temannya  yang lain tetapi rasa kesetia kawanan selangit.

‘Aku  tidak tahu namanya.  Aku tidak tahu rumahnya.  Satu-satunya yang kuketahui dia orang China,’  jawab Dina.  Kalau orang lain yang diajak  bicara pasti akan mentertawakannya, tetapi berhubung yang diajak bicara Yance, yang  mempunyai solidaritas setinggi gunung, maka dia tidak tertawa.  Dia mengetuk-ngetuk kan ballpointnya di bangku  sambil berpikir bagaimana mungkin seseorang yang belum dikenal Dina bisa melakukan  penghinaan yang membuat wajah Dina buram seburam kaca di pagi hari.

‘Bagaimana  itu bisa terjadi?’ tanya Yance setelah lama tak bisa membayangkan jalan cerita  temannya.  Kemudian Dina menceritakan semuanya  dari awal lengkap dengan titik-komanya.

‘Kurangajar  amat,’ geram Yance.’Orang kalau sudah jadi Maliong sering lupa asalnya.  Tidak sadar rupanya dia dari mana dia dapat memperoleh  kekayaannya,’ cerocos Yance.  Tak disadari  Yance telah menggunakan kata-kata yang tak di mengerti Dina.

‘Apa  itu maliong?’ tanya Dina melupakan masalah pokoknya.

‘Milyuner,  tolol,’ kata Yance.  Dina tertawa.

‘Apakah  kita akan mendiamkannya saja?’ tanya Dina.

‘Tentu  saja tidak,’ tukas Yance.  ’Dengar baik-baik Din.  Nomer mobil itu sama dengan ulang tahunmu.   Huruf belakangnya seperti inisial namamu.  Berarti kita tahu nomor mobilnya.  Nah, kita mulai dari situ.’

‘Apakah  kita akan keliling kota untuk mencari mobil itu?  Nyerah deh kalau aku kamu suruh  melakukan hal itu.  Tak sanggup,’ protes Dina.

‘Tentu  saja tidak.  Aku tidak segila itu,’ kata Yance.

‘Lalu?’  tanya Dina.  Yance diam saja.  Dia berpikir bagaimana mendapatkan cara yang tidak ’gila’  untuk memperoleh informasi tentang pemilik mobil berwarna metallic yang telah menghina  temannya.

‘Ah Yong,’  teriak Yance akhirnya.  ’Dia pasti tahu mobil-mobil mewah yang dimiliki orang-orang  sebangsanya.’

‘Aku  tak mau berhubungan dengan China lagi, tak terkecuali si Yong,’ kata dina.

‘Tak  ada jalan lain, Din.  Lagi pula Ah Yong orangnya  baik, tidak semua China berhati jelek lho.’

‘Pokoknya  aku enggak mau.  Kalau kamu mau tanya,  silakan.’

‘Oke,  kamu tenang-tenang saja.  Tahu beres,’ kata  Yance sambil membuka bukunya kembali.

‘Keesokan  harinya Yance telah mendapatkan semua informasi, baik yang diperlukan maupun yang  tidak.

‘Ayo,  Din,’ ajak Yance pada istirahat pertama.   Kemudian mereka menuju ke sebuah bangku beton yang ada di bawah pohon karet  yang berada di halaman tengah sekolah mereka.   Sesudah duduk Yance mengeluarkan sesobek kertas kumal pembungkus rokok.

‘Mobil  itu mobilnya babah Kwan Chee Wai,’  Yance mulai bercerita sambil membaca tulisan  pada kertas yang ada di tangannya. ’Babah ini pemilik toko sepatu Lion.  Itu lho yang di jalan Solo.’

‘Yan,  orangnya masih muda.  Paling banter  dua tahun di atas kita,’ potong Dina.

‘Sabar  dulu …’ kata Yance sambil melicinkan kertasnya.  ’Dia punya tiga anak laki-laki.  Satu kuliah di Sanata Dharma, satu lagi sekolah  di De Britto dan yang terkecil sekolah di Budya Wacana.’ Yance berhenti sejenak  untuk melihat reaksi Dina.  Tapi wajah Dina  begitu tenang tidak menunjukkan apa-apa.

‘Yang  kuliah di Sadar namanya Kwan Kim Fui, biasa di panggil Kim.  Kurasa orang inilah yang meludahimu.  Orangnya memang agak sombong,’ lanjut Yance.  Dina memandang Yance kagum.

‘Bagaimana  manusia satu ini bisa memperoleh data selengkap itu.  Pantas deh untuk petugas sensus,’ pikir Dina.

‘Anak  yang kedua.  Aduh ma …  Dia paling ganteng di antara semuanya.  Wajahnya mirip Tou Ming She-nya Meteor Garden, enggak dhing mirip  Adam Jordan.  Enggak tampak deh kalau dia  itu orang China.’

‘Biar.  Nah teruskan,’ potong Dina.

‘Di De  Britto dia juara umum.  Jurusan IPA kelas  tiga.’

‘Kenapa  sih kamu kok jadi antusias banget nyeritakan yang ini.  Aku enggak butuh dia aku cuma butuh yang, siapa  tadi …  Kim …  Kim.’

‘Oke  …’ Yance menurut,  ’Kim Fui… Nah, si Kim Fui ini punya adik sekolah di De ..’

‘Setan  kamu!’ teriak Dina dongkol.  Yance tertawa  ngakak.

‘ kamu ingin dengar tentang adiknya yang bungsu?’

‘Enggak.’

‘Pacar  Kim Fui ini si Bimbi.  Ingat enggak kamu sama  ratu Disco Colombo yang cantik nan jelita itu? Namanya yang sebenarnya adalah Tan  Beng Choo,’ kata Yance.  Dina tertawa senang.  Yance mau menambah keterangannya lagi tapi keburu  distop Dina.

‘Kurasa  cukup lengkap.  Kamu kuangkat jadi detektifku,’  kata Dina sambil bangkit setelah terlebih dahulu menyerobot kertas kumal Yance.  Yance tersenyum puas.  ’Sekarang ayo ikut aku.  Kita jalankan misi kita,’ lanjut Dina.

‘Apa  yang akan kamu lakukan? kamu tidak akan ngawur kan? “

‘Sejak  kapan orang yang namanya Yance kenal takut?’ tantang Dina.  Dan yance mengikuti langkah Dina.  Mereka keluar menuju kantor telpon yang berada  di sebelah timur sekolah mereka.

Seorang gadis berseragam Telkom menegur Dina ketika Dina dan Yance memasuki Kantor itu.

‘Eh,  mbak Yanti, mau pinjam telpon, mbak,’ kata Dina manis.

‘Emang enggak bawa HP?’ tanya gadis yang dipanggil Yanti itu.

‘Kelasku lagi dihukum enggak ada yang boleh bawa HP ke sekolah minggu ini ..’ sahut Dina mulus.  Untuk yang mau Dina lakukan ini dia harus menggunakan telpon umum.  Dia tidak mau telponnya terlacak.  Yanti tersenyum maklum dan mengantar mereka menuju ke deretan telpon umum yang lengang.

Dina dan Yance ke sebuah stand telpon yang ada di ujung barat.

Setelah Yanti pergi, Dina langsung membuka buku telpon dan membolak-baliknya mencari nama Kwan Chee Wai, tapi tak dijumpainya.

‘Kamu  mau menelpon siapa?’ tanya Yance.

‘Kwan  Chee Wai,’ jawab Dina.  Yance mengeleng-gelengkan  kepalanya.

‘Berikan  buku itu padaku,’ pinta Yance.  Dina mengulurkannya.  Yance membalik beberapa halaman dan langsung menemukan nomor telpon toko sepatu Lion.

‘Nih,’  kata Yance sambil menunjukkan sebuah nomor.   Dina tersenyum menyadari ketololannya.   Kemudian dia memutar nomor tersebut.  Terdengar deringan dua kali sebelum telpon di seberang diangkat.

‘Hallo,  toko sepatu Lion di sini,’ terdengar suara wanita.  Dari logatnya yang medok, Dina tahu kalau dia  orang Jawa.

‘Hmm  …  pelayannya,’ pikir Dina.

‘Saya  mau  bicara dengan…’ Dina mencari nama Kwan Chee Wai di kertas kumal Dina, tapi  tidak ketemu.

‘Kwan Chee Wai,’ bisik Yance.

‘Saya  mau bicara dengan Kwan Chee Wai,’ kata Dina tanpa berusaha memakai embel-embel bapak,  tuan, engkong atau babah di depan nama Kwan Chee Wai.

‘Ada  perlu apa?’ tanya si pelayan kenes.  ‘Tapi  babah lagi sibuk itu, mbok nanti sore nelponnya,’ suara si pelayan kemayu.  Dina diam sejenak.

‘Saya  tidak mau tahu apakah dia sibuk atau tidak.   Saya butuh Kwan Chee Wai sekarang juga.   Ini menyangkut masalah hidup dan mati.   Sana lari panggil dia!’ bentak Dina menakut-nakuti.  Yance memandang Dina sambil tersenyum lebar.

‘Baik  saya panggilkan tunggu sebentar,’ kata pelayan itu gemetar.  Dina tertawa.   Beberapa saat kemudian terdengar suara seorang laki-laki.

‘Hallo,  saya Kwan Chee Wai, bicala dengan sapa ya saya?’ Dina, hampir tertawa mendengar  irama suaranya, tetapi dengan keras ditahannya agar tawanya tak keluar.

‘Tak  perlu tahu siapa saya.  Sekarang saya ingin  kamu mendengarkan apa yang akan saya omongkan,’ kata Dina angker.  Orangnya yang ada di seberang tak mengeluarkan  suara apa-apa.  Dina membayangkan orang itu  pasti gemetar ketakutan karena bentakannya.

‘Kamu punya anak yang namanya Kim Fui? “

‘Iya,  benal,’ jawab Kwan Chee Wai gagap.

‘Hmm…’  dengus Dina.  kamu pasti tak pernah mengajar  adat kepada anakmu yang satu ini.  Kamu merasa  kaya ya? kamu bangga anakmu dapat berbuat sesuka hati dan menghina orang seenak  perutnya sendiri,’ kata Dina dalam nada tinggi.

‘Nona,  saya olang kagak ngalti apa nyang nona bicalaken.’

‘Kamu dengar tidak peristiwa di Ujung Pandang tentang pelemparan batu pada rumah-rumah  milik orang Tionghoa? Na, kejadian semacam itu bisa terjadi di Yogya lantaran anakmu,’  ancam Dina.

‘Tapi  nona, saya olang punya anak tidak ada nyang kulangajal.  Itu cuma pietnah.  Jangan didengalken,’ Dina tertawa sinis mendengar  penuturan Kwan Chee Wai.

‘Bukan  fitnah.  Anakmu yang namanya Kim Fui, kemarin  pagi jam tujuh kurang seperempat telah menghina seorang gadis anggota kelompok kami,  seorang Indonesia asli yang masih berdarah ningrat dan ayahnya pemimpin partai besar dengan meludahinya di bawah Kretek  Kewek.’ Dina sengaja meninggikan diri agar kedengarannya lebih berwibawa.

Kwan Chee Wai terdiam sesaat.  Akhirnya dia bicara.

‘Maafkan  dia olang, nona.  Nanti dia olang pasti akan  saya beli pelajalan.  Saya beljanji untuk  menghajal itu anak,’ katanya makin ketakutan.

‘Itu  thok tidak cukup,’ potong Dina tajam.

‘Telus bagaimana saya olang halus pelbuat? “

‘Saya  atas nama kelompok anak muda Yogya minta pernyataan tertulis di surat kabar.  Saya tidak minta yang  aneh-aneh, cukup di surat kabar lokal saja.  Paling lama lusa harus sudah terbit.  Lengkap dengan nama Kim Fui dan toko sepatu Lion,’
kata dina.  Yance membelalakkan matanya mendengar  apa yang diucapkan Dina.

‘Tapi  nona, kami olang punya nama akan telcemal gala-gala ini pelkala.’

‘Terserah  kamu.  kamu tulis di surat kabar atau kamu  sendiri harus menanggung resikonya.  Dan  sekali lagi saya peringatkan bukan hanya keluargamu saja yang mungkin menderita  akibatnya.’

‘Oe nona, saya mekelum,’ kata Kwan Chee Wai.’Dan kalau saya boleh tahu nona punya nama sapa?’
‘Saya  wakil dari anak-anak muda kota Yogya,’ jawab Dina rendah sambil meletakkan gagang  telpon.  Dia tersenyum puas dan mengajak Yance  berlalu.

‘Apa  yang kamu perbuat benar-benar keterlaluan,’ komentar Yance sambil berjalan.  ‘Bagaimana jika dia lapor ke polisi? “

‘Biarkan  dia lapor ke polisi.  Polisi tak kan mampu  melacak kita.  Lagi pula aku tidak melakukan  kejahatan, apa yang kulakukan tidak melanggar hukum.  Dia bersalah, maka dia harus minta maaf.  Hal yang sepele.’

‘Tapi  kamu mengancam dia.’

‘Aku  tidak mengancam.  Hanya kukatakan apa yang  terjadi di Ujung Pandang bisa terjadi di Yogya.   Kan benar? “

‘Tak  tahu deh, Din.  Cuma kubayangkan bagaimana  jika yang menerima telpon tadi keluargaku.   Apa tidak akan geger? kamu sadis banget sih,’ kata Yance.  Kemudian yance melihat jam yang melilit di  pergelangan tangannya.

‘Ya… telat, Din!’ teriak Yance.  Kemudian mereka  bergegas menuju sekolah mereka.  Sesampai  di depan pintu kelas mereka berpandang-pandangan ragu.

‘Masuk  enggak?’  tanya Yance.

‘Masuk  aja yuk,’ Dina memutuskan.  Dengan berjingkat  mereka masuk kelas.

‘Dari  mana anak-anak manis?’ tegur bu Dariah guru kimia mereka.  Dina dan yance tersenyum lucu, sementara teman-teman  mereka bersiul-siul.

‘Maaf  bu, enggak dengar bel tadi,’ alasan Dina.

‘Kumaafkan  asal kamu bisa mengerjakan soal itu,’ kata bu Dariah sambil menunjuk soal yang ada  di papan tulis.  Dina membelalak.  Teman-temannya cengar-cengir dan menggodanya.  Dina kemudian melihat Ah Yong mengisyaratkan agar  dia memakai bukunya.

‘Huh,  China itu pasang aksi,’ kata hatinya.  Kemudian  dia menuju papan tulis mencoba mengerjakan soal.  Lama sekali tak berhasil.  Dia menoleh ke belakang.  Yance telah duduk rapi di kursinya, dia memberi  tanda agar Dina menerima buku Ah Yong.

‘Bagaimana  Dina?’ tanya bu Dariah.

‘Sukar,  Bu.  Nyerah aja deh,’ kata Dina seperti anak  kecil.  Bu Dariah tertawa ringan.

‘Ah guru  ini selalu manis,’ pikir Dina ketika bu Dariah menyuruh duduk.

‘Yong,  kamu bisa?’ tanya bu Dariah pada Ah Yong.   Ah Yong terus bangkit menuju papan tulis dan mengerjakan soal itu dengan  cepat.

‘Kenapa  kamu tak mau menggunakan buku Yong?’ tanya Yance.  Dina menatap Yance lama sebelum menjawab.

‘Ingat  dia orang China dan aku sudah berjanji tak akan berhubungan lagi dengan segala  macam China,’ bisik Dina.

‘Din,  jangan keterlaluan.  Yong tak punya kesalahan  apapun terhadapmu.’ Yance menasehati, tetapi telinga dina seakan  tak mempunyai lubang.

Keesokan harinya, permintaan maaf dari toko sepatu  Lion telah nampang di Koran.  Dina mengambil  gunting dan mengguntingnya lalu di tempelkan di buku kenangannya.  Hatinya mekar karena telah berhasil membalas dendam.  Tetapi kalau ada anggapan bahwa pernyataan itu  sebagai akhir dari sikap sinis Dina terhadap orang-orang Tionghoa maka anggapan  itu salah besar.

Sikap Dina semakin tak masuk akal.  Apa-apa yang berbau China dianggap haram.  Dia tak mau menggunakan handuknya lagi karena  handuknya itu made in China.  Dia lebih baik  tak pergi ke restaurant langgannannya karena pemiliknya orang Tionghoa.  Dan dia tidak lagi suka berjalan-jalan sepanjang  jalan solo dan Malioboro karena dia segan untuk bertemu dengan orang Tionghoa.  Bahkan kepada ah Yong yang duduk di  belakangnya di kelas dia tak suka menegur.

‘Din,  kamu tak percaya bahwa ada orang Tionghoa berhati baik?’ tanya Yance suatu hari.

‘Sudah  ratusan kali kubilang Yan, semua China sama saja.  Cuma mau cari untung.  Mereka menyeberang dari tanah China karena ada  huru-hara di negerinya sehingga mereka merasa tidak aman lagi, tetapi rasa cinta  mereka tetap ada di tanah leluhurnya.  Sedang  Indonesia dianggap sebagai tempat untuk mencari nafkah.  Bukan sebagai tanah tumpah darah.’

‘Tapi  kebanyakan mereka dilahirkan di sini.’

‘Benar.  Tapi jangan lupa, orang-orang tua mereka telah  mengajarkan filsafat yang kuat di hati mereka untuk tetap mencintai negeri asalnya,’  bela Dina.

‘Pernahkah  kamu renungkan, orang-orang seperti Cuncun, Rudi Hartono, Liem Swie King membawa  nama Negara kita dari pada kamu sendiri yang mengaku orang Indonesia asli.  Benar kan?’ tanya Yance.  ‘Bahkan Cuncun walaupun sampai sakit begitu masih
mau berkorban untuk Negara.  Apakah mereka  kamu anggap Cuma mau cari untung saja?’ lanjut Yance.

‘Ah,  mereka lain.  Mereka berkecimpung dalam bidang  olahraga jadi dengan sendirinya memiliki jiwa yang sportif.  Bukan seperti lainnya yang ngurusin dagang melulu,’  bela dina ngawur.

‘Oke,  berarti ada China yang baik,’ Yance menegaskan.

‘Aku  tak mengatakan demikian,’ bantah Dina.

‘Tapi  kamu merasa bangga terhadap Rudi Hartono cs kan?’

‘Jangan  samakan mereka dengan yang lainnya !’

‘Berarti  kamu tidak fair.’

‘Yan,  aku tahu kamu tak akan bisa menempatkan dirimu pada posisiku.  Aku pernah diludahi China.  Itu menyakitkan.  Panas matahari ditanggung semua orang, tetapi  panasnya hati …  ya aku sendiri yang menanggungnya.  Walaupun kamu sahabatku yang paling dekat kamu  tak kan bisa ikut merasakan panasnya hatiku,’ kilah Dina befalsafah

‘Bukankah  dia telah minta maaf? Sedang Tuhan saja maha pemaaf kenapa kamu tidak bisa memaafkannya.  Bagaimana jika orang yang meludahimu itu dulu  orang Jawa, sukumu sendiri.  Apakah kamu akan  membenci semua orang Jawa seperti saat ini kamu membenci orang China?’ kata Yance  bersemangat.  Dina diam saja.  Kalau sudah demikian biasanya mereka mengganti  topik pembicaraan, karena menurut pengalaman, mereka tak pernah menemukan titik  temu pendapat mengenai hal yang satu ini.

Siang itu panasnya bukan main.  Terik matahari benar-benar menyengat badan.  Selama perjalanan pulang dari sekolah, Dina berkali-kali  mengosok lengannya dengan telapak tangan karena rasanya seperti terbakar.  Dia merasa begitu lega ketika memasukkan sepeda  motornya ke halaman rumahnya yang penuh dengan pepohonan rindang.  Dina langsung masuk kamar tidurnya setelah memasukkan  sepeda motornya di garasi karena kedua orang tuanya belum pulang.  Jadi dia terhindar dari kewajiban untuk makan  siang terlebih dahulu.  Kemudian dia membaringkan  dirinya di kasurnya yang empuk tanpa mengganti pakaian seragamnya.  Matanya menatap langit-langit kamarnya kemudian  berpindah ke seantero kamar.

Tiba-tiba matanya melihat laptopnya di atas meja belajar.  Langsung dia beranjak dan menyambar  laptop itu kemudian kembali ke kasurnya untuk mencek facebook dan e-mail.   Ada satu e-mail yang menarik perhatiannya

‘Hmm  …  sudah lama Sasa tak kirim e-mail,’ gumamnya.  Sasa adalah kakaknya yang kini meneruskan belajarnya  di Amerika.

Seperti biasa kalau Sasa mengirim e-mail akan panjang lebar.  Tetapi karena yang ditulis selalu menarik maka tidak pernah membosankan.  Pada paragraf pertama Sasa menulis tentang keadaannya  dan sekolahnya.  Paragraf  kedua tentang  mode yang sedang melanda muda-mudi Amerika.    Dilanjutkan tentang pekerjaan sambilannya di Mc Donald Hamburger Corner  dan di bagian akhir dia menulis…

‘Eh,  Din, Sasa barusan nonton film yang diputar oleh televisi kalau enggak salah NBC  yang mutar.  Seluruh penghuni asrama sini  nonton.  Pertunjukannya memakan waktu enam  jam (ini sudah termasuk iklan yang setiap lima belas menit sekali nongol), jadi  terpaksa harus diputar selama empat malam berturut-turut.  Judulnya hOLOCAUST (ingat-ingat deh, siapa tahu  diputar di Indonesia).

 Nah ini cerita tentang  keluarga Weiss yang Yahudi dalam masa sadis-sadisnya hitler.  Aduh berkali-kali deh Sasa terpaksa menutup mata  …  Ngeri.  Bayangin deh, mama Weiss dan wanita-wanita lain  disuruh masuk ke kamar mandi, waktu itu mereka sudah di penjara, katanya disuruh  mandi tapi begitu pintu kamar mandi ditutup dan mereka sudah ditelanjangi eh tahunya  yang keluar dari shower itu uap beracun.   Mereka menggeliat-geliat sebelum mati.  Masih banyak deh Din, yang sadis-sadis lainnya, misalnya disuruh baris menghadap  ke tembok, enggak laki-laki, enggak perempuan dan deeerrr …  Akhirnya tinggal seorang keluarga Weiss yang hidup.  Anak laki-lakinya dan dia terpaksa mengungsi.  Gila nggak tuh si Hitler? kamu tahu enggak teman-temanku  yang punya mata berwarna biru sampai menyesal mempunyai mata biru akibat nonton  film itu.  Habis semua mata biru di situ sadis  sih.  Apalagi yang orang Jerman …  wah tak henti-henti menyesali kekejaman bangsanya  waktu itu.

Din …  Yance bilang kamu kini musuhan ya sama orang-orang Tionghoa? Jangan dong,  Din.  Hitler itu juga dulunya cuma berawal  dari rasa tidak senangnya terhadap orang-orang Yahudi tanpa alasan yang kuat hingga  dia sesadis itu.  Sasa pikir kalau adik Sasa  yang Cuma gadis manis biasa saja berani ngancam orang Tionghoa apalagi Hitler yang  punya kekuasaan.

Orang-orang Tionghoa itu seperti halnya orang Yahudi  lho Din (ah, ini perbandingan saja) mereka akan membela Negara di mana mereka mendapatkan  ketentramannya.  Dalam hal ini Indonesia  tentu saja.  Kalau kamu sudah sejak dini memusuhi  mereka bagaimana nanti jika kamu sudah menjadi pemimpin bangsa (bukankah itu cita-citamu).  Ayo, Din hilangkan sikap prejudismu.  Setiap bangsa itu sama saja, punya kelebihan dan  punya kekurangan.  Memang ada satu orang Tionghoa  yang cuma mau cari untung, tapi harap kamu ingat orang Indonesia yang mau menangnya  sendiri tak kalah banyaknya.  Biasakanlah  dirimu menerima seseorang itu apa adanya.   Jangan kamu lihat bangsa dan derajatnya.

Oke, Din aku tahu kamu adikku yang berhati manis.  kamu pasti akan bersikap seperti dulu lagi.  Udah ya Sasa bobo dulu.’

‘Uih,  Yance, pakai lapor segala,’ gumam Dina, tapi dia segera tertidur karena lelah.  Dia baru terbangun ketika merasa tubuhnya digoyang-goyangkan.  Kemudian samara-samar dia mendengar suara panggilan  dari mamanya.

‘Udah  disamperin Yance tuh,’ kata mama Dina.  Dina  bangun dan duduk dengan lesu.

‘Kalau  tidur ganti baju dulu dong,’ omel mamanya.

‘Yance?  Mau apa dia ke sini?’ tanya Dina tak mengacuhkan kata-kata mamanya.

‘Katanya  ada pertandingan antar SMA di …’

‘O iya,’  jerit dina sambil meloncat turun dari tempat tidurnya dan langsung berlari ke luar,  tetapi segera kembali ke kamarnya lagi.

‘Tolong  deh, Mam, temenin Yance sebentar, Dina mandi dulu,’ katanya.  Mamanya mengeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum.

Ketika dina keluar dengan pakaian olahraganya,  Yance dan mamanya sedang asyik bercakap-cakap.  Ada segelas susu dan sebutir telor rebus di atas meja di hadapan mereka.  Dina pura-pura tak melihat, karena dia tahu semua  itu pasti untuknya .

‘Aku  gonceng saja ya, Yan, aku masih agak ngantuk?’ kata Dina.  Yance mengangguk  sambil berdiri.

‘Susu  dan telormu , Din,’ mama dina mengingatkan.

‘Ya,  mama.  Dina masih kenyang,’ protes Dina.

‘Bibi  bilang kamu langsung tidur tadi, jadi belum makan siang.  kamu makan telormu atau kamu ingin makan siang?’  akhirnya dina menurut.  Dia memakan telornya  dengan cepat dan meneguk susunya.  Kemudian  melambai kepada ibunya dan keluar.

‘Yan,  kamu pakai kirim e-mail ke Sasa tentang diriku ya?’ tanya Dina ketika keduanya telah  berada di jalan.

‘Enggak  boleh?’ tanya Yance.

‘Kirim e-mail sih boleh aja.  Tapi nggak usah tentang  yang satu itu,’ kata dina.

‘Habis  kamu makin enggak rasional sih.  Kamu sok  idealis, tapi konyol,’ kata Yance.  Dina  tertawa.

Ketika mereka sampai di lapangan IKIP Karangmalang,  mereka langsung ke jadwal pertandingan.

‘Hei,  asyik lawan Stelladuce,’ bisik Dina di telinga Yance.  Yance segera mengerti maksud Dina.  Pemain-pemain basket Stelladuce kebanyakan anak-anak  keturunan Tionghoa.  Yance menggeleng-gelengkan  kepalanya.

‘Hei,  Yakis!’ tiba-tiba terdengar sebuah suara.   Yance dan Dina menoleh seketika.  Tampak  seorang pemuda yang dulu berada di samping Dina ketika dina berhenti di belakang mobil Kim Fui.  Kalau dulu dia berpakaian  urakan, kini dia berpakaian santai tapi rapi.   Yance mengerutkan dahi, merasa tidak senang temannya dipanggil ‘Yakis’.  Tetapi Dina justru tersenyum.  Yance terus ngeloyor pergi karena sebagai kapten  regu basket sekolahnya dia harus mengumpulkan regunya lebih dahulu.

‘Kubaca  tentang kamu di surat kabar,’ kata si pemuda.

‘Surat  kabar?’ tanya Dina bingung.

‘Pernyataan  maaf untukmu,’ kata si pemuda.  Dina tertawa.  Dia kembali teringat peristiwa itu lagi.  ’Senang  ya bisa bikin sensasi?’ lanjut si pemuda.

‘Ah,  biasa-biasa saja,’ jawab Dina santai.  Si  pemuda cuma tersenyum mendengar jawaban Dina.

‘Kamu mau bertanding?’ tanyanya.

‘He  eh.’

‘Lawan  mana? “

‘Stelladuce.’

‘Wah  sorry enggak bisa nyeporterin kamu, sudah keburu dibon Selladuce.’

Ah enggak apa-apa, paling juga menang,’ jawab  Dina.  ’kamu sekolah di mana sih? Bukan Stella Duce kan?’ tanya dina

‘De Britto,’  jawab si pemuda sambil tertawa.

‘Oh,  pantas,’ kata dina.  Pantas di sini bermaksud  banyak …  Pantas kalau dia dulu berlagak  sok jagoan.  Pantas kalau sekarang dia mau  nyeporterin stella duce, karena baik Stelladuce maupun De Britto dua-duanya sekolah  ‘gersang’ Stella duce cewek melulu dan De Britto cowok melulu, jadi barter dalam  hal seporter-seporteran.

Kemudian terdengar Yance memanggil Dina menyuruhnya  berkumpul.  Begitu Dina sampai di  lapangan basket, pertandingan segera dimulai.  Walaupun seporter-seporter dari Sella duce dan De Britto cukup banyak dan  ramai tetapi toh tetap kalah dibanding dengan Fajar dan kawan-kawannya yang nyeporterin  regu Yance.  Teriakan-teriakan dari seporter  Stella duce tertelan oleh teriakan dari Fajar Cs.  Di samping itu, Dina walaupun di tengah permainan  masih sempat berteriak-teriak nyeporterin regunya.

‘Ayo,  moy-moy lemparkan bolamu pada dina, di tokomu banyak bolanya,’ teriak Dina sambil  mendek pemain stella duce yang keturunan Tionghoa.  Semua yang berada di pinggir lapangan tertawa  mendengar teriakan Dina, kecuali yang merasa diri masih keturunan China.  Akibatnya banyak pengikut Stella duce yang berasal  dari De Britto yang merasa bukan keturunan Tionghoa menyeberang menjadi pengikut  sekolah Dina dan ikut-ikutan mengajak anak-anak Stelladuce.

‘Ayo,  Sanchai aku cinta padamu,’ teriak Fajar meramaikan suasana.

‘Bukan  aku cinta padamu, tapi wo ai ni,’ teriak Dina sambil melempar bola ke keranjang.  Nadanya dibuat persis orang-orang China asli.  Tiba-tiba dia teringat apa yang ditulis Sasa  di suratnya.

Kalau  adik Sasa yang merupakan gadis manis biasa saja bisa mengancam orang Tionghoa apalagi  Hitler yang punya kekuasaan.  ‘Entah mengapa Dina tak mau dirinya disamakan dengan Hitler.   Kemudian dia tak banyak komentar-komentar yang menyakitkan hati diserahkan  ke tangan Fajar cs, yang dapat melakukannya dengan baik, terbukti sebentar-sebentar  gadis-gadis itu wajahnya memerah menahan marah.  Dan konsentrasi mereka buyar yang menyebabkan permainan mereka buruk.

Pertandingan itu usai dengan kemenangan pihak Yance  dan kawan-kawannya.  Mula-mula dina ogah-ogahan  tetapi akhirnya mau juga dia menyalami mereka.

‘Sorry  ya, kalau kata-kataku tadi kasar,’ kata Dina.   Dia tak tahu mengapa dia merasa bahwa dia harus meminta maaf.  Yang disalami tersenyum mencoba melupakan kata-kata Dina yang menyakitkan hati selama pertandingan tadi berlangsung.

‘Din,  dapat salam dari Huan,’ kata Ah Yong sambil mengucapkan selamat kepada Dina.

‘Siapa?’  tanya Dina bingung

‘Huan.  Yang tadi ngomong-ngomong sama kamu sebelum pertandingan.’

‘O, dia  namanya Huan? Orang mana sih?’ tanya dina pingin tahu.

‘Orang  Yogya.  Itu lho anaknya yang punya sepatu  Lion.’

‘Apa?’  tanya Dina kaget.  Matanya membulat dan lehernya  seakan tercekik.

‘Dia  memang keturunan Tionghoa kok.  Enggak nampak ya?’ kata Ah Yong yang tak mengerti kekagetan Dina yang sebenarnya.

‘Toko  sepatu Lion? Adik Kim Fui?’ tanya Dina meyakinkan diri bahwa apa yang didengar telinganya  betul adanya.

‘Lho  kamu kok tahu? Kenal Kim Fui ya?’ tanya Ah Yong.  Dina menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengusir  kekacauan yang tiba-tiba muncul di kepalanya.

‘Oke  deh salam kembali,’ kata Dina berusaha tenang.   Setelah Ah Yong berlalu Dina berdiri termangu.

‘Jadi  dia adik Kim Fui.  Berarti dia tahu, akulah  yang telah mengancam ayahnya dan memaksa mereka menulis pernyataan maaf di Koran.  Tetapi mengapa dia tak memberi tahu ayahnya kalau  yang mengancamnya itu tak lain hanyalah seorang gadis yang tak punya kekuatan apa-apa  atau tak melaporkannya kepada polisi? Tetapi  mengapa di malah  menegurku seakan  tak ada kejadian apa-apa?‘ pikir Dina bingung.

‘Pulang  nggak, Din?’ tegur Yance yang tiba-tiba saja sudah ada disampingnya.

‘Emangnya  mau nginap di sini?’ jawab dina dan berjalan bersama Yance.

‘Selama  perjalanan pulang pikiran Dina kacau.  Dia  tak mendengar apa yang diocehkan yance selama perjalanan.

‘Ruwet  …  ruwet.  Mengapa jadi begini? Jadi waktu aku memaki-maki  Kim Fui di Kretek Kewek itu, dia sudah tahu kalau yang kumaki adalah kakaknya.  Ih, ruwet,’ pikir Dina, setengah menyesali diri.

Sesampai di depan rumah Yance bertanya, ’ikut enggak  besok pagi? “

‘Ke  mana?’ tanya Dina.

‘Tadi  sudah kukatakan padamu dan kamu menjawab ya.’

‘Aku  tidak tahu,’ kata Dina.  Yance mengerutkan bibirnya  jengkel.

‘Jadi  kamu tak menggubris omonganku selama perjalanan tadi, di mana sih pikiranmu, Din?  Pada Huan, ya? “

‘ kamu tahu siapa dia?’ tanya Dina hati-hati.

‘Tentu saja aku tahu.  Adik Kim Fui.  Aku heran apa yang akan dilakukannya kalau dia  tahu kamu yang telah menganc …’

‘Dia  tahu, Yan,’ potong Dina.  Yance membelalak  tak percaya.

‘Tahu  deh, Din, kamu berdua sinting semua.  Dia  tenang-tenang saja berhadapan dengan musuh keluarganya sementara kamu sendiri juga  tenang-tenang dipanggil yakis,’ kata Yance.

‘Karena  dia tak tahu arti ’yakis’ yang sebenarnya,’ bantah Dina, tapi tak diucapkan.  Dia hanya tertawa ringan.

‘Ada  apa besok pagi?’ akhirnya dina bertanya.

‘Ayah  dan ibuku serta kakakku datang dan…’

‘Dari  Ternate?’ tanya Dina antusias.  Dina mengangguk.

‘Mereka  sudah ada di Jakarta sejak kemarin dan besok akan datang ke sini jam sepuluh.  Nah, kamu mau ikut jemput enggak? “

‘Tentu dong.  Ole-olenya itu yang kubutuhkan,’ jawab  Dina sambil tertawa sambil membayangkan kue bagia yang penuh dengan kenari, Yance juga tertawa.

‘Kalau  begitu kamu harus bangun pagi.  Jam setengah  sembilan ku jemput kamu?’

‘Siap,  kapten,’ kata Dina dan Yance segera menghidupkan mesinnya.  Setelah pesan ini itu barulah Yance pergi, meninggalkan
asap yang mengepul dari knalpotnya.

Pagi itu cuaca agak mendung.  Dina dan yance telah berada di pelabuhan udara  Adi Sucipto.  Orang tua serta kakak Yance baru  akan tiba setengah jam lagi.  Selama menunggu  mereka berdua duduk di bawah pohon akasia di luar airport sambil menikmati teh botol

‘Yan,  biasanya kalau cuaca begini penerbangan jadi batal lho,’ kata Dina.  Yance mencibir.

‘Enggak  percaya? Soalnya lapangan ini kan dikelilingi bukit, na, kalau mendung bukit ini  enggak begitu tampak, jadi lebih baik penerbangan diundur dari pada ada malapetaka.’

‘Din,  aku sudah tanya dan mereka mengatakan sudah take off dari Jakarta.’

‘Wah  …  berdoa saja deh Yan, moga-moga nggak  ada apa-apa,’ kata dina tenang.  Yance membelalakkan  matanya.

‘Yakis  kamu!’ teriaknya.  Dina tertawa terpingkal-pingkal.

‘Baru  dibilangin begitu saja sudah kalap,’ olok Dina.

‘Orang  tua cuma dua kok, masa dibegitukan, ya marah dong,’ kata Yance.  Dina masih tertawa ketika terdengar pengumuman  bahwa pesawat dari Jakarta baru saja mendarat.  Bergegas mereka berlari masuk.

Yance menanti tak sabar.  Dia menggerak-gerakkan kakinya siap untuk berlari.  Dina yang baru pertama kali ini melihat ketidak-tenangan  Yance tersenyum.  Satu demi satu para penumpang  muncul.  Yance memperhatikan mereka satu persatu  sementara Dina membayangkan seperti apa wajah orang tua dan kakak Yance.

‘Itu  dia,’ kata Yance sambil menunjuk tiga orang yang berjalan ke arah pintu keluar.

‘Yang  mana?’ tanya dina karena yang ditunjuk Yance adalah tiga orang Tionghoa.

‘Itu  ! Yang dengan gadis berbaju merah,’ kata Yance.

‘Ah,  jangan main-main …’ Tapi Yance sudah tak mendengarnya dia sudah berlari mendekati mereka.  Menyadari hal itu, jantung Dina seakan  berhenti berdetak.  Dia memandang mereka berempat  bagai memandang mayat yang baru bangkit dari liang kubur.  Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar.

‘Yance  keturunan Tionghoa?’ desisnya lunglai.  Dia  menginginkan dunia kiamat saat itu juga hingga dia tidak harus berhadapan dengan  Yance lagi.  Dia tak punya muka untuk menemui  Yance, terlalu malu.  ’Penghinaan yang selama ini kulancarkan ternyata hanya untuk  menyakiti hatinya.  Tuhan, berilah aku ampunan,’  pikir Dina sedih.  Tapi tak ada jalan lain  untuk tidak menemui Yance.  Karena untuk melarikan  diri jelas tidak mungkin.  Dan Yance serta  keluarganya sudah mendekati Dina.

‘Dina, Yance selalu bercerita kalau Dina serta keluarga Dina baik sama Yance,’ kata ibu Yance  sambil menjabat tangan Dina.  Dina hanya bisa tersenyum.  Wajahnya sebentar merah, sebentar  memucat.  Dia ingin mencari kekuatan pada Yance, tapi Yance begitu asyik bercakap dengan kakaknya.

‘Kenapa Yance tak pernah  bercerita kalau dia  itu keturunan Tionghoa?’ pikir Dina menyesali keadaan.  Keluarga Yance begitu ramah, hal mana justru membuat hati Dina semakin pedih.  Dia merasa sangat berdosa terhadap Yance.

Ketika orang tua Yance sedang mengurus barang-barangnya, Yance mendekati Dina dan menepuk bahunya.

‘Setelah tahu kalau aku orang China apakah kamu tidak mau bersahabat lagi denganku?’ tanya Yance sambil menahan senyum,’sedang aku yang kamu hina setiap menit saja masih mau berteman denganmu,’ lanjutnya sambil tertawa lirih.  Dina memandang Yance dengan sinar mata berisi sejuta penyesalan.

‘Maafkan Dina, Yan, aku tahu aku telah salah selama ini.’

‘Syukur deh kalau kamu sadar.’

‘Jadi kamu memaafkanku? Enggak sakit hati?’ tanya dina mulai agak tenang.

‘Wah maaf thok enggak cukup,’ kata Yance.

‘Lalu?’

‘Aku  minta pernyataan tertulis.  Enggak muluk-muluk deh, Din, cukup ditulis di surat kabar Indonesia, enggak usah di surat kabar Internasional.  Paling lambat lusa harus sudah terbit,’ kata Yance  menirukan kata-kata dina beberapa waktu yang lalu ketika mengancam Kwan Chee Wai  melalui telpon.  Dina dan Yance tertawa.  Mereka masih tetap tertawa waktu keluarga Yance  siap untuk meninggalkan airport.  Mendung  yang tadi melingkupi kota Yogya telah hilang dan matahari bersinar dengan ramah.

Note:  Isi tidak berubah walau di sana-sini sudah disesuaikan agar tidak terlalu kuno …