Blog Archives

Tentang Tami: Tembang Terakhir

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Adegan NCIS lagi tegang-tegangnya, ketika wajah Jethro Gibbs terhalang oleh  munculnya pesan singkat Santi di layar TV-ku.  Agar pesan dan telpon dari pelangganku tidak terlewatkan selagi aku terlena nonton TV, aku sengaja mengkaitkan telpon selulerku ke pesawat TV.  Akibatnya ya seperti ini.  Bukan hanya sms dari pelangganku saja yang sering mengganggu kenikmatanku menonton, tapi juga sms-sms dari teman yang tidak mendatangkan bisnis seperti sms Santi ini.

 JANGAN LUPA  PERTUNJUKAN MEGAN MALAM INI !!!!!!!!  AJAK CLAY JUGA…. AKU SUDAH SIAPKAN MAKANAN TIDAK PEDAS UNTUKNYA !!!!!!!

Tulisannya persis seperti itu.  Dengan huruf besar semua dan dengan belasan tanda seru, seolah untuk menekankan betapa pentingnya pertunjukan Megan ini untuk dirinya.  Kalau sampai aku tidak muncul, dia akan murka sekali.

Mark Harmon seketika kehilangan daya tariknya.  Aku bergegas ke kamar untuk berganti pakaian yang lebih tebal.  Udara di luar lumayan dingin dan untuk menuju ke rumah Santi di Port Orchard aku harus naik feri dulu dari Seattle ke Bremerton selama satu jam dilanjut dengan naik mobil selama kurang lebih dua puluh menit.  Sekarang sudah jam lima lewat.  Mudah-mudahan aku aku bisa naik feri yang enam sore.  Aku harus buru-buru. Tidak ada waktu untuk menghubungi Clay.  Kedua-duanya akan aku lakukan nanti di atas feri saja.

Kukeluarkan Mini Cooperku dari garasi.  Untung kemarin aku sempat mengisi bensin, jadi aku bisa langsung ke terminal feri tanpa harus mampir di pompa bensin terlebih dahulu.  Mobil miniku masuk di terminal feri pada detik-detik teakhir.  Telat semenit saja, aku harus menunggu feri berikutnya satu jam lagi dan pertunjukan Megan sudah pasti akan terlewatkan.  Megan, anak Santi dan Greg, dari umur belia sudah belajar memainkan harpa.  Di usianya yang sekarang, 15 tahun, dia sudah piawai memainkan dawai.  Sesekali ibunya mengundang teman-teman dekatnya untuk makan malam dan Megan akan memainkan dua atau tiga komposisi.

Setelah memarkir mobilku, yang tentu saja terletak di bagian paling belakang feri, aku segera naik ke lantai atas, membeli segelas kopi dan menuju ke anjungan kapal bagian belakang.  Pada bulan Februari seperti ini, tidak ada seorang pun yang beminat untuk duduk di tempat terbuka.  Jadi seluruh anjungan belakang menjadi milikku.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Perlahan dan pasti, MV Sealth, feri yang kutumpangi mulai meninggalkan sandaran dan berlayar menjauhi Seattle, yang mulai memamerkan kerlap-kerlip lampu malamnya.  Bangunan-bangunan tinggi di Seattle yang kalau siang hari kelihatan gagah dan angkuh berubah menjadi romantis di senja hari. Di bagian paling kiri, terisolasi dari bangunan-bangunan tinggi lainnya, menjulang bangunan favoritku, Space Needle, yang di usianya yang ke 50 tahun masih tetap saja kelihatan kontemporer dan mampu bersaing dengan bangunan-bangunan lainnya.

Kucoba menelpon Clay.  Seperti biasa, tidak peduli sesibuk apapun, pada dering yang kedua dia menjawab telponku.

Hi, hon, what’s up?’ sapanya antusias

‘Pertunjukan Megan ternyata malam ini, Clay,’ ucapku.  Lebih dari dua minggu lalu, Santi sudah mengedarkan undangannya lewat sms dan aku benar-benar lupa.

‘Aku masih ada dua pasien, Tam.  Kamu mau menunggu aku atau kamu mau berangkat duluan nanti aku susul?’ tanya Clay.  Aku yakin dia pasti masih sangat sibuk.  Aku tidak ingin mengganggunya.

‘Aku sudah ada di atas feri, Clay,’ sahutku.  ‘Lagi pula kamu tidak harus datang.  Nanti kupamitkan ke Santi kalau kamu masih ada pasien dan kubawakan lemper buatannya,’ janjiku.  Bule satu ini demen sekali lemper isi ayam.  Apalagi buatan Santi.

‘Kamu yakin …

‘Sangat yakin.’

‘OK, hati-hati nyetirnya.  Jalanan licin kalau musim dingin seperti ini.’

‘Ya, kek…,’ sahutku seperti biasa kalau dia sudah mulai dengan nasehat-nasehatnya.

Setelah memasukkan telponku ke dalam tas, aku mulai menikmati indahnya Puget Sound, perairan di depan kota Seattle di saat matahari mulai tenggelam.  Karena bentuknya teluk, perairan disini sangat tenang.  Dari kejauhan menjulang deretan pegunungan Olympic yang berselimutkan salju.  Di kiri dan kananku berderet pulau-pulau kecil yang nampak kabur terhalang kabut.  Sesekali ada pancaran cahaya lampu dari pulau yang menyeruak menembus kabut.

Keheningan Puget Sound tiba-tiba terkoyak oleh derit pintu yang terbuka.  Seorang pemuda keluar dan sontak jantungku berhenti berdetak.  Di depanku berdiri Bara.  Bara dari masa dua puluh tahun silam.  Baraku yang masih berusia remaja. Kugelengkan kepalaku dengan keras untuk memastikan kalau aku tidak sedang bermimpi.   Ada yang salah dengan logikaku..  Remaja di depanku paling banter berusia tujuh belas tahun.  Sementara Baraku sudah menjelang usia 40 tahun.  Mustahil dia Bara.  Kecuali Bara sudah berubah menjadi Edward Cullen dengan keabadian remajanya.

Pemuda di depanku mengembangkan senyumnya.  Senyuman khas Bara.  Bagaimana mungkin ada seseorang yang begitu mirip Bara.  Anak Barakah dia?

‘Indonesia or Filipino?’ tanyaku membuka percakapan, walaupun seribu persen aku yakin kalau dia anak Indonesia dan mempunyai hubungan erat dengan Bara.

‘Indonesia,’ jawabnya hangat dan ramah.

‘Mau ke rumah tante Santi di Port Orchard?’ tebakku

‘Iya. Tante juga mau kesana?’ sahutnya  sambil bersandar di pagar pengaman di depanku.  Kuanggukkan kepalaku ‘Ibu saya teman kuliah tante Santi.  Bunda minta saya untuk datang ke pertunjukan Megan,’ remaja itu menjelaskan. Dia menjelaskan dengan bahasa Indonesia yang lancar, namun aku bisa menangkap kalau bahasa Indonesia bukan bahasa pertamanya.  Anak ini besar atau lahir di Amerika.

‘Teman tante Santi di Bloomington Indiana?’ tanyaku menyelidik  Tiba-tiba muncul keinginanku untuk mengetahui semua tentang anak ini.  Barangkali dengan mengetahui tentang dia, aku bisa mengetahui ihwal Bara.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tanpa ada peringatan terlebih dahulu, sekonyong-konyong anganku melintas balik ke hampir 20 tahun silam.  Balik ke kampus Bulaksumur, Yogya. Balik ke masa remajaku yang penuh dengan kenangan manis yang sekaligus getir.  Umurku waktu itu baru 17 tahun, mahasiswa baru yang jatuh cinta kepada kakak kelasnya,  Bara.  Betapa indahnya cinta remaja.  Betapa tidak adilnya kehidupan.

Di saat dunia luas mulai terbuka di depan mataku, di saat aku begitu mencintai kehidupan dan siap mengepakkan sayap untuk menggapai cita-cita, Leukimia mengincar nyawaku dengan kejam.  Aku yang pemain inti basket di universitas, yang doyan naik turun gunung, yang nilai ujian terendahnya B+, yang punya cowok ganteng bernama Bara, harus berperang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhku.

Pengobatan demi pengobatan kujalani dengan sabar.  Dari chemotherapy yang merontokkan semua rambutku hingga pengobatan alternatif yang tidak jelas juntrungannya.  Di sela-sela pengobatan itu, jalinan cintaku dengan Bara terajut dengan indah dan kokoh.  Bara adalah alasan utamaku untuk mempertahankan hidup yang semakin hari semakin berat.  Bara adalah batu cadasku di saat aku hampir putus asa.  Di saat seluruh tubuhku bengkak dan penuh dengan benjolan, Bara masih menganggapku gadis tercantik dan dengan bangganya memamerkanku ke seluruh dunia.  Bara adalah cahaya yang menerangi kelamnya masa depanku.

Namun, harapan hidupku semakin hari semakin tipis, hingga tidak ada lagi yang tersisa.  Melihat Bara yang tadinya menguatkanku berubah menjadi beban.  Setiap kali penyakitku kumat kulihat penderitaan hebat di mata Bara.  Dia yang pada mulainya tenang, mulai sering panik.  Dia mulai menelantarkan masa depannya.  Dia lebih sering mangkir dari kampus dan beredar di rumah sakit menemaniku.

Di penghujung perjuanganku, di saat tubuhku menolak segala jenis pengobatan, datang undangan dari Universitas Washington di Seattle untuk menjadi salan satu pasien uji coba pengobatan dengan sistem stem-cell.  Semua biaya mereka tanggung.  Karena sudah tidak ada alternatif lain, akhirnya berangkatlah aku ke Seatlle.

Bara masih sempat mengantarku di Bandara Soetta.  Sebelum keberangkatku, aku memaksanya berjanji untuk melupakanku dan melanjutkan hidupnya.  Aku tidak mempunyai apa-apa yang bisa aku janjikan untuknya.  Sama sekali tidak ada.   Jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa tidak mempunyai peluang di Seattle.  Aku pergi untuk tidak kembali

Ternyata, pengobatan di Seattle menunjukkan hasil yang berbeda. Setelah lebih dari tiga tahun aku dinyatakan bersih dari Leukimia.  Aku mendapatkan masa depanku kembali.  Aku punya waktu untuk bercinta lagi. Aku bisa menghubungi Bara kembali.

‘Jangan,’ cegah abangku Tommy saat kuungkapkan keinginanku untuk menghubungi Bara.  ‘Bara sudah melanjutkan hidupnya.  Dia sedang mengambil S2 dan sebentar lagi akan kawin dengan gadis lain.  Kamu sendiri yang menginginkn itu.  Jangan kamu ganggu dia.’

Aku pun maklum.  Inilah harga yang harus kubayar untuk kesembuhanku. Aku mendapatkan hidupku tapi aku harus melepaskan cintaku. Merasa tidak ada lagi alasan untuk balik ke Yogya, akupun memutuskan untuk tinggal di Amerika.   Walaupun pahit dan menyesakkan dada, kukubur dalam-dalam kenanganku bersama Bara.

 OLYMPUS DIGITAL CAMERA

‘Tante ..’ panggilan anak itu menyadarkanku dan menarikku kembali ke masa kini.

‘Maaf, kamu mengingatkanku pada seseorang,’ ucapku.  ‘Pertanyaannya tadi apa?’ lanjutku. Anak itu tertawa.  Gelak tawanya persis seperti gelak tawa Bara kala menertawakan kekonyolanku.

‘Saya tadi bilang ke tante, nama saya Tommy, tante siapa?’ ucapnya sabar.  Untuk beberapa detik aku diam terpana.  Bara menamakan anaknya Tommy, seperti nama kakakku?  Apakah kalau anaknya perempuan dia akan menamakanya Tami?

‘Nama tante Tami.’ ucapku.  Pemuda di depanku yang ternyata bernama Tommy  tertawa membahana.  Jika tadi aku belum yakin kalau dia anak Bara, kini aku yakin sekali.  Seyakin matahari terbit dari timur setiap paginya.

‘Nama kita mirip ya?’ olokku.

‘Bukan itu saja, tante,’ jawab Tommy.  ‘Pacar ayah saya dulu namanya juga Tami, makanya saya dinamakan Tommy.  Dari nama pacar ayah,’ lanjut Tommy.  Aku terkesima.  Bara sama sekali tidak merahasiaka masa lalunya.

‘Bundamu tidak keberatan kamu dinamakan Tommy?’ tanyaku menyelidik.  Tommy terdiam beberapa saat.

‘Ayah saya orangnya sangat keras dan kaku, Tante,’ ucapnya kemudian.  ‘Bunda memilih untuk mengalah.  Bunda selalu mengalah. Mereka pernah mengalami masa-masa sulit.  Sekarang sudah jauh lebih baik,’ sambungnya ringan.  Dia bercerita seolah aku adalah tantenya yang sudah dia kenal sejak lahir.

‘Jangan-jangan tante adalan Tami, cewek ayahmu dulu,’ pancingku juga berlagak ringan.

‘Tidak mungkin, Tante,’ jawab Tommy cepat.  ‘Taminya ayah sudah meninggal sebelum ayah ketemu Bunda.’  Aku terdiam.  Hatiku seketika membeku.  Ternyata bagi Bara aku sudah mati.  Untung saat itu peluit panjang sudah dibunyikan, pertanda kapal mulai merapat di Bremerton.  Karena Tommy tidak membawa mobil, kutawarkan kepadanya untuk ikut bersamaku.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selama dua puluh menit perjalanan dari Brementon ke Port Orchard, aku mencoba menggali informasi dari Tommy.  Mencoba memahami apa yang membuat Bara yang dulu kukenal sangat lembut dan penuh pengertian berubah menjadi kaku dan berkeras untuk menamakan anaknya Tommy, tanpa mempertimbangkan perasaan istrinya.

Sudah banyak mobil yang parkir di halaman rumah Santi ketika kami sampai di sana.  Rumah Santi letaknya terpencil, jauh dari tetangga.  Di kiri dan kanan bangunan utamanya yang besar dipenuhi dengan hutan pinus dan halaman belakangnya adalah pantai pribadi.  Kalau musim panas, kami sering mencari kerang untuk dimasak bersama.  Greg, suami Santi adalah seorang dokter bedah jantung, dan bekerja di rumah sakit yang sama dengan Clay.  Clay lah yang memerkenalkan aku dengan Santi dan Greg, bukan sebaliknya.

Santi sudah menunggu di depan pintu ketika kami datang.  Sama sekali di luar kebiasaanya.  Sambil memelukku dia berkata ke arah Tommy.

‘Ayah dan Bundamu ada di kamar tamu atas, Tom.’

Aku membelalakkan mataku, tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Santi.  Tommy segera menghambur ke dalam.

‘Kamu tahu siapa ayah Tommy?’ tanya Santi berbisik.  Kuanggukkan kepalaku.

‘Bara ada disini?’ tanyaku tidak percaya.  Santi menggangguk, menggamit lenganku dan menggandengku menjauhi rumah menuju pantai.  Lampu-lampu di sepanjang jalan setapak menuju ke pantai sudah menyala dengan terang.

‘Dan kamu tidak memberitahuku kalau dia ada disini?  Kukira kamu temanku, San,’ protesku.

‘Aku temanmu, Tam, percayalah.  ‘Bara memintaku untuk tidak memberitahumu.  Kalau kamu tahu kamu pasti tidak akan datang,’

‘Tentu saja aku tidak akan datang,’ sergahku.  ‘Kamu sadar enggak sih, San, betapa canggungnya pertemuan ini?  Lagian dari mana Bara bisa tahu tentang keberadaanku?’

‘Dari Facebook,’ jawab Santi singkat

‘Aku tidak punya akun Facebook, San’ bantahku sengit.

‘Dari akunku.  Mita mengunggah beberapa foto perkawinannya.  Ada foto kita berdua disana.  Bara melihat foto itu dan menanyakan tentang kamu.  Karena aku tidak tahu kalau aku harus merahasiakan keberadaanmu, ya aku jawab apa adanya,’ Santi menjelaskan.  ‘Bara dan istrinya, Maya ingin bertemu denganmu.  Aku katakan kepada mereka kalau kamu akan datang pada  acara Megan ini.  Dan mereka sengaja datang untuk menemuimu.’

‘Mereka datang jauh-jauh dari Indonesia?’

‘Mereka tinggal di Portland, Tam.  Setelah lulus dari Indiana mereka  kerja di Portland.’  Aku tertegun.  Tidak menyangka kalau selama ini Bara berada hanya tiga jam dari tempat tinggalku.

‘Apa yang kamu ketahui tentang aku dan Bara?’ selidikku.

‘Banyak,’ jawab Santi.  ‘Aku roommate Maya dari tingkat satu hingga lulus, Tam.  Aku menjadi saksi perubahan dramatis Maya sejak kemunculan Bara di Bloomington.  Dia jungkir balik mencoba menggapai cinta Bara yang sudah habis kikis untukmu.  Aku kasihan melihat dia bersaing dengan hantumu.  Seingatku Bara pernah bilang kalau hatinya sudah mati bersamaan dengan kematian gadisnya.  Aku dan Maya mengira kalau kamu benar-benar sudah mati, Tam.  Belasan tahun aku mengenalmu dan aku tidak pernah tahu kalau kamu adalah gadis Bara’

‘Bagi Bara aku sudah lama mati, San,’ bisikku.

‘Omong kosong,’ bantah Santi sengit. ‘Bara tidak pernah bisa melupakanmu.  Di matanya kamu sempurna sehingga Maya harus berjuang keras untuk bersaing dengan bayanganmu.  Dan kurasa kamupun demikian juga.  Bara adalah tolok ukurmu.  Dia juga yang membuatmu menolak lamaran Clay kan?’

‘Clay tidak pernah melamarku..’ bantahku.  Tiba-tiba aku membutuhkan Clay di berada di sampingku saat ini juga.  Membutuhkan dia untuk mengatakan apa yang harus aku lakukan dalam menghadapi Bara yang tiba-tiba berada dalam jangkauanku.  Tanpa aku sadari ternyata selama ini aku banyak mengandalkan Clay dalam memutuskan sesuatu.

‘Untung dia tidak melamarmu,’ sahut Santi.  ‘Kalau sampai dia melamarmu, kamu akan terbirit-birit meninggalkannya.  Dan kamu akan menjadi wanita tua yang kesepian tanpa teman sekaligus kekasih,’ ucap Santi sambil melihat ke arah rumah.

‘Temuilah mereka, Tam,’ lanjut Santi.  ‘Sudah saatnya kalian menghadapi hantu masa lalu kalian dan melangkah maju. Yuk masuk, sudah saatnya untuk makan malam..’ ajaknya mengalihkan pembicaraan.

‘Kamu masuklah dulu, San.  Aku butuh waktu sebentar untuk menyendiri,’ ucapku.  Santi memandangku sejenak kemudian menganggukkam kepalanya.  Setelah berpesan agar aku segera menyusulnya dia meninggalkanku.

Tentang Tami 7

Aku duduk mematung di atas batang pohon yang tumbang terbawa arus. Memandang ke depan.  Ke gelapnya malam yang menggelantung di atas laut yang mendesah halus.  Cepat atau lambat aku harus menemui Bara dan istrinya.  Pada saat aku siap untuk beranjak dan menuju ke rumah utama, aku melihat sesosok bayangan yang berjalan dengan cepat dan pasti ke arahku.  Aku berdiri dan menanti dengan cemas.  Aku kenal betul pemilik bayangan itu.  Seribu tahun dari sekarang pun aku masih akan tetap mengenalinya.

‘Tami…?’ bisiknya ragu.  Hanya sekejab.  Sekejab kemudian dia sudah merengkuhku ke dalam pelukannya yang erat.  Erat sekali hingga aku nyaris tidak bisa bernafas.  Dua puluh tahun yang memisahkan kami sirna sudah. Tanpa bekas. Kami kembali ke masa lalu.  Ke masa dimana pelukan Bara mampu menghilangkan semua ketakutan di dalam diriku. Tidak ada kata-kata yang terucap, takut kalau kata-kata justru akan membuyarkan momen yang indah ini.  Lama kami berada dalam keadaan seperti itu.  Hingga sebutir air mata Bara bergulir menimpa pipiku.  Aku tersadar dan melepaskan diri dari pelukan Bara, mengambil jarak, namun masih tetap menggenggam kedua tangannya.

‘Aku tidak menyangka  kita bisa bertemu lagi, Bar,’ kataku dengan susah payah sambil menghapus air mata dari pipinya.

‘Mereka semua membohongiku, Tam,’ ucapnya serak.  ‘Mereka membohongiku.  Membohongiku,’ ucapnya berkali-kali.

‘Siapa yang membohongimu?’ tanyaku bingung.

‘Semuanya … Ayahmu, ibumu. kakakmu Tommy dan istrinya, Oki.  Kira-kira dua bulan setelah keberangkatanmu ke Amerika, mereka bilang kalau pengobatanmu gagal.  Mereka bilang kalau kamu sudah meninggal.’

‘Mungkin kamu salah mengerti ..’

‘Tidak, Tam,’ sanggah Bara.  ‘Itu yang mereka katakan.  Aku tidak percaya ketika mereka bilang kalau kamu sudah meninggal.  Aku masih merasakan keberadaanmu.  Aku masih merasakan detak jantungmu.  Tapi mereka terus meyakinkanku.  Mereka bahkan mengadakan tahlilan dan peringatan 40 harimu dengan mengundang anak-anak panti asuhan.  Mengapa kamu tidak berusaha untuk menghubungiku, Tam?’

‘Pengobatanku sangat berat, Bar.’ kataku.  ‘Mempertahankan hidupku saja sulit.  Aku tidak punya daya untuk memikirkan hal lainnya.  Aku tidak tahu mengapa mereka membohongimu.  Tapi aku yakin mereka melakukan itu karena mereka menyayangimu, Bar.  Kalau aku di posisi mereka, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.  Aku pasti tidak akan rela melihat kamu menyia-nyiakan hidupmu, menungguku tanpa ada kepastian.  Sekarang lihatlah, kamu punya Maya dan Tommy.  Oh ya, aku ketemu Tommy di atas feri, dia benar-benar mirip kamu.’

Wajah Bara yang tadinya tegang seketika menjadi santai mendengar nama anaknya kusebut.  Dia berusaha untuk tersenyum.

‘Untuk beberapa bulan setelah kepergianmu, aku depresi berat.  Aku sangat menderita.  Aku gila, Tam.   Aku masih merasakan kehadiranmu.    Satu-satunya jalan untuk mengabaikan kehadiranmu hanya belajar dan belajar.  Kuliah kukebut dan aku lulus dengan predikat mahasiswa terbaik.  Aku tidak bahagia, Tam.  Aku juga tidak bahagia ketika mendapat beasiswa penuh tanpa ikatan ke Bloomington.  Untung disana aku ketemu Maya.  Dia yang menyelamatkan hidupku.  Dia yang mengajariku untuk tersenyum lagi dan menunjukkan kepadaku kalau hidup ini masih layak untuk dinikmati,’ tutur Bara.  Untuk pertama kalinya, dalam hatiku, aku berterimakasih kepada Maya yang pantang putus asa dalam mencintai Bara.

‘Kamu cinta Maya, Bar?’ tanyaku terlepas begitu saja.  Tidak pada tempatnya bagiku untuk menanyakan hal itu. Aku sama sekali tidak berhak untuk menanyakannya.  Bara tersenyum.

‘Awalnya tidak, Tam,’ akunya. ‘Hatiku terlampau hampa untuk mencinta.  Tapi aku tahu Maya wanita baik, wanita yang sangat baik.  Aku tahu dia mencintaiku tanpa syarat.  Mencintai aku yang sudah remuk dan tidak lagi memiliki hati. Aku tahu aku tidak akan menemukan wanita sebaik dia.  Setelah selesai kuliah, terdorong naluriku yang kuat kulamar dia untuk jadi istriku.  Aku tidak tahu kapan aku mulai mencintainya.  Yang jelas sejak bersamanya, memikirkanmu tidak lagi menyesakkan dadaku.  Kamu menjadi kenangan yang indah, sementara Maya adalah cintaku yang nyata,’ lanjut Bara sepenuh hati.  Kupeluk dia kembali dan kudaratkan kecupan di pipi kiri dan kanannya untuk menghapus segala kepedihan yang pernah dia derita gara-gara kepergianku.

‘Aku bahagia untukmu, Bar. Benar-benar bahagia untuk kamu, Maya dan Tommy.  Maafkan aku bila aku pernah menjadi sumber penderitaanmu.’

‘Bagaimana dengan dirimu, Tam?  Apakah kamu bahagia?’ tanya Bara konsern.  Bahagiakah aku?

‘Aku tidak tahu, Bar,’ sahutku jujur.  ‘Umurku 38 tahun.  Masih hidup.  Sehat. Punya usaha disain perhiasan sendiri.  Punya rumah yang baru lunas kalau umurku 55 tahun nanti.  Punya teman setia yang bernama Clay, yang kata Santi tidak berani melamarku karena takut aku akan lari terbirit-birit meninggalkannya… Mungkin kalau disimpulkan, ya aku cukup bahagia,’  Bara tersenyum mendengar penuturan singkatku yang sudah mencakup semua yang ingin dia ketahui.

‘Apakah kamu mencintai Clay?’ tanya Bara diluar dugaan.  Kalau aku boleh menanyakan apakah dia mencintai Maya, tentunya dia pun boleh menanyakan hal yang sama kepadaku.

‘Mungkin seperti kamu, Bar, aku agak lamban untuk menyadarinya,’ sahutku.  Clay masih dokter intern ketika aku mulai menjalani pengobatan.  Dokter termuda di dalam tim dokter yang menanganiku, sehingga lebih mudah bagiku untuk berkomunikasi dengannya ketimbang dengan dokter-dokter lainnya.  Setelah aku sembuh pun, Clay selalu berada di dekatku.  Dia yang membantuku untuk kembali kuliah. Membantuku mendirikan usaha sendiri setelah kuliahku selesai.   Ketika rumah di sebelah rumah Clay dijual,  Clay yang mendorongku untuk membelinya.  Jadi secara fisik kami memang dekat.  Sementara secara perasaan, aku tidak pernah menganalisanya.

‘Sebaiknya kita masuk ke rumah, Bar.  Pertunjukan Megan pasti sudah dimulai dan aku ingin ketemu Maya,’ ajakku mengalihkan pembicaraan.  Bara setuju.   Berdua kami mulai melangkah menuju ke rumah utama.  Lengan kanan Bara memeluk pundakku. Kebiasaan lama… berjaga kalau-kalau aku mendadak pingsan selagi berjalan.  Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum.

‘Aku sudah sehat sekarang, Bar.  Kamu tidak perlu menjagaku lagi,’ bisikku.  Dia tertawa pelan, tapi tetap memelukku.  Dia masih juga memelukku ketika kami memasuki ruang keluarga yang luasnya hampir seluas Balairung, kampus Bulaksumur.  Kutebarkan pandangku keseluruh ruangan.  Megan sudah siap dengan harpanya dan sebagian besar  tamu sudah duduk manis membentuk setengah lingkaran di depannya. Beberapa masih berdiri di dekat meja makan.  Megan yang pertama menyadari kehadiran kami.

‘Tante Tami, mau mengiringiku dengan piano?’ Megan menawarkan ke arahku.  Semua   menoleh ke arah kami.  Termasuk seorang wanita cantik yang berdiri di  samping Santi di dekat meja makan, yang memandangku dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.  Inilah Maya.  Istri Bara dan bunda Tommy.  Aku tersenyum ke arahnya.  Melalui senyumku ingin kusampaikan terima kasihku karena telah menyelamatkan Bara.

‘Tidak malam ini, Meg,’ ucapku ke arah Megan sambil melepaskan diri dari pelukan Bara dan menghampiri Maya.  Bara berjalan tepat di belakangku.  Belum sempat Bara memperkenalkan aku dengan Maya.  Aku sudah memeluk Maya dan mencium pipi kirinya.

‘Bunda, ini Tami,’ kata Bara. ‘Tam, ini Maya istriku.’

‘Aku tahu!!’  Aku dan Maya menyahut serentak.  Dengan sahutan itu, kekakuan di antara kami pun mencair.  Hilang tanpa bekas.

‘Kukira kalian sudah berada di atas feri dan melarikan diri berdua,’ seloroh Maya.

‘Rencananya seperti itu,’ sahut Bara.  ‘Ternyata Tami lebih senang melarikan diri dengan orang lain’

‘Makasih, Tam,’ sahut Maya.  ‘Wah, aku harus lebih waspada sekarang.  Sebagai hantu saja, Tami sudah saingan berat, apalagi segar bugar kayak remaja gini,’ lanjutnya ringan.  Baru saja aku mau membalas ucapan Maya, Megan sudah mulai memainkan jari-jari lentiknya.  Aku bergegas mencari tempat duduk yang kosong.  Kulihat sofa satu dudukan di bawah lukisan Thomas Kinkade.  Aku menuju ke sana.  Dengan sudut mataku, aku melihat Bara dan Maya mengambil tempat duduk berdampingan, agak jauh dari tempatku.  Sebelum larut dalam permainan Megan aku panjatkan syukur  kepada Tuhan karena telah menyatukan Bara dan Maya.  Mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi.

Ketika Megan mulai memainkan komposisi kedua, tiba-tiba ada yang duduk di lengan sofaku.  Aku menoleh dan mendongakkan wajahku.  Clay mengembangkan senyum manisnya.  Belum pernah aku segembira ini melihat kehadirannya.  Aku bergeser dan mempersilahkan dia untuk berbagi sofa denganku.

‘Kukira kamu tidak datang, Clay,’ bisikku.

‘Dan membiarkanmu menemui mantan pacarmu seorang diri? Not a chance,’ jawab Clay tepat di telingaku. Aku tersenyum dan otomatis menoleh ke arah Bara dan Maya yang ternyata sedang memandang ke arah kami.  ‘Clay’ kuucapkan nama Clay tanpa suara ke arah Bara dan Maya.   Bara menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempol tangan kanannya seakan memberikan persetujuannya.  Aku bernafas lega.  Kusandarkan kepalaku ke dada Clay.  Kutemukan kedamaian disana.

‘Pertemuanku dengan Bara adalah sebuah encore, Clay.  Tembang terakhir sebelum pertunjukan usai.  Mulai sekarang, hanya ada kita berdua.  Tidak ada lagi hantu masa lalu yang berkeliaran di antara kita,’ janjiku.

Austin, February 2014

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Have a Romantic Valentine, Friend…

 

Advertisements

Be My Valentine

Jadilah Valentine

Steve berjalan di depanku sambil menarik sled, kereta salju berwana merah menyala. Dari mulutnya terdengar siulan Poker Face-nya Lady Gaga. Sesekali dia menoleh ke belakang, melihat kalau-kalau aku sudah tertinggal jauh. Bila jarakku dengannya lumayan jauh dia akan menghentikan langkahnya dan memandangku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lucu. Bila sudah demikian aku merasa tertantang dan kupercepat langkahku.

‘Capai, Princess?’ tanya Steve ketika melihat langkahku mulai tidak karuan. Berjalan di salju yang begini tebalnya memang sulit. Sudah dingin, berat lagi, sehingga kaki malas untuk bergerak.

‘Duduklah di atas sled ini, nanti kutarik,’ usul Steve. Kakak AFS-ku yang satu ini memang selalu manis dan penuh perhatian. Aku menggeleng. Aku belum terlalu gila untuk membiarkan dia setengah mati menarikku seentara aku enak-enak duduk.’

‘Nggak mau ah.  Nggak lucu,’ tolakku.  Steve mengangkat bahu sambil meneruskan langkahnya lagi.  Poker Face-nya kembali terdengar.  Tiba-tiba kami melihat sebuah truk berhenti di jalan jauh di depan kami.

‘Nasib kita sedang mujur, Princess,’ seru Steve, ‘truk itu kelihatannya menunggu kita,’ lanjutnya sambil menarik tanganku dengan tangan kirinya agar aku bisa berjalan lebih cepat.

“Hai !!!’ teriak Steve setelah kami agak dekat dengan truk tersebut, ‘Boleh kami numpang?’ tanyanya,  Sebuah kepala tersembul keluar dari jendela.  Mati aku!!!

Kepala yang tersembul keluar dari jendela truk itu ternyata milik Timothy Clements, manusia paling kubenci di negerinya Obama ini.  Jauh-jauh dari Indonesia aku datang ke negeri ini dengan berbekal cinta selautan India, tanpa seujung kuku kebencian.  Kecuali untuk manusia bernama Timothy Clements ini.  Aku tidak bisa membendung rasa ketikdaksukaanku terhadapnya.  Aku tahu ini tidak sesuai dengan motto “AFS is Love…AFS is brotherhood”.  Tapi mau dibilang apa, perasaan itu muncul dengan sendirinya.  Semakin hari semakin kuat, tanpa perlu dipupuk dan disemai.

Aku tidak bisa melupakan pertemuan pertamaku dengannya.  Hari itu hari pertamaku masuk sekolah.  Semuanya serba baru dan asing, sehingga sedikt membuatku grogi.  Pada waktu aku berdiri di depan pintu masuk tiba-tiba saja bel berdering dengan nyaringnya.  Semua murid yang masih berada di halaman sekolah berlarian masuk dan melewatiku.  Tiba-tiba seseorang menabrakku dari belakang.  Semua buku dan ballpoint yang berada di tanganku jatuh dan berserak di bawahku.  Belum lagi hilang rasa kagetku, pemuda yang menabrakku tadi berteriak.

‘Hei, tolol, jangan berdiri di depan pintu!’  Kupandang dia sekejab dan dalam hati aku berkata, aku tidak akan pernah melupakannya.  Aku benar-benar sakit hati.  Pelan-pelan aku menunduk dan memunguti buku-bukuku.

‘Jangan dengar omongannya,’ tiba-tiba seorang gadis telah berjongkok di depanku dan membantuku mengumpulkan buku-bukuku.  Gadis tersebut kemudian kukenal sebagai Andrea Simons.

‘Itu tadi Tim.  Timothy Clement,’ Andrea menerangkan, ‘murid paling urakan di sekolah ini.  Dia pikir semua anak menyukainya karena dia cerdas dan bintang lapangan.  Itulah sebabnya omongannya sering ngawur dan seenaknya.  Engkau tidak perlu menggubrisnya,’ saran Andrea.  Saran itu kemudian kuturuti dengan baik.  Aku tidak pernah menggubrisnya.  Sama sekali tidak pernah.  Tersenyum padanya pun aku belum pernah, apalagi meluangkan waktu untuk bertegur sapa.  Padahal banyak kelas-kelasku yang sama dengan kelasnya.  Bahkan, pada mata perlajaran American Government, Tim duduk tepat di belakangku.

Dan kini kami akan numpang truknya?  Aduh, harus kubuang kemana gengsi ini?

‘Steve, kita jalan kaki saja,’ bisikku pada Steve.  Steve membelalakkan matanya tidak percaya.  Tim yang mendengar bisikanku tersenyum lebar sambil membuka pintu truk-nya.

‘Cepat naik, Princess.  Kamu bisa mati kedinginan di situ.  Lihat, wajahmu sudah kebiru-biruan,’ ucap Tim.  Aku benar-benar dongkol mendengar dia ikut-ikutan memanggilku Princess, panggilan sayang keluarga Amerikaku yang tidak bisa melafalkan namaku dengan benar.

‘Ayo, Princess!’ ajak Tim lagi.  Tiba-tiba angin berhembus dari utara.   Brrrr…. dinginnya.  Terpaksa kuturuti ajakan Tim, meloncat naik ke dalam truknya dan duduk di sampingnya.

Selama perjalanan, aku diam bak patung Rara Jonggrang.  Dingin dan angkuh.  Semua perkataan Tim, Steve yang menimpalinya.  Tak sekalipun aku menyumbang suara.  Steve pula yang bercerita kalau kami baru saja pulang dari Sled Riding di bukit di belakang sekolah dan pulangnya ingin mengukur kekuatan dengan berjalan kaki…. dan ternyata tidak kuat.

‘Kamu bisa bermain sled, Princess?’ tanya Tim.  Kudiamkan.

‘Oh, dia mahir,’ Steve yang menjawab.  Aku tahu Steve merasa tidak enak mendengar pertanyaan Tim hilang ditelan keheningan.

‘Kalian ikut main ski di Crystal Mountain tanggal 12 yang akan datang?’ tanya Tim beberapa saat kemudian.

‘Ya,’ jawab Steve mantap.  ‘Kamu ikut?’ sambung Steve dengan pertanyaan.  Tim mengangguk sambil tersenyum.  Aku berdoa agar cepat sampai di rumah sehingga tidak harus mengunci mulut macam ini.

Begitu sampai di depan halaman rumah, aku segera turun dan berlari meninggalkan Tim.  Aku yakin Steve akan mengucapkan terima kasih untuk kami berdua, jadi aku tidak perlu mengucapkannya.

‘See you, Princess!’ teriakan Tim terdengar sebelum aku menghilang di balik pintu garasi.  Sepatu boot kulepas di depan pintu dapur.  Mom bisa histeris kalau aku masuk dapur dengan sepatu itu. Lantai dapur kami selalu dalam kondisi mengkilat tanpa noda.

‘Astaga, Princess, ada apa denganmu?’ seru Steve yang telah menyusulku sambil meletakkan sled di sudut garasi.  ‘Kamu tidak mendadak menjadi bisu kan?’

‘Steve, kamu tahu jawabnya dengan pasti,’ sahutku sambil masuk ke dapur.  Mom dan Robby yang ada di dapur menoleh ke arahku.

‘Hello, sudah pulang?’ tegur mereka serentak.

‘Ya,’ jawabku sambil melepas topi dan kaus tangan.  Kugerak-gerakkan badanku untuk menghilangkan dinginnya udara luar.

‘Cepat mandi air hangat.  Kalian terlalu lama bermain di luar,’ perintah Mom.  Cepat-cepat aku berlari ke lantai atas untuk mandi.

Kembali ke dapur kujumpai Robby tengah menggunting kertas merah muda menjadi guntingan-guntingan berbentuk hati.  Begitu melihatku Robby langsung beranjak dari kursinya dan mengambil segelas cokelat susu panas lengkap dengan marshmallow.  Gelas itu lalu diulurkannna kepadaku.

‘Untukmu, Princess,’ ucapnya.  Aku heran.

‘Kok tumben?  Kamu membuatku curiga, Rob.  Biasanya kamu tidak semanis ini,’ komentarku.

‘Pasti ada apa-apanya,’ tebak Mom.  Rob tersenyum dan dari senyuman itu aku tahu kalau tebakan Mom tepat.

‘Rob, aku mau juga segelas,’ kata Steve yang tiba-tiba muncul di dapur.

‘Buat sendiri,’ sahut Robby acuh.  Steve tertawa keras, kemudian berjalan mendekati Robby dan meninju punggungya.  Terpaksa dia harus membuat sendiri minuman yang diinginkannya.

‘Kamu bikin apa, Rob?’ tanyaku sambil duduk di dekat Robby dan mengambil salah satu hati kertasnya.

‘Kartu Valentine,’ jawab Robby sambil mengulurkan selembar kertas degan tulisan tangannya

‘Apa ini?’ tanyaku keheranan.

‘Kamu tahu tulisanku jelek dan sulit dibaca, Princess.  Sementara tulisan tanganmu sangat indah.  Aku ingin mengirim kartu ini untuk gadis yang sangat istimewa.  Aku tidak ingin dia tahu kalau tulisanku kacau.  Aku minta tolong kamu untuk menuliskan kata-kataku ini,’ Robby menjelaskan.  Mom dan Steve tergelak mendengar kata-kata Robby.  Robby tetap menjaga sikap kalemnya seakan tidak mendengar gelak tawa ibu dan kakaknya.

‘Jadi ini nih upah membuatkan coklat susu tadi?’ tanyaku.

‘Ya, you can put it that way,’ sahut Robby tanpa sungkan-sungkan.  Karena coklat susu sudah terlanjur kuminum, maka tidak ada jalan lain kecuali memenuhi permintaan Robby.  Kusalin tulisan tangan Robby yang persis cakar ayam ke atas kertas merah mudanya.  Kata-kata cinta Robby untuk gadis istimewanya benar-benar puitis.  Lebih puitis dari lagu-lagunya Sheila on 7.  Barangkali Robby mendapatkan kata-kata itu dari internet.  Rasa-rasanya mustahil, Robby yang umurnya belum genap sebelas tahun bisa menuliskan kata-kata yang begitu cantik.  Mau juga aku menerima kata-kata cinta seperti ini dari seorang pemuda.  Biarpun pemuda itu mengambil kata-kata orang lain di internet.

‘Princess,’ panggil Mom begitu aku menyelesaikan tulisanku.  ‘Kamu sudah menemukan Valentine-mu?’

‘Sudah!’ jawab Steve cepat.  Kupelototi dia, tapi dia malah senyam-senyum kayak monyet dilemparin kacang rebus.

‘Siapa?’ tanya Mom dan Robby antusias.

‘Nggak marah kalau kukatakan kepada mereka?’ Steve meminta persetujuanku.

‘Steve, jangan mengada-ada,’ ancamku

‘Aku tidak mengada-ada.  Apa yang mengantar kita tadi bukan Valentine-mu?  Kalau bukan mengapa duduk di sampingnya saja membuatmu bisu?’ oceh Steve.  Aku benar-benar gondok mendengar argumentasi Steve.  Teganya dia menuduhku seperti itu.  Kuambil spidol-spidol Robby dan kulemparkan ke arahnya.  Dalam kesibukannya melindungi wajahnya dari spidol-spidol terbang itu, Steve masih sempat tertawa gelak.  Uggh… menyebalkan!!!

Tanggal sebelas Februari pagi, rombongan kami meninggalkan halaman parkir sekolah menuju ke Crystal Mountain, yang letaknya tidak jauh dari  kawasan Mount Rainier National Park.  Rombongan kami terdiri dari dua puluh delapan anak yang tergabung di dalam ski club dan dua guru pengawas yang kesemuanya mahir bermain ski (kecuali aku tentu saja).  Kami akan mengadakan kegiatan ski di sana selama dua hari.  Tanggal 13 sore kami akan pulang sehingga kami bisa merayakan Valentine’s Day di rumah.  Namun, rencana tinggal rencana.

Dua hari pertama kami bisa melakukan kegiatan ski dengan baik.  Udara bear-benar indah, dengan matahari yang bersinar cemerlang.  Tetapi di hari ketiga, cuaca berubah drastis.  Sejak dini hari salju turun dengan lebatnya, sesekali disela dengan hujan deras.  Mulai jam enam pagi terjadilah badai salju yang seakan tidak pernah mau berhenti.  Angin menderu-deru, menggoyang-goyangkan pohon besar ke sana ke mari.  Kami tidak bisa keluar dan terkurung di penginapan kami.  Dari televisi kami mendengar berita bahwa sebagian besar jalan di Negara Bagian Washington ditutup.  Apalagi jalan menuju ke puncak-puncak pegunungan seperti ke Crystal Mountain ini.  Tidak mungkin bagi kami untuk pulang ke Seattle.  Lagi pula bis yang kami tumpangi telah terkubur salju di halaman parker penginapan.

‘Seharusnya salju tidak turun begini lebat di bulan Februari,’ kudengar sebuah komentar di belakangku.  Saat itu aku sedang berdiri di depan jendela kaca sambil memperhatikan salju yang berputar-putar dipermainkan angin.  Aku menoleh.  Tim ada di belakangku ikut menyaksikan apa yang aku saksikan.

‘Kamu sudah menelpon keluargamua kalau kamu tidak bisa pulang hari ini?’ tanya Tim penuh perhatian.  Aku bisa saja membiarkan pertanyaannya tidak terjawab.  Tapi entah mengapa aku tidak tega untuk melakukannya.

‘Steve telah menelp0n tadi,’ jawabku.  Tiba-tiba Tim mengembangkan senyumnya.

‘Kamu tahu, Princess, itu tadi kalimat pertama yang kamu ucapkan kepadaku,’ kata Tim dengan senyuman yang masih berkembang di bibirnya.  Aku terdiam.  ‘Aku tidak pernah mengerti mengapa kamu tidak pernah mau bicara kepadaku.  Semua anak di sekolah mengatakan kalau kamu ramah dan banyak omong.  Ratusan kali aku memancingmu untuk berbicara, tapi kamu seakan tidak mau tahu.  Ada apa sebenarnya?’

Kupandang dia sejenak.  Jadi kamu tidak tahu kalau aku membencimu?  Kamu tidak tahu kalau kamu dulu pernah menyinggung perasaanku?  Tapi semua itu hanya kubatin, tidak kuucapkan.

‘Tidak ada apa-apa,’ jawabku.

‘Kalau tidak ada apa-apa mengapa kamu tidak pernah mau bicara atau menjawab pertanyaanku?’ kejar Tim tidak puas.  Untung saat itu Michelle dan Debby memanggilku untuk bergabung bersama mereka main monopoly, sehingga aku terhindar dari keajiban untuk menjawab pertanyaan Tim.

‘Sebentar, Princess,” ucap Tim menghadangku.

‘Apakah … apakah?’ Tim kelihatan ragu untuk melanjutkan.  ‘Apakah kata-kataku di hari pertamamu di sekolah dulu sangat menyakitkan hatimu?’ akhirnya mampu juga dia meneruskan kalimatnya.  Jantungku berhenti berdetak.  Na……., akhirnya kamu tahu juga.

‘Ya, pasti itu sebabnya,’ gumam Tim.  “Princess, maafkan aku.  Saat itu aku benar-benar terburu-buru.  Guru di homeclassku sangat keras.  Telat sedetik pun kami harus minta surat ijin dari administrasi.  Aku ingat waktu itu aku bersikap kasar terhadapmu.  Maukah kamu memaafkanku, Princess.  Please …,” pintanya.  Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat.  Memaafkan dia?

Puncak dari badai itu terjadi di malam hari.  Di saat kami sudah berada di kamar masing-masing seiap dengan mimpi tentang Valentine besok pagi.  Di tengah menderunya angin dan berisiknya pohon yang bertumbangan, tiba-tiba aliran listrik di seluruh penginapan terputus, berarti sebentar lagi kami semua akan kedinginan tanpa pemanas listrik.

‘Tetaplah disini, Princess, aku akn mencari lilin sebentar,’ pesan Andrea yang tidur sekamar denganku.

Sekeluar Andrea aku duduk mematung di atas tempat tidurku sambil mendengarkan angin yang menderu mengerikan seakan sanggup untuk menerbangkan semua yang ada di atas bumi ini.  Tiba-tiba kudengar suara benda yang sangat berat jatuh dari atap disusul gemerincing suara kaca pecah.  Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi karena diselilingku hanyalah kepekatan.  Tetapi sejenak kemudian aku mulai merasakan lelehan salju menyentuh kulitku.  Astaga, yang jatuh tadi ternyata atap.  Aku harus segera keluar dari kamar.

Aku bangkit dari tempat tidurku.  Tetapi begitu kakiku menyentuh lantai, secara refleks terangkat lagi.  Kakiku terasa nyeri luar biasa.  Kusentuh dengan tanganku dan kudapatkan potongan kaca menancap di sana.  Pelan-pelan dan sambil menahan rasa sakit, kucabut potongan kaca itu.  Untung keadaan kamarku gelap gulita, sehingga aku tidak bisa melihat darah yang mungkin mengalir dari telapak kakiku.  Kalau tidak, bisa pingsan aku.

‘Princess!  Princess!! tiba-tiba kudengar teriakan-teriakkan memanggil namaku.  Juga kulihat sinar-sinar lampu senter yang menyorot kesana kemari.  Dan akhirnya singgah di wajahku.

‘Oh, my God!’ kudengar sebuah seruan yang aku yakin berasal dari Tim.  Kejadian yang berlangsung sesudahnya sangat cepat.  Tim melepas T-shirt yang dikenakannya untuk membungkus kakiku yang ternyata sudah penuh dengan darah.  Kemudian dia dan Steve membawaku ke lobby dimana semua temanku berkumpul di sekitar tungku api.  Mereka semua lantas mengerumuniku dan memberondongiku dengan pertanyaan apakah aku tidak apa-apa, sementara Mr Toda dan Miss Morris mengganti T-shirt Tim dengan perban.

Sesudah lukaku bersih, Joe, si manager malam hotel, memberiku segelas kecil anggur untuk menenangkanku dan sebuah kamar di lantai dasar dengan pemanas api yang menyala hangat.  Entah karena pengaruh anggur, malam itu aku bisa tidur nyenyak sementara kawan-kawanku terpaksa tidur di lantai lobby di sekitar tungku api.  Bukan salahku jika aku harus terkena pecahan kaca.

Pagi harinya cuaca kembali seperti semula.  Cerah dan tenang.  Badai telah berlalu.  Yang ada sekarang hanyalah nyanyian burung yang bercanda di bawah sinar matahari.

Ketika keluar dari kamarku dengan kaki yang masih agak pincang, aku disambut dengan ciuman-ciuman dan ucapan ‘happy valentine’ dari mereka-mereka yang semalam tidur di lantai tapi kini toh mereka mempunyai wajah yang cerah.  Wajah cinta.  Wajah Valentine.  Tetapi aku tidak menjumpai satu wajah di sana.  Dimana dia?

‘Siapa yang kamu cari?’ tanya Steve.

‘Valentine-ku,’ sahutku.

‘Aku disini …,’ tiba-tiba Tim telah berdiri di depan pintu dengan bungkusan berbentuk hati berwarna merah muda dengan pita berwarna merah menyala di tangannya.  Aku tidak tahu bagaimana warna mukaku saat itu.  Malu bercampur senang.  Tim kemudian berjalan mendekatiku.  Diulurkan bungkusan yang dibawanya itu kepadaku.

‘Be my Valentine,’ ucapnya lirih tapi pasti.  Memang ucapannya itu tidak sepuitis ucapan Robby kepada gadis istimewanya, tapi bagiku ucapan itu tidak kalah indahnya.  Dan ketika Tim memberiku ciuman di pipiku, aku tahu aku telah menemukan Valentine-ku.

Happy Valentine, everybody.