Blog Archives

“Bu Kar dan Bung Aznen Yang Terhormat …”

Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

 

Belum pernah aku merasa begitu khawatir akan umurku seperti sekarang ini.  Setiap hari matahari datang dan pergi tanpa meninggalkan pengaruh bagiku. Tahun demi tahun berlalu tanpa sekalipun aku merasa terancam.  Setiap tanggal 9 April dengan gembira kurayakan pertambahan umurku.  Aku selalu merasa muda.  Juga ketika umurku berubah dari 29 menjadi 30 pada tanggal 9 April lalu. Mungkin sampai saat ini aku masih merasa belum perlu khawatir kalau saja Riris, teman kantorku tidak merencanakan perkawinannya.

Ketika Riris mengatakan kalau dia dan Joko akan menikah, aku menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.  Mereka sudah enam tahun berpacaran.  Tetapi beberapa jam kemudian aku menyadari ada sesuatu yang tidak beres.  Bukan pada Riris atau Joko, tetapi pada diriku sendiri.

Aku sadar bahwa semua temanku sudah pada kawin, sudah mempunyai keluarga sendiri.  Bahkan sudah sejak bertahun-tahun yang lalu.  Nita teman SMU-ku anaknya sudah tiga.  Yani, karibku waktu mahasiswa, anak sulungnya sudah masuk SD.

Semakin aku menoleh ke belakang, semakin nyata kalau semua orang yang dekat denganku sudah kawin.  Tinggal aku sendiri yang belum.  Mending kalau aku sudah merencanakannya seperti Riris.  Tapi masalahnya, pacar pun aku tidak punya.  Nah, memang benar ‘kan kalau ada sesuatu yang tidak beres pada diriku? Tapi apa?

Aku memang tidak secantik Bunga Citra Lestari. Tapi aku tidak jelek. Orang bilang mataku indah dan hidungku bagus.  Tinggiku sedang dan tubuhku proporsional.  Dengan IQ 138, aku tergolong cerdas.  Aku supel dalam pergaulan sehingga aku bisa diangkat sebagai Manajer Pemasaran pada sebuah perusahaan multinasional.  Teman wanitaku banyak.  Teman priaku tidak kalah banyak.  Hanya sayang tidak seorang pun dari mereka yang merasa cukup dekat denganku untuk melamarku menjadi istri.

Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, pikiran itu begitu menggangguku.  Aku yakin ada yang salah dengan diriku.  Tapi apa aku tidak tahu.  Aku membutuhkan bantuan seorang psikolog.  Barangkali.. Ya, barangkali, Ira, psikolog di Departemen personalia bisa membantuku untuk menemukan jawabannya.

Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

Aku tengah memasukkan data ke dalam komputerku, ketika telepon di meja kerjaku berteriak-teriak minta diangkat. Meja kerjaku dengan meja kumputer sengaja aku pisahkan agar tidak setiap saat mataku menatap layar. Kudiamkan saja dengan harapan akan berhenti dengan sendirinya.  Ternyata tidak. Krang kring itu masih juga berlanjut hingga semua ujung syarafku berdiri tegang.  Terpaksa kutinggalkan komputerku untuk meladeni penelpon yang bawel itu.

‘Selamat siang, Lely di sini.’ Sedongkol-dongkolnya hatiku, ternyata aku masih bisa ramah juga.

‘Buset, Lel, kok lama banget baru diangkat?’ terdengar gerutuan dari seberang.  Hanya dua orang di kantor ini yang berani membusetkan aku. General Managerku dan Riris. Dan yang ini jelas suara Riris.

‘Kamu sendiri juga tidak tahu etika,’ sahtku ringan. ‘Kalau lama tidak diangkat letakkan lagi dong.  Barangkali saja aku sedang ke toilet.’

Riris tertawa gelak, ‘Aku tahu dengan pasti kalau kamu ada di kamarmu, Lel.  Sebelum aku menelpon kusuruh Lusi untuk mengintip ke kamarmu,’ jawab Riris setelah tawanya reda.

‘Ada keperluan apa sih pakai nyuruh orang ngintip segala?’

‘Ini sudah hampir jam dua, Lel.  Tidak lapar?’ jawab Riris.  Tentu saja dia benar. Kalau kami berdua sedang berada di kantor, kami selalu makan siang bersama di kantin.

‘Sorry, Ris,’ aku mengaku salah. “Sebentar lagi ya? Aku lagi nanggung nih. Sepuluh menit lagi aku ke kamarmu,’ janjiku.

‘Oke, kutunggu kamu sepuluh menit lagi.  Jangan lebih. Bisa pingsan aku,’ pesan Riris sebelum menmutuskan hubungan.

Cepat-cepat aku kembali ke komputerku. Beberapa data yang tersisa segera kuinput, untuk mendapatkan analisa kotor.  Tepat sepuluh menit kemudian aku sudah berdiri di depan kamar kerja Riris. Dari luar aku bisa mendengar tawa Riris yang nyaring.  Bukan tawa orang yang hampir pingsan karena kelaparan.

Masuk ke dalam, aku melihat Riris dan Lusi, sekretarisnya, sedang menghadapi sebuah edisi majalah Femina.

‘Ini kantor atau perpustakaan?’ tanyaku dengan suara yang kubuat seserius mungkin. ‘Perempuan tertawa ngakak. Terdengar si Elang bisa-bisa kalian kena PHK,’ sambungku sambil menyebut nama General Manager kami.

‘Dengar ini, Lel,’ kata Riris tidak menanggapi omonganku.  ‘Seorang ibu mengirim surat ke Bu Kar.  Dia bilang anak perempuannya yang selama ini merupakan kambing hitam di keluarga, setelah kawin dan punya rumah sendiri jarang mengunjungi ibunya. Padahal si ibu yang menjodohkan mereka dulu.  Si anak merasa lebih bebas dan lebih bahagia daripada dulu.  Kini si ibu merasa kecewa karena telah menjodohkan anaknya,’ lanjut Riris. Setelah terdiam beberapa detik dia menambahkan.  “Lusi, bilang jangan-jangan yang mengirim surat itu ibu Lusi,’ Riris tertawa. Lusi nyengir lucu.

Aku terpana. Sebuah kesadaran menghantam tepat di otak kecilku.  Ibu itu mempunyai masalah yang mengganggunya sehingga dia menulis surat kepada Bu Kar. Aku juga sedang mempunyai masalah. Masalah itu juga menggangguku. Mengapa tidak kubawa masalahku ke Bu Kar dan Bung Aznen?  Menghadapi Ira yang psikolog dan teman kerjaku sendiri, agak sungkan dan mungkin akan menyiksaku.

 Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

Ternyata menulis surat buat Bu Kar lebih sulit daripada menulis cerpen atau membuat laporan tahunan bagi para pemegang saham.  Berhari-hari lamanya hanya satu kalimat yang berhasil kutulis. “Bu Kar dan Bung Aznen yang terhormat”. Tidak lebih.

Pernah aku menambahkan seperti ini.

Bu Kar dan Bung Aznen yang terhormat,

Saya seorang gadis Jawa, 30 tahun, manajer pemasaran pada sebuah perusahaan asing, tinggi 161, berat 48, kulit kuning, mata indah, hidung bagus. Berpenampilan menarik. Mendambakan…

Tetapi segera kusobek.  Surat seperti ini lebih cocok untuk Kontak jodohnya Kompas daripada rubrik Dari Hati ke Hati.

Pernah pula aku menulisnya dengan lebih hati-hati. Lebih serius dan lebih terinci. Tetapi setelah selesai dan kubaca ulang, aku sadar kalau orang yang kugambarkan di surat itu adalah tokoh fiktif, bukan diriku sendiri.  Kuulangi lagi dari awal, tetapi hasilnya masih belum diriku.  Begitu terus.  Akhirnya Cuma kembali ke Bu Kar dan Bung Aznen yang terhormat.

Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

Sejak aku berniat menulis surat buat Bu Kar dan Bung Aznen, aku selalu meninggalkan kantor sesudah jam tujuh malam.  Sesudah jam lima sore, saat jam kerja usai, aku akan segera mengambil flashdisk-ku dan mulai menyusun surat keluhanku.

Sesudah hari kesepuluh dan hampir setengah boks kertas masuk ke keranjang sampah, baru suratku yang berisi curahan hati yang kurasa tidak cengeng berhasil kutulis.  Karena waktu itu sudah agak larut, sehabis kucetak segera saja kumatikan komputerku. Tanpa sempat mengambil suratku dari printer, bergegas kukunci kamar kerjaku dan kutinggalkan kantor. Pikirku toh tidak ada seorang pun yang berani mengotak-atik kamarku.

Ternyata aku salah perhitungan.  Esok paginya, sesampai di kantor, kulihat kamar kerjaku terbuka.  Dan hampir saja aku pingsan ketika melihat suratku buat Bu Kar dan Bung Aznen sudah terletak dengan rapi di atas meja kerjaku dan di sampingnya ada lagi sebuah surat yang lain.  Surat balasan!!  Dengan kemarahan setinggi Empire Building, kubaca surat tersebut.  Begini bunyinya.

Anakku Lely,

Bu Kar dan Bung Aznen sudah mempelajari masalahmu dengan matang. Jawabannya cukup mudah. Hentikan memikirkan dirimu sendiri. Buka matamu lebar-lebar. Ada seseorang  yang ingin menjadikanmu sebagai istrinya. Dia begitu dekat. Tetapi karena kamu terlalu memikirkan dirimu sendiri dengan persyaratan-persyaratan yang tidak masuk akal, maka kamu tidak bisa melihatnya dengan jelas.  Buka mata hatimu, kamu akan mengetahui siapa dia.

Salam,

Bu Kar dan Bung Aznen.

‘Mbak Harti!’ teriakku lantang begitu surat tersebut selesai kubaca.  Mbak Harti, sekretarisku datang dengan tergesa-gesa.  Belum lagi dia berhenti, sudah kuberondong dia dengan pertanyaan.

‘Mbak Harti, siapa tadi yang membuka kamar saya? Siapa saja yang masuk ke sini dan menggunakan komputer saya? Siapa …’ aku berhenti ketika melihat mbak Harti memandangku bingung.

‘Waktu saya datang pintu kamar Mbak sudah sudah terbuka, saya pikir mbak datang lebih dulu.  Dan dari tadi saya tidak meihat ada orang yang  masuk ke kamar mbak.  Kenapa, Mbak?  Ada data yang hilang?’ tanya mbak Harti khawatir.  Kugelengkan kepalaku sambil mencoba mengingat-ingat apakah aku kemarin lupa mengunci pintu. Tetapi rasanya mustahil. Lalu siapa yang membuka kamarku? Siapa yang telah membaca suratku buat Bu Kar dan Bung Aznen dan menulis surat balasan yang kurang ajar itu?

Hanya aku, mbak Harti dan Karlan, Office Buy kami yang punya kunci pintu kamarku.  Dan aku yakin mbak Harti dan Karlan tidak akan berani berbuat sekurangajar itu kepadaku. Jangan-jangan sewaktu membersihkan kamar kerjaku tadi pagi, Karlan lupa menguncinya kembali dan orang lain masuk ke kamarku.  Tapi siapa?

‘Mbak Harti, tolong dong panggil Karlan,’ ucapku pelan.

Begitu aku selesai meminta tolong keoada mbak Harti, teleponku berdering. Erlangga, General Manageku. Dia meminta aku segera menemui dia di kantornya.  Kalau dia bilang segera, itu berarti benar-benar segera.  Dia tidak mau menunggu.  Terpaksa urusan pribadiku kutunda.

‘Mbak Harti, saya ke kantor GM dulu. Kalau Karlan datang, suruh dia menunggu sebentar,’ pesanku sambil berlari.

Erlangga Waskita atau si Elang sedang berbicara di telepon ketika aku tiba di depan pintu kamarnya yang terbuka.  Dia memberiku tanda untuk masuk dan duduk di depannya.  Sementara dia meneruskan pembicaraan teleponnya, aku duduk di depannya dan merasa beruntung mempunyai kesempatan untuk mengamati dirinya dari dekat.

Garis-garis wajahnya adalah garis-garis wajah tipikal orang yang mempunyai kemauan keras, galak, angkuh dan agak dingin. Persis dengan seekor elang. Untung matanya yang kelam selalu bersinar hangat,  Dan kalau dia mau tersenyum kerut-kerut di sekeliling bibir dan matanya akan bertambah dalam dan kesan angkuh dan dinginnya sama sekali tidak tampak.  Pada umurnya yang hampir empat puluh, Erlangga nampak masih belia. Aku tidak bisa melihat sehelai rambut kelabu pun di rambutnya yang hitam

‘Oke, Lel, bagaimana menurut pendapatmu?’ tanya Erlangga memecah konsentrasiku. Aku tidak tahu sejak kapan dia menghentikan pembicaraan telponnya.

‘Tentang apa?’ tanyaku gelagapan.

‘Tentang aku. Apakah menurutmu aku tergolong ganteng?’ sahutnya ringan.  Jadi rupanya di sadar juga kalau aku tengah menilai dirinya.  Untuk menutupi rasa maluku aku tertawa.

‘Ya lumayanlah,’ selorohku.

‘Hanya lumayan Hmm..?’ gumam Erlangga dengan senyum di sudut bibirnya. Tapi hanya sedetik. Sedetik kemudian dia sudah kembali angker dan serius.

Dengan singkat dia memberitahu aku bahwa beberapa direksi dari Kantor Pusat dan para manajer pemasaran dari negara-negara Asia Pasifik hari ini tiba di Indonesia dan langsung menuju ke pabrik kami di Surabaya.  Erlangga menginginkan agar aku pergi bersamanya ke Surabaya hari ini.

‘Kenapa mendadak?’ tanyaku heran. Baru kali ini orang-orang kantor pusat dan orang-orang penting dari Asia Pasifik datang tanpa gembar-gembor terlebih dahulu.

‘Strategi pemasaran kita untuk bulan depan bocor. Saingan kita, Wheelco, mulai menggunakan strategi yang sama dua hari yang lalu.  Kita harus merombak total strategi kita.  Ada kemungkinan proposalmu yang tadinya ditolak akan dipakai, asal kamu bisa meyakinkan mereka,’ kata Erlangga.  Matanya yang kelam bersinar.  Walau sekejap, aku sempat menangkap ada kekaguman dan harapan dalam mata kelam itu.

‘Lalu kapan kita akan berangkat ke Surabaya?’ tanyaku. Adanya kemungkinan bagiku untuk mempertahankan proposal benar-benar membuatku bersemangat.

‘Secepat kamu bisa mempersiapkan bahan presentasi dan perlengkapanmu,’ ucapnya. ‘Kita mungkin harus tinggal di Surabaya untuk dua atau tiga hari,’

‘Oke beri saya waktu dua jam. Saya harus mempersiapkan data terkini dan minta sopir ibu saya untuk mengantar koper dari rumah,’ janjiku.

Kembali ke kamar kerjaku, mbak Harti melaorkan bahwa Karlan hari ini tidak masuk. Laporan yang seharusnya membuatku semakin bingung lagi.  Tapi karena ada hal yang lebih penting di kepalaku, aku tidak begitu menanggapinya. Dalam saat-saat seperti ini, aku beranggapan bahwa karierku jauh lebih penting daripada kehidupan asmaraku. Aku tidak peduli kalau aku satu-satunya wanita yang belum kawin.  Aku tidak peduli ada orang Aung usil dan mengetahui bahwa sesungguhnya aku kesepian. Sebagai gantinya aku meminta tolong mbak Harti untuk membantuku mempersiapkan bahan presentasi yang harus aku bawa ke Surabaya.

 Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

Aku dan Erlangga tiba di Bandara Soetta agak awal.  Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum penumpang dipersilakan naik ke pesawat. Kesempatan yang ada kugunakan untuk membuka-buka kembali proposal strategi pemasaranku. Aku tidak ingin kedodoran dalam rapat nanti.

Erlangga duduk di sampingku di ruang tunggu eksekutif.  Kakinya yang panjang dia selonjorkan ke depan dan bahunya bersandar dengan santai.  Matanya mengawasi dengan penuh perhatian ke orang-orang yang ada di ruang tunggu tersebut. Jarang aku melihat dia dalam keadaan santai seperti itu.  Biasanya dia selalu serius.  Tak peduli dimana pun dia berada, dia tidak bisa duduk dengan diam.

Beberapa menit berlalu.  Erlangga berdiri. Menggerak-gerakkan badannya sebentar kemudian melangkah meninggalkanku.  Aku tidak tahu berapa lama dia pergi, tahu-tahu dia sudah kembali dengan membawa dua teh botol di tangannya.  Yang satu dia ulurkan ke arahku.

‘Terima kasih,’ ucapku sambil memindahkan perhatianku dari dokumen yang ada di pangkuanku.

‘Kamu benar-benar ingin proposalmu yang dipakai ya?’ komentarnya.  Aku mengangguk dengan pasti.  Dengan Erlangga aku tidak harus malu untuk menunjukkan ambisiku. Ambisi, kata yang kadang dianggap berkonotasi negatif.  Tapi bukan oleh Erlangga. Dia tahu dengan pasti aku sudah mencurahkan semua pengetahuan dan keringatku untuk menyusun proposal strategi pemasaran itu.

Sekali lagi Erlangga tersenyum misterius dan kembali duduk di sampingku. Sesudah berdiam diri beberapa saat, Erlangga mendehem.  Kututup lagi proposalku dan memandang dia.

‘Lel, boleh aku menanyakan sesuatu?’ ucapnya ragu.

‘Silakan,’

‘Siapa sih Bu Kar dan Bung Aznen itu?’ tanyanya. Dia mengeluarkan pertanyaan itu dengan pelan.  Tapi efeknya pada diriku benar-benar hebat.  Aku membelalak tidak percaya.  Jantungku seakan terbang meninggalkan dadaku.

‘Jadi kamu yang membaca suratku!’ tuduhku dengan kemarahan penuh.  Aku tidak tahu bagaimana warna wajahku saat itu.  Hanya aku yakin semua darahku naik ke kepala.

‘Tidak dengan sengaja,’ ucap Erlangga seenaknya.

‘Tidak dengan sengaja?’ jeritku.

‘Ayo dong, Lel, jangan teriak-teriak,’ bujuk Erlangga.  ‘Surat itu tidak berada di dalam amplop, jadi kukira boleh dibaca oleh semua orang,’ dalihnya.

‘Tapi surat itu ada di dalam kamarku. Dan semua yang ada di dalam kamarku adalah rahasia.  Lagi pula untuk apa kamu blusukan ke kamarku?’

‘Dengar baik-baik,’ kata Erlangga dengan nada perintah seorang boss kepada bawahannya. ‘Tadi malam aku menerima telepon dari New York tentang rapat darurat ini.  Aku membutuhkan proposalmu.  Kutelpon HP-mu tidak aktif.  Kutelpon ke rumahmu kamu belum pulang.  Aku langsung balik ke kantor. Aku pinjam kunci dari Karlan, masuk ke kamarmu dan mulai menggunakan komputermu.  Ketika aku mau mencetak proposalmu, aku melihat suratmu itu masih ada di printer.  Maaf, seharusnya aku memang tidak membacanya.’  Kalimat terakhir dia ucapkan dengan tulus.

‘Aku juga teledor,‘ gumamku.  Setengah untuk diriku sendiri dan setengahnya untuk Erlangga. ‘Tapi kamu tidak perlu membuat komentar konyol dan menyakitkan seperti itu,’ lanjutku buru-buru.

‘Aku hanya berusaha untuk membantumu,’

‘Oh, ya?’ dengusku tidak percaya.

‘Selama ini aku mengenalmu sebagai orang yang tidak membutuhkan orang lain,’ Erlangga meneruskan tanpa mengindahkan komentarku.  ‘Kamu tahu apa yang kamu inginkan dan kamu tahu bagaimana cara mendapatkannya.  Bukan kebiasaanmu untuk meminta bantuan orang lain bila menemui kesulitan. Jadi kalau kamu sampai menulis surat seperti itu, aku menyimpulkan kalau kamu benar-benar membutuhkan bantuan. Nah, aku berniat untuk membantumu.’

‘Dengan merasa iba dan membuat lelucon seperti itu?’

‘Demi Tuhan, Lel, itu bukan lelucon,’ potong Erlangga tajam.  ‘Dan tentang iba .. Aku sama sekali tidak kasihan kepadamu. Kalau ada yang harus aku kasihani, itu bukan dirimu.  Melainkan pria-pria di sekelilingmu yang selalu merasa yakin kamu tahu apa yang mereka inginkan. Yang merasa tahu kamu menyadari perasaan mereka.  Aduh, Lel, sebegitu tololnyakah kamu sehingga kamu tidak tahu kalau cinta itu tidak harus diomongkan, tapi cukup ditunjukkan dengan tingkah laku nyata?’  Sebenarnya Erlangga masih ingin meneruskan pidatonya, untung panggilan untuk menaiki pesawat keburu terdengar.  Cepat-cepat kukemasi kertas-kertasku dan kumasukkan ke dalam tas jinjingku.

Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

Selama penerbangan ke Surabaya aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak memulai percakapan dengan Erlangga.  Aku takut percakapan itu nanti akan kembali ke masalah surat yang ingin kukirim buat Bu Kar dan Bung Aznen.  Dan kalau itu terjadi, aku yakin aku tidak akan bisa mengendalikan emosiku.

Aku berusaha memusatkan pikiranku pada rapat yang akan datang. Mencoba membayangkan situasinya dan kata-kata yang ingin kukemukakan.  Tetapi karena Erlangga duduk begitu dekat dan memperhatikan semua gerak-gerikku, hal itu benar-benar sulit.  Akhirnya aku menyerah.

‘Kalau kamu begitu pandai membaca orang, mengapa sampai setua ini kamu juga belum kawin?’ serangku tiba-tiba.  Kalau aku mengharapkan dia kehilangan keseimbangan, aku salah besar.  Erlangga justru tertawa senang mendengar pertanyaanku, Kembali aku merasa dibodohkan.

‘Jadi menurutmu aku sudah begitu tua, ya?’ rajuknya.

‘Bukan itu pertanyaan saya?’

‘Kalau kamu benar-benar ingin tahu jawabannya, Lel,’ ucapnya. ‘aku telah jatuh cinta pada wanita yang tidak tahu bahwa aku sangat mencintainya. Dia sama sekali tidak mempunyai gambaran.  Sama sekali,’

Aku tahu dia cuma bermaksud untuk menggodaku dengan pernyataan seperti itu. Tapi aku tidak mau kalah dengan mudah.

‘Kalau dia tidak tahu kalau kamu mencintainya, mengapa tidak kamu beritahu dia?’

‘Terus terang aku takut dia akan menolakku.  Persyaratan-persyaratan yang dia ajukan benar-benar tidak masuk akal,’ jawab Erlangga, persis kata-kata yang dia tulis untukku. Kini aku benar-benar bernafsu untuk melecehkannya.

‘Dalam posisimu sebagai general manager, aku tidak percaya kamu tidak berani mengambil resiko,’

‘Aku menunggu saat yang tepat, Lel.  Menunggu saat yang tepat,’ gumam Erlangga sambil memejamkan matanya.

Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

Rapat hari itu berjalan dengan alot.  Banyak ide baru yang dilontarkan, tapi langsung dibantai dengan sadis. Semua saling beradu kepintaran, beradu pengalaman dan beradu argumentasi.  Suara melengking tinggi, dianggap lumrah.  Juga gebrakan meja.  Dinginnya AC sama sekali tidak mampu untuk mendinginkan kepala.

Ketika giliranku untuk membawakan proposalku tiba, aku tahu aku bakal diserang habis-habisan.  Aku sadar aku berada di tengah-tengah dunia yang didominasi pria.  Kenyataan bahwa aku wanita semakin membangkitkan ego kelakian mereka. Komentar-komentar sinis, sanggahan-sanggahan keras harus aku hadapi dengan kepala dingin.

Selama aku mempertahankan proposalku dari serangan para manager pemasaran negara lain, Erlangga duduk dengan tenang dan memperhatikan aku dari jauh. Baru kalau aku benar-benar tersudut, dia akan membantuku dengan argumentasi-argumentasinya.

Aku benar-benar lega ketika menjelang rapat ditutup, ide dasar dari proposalku bisa diterima oleh peserta rapat.  Besok tinggal membahas dengan tim kecil untuk pekerjaan rincinya.

Keluar dari ruang sidang baru aku merasakan kelelahan yang luar biasa. Dan sewaktu berada di dalam mobil perusahaan yang membawa kami berdua dari pabrik menuju hotel tangan Erlangga merangkul pundakku, aku menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Aku merasa begitu lelah dan membutuhkan perlindungannya.

‘Melihat ketenangamu waktu menangkis serangan para gurita marketing di dalam rapat tadi, aku tidak bisa mempercayai kalau malam sebelumnya kamu menulis surat seperti itu,’ bisik Erlangga di samping telingaku.  Suratku untuk bu Kar tentu maksudnya.  Tidak ada nada menghina dalam suaranya.

‘Ada saat-saat tertentu dimana aku sama sekali tidak peduli dengan karierku. Saat-saat dimana aku sangat membutuhkan orang yang mengerti aku.  Orang yang mengerti kalau aku tidak sekuat  yang orang-orang bayangkan,’ sahutku.  Aku tidak peduli apakah sopir kami menguping percakapan kami atau tidak.

‘Saat seperti ini?’ ajuk Erlangga sambil mempererat pelukannya.  Entah mengapa aku menganggukkan kepalaku. Barangkali karena kau sudah terlalu capai untuk berdebat.

‘Kalau begitu tidak ada saat yang lebih tepat dari sekarang ini,’ ucap Erlangga. Aku tidak tahu arah dari ucapannya itu. Aku melepaskan diri dari tangannya dan memandang dia dengan heran.

‘Kamu ingat pertanyaanmu yang terakhir di pesawat siang tadi?’ tanyanya. ‘Kamu bertanya mengapa aku tidak mau mengambil resiko dan melamar gadis yang kucintai. Dan kujawab, ‘Aku menunggu saat yang tepat, Lel’  Ingat?’ tanya Erlangga. Setelah mengambil nafas dalam dia melanjutkan.  “Kurasa sekarang adalah saat yang sangat tepat.  Kamu terlalu capai untuk menolak lamaranku.  Ya ‘kan?’

‘Erlangga Waskita, mengapa berbelit-belit?  Aapakah kamu sedang mencoba mengatakan sesuatu kepadaku?’ tanyaku tidak sabar.

‘Tentu saja, tolol,’ tukasnya.  ‘Aku sedang melamarmu. Aku tidak berani melakukannya selama kamu penuh energi dan merasa tidak membutuhkan orang lain.’

Aku tergelak mendengarkan ocehannya. ‘Elang, aku benar-benar menghargai niatmu untuk membantuku,’ kataku.  “Tapi kamu tidak harus mengorbankan dirimu sendiri dengan melamarku seperti itu,’

‘Lely, ternyata kamu lebih buta dari yang kuperkirakan.  Ketika aku menulis surat balasan kemarin malam, aku memang mencoba untuk membantumu untuk membuka mata hatimu.  Tapi kalau aku melamarmu sekarang, ini untuk kepentinganku sendiri. Sudah terlalu lama aku menunggumu untuk menyadari bahwa aku mempunyai perhatian khusus kepadamu. Menyadari kalau diam-diam aku ingin lebih dari sekedar atasanmu. Terlalu lama aku makan hati mendengar jawabanmu setiap kali ada orang yang menanyakan kapan kamu berniat untuk kawin.  Oh, sampai sekarang saya belum butuh suami.  Saya lebih suka hidup sendiri.  Kamu pikir enak mendengar perkataan seperti itu setiap saat?’

‘Ayo dong, Lang, berhentilah bercanda.  Aku lagi capai,’

‘Siapa yang bercanda?  Kamu benar-benar tidak masuk akal.  Kalau orang menyatakan cintanya melalui isyarat, kamu tidak bisa menangkap artinya. Kalau diucapkan, kamu tidak menganggapnya serius.  Bagaimana caranya agar aku bisa meyakinkanmu?’

‘Jadi kamu serius?’

‘Tentu saja aku serius.  Sesampai di hotel nanti, aku ingin kamu menelpon orangtuamu dan membertahukan kepada mereka kalau sekembali kita dari Surabaya aku akan meminangmu dan kita akan segera kawin.’

‘Erlangga kamu benar-benar gila.  Kamu mengajak kawin dan sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk berpikir dan mencernanya terlebih dahulu.’

‘Betul. Aku ingin mendengar jawabanmu sekarang. Aku tidak mau menunggu. Apalagi menunggu setelah proposal pemasaranmu diterima dan dilaksanakan.  Kamu akan merasa terlalu sukses dan tidak membutuhkan teman hidup lagi,’

‘Kamu salah, Lang.  Kesuksesan itu tidak akan berarti bagiku kalau tidak ada orang lain yang ikut menikmatinya.

‘Apakah itu berarti kamu menerima lamaranku?’

“Aku tidak tahu.  Berilah aku kesempatan. Paling tidak sampai kita tiba di hotel,’

Malam itu, sesudah menelpon ayah dan bunda di Jakarta dan sebelum tertidur, aku sempat memikirkan tentang Bu Kar dan Bung Aznen.  Belum sempat suratku kukirim, aku sudah menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku. Terima kasih, Bu Kar. Terima kasih, Bung Aznen.

Bu Kar dan Bung Aznen Terhomat

 

 

Advertisements

Gotehan

Gotehan

Nita, sepupuku, menentangku ketika kukatakan aku akan menyetir mobil sendiri ke Gotehan.  Dia mengingatkan kalau aku belum terbiasa untuk menyetir di ruas jalan sebelah kiri dan menawarkan sopirnya untuk mengantarku.  Dengan tegas kutolak tawarannya.   Nita tidak kenal putus asa dan terus beragumentasi dengan panjang lebar.   Dia   baru berhenti sesudah kukatakan kalau aku ingin menghadapi masalahku seorang diri.

Namun begitu keluar dari kota Surabaya aku mulai menyesali keputusanku.   Truk-truk, bis-bis serta kendaran-kendaraan lain yang berseliweran tak beraturan benar-benar membuatku ngeri.  Menghadapi kemacetan di depan pasar Krian nyaris membuatku berputar dan mengurungkan niatku.  Untung aku segera sadar kalau jalan yang aku tempuh sudah terlampau panjang.   Aku sadar kalau kehidupanku tidak akan kembali normal sebelum aku pergi ke Gotehan.

Gotehan

Minggu lalu kehidupanku masih berjalan dengan normal.   Senin pagi aku masih menuju ke kantorku yang berada di Embarcadero, San Francisco dengan berbagai proposal investasi yang aku siapkan selama akhir pekan.  Namun kenormalran itu  seakan berhenti di depan meja Pam, resepsionis kami.  Setelah mendesahkan sapaan selamat paginya yang khas, Pam menjelaskan kalau ada seseorang yang sedang menungguku di meeting room.

‘Pam, ini baru jam setengah enam.’ protesku.  ‘Kamu tahu aku tidak pernah menerima tamu sebelum jam sembilan.’

Karena waktu New York yang tiga jam lebih awal  dibanding San Francisco, para fund manager  perusahaan-perusahaan investasi di San Fransisco,  sudah harus siaga di kantor sebelum jam enam pagi untuk menunggu saat dibukanya bursa efek di New York.  Sudah berkali-kali kuingatkan Pam, walaupun aku sudah berada di kantor aku belum mau menemui tamu sebelum jam sembilan pagi.  Tiga jam pertama biasa kumanfaatkan untuk bekerja  di depan monitor.

‘Bukan tamu biasa, Lei,’ kilah Pam,  ‘Dia saudaramu dan dia sudah menunggu lebih dari setengah jam.’

‘Saudara?  Ayolah,  Pam, aku tidak punya saudara disini.’

‘Aku yakin dia saudaramu.  Wajah kalian mirip sekali.’  Jawab Pam pasti.  Aku tidak mau berdebat lagi.  Bagi Pam semua orang berkulit coklat mempunyai wajah yang sama.  Bila bertemu orang Hawaii dia akan bilang kalau mereka mirip aku.  Bertemu orang Thailand dia bilang saudaraku.  Bertemu orang Philipina  apalagi.  Jadi waktu memasuki ruang rapat aku sudah siap untuk bertemu dengan orang yang berasal dari negara manapun.  Bahkan orang Brazil atau Argentina sekalipun.

Ternyata observasi Pam kali ini tepat. Bukannya tamuku mirip aku, tapi dia memang orang Indonesia.  Berusia sekitar empat puluhan dengan postur dan tinggi yang sedang.   Ketika melihat aku masuk ruangan dia segera meletakkan dokumen yang sedang dibacanya, berdiri dan mengulurkan tangannya ke arahku.

‘Leily ?’ tanyanya.  ‘Saya Satrio dari Kantor Pengacara Satrio, Bonar dan……’ siapa aku tidak ingat.  Mungkin gara-gara  terkejut mendengar kelanjutan  kata-katanya.

‘Saya  diminta keluarga Sukarsono untuk menemui Anda…’ lanjut Satrio pelan.  Namun yang pelan itu mampu untuk menggoncangkan diriku dengan dahsyat.  Lututku bergetar dengan hebat.  Cepat-cepat aku duduk di kursi yang terdekat.

‘Leily, Anda masih ingat kan dengan keluarga Sukarsono ?’ tanya Satrio menyalahartikan kebisuanku.  Tentu saja aku masih ingat.  Bagaimana aku bisa melupakan mereka  bila aku pernah sangat mencintai salah satu  di antara mereka.

‘Leily..?’ tanya Satrio.  Kuanggukkan kepalaku sambil menunggu kata-kata selanjutnya.

‘Apakah Anda tahu kalau Bapak dan Ibu Nugra Sukarsono sudah meninggal dunia?’ tanya Satrio tanpa ekspresi.  Aku tersentak.

‘Kenapa  ? Kapan ?’ tanyaku kaget.

‘Ibu Sukarsono meninggal tiga tahun lalu karena sakit jantung dan Bapak meninggal selang beberapa bulan kemudian karena gagal ginjal.’  Aku terpaku.   Apapun yang pernah mereka lakukan terhadapku, kabar tersebut tetap menyedihkanku juga.  Kasihan Pra..  Dia pasti sangat kehilangan mereka.

‘Sejak beliau berdua meninggal dunia, kami berusaha mencari Anda.  Semua keluarga Anda yang kami hubungi tidak ada yang bersedia memberitahu dimana Anda berada.  Keluarga Anda sangat setia.  Beberapa bulan kami sempat menghentikan pencarian kami, karena jejak yang kami telusuri berkali-kali buntu .’

‘Mengapa kalian mencari saya ?  Apakah kalian akan menuduh saya sebagai penyebab kematian mereka ?’ tanyaku defensif.  Satrio menggelengkan kepalanya.

‘Nama Anda tercantum sebagai salah seorang yang mendapatkan pekebunan cengkih di Gotehan, Jombang serta…’

‘Apa ?’ sergahku.

‘Lima tahun yang lalu Bapak dan Ibu Sukarsono membuat wasiat yang mencantumkan Anda dan Pradipta sebagai ahli waris terhadap perkebunan cengkih mereka.  Ada juga beberapa kekayaan lain diserahkan khusus untuk Anda.  Saya membawa daftarnya disini.’ Satrio menjelaskan sambil menunjuk tas kerjanya.

‘Anak-anak keluarga Sukarsono juga heran mengapa Anda masuk sebagai ahli waris.   Tidak dijelaskan alasan mengapa mereka memasukkan nama Anda.  Sekarang, dengan harga cengkih yang jatuh Pradipta berniat untuk menjual kebun tersebut.  Ada seorang pengusaha yang berniat membeli tanah tersebut untuk dijadikan hotel.  Namun, tanpa persetujuan Anda, Pradipta tidak bisa menjualnya.’

‘Saya tidak mau kekayaan mereka.  Mereka boleh melakukan apa saja terhadap kekayaan mereka.   Saya tidak peduli.  Saya akan menulis pernyataan bahwa saya menolak manjadi ahli waris mereka dan Anda bisa menjadi saksinya.’  ucapku cepat.

‘Untuk kekayaan yang lain mungkin bisa kita lakukan,’ ucap Satrio sabar, ‘tapi khusus tanah yang di Gotehan ada klausal khusus yang menyatakan bahwa Anda dan Pra– boleh bersama maupun sendiri– harus menandatangani persetujuan penjualan di depan lurah Gotehan.  Kalau saja lurah Gotehan tidak terlalu tua untuk saya ajak kesini, akan saya ajak kesini sehingga kami tidak harus menyusahkan Anda.  Pradipta berpesan kepada saya agar  kami  tidak menyusahkan Anda.’

‘Bagaima kabarnya ?’ aku tidak kuasa untuk tidak menanyakannya.

‘Pradipta ?  Oh, dia baik-baik saja.  Dia sangat sukses dalam memimpin perusahaan keluarganya,’  cerita Satrio.   ‘Sebelum berangkat kesini saya sempat makan siang di kantornya  dengan dia dan anak…’

‘Anak ?’ potongku tanpa sadar.

‘Oh, Anda belum tahu?   Pra mempunyai anak perempuan berusia empat atau lima tahunan yang sangat dibanggakannya.  Cantik mirip sekali dengan Pra…’ lanjut Satrio tanpa menyadari kebekuanku.  Tiba-tiba wajah  Anggita berkelebatan di kepalaku.   Anggi yang tidak pernah dikenal ayahnya apalagi dibanggakannya.   Hatiku seakan terhimpit batu.  Tiba-tiba muncul tekadku untuk melepaskan diriku dan Anggita dari semua ikatan masa laluku.  Aku ingin bebas sebebas-bebasnya dari pengaruh keluarga Sukarsono.  Bila untuk itu aku harus datang ke Gotehan aku akan datang.

Gotehan

Setelah beberapa kali  jip yang kupinjam dari Nita nyaris tergilas truk gandeng akhirnya sampai juga aku di depan menara air menjelang kota Jombang. Kubelokkan mobil ke kiri meninggalkan kebisingan jalan raya dengan kendaran-kendaraan kelas beratnya.  Beberapa saat kemudian aku mulai memasuki jalan desa yang mulus yang diteduhi rindangnya pohon-pohon yang berjajar di kiri dan kanannya.  Hanya sesekali mobilku berpapasan dengan sepeda motor dan gerobag sapi

Tanpa kusadari anganku membawaku kembali ke masa lampau. Ke masa ketika aku masih begitu naif.  Masa ketika  duniaku berputar di sekeliling Pra. Masa dimana Pra mengajakku melewati jalan-jalan desa ini sambil mengunyah kacang rebus yang kami beli di mulut pinto tol Mojokerto. Sambil sesekali kami ikrarkan cinta dan kesetiaan.

Setamat sekolah aku bekerja di bagian Marketing Perusahaan Keluarga Sukarsono, salah satu perusahaan terbesar di Surabaya.     Pada waktu itu  Perusahan memegang lisensi beberapa sepatu olahraga dari Korea dan sedang mencoba menjajagi kemungkinan untuk sepatu kulitnya.   Karena aku seorang akuntan dan lumayan dalam menulis proposal aku dilibatkan di dalam team Pradipta yang bertanggung jawab terhadap Pengembangan Perusahaan.  Kami sering mengerjakan proyek bersama.

Lama kelamaan, hubungan yang tadinya bersifat profesional berubah menjadi pribadi.  Sangat pribadi.  Agar tidak menjadi gunjingan di kantor, Pradipta meminta agar hubungan kami dirahasiakan. Aku menurutinya.  Pradipta menjelaskan kalau dia tidak bisa mengajakku jalan-jalan di Surabaya karena takut ketahuan orang.  Aku memahaminya.   Sebagai gantinya setiap akhir pekan Pradipta mengajaku menyusuri jalan-jalan desa ini menuju perkebunan cengkihnya.

Alangkah bodohnya aku.  Tentu saja Pradipta tidak menginginkan hubungan kami diketahui orang.  Dia sudah bertunangan dan akan kawin dalam waktu dekat.   Sayangnya aku terlambat mengetahui hal tesebut.    Sangat terlambat.

Seumur hidupku aku tidak akan pernah melupakan hari itu.  Saat itu Pradipta sedang berada di Jepang.  Dari Jepang dia mengabarkan kalau Perusahaan kami telah memenangkan tender. Ayah Pradipta merayakan keberhasilan tersebut dengan mengundang kami semua makan malam bersama keluarganya di rumah mereka.

Pada saat kami tengah menikmati hidangan, Pak Nugra memperkenalkan anggota keluarganya.  Sebagai wakil dari Pradipta yang belum pulang, dia memperkenalkan calon istri Pradipta.  Ratih.  Wanita yang sangat cantik, anggun dan nampak sangat dewasa.  Wanita yang pas sekali dengan Pra.

‘Tiga bulan lagi Pradipta dan Ratih akan melangsungkan perkawinan mereka.  Kami harap kalian semua bisa menghadirinya.’ Pak Nugra mengakhiri sambutannya dan sekaligus mengakhiri hidupku.

Kepedihanku tidak berhenti disitu.  Usai makan malam, pak Nugra meminta aku untuk tinggal.  Kemudian di depan istri,  anak-anak dan calon menantunya dia mengatakan kalau Pradipta telah meminta dia untuk menyampaikan kepadaku agar aku tidak salah menafsirkan perhatian Pradipta.  Pradipta tidak pernah mencintaiku dan berharap agar aku tidak mengejar-ngejar dia lagi.

‘Kami mengerti perasaanmu, Leily.’ ucap ibu Pradipta manis tapi berbisa.  ‘Untuk menghindari rasa malumu di depan teman-teman kantor, mulai besok kamu tidak perlu ke kantor lagi.  Pak Nugra telah menyuruh bagian penggajian untuk mentransfer gaji terakhirmu serta sekedar uang jasa yang dapat kamu pergunakan untuk biaya hidup sebelum kamu mendapatkan pekerjaan lain……’ Aku tidak mendengar kelanjutan kata-katanya.  Aku berlari dan berlari tanpa pernah menoleh lagi.

Enam bulan kemudian kulahirkan Anggita.


Gotehan

Jalan di depanku mulai menanjak dan berkelok.  Kumatikan AC mobil dan kubuka jendela lebar-lebar.  Kubiarkan angin pegunungan yang lembut membelai rambutku.  Sebutir air mata bergulir di pipiku.  Oh, betapa aku mencintai tempat ini.

Karena tidak mengetahui dimana rumah lurah Gotehan, mobil kuarahkan langsung ke rumah kebun keluarga Sukarsono.  Aku akan meminta ibu Warti, perawat rumah itu untuk mengantarku ke rumah pak lurah.

Rumah kayu di atas bukit  berlatar belakang rimbunnya hutan cengkih itu masih persis seperti yang kuingat.  Rasa-rasanya baru minggu lalu aku dan Pra menghabiskan waktu kami disitu.

Kuparkir mobilku di tempat pengeringan cengkih.  Begitu aku meloncat dari mobil, entah dari mana munculnya, ibu Warti telah berdiri di depanku.

‘Non Leily, saya tidak percaya kalau Non benar-benar datang.’ isaknya dengan mata berkaca-kaca.  ‘Mas Pra meminta saya membersihkan dan menyiapkan kamar untuk Non.  Katanya sewaktu-waktu  Non akan datang.’

‘Mas Pra sering kesini ?’

‘Enggak, Non.  Sejak Non pergi mas Pra enggak pernah kesini lagi.’ jawab bu Warti.  ‘Tiba-tiba minggu lalu mas Pra muncul dan bilang kalau Non akan datang.’

Sesudah ditelpon Satrio, pikirku.

Setelah selesai meributkan aku yang tidak membawa koper dan tidak berniat untuk tinggal lama di Gotehan, bu Warti  menuntunku memasuki rumah  Kalau dari luar rumah itu nampak tidak berubah, ternyata di dalamnya banyak perubahan.  Di salah satu sisi ruang tamu yang tadinya hanya jendela-jendela kecil sekarang telah berubah menjadi kaca besar sehingga dengan bebas dapat memandang keluar.  Pohon-pohon cengkih yang tadinya menghadang di depannya sudah ditebang diganti dengan hamparan padang rumput.  Dari tempatku berdiri aku bisa memandang ke bukit seberang.  Di atas bukit seberang ada sebuah rumah peristirahatan dengan kolam renang infinity di bibir tebing.

‘Non, ini ada titipan surat dari ibu,’ ibu Warti muncul kembali memecahkan keheningan.  ‘Ibu berpesan kalau saya harus menyimpan surat ini baik-baik dan hanya memberikannya kepada Non’ lanjutnya sambil mengangurkan sebuah amplop.

‘Kapan diberikannya ?’

‘Sebulan sebelum beliau wafat.’ jawab bu Warti.  Aku duduk dan pelan-pelan kubuka surat tersebut.  Surat dengan tulisan tangan yang indah.

Gotehan

 Leily, anakku (kalau engkau mengijinkan aku untuk memanggilmu demikian)..

Sebenarnya aku berharap dapat mengatakan ini semua langsung kepadamu.  Tapi dengan kondisi kesehatanku yang semakin memburuk, aku tidak yakin kalau Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu lagi denganmu.  Namun aku percaya suatu saat nanti kamu akan datang ke Gotehan dan membaca suratku ini.

Pertemuan kita yang terakhir telah berubah menjadi tragedi.  Bukan hanya untukmu, Leil, tapi juga untuk keluarga kami.  Kami telah lancang mencampuri urusan pribadi kalian.   Kami merasa kamilah yang paling tahu apa yang akan membuat Pradipta berbahagia.  Kami sadar tidak ada alasan apapun yang dapat membenarkan tindakan kami terhadap kalian berdua.

Sewaktu Pra pulang dan mengetahui apa yang terjadi, hidupnya berakhir disitu.  Baginya matahari tidak pernah bersinar lagi.  Seketika Pra menjadi orang asing bagi kami.  Tanpa emosi sama sekali.  Kalau dia marah kepada kami dia tidak tunjukkan kemarahannya.   Tapi sejak saat itu kami tidak pernah lagi mendengar tawa dan candanya.  Kami tidak bisa meraih hatinya. 

Pernah kusarankan kepadanya untuk mencarimu.   Dia tidak mau.  Dia bilang kalau kau benar-benar mencintainya dan mempercayainya, kamu tidak akan meninggalkannya.

Kami tidak menyalahkanmu, Leil.  Kamu masih begitu muda dan kami terlalu kejam terhadapmu.

Karena Pra tidak mau mencarimu, maka aku dan ayah Pra melakukannya untuknya.  Ternyata mencarimu sangat sulit..  Keluargamu tidak ada yang bersedia berbicara kepada kami.   Permintaan maaf kami yang bertubi-tubi tidak menggemingkan mereka.  Itu merupakan awal dari kecurigaan kami kalau hubuganmu dengan Pra lebih dalam dari dugaan kami.

Dari bu Warti kami mendengar kalau kamu dan Pra sering menghabiskan waktu kalian di Gotehan.  Gotehan merupakan rumah cinta kalian berdua.  Firasatku mengatakan kalau pada waktu kamu meninggalkan Surabaya, kamu tengah mengandung anak Pra, cucu kami.

 Aku hampir gila memikirkan itu.  Setelah aku mengemis ribuan kali dan penyakit mulai menggerogotiku, akhirnya ibumu mau mengatakan kalau kamu telah melahirkan anak perempuan.  Tanpa informasi mengenai nama anakmu, dan dimana kamu dan cucuku berada.   Ibumu juga meminta kami untuk tidak mengatakan hal itu kepada Pradipta.   Beliau meminta kami untuk tidak mengganggu ketenanganmu.

Aku hormati permintaan itu, walau dengan hati yang sangat berat.  Ingin rasanya aku menuntut, tapi setelah apa yang kami lakukan terhadapmu apakah kami masih mempunyai hak ?

Leily, anakku..

Sampai saat ini Pra belum tahu mengenai anak kalian.   Aku pulangkan hal itu kepadamu..  Walaupun aku ingin Pra mengetahuinya, mungkin kamu punya alasan untuk tidak melakukannya.  Mungkin pada waktu kamu baca surat ini baik kamu dan Pra sudah punya keluarga sendiri-sendiri.  Dan untuk kebaikan semua orang kamu memilih untuk melupakan semua masa lalu.  Aku hormati itu.

Tapi, Leil, aku dan ayah Pra tahu kalau kami mempunyai cucu.  Kami ingin meninggalkan sesuatu untuknya. Jangan kamu tolak pemberian kami.  Dan mengenai Gotehan….Aku tahu tempat ini akan selalu mempunyai arti khusus bagimu.  Kami memberikannya untukmu dan Pra.

Harapanku yang terakhir, Leil, kamu bisa memaafkan kami semua

Nenek anakmu.

Gotehan

Kucoba untuk mengevaluasi perasaanku setelah membaca surat ibu Pra.  Tidak ada.  Kosong.  Hampa.  Bahkan rasa benci, dendam ataupun sebercik kepuasan yang kuharapkan muncul, ternyata tidak muncul.  Apakah aku sudah terbebas dari masa laluku?

Kuhembuskan nafas panjang dan berdiri termenung di depan jendela.  Rumah peristirahatan di bukit seberang kelihatan cantik.  Perkebunan ini akan segera berubah menjadi rumah-rumah peristirahatan cantik seperti itu, pikirku.

‘Rumah di seberang itu rumah mas Pra ?’ cerita ibu Warti,  ‘Waktu kesini minggu lalu Mas Pra bilang kalau dia akan segera memboyong istri dan anaknya.’

‘Saya kira tanah ini akan dijual untuk dijadikan hotel,’ bisikku.

‘Mas Pra tidak akan mengijinkannya.  Dia menyayangi tempat ini.’

‘Sekarang siapa yang tinggal di tempat itu?’ tanyaku

‘Tidak ada.’  sahut bu Warti.

Tiba-tiba muncul keinginanku untuk mengintip tempat itu.  Aku ingin tahu tempat seperti apa yang disiapkan Pra untuk istri dan anaknya.  Setelah itu aku akan memberikan bagian tanahku untuknya dan benar-benar berlalu dari hidupnya.

Pelan-pelan kudaki bukit untuk menuju ke rumah Peristirahatan Pra.  Aku muncul di samping kiri kolam renang dan langsung berhadapan dengan rumpun anyelir yang sedang berbunga lebat. Aku meneruskan perjalanan menuju teras dengan dipan kayu dan bantal-bantal hiasnya.  Tiba-tiba pintu teras terbuka lebar dan di depanku berdiri Pradipta.  Pradiptaku dulu.  Duniaku tiba-tiba berputar keras.  Aku jatuh sempoyongan dan Pra menangkapku.

‘Jangan berani pingsan sekarang.’  ancam Pra sambil mendudukkanku di dipan.  ‘Banyak yang harus kita bicarakan.  Sesudah itu kamu boleh tidur sesukamu.’ lanjutnya.  Pelan-pelan kubuka mataku.  Pra duduk dekat sekali di sampingku sambil memandangku kuatir.  Kulihat kerinduan di matanya.  Pelan-pelan senyumnya terkuak.

‘Selamat datang kembali ke rumah, Leil. ‘ bisiknya.  ‘Kamu pergi terlalu lama.  Anggi dan aku sangat merindukanmu.’

‘Anggi  ??’ aku tersentak kaget  ‘Kamu tahu tentang Anggi ??’  Pra tersenyum sedih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

‘Secara kebetulan.’ ucap Pra.  ‘Suatu hari adikku Rini bertemu Nita di Tunjungan Plaza sedang jalan-jalan dengan Anggi.  Begitu melihat Anggi yang mirip aku, Rini segera menyadari kalau Anggi adalah anakku.  Rini melaporkannya kepadaku.  Waktu kutemui Nita membantah dan berkeras kalau Anggi adalah anak kandungnya.   Setelah aku yakinkan dan berjanji kalau aku tidak akan mengambil Anggi tanpa persetujuanmu, barulah Nita menyerah.  Aku juga meminta Nita untuk memberitahu kamu kalau aku sudah tahu semuanya.  Melihat reasksimu tadi, aku rasa Nita tidak pernah memenuhi permintaanku.  Kamu belum tahu kalau aku sudah mengetahui tentang Anggi dan Anggi sering menginap di rumahku’

‘Bagiamana reaksi istrimu ?’ tanyaku kuatir.

‘Istri ?’ ulang Pra diikuti tawanya yang nyaring.  ‘Kamu pikir aku akan kawin dengan orang lain selain dirimu ?’

‘Bu Warti bilang kalau kamu akan segera memboyong istri dan anakmu kesini..’ ucapku.

‘Benar.  Aku akan memboyong kamu dan Anggi kesini, Leil.’ bisiknya.  ‘Kalau kamu mau.’

Tentu saja aku mau.

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Keenam)

Ribuan mil dari mama 6

Cerita Sebelumnya:

Lucinda Stanton adalah gadis yang beribukan wanita Indonesia dan ayah Amerika.  Karena perceraian orang tuanya dia ikut ibunya yang kemudian menikah lagi dan tinggal di Indonesia.  

Setelah lima belas tahun berpisah dengan ayah dan saudara kembarnya, ia dikirim oleh ibunya untuk tinggal di Amerika.  

Ayahnya menyambut Lucinda dengan hangat.  Tetapi David, saudara kembarnya menerimanya dengan kebencian dan Deidre, kekasih David ikut-ikutan.  Kesedihan Lucinda menerima perlakuan David agak terobati karena persahabatannya dengan para pengurus rumah tangga Stanton, terutama Oscar dan Irene.

Tuan Stanton mendapat serangan jantung mendadak.  David menuduh Lucinda sebagai penyebabnya.  Dia juga menuduh Lucinda datang ke Amerika karena menginginkan warisan saja.  David kemudian meminta Lucinda untuk kembali ke Indonesia, tetapi Lucinda melarikan diri ke kota Daytona dan tinggal di sebuah hotel dekat pantai.  Di sini dia berkenalan dengan Michelle, seorang peragawati.

Karena kebetulan, Lucy berkenalan dengan Mark Wayne, seorang mahasiswa yang bekerja musiman sebagai penjaga pantai.  Mark berusaha bersahabat dengan Lucy, namun Lucy enggan, mengingat pesan Michelle bahwa semua penjaga pantai adalah play boy.  Pandangan Lucy berubah, ketika pemuda itu menyelamatkan seorang anak yang hampir tenggelam di pantai.

Michelle menikah dan Lucy sendiri di hotel.  Ia kesepian, tetapi Mark sering menemaninya, bahkan dia sudah mengutarakan cintanya.  Ternyata Mark tahu kalau Lucy adalah saudara kembar David, temannya sekampus.  David juga kenal seluruh keluarga Stanton, karena pertaniannya bersebelahan dengan pertanian keluarga Stanton.  Mark juga membuka rahasia kalau Irene adalah adik Lucy, hasil perselingkuhan ayahnya dengan Mimo, adik perempuan Batista bersaudara.  Perselingkuhan yang telah menyebabkan perceraian kedua orang tua Lucy dan David.

‘Kamu bohong,’ desisku tidak yakin.  Aku mulai ragu.  Kalau mendengar nada suara Mark, aku yakin dia telah berkata jujur, tapi untuk mempercayai Irene adalah adikku, anak ayahku, hatiku masih belum mau menerima.  Mark memandangku lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun.  Seakan melalui kediamannya dia ingin meyakinkan hatiku.

‘Mark, katakanlah kalau kamu bohong,’ pintaku.  Mark menggelengkan kepalanya.

‘Jadi …jadi …  Irene benar-benar adikku? Irene anak papa? Oh…  tahukah papa tentang hal ini? Mengapa Irene tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang ini? Mengapa? Mengapa, Mark?’ jeritku tak menentu.  Mark menangkap bahuku kemudian mendekap tubuhku erat.

‘Lucy, tenang,’ bisik Mark lembut.

‘Irene adalah adikku.  Dia adikku,’ bisikku berkali-kali.

‘Jangan salahkan Irene, Lucy.  Dia tidak berdosa.  Dia datang ke keluarga Stanton tanpa maksud buruk.  Dia hanya ingin melihat orang yang menyebabkan dia ada di dunia ini.  Dia tidak ingin menuntut apa-apa dari keluargamu.  Itulah sebabnya tidak seorang pun yang mengetahui siapa dia sebenarnya.   Tidak juga ayahmu,’ Mark menerangkan.  Bayangan Irene berkelebat dalam otakku.  Wajah murungnya. Ketertutupannya.  Tatapan sendunya.  Semua itu mendukung kebenaran cerita Mark.

Lama sekali Mark membiarkan aku tenggelam dalam alam pikiranku yang serba ruwet.  Nasibku sendiri masih tidak menentu, kini harus di tambah dengan persoalan Irene.  Alangkah malangnya anak itu.

‘Lucy,’ panggil Mark.

‘Mark, aku harus mencari Irene,’ kataku cepat.  ‘Walau bagimana pun dia adalah adikku.  Aku takut sesuatu yang buruk telah terjadi padanya.  Dan lagi Irene berhak mendapatkan pengakuan dari Papa.  Terlepas apakah Papa mau atau tidak.  Papa harus bertanggung jawab,’ lanjutku berapi-api.  Mark tersenyum lega.  Sejak tadi dia kuatir aku akan mengutuk Irene karena dia (maksudku ibunya) telah menghancurkan keluargaku.

‘Jangan kuatir, Lucy, Irene pasti selamat.  Dan Manuel tahu dimana dia berada,’ sahut Mark menenangkanku.  ‘Sekarang bagaimana dengan dirimu sendiri.  Kamu tidak akan tinggal di hotel ini untuk selamanya bukan?’ tanya Mark.

‘Aku tidak tahu, Mark.  Aku tidak tahu.’

‘Bagaimana kalau kita pulang ke Kentucky?’ usul Mark.

‘Mark, jangan masukkan ide gila itu ke dalam otakmu.  Aku tidak akan kembali ke Stanton lagi,’ protesku.

‘Aku tidak menyuruh kamu kembali kepada ayahmu.  Aku bilang kita kembali ke Kentucky.  Ke rumahku.  Aku yakin Mommy, Daddy dan adik-adikku akan senang menerima calon istriku.  Bagaimana?  Setuju?’ tanya Mark.  Kutatap dia lama sebelum menjawab.

‘Aku menunggu, Lucy,’ ucap Mark.  Dan tanpa kusadari, kepalaku telah mengangguk dengan sendirinya.  Sekejab kulihat mata Mark berbinar cerah.  Hanya sekejab karena setelah itu Mark memelukku sehingga tidak memungkinkan bagiku untuk melihat ke dalam matanya.

Ribuan mil dari mama 6 b

Sambutan keluarga Mark benar-benar bukan main!  Aku tidak pernah memimpikan adanya keluarga yang akan merangkulku sedemikian hangat.  Dari si bungsu Eric, sampai ke Grannie Sally, begitu gembira menerima kedatanganku, seakan sejak dulu aku adalah bagian dari kelurga ini, yang telah menghilang untuk beberapa tahun dan kini kembali ke pangkuan lagi.  Semua orang menyuguhiku kasih sayang dengan cara yang bermacam-macam.  Grannie mulai merajut sweater untukku dalam menghadapi musim dingin nanti.   Bahkan dia mulai merancang kaos tangan yang akan kukenankan pada pesta perkawinan dengan cucunya.  Daddy menunjukkan perhatiannya dengan menggodaku terus menerus.  Mommy mendekatiku melalui pendekatan batin yang lembut, melalui sikap keibuannya.  Tonny dan Eric berusaha memasukkan aku ke dalam hidup mereka melalui kegiatan-kegiatan, cerita-cerita hangat dan perhatian mereka yang tulus.  Sedang Mark menunjukkan cintanya melalui kedua matanya.  Bila dia sudah menatapku, aku merasa siap untuk menghadapi segala tantangan hidup.

Hari demi hari kulalui dengan ceria.  Kehidupan macam inilah yang sejak dulu ingin kumiliki.  Menjadi bagian dari sebuah keluarga.  Walau belum lagi ada ikatan resmi antara aku dan Mark, tapi aku adalah bagian dari keluarga Wayne ini.  Aku adalah anak gadis satu-satunya dari keluarga Wayne.  Aku dan Mark telah memutuskan untuk tidak menikah dulu sebelum usiakku genap dua puluh tahun.  Kami sama-sama menyadari bahwa kami belum siap untuk mengarungi kehidupan rumah tangga, walau rasanya cinta kami yang menggunung cukup kuat untuk menahan serangan badai yang bagaimanpun besarnya.

Untuk sementara ini Mark akan melanjutkan kuliahnya dan aku sendiri pun juga sedang bersiap-siap untuk mendaftar pada sebuah college.  Tidak ada lagi keinginan untuk masuk Universitas, apalagi Cincinnati.  Kemungkinan berpapasan dengan David terlalu besar, sedang untuk keluar dari perkebunan Wayne saja aku tidak punya keberanian kecuali di malam hari.  Ruang gerakku hanyalah di perkebunan Wayne, tapi cukup untuk membuatku sibuk sepanjang hari.

Sebegitu jauh aku belum mendengar kabar tentang Irene.  Aku sudah yakin bahwa dia adikku.  Malam ini Mommy telah menceritakan semua tentang Mama kepadaku.  Mama mengalami kesukaran ketika mengandung aku dan David sehingga harus sering tinggal di Rumah Sakit.  Pada saat sedang dalam kesulitan itu datanglah Mimo, teman kuliah Mama meminta ijin untuk mengadakan riset di perkebunan Stanton.  Tanpa prasangka apapun Mama menerima Mimo, karena Mimo toh sahabat Mama.  Ketika Mama melahirkan aku dan David, terjadilah apa yang sebenarnya tak boleh terjadi.  Papa mengkhianati Mama! Mama tidak bisa memaafkannya.  Dia terlampau mencintai Papa dan cinta Mama yang terlampau besar itulah yang akhirnya meracuni Mama.

Segala rintangan telah Mama hadapi dengan gigih untuk bisa mendampingi Papa, termasuk harus kehilangan keluarganya, karena keluarga Mama tak pernah menyetujui perkawinan itu.  Mama telah berkoban terlalu besar.  Tapi apa yang Mama peroleh dari pengorbanan itu? Selagi dia berjuang untuk menghidupi dua bocah buah kasih mereka, suaminya tengah main gila dengan sahabatnya.  Demi aku dan David mama berusaha untuk bertahan.  Tapi khirnya pertahanan itu hancur dan terjadilah perceraian itu.  Perceraian yang menyebabkan keluarga Stanton terbagi.

‘Bagaimana dengan Mimo?’ tanyaku.

‘Mimo segera pergi dari perkebunan Stanton begitu dia merasa ibumu telah mencium hubungannya dengan ayahmu.  Dan dia tak pernah muncul-muncul lagi sejak itu.  Ternyata di meninggal ketika melahirkan Irene ke dunia,’ jawab Mommy.  Aku tepekur.  Kasihan Irene.  Dia yang tidak berdosa harus mengalami nasib yang malang sejak dia dilahirkan.

‘Tahukah Papa bahwa Irene anaknya?’ tanyaku.  Mommy menggeleng beberapa kali.

‘Ayahmu benar-benar bertaubat sejak itu.  Tapi  perkawinannya terlanjur tidak bisa lagi dipertahankan.  Dia sebenarnya sangat mencintai ibumu.  Hanya ibumulah satu-satunya wanita yang pernah singgah di hatinya.  Ayahmu benar-benar terpukul dengan perceraian itu.  Tahun-tahun pertama dia sama sekali tidak acuh dengan dirinya sendiri juga dengan David.  Kerjanya hanyalah mengutuk dirinya sendiri karena telah melukai hati ibumu.  Georgie dan Clemmielah yang menjalankan bahtera oleng itu,’ cerita Mommy.  ‘Ayahmu baru sadarkan diri sesudah mendengar ibumu telah kawin lagi.’

‘Menurut saya, Mommy, Papa bukannya menyesali diri, lebih tepat kalau dikatakan Papa dendam terhadap Mama karena Mama tega meninggalkan David dan Papa,’ selaku.

‘Mengapa  kamu berpikiran semacam itu, Lucy?’ tanya Mommy.

‘Kalau Papa ada sedikit saja perhatian terhadap Mama, mengapa Papa tak sekali pun menanyakan keadaan Mama?’

‘Oh, Lucy, menyebut nama ibumu pun, ayahmu merasa tidak pantas apalagi menanyakan keadaanya.’

‘Lalu alasan apa yang tepat untuk mengatakan pengusiran Papa terhadapku? Cinta kepada Mama?’

‘Pengusiran?’ tanya Mommy heran.

‘Mommy, saya pergi dari rumah itu karena Papa tidak menghendaki saya berada di situ,’ aku menjelaskan pelan.

‘Bukan karena David?  Bukankah kalian bertengkar?’ tanya Mommy tak percaya.  Kugelengkan kepalaku.

‘Well …  e …  e …  memang saya dan David tidak bisa akrab.  Tetapi itu tidak cukup untuk membuat saya minggat.  Papa menginginkan saya kembali kepada Mama, tetapi saya tidak bisa melakukan itu.  Terlalu berat bagi Mama.’

‘Lucy, kamu yakin dengan apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mengerti mengapa Bill, ayahmu, bisa berbuat seperti itu?’ Mommy bertanya dengan wajah yang bingung.

‘Mommy, saya pun tidak bisa mengerti.  Tak pernah bisa.  Papa tidak sanggup untuk mengasuhku.  Itu saja yang dikatakan Papa.’

‘Tapi ayahmu begitu bahagia waktu menanti kedatanganmu,’ bantah Mommy.  ‘Dia ceritakan kepada semua orang yang dikenalnya bahwa anak perempuannya akan kembali kepadanya.’

‘Tapi itulah yang dilakukan Papa.  Memberiku uang setas penuh dan menyilahkan saya untuk angkat kaki dan mengatakan antara saya dan Stanton sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.’

‘Lucy, I can’t believe it!’  teriak Mama.  ‘Bill mengatakan itu semua kepadamu? Apakah kamu mendengarnya? I just can’t believe it.’

Ya semuanya memang sulit untuk di percaya, tapi itulah kenyataan yang menimpaku.

Ribuan mil dari mama 6 b

Tidak kujumpai seorang pun di rumah ketika aku terbangun di pagi hari.  Semua ruang telah kumasuki tapi semuanya lengang.  Ke mana mereka semua.

‘Eric! Tonny!’ panggilku dari pintu ruang bawah, karena biasanya mereka sedang mengerjakan tugas musim panas mereka di lantai bawah.  Tidak kudengar sahutan.

‘Eric!’ panggilku lagi sambil berlari keluar.  Aku bertubrukan dengan Mark di depan pintu.  Dia menangkapku kemudian menciumku ringan.

‘Siapa yang kamu cari sweetheart?’ tanyanya.

‘Di mana semua orang, Mark? Sepi sekali?’

‘Ada di Louisville Fair Ground, untuk mempersiapkan pasar malam.  Masa kamu lupa? Kamu sudah di beritahu kan?’ Mark menerangkan.  Aku Cuma bisa geleng-geleng kepal menyadari kealpaanku.  Berkali-kali mereka sudah membicarakan mengenai pasar malam tahunan ini.  Bahkan tadi malam di meja makan mereka berdiskusi seru mengenai stan pameran mereka dan apa saja yang akan mereka gelar di sana.

‘Hei, ada berita gembira untukmu,’ seru Mark, ‘Aku sudah menemukan alamat Irene.’

‘Mark?’ tanyaku untuk meyakinkan.  Mark mengangguk mantap.

‘Antarkan aku ke sana Mark,’ pintaku.

‘Tentu sweetheart, tentu.  Tapi aku harus balik ke fair ground dulu mengantarkan benih-benih.  Atau kamu mau ikut?’ Mark menawarkan.

‘Ikut?’ ulangku sambil menggeleng.  Begitu banyak orang yang berada di sana dan terlalu besar resikonya.

‘Aku segera kembali,Lucy,’ pesan Mark sebelum pergi lagi.  Begitu Mark berlalu aku segera menuju ke kamarku untuk ganti baju.  Tetapi belum lagi sepuluh menit kudengar suara mobilnya berhenti di depan rumah.  Cepat amat, pikirku sambil berlari turun.

‘Kok cepat amat Mark, belum lagi a …’ dan kata-kataku berhenti di ujung lidah.  Yang berdiri di depanku bukan Mark.  Tetapi dia adalah orang yang selama ini kutakutkan untuk berjumpa.  David Stanton.  Ya dia adalah David dengan matanya yang sangat amat dingin.  Tubuhku bergetar hebat.

‘Apa yang kau inginkan?’ tanyaku serak.

‘Ikut aku!’ perintah David dingin.

‘Apa?’

‘Ikut aku!’ ulang David sambil manarik tubuhku ke luar.  Aku meronta, tapi cengkraman David pada pergelangan tanganku terlampau kencang sehingga sia-sia sajalah usahaku.

‘Lepaskan aku! Lepaskan aku!’ protesku berkali-kali.  Tetapi telinga David seakan sudah tuli, dia terus saja menyeretku menuju mobilnya.  Dibukanya pintu mobil dan dengan kasar dia mendorongku untuk duduk di kursi penumpang.  Sebelum dia menuju ke tempat duduk kemudi dia menekan tombol otomatis yang  diset untuk anak-anak sehingga tidak mungkin dibuka dari dalam.  Tidak bakal ada kesempatan bagiku untuk meloncat turun selagi dia asyik dengan kemudinya.

Ribuan mil dari mama 6 b

Mobil David melaju meninggalkan perkebunan Wayne.  Sementara itu aku tak henti-henti memuntahkan makian dan kata-kata kotor ke arahnya.  David tak menggubrisku.  Mulutnya tetap terkatup rapat dan tulang-tulang rahangnya yang kuat mencerminkan kekerasan hatinya.  Aku putus asa.

‘Kamu tidak berhak melakukan ini terhadapku.  Kamu bukan apa-apaku.  Aku bebas menentukan apa-apa yang ingin kujalani dalam hidup ini.  Demi Tuhan aku sangat membencimu.  Kalau toh di dunia ini hanya ada dua orang, kamu dan aku, aku tetap tidak akan sudi bertegur sapa denganmu.  Aku terlampau amat sangat membencimu.  Camkanlah itu, Master Stanton!’ kataku menutup omelanku karena aku menyadari hati David tak akan tergugah dan memulangkanku ke perkebunan Wayne lagi.  Aku sudah pasrah.  Apapun yang akan terjadi, terjadilah.  David menoleh ke arahku sejenak tapi tak berucap apa-apa.

Oh, Mark pasti akan segera menyadari kepergianku.  Tahukah dia kalau David telah membawaku, pikirku sedih.  Hampir saja aku berjumpa dengan Irene, tapi kini David telah menghancurkan harapanku.  Mengap David selalu memadamkan impian indahku?

Aku berdiam diri sesudah itu sambil menatap hutan-hutan buatan di sepanjang highway.  David terus saja melaju meninggalkan negara bagian Kentucky dan masuk ke Ohio.  Mobilnya berjalan kencang seakan tak ’kan pernah berhenti.  Ternyata tiba pula saatnya bagi dia untuk menghentikan mobil itu yaitu di Akron untuk mengisi bensin.

‘Mau ke toilet dulu, Lucy?’ tanya David pelan sesudah tangki mobil terisi penuh.  Aku terkejut mendengar nada suaranya yang lain.  Tapi hanya sejenak.  Cepat-cepat kugelengkan kepalaku sebagai jawabannya.  Kembali dia menjalankan mobilnya.

Kami berhenti lagi di Pittsburg untuk makan siang.  Kami duduk berhadap-hadapan di sebuah meja kecil, tapi hati kami ribuan mil jaraknya.  Tragisnya hidup ini.  Dia saudara kembarku.  Sembilan bulan lebih kami meringkus di rahim yang sama.  Tetapi mengapa aku tidak pernah bisa mendekati hatinya?

‘Apa yang akan kau lakukan terhadapku, David?’ tanyaku tidak segeram tadi.  David mengangkat wajahnya, matanya tidak sesadis pagi tadi kemudian dia menggelengkan kepalanya pelan.

‘Kamu harus kembali ke Indonesia,’ desahnya.

‘Apa bedanya aku berada di sini dan aku berada di Indonesia?’ tanyaku berusaha tenang.  ‘Aku tidak akan mengganggumu.  Bukankah seperti katamu dulu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi antara aku dan Stanton.  Aku tidak mengenakan nama Stanton lagi.’

‘Tidak!’ bantah David.  ‘Lebih baik bagimu untuk tetap berada di Indonesia.’

‘David, aku tidak akan …,’ kataku berusaha protes tetapi David sudah beranjak dari kursinya dan mengajakku segera pergi.

‘Jadi kamu akan mengantarku pulang ke Indonesia?’ tanyaku setelah kembali berada di dalam mobil.

‘Ya, sampai JFK, New York,’ jawab David.  Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku tidak membawa paspor.

‘Kamu tidak akan bisa mengeluarkanku dari Amerika,’ seruku sambil tertawa.  David menoleh.

‘Mengapa tidak?’ tantangnya.

‘Pasporku tertinggal di rumah Wayne.’

‘Tidak jadi masalah,’ jawab David tenang.  ‘Kita pergi dulu ke kedutaan besar Indonesia di Washington dan melaporkan bahwa paspormu telah hilang.’ Aku terdiam.  David telah mempersiapkan segalanya dengan matang.  Semua gertakanku tidak mempan baginya.

‘David, mengapa tak kamu kembalikan saja aku ke keluarga Wayne? Aku berjanji tak ’kan mengusikmu,’ bujukku merubah siasat.

‘Itu pantangan terbesar bagiku.  Wayne adalah saingan Stanton yang paling besar.’

‘Mereka begitu baik tehadapku.’

‘Itu karena kamu sedang jatuh cinta.  Sejak dulu kala sudah terjadi persaingan antara Stanton dan Wayne.  Bahkan dulu Papa dan Mr.  Wayne bersaing hebat dalam memperebutkan Mama,’ ucap David bangga.  Aku terperanjat mendengar dia mengalamatkan Mama bukan ‘ibumu’.

‘Ah, Mr.  Wayne sudah melupakan peristiwa itu,’ belaku.

‘Omong kosong,’ bantah David, ‘Mereka tetap dendam terhadap Stanton, apalagi setelah Deidre akrab denganku.’

‘Apa hubungannya Deidre dengan Wayne?’

‘Dia adalah satu-satunya gadis yang dicintai Mark.’

‘Tidak mungkin.  Mark mencintai aku.’ sanggahku seketika.

‘Tidak sadarkah kau, Lucy, bahwa Mark berusaha membalas dendam melalui dirimu.  Dia sangat mencintai Di tapi Di telah menolaknya.  dan mendekatimu.  Walau bagaimanapun juga kamu mempunyai darah Stanton.  Mark berharap dengan melukai hatimu, dia juga melukai Stanton.’

‘Kamu bohong!’ geramku.

‘No, Lucy, no.  Aku sungguh-sungguh.  Sebelum kamu terlalu dekat dengan Mark, maka sebaiknya kamu menjauh.  Dia tidak bersungguh-sungguh terhadapmu.  Percayalah aku.’

‘Apa maksudmu dengan sebelum aku terlalu dekat dengan Mark? Aku sudah terlalu dekat dengan Mark.  Aku dan dia sudah kawin dan saat ini aku sedang mengandung anaknya, anak yang berdarah Wayne,’ ucapku ingin melihat reaksinya.

‘Apa?!!!’ gelegar David.

‘Kamu telah mendengarnya tadi,’ jawabku berbohong lagi.

‘Oh God, no!’ desis David menyerupai sebuah erangan.  Wajahnya mendadak menjadi pucat pasi dan dadanya turun naik tidak teratur.  Aku tertegun, apalagi setelah melihat ke dalam matanya.  tidak ada lagi ketegaran dan keangkuhan di sana.  Mata itu menggambarkan hati yang sangat terluka, tiada gairah hidup yang ada hanyalah kekecewaan seakan dia telah menderita kekalahan total.

Tiba-tiba kulihat sebuah truck yang memasuki highway dengan kecepatan tinggi.  David tidak melihatnya.

‘David, awas!!’ teriakku memperingatkan.  David berusaha menguasai kemudi.  Tetapi aku melihat tubuh dan tangan David bergetar.  Dia masih shock dengan keteranganku tadi.  Dia berusaha keras untuk menghindari tabarakan tanpa memperhitungkan bahwa di depan kami ada sebuah tikungan yang amat tajam.  David menginjak rem dengan mendadak.  Terdengar bunyi jeletit rem yang keras.  Terlambat!! Mobil kami berguling dan kuteriakkan namanya sebelum sekelilingku menjadi gelap pekat.  Aku tak sadarkan diri.

Ribuan mil dari mama 6 b

‘Lucy …  Lucy …  kamu sudah bangun?’ sayup-sayup kudengar sebuah pertanyaan dari suara yang asing.  Ingin sekali aku membuka mata dan melihat siapa yang bertanya.  Tidak berhasil.

‘Lucy, are you awake?’ kembali suara itu mengiang.  Aku berusaha makin keras untuk membuka mataku.

‘Lucy, kamu mendengar suaraku?’ pertanyaan itu makin gencar.  Hampir.  Mataku hampir terbuka.  Dan ketika mata ini terbuka kulihat siapa pemilik suara itu.  Seorang laki-laki setengah baya berpakaian serba putih.  Rumah sakit! Mengapa aku ada di sini, pikirku kacau.  Kucoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.

‘David!’ teriakku lantang.  ‘Dimana David? Aku telah membunuhnya,’ teriakku berkali-kali setelah berhasil mengingat apa yang menyebabkanku berada di Rumah Sakit ini.

‘David! David! David!’ teriakku histeris.  Aku telah membunuh saudara kembarku sendiri.  Kalau saja aku tidak berbohong padanya tentang Mark, tentu dia tidak akan kehilangan keseimbangan dan peristiwa ini tidak harus terjadi.  Aku benar-benar menyesal hingga tubuhku menjadi tegang setengah mati.

‘David!’ jeritku kalut.

‘Lucy, tenang.  Kakakmu selamat.  Dia sedang berusaha menghubungi ayahmu,’ hibur dokter itu.  Aku tahu dia bohong.

‘Tidak! David telah mati.  Aku yang membunuhnya.  Antarkan aku melihat mayatnya,’ tuntutku sambil berusaha bangun.  Tiba-tiba aku merasakan nyeri yang luar biasa di punggungku.  Aku meringis menahan sakit dan tergeletak kembali.  Tangisku tak lagi terbendung.  Barulah aku menyadari bahwa aku menyayangi David.  Tapi kini David telah tiada sebelum sempat aku nyatakan cintaku.  Kututup mataku rapat untuk mengenangkan bayangan David.

‘David …  David …’ kubisikkan namanya berkali-kali dengan harapan dia bisa mendengarnya.

‘Lucy …’ kudengar sapaan lembut.  Suara David.  Dari surgakah datangnya? Aku takut untuk membuka mataku.  Tiba-tiba tanganku di sentuh dan namaku kembali di bisikkan.  Pelan sekali kubuka mataku kembali.

‘David?’ tanyaku tidak yakin.  Dia memang berdiri di dekatku.  Tapi sadarkah aku atau ini hanya sekedar impian?’

‘Lucy, …’ bisik David serak.

‘David!’ teriakku gembira.  Kupeluk dirinya erat dan takkan kulepaskan lagi.  David menangis sesunggukan di pelukanku.

‘Maafkan aku, Lucy.  Maafkan aku,’ isaknya.

‘David, aku yang salah.  Hampir saja aku membunuhmu.’

‘Tidak, Lucy.  Akulah yang terlalu egoistis.  Hanya diriku saja yang kupikirkan tanpa pernah memikirkan hati dan perasaanmu.  Seminggu ini aku seperti orang gila saja.  Kalau kamu belum juga sadar hari ini aku sudah siap untuk membunuh diri.’

‘Seminggu?’ tanyaku.  ‘Selama itu aku tak sadarkan diri?’

‘Ya dan itu membuatku gila.  Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.  Kamu mau memaafkan aku ‘kan, Lucy? Berilah aku kesempatan untuk memperbaiki diri! Berilah aku kesempatan untuk mencintaimu dengan tulus,’ bisik David.

Kupandang dia lama dan dalam.  Kucari pandangan dingin dalam matanya.  Tidak lagi bersisa.  Mata itu kini berisi cinta dan dan penyesalan.  Mampukah untuk mengecewakan dia sedang sesungguhnya aku sangat mencintainya? Pelan sekali kuanggukkan kepalaku.  Mata david bersinar cerah kemudian dia merengkuhku ke dalam pelukannya dan tangis kebahagiaan kamipun tumpahlah.

‘Aduh!’ jeritku tak tertahan ketika tangan David menyentuh punggungku.

‘Maaf, Lucy,’ ucap David sambil melepaskan pelukannya.

‘Ada apa di punggungku, Dave? Nyeri sekali.’ Tanyaku.

‘Mereka terpaksa memecah kaca mobil waktu menolong kita.  Dan punggungmu tergores pecahan kaca waktu mengeluarkan kamu,’ jawab David.  ‘Sudah di jahit sekarang,’ lanjutnya.

‘David,’ panggilku setelah kami berdiam diri untuk waktu yang agak lama.  Devid menatapku sambil kedua tangannya memainkan tanganku.

‘Ya?’ tanya david.

‘Ah, tak usah saja,’ sahutku ragu.

‘Katakanlah apa yang ingin kau katakan,’ kata David.

‘Tentang Mark.  Benarkah hanya Deidre saja yang dicintainya? Apakah aku sama sekali tidak ada dalam hatinya?’

‘Kamu mencintai dia?’ tanya David sambil memandangku dalam.  Aku mengangguk pasti.  Memang aku mencintai Mark.  David tersenyum lebar.  Sayang aku tidak mengerti arti senyumannya.

‘Tidak ada gadis lain yang dapat mengalahkanmu, Lucy.  Aku yakin Mark pasti mencintaimu.  Lupakan tentang Deidre.  Mark tidak pernah merasa memiliki Deidre, jadi sudah tentu dia tidak merasa kehilangan Deidre.’

‘Tapi …’

‘Tapi apa.  Lucy?’

‘Kamu pernah  bilang bahwa …’

‘Lupakan itu, Lucy, lupakanlah.  Aku tidak sadar dengan apa yang kuucapkan.  Percayalah bahwa Mark mencintaimu.  Sudah berapa bulan usia kandunganmu?’ tanya David mengejutkan.

‘David,’ bisikku lirih, ‘Aku tidak sedang hamil dan antara aku dan Mark belum ada ikatan perkawinan.’

‘Jadi?!’ tanya David sambil menahan tawa.

‘Ya, Dave, kita saling membohongi untuk saling menyakiti,’ jawabku sambil tertawa.  David juga tertawa.  Inilah pertama kalinya kami tertawa bersama.

‘Kita mulai dari awal lagi, Lus.  Marilah kita berjanji untuk senantiasa terbuka satu sama lainnya.  Tidak ada lagi dusta dan sandiwara.  Kita sudah begitu menderita dengan ulah kita sendiri.’

‘Apakah kamu menderita? Kukira hanya aku saja yang menderita.  Kamu begitu keras kepala dan angkuh.’

‘Bukankah hati kita hanya satu, Lus?’ jawab David.  ‘Akupun menderita sepertimu.’

‘Tapi mengapa kamu begitu saja memusuhiku? Aku datang dengan cinta, Dave, tapi kau sambut aku dengan kebencian,’ tanyaku hati-hati.  David terdiam lama sebelum menjawab.

‘Aku tidak sadar dengan diriku sendiri, lucy.  Deidre terlalu mempengaruhiku dengan gagasannya tentang warisan Papa.  Padahal sesungguhnya aku tidak begitu perduli dengan warisan itu.  Hanya …  mungkin …  mungkin, Lucy, aku iri dengan kebahagiaanmu.  Kamu selalu mendapatkan yang terbaik.’

‘Apa maksudmu, Dave?’

‘Mungkin aku terlalu kekanak-kanakan.  Aku begitu sakit hati ketika Mama memilih kamu untuk ikut dia.  Mengapa bukan aku? Mengapa Mama membiarkan aku ikut Papa, padahal Mama tahu pasti Papa tidak akan memperdulikanku?’ ucap David sentimentil.

‘David, kamu ingin tahu jaawbannya? Aku perna bertanya kepada Mama tentang hal ini.  Waktu itu aku bertanya mengapa bukan aku yang iktu Papa.  Mengapa harus David? Lalu jawab Mama, ‘kalau saja aku berhak, maka kalian akan kubawa semua.  Tapi karena aku hanya berhak membawa satu dari kalian mak kupilih kamu, karena aku yakin Davidlah yang kuat mendampingi ayahmu.  Dan lagi kamu dulu sakit-sakitan maka kuputuskan kamu yang kubawa.’

David termenung mendengar kata-kataku.

‘Pernahkah Mama berpikir tentang aku?’ tanya David kemudian.

‘David!’ seruku.  ‘Setiap menit Mama selalu memikirkanmu.  Kau pikir Mama melupakanmu begitu saja?’ David tersenyum malu mendengar teguranku.

‘Seperti kataku tadi, Lucy, aku terlalu berpikir tentang diriku sendiri.  Setiap saat Papa berbicara denganku tentang dirimu maka waktu itu pula aku menyadari bahwa kamu begitu diperhatikan.  Itulah yang membuatku iri, seakan aku tidak berarti apa-apa di mata Papa.  Aku takut bila kamu tetap berada di samping Papa kedudukanku akan tergeser dan aku akan hilang begitu saja.’

‘Masihkah kamu mempunyai perasaan seperti itu?’ tanyaku.

‘Tidak lagi, Lucy.  Tidak lagi.’ Jawab David.  Kuambil tangan david dan kucium.  David tersenyum.

‘Apakah berarti bahwa aku boleh tetap berada di sini?’

‘Tidak!’ jawab David cepat.

‘David!’ protesku tak habis pikir.

‘Kamu tidak boleh tetap berada di sini.  Ingat ini Rumah Sakit, Lucy.  Rumahmu ada di Louisville,’ jawabnya sambil tertawa.  Kucubit dia sekuat tenaga dan David menjerit.  Tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka dan muncullah wajah-wajah terkasih; Papa.  Mark dan Irene.  Aku tidak tahu nama siapa yang harus kuteriakkan pertama kali.  Akibatnya aku hanya menatap mereka tak berkedip tanpa mengucapkan sepatah kata pun.  Tahu-tahu aku telah di hujani ciuman mereka.

‘Bagaimana kalian tahu aku berada di sini?’ akhirnya mampu juga aku untuk bertanya.

‘Orang tua Mark datang menemuiku dan mengatakan bahwa menantu mereka telah menghilang.’ Jawab Papa sambil mengedipkan sebelah matanya.  semua tertawa kecuali aku dan Mark.  ‘Ternyata menantu mereka itu adalah anakku yang juga pernah menghilang dua bulan yang lalu.  Karena waktu menantu mereka menghilang itu bersamaan waktunya dengan menghilangnya anak laki-lakiku, maka kami sepakati untuk menganggap mereka menghilangnya bersama-sama.  Hingga akhirnya kuterima telepon dari anak laki-lakiku tentang kecelakaan yang menimpa mereka.  Nah, cukup jelas sekarang?’ lanjut Papa berbelit-belit.

‘Irene?’ tanyaku untuk menyingkap kehadiran Irene di kamar ini.  Papa menghela nafas sejenak kemudian memandang kami semua silih berganti.

‘Mengapa tak kau katakan kepada Papa begitu kamu mengetahuinya, Lucy? Mengapa orang lain yang harus bercerita kepada Papa?’ Papa ganti bertanya.

‘Saya menanti saat yang tepat, Papa,’ jawabku.  ‘Siapa yang memberitahu Papa?’

‘Menantuku ini dan orang tuanya,’ jawab Papa sambil menepuk bahu Mark.  Mak tersenyum jengah.

‘Hei, apa-apaan ini? Apa yang kalian perbincangkan?’ tanya David kebingungan.

‘Irene adalah adikmu, Dave,’ jawab Papa.  David terperanjat.  Matanya bergerak cepat dari Papa ke Irene, kembali lagi ke Papa kemudian berhenti padaku.  Kuanggukkan kepalaku untuk meyakinkan dirinya.  Dengan cepat dia berdir dari sisiku dan berjalan mendekati Irene yang berdiri dengan tegang.  Diambilnya wajah Irene dengan kedua tangannya dan dipelajarinya lama.

‘Mengapa tak kau katakan dari dulu, Irene?’ bisik David lembut.  Mata Irene berkaca-kaca menatap David dan bibirnya bergetar menahan haru.

‘Irene adikku,’ desah David sambil memeluk Irene.

Angin sore berhembus lembut, mempermainkan pucuk-pucuk pinus di depan sana.  Bunga-bunga Dandelion kuning bergoyang-goyang mengucapkan salam kepada kuda-kuda jantan Kentucky yang sedang bercanda riang.  Dan di atas salah satu punggung kuda itu David bertengger.  Sinar matanya menimpa dadanya yang telanjang hingga dari tubuhnya seakan memancarkan cahaya.

Kutoleh Papa yang duduk di samping Irene, pandangan Papa juga berada pada David.

‘Aku gembira David bisa lepas dari Deidre.  Gadis itu berpengaruh tidak baik padanya,’ bisik Papa.  Aku, Mark dan Irene tidak berkomentar walau dalam hati kami sependapat dengan Papa.

‘Dan, Lucy …  kapan kamu melangsungkan perkawinanmu dan memberi Papa cucu-cucu yang manis?’ tanya Papa kepadaku.  Kulirik Mark yang duduk di sampingku, dia tersenyum lebar ke arahku.

‘Ah, tidak seharusnya Papa bertanya kepadaku.  Lucy sih sudah siap Cuma Mark saja yang belum,’ jawabku.  Mark membelalakkan matanya.

‘Jangan membalikkan fakta, Miss,’ protesnya.  ‘Detik ini pun aku mau,’ lanjutnya.  Papa dan Irene tertawa.

‘Kalau begitu tunggu apa lagi?’ tanya Papa.

‘Begini, Papa,’ aku menerangkan, ‘Mark dan David akan pergi ke Indonesia dulu.  Meminta ijin kepada Mama.  Na, kalau Mama sudah memberi lampu hijau baru …’

‘Kapan kalian akan pergi?’ potong Papa ke arah Mark.

‘Secepatnya,’ jawab Mark pasti.

‘Bagus! Aku yakin Mama Lucy akan mengijinkan,’ jawab Papa.

‘Papa begitu yakin?’ tanyaku.  Papa tidak menjawab.  Tapi seperti juga Papa aku yakin Mama akan mengijinkan perkawinan kami.  Mark terlampau baik untuk di tolak.

‘Nona, Lucinda …’ panggil David yang entah kapan telah ada di depan kami.  ‘Maukah Anda berkuda denganku?’

‘Dengan senang hati, tuan muda,’ jawabku sambil beranjak dari sisi Mark.  ‘Sebentar ya, Mark?’ bisikku pada Mark.  ‘Ngobrol-ngobrollah dulu dengan mertua dan adik ipar,’ Mark mengangguk dan memperhatikan kami berlalu.

Aku duduk di belakang David sambil memeluk tubuhnya erat.  Tiba-tiba terpandang olehku sebuah bekas luka di punggungnya.

‘David, apa ini?’ tanyaku.

‘Setahun yang lalu aku terjatuh dari sepeda motor,’

‘Lucu ya, Dave? Aku juga mempunyai bekas luka dipunggung.’

‘Apanya yang lucu? Bukankah kita saudara kembar? Kalau kamu terluka aku pun ikut terluka,’ jawab David berkelakar sambil mempercepat lari kudanya.

‘David,’ bisikku.

‘Hmm?’ tanya David tanpa berusaha memelankan lari kuda.

‘Aku mencintaimu,’ ucapku.  Aku tahu aku harus mengucapkan kata-kata itu.  Serta merta David menghentikan kudanya, kemudian dia menoleh ke arahku.  Ditatapnya aku lama dan dalam.

‘Siapa yang lebih kau cintai, aku atau Mark?’ tanyanya.

‘Oh, David, engku gila!’ teriakku sambil memukul punggungnya.  ‘Jangan katakan kalau kamu cemburu pada Mark,’ David tertawa terbahak-bahak dan matanya berputar-putar dengan kocaknya.

‘Tentu saja tidak.  Cuma …  rasanya belum lama aku memilikimu kini kamu akan menjadi milik Mark,’ ucap David polos.

‘David, kamu tahu aku akan tetap menjadi milikmu.  Aku akan selalu membutuhkanmu.  Bukankah kita hanya mempunyai satu hati?’ David mengangguk.  Sebuah senyum hangat tersungging di bibirnya.  Kemudian dia mencium dahiku lembut.

‘Akupun mencintaimu, Lucy,’ bisiknya.  Dan entah dari mana datangnya tahu-tahu dunia ini penuh dengan cinta.  Bahkan burung-burng yang terbang bergerombol di atas pun bergerak karena cinta.  Alangkah indahnya dunia ini.     

Tamat.

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Keempat)

ribuanmi4

Cerita Sebelumnya:

Lucinda Stanton adalah gadis yang beribukan wanita Indonesia dan ayah Amerika.  Karena perceraian orang tuanya dia ikut ibunya yang kemudian menikah lagi dan tinggal di Indonesia.  

Setelah lima belas tahun berpisah dengan ayah dan saudara kembarnya, ia dikirim oleh ibunya untuk tinggal di Amerika.  

Ayahnya menyambut Lucinda dengan hangat.  Tetapi David, saudara kembarnya menerimanya dengan kebencian dan Deidre, kekasih David ikut-ikutan.  Kesedihan Lucinda menerima perlakuan David agak terobati karena persahabatannya dengan para pengurus rumah tangga Stanton, terutama Oscar dan Irene.

Tuan Stanton mendapat serangan jantung mendadak.  David menuduh Lucinda sebagai penyebabnya.  Dia juga menuduh Lucinda datang ke Amerika karena menginginkan warisan saja.  David kemudian meminta Lucinda untuk kembali ke Indonesia, tetapi Lucinda melarikan diri ke kota lain

Taksi yang kutumpangi berjalan menyusur pantai meninggalkan keramaian kota Jacksonville.  Pantai yang gersang tanpa pepohonan.   Pasirnya berwarna putih kusam.  Tidak ada yang menarik.  Pantai ini kalah jauh dari pantai-pantai di Indonesia.  Sekitar dua jam kemudian kami memasuki kota kecil Daytona.   Ada sebaris pohon palem yang hampir meranggas di pusat kota.  Walaupun demikian Daytona mempunyai karisma tersendiri.  Suasana liburan serta merta terasa. Di mana-mana kelihatan orang berjalan kaki dengan riang.  Mobil yang lalu lalang bisa di hitung dengan jari.  Tak seorang pun bepenampilan murung, kecuali aku mungkin.

Sesudah agak lama berputar-putar di pusat kota, supir taksi membelokkan mobilnya ke kiri ke arah pantai. Suasanan pantai lebih menunjukkan suasana santai. Penuh dengan manusia yang sedang berenang dan sekedar berjemur di bawah terik matahari. Kemudian taksiku memasuki halaman sebuah hotel yang nampak begitu indah.  Sebuah hotel butik yang ditujukan untuk penyewa jangka panjang dengan pelayanan lengkap, termasuk tiga kali makan.

Seorang room boy mengantarku ke kamar yang kupesan dari airport.  Sebuah kamar yang luas dan  terpisah dari bangunan induk hotel.  Berderet dengan tiga kamar lainnya dan menghadap ke pantai.   Sepanjang siang aku mengurung diri di kamar.   Aku mersasa benar-benar sendirian kini.  Setiap orang saling memiliki. Aku tidak.  Mama memiliki adik-adikku dan Oom No.  David memiliki Papa.  Papa memiliki David.  Tetapi aku?  Tak seorang pun yang kumiliki kini.  Tidak ada seorang pun yang mempedulikan apakah aku masih hidup atau sudah mati.  Mama pasti mengira aku masih bersama Papa.  Papa dan David pasti juga mengira kalau aku sudah kembali ke Mama dan mereka tidak peduli apakah aku benar-benar sudah pulang atau belum.  Aku bukan Stanton lagi.  Tak ada lagi hubungan antara diriku dengan Stanton.  Oh tragisnya hidup ini.   Tapi aku sudah memilih untuk menjalani  hidup yang tragis ini.

ribuanmi4

Pukul tujuh, bel panggilan makan malam berdering.  Aku tidak lapar tetapi bangkit juga dari tempat tidur.  Kulihat diriku di dalam cermin.  Mataku sangat merah dan mataku sembab oleh bekas air mata. Kubasuh mukaku dulu sebelum keluar dari kamar.  Waktu keluar dari kamar, penghuni kamar sebelah kiriku  juga keluar. Seorang gadis yang sangat cantik dengan perawakan yang begitu semampai.

‘Hello!’  sapanya ramah sambil menutup pintu kamarnya.

‘Hai,’   jawabku gugup.

‘Kamu penghuni kamar ini?’ tanyanya.  Kuanggukkan kepalaku.  ‘Sudah lama aku ingin punya tetangga dan baru sekarang kesampaian. Namaku Michelle,’ lanjut gadis itu memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya hangat.

‘Aku Lucy.  Kamu sendirian saja?’  tanyaku sambil kujabat tangannya. Dia mengangguk.

‘Kamu  mau makan malam ‘kan?  Kita bisa duduk semeja,’  usul  Michelle. Aku merasa sedikit terhibur.  Makan sendirian benar-benar tidak nyaman terutama di tempat yang ramai seperti ruang makan di hotel ini.

Kami duduk di teras ruang makan yang menghadap  ke laut lepas. Hembusan angin sore yang hangat kental beraroma garam.   Michelle mulai menceritakan tentang dirinya. Dia seorang peragawati yang berasal dari Boston dan pada musim panas bekerja pada sebuah rumah mode di Daytona.

‘Kamu tinggal di hotel ini sepanjang musim panas?’  tanyaku.

‘Ya.  Itu perjanjianku dengan boss.  Aku tidak mau tinggal di apartemen, membereskan tempat tidur dan mengurusi hal-hal domestik lainnya,” jawab Michelle sambil tertawa.  Aku menyadari gadis di depanku ini begitu banyak tawanya. ‘ Nah, itu waiter kita, Les,…’ ucap Michele sambil menunjuk pada seorang pemuda yang berjalan ke arah kami.

‘Selamat malam, Michelle!’ tegur waiter itu.

‘Malam, Les.  Ada orang baru yang duduk di meja ini.  Kamarnya di sebelah kanan kamarku.  Lucy, kenalkan, Les,’ Michele memperkenalkan kami berdua.

‘Hallo,’  sapaku.

‘Senang berkenalan denganmu, Lucy,’ balas Les sambil tersenyum.   ‘Sekarang apa yang dapat kuambilkan untuk kalian?’ lanjutnya.

‘Seperti biasanya. Dan Lucy, apa yang kamu inginkan?’ tanya Michelle. ‘ Tidak banyak yang dapat kamu pilih di sini,’ sambung Michele berbisik tapi cukup keras untuk didengar Les. Les tersenyum tapi tidak membantah kata-kata Michelle.

‘Apa yang istimewa untuk hari ini?’ tanyaku.

‘Idaho red angus dilumuri mint lalu ditaburi suwiran lobster dan tumis sayuran dan dilengkapi dengan kentang mini kukus,’

‘Itu yang istimewanya apalagi yang biasa,’ komentar Michele diiringi tawanya yang khas.

‘Kamu membuat nafsu makan Lucy hilang,’ Les memperingatkan.

‘Oke, kuambil yang istimewannya tapi tanpa lobster,’ jawabku.   Les tersenyum senang dan segera berlalu.  Sesudah makan malam Michelle mengeluarkan rokoknya.

‘Rokok?’ Michelle menawarkan.

‘Terima kasih.  Aku tidak merokok,’ jawabku. Michelle menyulut sebatang untuknya.  Sisanya di letakkan di atas meja dan di putar-putarkan beberapa kali.

‘Lucy, kamu mempunyai darah Amerika Latin? Mexico atau Cuba?’  tanya Michele tiba-tiba. Kugelengkan kepalaku.

‘Amerika Asli?’ tanyanya tak percaya.

‘Juga bukan. Aku orang Indonesia.’

‘Indonesia?’ ulang Michele untuk meyakinkan.  ‘Sangat jauh dari sini.  Kamu datang ke sini sendirian? Berapa umurmu?’ tanya Michele dengan cepatnya. Aku tertawa mendengar kecepatan bicaranya itu.

‘Sembilan belas dan akan menjadi dua puluh tahun pada musim gugur,’

‘Sembilan belas? Ah, kamu pasti bercanda. Enam belas kukira lebih tepat,’ olok Michelle.

‘Mau lihat pasporku?’ gurauku.

‘Tidak . . . tidak,’ jawab Michelle sambil tertawa.  Kemudian kami bercakap-cakap ringan.  Tentang mode,  tentang remaja,  tentang pantai dan penjaga pantainya.  Selama bercerita itu Michele merokok terus menerus.  Aku heran mengapa giginya masih tetap putih dan bibirnya tidak rusak oleh tembakau.

Lifeguard . . .,” keluh Michele tentang penjaga pantai , ‘mereka benar-benar hebat tetapi juga bajingan’ lanjutnya.

‘Mengapa demikian?’ tanyaku antusias.

‘Kamu akan melihatnya sendiri,’ kilah Michele.  ‘Mereka akan duduk di kursi mereka yang tinggi, begitu gagah dan begitu tampan.  Bertelanjang dada dan berkacamata gekap pura-pura mengawasi keamanan pantai. Padahal yang sesungguhnya mereka awasi adalah gadis-gadis berbikini. Karena kaca mata hitam yang mereka kenakan,  mata mereka bisa bebas berkelana ke sana ke mari,’ Aku terkesima mendengar cerita Michelle bak dengan begitu gadis kecil mendengar dongeng ibunya sebelum tidur.

”Tapi anehnya,’ lanjut Michelle, ‘w alaupun semua orang tahu kalau mereka itu petualang, masih juga mereka dipuja-puja. Dimana pun mereka berada, gadis-gadis cantik akan mengerumuni bahkan mau bermain cinta dengan mereka.’

‘Ah, ‘ cetusku tidak sadar.

‘Jangan heran, Lucy.  Bahkan kalau ada kesempatan mau rasanya aku bercinta dengan mereka.’

‘Kamu mau?’

‘Yah.  Mereka begitu tampan dan gagah. Begitu muda dan crunchy . Sebelum aku terikat dengan perkawinan nanti,  aku mau bermain dengan mereka dulu,’ kata Michelle bermimpi.  ‘Kamu harus hati-hati terhadap mereka.  Mereka jago merayu.  Tanpa kamu sadari kamu sudah masuk dalam perangkap mereka. Dan kalau mereka sudah mendapatkannya, finish.

‘Selalu begitu?’

‘Selalu.  Siang hari  kamu berkenalan dengan salah satu dari mereka.  Sedikit rayuan gombal, malam harinya kamu sudah ada dalam pelukannya. . . Kamu akan membawa kesan itu seumur hidupmu sedang si dia sudah lupa keesokan harinya dan siap dengan gadis yang lain,”

‘Sekejam itu?’

‘Mereka tidak kejam, Lucy. Kalau gadisnya mau, mau di bilang apa?  Tidak ada unsur paksaan dalam hal ini. Dan biasanya yang senang itu justru si gadis. Kalau gadisnya cerdas, dia akan cari lifeguard yang lain.  Mereka benar-benar memikat,”

‘Apakah semua lifeguard demikian?’

‘Wah, tentang hal itu aku tidak tahu.  Tapi kebanyakan, Lucy. Kebanyakan.  Dari pengamatanku yang selalu tinggal disini setiap musim panas, kebanyakan dari mereka ya seperti itu.   Kalau kamu tidak ingin jadi korban, jangan dekati mereka.  Mereka tidak akan mendekatimu bila kamu tidak menunjukkan minat.  Itu salah satu yang kukagumi dari mereka.  Kalau kamu ingin selamat, hindarilah mereka,” nasehat Michele.

‘Engkau membuatku takut pada mereka,’  kataku jujur.

‘He, jangan!!’ teriak Michele.  ‘Mereka tidak apa-apa jika, . . . seperti kataku tadi, engkau tak ada minat terhadap mereka.  Mereka dapat menjadi teman yang baik. Engkau dapat saja bergaul dengan mereka tanpa harus berpacaran,’  jawab Michele blak-blakan.

ribuanmi4

Itulah awal perjumpaanku dengan Michelle.  Aku bersyukur dapat berjumpa dengan gadis seperti dia.  Dengan dia rasa asingku terhadap sekeliling bisa menghilang begitu saja.  Setiap sore sehabis pulang dari kerja, Michelle selalu menemaniku berjalan-jalan sepanjang pantai.  Atau kadang-kadang kami pergi ke kota nonton atau makan di tempat-tempat yang baru.  Sembilan tahun yang membedakan umur kami tidak lagi terasa.  Dengan dia aku dapat berbincang bebas. Dengan dia aku bisa tertawa lepas.  Michelle juga menjanjikan sebuah pekerjaan untukku.  Tapi untuk satu bulan pertama ini aku ingin rileks.  Aku ingin menikmati liburan.  Sesudah itu aku akan mulai memikirkan masa depanku.

‘Kamu benar-benar tidak mau ikut, Lucy?’  tanya Michelle sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.  Sebentar lagi dia akan pergi ke Orlando dalam suatu pegelaran mode selama seminggu.

‘Lucy?’  tanya Michelle lagi.  Rupanya dia tidak melihat aku sudah menggeleng tadi.

‘Tidak, aku cuma akan merepotkanmu saja. Lagipula kamu pasti akan sibuk terus jadi tak ada waktu untuk jalan-jalan. Kamu pun pasti tidak mau mengajakku ke Disney World,’ jawabku. Michele tertawa renyah mendengar jawabanku.

‘Dengar, aku berjanji suatu saat akan mengajakmu ke sana. Oke?’  sahut Michelle.

‘Lucy, aku benar-benar tidak tega meninggalkanmu seorang diri di sini,’ ucap Michelle setelah terdiam beberapa saat.

‘Kamu pikir aku bakal mati bila kamu tinggal?’

‘Mati sih, enggak.  Kalau setengah mati  mungkin,’ ganggu Michelle. ‘Baik-baiklah menjaga diri.  Aku akan selalu menelponmu,’ lanjut Michelle seperti seorang kakak kepada adiknya.

‘Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, Chelle.  Mungkin aku akan mencoba memacari lifeguard selagi kamu pergi’ gurauku.

Sure,’ cibir Michelle menantang.  ‘Apa yang kamu inginkan sebagai oleh-oleh?’ lanjutnya.  Aku menggeleng.

‘Tidak ada?’ tanya Michelle.

‘Kamu kembali dengan selamat saja aku sudah senang,’

‘Jangan ngamuk bila aku benar-benar tidak bawa oleh-oleh?’  pesan Michele sebelum pergi.

Kepergian Michelle ternyata berakibat juga pada diriku.  Aku benar-benar merasa kesepian.  Mau jalan-jalan malas karena tidak ada teman.  Mau mengurung diri di kamar juga tidak enak.  Akhirnya aku cuma duduk di pagar beton di depan kamarku sambil memandang laut dan melamun. Kalau sudah begini aku kembali teringat akan nasibku dan membuatku ingin menangis.  Maka pada hari ketiga kuputuskan diriku untuk berenang sendiri di pantai.

Pakaian renangku sudah siap kupakai, jadi nanti tinggal melepas pakaian luarku saja sebelum berenang.  Aku berjalan menyusur pantai mencari tempat yang agak lapang, tetapi rasanya semua tempat penuh dengan manusia. Aku berjalan terus dan berjalan hingga kudapatkan tempat yang benar-benar sepi.

Kuletakkan tas yang kubawa di pasir dan sebelum melepas pakaian aku berjalan dulu ke dalam air untuk melihat keadaan. Air laut itu begitu segar kontras dengan panasnya udara.

‘Hei, Miss!’  tiba-tiba kudengar sebuah panggilan.  Secara refleks aku menoleh.   Wow, seorang lifeguard.  Persis seperti yang digambarkan Michelle, tampan dan gagah.  Mau apa dia?

‘Memanggilku?’ tanyaku bodoh.

‘Ya.  Sudah berkali-kali kamu kupanggil,  bahkan aku sudah meniup peluit segala, tapi rupanya kamu tidak mendengar,’  jawab sang lifeguard sambil melepas kaca mata hitamnya.  Matanya benar-benar biru, sebiru laut Atlantik kala itu.

‘Memanggilku untuk apa?’  aku bertanya.  Dia mengembangkan sebuah senyum yang sangat menawan.  Pantas mereka begitu di puja-puja.  Gumam hatiku.

‘Kamu melihat buoys  itu?’ tanyanya sambil menunjuk bola-bola karet berwarna jingga yang mengapung di atas air.

‘Ya,’  jawabku bingung.

‘Itu adalah batas daerah yang boleh di gunakan untuk berenang.  Dari sini ke sana adalah daerah terlarang,’  dia menjelaskan dengan sabar. Ouch, alangkah tololnya aku. Mengapa aku tidak melihatnya tadi? Mengapa aku tidak curiga menjumpai daerah yang begini sepi sedang tak jauh dari sini berlimpah ruah manusianya?

Dengan cepat aku beranjak menuju ke tas yang tadi aku tinggalkan, memungutnya dan berlari menuju hotel, Lifeguard tadi masih berdiri di tempatnya ketika aku pergi. Aku begitu malu. Pasti dia menertawakanku dan akan diceritakannya kepada teman-teman sesama lifeguard tentang ketololan yang baru saja kubuat dan mereka akan tertawa bersama.

Sesampai di hotel aku segera mengunci diri di kamar, untung tidak lama kemudian Michelle menelponku sehingga aku bisa sedikit melupakan peristiwa tadi. Tentu saja peristiwa itu tidak kuceritakan kepada Michele.  Bila kuceritakan kepadanya, tentu dia akan tertawa terpingkal-pingkal.

Keesokan harinya aku masih tidak berani keluar, apalagi ke pantai. Lifeguard itu pasti berada di sana dan tentu teman-temannya pun begitu antusias untuk melihat si gadis tolol.  Maka sepanjang siang aku berada di kamar dan nonton drama serial di televisi.  Sesudah dua hari mengurung diri, akhirnya aku bosan juga, maka kulangkahkan kakiku untuk menuju ke pusat kota.  Berjalan-jalan di kompleks pertokoan membuatku teringat pada Irene.  Aku pernah berjalan-jalan di Louisville Mall bersama Irene dan membeli  ransel untuk Adit.

Tiba-tiba aku sadar kalau sudah lama aku tidak berkabar kepada Mama. Aku sadar bahwa aku seharusnya mengirim ransel untuk Adit dan dan sesuatu untuk Anto  dan Yani.  Aku sadar aku telah melalaikan kewajibanku.  Aku akan mekukan hal itu sekarang juga selagi aku masih ingat.

Dengan gaya seorang ahli seperti Irene, aku mulai berbelanja.  Pertama kali, kubeli ransel untuk Adit, karena ranselnya sudah kupakai kemudian sebuah iPod Nanountuk Anto dan Barbie untuk Yani. Sebelum semuanya itu kubungkus dengan rapi, kuselipkan selembar kertas yang kutulisi sedikit kabar tentang Mbak Lucy mereka (kabar bohong tentunya).  Tapi itu sudah cukup untuk mengabarkan bahwa aku masih hidup.

Masalah yang timbul selanjutnya adalah menentukan letak kantor pos. Aku benar-benar tidak tahu, maka aku berjalan tidak tentu arah dengan harapan dapat menemukan kantor pos itu. Tetapi setelah berputar-putar lama dan tanpa petunjuk bakal menemukan kantor pos itu, maka kuberanikan diriku untuk bertanya kepada seorang wanita tua yang sedang berhenti di tepi jalan.

‘Maaf, anak muda, aku sendiri sorang pelancong,’ jawabnya.  Aku hampir putus asa ketika tiba-tiba saja dia datang.  Dia, si lifeguard yang telah melarangku berenang tempo hari.  Sial, mengapa aku harus bertemu lagi dengannya?

‘Ada kesulitan?’ tegurnya ramah sambil tersenyum.

‘Tidak,’  jawabku cepat.

‘Dia ingin tahu letak kantor pos.  Bisakah kamu menolongnya?’  wanita tua itu berkata tanpa kuminta.  Aku kaget, tak menyangka dia akan berkata seperti itu. Si lifeguard sekarang tahu kalau aku telah membohonginya.  Tetapi dia justru  tersenyum lebar.

‘Mari kutunjukkan,’  katanya.

‘Engkau tidak harus mengantarku.  Cukup kau beritahu dimana,’ cegahku.

‘Aku tidak akan menawarkan diri kalau tidak kebetulan saja harus berjalan ke arah yang sama. Aku harus pergi ke rumah temanku dan melewati kantor pos,’ jawabnya.   Sesudah mengucapkan terima kasih kepada wanita tua itu, aku dan si lifeguard berjalan bersama menuju kantor pos. Selama perjalanan itu kami saling berdiam diri.

‘Itu kantor posnya,’ serunya dari seberang kantor pos, setelah kami berjalan bersama hampir selama sepuluh menit.

‘Terima kasih,’ ucapku dan berniat untuk meninggalkannya.

‘Sebentar,  kuantar kamu ke sana,” katanya menawarkan diri.  Aku tidak bisa menolaknya karena dia telah berjalan di sampingku menyeberangi jalan.

Ternyata bungkusan yang akan kukirim ke Indonesia di tolak karena bungkusnya kurang tebal.  Barang itu harus kumasukkan ke dalam karton tebal dan di beri celotape yang kuat. Aku bingung darimana bisa mendapatkan kotak tebal.

‘Kawanku memiliki toko kecil di depan sana, aku yakin dia punya kotak seperti yang kamu butuhkan,’  si lifeguard menyelami kebingunganku. Letak toko temannya satu blok dari kantor pos.  Sebuah toko kecil yang menjual barang-barang souvenir khas Florida.

Seorang gadis berambut keriting pirang sedang memeriksa perhiasan dagangannya ketika kami masuk. Dia tak menyadari kehadiran kami dan masih tetap menunduk. Si lifeguard menekan bel.  Bunyinya benar-benar nyaring. Si gadis kaget dan menoleh ke arah kami.

‘Mark!!’ teriaknya riang. ‘Angin apa yang telah membawamu kemari?’  tanyanya sambil mengawasi si lifeguard yang ternyata bernama Mark. Tiba-tiba dia tertegun waktu menatapku.

‘Dona, kenalkan temanku, Lucy.   Lucy . . . Donna.’ Mark memperkenalkan kami.  Sejenak aku terpana.  Dari mana dia bisa tahu namaku?  Dan dia memperkenalkan aku senbagai temannya?  Fuih sejak kapan pula itu?  Tetapi aku tidak bisa terlalu lama keheranan karena Donna sudah menyapaku.

‘Hai,’  balasku.

‘Ada sesuatu yang dapat kubantu, Mark?’  tanya Donna.

‘Ya. Lucy membutuhkan sebuah kotak untuk mengirim barang lewat pos.  Kamu mempunyainya kan?’

‘Kotak? Kotak macam ini?’  tanya Dona sambil memperlihatkan sebuah kotak berukuran sedang.

‘Ya,’ seruku gembira.

Donna memberikan kotak itu kepadaku dilengkapi pula dengan celotape.  Sementara aku sibuk dengan pekerjaanku, Dona dan Mark asyik mengobrol.  Aku tidak tahu apa yang mereka percakapkan.  Tetapi sebentar-sebentar kudengar derai tawa mereka.  Mudah-mudahan saja mereka tidak sedang mendiskusikan diriku.

Setelah selesai membungkus barang-barangku dan mencantumkan alamat, aku berpamitan kepada Donna dan Mark.  Namun Mark tidak mengijinkan aku pergi ke kantor pos sendiri, dia takut aku tersesat.  Maka kami berjalan beriringan lagi  menuju ke kantor pos.

‘Mark, bagaimana kamu bisa tahu kalau namaku Lucy?’ kutanya dia dalam perjalanan. Mark tersenyum misterius sambil menggoyang-goyangkan kotakku yang dibawanya.

‘Orang sepertimu sangat pantas untuk mempunyai nama Lucy.’

‘Enggak lucu.’

‘Tapi benar kan namamu memang Lucy?’ tanyanya.  Kudiamkan saja pertanyaan itu karena kami sudah masuk ke kantor pos.

‘Terima kasih atas bantuanmu, Mark,’  ucapku sekeluar dari kantor pos. Kemudian aku berjalan meninggalkannya. Baru saja aku berjalan tiga langkah, dia memanggilku.

‘Kamu mau kemana?’  tanyanya.

‘Pulang ke hotel,’

‘Kalau begitu kita dapat jalan bareng,” katanya sambil menyusulku.

‘Bukankah kamu harus pergi ke rumah temanmu?’ tanyaku heran.  Mark tersenyum seakan dia tahu kalau senyumannya sangat menawan.

‘Aku sudah pergi ke sana tadi. Ingat Dona?  Nah, dia itu temanku. Kita sudah pergi ke sana tadi,” jawab Mark seenaknya.  Kutatap dia penuh kedongkolan.  Aku tahu dia tadi sama sekali tidak berniat pergi ke toko Donna. Dia pergi ke sana karena aku butuh kotak.

‘Hei, jangan marah dulu. Kalau tadi kukatakan aku hanya ingin mengantarmu, tentu kamu tidak akan mau, benar kan?’

‘Benar,’  jawabku singkat.  Kudengar Mark tertawa ringan. Sebenarnya apa sih maunya pemuda ini?

‘Mengapa kamu begitu ketakutan bila melihatku, Lucy?’  tanya Mark setelah kami terdiam beberapa saat.  Aku kaget dan menatapnya lama.  Bertemu saja baru dua kali ini bagaimana mungkin dia tahu kalau aku takut terhadapnya.

‘Kamu pantas untuk dicurigai,’  jawabku ngawur.

‘Dicurigai untuk apa?’  tanyanya penasaran.

‘Dicurigai sebagai orang jahat.  Kalau kamu orang baik-baik kamu pasti ngaku dari mana bisa tahu namaku,’ serangku.

‘Jadi kamu masih penasaran?’  sahut Mark sambil tertawa.  ‘Aku pernah dengar kakakmu memanggilmu Lucy,’ akhirnya Mark mengaku. Walau pengakuannya justru makin membingungkanku.

‘Kakakku? Kakakku yang mana?’

‘Gadis pirang yang sering jalan-jalan bersamamu di pantai.’

‘Oh,Michelle maksudmu?  Dia bukan kakakku.’

‘Bukan kakakkmu?’

‘Bukan. Dia penghuni kamar sebelah.’

‘Tapi kalian berdua mirip dan sangat akrab,’  Mark tidak puas.

‘Dari mana kamu tahu kalau kami akrab?’

‘Aku sering melihat kalian berdua di pantai, di kota, di restoran Cina di depan Daytona Fashion Center,’ jawab Mark. Aku begitu terpana karena tempat-tempat yang baru saja disebutkannya memang tempat-tempat yang paling sering kukunjungi bersama Michele.

‘Bagaimana kamu bisa tahu? Aku belum pernah melihatmu disana?’  tanyaku keheranan.

‘Aku bisa tahu karena aku mengawasimu dan kamu tidak melihatku karena memang aku tidak ingin dilihat, jelas?’  tanyanya. Kutatap dia lama sebelum menjawab.

‘Kamu benar-benar pantas untuk dicurigai.  Untuk apa  kamu pakai mengawasi segala?’

‘Karena aku pengawas pantai,’ jawab Mark seenak perutnya. Aku benar-benar dongkol dan kupercepat langkahku untuk meninggalkannya. Mark juga mempercepat langkahnya hingga bisa mengiringi jalanku.

‘Marah?’ tanya Mark.

‘Ya,’

‘Oh, Lucy, aku tidak bermaksud buruk. Aku sendiri tidak sadar mengapa aku begitu suka memperhatikanmu. Mungkin karena . . .’ Mark tidak meneruskan kalimatnya.

‘Karena apa?’

‘Tidak. Kamu akan lebih marah bila kuteruskan.’

‘Teruskanlah.’

‘Oke, kamu yang meminta. Mungkin karena dorongan hati. Waktu aku melihatmu untuk yang pertama kali, hatiku membisikkan bahwa inilah gadis yang bakal menjadi istriku,’ jawab Mark kalem.  Aku kaget setengah mati.  Untung aku cepat teringat kata-kata Michelle sebelum keburu besar kepala, ‘Mereka jagoan merayu, Lucy,  tanpa kamu sadari kamu sudah masuk ke dalam perangkap mereka.” Maka aku cuma tersenyum saja mendengar kata-kata itu.

‘Kok tersenyum?’  tanya Mark. Aku cuma mengangkat bahu saja. Sesudah itu kami saling berdiam diri.

‘Untuk siapa barang-barangmu tadi? Sahabat pena?’  tanya Mark memecah kebisuan.

‘Untuk adik-adikku.’

‘Adik-adikmu? Mereka berada di Indonesia? Dengan siapa mereka pergi ke sana? Mengapa kamu tidak ikut?’ tanya Mark beruntun.

‘Mereka tidak pergi ke Indonesia. Mereka tinggal di sana sejak mereka dilahirkan.  Indonesia  rumah kami,” jawabku.  Aku senang bisa melihat wajah Mark yang kaget dan tidak percaya.

‘Jadi kamu orang Indonesia?’  tanyanya untuk meyakinkan.  Aku mengangguk pasti.  Mata Mark makin membelalak karena terkejut.

‘Dengan siapa kamu datang ke Florida?”

‘Sendiri,’ jawabku. Reaksi Mark benar-benar di luar dugaan. Dia begitu kaget hingga menghentikan langkahnya dan menatapku tidak berkedip.

‘Dengar, Lucy, jangan kau katakan kepada siapapun bahwa kamu berada di sini sendirian. Itu sangat berbahaya bagimu apalagi jika mereka tahu kamu orang asing.”

‘Mengapa?’

‘Mengapa? Karena kejahatan di musim panas seperti ini sangat meningkat, pencurian, perampokan, penodongan . . .”

‘Aku tak mempunyai barang-barang berharga,’potongku cepat.

‘Bagaimana dengan dirimu sendiri? Begitu banyak pemerkosaan yang terjadi setiap minggunya,’ sahut Mark. Aku terdiam mendengar kata-katanya. Apalagi kata-kata tersebut di ucapkan dengan serius seakan dia benar-benar ingin melindungiku.

‘Sorry, Lucy, aku tidak bermaksud menakut-nakutimu, hanya berhati-hatilah. Jangan katakan kepada siapapun bahwa kamu kemari tanpa pengawal.’

‘Aku telah mengatakannya kepadamu,’

‘Kamu dapat mempercayaiku. Aku seorang lifeguard, bertugas untuk menjaga keamanan pantai,’  jawab Mark.

‘Dan lagi, Lucy, bila berada di tempat umum jangan canggung dan takut-takut. Bersikaplah seolah-olah ada seorang yang siap untuk membelaimu,’ nasihat Mark dilanjutkan.

‘Apakah aku kelihatan canggung bila di depan umum?’ tanyaku.  Mark hanya tersenyum mendengar pertanyaanku.

Mark mengantarku hingga ke depan hotel. Sebelum berpisah dia berpesan.

‘Ingat untuk mengunci pintu setiap akan keluar dan begitu masuk kamar walaupun kamu hanya berniat untuk keluar atau masuk sebentar. Jangan langsung kau bukakan pintu bila ada yang mengetuk, lihat dulu orangnya,’

‘Akan kuingat itu,’jawabku sambil tersenyum. Kalau mendengar nada suaranya dia benar-benar serius menasehati. Tapi kalau mengingat reputasi para lifeguard aku menjadi ragu.

ribuanmi4

Aku sering melihat Mark berada di pantai, tetapi terlalu jauh untuk menegurnya, apalagi dia selalu dikerubungi gadis-gadis manis. Kadang kulihat pula seakan dia mau tersenyum kepadaku, tapi aku pura-pura tak melihatnya karena di sampingku ada Michelle. Aku takut Michelle akan mengira kalau aku sudah bermain-main denga lifeguard. Tapi hari itu aku tidak bisa lagi untuk pura-pura tidak melihatnya.

Hari itu tanggal 4 Juli.  Hari kemerdekaan Amerika Serikat.  Sejak hari sebelumnya persiapan-persiapan untuk menyambut hari kemerdekaan itu sudah kentara. Toko-toko kecil sudah menghias diri dengan rumbai-rumbai berwarna biru, merah, serta putih.  Warna bendera Amerika.

Jam lima sore aku dan Michelle sudah menunggu di pagar beton di depan kamar kami bersama dengan ratusan orang lainnya yang ingin menyaksikan karnaval. Semua manusia Daytona tumplek menjadi satu di sepanjang jalan pantai.

Jam setengah enam iring-iringan karnaval itu mulai tampak.  Begitu riuh, begitu gaduh tapi tidak menyebabkan orang jengkel. Barisan pertama adalah barisan Drum Band dari SMA Daytona dengan pakaian yang gemerlapan. Beberapa majoret menari dengan lincahnya di tengah jalan. Dan mereka melangkah dengan lembut ketika ‘Star Spangled Banner’  berkumandang.  Semua orang yang duduk di pinggi jalan berdiri menghormat. Telapak tangan kanan di letakkan di dada.

Drum Band berlalu, disusul dengan sebuah truck berhias dari walikota dan staffnya, diikuti oleh departemen pemadam kebakaran. Kemudian mobil-mobil berhias dari lembaga-lembaga, yayasan-yayasan dan klub-klub lainnya. Barisan itu sangat panjangnya seakan tak akan pernah berakhir. Malam telah turun tapi tak seorangpun ingat akan makan malam yang telah dijadwalkan jamnya.

Tiba-tiba terdengar teriakan dan jeritan-jeritan histeris yang mayoritas berasal dari para gadis remaja. Ternyata mereka meneriaki sebuah truck yang akan lewat yang berisi rombongan Lifeguard.

Aku menahan nafas melihat mereka.  Semuanya gagah dan tampan dalam pakaian kebesaran mereka yang lengkap minus kacamata hitam. Mereka melambai pada gadis-gadis yang mereka lalui dan dibalas dengan teriakan-teriakan histeris.  Betapa hebat daya pikat mereka.

‘Lucy, lihatlah bajingan-bajingan itu,’ bisik Michele di telingaku.  Aku tertawa mendengar komentarnya sebab ada nada kekaguman di dalamnya. Setelah mereka agak dekat, aku melihat Mark ada di antara mereka.  Dia tersenyum dan melambaikan tangannya kearahku.  Aku tidak berani membalas lambaian tangan itu dan pura-pura tak melihatnya. Tapi malangnya rombongan itu berhenti di depan kami agak lama. Aku tidak bisa berpura-pura lagi, kubalas senyumannya.

‘Rupanya si kecil Lucy sudah mulai main-main dengan Lifeguard,’  kata Michelle pelan.  Aku kaget setengah mati.

‘Siapa?’tanyaku pura-pura tidak tahu.

‘Kamu.’

‘Aku?’  tanyaku berusaha mengelak. Michelle tertawa senang.

‘Pura-pura, hmm?’

‘Mengapa harus pura-pura? Dia tidak melambai padaku tapi  padamu,’ucapku. Tawa Michele makin menjadi tapi dia tidak menambah komentar apa-apa. Rombongan demi rombongan berlalu. Kemudian mobil-mobil pribadi berhias membuntuti di belakangnya. Hiasan mobil-mobil itu lucu-lucu, hingga segan rasanya untuk meninggalkan tempat.

‘Michele! Lucy!’  tiba-tiba terdengar panggilan untuk kami. Dan diantara mobil-mobil berhias itu tampak Les, waiter kami dan Ken, temannya yang juga waiter.

‘Ayo ikut!’ teriak les. Aku ragu tapi Michelle segera meloncat turun dan menarikku untuk mengikutinya. Tanpa kusadari aku telah berada di dalam mobil Les dan mengikuti rombongan karnaval.

‘Mau kemana kita?’  tanyaku sesudah agak sadar.

‘Putar-putar,’ jawab Les enak.  Rombongan karnaval itu ternyata berputar-putar mengelilingi setiap jalanan yang ada di Daytona kemudian kembali lagi ke pantai, dan di sana diadakan pesta kembang api dan petasan yang sangat megah.  Pesta itu berlangsung hingga pagi hari.

ribuanmi4

Ombak yang berdebur pagi ini lain dari biasanya.  Lebih keras dan lebih gemuruh.  Biasanya laut di pagi hari sangat tenang, nyaris tanpa suara.  Tapi kali ini mampu membangunkanku dari tidur yang lelap.

Dari jendela kamarku aku dapat melihat air laut yang menggelora. Air laut itu hampir mencapai jalan raya. Sebentar lagi pasti akan sampai ke pagar di depan kamarku. Awan tebal menggelantung berat di atas laut. Burung-burung camar terbang hiruk pikuk kebingungan. Kantukku begitu saja hilang melihat semuanya. Dengan cepat aku keluar kamar. Michelle ternyata sudah bangun. Dia berdiri termangu. Tangannya ditompangkan di pagar beton dan menatap ombak laut.

‘Chelle,’  panggilku. Dia menoleh dan mengisyaratkan agar aku mendekat.  Kudekati dia.

‘Ada anak tenggelam,’  bisiknya.

‘Apa?’

‘Ada anak tenggelam. Di sana!’ tunjuk Michelle ke satu arah. Di tempat yang ditunjuk kulihat ada kerumunan orang yang cukup banyak. Semuanya kelihatan panik dan memandang ke tengah laut.

‘Tidak ada yang memberi pertolongan?’ tanyaku.

‘Ada seorang Lifeguard yang masuk kedalam air tapi sampai kini belum muncul lagi.’

‘Hanya seorang?’

‘Yang lainnya masih tidur kukira. Mereka berpesta sampai pagi dan pasti mabuk-mabukkan,’ jawab Michele. Kemudian dia mengajakku untuk mendekati kerumunan tersebut.

Seorang wanita muda meratap, tentu dia ibu dari si anak yang dibawa ombak.  Beberapa orang berusaha menghiburnya, yang lainnya berharap cemas, menanti munculnya si lifeguard dan anak yang ingin di tolongnya. Hujan mulai turun dan angin berhembus dengan kencangnya. Tak seorang pun yang berniat untuk beranjak dari situ. Tidak juga Michele dan tidak pula aku. Semua ingin tahu nasib si anak dan nasib si lifeguard.

Tiba-tiba nampak sebuah kepala yang menyembul di tengah-tengah ombak.  Beberapa saat kemudian nampak sosok tubuhnya dan lebih kemudian lagi nampak tubuh bocah yang terdekap erat oleh tubuh yang lebih besar.

‘Anakku, . . . anakku,’ jerit si wanita yang tadi menangis sambil berusaha untuk berlari ke laut tapi di cegah oleh orang-orang yang mengelilinginya. Lifeguard yang masuk ke dalam laut tadi berenang mendekati pantai, melawan ombak besar yang berusaha mengembalikan dirinya ke tengah lagi. Tentu sangat sukar baginya untuk mempertahankan diri dengan seorang bocah dalam pelukannya.  Begitu tiba di tempat yang dangkal dia menghentikan renangnya.

‘Mark!’ seruku tidak sadar ketika melihat siapa yang muncul. Dia begitu gagah dalam pakaian renangnya tapi tampak sangat kelelahan. Seorang bocah yang tidak bisa di sebut kecil lagi berada dalam dukungannya. Begitu sampai di pantai dia segera berlari menuju pos PPPK tanpa mempedulikan orang-orang yang berkerumun menantinya.  Orang-orang tersebut kemudian mengikutinya menuju ke pos PPPK.  Sementara itu aku dan Michele dengan pakaian yang sudah basah kuyup berjalan pulang.

Siang harinya cuaca berubah seratus delapan puluh derajat. Langit begitu jernih tanpa secuil awan pun dan laut begitu tenang. Tak ada sisa badai dan pantai kembali dipenuhi oleh manusia.  Michelle menggerutu karena harus pergi ke rumah mode sedang hari sangat indah untuk dinikmati.

Walaupun hari sangat indah tetapi aku benar-benar ngantuk, maka siang itu kugunakan untuk tidur.  Bangun-bangun sudah jam setengah lima. Kemudian aku berjalan-jalan di sepanjang pantai. Setelah lelah berjalan aku duduk di pasir. Pantai sudah agak sepi sehingga bisa melihat tenangnya laut tanpa terhalang oleh punggung atau paha orang di depanku. Kutekuk lututku dan kudekatkan ke dada, dan menikmati angin sore yang berhembus sejuk.

Keadaan sekelilingku membuatku merenungi hidup. Tiba-tiba segumpal kerinduan terhadap ibu dan adik-adikku memenuhi dada membuatku ingin menjerit dan menangis meraung-raung.  Aku tidak menyukai kehidupan yang kutempuh saat ini. Aku benci, benci.  Aku merindukan sebuah keluarga normal. Tetapi tidak ada sebuah keluarga pun yang mau menerimaku. Keluarga Oom No? Itu bukan untukku, aku bukan keturunan Oom No. Keluarga Papa? Apalagi, papa terang-terangan telah mengusirku. Sebenarnya aku ini milik siapa? Aku ingin dimiliki dan memiliki. Ingin sekali, Tuhan tahu itu.

Tiba-tiba sepasang kaki berhenti di depanku. Kutegadahkan wajahku. Mark berdiri di sana tampak begitu tinggi.

‘Boleh aku duduk di sini?’ tanyanya.  Belum lagi sempat kujawab dia sudah menjatuhkan diri di sampingku.

‘Apa yang kamu lamunkan, Lucy?’  tanya Mark sesudah agak lama dia duduk dan kami belum membuka percakapan.

‘Tidak ada,’ jawabku bohong.  ‘Aku sedang menikmati pemandangan di depanku’

‘Dan pikiranmu dimana?’

‘Di sini,’ kataku sambil menunjuk dahi.  Mark tertawa ringan.  Alangkah senangnya aku mendengar tawa itu.  Penampilan Mark kali ini benar-benar berbeda dengan penampilannya pagi tadi.  Tadi pagi dia tampak sangat kelelahan, sedang kali ini dia seakan siap untuk berlari mengelilingi dunia.  Segar bugar.

‘Bagaimana kabar anak yang kamu tolong pagi tadi?’  tanyaku.

‘Sedikit shock.  tapi selebihnya tidak ada masalah,” jawab Mark. “Hei, dari mana kamu tahu tentang anak yang tenggelam?’  lanjut Mark keheranan.

‘Aku melihatmu,’

‘Kamu?’  tanya Mark tidak percaya.  ‘Pagi-pagi sudah bangun dan berhujan-hujan?’

‘Setiap hari aku bangun pagi,’ bantahku.

”Tapi tidak untuk hari ini.  Semalam kulihat kamu berada di pantai hingga larut,’  ucap Mark mengejutkanku.

‘Kamu melihatku?’

‘Ya.  Dengan Michelle dan dua orang pemuda,’ sahut Mark dengan nada aneh yang tidak bisa kumengerti.

‘Aku tidak melihatmu.’

‘Tentu saja tidak, kalian begitu asyik,’ olok Mark sambil tersenyum mengajuk.  Aku tertawa dan tidak memberi ulasan atas pendapatnya.

‘Mengapa dia bisa tenggelam, Mark?’  aku kembali ke masalah semula.

‘Ibunya yang cari penyakit. Sudah tahu langit begitu gelap dan ombak sangat besar, masih juga dia mengajak anaknya untuk berenang. Begitu tahu kalau anaknya menghilang baru dia teriak-teriak  meminta tolong,’  jawab Mark jengkel.

‘Tentu kamu sedang enak-enak tidur,’ tebakku.

Nope. Aku tidak bisa tidur semalam. Aku sedang jalan-jalan ketika kudengar teriakannya,’ sanggah Mark. ‘Kamu tahu mengapa aku tidak bisa tidur? Memikirkanmu, Lucy. Mengapa kamu bisa seakrab itu dengan pemuda-pemuda yang bersamamu semalam sedang denganku kamu selalu menghindar,’ lanjut Mark seenaknya.  Aku tahu dia cuma bergurau maka aku tertawa saja mendengarnya.

‘Sekarang aku bersamamu,’ sahutku masih dengan tawa. Mark juga tertawa. Seorang lifeguard lain lewat di depan kami dengan seorang gadis di lengannya. Dia menyapa Mark. Pasti gadis itu baru saja di kenalnya, pikirku.

‘Lucy, . . ‘ panggil Mark.  Aku sadar bahwa aku telah mengawasi Life Guard yang baru saja lewat dengan mata tidak berkedip.

‘Ya?’ tanyaku.

‘Mengapa kamu  memilih berlibur ke sini bukankah pantai-pantai di Indonesia sangat eksotik?’

‘Mencari sesuatu yang lain,’ bohongku. Mark kelihatannya merenung, aku ragu apakah dia mendengar perkataanku atau tidak.

‘Kalau kamu mencari sesuatu yang lain, mengapa tidak pergi ke Alaska? Di sana kamu akan melihat salju yang aku yakin tak akan kamu jumpai di negerimu.

‘Sebab, . . .’  dan aku tak bisa meneruskan.

‘Apakah Daytona terkenal di Indonesia?’ Mark melepaskanku dari kewajiban untuk menjawab pertanyaannya yang lebih dulu. Aku menggeleng-geleng beberapa kali.

‘Aku belum pernah mendengar nama pantai ini sebelumnya. Aku baru mendengarnya dalam perjalananku ke Jacksonville,’ jawabku. Tanpa kusadari aku telah membongkar rahasiaku sendiri.

‘Jadi kamu berniat ke Jacksonville dan menyimpang kemari?’

‘Tidak juga,’

‘Lalu?’

‘Aku tidak mempunyai tujuan yang pasti,’ jawabku. Aku tahu Mark merasa aneh mendengar jawabanku

to be continued ….

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Ketiga)

Ribuan Mil Dari Mama Bagian 3

Kuhitung kancing bajuku; pulang, . . . tidak, . . . pulang, . . . tidak, . . . pulang tidak. Tidak pulang! Ya.  Seharusnya aku tidak pulang. Pulang berarti permusuhan kembali dengan ibu Oom No dan itu akan membuat Mama berduka.

Lama aku merenung mencari jalan keluar.   Aku harus pergi dari tempat ini tetapi aku tidak boleh pulang. Aku harus bisa meyakinkan Mama bahwa aku masih tetap tinggal bersam Papa. Bagaimana caranya? Kupandang pucuk-pucuk pinus untuk mencari jawab. Tidak kudapat. Sebagai gantinya kulihat tupai-tupai yang berloncat-loncatan dari dahan yang satu ke dahan yang lainnya dan tiba-tiba ide itu datang. Aku harus pergi dari sini tetapi aku akan tetap tinggal di Amerika.

Kucoba untuk menekan sakit hatiku dan memikirkan apa yang harus kulakukan kemudian.  Besok pagi aku harus sudah pergi ke kota lain. Kupilih New York sebagai tempat pelarianku.

‘Tidak, itu telalu jauh dan penuh risiko,’ bantahku sendiri.   ‘Colombus lebih dekat dan tidak terlampau bising,’ aku memutuskan.   Di sana aku akan mencoba mencari pekerjaan dan melupakan bahwa aku pernah mempunyai ayah dan saudara kembar.

Sesudah itu hatiku menjadi lebih tenang. Tak ada masalah! Akan kubuktikan kepada David bahwa aku bisa berdiri sendiri dan tidak tergantung kepada ‘ayahnya’.   Kemudian aku bangkit dari tempatku. Aku harus segera pulang.

‘Denver, pulanglah dulu, aku akan jalan kaki,’ kubisikkan kata-kata itu di dekat telinga Denver. Denver tidak bergeming.

‘Dengar, besok aku sudah tidak ada di sini lagi.   Aku ingin berjalan melintasi padang rumput ini untuk terakhir kalinya.  Kamu mengerti, bukan?  Nah, pulanglah!’ Denver masih tetap tidak bergerak.  Telinganya terangkat ke atas seakan mencoba untuk menyelami arti kata-kataku.

‘Pulanglah, Denver,’  kataku mulai tak sabar sambil kutepuk paha Denver.  Denver memandang padaku, tetap tak bergerak.

‘Denver, go home!’ jeritku.  Denver mengerti kemudian mulai melangkah pelan-pelan.   ‘Run!’ teriakku nyaring.  Dia menurut dan berlari tapi sejenak kemudian dia berhenti lagi dan menoleh. Kuisyaratkan dengan tangan agar dia tetap berlari.  Denver berlari kencang tapi berkali-kali dia menolehkan kepalanya.  Mungkin dia heran atas sikapku yang lain dari biasanya. Biasanya aku dan dia selalu pergi dan pulang bersama.

Ketika Denver sudah tidak nampak lagi, aku mulai melangkah pelan-pelan seperti prajurit yang kalah perang.   Ya, aku telah kalah.  Harapan inilah yang kubawa dari Indonesia telah hancur berkeping-keping. Kentucky bukan untukku. Tanah dan padang rumput yang kuinjak ini bukan punyaku.  Mister Stanton bukan ayahku.  Dia ayah David.  Tak ada lagi kekagumanku padanya.  Kekaguman yang pernah singgah sejenak di hatiku.

Tiba-tiba aku melihat kuda yang datang dari arah yang berlawanan. David?  Bukan!  Kuda itu bukan kuda yang di tunggangi David tadi. Tetapi kuda itu adalah Blue Berry.  Beberapa saat kemudian aku melihat pengendaranya, Irene. Mau apa dia?

‘Lucy, apa yang terjadi denganmu?  Aku melihat Denver pulang sendiri,’ tanya Irene sambil menghentikan Blue Berry di sampingku.  Alangkah penuh perhatiannya dia, pikirku.

‘Tidak apa-apa, Irene.   Aku ingin jalan kaki saja.’

‘Oh, . . .’  Irene bernafas lega,   ‘kusangka kamu mendapat kecelakaan.  Oscar dan Georgie belum pulang. Terpaksa kuberanikan diri untuk naik kuda.’

 ‘Terima kasih, Irene,’  bisikku.

‘Untuk apa?’

 ‘Untuk perhatianmu,’ jawabku sambil berusaha untuk  tersenyum.  ‘Sekarang kamu boleh pulang.  Kau lihat aku tidak apa-apa.’

‘Kamu  benar-benar berniat untuk jalan kaki? Terlalu jauh, Lucy.’

‘Tidak  apa-apa,’ jawabku.  Irene mengangguk kemudian memacu Blue Berry pulang tanpa  bertanya-tanya lagi.

Λ

Aku sedang mengepak barang-barangku ketika kudengar suara ban yang berdenyit kencang karena direm dengan mendadak.   David telah pulang.   Ingin benar aku keluar dan bertanya tentang keadaan Papa – Dari Clemmie aku mengetahui bahwa David terbang ke Colombus untuk menjenguk Papa –  tetapi otakku melarang tubuhku untuk bergerak.  Kalau memang ada sesuatu yang harus kuketahui tentu dia akan datang memberitahuku.

Sejenak kemudian kudengar langkah-langkah kaki David menaiki anak tangga.  Lewat di depan kamarku.  Berhenti di sana lama.  Aku tegang.  David tidak mengetuk pintu, dia kemudian berlalu.  Kudengar suara pintu yang terbuka dan di tutup kembali, berarti David sudah masuk ke dalam kamarnya sendiri.  Keadaan Papa tidak mengkhawatirkan, kesimpulanku, dan kuteruskan pekerjaanku lagi.

Semua barang-barangku sudah siap ketika ketukan pintu itu terdengar.  Mula-mula lirih kemudian makin keras. Kutenangkan hatiku sebelum membuka pintu.  David berdiri di depanku.

‘Boleh aku masuk?’ tanyanya pelan.  Kuperlebar pintu yang kubuka tanpa menjawab.  David masuk dengan canggung. Dia tampak heran melihat kedua koperku yang terbuka dengan isi yang sudah rapi, namun tidak berkomentar.  Kubiarkan dia dalam keheranannya.  Sesudah David duduk barulah aku melihat David membawa sebuah tas kecil.

‘Aku baru saja melihat Papa,’ dia membuka percakapan.   Aku diam saja tak memberi tanggapan.  ‘Papa memberikan ini untukmu,’ lanjut David sambil membuka tas yang di bawanya.  Nampak beberapa bundelan uang ratusan dollar.   Semuanya masih baru dan berbau bank.

‘Untuk apa?’ tanyaku parau penuh kecurigaan.

‘Untuk hidupmu yang akan datang.  Papa memutuskan untuk menafkahimu hingga kamu bisa berdiri sendiri.  Uang ini cukup untuk kau gunakan selama lima belas tahun bila kamu bisa sedikit berhemat,’  ucap David lancar.   ‘Sesudah itu . . .’

‘Kamu bohong,’ potongku geram.

‘Aku tidak bohong,’ bantah David sambil menahan agar suaranya tidak meninggi.  ‘Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak ini?  Papa mengakui bahwa kedatanganmu telah menggoncangkan jiwa Papa,’ lanjut David begitu kejamnya.

‘Dan Papa menginginkan agar aku segera angkat kaki?’

‘Ya.  Besok sore Batista bersaudara akan mengantarmu sampai New York dan dari sana kamu ter . . .’

‘Tidak perlu!’ bantahku sakit hati.  ‘Aku sudah siap untuk pergi sendiri tanpa perlu kau usir.’

‘Jangan konyol.  Papa menyuruh aku untuk menemanimu hingga New York,’  kata David.  Berarti ini bukan main-main.  Papa memang tak menginginkan kehadiranku di sini.  Aku benar-benar sakit hati.  Ayah kandungku tak menginginkan aku.  Apa artinya uang? Aku tak membutuhkan uangnya.  Dan apa pula arti dari kebahagiaan yang diperlihatkan Papa ketika menyambut kedatanganku?  Apakah itu semua hanya sebuah sandiwara? Berpacu di atas pelana dan obrolan-obrolan sesuai makan malam, tidak ada artinyakah itu?

‘Kamu dan ayahmu benar-benar manusia tanpa hati. Binatang!’ desisku.   David tak mengubris omonganku.  Dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.

‘Bawalah uangmu.  Aku tidak membutuhkannya,’ teriakku.

‘Itu uangmu, Lucy.  Kamu berhak untuk menggunakan sesuka hatimu.  Mau kau bakar pun boleh,’ toleh David.  Kudekati dia dan . . . Plaar!  Tanganku melayang di pipinya. David menatap nanar padaku.

‘Lucy, aku kasihan padamu.  Ibumu telah kawin lagi dan mau enaknya sendiri dengan menyuruh kamu datang kemari.’

 ‘Tutup mulutmu!’

‘Ibumu benar-benar licik.  Dia tahu Papa akan segera membuat surat wasiat.  Dengan hadirnya kamu di sini, ibumu mengira kamu akan mendapat bagian,’ oceh David tak mengacuhkan laranganku.

 ‘Itu hanya pikiran kotormu.’

 ‘Tapi Papa segera menyadari.  Kamu jangan berharap lagi.  Bagianmu hanyalah yang ada di dalam tas itu.  Kamu tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi dengan kami.’ tutup David dan bergegas meninggalkanku.

Sesudah David berlalu, aku berdiam tidak begeming.  Mematung dan tidak bisa melakukan  apa-apa.   Bahkan untuk menangispun aku tak mampu.  Tuduhan yang mereka lontarkan kepada Mama benar-benar tidak manusiawi. Dan ironinya tuduhan itu yang melancarkan anak kandung Mama sendiri.

Kubuka jendela kamarku.  Malam benar-benar pekat.  Tak ada sebuah bintang pun yang bersinar.  Mendung yang menggelantung di langit menggambarkan kesedihanku.  Dimana Oscar? Dimana Irene? Mengapa mereka tidak memainkan biolanya?  Mengapa tidak kudengar Il Silenzio mereka?

Uang yang di berikan Papa terlampau banyak.  Hampir saja semuanya kubakar tapi untung otak warasku masih bekerja.  Begitu banyak hal-hal yang dapat kulakukan dengan uang sebanyak itu. Papa telah melicinkan jalanku.  Kubongkar kembali koperku.  Kupilih pakaian-pakaian santaiku dan kumasukkan ke dalam ransel yang kubeli bersama Irene tempo hari yang sedianya kukirim untuk Adit tapi belum jadi.  Tas kecil dari David kuselipkan di antara baju-baju itu setelah terlebih dahulu kuambil beberapa lembar dan kumasukkan kedalam tas tanganku.   Rencanaku sudah matang.   Stanton boleh membenciku tetapi tidak boleh mengatur jalan hidupku.  Aku mempunyai kehidupan sendiri yang harus kujalani sendiri pula.

Semalaman  aku tak berhasil memejamkan mata. Terlampau tegang dan kuatir jika rencanaku  gagal.  Begitu langit di sebelah timur bersemu merah aku segera mandi dan ganti  pakaian.  Kuperiksa sekali lagi ranselku.  Aku harus cepat atau David akan segera  terbangun dan menggagalkan rencanaku.

‘Missy,  mau kemana?’ tegur Clemmie di lantai bawah ketika melihatku sudah siap.

‘Dimana  Georgie?’ bissikku.

‘Di  garasi,’ jawab Clemmie ikut berbisik.

‘Aku  akan ke Colombus menjenguk Papa,’ bohongku.  ‘Aku membutuhkan Georgie untuk mengantarku ke airport,’

‘Kenapa  tidak bilang dari kemarin hingga saya bisa menyiapkan sarapan untukmu.’

 ‘David  baru memberitahu tadi malam dan sudah terlalu larut untuk membicarakan  denganmu,’ jawabku setengah betul.   ‘Clemmie, aku harus segera pergi,’ lanjutku  memutuskan pembicaraan. Clemmie nampak agak bingung. Kubiarkan saja dan aku  berlari menuju ke garasi. Kujumpai Georgie di sana sedang membersihkan mobil.

‘Georgie,  maukah kamu mengantarku ke airport?’ tanyaku.

 ‘Airport?’

 ‘Ya.  Aku harus terbang ke Colombus,’ jawabku.  Georgie tidak bertanya untuk apa aku  ke Colombus jadi aku tidak harus membohonginya.  Dia tentu mengira aku akan  menjenguk Papa.

Λ

Selamat  tinggal, Stanton.   Selamat tinggal semua dan selamat tinggal padang rumput,  bisik hatiku ketika aku dan Georgie sudah berada di tengah-tengah padang rumput  dan mulai menjauhi rumah.   Untung  hari masih terlalu pagi sehingga lalu lintas tidak begitu penuh dan Georgie  dapat mengendarai mobilnya dengan bebas.  Louisville masih tidur berselimut  kabut pagi.

‘Terima  kasih, Georgie,’ ucapku sambil meloncat turun dari mobil begitu sampai di  airport.  Georgie tampak sedikit heran.  Dia berniat untuk mengantarku masuk  tetapi segera kucegah.  Kalau dia sampai masuk dia akan tahu kalau aku telah  membohonginya.

‘Sampai  di sini saja, Georgie, biarkan aku masuk sendiri.’

‘Tapi  . . .’

‘Tidak  apa-apa.  Lihat aku tidak membawa barang berat jadi aku bisa membawanya sendiri,’  dustaku. Georgie bimbang.  Dia pasti curiga sekarang.

‘Dengar,  Georgie, kalau aku diantar masuk, rasanya aku akan pergi lama.  Aku benci  perpisahan,’ sambungku meyakinkan.  Georgie tersenyum.

‘Paling  tidak ijinkan aku mengantarmu hingga kamu bertemu dengan Batista. Sesudah itu  aku akan pergi.’

‘Georgie  . . .’

‘Oke,  kalau itu maumu,’ sambung Georgie kecewa.

‘Terima  kasih, Georgie.  Sampai jumpa nanti malam,’  kataku untuk membunuh kecurigaannya.   Georgie mengangguk dan menjalankan mobilnya.  Begitu dia tak nampak lagi, aku  segera masuk ke airport. Untuk pertama kalinya aku merasa terbebas dari tekanan  yang menghimpit batinku.  Kini aku bebas untuk menjalani kehidupanku.  Bebas  menentukan apa yang akan kujalani.  Tak seorang pun yang akan merintangi jalanku.   Tidak ibu Oom No, tidak Papa, tidak pula David. Aku adalah Lusi, bukan Lucinda  Stanton lagi.

Begitu  masuk ke airport segera kulihat jadwal penerbangan yang tergantung di atas meja  informasi.  Paling atas adalah flight nomor 304 dari pesawat United yang akan  menuju ke Jacksonville, Florida. Kuteliti penerbangan yang ke Colombus, tidak  ada!  Aku mulai panik.  Kalau Georgie sampai di rumah, David akan segera tahu  kalau aku telah melarikan diri . Dia tentu akan menyusulku kemari.   Aku harus  segera keluar dari Louisville.

Penerbangan  ke Jacksonville dijadwalkan pada jam 6.45.   Kulihat jam yang melilit  dipergelangan tanganku.  Jam enam seperempat.  Segera kuhubungi penjualan tiket.   Aku harus keluar dari Louisville secepatnya.  Tidak peduli tempat mana yang akan  kutuju.

Sambil  menunggu waktu yang di tentukan, aku berdiri mematung menatap para petugas  airport yang sedang membersihkan dan membenahi ruangan.

‘Lucy!’  tiba-tiba kudengar sebuah panggilan.  Panggilan itu begitu lirihnya tapi sanggup  untuk membuat tubuhku terlonjak kaget.  Secepat kilat aku memutar tubuh.  Irene  berdiri di depanku.

‘Irene,  apa yang kamu lakukan di sini?’ bisikku.

‘Membuntutimu, Lusy,’

‘Membuntutiku?   Aku tak mengerti maksudmu . Aku akan terbang ke Colombus menjenguk Papa,’  bohongku mulai tenang.

‘Kamu  tidak akan ke Colombus, Lucy, aku melihat kamu membeli ticket untuk ke  Jacksonville.  Kamu tidak berniat untuk pergi ke Jaksonville, bukan?’  desak  Irene. Aku benar-benar mati kutu. Irene telah mengetahui begitu banyak.
Sekarang apa yang akan di lakukannya?

‘Lucy,’  panggil Irene.  Kutengadahkan wajahku dan menatap langsung ke matanya.  Tidak ada  niat jahat di mata itu.

‘Kita  masih berteman, ‘kan?’ tanya Irene.

‘Ya,’  gumamku.

‘Kalau  begitu dengarkan aku.  Kamu tidak harus pergi ke Jacksonville.  Aku bisa  mencarikan kamu sebuah rumah di sekitar Louisville.’

‘Aku harus keluar dari  Louisville, Irene,’

‘Siapa  yang mengharuskanmu? Master David?’

‘Irene,  bagaimana kamu bisa tahu?’ tanyaku benar-benar kaget.

‘Lucy,  semua orang akan tahu dengan seketika.  Kamu dan Master david adalah dua saudara  kembar yang seharusnya bahagia bila di satukan lagi.  Tapi tak pernah sekali pun  kulihat kalian berbicara akrab.  Dan aku tahu pula bukan kamu yang menyebabkan  ketidakakraban itu. Master David terlalu sinis.  Jadi sudah sewajarnya jika kamu  tidak betah di rumah itu.  Tapi kamu tidak harus melarikan diri.  Hakmu atas  rumah itu sebesar hak Master David. Kamu tidak akan mengalah terhadapnya ‘kan,  Lucy,’ Irene menerangkan.  Oh, jadi Irene tidak tahu.  Dia tidak tahu kalau Papa  pun telah mengusirku pula.

‘Irene, kamu keliru.’

‘Tidak, Lucy.  Kemarin siang kamu bertengkar dengan Master David di hutan pinus ‘kan?  Aku tidak tahu apa yang kalian pertengkarkan tapi aku melihat wajahmu begitu murung ketika aku menyusulmu. Saat itu aku yakin kamu bakal melakukan hal-hal nekat, maka kuputuskan diriku untuk mengawasimu.  Jangan biarkan Master David menyakitimu,Lucy.  Tetap tinggallah di Louisville,’ pinta Irene.   Kugelengkan kepalaku.

‘Tidak bisa, Irene.   Tidak bisa.’

‘Mengapa  Lucy?’

‘Mereka  akan mengirimku kembali ke Indonesia nanti sore,’ jawabku jujur.  Dengan Irene rasa-rasanya tak ada yang perlu kurahasiakan lagi.

 ‘Siapa  mereka?’

‘Papa  dan David.’

‘Mister  Stanton?’ tanya Irene tak percaya, ‘Mengapa?’

‘Aku  tidak tahu.  Mungkin Papa dendam kepada Mama karena Mama meninggalkan  Papa.  Menurut keputusan pengadilan, aku adalah tanggung jawab Mama.  Aku  tidak mau pulang ke Indonesia.  Itulah sebabnya aku harus segera pergi dari  Louisville.’ Irene terdiam mendengar penjelasanku. Tiba-tiba kulihat mata Irene  berkaca-kaca.

‘Mengapa  harus kamu yang mnderita?  Mengapa bukan aku padahal aku yang berdosa,’ gumam  Irene lirih.  Aku tak mengerti makna dari ucapan itu.  Tapi aku sudah tidak punya waktu untuk menganalisanya.  Panggilan untuk menuju ke
pesawat sudah terdengar.

‘Irene,  aku harus pergi,’ bisikku.

‘Lucy,  jangan pergi, please?’ pinta Irene.

‘Kamu  tahu aku tidak bisa.’

‘Lucy,  kamu sama sekali tidak tahu daerah yang akan kau tuju,’ ucap Irene kuatir.

‘Jangan  takut, Irene.  Aku di lahirkan di Amerika. Ingat?’

‘Kamu  yakin ini yang terbaik bagimu?’

‘Ya,  Irene.’

‘Kalau  begitu aku akan  pergi menyertaimu.  Aku tidak punya siapa-siapa disini.  Aku bisa pergi kemana saja.  Aku akan menemanimu.’

‘Apa?!’  teriakku tak percaya.

 ‘Aku  akan pergi denganmu, Kita bisa cari kerja bersama.’

‘Irene,  tidak!’ jawabku seketika.

‘Lucy,. . . ‘

‘Tidak,  Irene.  Aku akan pergi sendiri.  Aku butuh waktu untuk diriku sendiri.’

‘Aku  tidak akan menyulitkanmu. Aku akan menghidupi diriku sendiri. Tapi biarkan aku menjagamu.’

‘Menjagaku?  Tidak! Aku tidak akan mengijinkanmu . Kamu kembalilah ke Stanton dan jangan  katakan kemana aku pergi. Mereka akan curiga bila kita lari bersama.’

‘Lucy,…’

‘Tidak, Irene.   Sekali lagi tidak!’

‘Lucy  biarkan aku menebus dosa?

‘Menebus  dosa?  Irene, ini tidak ada hubungannya denganmu.   Irene, jangan ngelantur.  Aku bisa berdiri sendiri.  Kamu akan  benar-benar menolongku bila kamu mau pulang ke Stanton lagi. Aku akan  menghubungimu, Irene. Kuminta kamu menyimpankan surat-surat yang datang dari  Indonesia untukku.  Mungkin suatu saat aku akan memintamu untuk mengirimkannya  kepadaku.  Oke?’

‘Kamu berjanji untuk menghubungiku dan memberi kabar?’

‘Ya, Irene, aku berjanji.   Nah sekarang aku harus pergi.’

‘Lucy,’ panggil Irene. ‘Boleh aku memelukmu?’ tanyanya.  Berdua kami berpelukan lama sekali. Enggan rasanya untuk melepaskan diri dari Irene.

 ‘Tuhan menyertaimu, Lucy,’ bisik Irene di tengah sedanya.  Kupandang dia dari mataku yang mulai mengabur. Irene satu-satunya orang yang paling dekat denganku sesudah Mama.  Aku tidak tahu apa yang telah mendekatkan kami berdua.  Mengapa dengan David yang saudara kembarku sendiri aku tidak bisa sedekat ini.  Mengapa?

to be continued ….

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Kedua)

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian2)

Di luar gelap sekali sehingga sia-sia saja usahaku. Tapi aku tahu dengan pasti dari mana datangnya suara itu, dari pohon oak di depan sana. Siapakah dia? Aku makin penasaran. Makin lama kudengarkan makin yakin aku kalau yang menggesek biola itu tidak hanya seorang. Dua orang telah memainkannya bersama dengan penuh penghayatan. Perasaanku pun ikut terhanyut. Il Silenzio, lagu kematian.

Tiba-tiba mereka menghentikan permainan mereka dan menoleh.

 ‘Maaf jika aku mengganggu kalian,’ ucapku pelan.

 ‘Miss Lucinda!’ tegur Irene dan Oscar berbarengan.  Tak heran kalau Oscar memainkan Il Silenzio.  Lagu itu pasti dipersembahkan untuk orang tua dan adik-adiknya yang telah tiada.  Bagaimana dengan Irene? Apakah orang tua Irene juga sudah  meninggal?

‘Tidak keberatan jika aku ikut mendengarkan di situ?’ tanyaku.

‘Kemarilah, Miss Lucinda,’ ajak Oscar.   Aku mendekat dan duduk di samping Irene.

‘Belum tidur?’  tanya Irene halus

‘Hampir saja aku tertidur ketika mendengar permainan kalian.”

‘Apakah kami telah mengganggu tidurmu?’

‘Oh,  sama sekali tidak.  Kalian bermain begitu indahnya,” pujiku. “Kenapa kalian tidak main lagi? Anggap saja aku tidak ada di sini,’ lanjutku.  Oscar segera mengangkat biolanya yang di susul oleh Irene. Sesaat kemudian mengalunlah Green Sleeves. Indah sekali. Menghias malam yang senyap. Wajah murung Irene tampak semakin murung ketika membawakan lagu itu.

‘Indah sekali,’  bisikku ketika mereka selesai bermain.

‘Anda tahu lagu tadi, Miss Lucinda?” tanya Oscar penuh minat.

‘Aku pernah mendengarnya,’

‘Engkau pasti mengerti musik,” kejar Oscar tidak puas.

‘Aku tidak mengerti, Oscar.  Aku penggemar musik.  Aku  tahu mana musik yang baik dan mana musik yang tidak. Itu saja.”

“Bisa main biola?”

No…,”

‘Anda pasti bisa. Tidak ada orang yang mau menyempatkan diri untuk datang kemari jika dia tidak bisa main biola,’  debat Oscar.

‘Itu karena permainan kalian bagus sekali hingga mampu mengundangku untuk datang,’

‘Aku tahu Anda bohong, Miss Lucinda.  Ambillah biola ini dan mainkanlah sebuah lagu,’  desak Oscar sambil menyodorkan iolanya.

‘Oscar, aku tidak bisa,’

‘Anda bisa, Miss Lucinda.   Anda  juga pernah bilang kalau Anda tidak  berkuda padahal Anda mahir.  Mainkanlah sebuah lagu.’

‘Dengar baik-baik, Oscar, aku tidak bisa bermain sebagus kalian,’

‘Nah, benarkan? Anda bisa bermain. Mainkanlah lagu Indonesia, Miss Lucinda. Engkau mau ‘kan?’ pinta Oscar.  Matanya benar-benar mengharapkanku. Kuturuti permintaannya dan kumainkan ‘Melati dari Jayagiri’. Aku berusaha untuk tidak membuat kesalahan. Irene dan Oscar pasti akan segera mengetahui jika kesalahan itu kubuat. Telinga mereka pasti sudah benar-benar terlatih.

‘Apa nama lagu itu, Miss Lucinda?’  tanya Oscar begitu aku menurunkan biola kembali.

‘Melati dari Jayagiri.  Melati adalah nama sebuah bunga sejenis jasmine dan dalam lagu ini digunakan sebagai lambang untuk seorang gadis.  Jayagiri adalah nama sebuah tempat,’ jawabku asal-asalan.

‘Mainkanlah sekali lagi,’ pinta Irene mengejutkan.

‘Kamu  sungguh-sungguh memintaku?’ tanyaku tak percaya

‘Ya,” jawab Irene mantap.  Kumainkan Melati dari Jayagiri sekali lagi.  Aku tidak menyangka Irene bakal ikut bermain bersamaku. Daya tangkapnya luar biasa.  Begitu aku selesai, kuminta dia untuk memainkannya sendiri.  Dia menuruti tanpa cela.

 ‘I’ve got it,’  cetus Oscar tiba-tiba.

‘Engkau mau bermain pula, Oscar? Ini biolamu,’

‘Tidak perlu, Miss Lucinda . Aku membawa harmonika.  Mengapa tidak kita mainkan sekali lagi bersama?’  usul Oscar.   Aku dan Irene menyetujuinya.  Maka mengalunlah lagu itu di malam yang sepi di tengah padang rumput, seakan lagu itu tercipta khusus  untuk dimainkan di sini. B egitu pas dan sesuai dengan keadaan.  Begitu mengena.  Tentu pada waktu mencipta lagu ini Bimbo sedang berada di tengah-tengah padang rumput.

‘Apakah banyak komponis di Indonesia?’ tanya Oscar.

‘Ya, banyak juga.  Cuma . . . mereka jarang yang bisa muncul ke dunia Internasional. Masalahnya bukan tak mampu tapi tidak ada kesempatan.’

‘Aku percaya’  bisik Irene dengan suaranya yang lembut.  ‘Kalau mereka bisa mencipta lagu seindah tadi pasti masih ada lagi karya-karya lain yang indah.  Aku berharap dapat ke Indonesia nanti di suatu saat,’ lanjutnya penuh harapan.   Aku senang mendengar kata-kata Irene itu.

‘Nanti kita pergi bersama, Miss Irene,’ sela Oscar sambil tertawa. Giginya yang putih masih tetap tampak walau malam begitu pekat. Irene ikut tersenyum

‘Aku takut aku harus menunggumu terlalu lama,’ desah Irene.

‘Tidak,’  potong Oscar cepat. ‘Mulai besok aku akan menabung. Tidak ada lagi majalah sport yang kubeli begitu juga CD.’

‘Bukan itu, Oscar.  Tetapi menunggu kamu hingga jadi musikus dan mempunyai cukup uang untuk membiayaiku,’ canda Irene.

‘Membiayaimu?’ tanya Oscar serius.

‘Ya, mengapa tidak?   Aku yang mengajarimu main biola.  Kamu nanti pasti akan menjadi pemain biola handal. Pasti nanti uangmu berlimpah,’ hibur Irene.  Oscar berdecak senang.  Oscar boleh mempunyai cita-cita setinggi itu. Dia mempunyai sesuatu yang kuat untuk menunjukkan cita-citanya. Usia muda, bakat, dan satu lagi, dia hidup di Amerika yang membuka banyak kesempatan untuk dirinya.  Irene tahu itu, dia tidak hanya sekedar bergurau.

Kami masih bermain lagi, membawakan lagu-lagu ringan sebelum kami saling mengucapkan selamat malam karena kantuk yang tidak dapat di tahan lagi. Maka berlalulah sebuah malam yang indah.

Λ

Pagi itu aku kaget setengah mati ketika menjumpai Papa masih di rumah padahal aku sudah bangun terlambat.

‘Belum  pergi, Papa?’

‘Aku sengaja  menunggu hingga kamu bangun,’ jawab Papa.

‘Menungguku?  Mengapa?’ tanyaku tak habis pikir sebab belum pernah Papa pamitan padaku  sebelum pergi.

‘Aku  harus pergi untuk beberapa hari, jadi kurasa aku wajib untuk memberitahumu.   Semalam aku lupa mengatakannya.’

‘Mengapa  Papa tidak membangunkanku?’

‘Tidak perlu tergesa-gesa. Konperensinya baru dibuka sore nanti.’

‘Konperensi?’

‘Ya.  Konperensi di Universitas Ohio di Colombus.’

‘Universitas Ohio?’  tanpa kusadari aku telah membeo setiap ucapan Papa dan rupanya Papa menyadarinya.

‘Universitas Ohio memiliki fakultas pertanian yang terbaik di seluruh Amerika dan sering mengadakan konperensi dengan para petani. Karena Papa kebetulan seorang petani dan kebetulan pula Alumni dari sana, maka Papa mendapat undangan.”

‘O, . . . ‘ aku Cuma bisa melongo. Kemudian Papa mengeluarkan dompetnya dan menarik beberapa lembar ratusan dollar yang segera di ulurkannya kepadaku.

‘Belilah sesuatu.  Kamu belum pergi ke mana-mana sejak kedatanganmu kemari.  Besok pagi Irene akan ke kota, kamu bisa ikut dengannya.’

‘Terimakasih, Papa, tapi aku masih mempunyai sisa uang pemberian Mama,’  tolakku sok aksi.

‘Lucy, kali ini pemberian Papa,” Papa memaksa.  Kuterima juga akhirnya uang itu dan kumasukkan ke saku celanaku.

‘Aku sudah membuka rekening bank untukmu.  Dua  atau tiga hari lagi kamu akan menerima kartu ATM.  Sementara itu, kalau engkau kekurangan uang, bisa meminta pada David.  Oke, Lucy, Papa pergi dulu,” kata Papa.   Meminta pada David? Huu . . . rasanya lebih baik aku mati kelaparan daripada meminta darinya. Kuantar Papa sampai ke mobilnya.  Begitu mobil itu  menghilang aku segera mencari Denver dan memacunya ke hutan pinus.

Λ

Irene  begitu cekatan dalam membeli barang-barang yang di butuhkannya.  Dia telah  mencatat apa-apa yang akan dibelinya  sehingga dia tinggal memberi tanda  barang-barang apa saja yang sudah di ambilnya. Untuk berbelanja sebanyak empat  kereta belanja dia tidak memerlukan waktu lebih dari satu jam. Sedang aku . . .  mencari sebuah ransel untuk Adit saja telah menghabiskan waktu beberapa jam!   Mungkin karena kecekatannya itulah Irene di beri tugas untuk berbelanja ke kota  seminggu sekali.

Sebelum  ke kasir, irene mengeluarkan bundelan kertas yang ternyata merupakan kupon discount yang di kumpulkannya dari  majalah-majalah atau bekas pembungkus yang lama.

‘Cara  untuk mendapatkan uang ekstra,” bisik Irene lugu sambil tersenyum. Potongan  harga yang di dapat Irene lebih dari sepuluh persen dari jumlah seluruh  belanja. Dari uang itu dia membeli sebuah majalah sport dan CD untuk Oscar.

‘Irene, kamu begitu memperhatikan Oscar,’ cetusku tak bertahan dalam perjalanan pulang.   Irene memandangku sejenak sebelum menjawab.

‘Saya tidak tahu mengapa,  tapi saya menyayanginya.’

‘Yah,  kurasa semua orang menyayangi Oscar,” pendapatku.  ‘Apakah kamu mempunyai adik,  Irene?’ tanyaku kemudian. Lama dia tak menjawab. Hampir saja aku mengira Irene tak  mendengar apa yang kutanyakan kepadanya ketika tiba-tiba saja dia menghembuskan  nafas panjang. Aku tahu Irene tak suka menceritakan tentang dirinya. Seharusnya  aku tak bertanya tadi.

‘Engkau  tidak harus menjawab,’  kataku. Aku sama sekali tak mengira hal itu ternyata  justru memancing Irene untuk menjawab.

‘Tidak  ada yang perlu di sembunyikan, Miss Lucinda.  Aku tidak mempunyai siapa-siapa di  dunia ini.  Tidak saudara dan tidak pula orang tua,”  kata Irene datar. Astaga,  . . sadisnya aku.  Mengapa aku selalu ingin tahu urusan orang lain. Kalau tadi  aku tak  ertanya tentu Irene tidak harus menjawab dan kalau Irene tidak harus  menjawab dia tidak akan teringat kisah sedihnya.

‘Irene,’ panggilku lirih,  ‘Kamu mempunyai seseorang di dunia ini,. . .  aku. Maukah engkau menjadi temanku, Irene?’  Irene menatapku tak percaya.

‘Miss Lucinda?’

‘Panggil aku Lusi.  Kita sekarang  adalah teman,’

‘Miss … ‘

‘Lusi,’  potongku cepat.

‘Oke,  Lusi.’  Irene tergagap tetapi sebuah senyum manis tersinggung di bibirnya yang  tipis.  Ya Tuhan aku sangat kenal dengan senyum itu.  Tetapi senyum siapa? Irene  jarang tersenyum.  Lalu senyum siapa yang persis dengan senyum itu?

Λ

Aku  sedang membenamkan diri dalam lamunan di tepi telaga ketika kudengar kaki kuda  berderap mendekatiku. Kulirik Denver. Dia masih berada di tempatnya semula.   Lalu siapa? Georgie dan Oscar sejak tadi pagi sudah pergi ke ladang apel.  Derap  kaki kuda itu makin mendekat. Kusibakkan daun pinus yang ada dibelakangku dan  mengintip. David?!! Mau apa dia kemari? Ingin benar aku melarikan diri tapi  sudah tak mungkin lagi karena David sudah terlalu dekat. Dia akan segera  melihatku. Kuurungkan niatku dan duduk lagi dengan cemas. Apa pun yang akan  terjadi, terjadilah.

David  dan kudanya muncul di dekat Denver. Dia tidak kaget ketika melihatku, berarti  dia sudah tahu aku berada di sini. Tapi mengapa dia masih datang juga? Apa yang  ingin dia lakukan? David meloncat turun dari kudanya dan berjalan ke arahku.   Dia menatapku tajam. Kutantang matanya. Aku tidak mau menunjukkan rasa takutku,  dia akan menertawakannya. Akibatnya kami saling memberingaskan mata berusaha  menundukkan satu sama lainnya.

‘Aku  membawa kabar buruk buatmu.’  David memulai tanpa emosi.  Bayangan Mama melintas  dalam pikiranku.  Ada apa dengan Mama?

‘Ada  apa?’  tanyaku lemah.  Tidak lagi kuingat untuk menentang matanya. Aku tidak  ingin apa-apa lagi.

‘Papa terkena serangan jantung  sewaktu konperensi,’

‘Papa?’  tanyaku sumbang.   Jadi bukan Mama.

‘Ya.’

‘Papa  terkena serangan jantung?’ ulangku.   ‘Apakah Papa sering mendapat serangan  jantung seperti itu?’

‘Ya  dan tidak,’ jawab David. “Ya, Papa mendapat serangan jantung tapi Papa belum  pernah mendapat serangan jantung hingga kamu datang kemari.’

‘Apa  maksudmu?’

‘Untuk  apa sebenarnya engkau datang kemari?’ tanya David tak menjawab pertanyaanku.

‘Untuk apa kamu datang kemari, Lucinda?’  tanya David lagi ketika aku tidak  menjawab pertanyaannya.

‘Apa  hubungan antara kedatanganku dengan penyakit Papa?’ tanyaku keheranan.

‘Kamu  belum menjawab pertanyaanku. Untuk apa kau datang kemari?’ sahut David congkak.

‘Aku  takkan menjawab sebelum engkau menjawab pertanyaanku.’

‘Aku  yang bertanya lebih dahulu,’ bantah David keras.

‘Aku  tidak harus menjawab pertanyaanmu,’ aku tidak mau kalah.  Hutan yang tadi sepi kini mulai gaduh. Burung-burung mulai berterbangan dengan hingarnya, terganggu  oleh pertengkaran kami.

‘Oke,  dengar baik-baik, Miss Lucinda. Dokter Papa baru saja menelponku, bahwa Papa  sudah dalam perawatan. Dan dokter tadi juga menanyakan apakah ada peristiwa  mengejutkan yang terjadi dalam hidup Papa. Tak ada! Kecuali kedatanganmu  kemari.’

‘Itu bukan alasan yang  sesungguhnya.  Engkau hanya menduga,’

‘Lalu apa?’  tantang David.  ‘Bisakah kamu menamakan peristiwa yang telah mengejutkan Papa selain kedatanganmu?

‘Aku tidak tahu. Tapi aku yakin bukan aku penyebabnya.”

“Bukan  kau? Lalu siapa? Aku?” David tertawa sinis.

‘Hentikan  tuduhanmu yang tidak relevan itu,’ jeritku panas.

‘Memang  tidak relevan, tapi masuk akal,’ bantah David geram.  “Enam belas tahun yang  lalu ibumu juga telah berlaku kejam terhadap Papa, meninggalkannya tanpa pesan.   Dan sekarang kamu mau mengusik kehidupan Papa yang sudah tentram. Apa maumu,  Lucinda?’

David mengalamatkan Mama dengan ‘ibumu’ bukan ibu kita atau Mama. Hal  itu benar-benar menyakitkan hatiku.

‘Mama punya alasan kuat untuk meninggalkan Papa,’ belaku.

‘Alasan  kuat? Bah!!  Ibumu telah tergila-gila dengan pria hingga dia tega meninggalkan  keluarganya. Apakah itu alasan kuat?’ kecam David. Aku seperti kena tampar  mendengar kata-katanya yang kejam. Dia mengomentari wanita yang telah  melahirkannya dengan kata-kata serendah itu. Kemarahanku mencapai puncaknya.  Mama telah di hina, aku harus membelanya.

‘Tarik kembali  kata-katamu yang kurang ajar itu!’  hardikku

‘Aku  hanya mengatakan sebuah fakta tentang ibumu,’  ucap David begitu tenangnya.

‘Dia  ibumu juga dan dia tidak serendah itu.’

‘Dia  ibumu, bukan ibuku.  Dia talah memailih untuk menjadi ibumu dan Papa telah memilih untuk menjadi ayahku.  Aku tidak pernah mempunyai seorang ibu,’ sahut David.  Tuhan  apa jadinya jika Mama mendengar apa yang baru saja di ucapkan David?

‘Sekarang kamu harus menjawab pertanyaanku.  Untuk apa kau datang kemari?’  Tanya David  lagi.   Aku tidak menjawabnya. Tidak ada gunanya bercakap-cakap dengan manusia setan  seperti dia.

‘Berarti  dugaan Deidre benar,’  gumam David.

‘Apa  dugaannya?’  tanyaku benar-benar ingin tahu.

‘Engkau  datang untuk mencari warisan,’ jawab David seenaknya. Oh, dia mengira aku  serendah itu? ‘Tapi harap kau ingat, Lucy. Engkau tak bakal menerima sesen pun  dari Papa,’  lanjut David.

Kemarahanku  sudah tak terkendalikan lagi. Bukan karena mendengar aku tak bakal menerima  warisan, tetapi karena David mempercayai omongan wanita murahan macam Deidre.

‘Aku  tidak datang untuk itu. Aku tak butuh uang ayahmu,’ teriakku. Aku pun  ikut-ikutan dengan memanggil Papa sebagai ‘ayahmu’.

‘Oh  ya? Lalu untuk apa?’ tanya David tak percaya.

‘Untuk  menemui Ayahku.’

“Dia  bukan ayahmu lagi.”

‘Hubungan  Ayah dan anak tidak bisa hilang begitu saja sebagaimana hubungan ibu dan anak,”  sanggahku. David tertawa sinis. Alangkah bencinya aku mendengar tawanya.

‘Kamu salah. Lucinda.  Hubunganmu dengan Papa sudah putus sejak pengadilan memutuskan  perceraian ibumu dengan ayahku dan kamu menjadi tanggung jawab ibumu.  Kalau kamu masih menerima kiriman uang dari Papa itu karena Papa bermurah hati  kepadamu dan kamu harus berterimakasih untuk itu.’

‘Sudah kewajibannya untuk membesarkanku..’

‘Benarkah itu?  Apakah engkau belum besar sekarang? Berapa umurmu? Sembilan belas tahun. Padahal batas usia besar itu delapan belas tahun.  Papa tidak mempunyai kewajiban lagi terhadapmu.  Fair is fair, Miss Lucinda,’ kata David sambil tersenyum penuh kemenangan.  Aku tidak bisa menjawab.  Ingin benar aku menangis tapi sekuat tenaga kutahan.  David akan lebih girang lagi bila dapat melihat aku menangis.

‘Maaf aku telah menghancurkan harapanmu,’ kata David sinis. Kemudian dia berjalan menjauhiku.

‘Aku benci kamu! Benci sekali!’ teriakku. David menoleh.

‘Sama-sama,  Miss Lucinda.   Aku juga membencimu.  Benci sekali,’ ucapnya angkuh.  Inilah dia … dua  saudara kembar yang telah disatukan tetapi apa yang diucapkan adalah  kata-kata penuh kebencian.

Setelah  David berlalu barulah aku teringat kembali kepada Papa.  Mengapa kami harus  bertengkar sementara Papa sedang menderita?  Apakah benar aku telah mengejutkan  Papa? Tetapi mungkinkah itu? Bagaimanapun juga aku adalah anak Papa dan Mama toh  sudah meminta persetujuan Papa apakah aku boleh tinggal bersamanya atau tidak.

Kembali aku teringat penghinaan David tadi. Dia begitu keras kepala dan angkuh. Apakah dengan kata-katanya tadi dia  telah mengusirku secara tak langsung? Apakah aku harus pulang kepada Mama?  Tuhan, jangan biarkan hal itu terjadi.  Bukannya aku tidak mau bertemu dengan Mama.  Tetapi jika aku pulang, Mama akan segera tahu apa yng sesungguhnya terjadi. Mama akan tahu aku tidak diinginkan di sini.  Mama akan tahu anak sulungnya tidak menganggap Mama sebagai ibunya lagi.  Tetapi jika aku tidak pulang, tidak malukah aku?  Haruskah aku menebalkan muka dengan tetap tinggal di sini dan membiarkan David melakukan penghinaan seenak perutnya?  Aku benar-benar bingung.

to be continued …

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Pertama)

Ribuan Mil Dari Mama Part 1

Wanita cantik berkulit hitam itu menerima paspor yang kuulurkan kepadanya.  Sekejab dia memandangku dengan matanya yang jernih, kemudian memeriksa pasporku dengan seksama. Selagi dia menunduk, kuamati dirinya. Kulitnya licin bercahaya, rambutnya yang keriting di tarik ke belakang kemudian diikat dengan pita berwarna biru sewarna dengan pakaian yang di kenakannya.  Profil wajahnya begitu apik. Tulang pipinya yang menonjol sengaja di tunjukkannya dengan menggunakan makeup yang samar-samar. Secara keseluruhan dia sangat menarik.

‘Miss Lucinda Stanton?’ tanyanya sambil menengadahkan kepala. Kuanggukan kepalaku walau nama itu sangat asing bagi telingaku. Sepanjang hidupku, namaku adalah Lusi.  Tanpa embel-embel Stanton di belakangnya.  Setelah yakin kalau foto di paspor itu adalah fotoku, si hitam manis pegawai imigrasi tersebut kemudian dia membubuhkan cap di halaman pasporku. Setelah selesai dia membuka pintu yang memisahkanku dengan dirinya.

‘Would you follow me, please?’ katanya lembut sembari menyerahkan pasporku kembali.  Sejenak aku terpana.  Untuk apa?

‘Anda telah dinanti,’ lanjut wanita tersebut membunuh keherananku.  Aku pun bisa bernafas lega dan mengikuti dia. Setelah berjalan melalui lorong-lorong yang panjang, akhirnya kami sampai di depan pintu dengan tulisan ‘Private Airlines’.

‘Gabriella!’ teriak seseorang begitu kami memasuki ruangan.  Aku memandang sekeliling mencari wajah yang mungkin kukenal. Tidak ada!  Lalu siapa yang menjemputku?

‘Miss Stanton, . . .?’  panggil si hitam manis yang ternyata bernama Gabriella.  Secara spontan aku menoleh.

‘Ini Emanuel Batista yang bertugas menjemput anda,’  lanjut Gabriella memperkenalkan pria yang tadi meneriakkan namanya.  Melihat wajahnya yang mirip-mirip George Lopez, aku yakin kalau dia pria Mexico.

‘Senang sekali bertugas menjemput anda, Miss Stanton,’  ucap Emanuel sambil menjabat tanganku hangat.

‘Dia seorang pilot yang hebat, keselamatan Anda akan terjamin bersamanya.’ Gabriella menerangkan.   Emanuel hanya mampu tertawa canggung.

‘Oke, saya harus bertugas.  Selamat jalan, Miss Stanton, semoga Anda betah di Amerika,” ucap Gabriella sebelum berlalu.

‘Terima kasih,’ bisikku. Ya, mudah-mudahan aku betah di sini.

‘Anda sudah siap, Miss Stanton?’ tanya Emanuel memecahkan lamunanku.

‘Ya, ya,’ sahutku gagap.  ‘Tapi bagaimana barang-barangku?’ lanjutku.

‘Sudah kami urus,’ jawab Emanuel mantap.  Kemudian kami keluar dari ruang tersebut. Berjalan lagi di lorong-lorong yang panjang dan lengang yang bertolak belakang dengan sisi lain dari airport ini.

‘Bagaimana dengan perjalanan Anda dari Indonesia kemari?’ tanya Emanuel.

‘Melelahkan dan membosankan,” jawabku jujur. Emanuel tertawa. Giginya begitu putih dan rata. Kalau dia tertawa seperti itu, kerut-kerut di sekeliling matanya bertambah dalam dan matanya tampak lebih bercahaya.

‘Anda boleh tidur selama perjalanan nanti,’ janji Emanuel.  Aku mengangguk untuk menyenangkan hatinya.

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya aku bisa menghirup udara luar lagi.   Beberapa pesawat kecil ada di depan kami.  Tiba-tiba mataku terpaku pada sebuah pesawat bercat putih dengan garis biru melintang.  Di pintu pesawat tersebut ada tulisan STANTON dengan huruf besar berwarna biru pula dan di bawah pesawat itu aku melihat kedua koperku.  Aku terkejut.  Milik siapakah pesawat kecil ini?  Milik ayah kandungku?  Apakah dia sekaya itu?  Tetapi aku tak berani menanyakan hal itu kepada Emanuel.

Setelah kedua koperku masuk ke dalam bagasi, Emanuel memperkenalkan co-pilotnya.  Mauricio Batista, adik kandungnya sendiri.  Memasuki pesawat, aku kembali dibuat tertegun.  Dari luar, pesawat itu sudah tampak mewah dan ternyata di dalamnya jauh lebih mewah lagi.  Tempat duduknya yang empuk berlapis kulit berwarna krem yang lebih menjurus ke putih.  Panel dindin dan langit-langitnya begitu detail dan berselera yang tinggi.

Begitu waktu yang dijadwalkan tiba, pesawat itu mulai berjalan. Pelan dan pasti, kemudian dengan lembut meninggalkan landasan. Barulah aku percaya pada apa yang dikatakan Gabriella bahwa Emanuel adalah seorang pilot yang hebat.  Pesawat kami berjalan dengan tenang meninggalkan kota New York.  Beberapa saat kemudian kami terbang agak rendah.  Kini yang ada di bawah bukan lagi bangunan-bangunan tinggi menjulang melainkan hamparan padang rumput.  Di tengah-tengah padang rumput itu ada sebuah jalan yang mulus dan berkelok-kelok.  Itulah country road John Denver. Bila kami tiba di atas sebuah kota, Mauricio dan Manuel akan mengatakan nama kota itu serta memberikan keterangan singkat.

‘Philadelphia,’ kata Mauricio. Kemudian dia akan menerangkan segala sesuatu tentang Philadelphia.  Dari Liberty Bell hingga perjuangan orang-orang Amerika untuk mencapai kemerdekaan seakan dia ahli dalam sejarah Amerika Serikat.   Aku benar-benar senang mempunyai penjemput seperti mereka.  Janji Emanuel untuk membiarkan aku tidur dalam perjalanan tak menjadi kenyataan. Mereka menyuguhiku dengan pemandangan-pemandangan yang terlalu indah untuk diabaikan.

 ‘Mister Batista, kota apakah itu?’  tanyaku ketika melewati sebuah kota dan tak kudengar sebuah komentar pun.  Mauricio menoleh.

‘Anda tidak akan memanggil kami dengan sebutan mister  seperti itu bukan, Miss Stanton?’ tanyanya.

‘Mengapa?’  tanyaku tak mengerti.

‘Mengapa?  Panggil saja kami Manny dan Morris’

‘Tetapi kalian memangilku Miss Stanton.’

‘Karena itu sudah kewajiban kami.’

‘Aku tidak mengerti maksudmu,’  ucapku.  Mauricio atau Morris memandangku tidak percaya.

‘Ayah Anda,  Mister Stanton, boss besar kami.  Dia  adalah pemilik kami.  Dan sebutan miss untuk Anda rasanya begitu lumrah.’

‘Aku tak menyukai itu!’  bantahku sengit.  Apa-apaan ini?  Ayahku pemilik orang lain?  Waduh.! ‘ Dengar, aku tak ingin sebutan miss lagi.  Panggil saja aku Lusi dan aku akan memanggil kalian Morris dan Manny.   Adil bukan?’ usulku.  Mauricio terdiam. Tiba-tiba kudengar suara Manuel.

‘Ayah Anda tidak akan menyukainya,’

‘Biar dia tak menyukainya.  Hei, kalian belum menjawab pertanyaanku tadi,” seruku mengalihkan pembicaraan. Untuk pertama kalinya aku mempunyai perasaan bahwa aku tidak akan menyukai orang yang akan kutemui kali ini.  Orang yang menurut hukum adalah ayahku.  Orang yang pernah kawin dengan mama dan orang yang harus kupanggil daddy atau papa.   Aku tidak yakin apakah jika nanti bertemu dengannya aku sanggup untuk memanggil dirinya papa.  Rasanya lebih pas bagiku untuk memanggil dia Mister Stanton.

‘Maafkan kami,’  ucap Mauricio,  ‘Itu tadi Cincinnati.   Kota yang sangat indah.  Master David kuliah di sana.’

‘Dan  bangsawan dari manakah Master David itu?’ tanyaku bergurau karena aku tahu siapa yang dimaksudnya, David Stanton, saudara kembarku. Mauricio dan Manuel tidak menjawab hanya tersenyum lebar.

 ‘Selamat datang di Kentucky, sebentar lagi kita sampai,’ seru Manny. Kemudian dia mulai mengadakan kontak dengan Louisville Airport. Beberapa saat kemudian dia mendaratkan pesawatnya dengan indah.

 ‘Penerbangan yang menyenangkan, Manny,’  pujiku sambil membuka sabuk pengamanku.

‘Saya senang Anda menyukainya Miss . . ‘

‘Lusi. Ingat?’  potongku.

‘Oke, Lusi,’  dia meralat sambil tersenyum, “Morris  akan mengantarmu ke dalam.  Georgie pasti sudah menunggumu.  Aku harus mengurus pesawat ini dulu,’  kata Manuel.

‘Manny, siapakah Georgie itu, apakah aku kenal dia?  bisikku.  Manuel mambelalakkan matanya tidak percaya.

 ‘Kamu tidak ingat Georgie?’  desisnya.   Aku menggeleng.

 ‘Dia bilang kamu dulu sangat akrab dengannya dan tidak mungkin melupakannya.  Sepanjang hidupnya dia bekerja untuk keluarga Stanton.  Sekarang dia buttler, tapi dia dulu adalah nanny kalian,” Manuel menerangkan.  Kuangkat bahuku sebagai tanda aku benar-benar tak ingat Georgie.  Nannyku seroang laki-laki.  Mengapa Mama tidak pernah mengungkapkan hal itu.  Kapankah dulu itu? Enam belas tahun yang lalu?  Waktu umurku masih tiga tahun?  Dan dia berharap aku masih mengingatnya?

Georgie adalah seorang pria yang telah melampaui usia enam puluh tahun.  Rambutnya sudah putih semua. Walau badannya masih tegap tapi kerut-kerut di wajahnya tidak bisa menyembunyikan usianya. Aku tidak tahu apakah matanya yang kelabu itu merupakan gambaran umur tuanya atau aslinya memang kelabu. Ekspresi gembira terpancar dari wajahnya ketika dia menampak kedatanganku di samping Mauricio. Aku benar-benar menyesal tidak bisa mengingat dia lagi.

‘Miss Lucinda!’  teriaknya nyaring dan tergesa-gesa menemuiku.  ‘Aku selalu berdoa untuk bisa bertemu lagi denganmu dan ternyata Tuhan menjawab doaku.’

‘Halo, Georgie,’ sapaku sambil kugenggam tangannya.

‘Kamu sudah dewasa sekarang,’  bisik Georgie.

‘Ya, Georgie.’

‘Bagaimana  kabar Nyonya Stanton?’  tanya Georgie tiba-tiba.  Aku tahu yang dimaksud pastilah Mama.

‘Baik-baik saja.  Tetap seperti dulu kurasa,’  jawabku.  Georgie mengangguk-anggukan kepalanya.

‘Wanita hebat, kita semua merindukannya . . . wanita hebat,’  bisiknya berkali-kali.

Λ

Sebuah limousine hitam berkilat telah menanti kami di luar.  Georgie membuka bagasi dan Morris memasukkan kedua koperku ke dalamnya. Kemudian Georgie membuka pintu belakang dan menyilakanku masuk.  Fuih . . . feodalisme lagi, yang akan memisahkan supir dan anak majikannya.

‘Keberatan bila aku duduk di depan?’ aku meminta persetujuan.  Georgie dan Mauricio berpandang-pandangan sejenak.

‘Tentu saja tidak,’  akhirnya Georgie berkata sambil menutup pintu belakang lagi kemudian membuka pintu depan. Aku masuk.

‘Morris, terima kasih,’  itu saja yang dapat kuucapkan kepada Morris sebelum Georgie meluncurkan mobilnya meninggalkan halaman parkir airport.

‘Masih ingat daerah ini?’  tanya Georgie ketika kami melewati pusat kota Louisville.  Kota kelahiran Muhammad Ali dan Kolonel Sanders-nya Kentucky Fried Chicken.  Aku menggeleng. Ingin benar kukatakan kepadanya bahwa tak ada satu pun yang aku ingat dari tanah Amerika ini.  Semuanya serba asing.  Bahkan aku tak ingat lagi pada Georgie.

‘Ah, kamu masih terlalu kecil waktu itu,’  akhirnya Georgie sendiri yang mengucapkannya.  Aku benar-benar merasa lega.

 Lalu lintas begitu ramainya di Louisville sehingga berkali-kali kami harus berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah.  Ingin aku bertanya pada Georgie apakah rumah ayahku masih jauh, tapi keinginan itu segera kupadamkan.  Bertanya atau tidak bertanya toh itu tak akan mendekatiku.  Kota Louisville telah kami lalui, tetapi Georgie seakan tak pernah berniat untuk menghentikan mobil kami. Dia masih melaju menuju luar kota. Keramaian kota berganti dengan kesegaran daerah pertanian. Mobil-mobil lain yang kami jumpai makin berkurang. Paling-paling satu mobil setiap lima menit. Setelah melalui jalan yang berkelok-kelok, kami tiba di atas sebuah bukit. Georgie memperlambat jalan mobilnya dan menoleh padaku.

‘Kita sudah sampai,’  katanya sambil tersenyum.  Aku memandang ke sekeliling.  Perkebunan anggur di kiri dan kananku dan di depanku adalah jalan yang panjang dan landai.  Tidak ada sebuah rumah pun.

‘Kamu  juga tidak ingat, Miss Lucinda, kalau tanah ini adalah tanahmu dan kebun anggur di sana itu kebunmu?’ tanya Georgie sedih. Bukan salahku jika aku tak ingat lagi, tapi nyatanya aku masih tetap merasa bersalah.  Seharusnya paling tidak aku ingat tanah ini, karena aku pernah tinggal di sini.

‘Georgie, engkau tahu aku seperti seorang yang terkena amnesia. Aku begitu ingin mengingat semuanya, tapi aku tidak  mampu. Masa kecilku seakan hilang begitu saja. Maafkan aku, Georgie,” kuputuskan diriku untuk berkata jujur kepada Georgie dan Georgie seakan memahamiku. Dia tersenyum penuh pengertian.

Begitu kebun anggur itu habis, di ganti dengan pohon-pohon apel yang mulai berbunga. Bunganya kecil-kecil berkelompok dan berwarna putih agak kekuning-kuningan.   Tidak ada daun di pohon, sehingga tampaknya hanya pohon dengan batang dan bunganya saja.  Georgie menjelaskan kalau daun baru akan muncul kalau bunganya sudah berubah menjadi buah.

‘Kapan kita panen apel, Georgie’  tanyaku memecah kesunyian yang timbul di antara kami.

‘Awal musim gugur,’ jawab Georgie.

‘Banyak hasilnya?’

‘Terlalu banyak. Kamu pasti akan bosan melihatnya dan Clemmie, . . . setiap hari dia akan membuat apple pie.  Oh, Clemmie yang malang, dia mengira setiap orang akan menyukai apple pienya,’ jawab Georgie . Aku mengerutkan dahi mencoba untuk mengingat siapa Clemmie yang dimaksudnya.

‘Kamu pasti sudah lupa sama Clemmie, istriku yang tercinta,’  lanjut Georgie menjawab pertanyaanku yang tak terucap.

Sesudah bosan dengan tanaman apel, kami disuguhi kebun jeruk yang juga mulai berbunga.  Bau kembang jeruk yang segar masih juga tercium walau semua jendela mobil tertutup rapat.

‘Georgie, boleh kubuka jendelanya,?’

‘Ya, bukalah,’  kata Georgie setelah dia mematikan air conditioner.  Begitu jendela terbuka, harum bunga yang segar menyerangku.

 ‘Persis Nyonya Stanton,’ gumam Georgie.

‘Apa?’

‘Nyonya Stanton selalu membuka jendela setiba di daerah ini.’

‘Aku mewarisi kebiasaan Mama, begitu bukan, Georgie?’ tanyaku. Georgie mengangguk setuju.

‘Kamu mewarisi semuanya. Wajahmu begitu mirip dengan nyonya Stanton,’ puji Georgie.

 Setelah perkebunan jeruk habis, diganti dengan padang rumput yang menghijau.  Di kejauhan tampak berpuluh-puluh ekor kuda.  Kuda-kuda Kentucky, coklat mengkilap. Begitu gagah, begitu kuat.

 ‘Apakah itu juga kuda-kuda Stanton?’  tanyaku ingin tahu.  Aku ingin tahu sekaya apakah ayahku.  Pesawat pribadi, limosine, perkebunan yang ribu-ribu hektar dan mungkin juga kuda-kuda itu.

‘Ya. Masih banyak lagi kuda-kuda jantan yang lebih bagus dari mereka.  Kuda-kuda yang menjadi finalis di kejuaraan Derby,’ Georgie menerangkan.  Dugaanku tepat. Ayahku terlalu kaya.  Sedang Mama?  Satu mobil pribadi, kijang saja sudah disayang-sayang ….  tidak pernah bermimpi untuk memiliki pesawat pribadi. Dari istri seorang jutawan, Mama berganti status menjadi istri seorang pegawai negeri. Tapi mama menerima semua itu dengan tabah. Aku tak pernah mendengar Mama mengeluh tentang keadaan ekonomi kami. Oom No begitu baik. Aku tahu dia begitu ingin membahagiakan Mama.

Setelah mencapai ujung tanjakan, kami membelok, dan kini kami berada di tengah-tengah padang rumput. Jalan yang kami lalui kini adalah jalan pribadi. Sebuah bangunan mulai tampak, dan makin lama makin jelas. Bangunan itu bergaya Victoria dengan empat buah pilar besar. Temboknya bercat putih sedang pintu-pintu dan jendela-jendelanya bercat hitam. Oh, ternyata bukan bercat hitam melainkan cokelat mahogani. Georgie menghentikan mobilnya di depan teras. Seorang wanita setengah tua berpakaian hitam dengan celemek putih berlari-lari menuruni anak tangga. Aku begitu yakin bahwa wanita itu Clemmie, mungkin dari cara dia memandang Georgie. Aku segera turun, takut Georgie keburu membukakan pintu untukku.

 ‘Miss Lucinda!’ teriak wanita itu.

‘Clemmie? tanyaku meyakinkan.

‘Ya, Tuhan, engkau masih ingat pada si tua Clemmie?” seru Clemmie senang. Dia memamndang pada tiga gadis manis yang telah muncul di situ dengan bangga, kemudian dia memelukku dan mencium pipi kiriku.

 ‘Engkau benar-benar mirip Nyonya Stanton, Missy,’  bisiknya sambil melepaskan pelukannya.   Kemudian dia memerintahkan kepada tiga gadis yang berdiri di belakangnya untuk membawa koperku ke dalam setelah terlebih dahulu mereka diperkenalkan kepadaku; Helen. Judy dan Irene, petugas rumah tangga.   Dengan dibimbing Clemmie aku masuk ke dalam. Aku belum bisa meyakinkan diri bahwa rumah ini juga rumahku.  Ruang tamu yang luas dan mewah dengan kursi-kursi antik yang tampak begitu anggun dan sesuai dengan cat temboknya.   Bahkan hiasan-hiasan di dindingpun seakan khusus di ciptakan untuk ruangan ini.

‘Di mana Ayah?’  akhirnya keluar juga pertanyaan yang sejak dari New York tadi ingin kuutarakan.

‘Ada urusan bisnis di Cleveland.   Mister Stanton baru akan pulang nanti menjelang makan malam,” jawab Clemmie. “Sedang Mister David saya tidak tahu kemana perginya,” lanjut Clemmie tanpa kuminta.

Dari ruang tamu kami masuk ke kamar tengah kemudian menuju ke kamar yang disediakan untukku di tingkat dua. Pintu kamar itu begitu berat dan ketika terkuak tampaklah seisi kamar.  Tempat tidur yang ekstra besar,  perapian,  kursi malas, kaca rias yang semuanya serba lux dan belum pernah kuimpikan.   Aku masuk dengan ragu kemudian menuju ke dekat jendela. Kusingkapkan tirainya. Pemandangan di luar jauh lebih indah dari pemandangan di dalam.  Padang rumput yang menghijau dengan kuda-kuda yang sedang memakan rumput.  Semuanya sangat memukau.

‘Clemmie, kamar siapakah ini?’ tanyaku sesaat sehabis mandi sambil menghadapi makan siangku. Aku benar-benar heran karena kamar ini seluruhnya menggambarkan citra seorang wanita, sedang di rumah ini tak ada wanita lain kecuali para pembantu. Dan kamar ini terlampau indah buat kamar seorang pembantu. Adakah wanita lain di rumah ini?

‘Kamarmu, miss Lucinda,’

‘Maksudku, siapakah yang biasanya menggunakan kamar ini?’

‘Tidak ada, kamar ini memang di biarkan kosong,” jawab Clemmie.

‘Untuk berjaga-jaga bila ada tamu yang bermalam?’

‘Bukan,’ sahut Clemmie cepat.  ‘Ada dua kamar yang di biarkan kosong.  Yang satunya lagi di pojok sana, di seberang master bedroom.   Mister Stanton menyediakannya untuk Missy dan nyonya Stanton…  Siapa tahu kalau mereka pulang, itu yang selalu dikatakan Mister Stanton.’  Aku tertegun. Jadi ayahku selalu mengharapkan aku dan Mama untuk kembali lagi kemari.

‘Kalau begitu kamar yang satunya lagi akan selalu kosong,’  bisikku tidak sadar.   Mama tidak akan pernah kembali lagi.

‘Apa, Missy?’  tanya Clemmie.

‘Mama tidak akan pernah kembali lagi, Clemmie.’

‘Mengapa?’ desak Clemmie cepat sekali.

‘Mama sudah kawin dengan orang lain.’

‘Sudah kawin?  Mengapa mister Stanton tidak pernah mengatakannya?  Clemmie kaget. Apakah dia tidak tahu? Apakah Ayahku juga tidak tahu? Ah mustahil! Tetapi mengapa dia merahasiakan perkawinan Mama dan masih juga menyediakan sebuah kamar untuk Mama?

‘Ya, Clemmie, dan Mama sudah mempunyai tiga anak dari perkawinannya. Dua orang pemuda dan seorang gadis cilik. Adik-adikku,’ kuucapkan kata-kata itu karena kulihat Clemmie yang masih tertegun seakan tak mendengar apa yang tadi kuucapkan.

‘Oh!’  keluh Clemmie.  Aku kasihan padanya.  Sepertinya  dia juga berharap agar suatu saat Mama akan kembali lagi .  ‘Apakah Nyonya Stanton bahagia?’  tanya Clemmie lirih

‘Ya, Mama sangat bahagia,’  jawabku pasti.  Aku tahu Mama bahagia.  Kalau toh ada sesuatu yang tak membahagiakan hati Mama, hanyalah pertengkaranku yang rutin dengan ibu mertua Mama.  Kini dengan tiadanya aku di sisi Mama berarti tak ada lagi pertengkaran yang terjadi dan tak ada lagi yang tak membahagiakan hati Mama.

‘Nyonya Stanton pantas untuk mendapatkan kebahagiaan itu,’ bisik Clemmie. Aku tahu hatinya terluka. Walau bagaimana pun juga dia adalah pengikut Stanton yang setia yang masih tetap mengharapkan Mama menyandang nama Stanton.

Sesudah selesai makan, Clemmie menekan bel untuk memanggil Irene. Kemudian dia menyibukkan diri dengan mengatur tempat tidurku. Irene masuk dengan tergopoh-gopoh dan dengan cepat membersihkan piring-piring kotor dan berlalu.

‘Sudah seberapa besar anak-anak Nyonya Stanton?’  tiba-tiba Clemmie bertanya dan menoleh ke arahku. Dia masih memanggil Mama dengan ‘Nyonya Stanton’, memang berat untuk merubah sebutan.

‘Adit, yang sulung sudah berumur dua belas tahun.’

‘Dua belas tahun?’  ulang Clemmie kaget. ‘ Jadi sudah lama Nyonya Stanton kawin lagi?’ tanyanya tak percaya.

‘Ya, sudah lama juga. Yang kedua Anto berumur delapan tahun dan si bungsu Yani, lima tahun,’ jawabku.  Aku selalu bangga bila harus bercerita tentang mereka. Betapa aku mencintai Adit, Anto dan Yani.  Tiba-tiba aku rindu pada mereka . Rindu tawa manja Yani, rindu pada cerita-cerita konyol Anto dan rindu pada senyum manis Adit.

‘Tentu mereka tampan dan cantik,’ tebak Clemmie tepat.

‘Ya. Ayah mereka juga ganteng, sih,’ sahutku.  ‘Oom No sangat baik, Clemmie’  tiba-tiba aku harus mengatakan hal itu pada Clemmie.   Aku tidak bisa memanggil Oom No dengan panggilan papa seperti yang digunakan adik-adikku. Walau tak ada yang mengatakan bahwa aku anak tirinya, tapi orang akan segera tahu aku bukan anak kandung Oom No. Aku begitu lain dengan adik-adikku. Aku terlalu cenderung ke papa dengan mata agak biru dan kulit yang terlampau puith. Kesan Indonesiaku tidak sekuat mereka, walaupun ada persamaan-persamaan tertentu yang di wariskan oleh Mama. Jadi apa gunanya memanggil papa kalau semua orang akhirnya akan tahu kalau dia bukan papaku. Lagipula Oom No dan Mama tidak keberatan aku memanggil demikian. Satu-satunya orang yang keberatan adalah ibu Oom No, dan itu tidak masuk hitungan, karena aku tahu, walaupun aku memanggil anaknya dengan panggilan papa, dia masih juga akan menemukan kesalahanku yan lain. Sejak pertama kali Mama kawin dengan Oom No dia telah mengibarkan bendera permusuhan denganku.

Λ

Aku baru saja bangun ketika Clemmie memasuki kamarku.

‘Apakah aku membangunkanmu, Missy?’ tanyanya kuatir.

‘Tidak, Clemmie, aku memang sudah bangun,’

‘Mister Stanton menyuruh saya untuk melihat apakah Missy sudah bangun. Beliau ingin bertemu dengan Missy.’

‘Di mana Papa? Sudah lama Papa pulang?’  tanyaku beruntun.

‘Mister Stanton pulang lebih awal.  Sudah tiga kali saya masuk kemari tapi Missy tidur begitu nyenyak sedangkan Mister Stanton melarang saya membangunkan Missy.’

‘Oke sebentar lagi saya siap,’ kataku sambil masuk ke kamar mandi, membasuh muka dan kumur. Kulirik wajahku di cermin, masih tampak mengantuk dan lelah. Kemudian kukenakan baju biru mudaku, aku ingin tampak menarik pada pertemuanku yang pertama dengan Papa.  Sesudah semua siap, Clemmie mengantarku hingga ke ruang perpustakaan. Seorang laki-laki setengah baya berperawakkan tegap berdiri ketika aku masuk.  Tuhan, aku tak pernah melupakannya.  Laki-laki inilah yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku.  Dialah ayahku.

‘Lucinda dear!’  teriaknya sambil merentangkan kedua tangannya siap untuk memelukku.  Belum sempat aku memutuskan untuk memanggil dirinya Papa atau Mister Stanton, aku telah berada dalam pelukannya.  Pelukannya yang hangat dari seorang ayah kandung. Tanpa kusadari aku telah menangis.

‘Aku selalu merindukanmu, Lucy,’ bisik Papa sambil menghapus air di sudut mataku. Aku tak mampu untuk berkata-kata. Lama sekali Papa baru melepas pelukannya. ‘Maafkan aku tak bisa menjemputmu di New York.’

‘Tidak apa-apa.  Mauricio dan Manuel telah melakukan tugas mereka dengan baik,’ ucapku sambil duduk di kursi yang rendah. Sekarang aku sempat menyaksikan seluruh ruangan. Rak-rak buku yang bersatu dengan dinding, meja kerja, sebuah televisi kecil . . .

‘Oh, . . . Batista bersaudara,’ seru Papa dengan tawanya yang empuk dan enak didengar,’ Yah, mereka penerbang yang hebat. Sudah hampir tiga tahun mereka bergabung dengan kita.’ Tak kudengar nada meremehkan dari Papa. Papa seakan begitu sempurna.

 ‘Kamu menyukai kamarmu, Lucy?’ tanyanya tiba-tiba.

‘Ya, kamar yang bagus,’  jawabku gagap.

Tiba-tiba pintu di depanku terbuka.  Seorang pemuda masuk. David! Ya dia pasti David. Kami berpandang-pandangan lama sekali, rambut David adalah rambutku, mata David adalah mataku, hidung David adalah hidungku, bahkan tahi lalat di dagu David sebelah kanan adalah tahi lalatku.  Yang membedakan antara aku dan David hanyalah besar tubuh kami.  David tinggi dan kekar serta dia seorang pemuda.  Lainnya tidak ada, bahkan baju yang kami kenakan pun sama warnanya, biru muda.   Tetapi sekonyong-konyong mata David berubah menjadi sangat dingin. Aku bergidik seakan mata itu sanggup untuk membunuhku. Bukan, mata itu bukan mataku! Aku tidak pernah memandang orang dengan mata sedingin itu, mata yang memancarkan sejuta benci. Aku kaget dan kecut melihat kenyataan ini. Kebahagiaan yang sempat muncul ketika aku melihat dirinya, menghilang begitu saja. Dia saudara kembarku, tapi mengapa aku tidak senang bertemu dengannya?

‘Lucy, kamu pasti sudah menduga siapa dia!’  kata Papa menengahi.   ‘David, adikmu Lucy,’  lanjut Papa memperkenalkan.  Jadi aku adiknya David.  Siapa yang lahir terlebih dahulu?

‘Hai!’ sapa David sedingin es di kutub selatan.  Aku Cuma mengangguk.  Inilah dia, dua saudara kembar yang telah bepisah sekian lama dan hanya hai dan anggukkan saja yang keluar pada pertemuan yang pertama.

 David kemudian duduk di samping kiriku. Kuusahakan untuk tidak bertatapan mata dengannya. Mengapa dia bisa sedingin ini?

‘Bagaimana dengan sekolahmu, Lucy?’

‘Tahun ini tahun keduaku di Universitas.  Aku mengambil kuliah Ekonomi.’

‘Ekonomi?’ ulang Papa. ‘ David juga belajar Ekonomi,’ tanpa sadar aku menoleh ke arah David tapi segera kualihkan ketika kutangkap sinar matanya.  David tak berkomentar.

‘Akhirnya musim panas nanti engkau bisa mendaftar.  Kukira David akan senang untuk membantumu,’  lanjut Papa.

‘Jangan terlalu mengharapkanku,’ sahut David datar.  Aku benar-benar tersinggung mendengar suaranya yang ketus.

‘Kurasa aku mampu untuk mengurus diriku sendiri,’  jawabku tak kalah ketusnya.  Kudengar David mendengus.  Setan! makiku dalam hati.  Apa yang ingin di tunjukkan oleh manusia satu ini? Aku berharap Papa akan menegurnya, ternyata tidak.  Papa seakan menganggap kata-kata David yang menyakitkan itu sebagai sesuatu yang normal.

‘David, tolong dilihat apakah makan malam sudah siap,” perintah Papa . Dengan malas David bangkit.  Sebelum keluar dia masih sempat menatapku tajam.

‘Jangan dimasukkan dalam hati,’ kudengar suara Papa, seakan dia bisa membaca hatiku.  Aku cuma bisa menganggukkan kepala.  Kejadian ini tak pernah terbayang dalam kepalaku.  Kukira David akan senang bertemu denganku seperti halnya aku yang selalu merindukan pertemuan dengannya.  Aku sangat kecewa.  Kalau saja aku boleh memilih, maka aku akan memilih makan di kamar saja. Aku tidak bisa makan dengan santai. Mata dingin David selalu mengawasi gerak-gerikku, hingga makanan yang kumakan, kadang terhenti di tenggorokanku. Aku merasa benar-benar tolol. Tapi untung kami hanya menggunakan lilin sebagai penerangnya, kalau tidak, David tentu akan lebih senang lagi bisa memperhatikan wajahku yang sebentar merah sebentar putih.

‘Tambah lagi, Lucy?’ Papa menawarkan penuh perhatian.  Aku menggeleng, takut jika aku bersuara, mereka akan bisa menangkap apa yang sebenarnya ada dalam hatiku. ‘Seharusnya Clemmie memasak nasi buatmu, tentu kamu tidak terbiasa dengan makanan seperti ini,’  Papa merasa bersalah. Oh, Mister Stanton yang malang, bukan makanan penyebabnya melainkan anak laki-lakimu itulah yang menyebabkan nafsu makanku hilang.

‘Bukan itu sebabnya,’  sanggahku, ‘Mungkin aku masih lelah saja,’  kulirik David untuk melihat reaksinya. Dia tersenyum sinis.

‘Ya, kamu membutuhkan istirahat yang cukup,’ kata Papa.

Sehabis makan malam, David langsung menghilang. Aku masih duduk lama dengan Papa. Terlalu banyak yang harus di ceritakan. Enam belas tahun berpisah bukan waktu yang singkat. Baru sesudah berbaring di tempat tidur, aku sadar bahwa tak sekali pun Papa bertanya tentang Mama. Tak sekali pun. Aneh! Padahal Papa menyediakan sebuah kamar untuk Mama.

Λ

Aku terbangun dalam keadaan yang benar-benar segar.  Sengaja tak kutekan bel untuk memanggil Clemmie. Kalau hanya untuk menyiapkan bak mandi saja aku masih mampu.  Sambil menunggu air di bak mandi penuh,  kubuka jendela kamarku lebar-lebar untuk mengijinkan udara segar memasukinya.  Padang rumput yang hijau masih basah oleh sisa-sisa embun pagi.  Kuda-kuda gagah berlarian dengan lincahnya menyambut sang matahari.  Sehabis mandi aku segera turun ke bawah.

‘Ya ampun, Missy, mengapa tidak memanggil saya?’ teriak Clemmie ketika melihat aku sudah berada di kamar tengah.

‘Aku tidak ingin merepotkanmu.’

‘Sama sekali tidak merepotkan. Ayo, Missy duduk, sementara kusiapkan sarapanmu.   Mau cereal atau toast?’

‘Cereal saja, Clemmie, aku tidak biasa makan berat di pagi hari,’ jawabku sambil duduk.

‘Engkau juga ingin kubuatkan kopi?’

‘Tidak usah, teh saja sudah cukup,’  jawabku. Rasanya seperti di restoran pakai memilih segala.  Clemmie segera pergi. Lima menit kemudian dia datang lagi dengan sebuah meja dorong dengan beberapa kotak cereal, susu dingin, gelas kosong dan air panas di atasnya.  Semuanya itu dia atur di atas meja makan.

‘Segelas air jeruk baik untuk mempertahankan berat badan,’ ujar Clemmie sambil menuangkan air jeruk dingin ke dalam sebuah gelas kecil. Kupandangi saja gelas itu. ‘Minumlah, Missy!’ perintah Clemmie halus.  Kuturuti perintahnya sementara dia menyiapkan cawan untukku.   ‘Missy ingin cereal yang mana? Rice cripies, cornflake, . . . semuanya buatan Kellog dan Kellog mengambil jagungnya dari perkebunan Stanton.  Jadi dengan makan ini, Missy telah menikmati hasil kebun sendiri,’ lanjut Clemmie.  Aku tidak tahu apakah kata-kata itu benar atau hanya sekedar menarik seleraku.

‘Papa sudah pergi?’  tanyaku sambil menuang rice cripies ke dalam mangkukku kemudian kutambah susu dingin dan gula.

‘Ya, sebelum matahari terbit.

‘David?’ tanyaku pelan, takut bila tiba-tiba dia sudah berada di belakangku dan mendengar apa yang kutanyakan.

‘Sudah pergi juga. Tadi di jemput Miss Deidre.’

‘Siapa?’

‘Pacar Master David.  Kalau nyonya Stanton ada di sini,  aku yakin beliau tidak akan setuju dengan pilihan Master David.’

‘Memangnya kenapa?’  tanyaku ingin tahu.

‘Murahan,” jawab Clemmie tenang.  Aku kaget setengah mati mendengar jawaban Clemmie. Cereal yang sudah berada di kerongkonganku terhenti, aku terbatuk. Clemmie menyadari kekagetanku, sejenak kemudian dia meralat kata-katanya.  ‘Bukan murahan, tapi selera rendah.   Sebenarnya dia cukup cantik, hanya, . . . bagian-bagian yang seharusnya dibuat misterius justru di tunjukkan dengan terang-terangan,’ komentar Clemmie kalem. Dia pasti sudah begitu dekat dengan keluarga ini, karena untuk memberikan komentar seperti itu dibutuhkan keberanian yang sangat besar.

‘Cinta memang buta, Clemmie,’

‘Bukan cinta, tapi nafsu,” bantah Clemmie,  ‘Saya tidak bisa membayangkan anak Nyonya Stanton jatuh cinta pada wanita yang bertolak belakang dengan ibunya. Engkau mengerti maksud saya, Missy?”

Sehabis sarapan aku keluar.  Udara benar-benar sejuk walau matahari bersinar dengan cerahnya.  Beribu taman hias di depan rumah berbunga aneka warna.  Dari halaman depan aku memutari rumah menuju halaman belakang.  Aku tidak menyangka halaman belakang lebih indah dari halaman depan dan samping. Di sana ada ratusan pohon mawar yang sedang berbunga lebat. Bunganya besar-besar serta berbau harum.  Sejenak aku terpana.  Tiba-tiba aku melihat sesosok tubuh bergerak-gerak di antara pohon-pohon itu.  Aku harus menanti lama sebelum mengetahui siapa dia. Ternyata Irene yang membawa sebuah keranjang bunga.

‘Selamat pagi, Irene,’ sapaku.  Dia terlonjak.  Aku menyesal telah mengejutkannya. Seharusnya aku tahu tempat semacam ini merupakan tempat yang paling tepat untuk melamun. Tentu Irene sedang melamun ketika kutegur tadi.

‘Oh, selamat pagi, Miss Lucinda,’ balas Irene setelah reda kekagetannya.  ‘Tidur nyenyak semalam?’  dia bertanya.

‘Ya. Apa yang kau kerjakan?’  tanyaku. Aku tahu dia sedang memetik bunga, tapi caranya memotong bunga itu tak kumengerti. Dia memotong sebatas bunga tanpa menyertakan tangkainya sedikit pun.

‘Memetik bunga,” jawab Irene tepat.

‘Tanpa menyertakan tangkainya?’

 ‘Ini bukan untuk hiasan, Miss Lucinda.’

 ‘Lalu?’

 ‘Untuk membuat air freshener,’

‘Penyegar ruangan?’

‘Ya,’  jawab Irene sambil tersenyum.  Dia senang aku menunjukkan minat. ‘Bunga-bunga ini nanti di rebus dalam cairan lilin kemudian di beri warna dan di bentuk menurut selera kita, lalu kita letakkan di ruang-ruang yang ingin kita beri air freshener.  Tak nampak kalau itu air freshener tapi harumnya dapat tahan lama,’  tutur Irene.  Aku Cuma mengangguk-angguk saja.  Kagum.

 “Apakah ikan di kamar mandiku itu juga air freshener buatanmu?’ tiba-tiba aku teringat ada sebuah ikan lilin berwarna kuning di pojok kamar mandiku. Kemarin aku keheranan waktu melihatnya. Irene mengangguk sambil tersenyum manis.

‘Sayang saya bukan seorang seniman yang dapat membuat bentuk-bentuk yang menarik,’ Irene merendah.  Padahal ikan itu benar-benar sempurna buatannya.  Persis ikan hidup. Irene pastilah seorang yang ahli dalam bidang pahat memahat.

‘Engkau pernah belajar seni, Irene?’ tanyaku.  Dia kaget dan tampak ragu untuk menjawab.

‘Ya, Miss Lucinda. Tapi berhenti di tengah jalan,’ jawab Irene.  Aku tidak bertanya lebih lanjut, nampaknya Irene tidak ingin membicarakan hal itu.  Seorang gadis manis, pernah belajar seni dan kini bersembunyi di pertanian ini. Benar-benar mengundang tanya.

‘Engkau membawa keranjang lain?’ kualihkan pembicaraan kami.

‘Untuk apa?’  tanya Irene heran.

‘Aku ingin membantumu.’

‘Jangan, Miss Lucinda, nanti tanganmu kotor.’   Ya,Tuhan . . . memangnya tanganku ini tangan apa hingga tidak diijinkan untuk memegang bunga.

‘Irene,engkau bisa memegang bunga, aku pun bisa, oke?’  Ia bimbang tapi kemudian menyerahkan keranjangnya. Untuk dia sendiri dia terpaksa mengambil lagi yang lain.

Berjalan-jalan menyusup di bawah pohon mawar merupakan sesuatu yang baru bagiku. Kadang aku harus mengiris bila terkena duri dan Irene akan segera datang dan menanyakan kalau aku tidak apa-apa. Tanpa kusadari keranjang bunga yang kubawa sudah penuh dengan bunga dan aku pun sudah sampai ke tepian kebun. Ada pagar kayu yang memisahkan kebun mawar dengan padang rumput. tak jauh dariku kulihat Georgie dengan sorang bocah  laki-laki berkulit gelap kecil sedang menyikat seokor kuda.

‘Hello, Georgie!’ tegurku. Georgie menoleh demikian pula si anak berkulit gelap, berambut ikal.

‘Hello, Miss Lucinda. Sedang apa kau di situ?’

‘Memetik bunga,’ jawabku.   Georgie tersenyum lebar.

‘Apakah dia Miss Lucinda?’  kudengar bisikkan si bocah berambut ikal.

‘Hello, siapa namamu?’ teriakku.  Mata anak iu bersinar.  Senyumnya menawan memperlihatkan giginya yang putih.

‘Oscar,’ jawabnya malu.

‘Nama yang bagus,’ pujiku.

‘Ingin berkuda, Miss Lucinda?’ tanya Georgie. Kuperhatikan kuda yang sedang disikatnya.  Begitu besar.  Kalau jatuh dari kuda itu dapat di pastikan tulang-tulangku akan remuk semuanya.

Aku tidak bisa,’  jawabku sambil menggeleng.  Baik Georgie maupun Oscar tidak percaya mendengar jawabanku.

‘Kamu dapat berlatih,’ bujuk Georgie selang beberapa saat.

‘Tidak sukar, Miss Lucinda,’  Oscar ikut membujuk.

‘Aku takut, Oscar,’  jawabku jujur.  Oscar tertawa girang.

‘Ayo, miss Lucinda, kamu dulu lebih mahir dari master David dan mengendarai kuda yang lebih besar dari ini.’ Kejar Georgie.

‘Aku?’  tanyaku heran.

‘Ya.  Kamu lebih mahir dari master David,” cerita Georgie.  Aku tidak ingat itu semua . Bahkan aku tidak ingat pernah melihat kuda sebesar itu.

‘Bagaimana, Miss Lucinda?’  tantang Georgie lagi.

‘Engkau pasti salah ingat, Georgie. Waktu aku pergi dari sini umurku baru tiga tahun,’  sanggahku.

‘Aku selalu ingat bagaimana mamamu selalu berteriak-teriak menyuruhmu turun dari kuda sementara papamu justru memberi semangat agar kamu mempercepat lari kudamu. Kamu dulu gadis paling berani di seluruh Louisville bahkan di seluruh Kentucky.’  Aku mendengarkan kata-kata Georgie seperti mendengarkan kisah seorang gadis pemberani, tetapi bukan tentang diriku. Sejak dulu aku di kenal sebagai gadis penakut. Menggonceng sepeda motor saja membuat mulutku komat-kamit berdoa tak henti-henti mohon selamat.

Λ

Aku mulai santai. Tangan kiriku tidak lagi erat berpegangan pada pelana. Aku mempercayakan diri pada Denver. Dia tidak akan melemparkanku. Dia adalah sahabatku. Kami telah mencapai tepi padang rumput sebelah selatan. Di depan kami menghadang hutan pinus yang lebat. Kutarik tali kendali Denver agar dia memperlambat jalannya untuk menunggu Georgie. Georgie datang dengan senyum puas di bibirnya.

 ‘Apakah aku telah mengendarainya dengan benar?’  tanyaku.

‘Tanpa cacat,’  jawab Georgie.   ‘Aku bangga kamu masih bisa berkuda setangkas itu.’   Oh Georgie bukan engkau saja yang bangga, aku pun bangga juga, kata hatiku. Kemudian kami memasuki hutan pinus itu dengan berjalan pelan-pelan. Tidal memungkinkan bagi kami untuk berlari cepat di tengah pohonpohon yang begitu besar.  Nyanyian burung di hutan benar-benar menawan. Bersahut-sahutan dari ranting yang satu ke ranting yang lain. Dan tupai-tupai menari lincah diiringi nyanyian tersebut.  Benar-benar damai di sini.  Tiba-tiba aku menampak sebuah telaga dengan air yang jernih di depanku.  Bunga-bunga teratai merah dan putih bermekaran di atasnya.  Inilah surga!

 ‘Georgie, aku ingin turun,’  kataku pada Georgie.

 ‘Turunlah.’

‘Aku tidak bisa,’  jawabku. Georgie meloncat turun dari Blue Berry kemudian berjalan ke dekatku.  Dia memberi petunjuk bagaimana cara turun yang benar.  Sedetik kemudian aku sudah berada di atas tanah dengan gagah.

Kubuka sepatu canvasku dan berjalan di tepi telaga.  Kemudian kumasukkan kedua kakiku ke dalamnya . Dingin sekali.  Tapi nikmat.  Sesudah berada disana cukup lama, kami memacu kuda kami dan pulang.  Aku telah menjadi penunggang kuda yang ahli.

Aku ketemu papa dan David setiap makan malam.  Aku mulai tenang menghadapi sikap David, bukan karena sikapnya berubah tetapi aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan.  Biar mata David sampai sebesar mata ikan mas tetapi aku tetap bisa memasukkan makanan ke dalam mulutku.   David selalu meminta ijin untuk pergi begitu makan malam selesai dan aku bisa bernafas lebih longgar. Bukan kehidupan seperti ini yang kuinginkan tetapi aku ttidak bisa berharap yang lebih baik lagi.  Bagaimanapun tidak menyenangkannya kehidupan ini, tapi inilah kehidupan yang seharusnya kutempuh . Di sisi Papa dan saudara kembarkulah seharusnya aku berada.

Malam itu sebelum tidur kutulis surat buat adik-adikku.  Aku tidak menulis untuk Mama dan Oom No, karena aku tahu mereka toh akan membaca juga surat yang kukirim buat Adit, Anto dan Yani. Sengaja aku tidak menceritakan tentang Papa dan David.  Aku kuatir jika aku bercerita tentang Papa, kenangan lama Mama akan terbayang dan Oom No cemburu.  Aku heran mengapa aku berpikiran semacam itu.  Mungkin karena aku telah melihat kegantengan ayahku, jadi sudah sepantasnya kalau Oom No menyemburuinya.  Sedang tentang David, ini masalah pribadi.  Aku tidak menyukainya jadi mengapa aku harus menulis tentang dirinya.  Kalau toh aku harus menceritakan tentang David tentu hanya yang jelek-jelek saja yang kutulis.  Akibatnya tentu sangat parah. Mama akan berduka karena anak sulungnya ternyata tidak semanis yang dia duga dan Mama akan menyesal telah mengirimku kemari.

 Mama menginginkan kebahagiaan bagiku.  Sejak ibu Oom No tinggal bersama kami, Mama tahu batinku tertekan.  Terlebih setiap tanggal sepuluh bila ada pertemuan keluarga besar Oom No.  Aku tidak diijinkan untuk turut karena aku bukan keturunan Oom No yang asli.  Setiap tanggal sepuluh, Adit, Anto dan Yani akan berdandan rapi untuk pertemuan itu sedang aku harus tinggal di rumah. Aku tidak pernah mengeluh tentang hal itu, tetapi Mama mengetahui aku merasa di bedakan.

Karena pertengkaranku dengan ibu Oom No makin sering, akhirnya Mama memutuskan untuk menyerahkanku pada Papa dengan harapan aku akan menemukan kebahagiaanku di sini karena di sini ada saudara kembarku jadi aku akan merasa lebih tentram. Alangkah melesetnya dugaan Mama. Tapi aku tidak ingin mengatakan kepada Mama bahwa perhitungan Mama salah. Biarlah Mama mengira aku bahagia di sini karena hal itu akan membahagiakan hati Mama.

Λ

Minggu pagi papa mengajakku untuk melihat-lihat kebun. Dua ekor kuda telah disiapkan untuk kami, yang kukenali sebagai Denver dan Blue Berry.   Aku senang bisa bertemu dengan Denver kembali. Kami berjalan ke arah utara dengan perlahan-lahan. Setiap saat yang berlangsung ingin kami lalui dengan baik. Mengendarai kuda di samping ayah kandungku. Hal yang tak pernah berani kubayangkan, tetapi kini benar-benar terjadi.   Papa begitu gagah dalam pakaian berkudanya. Celana jeans ketat yang ujungnya dimasukkan ke dalam bootnya, kemeja kotak-kotak dengan rompi berwarna biru dan topi cowboy yang juga berwarna biru. Betapa aku mengaguminya. Pasti waktu masih muda dulu, Papa sangat tampan. Tak heran akhirnya Mama memilihnya untuk menjadi suaminya.

 ‘Kamu masih mahir berkuda, Lucy,’ puji Papa sambil memperhatikan caraku berkuda.

‘Georgie yang mengajariku.’

‘Georgie?’ ulang papa sambil mengerutkan dahi.

‘Ya,’

‘Kamu tidak pernah berkuda selama di Indonesia?’

‘Seingatku tidak,’  jawabku.

‘Mau berlomba denganku, Lucy?’  tantang Papa mengejutkan.

‘Berlomba?’  tanyaku tak percaya.  ‘Aku tidak bisa.’

‘Mengapa tidak bisa? Mulai dari sini sampai di kebun jeruk di depan sana. Siapa yang sampai terlebih dahulu dia yang menang.’  Kelihatannya sangat menarik, tetapi aku yakin aku tidak bakal mengalahkan Papa. Papa bergaul dengan kuda selama hidupnya, sedang aku, . . . lihat kuda saja baru tiga hari yang lalu. Tapi kalau hanya untuk bersenang-senang saja, mengapa tidak.

‘Oke,’ jawabku mantap.  Papa tersenyum mendengar jawabanku.

‘One . . . two . . .run!’  Papa memberi aba-aba. Kuberi tarikan kuat pada tali kendali Denver yang segera kukendorkan lagi. Denver meloncat dan berlari dengan kencang. Blue Berry sudah beberapa jengkal di depanku. Papa tidak main-main dengan lomba ini.

‘Come on, Denver. Faster! Faster!’ jeritku sambil menepuk badan Denver dengan kakiku. Denver mempercepat larinya berusaha menyusul Blue Berry.

Aku kalah dalam pertandingan itu, tapi puas. Keringat mengalir deras di dahi dan punggungku hingga blus yang kukenakan basah. Keringat di wajahku segera kuhapus dengan sapu tangan sementara itu Papa tersenyum puas dan matanya bersinar cerah.

‘Engkau hampir mengalahkanku, Lucy.’

‘Ah, Papa, . . . kita selisih jauh sekali.’

‘Tidak, Lucy. Kalau engkau berlatih terus dalam waktu seminggu aku sudah tidak mampu menyusulmu lagi,’  kata Papa serius.   Kemudian kami bergerak pelan-pelan lagi. Menyusup di antara pohon-pohon jeruk yang sedang berbunga. Kelopak-kelopak bunga itu sebagian berwarna keputih-putihan. Buah-buah kecil berwarna hijau gelap menggantikan kedudukan bunga-bunga tersebut. Kami bertemu beberapa orang pekerja yang sedang memeriksa kebun dan tanamannya. Papa berbincang dengan mereka sejenak kemudian berjalan lagi. Aku benar-benar kagum atas kewibawaan Papa.

 Di kebun apel panasnya bukan main, karena tidak ada  daun yang melindungi kami dari sengatan matahari.  Tubuhku rasanya seperti terbakar dan aku benar-benar kehausan.

‘Ingin istirahat, Lucy?’  tanya Papa seakan tahu apa yang sedang kupikirkan.

‘Aku tidak lelah, cuma haus.’

‘Sebentar lagi kita istirahat di gudang, ucap Papa. Setelah mendaki sebuah bukit kecil akhirnya tampaklah apa yang di sebut gudang. Sebuah bangunan tinggi dari papan bercat hitam. Dari luar tampak seram seperti rumah tukang sihir, tetapi dalamnya bersih dengan dinding yang bercat putih. Ada beberapa keranjang kosong di sudut gudang. Tiga orang pria yang tadi duduk-duduk di sana segera berdiri ketika melihat kehadiran Papa.

‘Ada minuman untuk anakku? Dia kehausan,’  kata Papa ringan.

‘Ya Tuhan, Miss Lucinda? Andakah itu? Sudah sebesar ini?’ kata salah satu di antara pria itu. Aku heran bagaimana dia bisa mengenaliku.

‘Ya, Peter, dia Lucinda, tapi jika engkau tidak segera mengambilkan minuman untuknya dia akan mati kehausan,’ gurau Papa. Peter tertawa.

‘Maafkan saya. Apa yang Anda inginkan, Miss Lucinda?’ kusebut minuman yang kuinginkan dan Peter segera berlari.   Papa kemudian mengenalkanku pada dua pria lainnya. Pengelola kebun apel. Kemudian kududukkan diriku di tumpukan jerami dan bersandar. Peter datang dengan membawa sekaleng minuman lalu duduk di sampingku dan menceritakan tentang masa kecilku yang semuanya sudah kabur dari ingatanku.

Pulangnya kami lewat jalan yang lain yang di kiri dan kanannya tumbuh pohon pinus yang teduh. Daun-daun kering kadang luruh dan menimpa kepala kami. Kira-kira satu kilometer dari rumah, kami berpapasan dengan sebuah mobil. Kupinggirkan Denver untuk memberi jalan.  Mobil itu berhenti. Papa yang berada di depanku juga berhenti dan aku pun ikut berhenti.  Dari dalam mobil keluar David dan seorang gadis, Deidre, tebakku ketika melihat caranya berpakaian;  selana pendek sebatas pangkal paha dan T-shirt yang benar-benar ketat sehigga menimbulkan kesan yang hii . . .

‘Afternoon, mister Stanton.” Sapa gadis itu.

‘Hello, Deidre.’  Sahut Papa. ‘Sudah ketemu Lucy?’ Deidre memandang padaku dengan tatapan mata yang aneh yang tidak bisa kutafsirkan artinya.  Apakah karena kemiripanku dengan David ataukah ada hal lainnya.

 ‘Lucy, kenalkan Deidre Melore,’ Papa mengenalkan kami berdua.

‘Hello,’  sapaku.

‘Hi, senang berkenalan denganmu, Lucy,’ balas Deidre.  Aku tahu itu tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya, matanya menunjukkan hal itu dengan jelas.  Mungkin David telah menerangkan padanya tentang diriku.  Dan karena David membenciku maka sudah selayaknya dia sebagai pacar David untuk membenciku pula.

‘Mau kemana kalian?’  tanya Papa.

‘Mau renang ke County Club House.  Mau ikut, Lucy?’  Deidre menawarkan.  Sekali lagi basa-basi yang memuakkan.  David memandang Deidre tidak setuju.  Jangan kuatir master David, aku tidak akan ikut.

 ‘Terima kasih, mungkin lain kali,’  jawabku pendek.  Deidre dan David saling melempar senyum misterius.  Kemudian mereka masuk kembali ke dalam mobil dan segera berlalu.  Kami pun meneruskan perjalanan kami yang sempat terhenti.  Ingin benar aku mendengar komentar Papa tentang calon menantunya tetapi tak sepatah kata pun yang terucap dari mulut Papa tentang mereka.

Hari-hari yang berlangsung selanjutnya berlalu dengan malas seperti matahari musim panas yang enggan untuk menggelincir  ke barat.  Sepuluh hari sudah aku berada di samping Papa dan David tapi rasanya sudah puluhan tahun aku berada di sini.  Sudah banyak yang kuketahui tentang perkebunan serta orang-orang yang berada di sekelilingku.  Papa yang selalu pergi sebelum  aku sempat bangun dan pulang menjelang makan malam sampai saat ini belum pernah sekali pun menanyakan tentang Mama dan aku pun tidak berniat menceritakannya.

 Aku jarang bertemu dengan David. Kalau toh kebetulan kami berpapasan di rumah, tak ada komunikasi yang terjalin di antara kami. Ini benar-benar menyedihkan. Pada mulanya kukira dia akan berubah, tetapi ternyata tidak. Dia benar-benar tidak acuh dan dingin.  Ingin sekali aku duduk dan berbincang dengannya, tetapi jika kulihat wajahnya yang masam maka keinginanku pun hilang begitu saja.

Demi Tuhan aku ingin mulai beramah tamah dengannya.  Bagaimanapun juga dia adalah saudara kembarku yang selama sembilan bulan lebih pernah bermukim di dalam sebuah rahim yang sama, rahim Mama.  Apa sebenarnya pandangan David tentang diriku?  Aku melihat dirinya sebagai melihat diriku sendiri. Hatiku terasa sakit bila harus membencinya seakan aku telah membenci diriku sendiri dan bila aku memaki dalam hati atas sikapnya maka makian itu seakan kutujukan untuk diriku sendiri . Ah anehnya hati in.  Tetapi mengapa David tidak memiliki perasaan yang sama?

Clemmie dan Georgie adalah pembantu tertua di dalam keluarga Stanton.  Mereka sudah ikut Stanton sejak Papa masih kanak-kanak. Pada waktu Mama melahirkan aku dan David, Georgie menawarkan diri untuk menjadi pengasuh kami.  Saat ini mereka adalah pengurus rumah tangga sekaligus penasehat Papa dan David.  Hal inilah yang kadang membuat iri para staf yang lain.  Clemmie dan Georgie tidak mempunyai anak kandung dan sebagai gantinya mereka telah mengadopsi Oscar yang kedua orang tuanya serta adik-adiknya tewas dalam suatu kecelakaan lalu lintas tak jauh dari perkebunan kami empat tahun yang silam.

Kemudian si kakak beradik Judy dan Helen yang tidak mirip satu dan yang lainnya.  Mereka adalah anak Peter yang kujumpai di kebun apel tempo hari.  Tugas mereka adalah mengatur dan menjaga kebersihan rumah. Dan yang terakhir adalah si gadis pemurung Irene. Dia begitu misterius dan tertutup.  Wajahnya begitu sendu, mungkin itulah yang menyebabkan dia disayangi semua orang. Dia datang kepada keluarga Stanton setahun yang lalu dan minta pekerjaan. Jika semua tugas-tugasnya telah selesai dia akan mengurung diri di dalam kamarnya yang berfungsi pula sebagai studio; memahat ataupun melukis.  Sekali-sekali aku datang ke kamarnya untuk melihat dia melukis.  Umur Irene setahun lebih muda dariku, tetapi wajahnya yang sendu telah menyebabkan dirinya tampak jauh lebih tua.  Tak seorang pun tahu siapa sebenarnya dia dan dari mana asalnya karena dia tak pernah bercerita dan tak seorang pun berniat untuk mengusiknya.

Malam itu aku sudah siap untuk tidur ketika kudengar gesekan biola yang indah dan syahdu. Kutelengkan kepalaku agar dapat mendengar lebih jelas. Il Silenzio! Siapa yang membawakannya? Aku berdiri dan mengintip dari jendela.  Sengaja lampu tidak kunyalakan agar orang yang di luar tidak menyadari sedang di intip.

To be continued ……