Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Keenam)

Ribuan mil dari mama 6

Cerita Sebelumnya:

Lucinda Stanton adalah gadis yang beribukan wanita Indonesia dan ayah Amerika.  Karena perceraian orang tuanya dia ikut ibunya yang kemudian menikah lagi dan tinggal di Indonesia.  

Setelah lima belas tahun berpisah dengan ayah dan saudara kembarnya, ia dikirim oleh ibunya untuk tinggal di Amerika.  

Ayahnya menyambut Lucinda dengan hangat.  Tetapi David, saudara kembarnya menerimanya dengan kebencian dan Deidre, kekasih David ikut-ikutan.  Kesedihan Lucinda menerima perlakuan David agak terobati karena persahabatannya dengan para pengurus rumah tangga Stanton, terutama Oscar dan Irene.

Tuan Stanton mendapat serangan jantung mendadak.  David menuduh Lucinda sebagai penyebabnya.  Dia juga menuduh Lucinda datang ke Amerika karena menginginkan warisan saja.  David kemudian meminta Lucinda untuk kembali ke Indonesia, tetapi Lucinda melarikan diri ke kota Daytona dan tinggal di sebuah hotel dekat pantai.  Di sini dia berkenalan dengan Michelle, seorang peragawati.

Karena kebetulan, Lucy berkenalan dengan Mark Wayne, seorang mahasiswa yang bekerja musiman sebagai penjaga pantai.  Mark berusaha bersahabat dengan Lucy, namun Lucy enggan, mengingat pesan Michelle bahwa semua penjaga pantai adalah play boy.  Pandangan Lucy berubah, ketika pemuda itu menyelamatkan seorang anak yang hampir tenggelam di pantai.

Michelle menikah dan Lucy sendiri di hotel.  Ia kesepian, tetapi Mark sering menemaninya, bahkan dia sudah mengutarakan cintanya.  Ternyata Mark tahu kalau Lucy adalah saudara kembar David, temannya sekampus.  David juga kenal seluruh keluarga Stanton, karena pertaniannya bersebelahan dengan pertanian keluarga Stanton.  Mark juga membuka rahasia kalau Irene adalah adik Lucy, hasil perselingkuhan ayahnya dengan Mimo, adik perempuan Batista bersaudara.  Perselingkuhan yang telah menyebabkan perceraian kedua orang tua Lucy dan David.

‘Kamu bohong,’ desisku tidak yakin.  Aku mulai ragu.  Kalau mendengar nada suara Mark, aku yakin dia telah berkata jujur, tapi untuk mempercayai Irene adalah adikku, anak ayahku, hatiku masih belum mau menerima.  Mark memandangku lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun.  Seakan melalui kediamannya dia ingin meyakinkan hatiku.

‘Mark, katakanlah kalau kamu bohong,’ pintaku.  Mark menggelengkan kepalanya.

‘Jadi …jadi …  Irene benar-benar adikku? Irene anak papa? Oh…  tahukah papa tentang hal ini? Mengapa Irene tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang ini? Mengapa? Mengapa, Mark?’ jeritku tak menentu.  Mark menangkap bahuku kemudian mendekap tubuhku erat.

‘Lucy, tenang,’ bisik Mark lembut.

‘Irene adalah adikku.  Dia adikku,’ bisikku berkali-kali.

‘Jangan salahkan Irene, Lucy.  Dia tidak berdosa.  Dia datang ke keluarga Stanton tanpa maksud buruk.  Dia hanya ingin melihat orang yang menyebabkan dia ada di dunia ini.  Dia tidak ingin menuntut apa-apa dari keluargamu.  Itulah sebabnya tidak seorang pun yang mengetahui siapa dia sebenarnya.   Tidak juga ayahmu,’ Mark menerangkan.  Bayangan Irene berkelebat dalam otakku.  Wajah murungnya. Ketertutupannya.  Tatapan sendunya.  Semua itu mendukung kebenaran cerita Mark.

Lama sekali Mark membiarkan aku tenggelam dalam alam pikiranku yang serba ruwet.  Nasibku sendiri masih tidak menentu, kini harus di tambah dengan persoalan Irene.  Alangkah malangnya anak itu.

‘Lucy,’ panggil Mark.

‘Mark, aku harus mencari Irene,’ kataku cepat.  ‘Walau bagimana pun dia adalah adikku.  Aku takut sesuatu yang buruk telah terjadi padanya.  Dan lagi Irene berhak mendapatkan pengakuan dari Papa.  Terlepas apakah Papa mau atau tidak.  Papa harus bertanggung jawab,’ lanjutku berapi-api.  Mark tersenyum lega.  Sejak tadi dia kuatir aku akan mengutuk Irene karena dia (maksudku ibunya) telah menghancurkan keluargaku.

‘Jangan kuatir, Lucy, Irene pasti selamat.  Dan Manuel tahu dimana dia berada,’ sahut Mark menenangkanku.  ‘Sekarang bagaimana dengan dirimu sendiri.  Kamu tidak akan tinggal di hotel ini untuk selamanya bukan?’ tanya Mark.

‘Aku tidak tahu, Mark.  Aku tidak tahu.’

‘Bagaimana kalau kita pulang ke Kentucky?’ usul Mark.

‘Mark, jangan masukkan ide gila itu ke dalam otakmu.  Aku tidak akan kembali ke Stanton lagi,’ protesku.

‘Aku tidak menyuruh kamu kembali kepada ayahmu.  Aku bilang kita kembali ke Kentucky.  Ke rumahku.  Aku yakin Mommy, Daddy dan adik-adikku akan senang menerima calon istriku.  Bagaimana?  Setuju?’ tanya Mark.  Kutatap dia lama sebelum menjawab.

‘Aku menunggu, Lucy,’ ucap Mark.  Dan tanpa kusadari, kepalaku telah mengangguk dengan sendirinya.  Sekejab kulihat mata Mark berbinar cerah.  Hanya sekejab karena setelah itu Mark memelukku sehingga tidak memungkinkan bagiku untuk melihat ke dalam matanya.

Ribuan mil dari mama 6 b

Sambutan keluarga Mark benar-benar bukan main!  Aku tidak pernah memimpikan adanya keluarga yang akan merangkulku sedemikian hangat.  Dari si bungsu Eric, sampai ke Grannie Sally, begitu gembira menerima kedatanganku, seakan sejak dulu aku adalah bagian dari kelurga ini, yang telah menghilang untuk beberapa tahun dan kini kembali ke pangkuan lagi.  Semua orang menyuguhiku kasih sayang dengan cara yang bermacam-macam.  Grannie mulai merajut sweater untukku dalam menghadapi musim dingin nanti.   Bahkan dia mulai merancang kaos tangan yang akan kukenankan pada pesta perkawinan dengan cucunya.  Daddy menunjukkan perhatiannya dengan menggodaku terus menerus.  Mommy mendekatiku melalui pendekatan batin yang lembut, melalui sikap keibuannya.  Tonny dan Eric berusaha memasukkan aku ke dalam hidup mereka melalui kegiatan-kegiatan, cerita-cerita hangat dan perhatian mereka yang tulus.  Sedang Mark menunjukkan cintanya melalui kedua matanya.  Bila dia sudah menatapku, aku merasa siap untuk menghadapi segala tantangan hidup.

Hari demi hari kulalui dengan ceria.  Kehidupan macam inilah yang sejak dulu ingin kumiliki.  Menjadi bagian dari sebuah keluarga.  Walau belum lagi ada ikatan resmi antara aku dan Mark, tapi aku adalah bagian dari keluarga Wayne ini.  Aku adalah anak gadis satu-satunya dari keluarga Wayne.  Aku dan Mark telah memutuskan untuk tidak menikah dulu sebelum usiakku genap dua puluh tahun.  Kami sama-sama menyadari bahwa kami belum siap untuk mengarungi kehidupan rumah tangga, walau rasanya cinta kami yang menggunung cukup kuat untuk menahan serangan badai yang bagaimanpun besarnya.

Untuk sementara ini Mark akan melanjutkan kuliahnya dan aku sendiri pun juga sedang bersiap-siap untuk mendaftar pada sebuah college.  Tidak ada lagi keinginan untuk masuk Universitas, apalagi Cincinnati.  Kemungkinan berpapasan dengan David terlalu besar, sedang untuk keluar dari perkebunan Wayne saja aku tidak punya keberanian kecuali di malam hari.  Ruang gerakku hanyalah di perkebunan Wayne, tapi cukup untuk membuatku sibuk sepanjang hari.

Sebegitu jauh aku belum mendengar kabar tentang Irene.  Aku sudah yakin bahwa dia adikku.  Malam ini Mommy telah menceritakan semua tentang Mama kepadaku.  Mama mengalami kesukaran ketika mengandung aku dan David sehingga harus sering tinggal di Rumah Sakit.  Pada saat sedang dalam kesulitan itu datanglah Mimo, teman kuliah Mama meminta ijin untuk mengadakan riset di perkebunan Stanton.  Tanpa prasangka apapun Mama menerima Mimo, karena Mimo toh sahabat Mama.  Ketika Mama melahirkan aku dan David, terjadilah apa yang sebenarnya tak boleh terjadi.  Papa mengkhianati Mama! Mama tidak bisa memaafkannya.  Dia terlampau mencintai Papa dan cinta Mama yang terlampau besar itulah yang akhirnya meracuni Mama.

Segala rintangan telah Mama hadapi dengan gigih untuk bisa mendampingi Papa, termasuk harus kehilangan keluarganya, karena keluarga Mama tak pernah menyetujui perkawinan itu.  Mama telah berkoban terlalu besar.  Tapi apa yang Mama peroleh dari pengorbanan itu? Selagi dia berjuang untuk menghidupi dua bocah buah kasih mereka, suaminya tengah main gila dengan sahabatnya.  Demi aku dan David mama berusaha untuk bertahan.  Tapi khirnya pertahanan itu hancur dan terjadilah perceraian itu.  Perceraian yang menyebabkan keluarga Stanton terbagi.

‘Bagaimana dengan Mimo?’ tanyaku.

‘Mimo segera pergi dari perkebunan Stanton begitu dia merasa ibumu telah mencium hubungannya dengan ayahmu.  Dan dia tak pernah muncul-muncul lagi sejak itu.  Ternyata di meninggal ketika melahirkan Irene ke dunia,’ jawab Mommy.  Aku tepekur.  Kasihan Irene.  Dia yang tidak berdosa harus mengalami nasib yang malang sejak dia dilahirkan.

‘Tahukah Papa bahwa Irene anaknya?’ tanyaku.  Mommy menggeleng beberapa kali.

‘Ayahmu benar-benar bertaubat sejak itu.  Tapi  perkawinannya terlanjur tidak bisa lagi dipertahankan.  Dia sebenarnya sangat mencintai ibumu.  Hanya ibumulah satu-satunya wanita yang pernah singgah di hatinya.  Ayahmu benar-benar terpukul dengan perceraian itu.  Tahun-tahun pertama dia sama sekali tidak acuh dengan dirinya sendiri juga dengan David.  Kerjanya hanyalah mengutuk dirinya sendiri karena telah melukai hati ibumu.  Georgie dan Clemmielah yang menjalankan bahtera oleng itu,’ cerita Mommy.  ‘Ayahmu baru sadarkan diri sesudah mendengar ibumu telah kawin lagi.’

‘Menurut saya, Mommy, Papa bukannya menyesali diri, lebih tepat kalau dikatakan Papa dendam terhadap Mama karena Mama tega meninggalkan David dan Papa,’ selaku.

‘Mengapa  kamu berpikiran semacam itu, Lucy?’ tanya Mommy.

‘Kalau Papa ada sedikit saja perhatian terhadap Mama, mengapa Papa tak sekali pun menanyakan keadaan Mama?’

‘Oh, Lucy, menyebut nama ibumu pun, ayahmu merasa tidak pantas apalagi menanyakan keadaanya.’

‘Lalu alasan apa yang tepat untuk mengatakan pengusiran Papa terhadapku? Cinta kepada Mama?’

‘Pengusiran?’ tanya Mommy heran.

‘Mommy, saya pergi dari rumah itu karena Papa tidak menghendaki saya berada di situ,’ aku menjelaskan pelan.

‘Bukan karena David?  Bukankah kalian bertengkar?’ tanya Mommy tak percaya.  Kugelengkan kepalaku.

‘Well …  e …  e …  memang saya dan David tidak bisa akrab.  Tetapi itu tidak cukup untuk membuat saya minggat.  Papa menginginkan saya kembali kepada Mama, tetapi saya tidak bisa melakukan itu.  Terlalu berat bagi Mama.’

‘Lucy, kamu yakin dengan apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mengerti mengapa Bill, ayahmu, bisa berbuat seperti itu?’ Mommy bertanya dengan wajah yang bingung.

‘Mommy, saya pun tidak bisa mengerti.  Tak pernah bisa.  Papa tidak sanggup untuk mengasuhku.  Itu saja yang dikatakan Papa.’

‘Tapi ayahmu begitu bahagia waktu menanti kedatanganmu,’ bantah Mommy.  ‘Dia ceritakan kepada semua orang yang dikenalnya bahwa anak perempuannya akan kembali kepadanya.’

‘Tapi itulah yang dilakukan Papa.  Memberiku uang setas penuh dan menyilahkan saya untuk angkat kaki dan mengatakan antara saya dan Stanton sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.’

‘Lucy, I can’t believe it!’  teriak Mama.  ‘Bill mengatakan itu semua kepadamu? Apakah kamu mendengarnya? I just can’t believe it.’

Ya semuanya memang sulit untuk di percaya, tapi itulah kenyataan yang menimpaku.

Ribuan mil dari mama 6 b

Tidak kujumpai seorang pun di rumah ketika aku terbangun di pagi hari.  Semua ruang telah kumasuki tapi semuanya lengang.  Ke mana mereka semua.

‘Eric! Tonny!’ panggilku dari pintu ruang bawah, karena biasanya mereka sedang mengerjakan tugas musim panas mereka di lantai bawah.  Tidak kudengar sahutan.

‘Eric!’ panggilku lagi sambil berlari keluar.  Aku bertubrukan dengan Mark di depan pintu.  Dia menangkapku kemudian menciumku ringan.

‘Siapa yang kamu cari sweetheart?’ tanyanya.

‘Di mana semua orang, Mark? Sepi sekali?’

‘Ada di Louisville Fair Ground, untuk mempersiapkan pasar malam.  Masa kamu lupa? Kamu sudah di beritahu kan?’ Mark menerangkan.  Aku Cuma bisa geleng-geleng kepal menyadari kealpaanku.  Berkali-kali mereka sudah membicarakan mengenai pasar malam tahunan ini.  Bahkan tadi malam di meja makan mereka berdiskusi seru mengenai stan pameran mereka dan apa saja yang akan mereka gelar di sana.

‘Hei, ada berita gembira untukmu,’ seru Mark, ‘Aku sudah menemukan alamat Irene.’

‘Mark?’ tanyaku untuk meyakinkan.  Mark mengangguk mantap.

‘Antarkan aku ke sana Mark,’ pintaku.

‘Tentu sweetheart, tentu.  Tapi aku harus balik ke fair ground dulu mengantarkan benih-benih.  Atau kamu mau ikut?’ Mark menawarkan.

‘Ikut?’ ulangku sambil menggeleng.  Begitu banyak orang yang berada di sana dan terlalu besar resikonya.

‘Aku segera kembali,Lucy,’ pesan Mark sebelum pergi lagi.  Begitu Mark berlalu aku segera menuju ke kamarku untuk ganti baju.  Tetapi belum lagi sepuluh menit kudengar suara mobilnya berhenti di depan rumah.  Cepat amat, pikirku sambil berlari turun.

‘Kok cepat amat Mark, belum lagi a …’ dan kata-kataku berhenti di ujung lidah.  Yang berdiri di depanku bukan Mark.  Tetapi dia adalah orang yang selama ini kutakutkan untuk berjumpa.  David Stanton.  Ya dia adalah David dengan matanya yang sangat amat dingin.  Tubuhku bergetar hebat.

‘Apa yang kau inginkan?’ tanyaku serak.

‘Ikut aku!’ perintah David dingin.

‘Apa?’

‘Ikut aku!’ ulang David sambil manarik tubuhku ke luar.  Aku meronta, tapi cengkraman David pada pergelangan tanganku terlampau kencang sehingga sia-sia sajalah usahaku.

‘Lepaskan aku! Lepaskan aku!’ protesku berkali-kali.  Tetapi telinga David seakan sudah tuli, dia terus saja menyeretku menuju mobilnya.  Dibukanya pintu mobil dan dengan kasar dia mendorongku untuk duduk di kursi penumpang.  Sebelum dia menuju ke tempat duduk kemudi dia menekan tombol otomatis yang  diset untuk anak-anak sehingga tidak mungkin dibuka dari dalam.  Tidak bakal ada kesempatan bagiku untuk meloncat turun selagi dia asyik dengan kemudinya.

Ribuan mil dari mama 6 b

Mobil David melaju meninggalkan perkebunan Wayne.  Sementara itu aku tak henti-henti memuntahkan makian dan kata-kata kotor ke arahnya.  David tak menggubrisku.  Mulutnya tetap terkatup rapat dan tulang-tulang rahangnya yang kuat mencerminkan kekerasan hatinya.  Aku putus asa.

‘Kamu tidak berhak melakukan ini terhadapku.  Kamu bukan apa-apaku.  Aku bebas menentukan apa-apa yang ingin kujalani dalam hidup ini.  Demi Tuhan aku sangat membencimu.  Kalau toh di dunia ini hanya ada dua orang, kamu dan aku, aku tetap tidak akan sudi bertegur sapa denganmu.  Aku terlampau amat sangat membencimu.  Camkanlah itu, Master Stanton!’ kataku menutup omelanku karena aku menyadari hati David tak akan tergugah dan memulangkanku ke perkebunan Wayne lagi.  Aku sudah pasrah.  Apapun yang akan terjadi, terjadilah.  David menoleh ke arahku sejenak tapi tak berucap apa-apa.

Oh, Mark pasti akan segera menyadari kepergianku.  Tahukah dia kalau David telah membawaku, pikirku sedih.  Hampir saja aku berjumpa dengan Irene, tapi kini David telah menghancurkan harapanku.  Mengap David selalu memadamkan impian indahku?

Aku berdiam diri sesudah itu sambil menatap hutan-hutan buatan di sepanjang highway.  David terus saja melaju meninggalkan negara bagian Kentucky dan masuk ke Ohio.  Mobilnya berjalan kencang seakan tak ’kan pernah berhenti.  Ternyata tiba pula saatnya bagi dia untuk menghentikan mobil itu yaitu di Akron untuk mengisi bensin.

‘Mau ke toilet dulu, Lucy?’ tanya David pelan sesudah tangki mobil terisi penuh.  Aku terkejut mendengar nada suaranya yang lain.  Tapi hanya sejenak.  Cepat-cepat kugelengkan kepalaku sebagai jawabannya.  Kembali dia menjalankan mobilnya.

Kami berhenti lagi di Pittsburg untuk makan siang.  Kami duduk berhadap-hadapan di sebuah meja kecil, tapi hati kami ribuan mil jaraknya.  Tragisnya hidup ini.  Dia saudara kembarku.  Sembilan bulan lebih kami meringkus di rahim yang sama.  Tetapi mengapa aku tidak pernah bisa mendekati hatinya?

‘Apa yang akan kau lakukan terhadapku, David?’ tanyaku tidak segeram tadi.  David mengangkat wajahnya, matanya tidak sesadis pagi tadi kemudian dia menggelengkan kepalanya pelan.

‘Kamu harus kembali ke Indonesia,’ desahnya.

‘Apa bedanya aku berada di sini dan aku berada di Indonesia?’ tanyaku berusaha tenang.  ‘Aku tidak akan mengganggumu.  Bukankah seperti katamu dulu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi antara aku dan Stanton.  Aku tidak mengenakan nama Stanton lagi.’

‘Tidak!’ bantah David.  ‘Lebih baik bagimu untuk tetap berada di Indonesia.’

‘David, aku tidak akan …,’ kataku berusaha protes tetapi David sudah beranjak dari kursinya dan mengajakku segera pergi.

‘Jadi kamu akan mengantarku pulang ke Indonesia?’ tanyaku setelah kembali berada di dalam mobil.

‘Ya, sampai JFK, New York,’ jawab David.  Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku tidak membawa paspor.

‘Kamu tidak akan bisa mengeluarkanku dari Amerika,’ seruku sambil tertawa.  David menoleh.

‘Mengapa tidak?’ tantangnya.

‘Pasporku tertinggal di rumah Wayne.’

‘Tidak jadi masalah,’ jawab David tenang.  ‘Kita pergi dulu ke kedutaan besar Indonesia di Washington dan melaporkan bahwa paspormu telah hilang.’ Aku terdiam.  David telah mempersiapkan segalanya dengan matang.  Semua gertakanku tidak mempan baginya.

‘David, mengapa tak kamu kembalikan saja aku ke keluarga Wayne? Aku berjanji tak ’kan mengusikmu,’ bujukku merubah siasat.

‘Itu pantangan terbesar bagiku.  Wayne adalah saingan Stanton yang paling besar.’

‘Mereka begitu baik tehadapku.’

‘Itu karena kamu sedang jatuh cinta.  Sejak dulu kala sudah terjadi persaingan antara Stanton dan Wayne.  Bahkan dulu Papa dan Mr.  Wayne bersaing hebat dalam memperebutkan Mama,’ ucap David bangga.  Aku terperanjat mendengar dia mengalamatkan Mama bukan ‘ibumu’.

‘Ah, Mr.  Wayne sudah melupakan peristiwa itu,’ belaku.

‘Omong kosong,’ bantah David, ‘Mereka tetap dendam terhadap Stanton, apalagi setelah Deidre akrab denganku.’

‘Apa hubungannya Deidre dengan Wayne?’

‘Dia adalah satu-satunya gadis yang dicintai Mark.’

‘Tidak mungkin.  Mark mencintai aku.’ sanggahku seketika.

‘Tidak sadarkah kau, Lucy, bahwa Mark berusaha membalas dendam melalui dirimu.  Dia sangat mencintai Di tapi Di telah menolaknya.  dan mendekatimu.  Walau bagaimanapun juga kamu mempunyai darah Stanton.  Mark berharap dengan melukai hatimu, dia juga melukai Stanton.’

‘Kamu bohong!’ geramku.

‘No, Lucy, no.  Aku sungguh-sungguh.  Sebelum kamu terlalu dekat dengan Mark, maka sebaiknya kamu menjauh.  Dia tidak bersungguh-sungguh terhadapmu.  Percayalah aku.’

‘Apa maksudmu dengan sebelum aku terlalu dekat dengan Mark? Aku sudah terlalu dekat dengan Mark.  Aku dan dia sudah kawin dan saat ini aku sedang mengandung anaknya, anak yang berdarah Wayne,’ ucapku ingin melihat reaksinya.

‘Apa?!!!’ gelegar David.

‘Kamu telah mendengarnya tadi,’ jawabku berbohong lagi.

‘Oh God, no!’ desis David menyerupai sebuah erangan.  Wajahnya mendadak menjadi pucat pasi dan dadanya turun naik tidak teratur.  Aku tertegun, apalagi setelah melihat ke dalam matanya.  tidak ada lagi ketegaran dan keangkuhan di sana.  Mata itu menggambarkan hati yang sangat terluka, tiada gairah hidup yang ada hanyalah kekecewaan seakan dia telah menderita kekalahan total.

Tiba-tiba kulihat sebuah truck yang memasuki highway dengan kecepatan tinggi.  David tidak melihatnya.

‘David, awas!!’ teriakku memperingatkan.  David berusaha menguasai kemudi.  Tetapi aku melihat tubuh dan tangan David bergetar.  Dia masih shock dengan keteranganku tadi.  Dia berusaha keras untuk menghindari tabarakan tanpa memperhitungkan bahwa di depan kami ada sebuah tikungan yang amat tajam.  David menginjak rem dengan mendadak.  Terdengar bunyi jeletit rem yang keras.  Terlambat!! Mobil kami berguling dan kuteriakkan namanya sebelum sekelilingku menjadi gelap pekat.  Aku tak sadarkan diri.

Ribuan mil dari mama 6 b

‘Lucy …  Lucy …  kamu sudah bangun?’ sayup-sayup kudengar sebuah pertanyaan dari suara yang asing.  Ingin sekali aku membuka mata dan melihat siapa yang bertanya.  Tidak berhasil.

‘Lucy, are you awake?’ kembali suara itu mengiang.  Aku berusaha makin keras untuk membuka mataku.

‘Lucy, kamu mendengar suaraku?’ pertanyaan itu makin gencar.  Hampir.  Mataku hampir terbuka.  Dan ketika mata ini terbuka kulihat siapa pemilik suara itu.  Seorang laki-laki setengah baya berpakaian serba putih.  Rumah sakit! Mengapa aku ada di sini, pikirku kacau.  Kucoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.

‘David!’ teriakku lantang.  ‘Dimana David? Aku telah membunuhnya,’ teriakku berkali-kali setelah berhasil mengingat apa yang menyebabkanku berada di Rumah Sakit ini.

‘David! David! David!’ teriakku histeris.  Aku telah membunuh saudara kembarku sendiri.  Kalau saja aku tidak berbohong padanya tentang Mark, tentu dia tidak akan kehilangan keseimbangan dan peristiwa ini tidak harus terjadi.  Aku benar-benar menyesal hingga tubuhku menjadi tegang setengah mati.

‘David!’ jeritku kalut.

‘Lucy, tenang.  Kakakmu selamat.  Dia sedang berusaha menghubungi ayahmu,’ hibur dokter itu.  Aku tahu dia bohong.

‘Tidak! David telah mati.  Aku yang membunuhnya.  Antarkan aku melihat mayatnya,’ tuntutku sambil berusaha bangun.  Tiba-tiba aku merasakan nyeri yang luar biasa di punggungku.  Aku meringis menahan sakit dan tergeletak kembali.  Tangisku tak lagi terbendung.  Barulah aku menyadari bahwa aku menyayangi David.  Tapi kini David telah tiada sebelum sempat aku nyatakan cintaku.  Kututup mataku rapat untuk mengenangkan bayangan David.

‘David …  David …’ kubisikkan namanya berkali-kali dengan harapan dia bisa mendengarnya.

‘Lucy …’ kudengar sapaan lembut.  Suara David.  Dari surgakah datangnya? Aku takut untuk membuka mataku.  Tiba-tiba tanganku di sentuh dan namaku kembali di bisikkan.  Pelan sekali kubuka mataku kembali.

‘David?’ tanyaku tidak yakin.  Dia memang berdiri di dekatku.  Tapi sadarkah aku atau ini hanya sekedar impian?’

‘Lucy, …’ bisik David serak.

‘David!’ teriakku gembira.  Kupeluk dirinya erat dan takkan kulepaskan lagi.  David menangis sesunggukan di pelukanku.

‘Maafkan aku, Lucy.  Maafkan aku,’ isaknya.

‘David, aku yang salah.  Hampir saja aku membunuhmu.’

‘Tidak, Lucy.  Akulah yang terlalu egoistis.  Hanya diriku saja yang kupikirkan tanpa pernah memikirkan hati dan perasaanmu.  Seminggu ini aku seperti orang gila saja.  Kalau kamu belum juga sadar hari ini aku sudah siap untuk membunuh diri.’

‘Seminggu?’ tanyaku.  ‘Selama itu aku tak sadarkan diri?’

‘Ya dan itu membuatku gila.  Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.  Kamu mau memaafkan aku ‘kan, Lucy? Berilah aku kesempatan untuk memperbaiki diri! Berilah aku kesempatan untuk mencintaimu dengan tulus,’ bisik David.

Kupandang dia lama dan dalam.  Kucari pandangan dingin dalam matanya.  Tidak lagi bersisa.  Mata itu kini berisi cinta dan dan penyesalan.  Mampukah untuk mengecewakan dia sedang sesungguhnya aku sangat mencintainya? Pelan sekali kuanggukkan kepalaku.  Mata david bersinar cerah kemudian dia merengkuhku ke dalam pelukannya dan tangis kebahagiaan kamipun tumpahlah.

‘Aduh!’ jeritku tak tertahan ketika tangan David menyentuh punggungku.

‘Maaf, Lucy,’ ucap David sambil melepaskan pelukannya.

‘Ada apa di punggungku, Dave? Nyeri sekali.’ Tanyaku.

‘Mereka terpaksa memecah kaca mobil waktu menolong kita.  Dan punggungmu tergores pecahan kaca waktu mengeluarkan kamu,’ jawab David.  ‘Sudah di jahit sekarang,’ lanjutnya.

‘David,’ panggilku setelah kami berdiam diri untuk waktu yang agak lama.  Devid menatapku sambil kedua tangannya memainkan tanganku.

‘Ya?’ tanya david.

‘Ah, tak usah saja,’ sahutku ragu.

‘Katakanlah apa yang ingin kau katakan,’ kata David.

‘Tentang Mark.  Benarkah hanya Deidre saja yang dicintainya? Apakah aku sama sekali tidak ada dalam hatinya?’

‘Kamu mencintai dia?’ tanya David sambil memandangku dalam.  Aku mengangguk pasti.  Memang aku mencintai Mark.  David tersenyum lebar.  Sayang aku tidak mengerti arti senyumannya.

‘Tidak ada gadis lain yang dapat mengalahkanmu, Lucy.  Aku yakin Mark pasti mencintaimu.  Lupakan tentang Deidre.  Mark tidak pernah merasa memiliki Deidre, jadi sudah tentu dia tidak merasa kehilangan Deidre.’

‘Tapi …’

‘Tapi apa.  Lucy?’

‘Kamu pernah  bilang bahwa …’

‘Lupakan itu, Lucy, lupakanlah.  Aku tidak sadar dengan apa yang kuucapkan.  Percayalah bahwa Mark mencintaimu.  Sudah berapa bulan usia kandunganmu?’ tanya David mengejutkan.

‘David,’ bisikku lirih, ‘Aku tidak sedang hamil dan antara aku dan Mark belum ada ikatan perkawinan.’

‘Jadi?!’ tanya David sambil menahan tawa.

‘Ya, Dave, kita saling membohongi untuk saling menyakiti,’ jawabku sambil tertawa.  David juga tertawa.  Inilah pertama kalinya kami tertawa bersama.

‘Kita mulai dari awal lagi, Lus.  Marilah kita berjanji untuk senantiasa terbuka satu sama lainnya.  Tidak ada lagi dusta dan sandiwara.  Kita sudah begitu menderita dengan ulah kita sendiri.’

‘Apakah kamu menderita? Kukira hanya aku saja yang menderita.  Kamu begitu keras kepala dan angkuh.’

‘Bukankah hati kita hanya satu, Lus?’ jawab David.  ‘Akupun menderita sepertimu.’

‘Tapi mengapa kamu begitu saja memusuhiku? Aku datang dengan cinta, Dave, tapi kau sambut aku dengan kebencian,’ tanyaku hati-hati.  David terdiam lama sebelum menjawab.

‘Aku tidak sadar dengan diriku sendiri, lucy.  Deidre terlalu mempengaruhiku dengan gagasannya tentang warisan Papa.  Padahal sesungguhnya aku tidak begitu perduli dengan warisan itu.  Hanya …  mungkin …  mungkin, Lucy, aku iri dengan kebahagiaanmu.  Kamu selalu mendapatkan yang terbaik.’

‘Apa maksudmu, Dave?’

‘Mungkin aku terlalu kekanak-kanakan.  Aku begitu sakit hati ketika Mama memilih kamu untuk ikut dia.  Mengapa bukan aku? Mengapa Mama membiarkan aku ikut Papa, padahal Mama tahu pasti Papa tidak akan memperdulikanku?’ ucap David sentimentil.

‘David, kamu ingin tahu jaawbannya? Aku perna bertanya kepada Mama tentang hal ini.  Waktu itu aku bertanya mengapa bukan aku yang iktu Papa.  Mengapa harus David? Lalu jawab Mama, ‘kalau saja aku berhak, maka kalian akan kubawa semua.  Tapi karena aku hanya berhak membawa satu dari kalian mak kupilih kamu, karena aku yakin Davidlah yang kuat mendampingi ayahmu.  Dan lagi kamu dulu sakit-sakitan maka kuputuskan kamu yang kubawa.’

David termenung mendengar kata-kataku.

‘Pernahkah Mama berpikir tentang aku?’ tanya David kemudian.

‘David!’ seruku.  ‘Setiap menit Mama selalu memikirkanmu.  Kau pikir Mama melupakanmu begitu saja?’ David tersenyum malu mendengar teguranku.

‘Seperti kataku tadi, Lucy, aku terlalu berpikir tentang diriku sendiri.  Setiap saat Papa berbicara denganku tentang dirimu maka waktu itu pula aku menyadari bahwa kamu begitu diperhatikan.  Itulah yang membuatku iri, seakan aku tidak berarti apa-apa di mata Papa.  Aku takut bila kamu tetap berada di samping Papa kedudukanku akan tergeser dan aku akan hilang begitu saja.’

‘Masihkah kamu mempunyai perasaan seperti itu?’ tanyaku.

‘Tidak lagi, Lucy.  Tidak lagi.’ Jawab David.  Kuambil tangan david dan kucium.  David tersenyum.

‘Apakah berarti bahwa aku boleh tetap berada di sini?’

‘Tidak!’ jawab David cepat.

‘David!’ protesku tak habis pikir.

‘Kamu tidak boleh tetap berada di sini.  Ingat ini Rumah Sakit, Lucy.  Rumahmu ada di Louisville,’ jawabnya sambil tertawa.  Kucubit dia sekuat tenaga dan David menjerit.  Tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka dan muncullah wajah-wajah terkasih; Papa.  Mark dan Irene.  Aku tidak tahu nama siapa yang harus kuteriakkan pertama kali.  Akibatnya aku hanya menatap mereka tak berkedip tanpa mengucapkan sepatah kata pun.  Tahu-tahu aku telah di hujani ciuman mereka.

‘Bagaimana kalian tahu aku berada di sini?’ akhirnya mampu juga aku untuk bertanya.

‘Orang tua Mark datang menemuiku dan mengatakan bahwa menantu mereka telah menghilang.’ Jawab Papa sambil mengedipkan sebelah matanya.  semua tertawa kecuali aku dan Mark.  ‘Ternyata menantu mereka itu adalah anakku yang juga pernah menghilang dua bulan yang lalu.  Karena waktu menantu mereka menghilang itu bersamaan waktunya dengan menghilangnya anak laki-lakiku, maka kami sepakati untuk menganggap mereka menghilangnya bersama-sama.  Hingga akhirnya kuterima telepon dari anak laki-lakiku tentang kecelakaan yang menimpa mereka.  Nah, cukup jelas sekarang?’ lanjut Papa berbelit-belit.

‘Irene?’ tanyaku untuk menyingkap kehadiran Irene di kamar ini.  Papa menghela nafas sejenak kemudian memandang kami semua silih berganti.

‘Mengapa tak kau katakan kepada Papa begitu kamu mengetahuinya, Lucy? Mengapa orang lain yang harus bercerita kepada Papa?’ Papa ganti bertanya.

‘Saya menanti saat yang tepat, Papa,’ jawabku.  ‘Siapa yang memberitahu Papa?’

‘Menantuku ini dan orang tuanya,’ jawab Papa sambil menepuk bahu Mark.  Mak tersenyum jengah.

‘Hei, apa-apaan ini? Apa yang kalian perbincangkan?’ tanya David kebingungan.

‘Irene adalah adikmu, Dave,’ jawab Papa.  David terperanjat.  Matanya bergerak cepat dari Papa ke Irene, kembali lagi ke Papa kemudian berhenti padaku.  Kuanggukkan kepalaku untuk meyakinkan dirinya.  Dengan cepat dia berdir dari sisiku dan berjalan mendekati Irene yang berdiri dengan tegang.  Diambilnya wajah Irene dengan kedua tangannya dan dipelajarinya lama.

‘Mengapa tak kau katakan dari dulu, Irene?’ bisik David lembut.  Mata Irene berkaca-kaca menatap David dan bibirnya bergetar menahan haru.

‘Irene adikku,’ desah David sambil memeluk Irene.

Angin sore berhembus lembut, mempermainkan pucuk-pucuk pinus di depan sana.  Bunga-bunga Dandelion kuning bergoyang-goyang mengucapkan salam kepada kuda-kuda jantan Kentucky yang sedang bercanda riang.  Dan di atas salah satu punggung kuda itu David bertengger.  Sinar matanya menimpa dadanya yang telanjang hingga dari tubuhnya seakan memancarkan cahaya.

Kutoleh Papa yang duduk di samping Irene, pandangan Papa juga berada pada David.

‘Aku gembira David bisa lepas dari Deidre.  Gadis itu berpengaruh tidak baik padanya,’ bisik Papa.  Aku, Mark dan Irene tidak berkomentar walau dalam hati kami sependapat dengan Papa.

‘Dan, Lucy …  kapan kamu melangsungkan perkawinanmu dan memberi Papa cucu-cucu yang manis?’ tanya Papa kepadaku.  Kulirik Mark yang duduk di sampingku, dia tersenyum lebar ke arahku.

‘Ah, tidak seharusnya Papa bertanya kepadaku.  Lucy sih sudah siap Cuma Mark saja yang belum,’ jawabku.  Mark membelalakkan matanya.

‘Jangan membalikkan fakta, Miss,’ protesnya.  ‘Detik ini pun aku mau,’ lanjutnya.  Papa dan Irene tertawa.

‘Kalau begitu tunggu apa lagi?’ tanya Papa.

‘Begini, Papa,’ aku menerangkan, ‘Mark dan David akan pergi ke Indonesia dulu.  Meminta ijin kepada Mama.  Na, kalau Mama sudah memberi lampu hijau baru …’

‘Kapan kalian akan pergi?’ potong Papa ke arah Mark.

‘Secepatnya,’ jawab Mark pasti.

‘Bagus! Aku yakin Mama Lucy akan mengijinkan,’ jawab Papa.

‘Papa begitu yakin?’ tanyaku.  Papa tidak menjawab.  Tapi seperti juga Papa aku yakin Mama akan mengijinkan perkawinan kami.  Mark terlampau baik untuk di tolak.

‘Nona, Lucinda …’ panggil David yang entah kapan telah ada di depan kami.  ‘Maukah Anda berkuda denganku?’

‘Dengan senang hati, tuan muda,’ jawabku sambil beranjak dari sisi Mark.  ‘Sebentar ya, Mark?’ bisikku pada Mark.  ‘Ngobrol-ngobrollah dulu dengan mertua dan adik ipar,’ Mark mengangguk dan memperhatikan kami berlalu.

Aku duduk di belakang David sambil memeluk tubuhnya erat.  Tiba-tiba terpandang olehku sebuah bekas luka di punggungnya.

‘David, apa ini?’ tanyaku.

‘Setahun yang lalu aku terjatuh dari sepeda motor,’

‘Lucu ya, Dave? Aku juga mempunyai bekas luka dipunggung.’

‘Apanya yang lucu? Bukankah kita saudara kembar? Kalau kamu terluka aku pun ikut terluka,’ jawab David berkelakar sambil mempercepat lari kudanya.

‘David,’ bisikku.

‘Hmm?’ tanya David tanpa berusaha memelankan lari kuda.

‘Aku mencintaimu,’ ucapku.  Aku tahu aku harus mengucapkan kata-kata itu.  Serta merta David menghentikan kudanya, kemudian dia menoleh ke arahku.  Ditatapnya aku lama dan dalam.

‘Siapa yang lebih kau cintai, aku atau Mark?’ tanyanya.

‘Oh, David, engku gila!’ teriakku sambil memukul punggungnya.  ‘Jangan katakan kalau kamu cemburu pada Mark,’ David tertawa terbahak-bahak dan matanya berputar-putar dengan kocaknya.

‘Tentu saja tidak.  Cuma …  rasanya belum lama aku memilikimu kini kamu akan menjadi milik Mark,’ ucap David polos.

‘David, kamu tahu aku akan tetap menjadi milikmu.  Aku akan selalu membutuhkanmu.  Bukankah kita hanya mempunyai satu hati?’ David mengangguk.  Sebuah senyum hangat tersungging di bibirnya.  Kemudian dia mencium dahiku lembut.

‘Akupun mencintaimu, Lucy,’ bisiknya.  Dan entah dari mana datangnya tahu-tahu dunia ini penuh dengan cinta.  Bahkan burung-burng yang terbang bergerombol di atas pun bergerak karena cinta.  Alangkah indahnya dunia ini.     

Tamat.

Advertisements

Posted on March 8, 2014, in Novel and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Terima kasih, terima kasih, terima kasih sekali untuk memuat cerita ini. Cerita favorit saya sejak dulu dan tidak ada yang bisa mengalahkannya. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: