Category Archives: Indonesia

“Sepanjang Pantai Nemberala “

Matahari baru saja muncul ketika saya dan Maga memutuskan untuk jalan kaki sepanjang Pantai Nemberala di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

Dari Hotel kami, Neberala Beach Resort, kami berjalan ke arah kiri, menyusuri jalan beton yang sudah dibangun sepanjang Pantai. Dari hotel hingga bukit karang di ujung sebelah kiri, berjarak sekitar 3 Km.

Di sepanjang pantai yang kami lalui banyak terdapat hotel dan restoran. Sebagian besar milik orang asing.

Advertisements

Sunset at Pantai Pasir Panjang, Kupang

“Lembah Anai Maimbau”

Dahulu, sewaktu kecil dan masih tinggal di Bausasran, Yogya, di belakang rumah persis, ada asrama mahasiswa Minangkabau. Asrama Lembah Anai namanya. Salah satu penghuninya adalah Om Iwan, yang sampai aku dewasa masih berhubungan dengan Keluargaku. Tapi sudah lama juga tidak mendengar kabar beritanya.

Jadi mengunjungi Lembah Anai serasa memenuhi panggilan. Lembah yang subur dengan banyak mata air. Tak heran bila di sepanjang jalan banyak terdapat kolam-kolam pemandian umum.

Primadona Lembah ini adalah airterjun Lembah Anai yang letaknya persis di tepi jalan raya Padang – Padang Panjang.

Maimbau = memanggil

Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang yang merupakan ikon Kota Bukittinggi ini selesai dibangun pada tahun 1926.  Merupakan hadiah dari ratu Wilhelmina dari negeri Belanda untuk administrator kota Bukittinggi waktu itu.  Menara dengan ketinggian 26 meter ini, hingga sekarang, merupakan bangunan tertinggi di Bukittinggi. Bangunan lain tidak boleh melebihi tinggi Jam Gadang.

Saya dan Maga mengunjungi tempat ini pada tanggal 7 Mei 2018.

Lobang Jepang Tak Lagi Menyeramkan

Waktu mau pergi ke Lobang Jepang di Bukittinggi ini saya sempat ragu. Lobang Jepang yang dibangun tahun 1944 sebagai bunker ini mempunyai sejarah yang kelam. Banyak Romusha yang dibantai di tempat ini. Mengingat saya gampang menarik “pengikut”, asli saya tidak bersemangat.

Ternyata bayangan kelam tidak tersisa. Yang ada lorong-lorong yang sudah direnovasi dengan pencahayaan dan ventilasi yang bagus.

Lawang Sewu: Dari Pintu ke Pintu

Lawang Sewu dari simpang Pemuda

Entah sudah berapa puluh kali kami melewati bangunan ini – dalam perjalanan dari Jakarta menuju ke Yogya atau Surabaya dan sebaliknya – tapi baru kali ini kami menyempatkan diri untuk mampir.  Lawang Sewu yang dalam benak kami selama ini adalah bangunan tua, kumuh dan singup, ternyata merupakan bangunan cantik dengan pesona unik.  

lawang-sewu-0

lawang-sewu-3a

lawang-sewu-4

Bangunan utama Lawang Sewu mulai dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907.  Keseluruhan kompleks dirampungkan pada tahun 1919.  Bangunan ini awalnya diperuntukkan untuk kantor Naderlandsch -Indissche Spoorweg Maatschappij, perusahaan perkeretaapian pertama di India Timur.

lawang-sewu-2

Pada jaman penjajahan Jepang, bangunan ini diduduki dan dijadikan markas tentara Jepang.  Di lantai bawah tanah (basement) dimanfaatkan sebagai penjara.  Konon juga sebagai tempat untuk eksekusi.  Mungkin cerita-cerita mengenai angkernya tempat ini berawal dari kejamnya penjara Jepang.

lawang-sewu-5

lawang-sewu-6

Berjalan-jalan di pagi hari, jauh dari suasana angker.  Saya justru sangat menikmati kecantikan setiap bangunan.  Betapa beruntungnya bila bisa bekerja di tempat dengan arsitektur yang indah seperti ini.

lawang-sewu-7

lawang-sewu-8

lawang-sewu-9

lawang-sewu-10

lawang-sewu-12

lawang-sewu-13

lawang-sewu-14

lawang-sewu-16

lawang-sewu-20

lawang-sewu-17

lawang-sewu-18

Kaca-kaca patri yang asli bergaya Eropa masih dipertahankan hingga hari ini.  Dengan sinar matahari yang berusaha menerobos masuk menjadikan warna-warna kaca pateri semakin cemerlang.

lawang-sewu-19

lawang-sewu-22

lawang-sewu-23

lawang-sewu-24

lawang-sewu-25

Selain untuk mempelajari sejarahnya, tempat ini juga cocok untuk berfoto ria.  Banyak sudut dan lorong yang sangat unik sebagai background foto

lawang-sewu-34b

lawang-sewu-27

lawang-sewu-28

Lantas, apakah benar ada seribu pintu di Lawang Sewu.  Hampir mencapai seribu.  Tapi bukan jumlah pintunya, melainkan daun pintu.  Untuk satu pintu bisa ada 6 daun pintu.  Perhatikan gambar di bawah.  Dalam satu pintu ada 2 daun pintu dalam, dan 4 lembar daun pintu luar.  Nah kalau menghitungnya seperti itu, memang bisa dibilang ada sekitar seribu pintu di Lawang Sewu.

lawang-sewu-30

lawang-sewu-31

lawang-sewu-29

Ternate Waterfront

Ternate 21

Kain Sabu: Woven textile from Savu Island

Kain Sabu 2 Kain Sabu 3 Kain Sabu 4 Kain Sabu 5 Kain Sabu 6 Kain Sabu 7 Kain Sabu 8 Kain Sabu 9 Kain Sabu 10 Kain Sabu 11 Kain Sabu 12 Kain Sabu kawin 1

Lara Djonggrang: Dining in a Private Museum

Lara Djonggrang 2

The main attraction of Lara Djonggrang is the decor, both exterior and interior.  Starting from the large banyan tree in the front yard up to the inside of the home which was converted into a restaurant that is unique and a bit mystical.   The rooms, the tables, the benches, the chairs, the lighting, the floor are all beautiful.  Not to mention innumerable collections of antiques.  The statue of Lara Djonggrang, a visualization of the mythical Javanese girl on her way to heavens is one of the Masterpieces in this Restaurant

Lara Djonggrang 9

This restaurant offers traditional food from all over Indonesia.  All the food that we ordered were delicious.  

Categories:

Indonesia, Traditional

Address:

Jl. Teuku Cik Di Tiro 4

Menteng

Jakarta – 10350

Telp: +62 21 315 3252

Ambience:

 

Lara Djonggrang 8

Attire:

Semi formal

Our Order and Price Range:

 

Lara Djonggrang 3

Lara Djonggrang 4

Lara Djonggrang 2

Lara Djonggrang 5

Lara Djonggrang 1

Lara Djonggrang 6

Lara Djonggrang 7

Date of   Visit:

August 17, 2014.   Dinner with Maga and Junior

Lara Djonggrang 12

Lara Djonggrang 13

Lara Djonggrang 10

Jalan Sudirman, Jakarta

Jakarta 10

 

Every day, over the years, I passed this Jakarta main street, Jalan Sudirman, to get to my office.  I knew by heart the conditions of this street: the buildings on both sides of the street, every entry and exit point from fast lane to slow lane and vice versa and places where traffic jams occurred frequently.  However, I rarely took time to admire how beautiful Jalan Sudirman was.  This afternoon I had the opportunity to take some photos of Jalan Sudirman on my way back to the office after lunch.


Jakarta 2

Jakarta 3

Jakarta 4

Jakarta 11

Jakarta 12

Jakarta 6

Jakarta 15