Category Archives: Novelette

Aku Tak Mau Pulang, Nick

AkuTak Mau Pulang, Nick

 

Jam menunjukkan pukul sembilan malam, ketika dokter Nick Woodward meninggalkan Rumah Sakit. Matahari musim panas yang belum sempurna tenggelam menyambutnya ramah.  Dengan santai Nick mengendarai mobil sport berwarna biru metalik di sepanjang pinggiran danau Erie yang telah mulai sepi dari pecinta ski air. Angin hangat berhembus lembut lewat di atas kepala Nick dan mempermainkan rambut pirangnya. Sekilas Nick melirik wajahnya lewat kaca spion. Wajah itu masih tetap tampan walau sudah ada kerut-kerut halus di sekitar mata dan bibirnya. Nick tersenyum.

‘Aku sudah mulai tua,’ gumamnya bangga.

Nick memperlambat mobilnya ketika memasuki Theresia Street.  Dari jalan ini biasanya dia dapat melihat Sita, anaknya sedang duduk di balkon yang segera akan berlari turun bila melihat mobil yang dikendarainya. Begitu Nick keluar dari mobil anak itu telah berdiri di depannya siap dengan ciuman dan pelukan sayang. Tapi malam ini Sita tidak tampak. Ada sedikit rasa kecewa di hati Nick. Sesampai di depan rumah Nick membunyikan klakson panjang. Tidak ada yang keluar. Kemudian Nick memijit tombol otomatis pembuka pintu garasi dan meluncurkan mobilnya masuk sambil terus membunyikan klakson berharap Sita akan keluar. Mobilnya baru berhenti ketika akan menabrak sepeda balap berwarna merah milik Sita. Anak itu tidak keluar ke mana-mana pikir Nick.

‘Sita!’ panggil Nick sambil keluar dari mobil. Tidak ada sahutan.

‘Sita!’ panggilnya lebih keras lagi dan membuka pintu garasi yang langsung berhubungan dengan dapur.

‘Sit..,’ panggilan itu terhenti di ujung lidah. Matanya terpaku pada selembar kertas yang tertempel di dinding dapur. Di kertas itu dengan spidol merah tebal tertulis ’Happy Birthday, Sita.’ Tulisan tangan Sita sendiri

‘Ya, Tuhan,’ desis Nick lesu. ‘Sebegini pelupakah aku sehingga hari ulang tahun anakku satu-satunya pun terlupa? Hari yang paling penting dalam hidupku.’ Beberapa saat Nick diam tidak bergerak merenungi poster di depannya. Ketika tersadar, dengan cepat dia menaiki anak tangga menuju kamar Sita.

‘Sita..,’ panggil Nick lembut di depan daun pintu yang bertuliskan “Sita’s Room” di antara sticker berbagai Nateam kupu-kupu. Beberapa kali Nick mengetuk pintu berharap pintu itu akan terkuak dan muncul wajah manis anaknya. Setelah lama pintu itu bergeming, Nick membukanya. Tidak dikunci. Nick memasuki kamar itu tetapi Sita tidak ada.

Nick mengamati seantero ruangan; tempat tidur dengan bed cover warna merah muda dengan gambar kupu-kupu. Di pojok ruangan sebuah tongkat softball dengan glove yang tergantung di atasnya, meja belajar yang penuh dengan buku-buku olahraga dan di lantai yang beralaskan karpet yang juga berwarna merah muda bertebaran berpuluh-puluh boneka yang berlainan bentuk, jenis, serta ukuran. Di dinding hanya terdapat beberapa lukisan. Gambar kupu-kupu yang Sita buat pada waktu berusia enam tahun dan di atas perapian… Nick menahan nafas. Setiap kali memandang lukisan itu ada segores kepedihan yang dalam tapi nikmat sehingga tanpa disadarinya dia sering menyelinap ke kamar anaknya untuk memandang lukisan itu. Lukisan bekas istrinya Nina.

‘Maaf, Nina, aku tidak bermaksud melupakan hari bahagia kita. Kalau saja aku tidak begitu sibuk dengan pasienku, hal ini tidak akan terjadi. Sekarang apa yang harus kulakukan? Anak kita pasti mengira aku tidak mempedulikannya.’ Nick mengeluh pada gambar istrinya.

Dengan lesu Nick turun lagi. Dia duduk di dapur tanpa mempedulikan untuk menyalakan lampu terlebih dahulu. Dalam kegelapan dia dapat melihat dengan jelas peristiwa-peristiwa yang dialaminya ketika menanti kelahiran anaknya.

AkuTak Mau Pulang, Nick

Siang itu Nina uring-uringan terus.  Tidak ada satupun yang benar dan pas di matanya.  Semua perawat wanita di rumah sakit kena dampratannya. Nick tahu kalau saja Nina bukan seorang dokter suster-suster itu akan balik mendapratnya karena kemarahan Nina rasanya terlalu dibuat-buat.

‘Oke, Nina, ada apa?’ tanya Nick dalam perjalanan pulang.  Mereka berdua bekerja pada rumah sakit yang sama.

‘Apa maksudmu?’ tanya Nina pura-pura tidak tahu maksud pertanyaan Nick.

‘Sehari ini kamu marah sebanyak enam puluh tiga kali tanpa tersenyum sekali pun,’ jawab Nick.

‘Sebanyak itu? Aku tidak menghitungnya tadi,’ sahut Nina

‘Donna sampai-sampai seperti bertemu setan setiap kali melihatmu.  Jangan keras-keras terhadap mereka, Nin.  Kamu selamanya lembut, sehingga kamu marah sedikit saja mereka sudah tahu kalau mereka berbuat kesalahan,’

‘Membela?’ tanya Nina sengit. Matanya yang hitam indah membulat. Nick tersenyum. Belum pernah dia melihat istrinya marah-marah. Baginya, Nina adalah gadisnya yang selalu lembut dan penuh pengertian. Sedikit cerewet, mungkin. Nina tambah dongkol melihat Nick tersenyum. Nick tertawa.

‘Jangan cengar-cengir, enggak cakep tahu,’ tegur Nina. Nick tertawa lebih keras. Nina menutup kedua telinganya dengan jari dan bersandar sambil menanti Nick menghentikan tawanya. Nick menurunkan tangan Nina.

‘Ayo, Nina, katakan apa sebenarnya?’ tanya Nick.

‘Tidak ada apa-apa,’ jawab Nina biasa.

‘Pasti ada apa-apa. Kamu tidak pernah marah kepada perawat-perawatmu. Kalau kamu marah kepadaku itu lumrah. Setiap hari kamu lakukan itu,’ kejar Nick. Nina memelototkan matanya.

‘Kalau kukatakan bisa pingsan kamu,’ jawab Nina pendek. Ganti Nick yang bingung dan Nina tersenyum.

‘Kamu jatuh cinta pada laki-laki lain?’ tanya Nick ragu. Nina tertawa senang dan memegangi perutnya menahan geli.

‘Kamu pikir aku sudah gila untuk membiarkanmu bebas dan memberikan suamiku yang ganteng untuk perawat-perawat cantik itu?’ tanya Nina di tengah tawanya.

‘Kalau begitu tidak ada sesuatu yang akan membuatku pingsan. Aku hanya akan pingsan bila kamu berniat pergi dariku. Bahkan mungkin bisa sampai mati.’

‘Rayuan gombal,’ sahut Nina masih dengan tawa. Nick berhasil membuat Nina tertawa tetapi dia tidak berhasil mengorek apa yang ingin dikatakan Nina tadi.

Sesampai di rumah Nina langsung menyibukkan diri di dapur, menyiapkan makan malam. Sementara Nick duduk tepat di kursi yang sekarang didudukinya sambil mengamati istrinya yang sedang bekerja.

‘Cucian di bawah tugasmu, Nick,’ Nina memperingatkan.

‘Ya, aku tahu,’ jawab Nick malas.

‘Kalau tahu jangan cuma duduk di situ memandang orang bekerja. Enggak enak kalau bekerja di bawah pengawasan mata seperti itu,’ omel Nina.

‘Aku tidak memandang orang bekerja. Aku memandang istriku,’ jawab Nick sambil beranjak dan mendekati Nina. Dipeluknya Nina dari belakang dan dicium leher bagian belakangnya dengan lembut. Nina menggeliat melepaskan diri.

‘Cucianmu, Nick!’ tegur Nina.

‘Nanti setelah makan malam,’ jawab Nick mencari alasan agar bisa berdekatan dengan istrinya. Dia berusaha memeluk Nina lagi. Nina menjauh.

‘Aku tahu kamu masih penasaran,’ tebak Nina,’ kamu ingin tahu apa yang akan kukatakan tadi. Aku tak mau mengatakannya sebelum tugasmu beres. Ayo, Nick sayang, cucianmu,’

‘Nin…’ Nick masih mencoba membujuk. Nina menggeleng. Dengan cepat Nick turun ke basement tempat kedua mesin cucinya berada. Dipilihnya baju-baju yang halus untuk dimasukkan ke mesin cuci yang satu dan handuk-handuk serta seprei-seprei ke mesin cuci yang lainnya. Siulan yang biasa mengiringi dia bekerja tidak terdengar.

‘Beres, Nin,’ Nick mengumumkan ketika tiba di dapur kembali. Nina yang sedang mengatur meja makan menoleh dan memberikan senyuman penuh rahasia.

‘Hari ini kamu benar-benar aneh,’ komentar Nick sambil membuka lemari es dan mengeluarkan lettuce, beberapa buah tomat dan timun untuk membuat salad.  Nina tidak menanggapi komentarnya.

Nick berusaha untuk makan secepatnya gar bisa mendengar apa yang akan dikatakan istrinya. Tetapi sebaliknya Nina seakan mengulur-ulur waktu. Jika biasanya yang menghidangkan makanan penutup Nina, tetapi malam itu Nick yang khusus memilihkan. Bukan karena apa-apa, hanya ingin agar makan malam itu cepat usai.

‘Cepat sedikit dong, Nin,’ desak Nick tak sabar melihat istrinya tenang-tenang menikmati apple pie

‘Oke, kita cuci dulu piring-piring ini, jadi bila kamu pingsan nanti, semuanya sudah beres,’ Nina bangkit dan menumpuk piring-piring kotor. Nick makin penasaran. Dihadangnya Nina dan diambilnya piring-piring yang berada di tangannya dan diletakkan kembali ke atas meja.

‘Nina, jangan ulur-ulur waktu, please. Aku bisa mati penasaran,’ pintanya.

‘Kita akan punya bayi, Nick,’ bisik Nina lirih. Nick membelalak kaget. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

‘Maaf, Nick, aku yang salah,’ bisik Nina kembali hampir diiringi tangis. Nick tersadar dari keadaannya. Dengan cepat direngkuhnya Nina dan dimasukkan ke dalam pelukannya sambil tertawa bahagia.

‘Terima kasih, Nina. Terima kasih,’ katanya berulang-ulang. Nina mendorong tubuh Nick dan dipandangnya Nick dengan pandangan heran.

‘Nick, lupakah kamu dengan perjanjian kita? Bukankah kita telah berjanji untuk tidak memiliki anak di dalam perkawinan ini. Demi kebaikan anak-anak kita sendiri, Nick.’

‘Kamu yang menginginkannya, Nin. Bukan aku,’ jawab Nick berusaha menjaga emosinya agar Nina tidak tersinggung.

‘Tapi kamu menyetujuinya, Nick.’ Nina terbelalak karena tidak menduga Nick akan sependapat dengannya.

‘Kalau aku dulu setuju, itu supaya kamu mau kawin denganku. Aku terlampau mencintaimu, Nin, sehingga tanpa anak pun aku bersedia hidup bersamamu. Tapi sesungguhnya sudah lama aku merindukan anak darimu. Aku tidak berani meminta kepadamu karena aku sudah berjanji. Kamu mengerti maksudku kan, Nin,’ Nick berusaha berbicara dengan tenang. Dulu sewaktu mereka masih berpacaran, Nina pernah menjelaskan dengan panjang lebar alasan mengapa dia tidak mau punya anak jika dia harus kawin dengan orang kulit putih.

‘Kamu tahu akibatnya, Nick?’ tanya Nina parau, dia mulai menangis. ‘Anak kita, Nick! Dia yang akan menderita. Dia tidak akan mempunyai negara yang bisa dibanggakannya. Dia bukan Amerika karena ibunya orang Indonesia dan dia tidak bisa mengaku orang Indonesia sebab dia berkewarganegaraan Amerika. Oh, Nick,’ keluh Nina. Nick bingung mengapa masalah seperti itu dipersoalkan.

‘Nina, dia anak kita. Aku tidak peduli apakah dia Indonesia atau dia Amerika. Buat apa kau pikirkan kebangsaan, Nin? Kamu sendiri orang Indonesia mau kawin dengan orang Amerika. Kalau kamu menginginkan anak kita berkewargaan Indonesia, kita usahakan, Nin,’ hibur Nick.

‘Kamu serius dengan kata-katamu?’ tanya Nina bimbang. Dia tidak lagi mempedulikan kewarganegaraan.   Sebelumnya yang dia kuatirkan adalah jika Nick tidak menghendaki anak yang dikandungnya sebab ketika dia berbicara tentang tidak baiknya memiliki anak indo, Nick menyetujui seratus persen. Seakan Nick ikut mendukung pendapatnya.

‘Nina, kalau selama hidup kamu anggap aku tidak pernah berbicara serius. Inilah saatnya aku benar-benar serius dengan apa yang kau ucapkan.’

‘Oh, Nick…’ Nina memeluk Nick dan menelusupkan kepalanya ke dada Nick. Nick tersenyum bahagia. Belum pernah selama hidupnya dia mengalami kebahagiaan seperti itu. Anaknya akan dilahirkan oleh wanita yang paling dicintainya. Adakah kebahagiaan melebihi itu? Nick kemudian mengangkat wanita mungilnya dan membawanya ke lantai atas. Nick tidak pingsan mendengar kabar itu tapi dia tidak lupa akan tugasnya. Piring-piring kotor dibiarkannya tetap berada di meja makan hingga keesokan harinya.

AkuTak Mau Pulang, Nick

Nina mulai mengambil cuti ketika kandungannya memasuki usia enam bulan. Sebenarnya dia masih mampu bekerja, tetapi Nick menghendakinya demikian. Semua tugasnya diambilalih Nick. Baik tugas rumah sakit maupun tugas rumah tangga. Nick memanjakannya melebihi seorang ratu. Setiap pagi, sebelum Nick pergi ke Rumah Sakit, mereka berdua berjalan-jalan menikmati Clayton, kota kecil yang cantik di pesisir danau Erie. Menikmati musim semi di sepanjang pesisir sambil menikmati nyanyian burung robin.

‘Nin, aku sudah memilih dokter yang akan melahirkan anak kita. Dokter Wyatt,’ Nick mengabarkan dengan gembira pada suatu malam. Nina sedang asyik membaca koran.

‘Aku tidak mau,’ sahut Nina tanpa memandang kepada Nick.

‘Hei, dia dokter yang paling hebat di negeri ini. Aku tidak akan mempercayakan bayiku dilahirkan oleh dokter lain.

‘Sudah kukatakan aku tidak mau,’ sanggah Nina dan meletakkan koran yang dibacanya.

‘Kamu sudah mempunyai dokter pilihan?’ tanya Nick. Nina mengangguk sambil menunjuk Nick.

‘Kamu, Nick,’ ucapnya mantap. Nick kaget.

‘Nina, kamu gila,’ teriak Nick protes. ‘Kamu tahu aku tidak akan mampu melakukannya Pertamu aku bukan seorang dokter kandungan. Kedua, memasukkan jarum di lenganmu saja aku tidak berani, apa lagi untuk melahirkan. Nina, jangan masukkan pikiran seperti itu ke dalam otakmu.’

‘Dengar, Nick, aku tidak akan mengijinkan anakku disentuh orang lain selain ayahnya pada hari pertamanya dia berada di dunia ini. Dan kamu sebagai ayahnya harus menanggung resiko ini,’ jerit Nina.

‘Nina, kamu tahu aku tidak bisa,’ Nick membujuk dengan lembut. ‘Berpikirlah yang positif, Nin. Tidak ada salahnya anak kita dilahirkan orang lain. Ijinkanlah dokter Wyatt untuk melakukannya. Aku akan mendampinginya. Oke?’

‘Tidak!’ jawab Nina pendek.

‘Bagaimana jika suamimu bukan seorang dokter, apakah dia juga terkena kewajiban untuk melahirkan anakmu?’ Nick kehabisan akal.

‘Aku telah kawin dengan seorang dokter,’ jawab Nina masa bodoh. Nick masih berusaha meyakinkan Nina bahwa dia tidak akan sanggup untuk melahirkan anaknya, tapi dengan kalem Nina menjawab.

‘Kamu melahirkan anakmu atau anakmu akan kubiarkan tetap berada di dalam perutku.

‘Akhirnya Nick menyerah. Dialah yang melahirkan Sita ke dunia, didampingi dokter Wyatt tentunya. Dialah orang yang pertama kali dapat menyentuh kulit anaknya. Memberikan sentuhan kasihnya yang pertama. Saat itu dia memahami mengapa Nina begitu ngotot memaksakan agar dia yang melahirkan anaknya.

Namun kini dia sendiri telah melupakan hari itu. Hari di mana dia bersimbah keringat dan penuh kekuatiran mencoba menolong anaknya agar bisa meniup dan menghembuskan nafas dunia. Hari di mana di penuh kebahagiaan mendekap anaknya yang tak berdaya dan juga hari di mana dia menciumi dan membelai ibu dari anak yang dilahirkannya itu.

 AkuTak Mau Pulang, Nick

Nick bangkit kemudian berdiri di depan jendela memandang danau Erie. Bulan sudah menampakkan diri membuat bayangan indah sekaligus misterius karena sebagian sinar bulan terhalang oleh pohon-pohon yang berada di pulau-pulau di tengah danau. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan seseorang yang duduk di dermaga dengan kaki yang menjuntai ke dalam air. Dari potongan tubuhnya Nick tahu kalau bayangan itu milik anaknya. Anaknya yang mewarisi tinggi Nick, tetapi kulit dan rambutnya lebih cenderung ke Nina. Sedangkan matanya adalah perpaduan antara mata Nick dan mata Nina. Ada rasa nyeri di dada Nick melihat Sita dalam keadaan seperti itu. Begitu sendiri dan sendu.

Nick berjalan mendekati Sita. Langkahnya ringan takut mengagetkan. Tapi karena dermaga itu hanya dibuat dari kayu yang sederhana, goyangan sedikit pun mampu menggoyangkan seluruh dermaga. Sita menoleh. Dalam cahaya bulan Nick melihat mata anaknya berkaca. Nick tertegun.

Aku pernah melihat mata persis seperti mata itu sebelumnya. Dimana? pikir Nick. Nina? Ya, Nina pernah mempunyai mata dalam keadaan seperti itu Kapan?

Dua belas tahun yang lalu Nick melihat Nina dengan mata yang berkaca seperti mata anaknya saat ini. Nina tidak menangis, hanya matanya berkaca ketika meninggalkan ruang pengadilan yang memutuskan perceraian mereka dan menyerahkan anak mereka satu-satunya yang saat itu berumur empat tahun ke tangan Nick. Nina tidak menangis.   Tapi justru pada matanya yang berkaca itu Nick dapat melihat duka yang sangat dalam. Oh, Nina.

Nick menggelengkan kepalanya berusaha mengusir bayangan bekas istrinya sebelum mendekati Sita.

‘Sita,’ tegur lembut sambil berjongkok di sisi anaknya, ’maafkan aku,’ sambungnya. Sita tidak menyahut. Dia menggoyang-goyangkan kakinya di dalam air membentuk ombak-ombak kecil.

‘Aku tahu aku telah melalaikan kewajibanku sebagai seorang ayah…,’ Nick menunggu reaksi anaknya. Namun Sita tetap membungkam

‘Kamu mau memaafkan ayahmu ‘kan? Tadi ada seorang ibu yang memerlukan operasi darurat. Aku satu-satunya dokter yang berada di Rumah Sakit, jadi akulah yang harus menolongnya.’   Nick mencari alasan yang setengahnya benar. Memang tadi dia melakukan operasi mayor, tetapi bukan itu penyebab kelupaannya. Sita masih diam.

‘Sita, bicaralah sesuatu. Marahilah ayahmu bila itu yang kamu inginkan. Jangan berdiam diri seperti ini,’ bujuk Nick. Kembali bayangan Nina hadir. Nick tak pernah bisa menghadapi Nina jika Nina yang biasanya ceriwis itu ngambek dan membisu. Kini tanpa dididik Sita mewarisi keahlian ibunya.

‘Sita, katakan apa yang ada di dalam hatimu. Bagaimana aku bisa mengetahui apa yang kau inginkan jika kamu tidak mengatakannya kepadaku.’

‘Okey, Nick. Aku bosan hidup di Clayton ini. Kalau saja aku mempunyai sedikit keberanian, aku sudah minggat dari dulu,’ jerit Sita. Dia tidak pernah memanggil Nick dengan sebutan ‘daddy’ seperti anak-anak Amerika lainnya. Sejenak Nick tertegun. Dia tidak bisa mempercayai pendengarannya. Kemudian direngkuhnya Sita ke dalam pelukannya. Anak itu kemudian menangis keras, airmatanya menembus kemeja Armani yang dipakai Nick dan membasahi dadanya. Nick membiarkannya sambil membelai rambut hitam Sita, matanya memandang ke atas, kosong.

‘Nick, maafkan aku. Aku tidak sungguh-sungguh dengan kata-kataku,’ bisik Sita tersendat-sendat dan mempererat pelukannya. “ Aku merasa begitu sendiri di sini, Nick. Aku merasa bukan di sini tempatku yang sesungguhnya. Aku bukan milik Clayton.’

Nick berusaha menahan gejolak yang timbul secara tiba-tiba di hatinya. Dua belas tahun yang lalu ada seorang wanita yang menyatakan hal yang serupa yang menyebabkan dirinya kehilangan wanita itu untuk selama-lamanya.

‘Sita, temanmu di Clayton banyak. Ada aku di sini. Ada juga Nate, pamanmu. Kamu tidak sendirian. Begitu banyak orang yang mencintaimu di sini. Clayton adalah tempatmu. Sita. Kamu dilahirkan di sini. Kamu tidak boleh mempunyai perasaan seperti itu,’ hibur Nick.  Dia tahu Sita sangat kesepian.

‘Kamu, Nate dan yang lain-lainnya adalah milik Clayton. Rumah Sakit membutuhkanmu. Clayton membutuhkanmu, sedang aku … tidak seorangpun membutuhkanku di sini,’ Sita terisak.

‘Sita, aku membutuhkanmu. Sangat membutuhkanmu. Ketahuilah itu potong,’ Nick cepat. Ada air mata di sudut   matanya. ‘Kalau aku lupa hari ulang tahunmu, tidaklah berarti aku tidak membutuhkanmu, Sit,’ sambung Nick. Kemudian diciumnya pipi Sita yang penuh dengan air mata. Sita tersenyum merasakan kasih sayang ayahnya .

‘Selamat Ulang Tahun, sayang. Hari ini tak ada kado yang dapat kuberikan. Tapi terimalah cintaku,’ bisik Nick. Sita tersenyum manis.

‘Itu sudah cukup, Nick. Tapi jangan lupa besok hadiahnya,’ Sita memperingatkan. Sita telah kembali kepada sifat aslinya yang tidak pernah membiarkan duka bersarang di hatinya lebih dari lima menit. Hal ini yang sedikit banyak dapat menghibur hati Nick. Membesarkan seorang anak tanpa seorang ibu benar-benar hal yang tidak gampang. Dia selalu khawatir jika anaknya nanti tumbuh tidak normal karena kepincangannya dalam memberikan cinta. Dia takut anaknya nanti tumbuh sebagai anak yang pendiam dan selalu berduka.

Terimakasih Tuhan, telah Kau beri aku anak semanis Sita. Nick memandang ke atas seakan dia tahu Tuhan berada di atasnya dan mendengarkan rasa syukurnya.

 AkuTak Mau Pulang, Nick

Pagi sekali Sita telah keluar dari rumah. Pada musim panas dimana sebagian besar kawannya dapat tidur hingga siang, dia terpaksa bangun lebih awal. Bagi Sita tidak mungkin bisa tidur dengan teriakan-teriakan para pemain ski air dan bisingnya mesin-mesin perahu boat. Rumah mereka berada di luar kota dan dikelilingi oleh air danau. Hanya bagian depan yang menghadap ke timur saja yang tidak. Pada musim-musim yang lain, rumah itu selalu sepi dan damai, tetapi pada musim panas kedamaian itulah yang paling didambakannya.

Sita berjalan di dermaga dengan menenteng sebungkus besar roti tawar. Itulah kebiasaanya setiap pagi, memberi makan burung-burung camar. Dan camar-camar itu telah hafal dengan kebiasaannya. Mereka akan terbang mendekat bila mendengar siulan Sita. Sita tersenyum menyambut sahabat-sahabat kecilnya, kemudian dia mulai memotong rotinya menjadi irisan-irisan kecil dan kemudian ditaburkannya ke atas. Camar-camar itu terbang tak sepotong rotipun yang sempat jatuh ke bawah. Suara mereka hingar-bingar, mengalahkan deru kapal bermotor. Beberapa kali Sita memotong dan menaburkan rotinya hingga habis. Dan jika Sita telah mengibas-ngibaskan bungkus palstiknya yang kosong, tanpa dikomando lagi kawanan camar itu akan terbang menghilang di balik awan.

Sita masih saja berdiri di ujung dermaga mengamati para pemain ski. Ada beberapa kawannya yang lewat dan melambai.

‘Hai, Sita!‘ teriak seseorang dengan celana renang berwarna biru tua dengan strip putih. David Sweeney, murid yang paling popular di sekolah Sita.

‘Hai!‘ balas Sita sambil melambai. David mau membalas melambai, tetapi tiba-tiba keseimbangannya hilang. Pegangannya pada tali penarik lepas dengan serta merta dia tercebur ke dalam air. Teman-temannya yang berada di perahu penarik tertawa berderai. Sita ikut tertawa.

Papan luncur Davidn yang muncul pertama kemudian diikuti oleh kepalanya.

‘Sita, jangan berdiri di situ,’ teriak David pada kesempatan pertama dia bisa ngomong kembali. ‘Kamu mengacaukan konsentrasiku,’ sambungnya berkelakar. Kembali mereka semua tertawa. Pipi Sita merah menahan malu. Sita memperhatikan mereka berlalu dan memandang gerakan lincah David di atas papan skinya.

Tiba-tiba Sita melihat sebuah katamaran muncul dari balik pulau Kelleys. Melihat dua layarnya yang berwarna-warni bak pelangi, Sita tahu kalau katamaran itu adalah ‘Sita’, katamaran yang paling indah di seluruh Clayton, milik Nate, saudara kembar ayahnya. Sita menanti hingga kapal itu mendekat. Ketika kapal itu bersandar pada dermaga, cepat-cepat Sita berjalan menuju ke depan pintu keluar. Nate muncul dengan senyum lebar di tengah-tengah kumis dan jambangnya dengan bungkusan besar di tangannya.

‘Hello, Indonesia!’ teriaknya nyaring. Sita tersenyum sambil memandang pamannya yang semakin hari semakin kumal.

‘Ciri khas seorang pelaut,’ kata Nate dulu, ‘seorang pelaut tidak ada yang setampan Nick. Kalau aku bersih, aku sudah jadi dokter sekarang.’ Dahulu – belasan tahun lalu –  Nate adalah seorang kapten pada perusahaan pelayaran internasional. Tetapi begitu dia mampu membeli ‘Sita’ dia tidak pernah ke luar dari danau Erie. Paling jauh berlayar sampai Buffalo di New York.

Nate meloncat turun tepat di depan Sita. Sesudah menurunkan bungkusannya dia mengambil Sita dengan kedua tangannya yang kokoh dan mengangkatnya ke atas dan memutar tubuhnya bak baling-baling. Sita berteriak-teriak protes.

‘Lepaskan, Nate! Lepaskan! Aku bukan anak kecil lagi!’ Nate tertawa keras sambil menurunkan Sita. Inilah bedanya dengan Nick, pikir Sita. Aku tidak pernah melihat Nick tertawa bebas. Kehidupan Nick terlalu formil dan seakan ada kesedihan yang tidak pernah berhasil kusibak.’

‘Aku tahu kamu telah besar sekarang. Berapa umurmu, honey?’ Sita cemberut. Kemarin ulang tahunnya yang keenambelas dan tidak seorangpun mengingatnya. Sweet Sixteen. Semua temannya selalu merayakan sweet sixteen dengan gegap gempita.

‘Ayo, Sita, cheer up. Aku cuma mengganggumu,’ Nate berkata sambil tertawa. Kemudian dia membungkuk dan mengambil bungkusan yang tadi diletakkannya. ‘Nah ini dia hadiah bagi gadis tercantik di Clayton yang kemarin tepat berusia enam belas tahun.’ Nate mengulurkan bungkusannya.

‘Nate?’ Sita bertanya tidak percaya. Nate mengangguk kemudian mencium pipi keponakannya. Sita tertawa geli tersentuh jambang dan kumis Nate

‘Kupikir kamu lupa, karena kemarin kamu tidak pulang. Kemana saja kamu? ‘tanya Sita menyelidik. Kembali Nate tertawa.

‘Sudah kukatakan beberapa hari yang lalu kepadamu bahwa aku ada obyek besar di Detroit. Semalam aku berniat menelponmu, tapi…’ Nate tak melanjutkan.

‘Kamu mabuk di sebuah bar.’ Sita yang meneruskan. Nate tertawa terpingkal-pingkal dan tidak menyangkal dugaan Sita.

‘Ayo masuk! Aku belum sarapan. Ada sarapan untukku?’ tanya Nate dan menggandeng Sita.

‘Sebanyak yang kamu inginkan. Tadi Nick membuat pancake.’ Ketika mereka masuk Nick masih berada di dapur. Dia menoleh dan mengajak Nate makan.

‘Belum berangkat, Nick?’ tegur Nate.

‘Hari ini aku akan terbang ke Boston mengambil alat-alat yang kupesan. Aku akan berada di sana tiga hari. Kamu tidak akan pergi, kan?’ tanya Nick. Nate menggeleng dan mengambil piring yang langsung diisi dengan empat potong pancake sekaligus.

‘Wow!‘ tiba-tiba terdengar jerit kekaguman dari Sita. Dia telah membuka hadiah dari Nate. Di dalam bungkusan itu dia mendapatkan Manuel Rodriguez Jr, sebuah gitar klasik spanyol yang sudah lama dia impikan serta sebuah buku musik berisi not dan lyric lagu-lagu Bob Dylan.

‘Makasih, Nate,’ teriak Sita kemudian dia menekuni gitarnya.  Menyetel dawainya dan mencoba memainkan beberapa lagu.

‘Sita, kamu mau ikut berlayar?’ tanya Nate.

‘Sita?’ panggil Nate ketika Sita tidak memberi respon.

‘Apa?’ tanya Sita tanpa mendongakkan kepalanya.

‘Kamu mau ikut berlayar?’ kali ini Nick yang berbicara sebab mulut Nate masih penuh dengan makanan.

‘Ke Cleveland?’ tanya Sita mulai ada perhatian. Nate menggeleng.

‘Ke Canada,’ jawabnya.

‘Nggak mau, bosan ke Canada terus.’

‘Aku butuh guide.  Hari ini kapalku akan mengantarkan siswa pertukaran pelajar.  Tom tidak bisa ikut ada pertandingan baseball.’

‘Berapa berani kau bayar aku?’ tantang Sita. Nick tersenyum memandang putrinya.

‘Sebut yang kamu inginkan dan akan kubayar,’ sahut Nate.

‘Bagaimana jika dua kali yang biasa Tom terima?’ tanya Sita. Nick dan Nate memandang Sita sambil geleng-geleng kepala.

‘Sita, jangan mata duitan,’ tegur Nick sambil tersenyum.

‘Aku enggak mata duitan, Nick. Cuma mencari tambahan penghasilan. Dia terima tawaranku ya syukur enggak ya namanya enggak sayang ponakan.’ Nate tertawa keras dan Nick juga menyumbang tawa.

 AkuTak Mau Pulang, Nick

Sita dan Nate berada di di depan kemudi di bagian belakang agak ke atas dari katamaran tersebut.  Nate memegang kemudi dan Sita duduk mencangklong di depannya sambil bercerita macam-macam. Hanya kepada Natelah Sita dapat berbincang bebas sebab Nick selalu sibuk dengan Rumah Sakitnya. Mereka sedang menuju ke pusat kota Clayton untuk menjemput penumpang-penumpang Nate.

‘Apa hadiah dari Nick? ‘tanya Nate acuh.

‘Ini,’ jawab Sita sambil memperlihatkan kalung yang dipakainya yang diberikan oleh Nick semalam menjelang tidur. Nate mengerutkan dahinya melihat kalung dengan liontin berbentuk kuda laut dari batu safir berwarna biru cemerlang.

‘Bukankah itu yang dulu selalu dikenakan Nina?’ tanya Nate. Sita mengangguk cepat.

‘Nate, Kamu kenal mama?’ tanya Sita pelan. Nate tertawa.

‘Sita … Sita. Apakah kamu pikir aku tidak kenal istri saudara kembarku yang juga ibu dari keponakanku?’

‘Maksudku … Apakah kamu tahu mengapa mereka bercerai?’ Sita bertanya hati-hati sebab menurut pengalamannya, jika dia bertanya hal ini kepada ayahnya dia tidak pernah memperoleh jawaban.  Nate memandang Sita lama, kemudian menggeleng.

‘Kamu berbohong kepadaku.  Aku tahu kalau kamu tahu.  Kamu orang paling dekat  Nick.  Aku yakin  Nick pernah berkeluh kesah kepadamu. Ayo, Nate, ceritakan kepadaku. Aku sudah dewasa, aku berhak mengetahui sesuatu tentang ibuku.’

‘Sita, tidak ada yang dapat kuceritakan kecuali kalau kedua orangtuamu sama-sama orang yang keras kepala. Mereka menganggap diri mereka beridealisme kuat. Tapi mereka tolol. Membiarkan idealisme mereka menghancurkan diri mereka sendiri.’

‘Aku tidak tahu maksudmu.’

‘Kelak kamu akan mengetahuinya.  Kalau Nick menganggap kamu sudah siap, dia akan bercerita,’ jawab Nate. ‘Ayo Sita, jangan bicara tentang hal itu lagi. Hari terlalu indah untuk membicarakan tentang perceraian.’

Sita diam saja. Baik, aku tahu Kamu tidak bakalan bercerita tentang hal itu.  Tetapi ada seseorang yang tahu.  Aku akan bertanya pada Sue. Kalau dia dulu hampir menjadi ibu tiriku dia tentu kenal Nick sampai ke bagian dalamnya.

‘Apa yang kamu lamunkan?’ tanya Nate memecah kesunyian.

‘Seperti apa Indonesia itu hingga mama tega meninggalkanku untuk pulang ke Indonesia,’ jawab Sita bohong.

‘Seperti danau Erie saat ini,’ jawab Nate melantur.

Mereka berdiam diri sesudahnya, masing-masing asyik dengan pikirannya sendiri.  Sesampai di dermaga umum di pusat kota Clayton, Sita langsung meloncat turun.

‘Jam berapa kita berangkat, Nate? ‘tanya Sita dari bawah.  Nate menjulurkan kepalanya kemudian menunjukkan kesepuluh jari tangannya.  Masih ada waktu satu setengah jam, pikir Sita melihat jam yang melilit di pergelangan tangannya.

‘Aku mau mampir ke toko Sue dulu, Nate,’ teriak Sita sambil berlalu.

‘Jangan sampai terlambat,’ Nate mengingatkan. Sita menoleh dan membuat lingkaran dengan telunjuk dan ibu jarinya sebagai tanda ‘beres’.

Sita berjalan-jalan sepanjang pusat pertokoan yang masih sepi. Hanya ada beberapa toko saja yang buka.

‘Untung Sue sudah membuka tokonya,’ gumam Sita ketika melihat toko kecil di ujung jalan.  Sita mempergegas langkahnya.

‘Hello, Sue!’ tegur Sita pada seorang wanita cantik yang berdiri di belakang mesin hitung. Wanita itu mendongakkan kepalanya dan membalas sapaan Sita.

‘Apa kabar, Indie?’ tanya Sue.  Indie adalah kependekan dari Indonesia.  Sebutan itu dulu untuk memanggil Nina sebagai panggilan sayang dari sahabat-sahabatnya dan kini sebutan itu telah menjadi milik Sita.

‘Biasa saja, Sue. Masih tetap dua pria plus seorang gadis cantik di dalam sebuah rumah,’ jawab Sita sambil menarik sebuah kursi dan mendudukkan dirinya di depan Sue. Sue tertawa.

‘Tidak ada niat untuk menambah pria lagi? ‘tanya Sue.

‘Dua sudah terlalu banyak Sue. Kamu mau mengambil seorang di antaranya?’ tantang Sita. Sue kaget tapi dia cepat menguasai keadaan. Ah Sita hanya bergurau.

‘Sue, aku ingin bertanya sesuatu,’ Sita mulai menjalankan misinya. ‘Ceritakan sesuatu tentang Indie. Indie yang terdahulu. Ceritakan apa saja tentang dia,’ Sita mengambil permen karet yang berada di depannya, mengupasnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sue menarik nafas panjang.

‘Seorang wanita hebat,’ Sue memulai. Sita tersenyum, dia senang ibunya mendapat pujian. ‘Seharusnya aku membencinya karena dia telah merebut Nick dari tanganku. Tapi aku tidak bisa, aku mengagumi dia, Sita. Aneh kan?’

‘Merebut Nick? Bukankah kamu datang sesudah Indie pergi ?’ tanya Sita. Sue menggeleng.

‘Aku kenal Nick sejak kecil. Kami dibesarkan bersama dan kami sering berkencan. Semua orang tahu kalau Nick kekasihku. Setelah tamat SMA Nick meneruskan belajarnya ke Havard, disanalah dia bertemu Indie dan jatuh cinta. Siang malam aku berdoa agar Indie menolak cinta Nick, karena menurut Nick sendiri Indie dicintai banyak orang’ Sue diam beberapa saat memandang gadis yang mengunyah permen karet di depannya.

‘Tetapi doaku tidak terkabul. Indie memilih Nick. Mereka kawin dan tinggal di Clayton. Kamu dapat membayangkan hatiku saat itu. Pemuda yang kudambakan untuk menjadi suamiku telah kawin dengan wanita lain. Aku patah hati, tetapi aku tidak bisa membandingkan diriku dengan Indie. Indie pandai, cantik dan ramah dalam sekejab saja seluruh hati di Clayton telah berada di genggaman tangannya. Semua warga Clayton menjadi sahabatnya dan melupakan kepahitan hatiku. Aku meninggalkan Clayton dan baru kembali beberapa tahun kemudian, saat itu kamu telah lahir. Kalau kepergianku membawa kehancuran hatiku, aku pulang dengan pandangan yang berbeda. Aku tidak lagi iri kepada Indie karena sudah selayaknya wanita seperti dia mendapatkan cinta Nick. Aku mulai bersahabat dengan Indie. Benar-benar sahabat, Sita. Jika ada orang yang mengatakan bahwa akulah yang membawa malapetaka ke tengah keluargamu itu tidak benar. Bohong!’ Sita melihat mata Sue berkaca. Dia mempercayai wanita ini. Ada sesuatu pada dirinya yang membuat dia mempercayainya.

‘Kalau saja aku berkuasa di pengadilan itu. Permohonan cerai mereka akan kutolak. Mereka saling mencintai dan perceraian itu hanya menghancurkan dua-duanya,’ Sue menghapus air matanya dengan punggung tangannya.

‘Mengapa mereka ingin bercerai?’ tanya Sita.

‘Aku tidak tahu.’

‘Kamu hadir di pengadilan.’

‘Memang, Sita. Tetapi alasan yang mereka kemukakan tidak masuk akal. Nick dan Indie seakan-akan telah sepakat untuk memberikan alasan-alasan yang bisa membuat pengadilan menyetujui perceraian mereka. Indie bahkan tidak memprotes ketika mereka memutuskan untuk memberikan dirimu ke tangan Nick. Itu tidak mungkin, Sita. Kamu adalah segala-galanya bagi Indie. Aku tidak tahu apa yang ada di belakang sandiwara mereka.’

‘Terimakasih, Sue, kamu mau bercerita. Aku senang mengetahui bahwa ibuku mencintaiku.’

‘Aku hanya ingin agar kamu tidak mempercayai omongan yang tersebar di Clayton yang menganggap bahwa akulah penyebab kehancuran keluargamu. Nick pernah memintaku untuk menjadi ibumu tapi kutolak karena aku tahu dia tidak mencintaiku. Dia  hanya menginginkan aku untuk menjagamu. Dan itu tak dapat kuterima karena aku toh bisa tetap menjagamu tanpa harus menjadi istri seseorang yang hatinya ada pada wanita lain yang juga sahabatku sendiri.’ Kali ini Sita memandang Sue dengan pandangan kekaguman. Dulu dia jengkel jika Sue sering datang ke rumahnya, membersihkan rumah, memasak, mencuci dan sebagainya. Dulu Sita mengira bahwa Sue melakukan hal itu karena dia menginginkan Nick. Sita melihat jamnya.

‘Jam sepuluh!’ serunya kaget dan meloncat turun dari kursi. ‘Ya Tuhan, aku terlambat. Sue, aku harus segera pergi,’ teriak Sita dan berlari keluar. Dia berlari terus hingga dermaga umum, tanpa mempedulikan omelan orang-orang yang kena tabrak. Dia baru menarik nafas lega ketika melihat ‘Sita’ yang masih setia menunggu.

AkuTak Mau Pulang, Nick

Semua penumpang sudah naik semua ketika Sita tiba. Dia masih sempat memperhatikan penumpang-penumpangnya. Semuanya masih muda belia.

‘Kamu telat, Sit,’ tegur Nate. Sita tersenyum penuh penyesalan.

‘Sorry Nate, aku terlalu asyik tadi,’ jawab Sita. Nate mengangguk. Untung tidak marah, kata hati Sita. Begitu Sita berada di ruang kemudi, kapal kecil itu segera bertolak.

‘Selamat pagi semua. Saya Nate Woodward mengucapkan terima kasih kepada anda semua yang telah mau berlayar bersama ‘Sita’. Hari ini merupakan pelayaran istimewa bagi saya karena anda semua datang dari Negara yang berbeda. Saya harap pelayaran ini juga merupakan sesuatu yang istimewa bagi anda dan merupakan kenangan yang dapat anda bawa pulang ke negeri anda. Dan untuk itu saya telah menyediakan seorang guide istimewa yaitu Sita Woodward atau boleh panggil dia Indonesia. Nah inilah dia.’ Nate memberikan pengeras suaranya kepada Sita.

‘Selamat pagi!!”  Sita membuka dengan suaranya yang manis.  ‘Nate mereka siapa sih?’ tanya Sita berbisik sesudah meletakkan tombol pada posisi off.

‘Para pertukarang pelahar AFS yang akan kembali ke negeri mereka masing-masing.  Mereka mampir di Clayton selama tiga hari.  Besok mereka menuju ke New York dan pulang.’

‘Oo…’  Sita berseru.

‘Selamat pagi,’ Sita mengulangi salamnya.  ‘Sekarang kalian berada di atas danau Erie, danau yang menghubungkan atau memisahkan Amerika dengan Canada. Pulau-pulau yang ada di sekitar adalah pulau-pulau yang   tergabung dalam gugusan kepulauan yang bernama Thousand Isles. Jembatan yang berada jauh di belakang juga bernama jembatan Thousand   Isles yang menghubungkan Canada   dan   Amerika   lewat jalan   darat.’

Sita menerangkan.  Dia sering ikut Nate berlayar dan mengganti tugas Tom sebagai guide amatir.  Dia begitu hafal dengan nama pulau-pulau yang ratusan jumlahnya bahkan sampai yang terkecil dengan segala keistimewaannya. Dia tahu dimana dia dapat mendapatkan buah cherry yang lezat atau tempat dimana banyak terdapat kelinci.

Kapal Nate menyusup di antara pulau-pulau yang gelap karena terlindung dedaunan. Kemudian keluar pada daerah yang luas dengan pemandangan yang begitu indahnya. Tiba-tiba tampak sebuah pulau dengan sebuah bangunan yang tinggi menjulang, tua dan angker.  Nate mengelilingi pulau itu.

‘Pulau ini merupakan lambang cinta sejati,’ tutur Sita. “ Bangunan yang tampak angker itu dahulu direncanakan untuk dibuat sebuah istana yang megah dari seorang suami untuk istrinya yang paling dia cintai. Dia tidak pernah menceritakan rencananya itu kepada istrinya karena bangunan itu akan diberikan sebagai hadiah pada ulang tahun perkawinan mereka. Tetapi belum sampai waktunya si istri meninggal dunia. Sejak saat itu sang suami dirawat di rumah sakit jiwa dan tak pernah keluar lagi. Bangunan itu terbengkalai dan menjadi kediaman kelelawar. Itulah sebabnya pulau ini bernama pulau kelelawar.’

Sita menekan tombol off dan menoleh kepada Nate.

‘Nate masih adakah lelaki yang mencintai istrinya seperti dia? ‘tanya Sita. Nate tertawa.

‘Ada… Ada,’ jawab Nate   ‘Pamanmu. Nate Woodward.’ Sita tertawa.

‘Kawin saja Kamu tidak bagaimana kamu bisa bicara seperti itu?’

‘Kau pikir aku memilih tidak kawin tanpa alasan?’

‘Kamu pernah patah hati? ‘tanya Sita. Dia belum pernah melihat Nate akrab dengan wanita atau membicarakan nama seorang wanita. Nate tertawa terbahak-bahak. Sita menghidupkan mikenya.

‘Yang kalian dengar ini adalah tawa kapten kita, Nate. Dia baru saja menyatakan bahwa dialah satu-satunya orang yang bisa mencintai wanita sedalam pangeran kelelawar,’  Sita berkata jelas. Nate repot menahan tawanya. Dipandang keponakannya dengan mata melotot, tapi Sita tenang-tenang saja.

‘Nate, aku mengulangi, pernahkah kamu patah hati?’ Sita kuatir. Untuk orang setua Nate dan belum kawin? pasti ada alasan tertentu dan satu-satunya yang masuk ke dalam otak Sita adalah ‘patah hati’

‘Dulu pernah, tapi sudah tersambung kembali. Kamu tak perlu kuatir aku akan segera kawin,’ jawab Nate serius. Sita tersenyum. ‘Kamulah yang pertama mendengar kabar ini,’ sambung Nate. Sita membelalak tak percaya.

‘Kau?’ tanyanya heran. Nate mengangguk pasti.

‘Siapa wanita yang begitu tolol mau kawin denganmu?’ tanya Sita yang masih menduga Nate hanya bergurau.

‘Sue,’ jawab Nate.

‘Nate jangan main-main. Sue bisa marah mendengar gurauan kita,’ tegur Sita dongkol. Ini sudah keterlaluan. Kasihan Sue.

‘Sita, kalau aku berbohong kepadamu, kamu mau percaya, kini aku serius kamu malah tidak percaya,’ jawab Nate tenang. Sita bimbang. Setengahnya dia percaya, setengahnya tidak.

‘Kamu tidak mengucapkan selamat kepadaku?’ tanya Nate ketika memandang Sita tertegun. Sita meloncat dan mencium Nate.

‘Kamu tahu, Nate? Aku sangat bahagia,’ katanya dan bergayut pada lengan Nate.

‘Bodoh benar kamu. Mau tak mau perhatianku kepadamu akan berkurang.’

‘Aku tidak peduli. Aku bosan hidup dengan dua laki-laki yang semuanya tak punya istri. Seperti tidak laku padahal kalian berdua tampan semua,’ goda Sita. Dalam hati dia bertanya, betul-betul mencintai Nate kah Sue, atau hanya pelarian karena tak bisa mendapatkan saudara kembarnya? Mudah-mudahan Sue benar-benar mencintai Nate.

‘Hei tugasmu !’ Nate memperingatkan ketika mereka hampir memasuki pulau Robinson. Sita meraih mikenya dan,

‘Sebentar lagi kita akan memasuki wilayah Canada. Ada beberapa petugas yang akan memasuki kapal kita untuk memeriksa paspor kalian. Saya harap kalian menyiapkannya. Terimakasih,’ katanya ramah.

Kapal itu bersandar di sebuah selat yang hanya muat untuk sebuah kapal. Beberapa detik kemudian tiga orang berseragam biru tua masuk kapal dan memeriksa penumpang.

‘Sita, aku turun dulu mencari makanan. Kamu mau sesuatu?’

‘Bawakan aku roastbeef, Nate. Ukuran sedang saja dan coke.’

Sesudah Nate turun, Sita berdiri di belakang kemudi sambil melihat kesibukan para petugas perbatasan. Tiba-tiba ada seorang gadis berdiri di bawah tangga kemudi. Sita memperhatikan sejenak kemudian mengembangkan senyumnya. Gadis ini mirip mama. Rambutnya yang hitam lurus, matanya dan kulitnya juga bajunya… Sita menjadi malu. Gadis di depannya mengenakan rok batik rapi sedang dirinya… jeans lusuh dan Tshirt bergambar John Travolta. Tiba-tiba Sita merasa dirinya terlalu urakan dibanding gadis itu.

‘Hai, boleh aku naik ke situ? ‘tegur gadis tersebut.

‘Silahkan. Maaf aku berlaku kurang sopan tadi,’ Sita memohon maaf menyadari bahwa dirinya telah meneliti gadis tadi.

‘Namaku Lily,’ gadis itu memperkenalkan diri.

‘Aku Sita. Kamu juga pelajar AFS?’ Lily mengangguk.

‘Aku tadi sempat mendengar kalau namamu juga Indonesia, benar?’ tanya Lily

‘Oh, itu…’ Sita menjadi salah tingkah, ‘mereka memanggilku demikian karena ibuku orang Indonesia.’

‘Ibumu orang Indonesia? Aku juga orang Indonesia. Bisa aku bertemu ibumu? Sudah setahun aku tak berjumpa dengan orang Indonesia.’ Lily berbicara   cepat karena luapan rasa gembira. Sita juga gembira bisa bertemu seseorang yang senegara dengan ibunya, tetapi sekejab kemudian dia sadar.

‘Sayang kamu tidak bisa bertemu dengan ibuku. Ibuku telah bercerai dengan ayahku dan telah kembali ke Indonesia,’ Sita menjelaskan dengan jujur.

‘Oo …’ Lily kecewa. ‘Kamu tahu dimana ibumu berada? maksudku kotanya.’

‘Aku tidak tahu, terlalu panjang namanya dan sukar untuk diucapkan. Yang terang di Jawa,’ jawab Sita polos.

‘Jakarta?’

‘Bukan, tapi mirip dengan itu.’

‘Yogyakarta?’ tebak Lily lagi.

‘Ya itu dia. Apa tadi?’

‘Yogyakarta. Aku juga berasal dari Yogyakarta,’ jawab Lily.

‘Kalau begitu kamu pasti kenal ibuku,’ Lily menggeleng.

‘Yogyakarta penduduknya lebih dari dua setengah juta. Tidak mungkin kita saling mengenal seperti di Clayton ini.’

‘O…,’ ganti Sita yang kecewa. ‘Pernahkah kamu mendengar tentang Dokter Nina Woodward?’ Lily menggeleng lagi. Dia menyesal telah mengecewakan gadis dihadapannya.

‘Kamu tahu alamat ibumu?’ tanya Lily berusaha menolong.

‘Aku tidak tahu, dia tidak pernah berkabar. Satu-satunya yang kuketahui hanyalah bahwa dia dilahirkan di kotamu.’ Sita merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet, mencabut selembar photo dan ditunjukkan kepada Lily. Foto Sita yang duduk di pangkuan ibunya.

‘Ini aku dan ibuku waktu aku berusia empat tahun. Siapa tahu nanti kamu bertemu wanita seperti ini. Sampaikan salam dan cintaku padanya.’ Lily meneliti photo itu sejenak.

‘Aku pernah melihat foto ini sebelumnya. Dimana ya? ‘gumamnya. Sita menanti harap-harap cemas.

‘Aku tahu,’ Lily berteriak. ‘Dokter Nina Santoso. Kamu tadi bilang siapa?’

‘Kamu benar, namanya Nina. Woodward adalah nama ayahku. Kamu tahu dimana dia tinggal? Alamatnya? Aku ingin berkirim surat kepadanya,’ kata Sita antusias. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.

‘Ada nama di belakang namanya, berarti ibuku sudah kawin lagi. Sudahkah dia mempunyai anak, Lily?’

‘Santoso bukan nama suaminya. Itu nama almarhum ayahnya. Dia tidak pernah kawin. Orang-orang di sekitar mengira kalau dia terlalu pandai untuk menikah. Aku tidak menyangka dia telah berputri sebesar ini.’

‘Kalau begitu kamu tahu alamatnya,’ seru Sita gembira. Lily mengangguk kemudian bertanya kalau Sita mempunyai kertas untuk menuliskan alamat itu. Sita mencari di laci dan menemukan selembar kertas dan balpoint. Lili menuliskan sebuah alamat. Dokter Nina Santoso tinggal tiga rumah di sebelah kanan rumahnya jadi dia tinggal menambah tiga angka dari nomer rumahnya sendiri.

‘Terimakasih, Lily,’ tutur Sita berkali-kali sambil memasukkan alamat itu ke dalam dompetnya. Kemudian Sita bertanya tentang Indonesia dan bagaimana caranya agar bisa sampai ke sana.

‘Kamu ingin ke Indonesia?’ tanya Lily

‘Ya. Kalau dulu aku tidak berkeinginan untuk pergi karena waktu itu aku takut tidak bisa menemukannya. Tetapi sekarang dengan alamat sejelas ini? Hanya Tuhan yang tahu betapa besar keinginanku.’

                                                                     ***

Perkawinan Nate dan Sue dilangsungkan secara sederhana dan karena langit cerah mereka mengadakan pesta di katamaran. Hanya beberapa kerabat dekat saja yang hadir. Sita dapat melihat wajah Nate yang sebenarnya karena jambang dan kumisnya telah tercukur bersih. Dalam keadaan seperti itulah Nate benar-benar mirip Nick, Nate mengenakan stelan berwarna merah hati dan Sue mengenakan pakaian pengantin berwarna putih bersih.

‘Sue cantik sekali ya Nick?’ bisik Sita di telinga Nick mencoba mengajuk hati Nick terhadap Sue. Nick mengangguk.

‘Setiap gadis akan tampak cantik pada hari perkawinannya karena saat itu adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya.’

‘Apakah Sue bahagia?’ tanya Sita berbisik. Nick bingung akan arah dari pertanyaannya.

‘Kenapa Kamu bertanya seperti itu?’

‘Cuma ingin tahu saja.’

‘Tentu saja dia bahagia. Dia mencintai Nate dan dapat kawin dengan orang yang dicintainya adalah suatu kebahagiaan. Suatu saat kamu akan mengalaminya.’ Nick memegang hidung anaknya. Sita tidak bertanya lagi. Apakah Nick tidak tahu kalau Sue mencintainya?

Sue dan Nate akan tinggal di Theresia Street sebab Nick menghendaki agar Sita tidak merasa dilupakan oleh Nate. Baik Nate maupun Sue menyetujui usul itu. Tetapi kenyataannya mereka berempat belum pernah tinggal di dalam atap yang sama. Begitu pesta perkawinan usai, Nate dan Sue pergi berbulan madu ke Bahama. Seminggu sebelum bulan madu itu habis, Nick harus pergi ke Auckland, New Zealand untuk suatu konperensi dan harus tinggal di sana selama satu bulan. Sita menduga bahwa Nick hanya mencari-cari alasan agar tidak tinggal serumah dengan Sue. Tetapi mengapa? Apakah Nick juga mencintai Sue? Ah urusan orang tua selalu rumit.

Seminggu yang sepi. Sementara menanti Nate kembali, Sita hanya ditemani oleh ibu Sue. Pada saat itulah kerinduan kepada ibunya memuncak. Dia memutuskan untuk melarikan diri. Aku harus memjumpai wanita yang telah melahirkanku. Harus.

AkuTak Mau Pulang, Nick

Sore itu Sita sedang mengayuh sepedanya sepanjang James Street yang lenggang ketika dia merasa ada langkah kaki kuda di dekatnya Sita menoleh. David Sweeney sedang tersenyum ke arahnya di atas punggung seekor kuda hitam berkilat.

Dari mana?’ tegur David.

‘Latihan,’ jawab Sita sambil memperlihatkan sarung tangan softballnya. Mereka berjalan beriringan. Dave sibuk mengendalikan kudanya agar dapat mengimbangi kecepatan sepeda balap Sita.

‘Ayahku bilang kalau kamu mau pergi jauh. Kemana?’ tanya David. Ayah David adalah direktur Bank dimana Sita menabung uangnya. Kemarin Sita mengambil seluruh tabungannya dan ayah David menanyakan untuk apa uang itu.

‘Ke Indonesia,’ jawab Sita lirih.

‘Indonesia?’ ulang David. ‘Beberapa lama kamu akan berada disana?’

‘Aku tidak tahu. Mungkin lama mungkin juga sebentar, tergantung Dave.’

‘Tergantung apa?’ tanya David ingin tahu.

“Apakah aku kerasan atau tidak.’

‘Apakah itu berarti jika kamu kerasan kamu tidak akan kembali lagi?’ Sita tersenyum melihat kekhawatiran yang terekspresi pada wajah David.

‘Apakah aku tidak menjadi bahan pertimbangan?’ tanya David lagi.

‘Kamu? Memangnya kenapa?’ Sita tidak mengerti.

‘Kalau kamu pergi aku akan kehilangan dirimu. Kamu tahu sudah lama aku memperhatikan kamu. Kurasa aku mencintaimu,’ jawab David lugu sambil menghentikan kudanya karena mereka telah sampai di depan Katedral dan Sita harus membelok ke kiri.

‘Wow cara klasik dalam menyatakan cinta, di atas punggung kuda.’ Sita mencoba bergurau walau pernyataan David tadi telah mengacaukan perasaannya. David tertawa . Sita tertawa dan langitpun ikut tertawa.

‘Akan kujadikan bahan pertimbangan, Dave. Sungguh. Sampai jumpa.’

AkuTak Mau Pulang, Nick

 Di depan rumah Nate telah menunggunya. Dia telah pulang dua hari yang lalu.

‘Tumben menanti di depan rumah. Mana Sue?’

‘Ada yang ingin kubicarakan denganmu,’ jawab Nate serius. Sita merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dia meninggalkan sepedanya di luar dan berjalan masuk mengikuti Nate. Apakah Nate sudah mengetahui kalau Sue tidak mencintainya? pikir Sita gamang.

‘Bill Sweeney menelponku,’ Nate membuka percakapan. Sita menarik nafas lega. ‘Untuk apa uang itu, Sita? ‘tanya Nate.

‘Apakah Mr. Sweeney tidak mengatakan?’ balas Sita.

‘Sita, aku ingin mendengar darimu sendiri.’

‘Aku mau ke Indonesia,’ jawab Sita mantap. ‘Aku telah menghubungi travel agent dan menanyakan biayanya dan kurasa uangku cukup untuk membiayaiku pergi.’ Nate terperanjat. Belum pernah selama hidupnya terkejut seperti kali ini.

‘Untuk apa kau ke Indonesia? Liburan sekolah hampir habis.’

‘Menemui mama,’ jawab Sita pendek.

‘Sita, kau sadar dengan apa yang akan kau lakukan?’

‘Tentu saja. Apakah suatu keganjilan jika seorang anak ingin menemui orang yang telah melahirkannya.’

‘Tentu saja tidak. Tapi Kamu pergi tanpa rencana.’

‘Aku telah lama merencanakan, Nate. Lebih lama dari yang kamu duga,’ jawab Sita. Dia telah membulatkan hatinya bahwa tak ada sesuatu yang akan dapat merintangi maksudnya.

‘Tanpa sepengetahuan Nick?’

‘Kamu tahu Nick tidak akan mengijinkanku pergi, itulah sebabnya aku akan pergi sekarang selagi Nick tidak di rumah.’

‘Lalu kamu anggap apa aku ini, Sita?’ tanya Nate mencoba bersikap tenang.

‘Nate … ‘ Sita tidak berkutik.

‘Aku tidak akan mengijinkanmu,’ suara Nate rendah. Sita terpana. Selamanya Nate selalu menuruti kemauannya dan kini Nate telah menolak tanpa mempertimbangkan lebih dahulu. ‘Kamu boleh pergi jika Nick sudah kembali.’

‘Kamu bukan ayahku,’ jerit Sita jengkel.

‘Aku diberi wewenang untuk menjagamu,’ Nate mencoba mengendalikan emosinya.

‘Aku tidak mau tahu. Kalau kamu tidak mengijinkan aku akan pergi tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Aku akan pergi tanpa pamit.’

‘Sita, kamu tidak tahu dimana ibumu berada. Indonesia tidak hanya sebesar Clayton, luas sekali, Sita. Kamu tidak akan bisa menemuinya,’ bujuk Nate halus.

‘Aku punya alamatnya, Nate,’ Sita menyebutkan alamat ibunya dan dari mana alamat itu diperolehnya. Nate terdiam sesaat. Anak ini telah melangkah terlalu jauh. Aku tak akan bisa menariknya mundur.

‘Bagaimana jika dia telah pindah sedang uangmu hanya cukup untuk satu kali penerbangan ke Indonesia?’ Nate mengetahui kelemahan keponakannya karena Bill Sweeney juga menerangkan berapa jumlah uang yang telah ditarik Sita

‘Aku tidak tahu. Jadi pengemis mungkin. Kalau kamu menginginkan aku selamat dan menginginkan aku kembali ke sini lagi berikan aku uang saku tambahaan.’ Mau tidak mau Nate tersenyum. Baru saja mereka bertengkar mempertahankan pendapat mereka masing-masing dan kini Sita menginginkan dia memberinya uang saku tambahan.

‘Kamu pikir aku akan memberinya?’

‘Kamu akan memberi, Nate. Aku tahu itu. Kamu selamanya begitu manis kepadaku,’ omong Sita seenaknya sambil keluar lagi, mengambil sepedanya dan pergi. Nate termangu, dalam hati dia tahu bahwa dia tidak akan berhasil membujuk keponakannya untuk membatalkan rencananya.

 AkuTak Mau Pulang, Nick

Bujukan Nate yang bertubi-tubi ditambah bujukan manis Sue tidak mempan. Pikiran Sita telah dipenuhi oleh bayangan-bayangan manis tentang ibunya dan Indonesia. Dia telah mulai mengepak barang-barangnya. Boneka-boneka mana yang dianggap patut untuk menyertai perjalanan wisatanya.

‘Kapan kamu berangakat, Sita?’ tanya Sue di depan pintu kamar Sita. Sita memberi tanda agar Sue masuk. Sue masuk dan duduk di tempat tidur Sita, memandang Sita memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.

‘Minggu depan,’ jawab Sita sambil mencium boneka mungil yang kemudian diletakkannya kembali karena sudah terlalu banyak boneka yang akan dibawanya.

‘Jangan mencoba membujukku lagi, Sue. Kamu tahu aku benar-benar ingin berjumpa dengan mama.’ Sue mengangguk. Kemudian memberikan beberapa lembar puluhan dollar.

‘Belilah baju-baju yang manis, Sita. Indie selalu rapi berpakaian, tentu dia menginginkan anaknya menuruni kerapiannya. Jangan memakai jeans pada pertemuanmu yang pertama.’ Sue berkata lembut. Sita mendekati Sue, mencium pipinya yang halus dan mengucapkan terimakasih.

‘Kamu selalu penuh pengertian, Sue. Aku menyesal kamu jadi ibu tiriku.’

‘Sita … Sita. Seorang bibi lebih baik daripada seorang ibu tiri,’ Sue tertawa senang.

Kalau Nate berkata bahwa dia tidak mau tahu dengan kepergian Sita, itu hanya omongannya saja. Diantara mereka bertiga, Natelah yang paling sibuk dan repot. Setiap kali dia memperingatkan Sita, kalau-kalau   Sita melupakan sesuatu. Menyiapkan pesan tempat dan membelikan Sita ticket pesawat berikut sebuah buku traveller check. Dia sendiri mengantarkan Sita ke Kennedy Airport.

‘Kamu akan kembali lagi kan, Sita?’ tanya Nate. Saat itu pukul dua belas malam. Pesawat Lufthansa yang akan membawa Sita Frankfurt hampir berangkat. Sita mengangguk, hatinya rawan.

‘Tentu, Nate. Sampaikan salamku untuk Sue dan … ‘Sita memeluk Nate dan menciumnya. Nate membalas mencium keponakannya lama. Aku merasa kamu tidak akan pernah kembali lagi, Sita.

‘Dan siapa? ‘tanya Nate.

‘David,’ jawab Sita sambil berlari karena panggilan terakhir telah terdengar.

‘ David siapa?’ teriak Nate penasaran. Baru kali ini keponakannya menunjukkan gejala yang aneh.

‘David Sweney,’ Sita berteriak dan menghilang.

AkuTak Mau Pulang, Nick

Sedianya pesawat yang ditumpangi Sita akan mendarat di Soekarno Hatta pada jam dua siang dua hari berikutnya. Sita ganti pesawat di Frankfurt dan menginap semalam di kota itu.  Tetapi di Singapura ada pesawat yang rusak di runway, terpaksa semua penerbangan untuk hari itu tertunda. Pesawat Sita baru masuk pada pukul tujuh malam.

Sita melepas jacket biru yang dipakainya selama perjalanan sambil menuruni tangga pesawat. Ditangannya dia membawa boneka panda putih dengan belang hitam di telinga dan sekitar matanya.

‘Phoebe, inilah tanah mamaku. Aku tahu kamu pasti menyukainya karena aku sangat menyukai tanah ini,’ bisik Sita ditelinga boneka pandanya. Dia bernafas dalam berusaha mengambil udara Indonesia sebanyak mungkin sambil mengikuti arus penumpang yang keluar menuju pintu yang telah ditunjuk.

Kekhawatiran Sita muncul setelah semua urusan imigrasi beres. Kemana aku harus pergi sekarang? Dimana aku harus menginap malam ini? Ya Tuhan tunjukkanlah jalanmu, aku berada di tanah yang asing. Dia mendekap bonekanya makin erat mencoba mencari ketenangan pada mahluk tak bernyawa itu. Dikumpulkannya dua koper yang dibawanya dan duduk disalah satu koper itu. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan seseorang yang sangat dikenalnya.

‘Nick …’ panggil Sita dan berlari memeluk Nick yang berdiri terlindung pilar. Dia lupa pada kopernya. Sita menciumi Nick gemas. Nick mengelus-elus rambut Sita bahagia. Dia telah menunggu kedatangan anaknya sejak pukul dua siang dengan segala kegelisahannya dan kini anak itu telah ada dalam pelukannya.

Seminggu yang lalu Nate menelponnya mengatakan bahwa dia tidak berdaya untuk mencegah kenekadan Sita. Tanpa pikir panjang Nick meninggalkan konperensi dan terbang ke Jakarta lebih awal.

‘Sedang apa kamu disini, Nick?’ tanya Sita setelah ia sadar bahwa seharusnya dia tak akan menjumpai Nick dalam pelariannya.

‘Menjemputmu tentu saja.’

‘Menjemputku? Kamu tahu kalau …?’  Nick tersenyum.

‘Perasaan seorang ayah sangat peka, Sita. Aku punya firasat bahwa aku akan menjumpaimu disini,’ jawab Nick bohong. Sita tahu kalau Nick berbohong tetapi dia tidak dapat mengira-ngira bagaimana Nick bisa mengetahuinya.  Baik Nate dan Sue sudah bersumpah untuk tidak memberitahu ayanya.  Kecuali mereka mengingkari sumpah mereka.  Sita dan Nick berjalan menuju tempat dimana Sita meninggalkan kopernya.

‘Kita menjumpai mama hari ini, Nick?’ tanya Sita tidak sabar.

‘Tidak bisa. Sudah tidak ada penerbangan lagi untuk hari ini. Aku sudah pesan ticket untuk besok pagi,’ jawab Nick. ‘Kita bermalam di Jakarta malam ini.’

Dalam perjalanan menuju hotel mata Sita tidak pernah berkedip. Indonesia adalah negara tropis pertama yang dikunjunginya. ‘Luar Negri’ bagi Sita hanyalah Negara-negara Eropah yang pernah dikunjunginya bersama teman-temannya. Dan kini menyaksikan   Indonesia kekagumannya tak bisa disembunyikan.

‘Pantas mama lupa pada danau Erie,’ gumam Sita tidak sadar. Nick melirik anaknya tanpa berkomentar.

AkuTak Mau Pulang, Nick

‘Sita… Sita ..’ Nick menepuk-nepuk pipi anaknya agar bangun. Begitu sampai di hotel dan melihat tempat tidur langsung Sita jatuh tertidur.

‘Sita … bangun sayang,’ bisik Nick. Sita menggeliat malas.

‘Sita, makan dulu, yuk.’

‘Kamu saja. Aku ngantuk,’ jawab Sita. Nick mengangkat Sita dan mendirikannya di lantai.

‘Sudah hampir jam dua belas. Aku tahu kamu belum makan sejak tiga hari yang lalu.’

‘Kamu pikir kami tidak diberi makan di pesawat? ‘tanya Sita sambil menuju wastafel dan membasuh mukanya. Nick tertawa ringan.

‘Kamu pikir aku mau mempercayai jika kamu berkata bahwa kamu menyantap semua makanan yang dihidangkan? Sedang di rumah saja makanmu sukar apalagi di pesawat yang tidak ada seorangpun mengawasimu.’ Sita tidak membantah.

Mereka berjalan berdua di bawah terang lampu Jakarta yang romantis. Nick memilih sebuah restaurant kecil yang sudah sepi. Sementara menanti pesanan Nick bercerita tentang Nina.

‘Beberapa bulan setelah kamu lahir, Nina mulai gelisah. Saat itu politik di Indonesia sedang anti Amerika. Amerika adalah musuh Indonesia. Dimana-mana terdapat demonstrasi dengan spanduk-spanduk yang bertuliskan “America, go to hell.” Nina bingung. Dia tidak tahu dimana dia harus berdiri. Kemudian datang panggilan bahwa dia harus pulang ke Indonesia. Nina datang ke Amerika dengan beasiswa dari Negara untuk menuntut ilmu untuk diterapkan di Indonesia. Aku mencoba menahannya, membujuknya dengan mengatakan bahwa dia telah mempunyai dirimu. Tapi Nina merasa bahwa dirinya telah menghianati negaranya. Kami sering bertengkar tentang hal itu. Sedang surat-surat dari Indonesia makin gencar.’

Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Sita tersenyum pada pelayan itu yang dibalas dengan anggukan.

‘Tahun-tahun itu suasana  politik di Indonesia sedang kritis. Nina tidak berdaya. Dia merasa bahwa Indonesia membutuhkannya, sebab itulah yang ditulis pada setiap surat yang diterimanya. Nina mengajakku untuk mengikutinya pindah ke Indonesia. Kukatakan padanya bahwa aku tidak bisa karena saat itu aku satu-satunya dokter di Clayton. Dokter yang paling dekat adalah dokter Wyatt dan dia tinggal di Alexandria Bay. Nina ngotot, dia bilang dia dibutuhkan di Indonesia dan dia orang Indonesia. Semua orang menyalahkan kami karena baik aku maupun Nina tak ada yang mengalah. Kamu harus tahu, Sita, kami berdua saling mencinta tapi kewajiban terhadap umat manusia dan Negara tidak bisa terkalahkan oleh cinta pribadi. Aku berkewajiban terhadap Clayton dan Nina berkewajiban terhadap negaranya. Itulah sebabnya kami memilih perceraian sebagai jalan keluarnya. Demi Tuhan aku menyesalkan keputusan itu. Tetapi kami tidak mempunyai pilihan lain. Kami pergi ke pengadilan dan memohon perceraian. Perceraian itu disetujui dan Kamu ikut bersamaku. Sejak saat itulah aku merasakan kehancuranku.’

‘Tidak pernahkah kamu mencoba untuk menghubungi mama, Nick?’

‘Sekali aku bertemu dengannya di Boston beberapa tahun setelah Indonesia kembali stabil.

‘Boston? Kenapa kamu tak pernah bercerita, Nick? Mengapa dia tidak mampir?’

‘Aku yang menghendakinya. Aku memohon kepadanya agar dia tak berkunjung ke Clayton. Aku merasa bahwa kehidupan kita saat itu telah mulai tenang dan satu lagi aku telah meminta Sue menjadi istriku. Walau akhirnya permintaanku itu ditolak Sue.’ Nick tertawa kecut, mentertawakan dirinya. Sita tercenung. Aku pernah begitu dekat dengan mama tapi aku tidak pernah tahu.

‘Kamu tidak pernah menghubunginya lagi?’

‘Aku terlalu malu untuk melakukannya, Sita.’

AkuTak Mau Pulang, Nick

‘Nick, bunga apa yang paling disukai mama?’ tanya Sita di los pasar kembang, Yogya. Nick berpikir sejenak kemudian menggeleng.

‘Dia menyukai segala macam kembang, sejauh yang bisa kuingat.’

‘Bunga apa yang paling sering berada di kamar tidurmu?’

‘Setiap hari berganti bunga, Sit, pilih saja yang paling kamu sukai, dia tentu menyukainya.’

‘Bunga apa yang paling banyak pada pesta perkawinanmu. Bukankah itu bunga yang paling disenangi wanita?’

‘Anyelir,’ teriak Nick senang karena bisa mengingat sesuatu.

‘Anyelir merah tua?’ tebak Sita, karena bunga itu bunga kesukaannya. Nick mengangguk. Mereka membeli dua ratus tangkai anyelir yang kemudian disusun oleh Sita dalam sebuah keranjang bambu.

Mereka naik becak menuju rumah Nina. Berbagai macam perasaan bergolak di hati keduanya. Bahagia, rindu, gelisah, was-was dan segala Nateam berbaur menjadi satu.

Becak yang mereka tumpangi berhenti pada sebuah rumah bercat putih bersih dengan halaman luas. Dari halamannya   saja Sita tahu kalau ibunya mencintai segala macam kembang karena halaman itu dipenuhi dengan bermacam-macam tanaman. Di halaman itu juga ada sebuah pohon sawo yang rimbun yang membuat suasana rumah itu kelihatan begitu damai. Nick membayar tukang becak dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa Indonesia. Sita heran.

‘Kamu bisa berbahasa Indonesia, Nick?’

‘Aku mahir, Sita. Nina yang mengajariku. Di rumah dulu bahasa yang kami pakai bahasa Indonesia jadi kalau kami sedang mengucapkan kata-kata romantis tak ada seorangpun yang tahu,’ jawab Nick berseloroh. Sita tersenyum.

‘Kamu bisa merayu, Nick? Kupikir kamu orang yang paling kaku si seluruh jagad ini,’ Nick tertawa.

‘Lihat saja nanti kalau sudah ketemu ibumu,’

Mereka berjalan menuju pintu. Nick menekan bel. Dua-duanya gelisah. Seorang wanita tua muncul, dia memandang Nick dan Sita berganti-ganti, Nick menyapa.

‘Nick? ‘tanya wanita tua itu setelah lama memandang keduanya. Nick mengangguk dan menciumnya. Ibu Nina. Nick pernah bertemu wanita ini tiga kali dalam hidupnya. Pertama ketika melamar Nina untuk menjadi istrinya. Kedua di Washington pada waktu perkawinannya dan ketiga pada waktu kelahiran Sita. Ibu Nina mengajak mereka berdua masuk setelah mencium cucunya dengan puas. Sesampai di dalam wanita itu berbicara panjang kepada Nick. Sita tak tahu apa yang mereka bicarakan. Dia melihat Nick berkali-kali mengangguk tapi kemudian Nick duduk dengan lemas. Wajahnya pucat pasi. Nafasnya turun naik tak teratur

‘Nick, ada apa? Katakan Nick. Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan,’ Sita berjongkok di depan lutut ayahnya. Nick memandang Sita lama dan dalam kemudian menutup matanya kembali. Kemudian dari sela-sela bibirnya yang pias terdengar bisikan.

‘Nina telah pergi, Sita. Dua bulan yang lalu. Ada tumor dalam otaknya,’                       Nick berbicara terpatah-patah. Sudah berkali-kali Nick mengabarkan berita kematian kepada sanak keluarga dari pasiennya yang tidak dapat tertolong tapi kali ini lehernya seakan tercekat. Yang meninggal bukan pasiennya sedang yang dikabarinya juga bukan seorang yang asing baginya. Yang meninggal adalah orang yang dalam waktu tujuh tahun selalu   dijumpainya setiap kali dia terbangun dari tidur di pagi hari, yang telah memberinya kasih yang tak pernah pupus dimakan aktu juga yang bayangannya tak pernah lepas dari hati dan pikirannya. Sedang yang harus dikabarinya adalah anaknya sendiri. Oh Tuhan kenapa ini harus terjadi.

Sita memandang ayahnya tak percaya kemudian kepada ibu Nina. Wanita tua itu mengangguk pelan. Sita terhuyung ke belakang. Matanya memandang nanar dan tubuhnya bergetar hebat kemudian dia menjerit.

‘Tidak! Tidak! Tidak mungkin mama pergi. Dia belum bertemu a… ‘dan dia roboh di lantai. Anyelir merah yang dibawanya tersebar di sekitar tubuhnya. Membuat suatu figura yang mengelilingi tubuhnya yang   putih bagaikan kapas. Kalau saja pemandangan itu bukan pemandangan duka maka tubuh Sita dan anyelir merah tua akan membuat pemandangan yang indah untuk dilihat.

Nick memandang anaknya yang pingsan tanpa berusaha untuk menolong. Aku tak berani membangunkanmu, Sita. Aku tak punya sesuatu yang dapat kuberikan kepadamu jika terbangun, bahkan sebuah mimpipun tidak. Aku yang melahirkanmu ke dunia ini dengan penuh harapan agar aku bisa membahagiakan hidupmu ternyata justru akulah yang menghancurkan kebahagiaanmu. Kalau saja aku tidak keras kepala, semuanya ini tidak harus terjadi.

Nick berjongkok di sisi tubuh anaknya, menyisihkan anyelir-anyelir yang berada di sekitar pipi anaknya dan kemudian dia membungkuk dan mencium pipi Sita yang dingin bagai batu marmer. Air matanya deras membasahi pipi anaknya. Hukumlah aku, Sita. Hukumlah aku yang seberat-beratnya ! Biar agak berkurang rasa berdosaku kepadamu dan kepada ibumu. Akulah laki-laki paling kejam di dunia ini. Hukumlah aku.

AkuTak Mau Pulang, Nick

Awan tebal menutup langit kota Yogya malam itu. Hanya ada beberapa bintang yang nampak. Yogyaku muram dan angin malam menyenandungkan lagu-lagu duka. Sita duduk di bawah pohon sawo sambil memandang jauh ke depan ke tempat tukang-tukang becak berkumpul di bawah tiang listrik yang muram cahayanya. Disampingnya Nick duduk memandang anaknya sendu.

‘Sita, kita harus segera pulang. Sekolah sudah mulai,’ bisik Nick lembut.

‘Aku tidak mau pulang, Nick. Di sinilah tempatku,’ jawab Sita lirih. Suaranya seakan datang dari alam lain. Nick mencari kata-kata yang tepat. ‘Sita, tidakkah kamu rindu kepada teman-temanmu d Clayton. Rindu pada Nate dan Sue?’ Sita terpana. Sekilas terbayang wajah Nate, Sue dan yang terakhir David yang duduk di atas punggung kuda yang sedang mengucapkan kata-kata cinta untuk dirinya. Kamu berjanji untuk mempertimbangkannya, Sita. Sita menggeleng.

‘Mama menghendaki kita untuk tinggal di sini, Nick. Dan aku akan menuruti keinginan mama.’

‘Aku tidak bisa, Sita. Bagaimana dengan Rumah Sakit?’

‘Sudah banyak dokter sekarang. Tapi kalau kamu memang ingin pulang, pulanglah, Nick. Aku akan tetap berada di sini,’ Sita berbicara tanpa emosi. Tidak seperti biasanya jika dia menginginkan kemauannya untuk dituruti.

‘Sita, kamu tahu aku sangat membutuhkanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu.

‘Aku telah hidup bersamamu selama enam belas tahun penuh. Sekarang giliranku untuk tinggal bersama Mama.’

‘Tapi Nina telah tiada.’

‘Ada pusaranya, Nick. Dan aku akan merawat pusara mama. Tak ada orang lain yang melakukannya, Nick.’   Nick terdiam. Tiba-tiba terdengar panggilan dari dalam

‘Sita.’

‘Dalem, eyang,’ jawab Sita dari luar dengan bahasa Jawa yang halus. Nick memandang anaknya takjub.

‘Sudah malam, nak, mau hujan lagi, masuklah nanti   sakit.’

‘Ya, eyang,’ jawab Sita. Dia berdiri kemudian menunduk mencium pipi Nick.

‘Selamat malam, Nick,’ Nick membalas ciuman Sita dan membiarkannya pergi.

Nick masih lama duduk di luar, mengamati awan hitam yang memuramkan suasana. Kamu telah berani melahirkan anakmu, Nick. Mengapa Kamu tak berani melakukan sesuatu untuknya? Apa yang akan kamu dapati di Clayton? Tak ada sesuatupun yang tersisa di sana untukmu, Nick. Jangan kau buat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya Nick. Akankah Kamu kehilangan anakmu untuk sesuatu yang tak kau ketahui.

Nick bangkit berjalan masuk dan berbisik di depan pintu kamar anaknya.

‘Aku selalu bersamamu, Sita.’

AkuTak Mau Pulang, Nick

TAMAT

Advertisements

Melintas Perbatasan (Bagian 2)


Melintas Perbatasan

         

Indi adalah mahasiswa terakhir yang datang di Auditorium pada Jum’at pagi.  Semuanya telah berada di dalam bis dan siap untuk berangkat.  Begitu dia masuk ke dalam bis, greyhound itu segera meluncur meninggalkan Auditorium tanpa menunggu Indi duduk terlebih dahulu.

‘Uuueet, setan gundul!’ umpat Indi dalam bahasa Indonesia ketika dia hampir terjerembab ke depan.

‘Tidak baik gadis mengumpat,’ tegur Kahar.  Indi nyengir mendengar kata-kata Kahar.  Tanpa berkomentar dia menuju ke bis bagian belakang karena dia melihat Tom ada di depan.  Dia sudah berjanji kepada Diane untuk menjauhi Tom sejauh-jauhnya.

Por favor,’ Juan mempersilahkan Indi duduk di sampingnya,  di kursi paling belakang  bersebelahan dengan toilet.

Gracias,’ jawab Indi sambil duduk.  Koper kecil yang dibawanya diletakkan di bawah kursinya.

Bis mereka meluncur cepat meninggalkan kota Kent menuju ke Interstate Highway yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.

Selama perjalanan itu Indi lebih banyak berdiam diri.  Dia memandang ke luar jendela ke hutan-hutan buatan di tepi jalan raya yang dibuat untuk mengurangi polusi.  Sesudah matanya lelah dia memejamkan matanya.  Juan yang duduk di sampingnya asyik membaca buku politik.  Dari gambar sampulnya Indi tahu kalau buku itu tentang politik Hugo Chavez di Venezuela.

Mauricio dan Manuel dua mahasiswa Brazil yang duduk di depan Indi mulai membawakan lagu-lagu Spanyolnya dengan iringan gitar yang ngawur.  Mula-mula bunyi gitar dan nyanyian mereka tidak begitu mengganggu Indi,  tetapi lama-kelamaan mengganggu juga.   Apalagi ditambah suara Luis yang ikut-ikutan menyanyi.

‘Hey, Brazil gila, kalau enggak becus nyanyi jangan nyanyi,’ teriak Indi sambil menggoyang-goyangkan kursi di depannya.  Mauricio bangkit dan menoleh kebelakang.  Diangkatnya gitarnya tinggi-tinggi dan berkata,

Si, senorita.  Will you play this guitar?’   Dia tersenyum menawan.  Giginya putih-putih dan rata.  Indi menggeleng.

‘Kalau aku yang memainkannya sudah pasti permainanku jauh lebih indah dari permainanmu.  Aku takut kamu menjadi minder.’   Yang mendengar perkataan Indi tertawa keras,  yang duduk di depan menoleh semua.

‘Omonganmu besar, tetapi kamu sebenarnya tidak bisa,’ olok Manuel dan Luis bersamaan.

‘Ha ha ha, kalian butuh bukti?  Berikan gitarmu, Mauricio,’ pinta Indi.  Mauricio mengulurkan gitarnya.  Juan berhenti membaca dan ikut nimbrung.

‘Oke apa yang kalian minta?’ tanya Indi dengan posisi siap untuk bermain gitar.’   ‘Barbacoa, burrito, carnita, enchiladas, quesadilas, tortillas, chimichangas atau guacamole?’ kata Indi  secepat kilat menyebutkan nama-nama makanan yang ada di dalam menu Salsalitas, restoran Mexico kegemarannya.  Karena yang ada di bagian belakang bis rata-rata mahasiswa dari Amerika Selatan dan Amerika Tengah,  maka tidak heran kalau tawa mereka meledak.  Tawa itulah yang mengundang mereka-mereka yang duduk di depan untuk bergabung di bagian belakang bis.

‘Indi, kamu mau menyanyi atau tidak?’ tanya mereka.

Oh, si,’ Indi mengiyakan.  Kemudian dia memetik gitar itu dengan jemari ahlinya.  Semuanya terpukau dan mereka lebih terpukau lagi ketika Indi mulai menyanyikan syair Bésame Mucho dengan gaya jazz  tanpa cela.

Bésame, bésame mucho
Como si fuera esta noche
La última vez
 
Bésame, bésame mucho
Que tengo miedo a perderte
Perderte después
 
Quiero tenerte muy cerca
Mirarme en tus ojos
Verte junto a mi
Piensa que tal ves mañana
Yo ya estaré lejos
Muy lejos de ti

Tepukan hangat terdengar ketika Indi menyelesaikan lagu itu.

Gracias.  Gracias,’ ucap Indi sambil membungkuk.   Tiba-tiba Luis berseru nyaring,

‘Tom, kamu dengar permintaan Indi barusan?  Besame Mucho! Kiss me much!.’  Indi kaget bukan main.  Dengan perbendaharaan bahasa Spanyolnya yang minim dia  mencoba menerjemahkan lagu itu di dalam kepalanya.  Kira-kira isinya seperti ini.

Cium aku, terus cium aku
Seakan malam ini,
malam terakhir kita
 
Cium aku, terus cium aku
Aku takut kehilanganmu,
Kehilanganmu lagi
 
Aku ingin bersamamu
Menatap matamu
Berada di sampingmu
Mungkin besok 
Aku akan jauh darimu
Sangat jauh darimu

 Mengapa aku harus menyanyikan lagu yang merana seperti itu, sesal Indi dalam hati.  Teman-temannya tertawa senang.  Oh, besame mucho…  Ciumi aku! Indi malu sekali.  Semua darahnya seakan mengalir ke wajahnya.  Tawa Luis makin menjadi-jadi.   Indi hanya bisa memandang Luis gusar.   Tiba-tiba mata Indi bertubrukan dengan mata Tom yang entah sejak kapan berdiri tepat di belakang Luis.  Tom melemparkan senyum jenaka.  Indi menggigit bibir bawahnya.  Dongkol.

‘Ayo, Indi nyanyi lagi!’ pinta Cecil.

‘Ogah,’ jawab Indi.

‘Kok ngambek,’ ucap Antonio.  Tapi Indi tetap tidak mau menyanyi lagi.  Gitar kemudian dia serahkan kepada Hans yang kemudian mengiringi teman-teamannya bernyanyi.

Melintas Perbatasan

Tanpa terasa mereka telah memasuki kota Cleveland dan bis berhenti di tempat peristirahatan milik Greyhound dimana disitu terdapat beberapa rumah makan, toko kue, toko buku dan toko souvenir.

Semua orang turun dengan bergegas maklum perut sudah berteriak minta diisi.  Indi melihat Tom turun lebih dahulu bersama Ursula dan Nibia.  Indi juga melihat Luis, Antonio, Mauricio dan Manuel berjalan menuju arah yang berlawanan dengan Tom yaitu menuju ke sebuah bangsal yang menyediakan makanan-makanan dalam mesin.

‘Hei, Luis,  tunggu!’ teriak Indi sambil menyusul Luis.

‘Mau kemana?’ tanya Indi setelah dekat dengan mereka.

‘Mau beli rokok dulu,’ Antonio yang mendahului menjawab.

‘Berikan uangmu padaku, nanti kuambilkan,’  kata Indi sambil tersenyum misterius.

‘Ayo, Tonino, berikan uangmu padaku.  Aku senang bermain-main dengan mesin rokok,’  bujuk Indi.  Antonio memberikan uang 5 dollar  yang tadi digenggamnya dengan ragu.  Indi memainkan uang tersebut.  Setelah dekat dengan sebuah mesin rokok di sudut bangsal Indi bertanya,

‘Rokok apa?’

‘Winston,’ jawab Luis.

‘Berapa bungkus?’ tanya Indi.  Semua memandang Indi dengan heran.

‘Berapa?’

‘Indi, uangnya hanya cukup untuk satu bungkus,’ Luis menerangkan.

‘Jadi kalian cuma ingin satu bungkus?  Cuma satu bungkus?’  kata Indi kemudian yang membuat teman-temannya makin keheranan.  Dengan pasti Indi memasukkan uang 5 dollar  tadi ke dalam mesin rokok.  Kemudian dia menekan tombol Winston untuk mengeluarkan rokok pilihannya dengan cepat sambil kaki kanannya menendang pojok mesin bagian bawah dengan keras sekali.

‘Plok…  Plok…  Plok…’  tiga bungkus rokok Winston berjatuhan dari mesin itu.  Teman-temannya terpaku.  Mereka memandang berganti-ganti dari Indi ke tiga bungkus rokok yang tersebar di bawah mereka.

‘Bagaiman kau bisa melakukannya?’ tanya Maurucio setelah reda kekagetannya.

‘Cepat ambil rokoknya,’ perintah Indi.  Teman-temannya segera memunguti rokok tersebut dan dimasukkan ke dalam jacket.

‘Indi, bagaimana kau melakukannya?’ tanya Mauricio yang merasa belum mendapatkan jawaban Indi.  Indi tidak menjawab, saat itu dia melihat Tom memasuki aula.

‘Indi, Nibia membutuhkan bantuanmu,’ ucap Tom.

‘Oke, aku segera kesana,’ sahut Indi agar Tom meninggalkannya.

‘Itu tadi rahasia kita, jangan bocorkan kepada siapapun,’ pesan Indi kepada teman-temannya.  Kemudian dia meninggalkan mereka untuk berjalan bersama Tom menuju rumah makan.  Yang ditinggalkan hanya mampu berpandang-pandangan dan mengangkat bahu.

Melintas Perbatasan

Indi sedang menurunkan kopernya untuk dibawa ke kamarnya ketika Ursula menghadangnya.

‘Tidak keberatan bila sekamar denganku, Indi?’ tanyanya.

‘Aku sudah berjanji untuk sekamar dengan Claudia, coba kamu bicara dengannya mungkin dia mau bertukar tempat,’ saran Indi.  Pasti ada sesuatu yang ingin dikatakannya kepadaku, pikir Indi.  Tom?  Ya,  pasti tentang Tom.

Ternyata Claudia tidak keberatan untuk bertukar tempat sehingga Indi terpaksa harus tidur sekamar dengan Ursula.  Dia merasa yakin kalau Ursula ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi Ursula kelihatan bimbang.  Sampai mereka akan tidur, Ursula belum berkata apa-apa.

‘Urs, ada yang ingin kamu sampaikan kepadaku?’ tanya Indi hati-hati.

‘Yap,’ jawab Ursula cepat sambil bangkit dari tidurnya.  Dimatikan rokok yang sedari tadi dipegangnya dan berjalan tidak menentu.

‘Katakanlah,’ ucap Indi sambil memperbaiki duduknya.  Ursula ragu-ragu.

‘Aku membencimu, Indi,’ katanya tiba-tiba.

‘Benci sekali!’  Indi kaget setengah mati mendengar pengakuan itu tetapi dia berusaha untuk tetap tenang.

‘Mengapa kamu membenciku?’ tanya Indi setelah terlebih dahulu membasahi bibirnya yang tiba-tiba kering.

‘Karena kamu memiliki semua yang tidak kumiliki,’ jawab Ursula parau.  Indi memandangnya tidak mengerti.

‘Aku tidak akan membencimu jika semua kelebihanmu  itu tidak kamu gunakan untuk menyerang dan menghancurkanku,’ lanjut Ursula.

‘Urs, aku tidak tahu apa maksudmu dan kelebihan apa yang kamu bicarakan itu?’

‘Kamu tahu semua itu dengan pasti,’ sela Ursula ketus.’

‘Kamu tahu dirimu cantik, pandai, pintar bergaul, populer.  Kamu tahu semua keinginanmu bisa terpenuhi dengan kelebihan-kelebihan yang kamu miliki itu.  Kamu dicintai semua orang, tak seorangpun pernah membencimu, tetapi kini aku membencimu persis kebencian seribu orang dijadikan satu.’   Indi terpana, dia tidak menyangka kalau Ursula yang lembut itu akan memberondonginya dengan kata-kata pedas seperti itu. Hatinya tiba-tiba menjadi pilu.

‘Kamu bisa bergaul dengan siapa saja, menyakiti hati siapa saja tetapi kamu masih akan tetap dicintai.  Sedang aku sekuat tenaga berusaha untuk mendapatkan cinta seorang, kau dengar, Indi, hanya seorang pria tetapi aku tidak pernah mendapatkannya.  Dan ketika aku hampir berhasil, kamu mencegahnya dengan paksa.’

‘Urs, kalau Tom yang kamu maksudkan, maafkan aku.   Aku tidak punya maksud untuk menghancurkan hubungan kalian.  Demi Tuhan, aku tidak tahu kalau kedatanganku ke apartemennya tempo hari merusak segalanya.’

‘Kamu tidak tahu?’ potong Ursula sinis.  ‘Omong kosong.  Kamu memang sengaja datang.  Kamu tahu dia sangat mencintaimu dan akan melakukan apa saja untukmu dan kau gunakan hal itu untuk mempermainkan dirinya.’

‘Ursula, hentikan itu…’   pinta Indi lirih.

‘Tidak!’ bantah Ursula keras kepala.  ’Sudah lama aku ingin mengatakan apa yang ada di otakku tentang dirimu.  Kamu lebih jahat dari seorang pelacur.  Seorang pelacur akan memberikan cintanya kepada orang banyak tanpa mengharapkan balasan cinta.  Sedang kamu…  Kamu tidak puas hanya memperoleh beberapa cinta.   Kamu mengharapkan beribu cinta tanpa sekalipun kamu pernah memberi.  Seharusnya kamu malu pada dirimu sendiri.’

‘Hentikan itu !’suara Indi serak.  Dadanya turun naik tak teratur.  Sakit hati dan tersinggung.  Sebutir air mata menggelintir di pipinya.  Sejenak Ursula terpana melihat gadis yang dianggapnya begitu kuat itu menangis.

‘Mengapa tak kau biarkan Tom mencintaiku, Indi?  Kamu dengan mudah bisa mendapatkan gantinya,’ kata Ursula.

‘Kamu salah, Urs, Kamu salah.’

‘Karena mencintai laki-laki yang sedang kamu jadikan objek permainanmu?’ tanya Ursula tanpa perasaan.

‘Ursula, hentikan tuduhanmu,’ pinta Indi memelas. ‘Hentikan tuduhanmu!  Kamu boleh membenciku, tapi dengar dulu apa yang akan kukatakan.’

‘Tidak perlu membela diri, Indi sayang.  Mengapa kamu begitu ketakutan bila kubenci?’

‘Ursula Kessler, hentikan!’ bentak Indi.  Ursula kaget mendengar bentakan Indi yang tiba-tiba itu.

‘Dengar baik-baik, Urs.  Kamu ingin aku berkata jujur kepadamu? Akan kukatakan.  Aku mencintai Tom, sangat mencintainya dan aku juga membutuhkannya,’ ungkap Indi.  Ursula tertegun.

‘Tetapi mengapa kamu mempermainkannya?’ bisik Ursula.

‘Aku tidak mempermainkan Tom.  Walaupun aku sangat membutuhkannya, tapi aku juga membutuhkan diriku sendiri,’ jawab Indi dengan air mata berlinang.  ’Lebih dari delapan belas tahun aku menjadi boneka orang lain, sekarang aku ingin menjadi diriku sendiri.  Menjadi Indi yang utuh.  Tidak seorangpun kuijinkan mempengaruhi diriku, tidak Tom, tidak kau dan tidak siapapun,’ lanjut Indi dengan bisikan.  Ursula terdiam.  Keinginannya untuk mengalahkan Indi menguap entah kemana

‘Sejak aku dilahirkan aku telah menjadi milik orang lain.  Milik orang tuaku.  Mereka telah memilihkan kehidupan untukku, kehidupan yang mereka nilai paling baik untukku,’ kata Indi dengan suara sumbang.  ’Aku adalah anak tunggal dari seorang bangsawan.  Bangsawan, Urs.  Ada nama kebangsawanan di depan namaku.  Oh alangkah menterengnya istilah itu.  Sejak kecil aku sudah dididik untuk menjadi seorang putri.  Tingkah lakuku sudah disiapkan polanya, tinggal aku menurutinya.  Tidak sulit.  Aku tidak boleh tertawa terbahak.  Aku tidak boleh menentang perkataan ayah bundaku.  Aku harus menunduk bila berhadapan dengan mereka.  Ucapan-ucapanku harus lemah lembut.’   Tiba-tiba Indi tertawa.  Suatu tawa getir yang berisi sejuta duka.  Ursula tertegun.  Dia kini berhadapan dengan seorang gadis yang lain.  Bukan gadis yang selama ini diirikannya.

‘Dan aku memang gadis yang lembut dan patuh,’ lanjut Indi.  ’Aku mengerti apa yang mereka tuntut dariku.  Aku kerjakan apa yang mereka inginkan, tanpa pernah menggerutu, karena memang begitulah seharusnya sikap anak seorang ningrat.  Aku adalah anak kebanggaan yang tidak pernah mengumpat.  Tutur kataku manis.  Aku penurut, sebegitu penurut.  Percayakah Kamu selama delapan belas tahun tak pernah sekalipun aku membantah perkataan orang tuaku?  Bahkan aku tidak membantah ketika orang tuaku menjodohkanku dengan anak salah seorang teman ayah yang juga masih berdarah biru.  Kuanggap perjodohan itu memang merupakan jalan hidupku.  Aku pasrah.  Aku percaya orang tuaku telah memilih suatu kehidupan yang terbaik bagiku bukankah aku adalah boneka mereka? Dan aku akan tetap menjadi boneka mereka bila saja peristiwa itu tidak terjadi.  Peristiwa yang telah merubah seluruh jalan hidupku.’   Indi berhenti sejenak’.  Air matanya mulai berjatuhan.

‘Sejak dini aku sudah dipersiapkan untuk menjadi istri seorang ningrat.  Pergaulanku sudah pula ditentukan.  Akupun tidak mengecewakan harapan mereka.  Hari pernikahanku ditentukan.  Perkawinan yang megah, Urs, karena kedua orang tua kami adalah orang-orang yang terpandang di kotaku.  Dua ribu undangan telah dibagikan.  Pakaian pengantin telah siap.  Rumah serta gedung pertemuan sudah dihias.

Tetapi apa yang terjadi…?  Sehari sebelum perkawinan dilangsungkan, saat di rumahku sedang ada acara siraman, bridal shower kalau orang Amerika menyebutnya, laki-laki itu menghilang.’   Butiran-butiran mutiara mulai berjatuhan dari kedua mata Indi dan Ursula.  Tubuh Indi terguncang menahan emosi yang meledak-ledak di dadanya.

‘Dia menghilang tanpa seorangpun tahu dimana dia berada.  Yang dia tinggalkan hanya sehelai kertas dengan tulisan ’Aku tidak sudi kawin dengan gadis yang tidak kucintai.’   Dan gadis itu adalah aku…  Aku yang selalu manis dan menurut.  Aku yang tak pernah berkata kasar dan menyakiti hati orang.’

‘Indi…’   panggil Ursula sambil pindah ke tempat tidur Indi.  Dia tidak ingin Indi meneruskan kisahnya.

‘Kau bayangkan bagaimana hebohnya keluargaku.  Mereka sudah tidak sempat lagi untuk membatalkan undangan.  Hingga ketika tamu-tamu yang diundang datang ke resepsi yang mereka jumpai hanyalah orangtua pengantin wanita yang linglung.  Aku benar-benar terpukul dan sakit hati.  Aku mengalami tekanan jiwa dan tekanan jiwaku memuncak ketika surat kabar lokal memuat kisah cintaku yang gagal.  Semua orang mengelu-elukan laki-laki yang telah meninggalkanku sebagai seorang pahlawan yang telah berani mendobrak tradisi lama.  Tetapi mengapa dia tidak pernah mengatakan bahwa dia tak mau dikawinkan denganku sebelum semuanya begitu terlambat? Mengapa dia begitu pengecut?  Kalau saja waktu itu aku sudah seperti aku yang sekarang ini, aku tidak akan peduli.  Tetapi waktu itu umurku baru delapan belas tahun dan belum pernah mengalami kesulitan hidup.’

‘Indi, jangan kau teruskan,’ pinta Ursula ketika melihat Indi begitu tersiksa dalam mengisahkan ceritanya.

‘Tidak, kamu harus mengetahuinya.  Lebih dari empat bulan aku dirawat di rumah sakit jiwa.  Si Indi yang manis dan penurut, mengalami depresi berat dan telah menjadi gila.  Ketika aku keluar dari rumah sakit itu, tak ada lagi kehidupan yang tersisa untukku.  Semua orang, termasuk orang tua yang selalu kujunjung tinggi menganggapku tidak waras.  Maka kuputuskan diriku untuk menjadi gila lagi.  Aku mengeluarkan tuntutan kepada orang tuaku untuk mengirimku ke Amerika Serikat.  Tentu saja aku ditertawakan.  Apa yang akan dilakukan seorang gadis gila di Amerika? Aku nekat.  Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku melawan perkataan orang tuaku, orang yang menatap matanyapun aku tidak berani.  Kuambil sebilah keris pusaka keluarga dan siap untuk melakukan bunuh diri bila permintaanku tidak dituruti.  Aku menang.  Tuntutan kedua kukeluarkan, aku tidak ingin seorangpun mengikuti kepergianku.’  Indi menghela nafas panjang.

‘Sejak itulah aku terbebas dari tangan orang-orang yang memproklamirkan diri bahwa mereka mencintaiku.  Aku bebas yang sebebas-bebasnya, karena sejak itu aku tidak pernah mengatakan dimana aku sesungguhnya berada.  Itulah sebabnya aku tidak pernah menerima sepucuk suratpun dari Indonesia.  Ingin kubuktikan bahwa aku mampu berdiri sendiri.  Semua predikat yang melekat padaku kubuang.  Aku mulai banyak omong, sifat pendiamku hilang.  Aku tidak mau mendengarkan perkataan orang lain.  Mengerjakan apa yang ingin kukerjakan:  jadi pelayan restaurant, ikut perkumpulan tari, belajar gitar dan bergaul dengan siapa saja yang kukehendaki.  Hidupku adalah mutlak milikku.  Indi yang penurut dan manis telah mati, yang ada kini hanyalah Indi yang gila.  Indi yang gila. Indi yang lebih buruk dari pelacur.  Indi yang kau benci.’ Indi mengakhiri ceritanya.  Dia masih menangis sesenggukan, Ursula memeluknya berusaha untuk memberinya ketenangan.

‘Indi, maafkan aku,’ bisik Ursula tersendat-sendat.

‘Aku memang gila, gumam Indi.

‘Tidak, Indi.  Kamu masih tetap Indi yang manis.  Aku tidak pernah membencimu,’ kata Ursula sambil mempererat pelukannya.

‘Aku tidak pernah menceritakan kisahku ini kepada siapapun.  Tidak kepada Diane yang selama tiga tahun sekamar denganku.  Aku ingin mengubur kenangan buruk ini selama-lamanya, tetapi kamu paksa aku untuk mengingatnya kembali? Mengapa, Urs?’ tanya Indi dengan isaknya.  Ursula membelai rambut Indi.

‘Maafkan aku yang egois ini Indi,’ bisiknya lirih.  Indi menarik nafas panjang sambil melepaskan diri dari pelukan Ursula.

‘Maafkan aku hingga kehilangan kontrol,’ kata Indi pelan. ’Aku memang ingin menceritakan hal ini kepadamu agar kamu tahu aku tidak pernah berniat untuk mempermainkan Tom.  Aku mencintai Tom dan membutuhkannya.  Dialah satu-satunya laki-laki yang pernah kucinta.  Betapa aku membutuhkannya, tetapi aku juga membutuhkan diriku sendiri.  Aku takut akan kehilangan diriku yang baru kutemukan tiga tahun yang lalu.  Semakin aku akrab dengan Tom, semakin aku kehilangan jati diriku.  Aku takut, aku hanya akan menjadi bayang-bayang Tom.  Gadis Tom’

‘Indi, Tom akan mengerti,’ bisik Ursula lembut.  Nada ketus dalam ucapan-ucapannya telah tiada.  Indi menggeleng lemah.

‘Urs,  aku ngantuk,’ kata Indi.  Dia benar-benar lelah.

‘Tidurlah,’ kata Ursula sambil membantu Indi membaringkan diri.  Indi nampak begitu lemah dan tak berdaya.  Sekejab saja dia telah terlelap.  Ursula menyelimutinya.  Dipandangnya gadis yang terbaring di hadapannya dengan tatapan iba.

Penderitaanmu jauh lebih besar dari penderitaanku, Indi.  Mengapa kau tanggung duka sebesar itu seorang diri? Dan mengapa pula aku sempat mengirikan kebahagiaan yang baru sesaat kautemukan? Mengapa aku tidak pernah curiga bila kadang aku melihatmu tiba-tiba merenung di tengah candamu? Mengapa aku tidak pernah curiga bila melihat pandangan matamu kadang-kadang kosong dan jauh?

‘Indi, mengapa kau simpan deritamu sendiri?’ bisik Ursula sambil mencium pipi Indi yang masih basah oleh air mata.

 Melintas Perbatasan

Polisi perbatasan itu memeriksa pasport Indi lama sekali.  Berkali-kali halaman-halaman pasport itu dibolak-balik.

‘Dari Indonesia?’ tanya petugas imigrasi Canada itu untuk meyakinkan.

‘Ya,’  jawab Indi heran karena toh di pasport itu sudah jelas tertulis.

Would you follow me, please?’

‘Kemana?’ tanya Indi makin heran.  Semua paspor teman-temannya sudah diperiksa dan dicap yang berarti mereka diijinkan untuk memasuki Canada tanpa kesulitan apapun.

‘Ke kantor.’

‘Untuk apa?’ tanya Indi lagi tetapi petugas itu sudah berjalan mendahuluinya dengan membawa pasport Indi serta.  Indi berpandang-pandangan dengan teman-temannya tidak mengerti.

‘Ketahuan kalau kamu nyolong rokok kemarin,’ komentar Luis.  Indi mendelikkan matanya kemudian mengejar petugas perbatasan tadi.  Di belakangnya Tom membuntutinya.

‘Ada apa, Indi?’ tanya Tom yang berhasil menyusul Indi.

‘Aku tidak tahu,’ jawab Indi.  Beberapa saat kemudian mereka disuruh masuk ke kantor komandan perbatasan dan disilahkan duduk.

‘Miss Indi Irawan?’ tanya sang komandan yang berambut botak.  Indi mengangguk.  ‘Anda memerlukan visa untuk masuk ke Canada.’

‘Visa?’ tanya Indi dan Tom bersama-sama.  Ganti si kepala botak yang mengangguk.

‘Sebelum kami berangkat kemari, saya telah mengubungi Kedutaan Besar Canada di Buffalo dan saya mendapatkan informasi bahwa kami tidak memerlukan visa untuk kunjungan sehari di Jackson Port,’ kali ini Tom yang menjelaskan.

‘Saya yakin anda tidak menyebutkan dari mana teman-teman anda itu berasal,’ kata si komandan perbatasan.

‘Apa bedanya?’ tanya Indi setelah melihat Tom terdiam mendengar kata-kata kepala perbatasan tadi.

‘Ada negara-negara, termasuk di dalamnya Indonesia, dimana setiap warganya untuk masuk ke Canada harus memiliki visa.’

‘Tetapi mengapa Anda mengijinkan Kahar yang dari Malaysia, Gil dari Filipina dan Wiwan dari Thailand untuk memasuki wilayah anda padahal kami sama-sama dari Asia Tenggara?’

‘Teman Malaysia Anda, warga Singapore dan dua teman Anda yang dari Filipina dan Thailand Mereka memiliki visa.  Mereka sudah pernah berkunjung sebelumnya’   jawab komandan perbatasan itu singkat.  Indi terdiam.  Mengapa dia tidak mempunyai informasi penting seperti ini.

‘Jadi saya tidak diijinkan memasuki Canada?’

‘Nona akan kami ijinkan bila nona memiliki visa.  Anda bisa mengurus visa anda di Buffalo.’

‘Buffalo?’ Berapa jam kami harus pergi kesana? 10 jam pulang balik paling sedikit, padahal kami hanya akan berada di Jackson Port untuk beberapa jam saja,’ sanggah Tom.

‘Maaf, anak muda.  Peraturannya seperti itu.’   Indi benar-benar mendongkol mendengar perkataan itu.

‘Disini tidak bisa menerbitkan visa on arrival?’ kerjar Tom lagi.  Sang komandan menggelengkan kepalanya.

‘Bagaimana jika saya memaksa masuk?’.  Apakah saya akan diberondong dengan tembakan peluru?’ tanya Indi seenaknya.  Komandan perbatasan itu terpana mendengar perkataan Indi.

‘Nona, ketahuilah, saya sendiri menyesal harus melarang nona masuk.  Tetapi memang inilah hukum yang berlaku dan mungkin saya harus melakukan seperti apa yang baru saja nona ucapkan.’

‘Oke, terimakasih,’ kata Indi tenang sambil mengambil pasportnya dan berjalan keluar.  Tom masih berusaha meyakinkan komandan bahwa dia akan bertanggung jawab terhadap semuanya bila Indi diijinkan masuk.  Tidak berhasil.

‘Tidak ada jalan lain, kita ke Buffalo dulu,’ kata Tom pada Indi di luar kantor komandan perbatasan.  Indi menggeleng.

‘Ada jalan yang lebih baik,’ ucapnya.’Kalian pergi saja ke Jackson Port dan tinggalkan aku disini.’

‘Indi…’   Tom tidak menyetujui gagasan Indi.

‘Tom, hanya itu satu-satunya jalan.  Kita sudah tidak punya waktu lagi untuk ke Buffalo.  Kasihan anak-anak yang lain.’

‘Bagaimana dengan dirimu?’

‘Aku tidak apa-apa.  Aku akan menunggu kalian disini.’

‘Baiklah.  Aku akan menemanimu.’

‘Tidak.’   Potong Indi cepat.’   Kamu adalah ketua rombongan, kamu harus ikut mereka.’

‘Indi aku tidak bisa meninggalkanmu seorang diri.’

‘Kamu harus pergi.’   Kata Indi pendek.  Kemudian mereka masuk ke dalam bis lagi membicarakan hal tersebut.  Teman-teman Indi memutuskan untuk pergi ke Buffalo dulu.  Tetapi dengan tegas Indi menolak keputusan itu.

‘Mengapa kalian tidak mau meninggalkan aku disini? Percayalah aku tidak apa-apa.  Aku bisa pergi ke Canada di lain waktu.’

‘Indi, kita telah pergi bersama, kita…’   kata Nibia.

‘Omong kosong,’ potong Indi.’   Kalau kalian tidak tega meninggalkan aku disini bawalah aku ke Perbatasan Amerika Serikat.  Aku akan menunggu disana, oke?’

‘Kurasa Indi benar.  Itu jalan yang terbaik bagi kita,’ kata Ursula menengahi.  Semua orang memandang Ursula heran, tetapi Indi tersenyum.  Dalam senyumnya itu ia ingin mengatakan terimakasih.

 Akhirnya mereka membawa Indi ke perbatasan Amerika Serikat, kira-kira dua kilometer dari perbatasan Canada.

‘Jaga dirimu baik-baik,’ pesan Tom sebelum dia naik ke dalam bis kembali.  Di tepuknya pipi Indi dua kali sambil menatap mesra.  Indi mengangguk kemudian memandang bis itu pelan-pelan meninggalkan dirinya.

Setelah bis itu tak tampak lagi Indi memasuki kantor perbatasan.  Seorang polisi berkulit hitam menegurnya.

‘Bukankah kamu tadi bersama rombongan mahasisiwa Kent?’

‘Ya,’ jawab Indi.  ’Mereka tidak mengijinkanku ke Canada.’

‘Hanya kau sendiri yang tidak diijinkan masuk?’

‘Ya.  Mungkin aku memiliki tampang terorrist,’ jawab Indi kesal.

‘Dari negara mana kamu?’ tanya polisi itu lagi.

‘Indonesia.’

‘Indonesia? Bagaimana hubungan politik negaramu dengan Canada?’ Indi menggeleng.  Dia sama sekali tidak tahu tentang itu.

‘He, ayo duduk disana.  Namaku Joe, kita bisa ngobrol-ngobrol,’ ajak polisi hitam itu kepada Indi.  Indi menyebutkan namanya sendiri dan berjalan mengikuti Joe ke sebuah ruang yang terdapat beberapa pesawat televisi yang memonitori kegiatan jalan raya dan perbatasan.  Indi dikenalkan pada petugas-petugas perbatasan yang ada yang semuanya ramah-ramah.  Kemudian Indi mulai tertarik untuk ikut mengawasi pesawat televisi yang ada disana.  Tiba-tiba dalam pesawat itu tampak dua orang pengendara sepeda motor yang dihentikan oleh seorang petugas.  Mereka disuruh mengangkat tangan dan di geledah.

‘Kalian apriori terhadap pengendara sepeda motor,’ kata Indi.  Letnan Blake, komandan perbatasan tersenyum mendengar komentar itu.

‘Mengapa kamu berpikiran macam itu?’ tanyanya.

‘Di setiap highway, bila ada pengendara sepeda motor, maka sudah dapat dipastikan sopir-sopir truck akan memepetnya terus.’   Letnan Blake tertawa mendengar jawaban Indi.  Indi melihat petugas perbatasan sepeda motor itu mengeluarkan bungkusan kecil dari saku jacket salah satu pengendara.

‘Apa itu?’ tanya Indi.

‘George, nona muda ini ingin tahu apa yang kamu temukan?’ tanya Letnan Blake melalui interkom.  Yang dipanggil menghadapkan wajahnya ke kamera.

‘Apalagi?  Pot,’ jawabnya.

‘Kau dengar? Ganja.  Itulah sebabnya kami apriori terhadap mereka,’ kata Letnan Blake.  Untung kamu tidak tinggal di Yogya.  Di Yogya semua orang naik sepeda motor,   pikir Indi.  Letnan Blake kemudian meninggalkan ruang itu untuk mengadakan pemeriksaan terhadap dua orang pemuda tadi.

Setelah selesai melakukan pemeriksaan Letnan Blake kembali lagi menghampiri Indi.

‘Indi, apa cita-citamu?’ tanyanya mengejutkan.

‘Jadi presiden,’ jawab Indi ngawur.  Yang mendengar jawabannya tertawa.

‘Presiden punya hak untuk mengumumkan perang.  Bila aku jadi presiden maka pertama kali yang kulakukan adalah mengumumkan perang kepada Canada, karena pernah tidak mengijinkan aku masuk ke wilayahnya,’ sambung Indi.  Tawa mereka makin riuh.

‘Kamu berani menyelundup?’ bisik Letnan Blake.  Indi membelalakkan matanya.  ’Aku tahu kamu berani.  Aku akan membantumu menyelundup ke Canada.  Joe Kamu juga akan membantu?’ sambungnya.  Joe mengangguk mantap.  Indi ternganga.

‘Bagaimana bila tertangkap?’ tanya Indi mulai bimbang.

‘Dua bulan penjara atau ketembak peluru.  Tapi aku yakin kamu tidak akan tertangkap.  Kalau toh kamu tertangkap akan kusediakan seorang pengacara hebat untukmu.’

Setelah lama mempertimbangkan, akhirnya Indi menyetujui rencana gila itu.  Dia dan Joe akan menyelundup lewat danau Erie.  Mereka akan dinanti oleh Letnan Blake di daratan Canada yang akan mengantar Indi ke Jackson Port.

Perahu patroli yang membawa Indi dan Joe meluncur cepat di atas air.  Indi meluncur cepat di atas air.  Indi benar-benar gelisah.  Berkali-kali dia duduk dan berdiri tak menentu.  Joe tersenyum melihat tingkah Indi.

‘Relaks, Indi.’

‘Bagaimana aku bisa relaks kalau setiap saat peluru bisa bersarang di tubuhku.’

‘Jadi presiden juga diancam peluru terus,’ goda Joe.

‘Itu kalau di Amerika,’ bantah Indi.  Di Indonesia presiden dicintai rakyatnya, tak seorangpun yang berniat untuk membunuhnya.’

Akhirnya perahu mereka mendarat di sebuah dermaga tanpa mengalami kesulitan sedikitpun.  Indi gembira melihat Letnan Blake yang telah menantinya.  Kemudian dia dibawa ke Jackson dengan mengendarai sebuah mobil sport tanpa atap.

Melintas Perbatasan

‘Indi, apa yang kau lakukan disini?’ Bagaimana Kamu bisa sampai kemari?’ tanya Tom yang melihat kehadiran Indi di Jackson Port.  Sama sekali tidak ada nada gembira di dalam ucapannya.

‘Menyelundup,’ jawab Indi tenang.

 ‘Indi, jangan main-main!’ Tom memperingatkan.

‘Aku tidak main-main.  Mereka tidak mengijinkan aku masuk secara baik-baik maka terpaksa kulakukan jalan ini.’

‘Kamu tahu apa akibatnya?’ tanya Tom setengah marah.

‘Dua bulan penjara kalau tertangkap.’

‘Indi, berhentilah bercanda,’ tegur Tom.

‘Apa yang harus kukatakan kepadamu?  Kamu ingin aku mengatakan bahwa aku tidak menyelundup padahal iya.’

‘Kapan kamu mau merubah sikap kekanak-kanakanmu?’ tanya Tom ‘Kamu tahu apa yang kau lakukan sangat berbahaya.  Tidak hanya bagimu tapi juga untuk kita semua.  Indi, mulailah memikirkan orang lain, jangan kamu turuti kehendakmu saja,’ tegur Tom marah.

‘Jangan kuatir, Tom, hanya akulah satu-satunya orang yang akan menanggung semua resikonya.  Aku menyelundup atas prakarsaku sendiri,’ sahut Indi ketus.

‘Bagaimana kalau kamu tertangkap?  Kamu kira kami akan tega membiarkanmu meringkuk di penjara tanpa mengusahakan sesuatupun? Berhentilah menyusahkan orang lain.  Aku benar-benar tidak mengerti dirimu.  Hanya orang yang tidak waras yang melakukan hal-hal seperti yang kamu lakukan,’ kata Tom tambah marah.  Indi tercenung dan tersinggung disamakan dengan orang yang tidak waras.

‘Aku tidak bakalan menyusahkan orang lain.  Kalau aku harus masuk penjara jangan kamu takut.  Aku tidak akan berteriak-teriak minta tolong, dan kalau toh aku harus berteriak-teriak minta tolong sudah dapat kupastikan bukan namamu yang akan kusebut,’ ucap Indi sambil meninggalkan Tom.  Tom memandang dia termangu, yang dipandang tenang-tenang saja melenggang mendekati teman-temannya yang lain dan mulai bercanda dengan riuh.

Kalau Indi nampak tidak terpengaruh atas pertengkaran yang baru saja terjadi, hal itu karena dia terlalu pandai bersandiwara.  Sebenarnya dia merasa terluka dengan pertengkaran tersebut.

Tom secara tidak langsung telah mengatakan kalau aku gila, pikir Indi gundah.  Dari mana dia tahu hal itu? Tidak ada orang lain yang tahu kecuali Ursula.  Apakah Ursula menceritakan kepada Tom kalau aku pernah gila?

Kemudian Indi memisahkan diri dari teman-temannya dan berjalan menyusur pantai dengan kepala menunduk.  Selang beberapa saat kemudian dia menuju ke sebuah stand minuman menemui Letnan Blake.

‘Kurasa Canada tidak begitu ramah padaku,’ kata Indi.

‘Hei.  ada apa?’ tanya Letnan Blake sambil memandang gadis di depannya yang tampak murung bertolak belakang dengan waktu berangkatnya.

‘Aku ingin pulang,’ kata Indi jujur.

‘Pulang?’ tanya Letnan Blake tidak percaya.

‘Teman-temanmu kelihatannya belum berniat untuk pulang.’

‘Aku lebih senang menanti mereka di perbatasan.’

‘Kamu sungguh-sungguh?  Bukan hanya karena kamu merasa sungkan karena kutunggui?’ tanya letnan Blake.  Indi menggeleng.  Letnan Blake kemudian bangkit dari tempat duduknya.  Sesudah Indi berpesan kepada Kahar bahwa dia akan menanti di perbatasan, mereka lalu meninggalkan Jackson Port.

 Selama perjalanan itu Indi lebih banyak berdiam diri dan Letnan Blakepun segan untuk mengusik ketenangan Indi.  Indi masih memikirkan ucapan-ucapan Tom kepadanya.  Selamanya Tom tidak pernah berkata sekeras itu kepadaku, pikirnya.  Mengapa tadi malam aku harus menceritakan kisah hidupku kepada Ursula.  Sekejab saja pasti semua orang akan tahu kalau aku, Indi Irawan pernah gila.  Ya Tuhan, kemana lagi harus kularikan diri ini?

‘Hei, mengapa lewat sini?’ teriak Indi kalut ketika tersadar dari lamunannya dan melihat perbatasan Canada hanya berjarak kira-kira satu kilometer dari tempatnya berada.’   Aku penyelundup, ingat?’ sambung Indi mengingatkan.   Letnan Blake hanya tersenyum.

‘Sudah terlambat untuk berputar, Miss’

‘Mereka akan menangkapku,’ bisik Indi kuatir.

‘Berdoalah mudah-mudahan tidak,’ hibur Letnan Blake tanpa berusaha untuk memperlambat jalan mobilnya.  Indi semakin gelisah dan mulailah dia komat-kamit berdoa.

Ketika akhirnya mobil itu sampai di pos pemeriksaan, ketakutan Indi sudah tidak tertahankan lagi.  Wajahnya memucat dan keringat dingin mulai mengucur deras di leher dan punggungnya.  Tiba-tiba muncul orang yang paling dikuatirkannya, sang komandan perbatasan.

Habislah aku, desis Indi.  Tetapi tanpa diduga komandan perbatasan itu tersenyum hangat dan  mendekat.

‘Senang di Jackson Port?’ tanyanya ramah.  Indi membelalak tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

‘Bapak tahu kalau saya masuk Canada?’ tanya Indi setelah terdiam beberapa saat.  Sang komandan dan Letnan Blake tertawa.  Indi semakin tidak mengerti.

‘Kenalkan Indi, Letnan Brown,’ kata Letnan Blake memperkenalkan. ’Tadi dia kutelpon dan kuminta untuk mengijinkan kamu masuk Canada.  Dan…  dia mengijinkannya.’

‘Jadi…  Jadi saya tidak menyelundup?’ tanya Indi.  Darahnya mulai mengalir di wajahnya kembali.  Letnan Blake dan Letnan Brown tertawa hangat dan Indipun mampu untuk tertawa lagi.

‘Kalau tahu seperti itu…’   kata Indi setelah dia dan Letnan Blake meninggalkan pos pemeriksaan dan mulai memasuki USA.

‘Kalau tahu seperti itu apa?’

‘Aku tidak harus tegang setengah mati.’

‘Apakah kamu tadi tegang?  Kulihat kamu begitu tenang,’ komentar Letnan Blake.  Indi tidak menyahut.  Berarti Joe tadi sudah tahu kalau tidak ada sebuah pelurupun yang mengancamku.

Ketika mereka sampai di perbatasan Amerika, Indi disambut meriah oleh polisi-polisi perbatasan dan Joe tak henti-hentinya menggoda  ‘sang calon presiden’ yang baru saja menyelundup.

‘Kalian brengsek semua.  Kenapa tadi tidak memberi tahu?’ sungut Indi gemas.  Kalau aku tahu aku tidak menyelundup maka pertengkaran dengan Tom tadi bisa dihindarkan dan aku bisa tinggal disana lebih lama, pikir Indi.  Sekarang sudah terlambat, semua orang pasti sudah tahu kalau aku penah gila lantaran ditinggal pergi oleh seorang laki-laki.  Alangkah hinanya.

Melintas Perbatasan

Jam enam sore Greyhound yang membawa mahasiswa-mahasiswa itu tiba di perbatasan Amerika.  Terdengar suara riuh memanggil-manggil nama Indi.  Sedang Indi sendiri asyik berada di depan sebuah monitor, mengawasi lalu lintas di depan kantor perbatasan.

‘Ini Luis, dari Chile,’ Indi menerangkan kepada Joe yang duduk di dekatnya ketika melihat Luis turun dari bis dan terambil oleh kamera.  ’Ini Tonino, Claudia, Nibia,’ sambung Indi.

‘Yang  paling kanan siapa?’ tanya Joe sambil menunjuk gadis berkulit hitam, sewarna dengan kulitnya.

‘Kerrie dari Barbados.’

‘Indi, teman-temanmu sudah menanti!’teriak Letnan Blake memecahkan keasyikan Indi.  Indi bangkit dengan malas.

‘Joe terimakasih banyak,’ bisik Indi.  Joe mengangguk sambil menjabat tangan Indi yang terulur kepadanya.  Sesudah pamitan dengan semua polisi yang ada di ruang itu Indi ke luar, Joe dan Letnan Blake mengantarnya hingga di depan bis.

‘Jangan lupa perbatasan Amerika di Thousand Bridge dan sering-sering kirim email pada kami bila pulang ke Indonesia dan jadi presiden,’ kata Letnan Blake sambil tersenyum.  Indi hanya mampu tersenyum dan melambaikan tangannya.  Teman itu ada di mana-mana.

Seperti biasanya Indi segera menuju ke bis bagian belakang.  Dia berusaha untuk tidak memandang Tom ketika melewatinya.  Baru saja dia duduk, Luis, Antonio, Mauricio dan Manuel sudah mengelilinginya.

‘Untukmu,’ kata Luis sambil mengulurkan sebatang coklat.

‘Tadi kami bermaksud untuk memberimu banyak tapi gagal.’

‘Tidak punya uang?’ tanya Indi.  Luis, Antonio, Mauricio dan Manuel menggeleng serempak.

‘Waktu kami makan siang tadi…’ kata Luis memulai ceritanya, ’tiba-tiba kami teringat pada  gadis cantik dari Indonesia yang tidak diperkenankan untuk masuk ke Canada.  Kami ingin memberi dia sesuatu yang akan membuatnya bahagia,’ Indi tersenyum manis.

‘Coklat adalah makanan kegemarannya,’ sambung Antonio, ’maka kukeluarkan uang lima dollar  untuk membeli sepuluh batang coklat.’   Kali ini Indi tak kuasa menahan tawanya.  Lima dollar untuk sepuluh batang coklat?

‘Kamu mau nyuri?’ tanya Indi di tengah tawanya.  Empat kepala disekelilingnya mengangguk bersama. ’Terus bagaimana?’

‘Gagal,’ sahut Manuel.  ’Sampai lama kami berdiri di depan mesin coklat dan main tendang tapi yang keluar cuma satu batang saja.  Luis makin kalap, dia tendang mesin itu berkali-kali dengan keras hingga seorang petugas keamanan datang.’

‘Apa?’ tanya Indi kaget.

‘Petugas keamanan.  Hampir saja kita kena tangkap,’ jawab Luis.  Orangnya serem deh, tinggi dan besar.  Suaranya menggelegar ketika dia bertanya Apa yang kamu lakukan?’ sambung Luis sambil menirukan suara petugas keamanan yang dimaksudkannya.  ’Aku tak berkutik untung Tom segera datang dan menyelamatkan kami.  Dia katakan kepada orang tadi bahwa kami telah berkali-kali memasukkan uang ke dalam mesin tetapi tidak ada yang keluar.  Woi kalau tidak…  penjara deh,’ sambungnya sambil tertawa.

‘Kamu tahu apa yang terjadi sesudah itu? Mereka memasang tanda  Rusak pada mesin yang tidak bersalah tersebut,’ Mauricio menerangkan.

‘Dan Tom marah setengah mati,’ sela Antonio.  ’Dia ngomel panjang lebar.  Dia benar-benar malu karena ada temannya yang mau jadi pencuri.  Kemudian kukatakan kepadanya. ’Eh, Tom, kamu tahu siapa guru pencurinya? Gadis kecilmu, Tom, Indi.’   Uh kasihan Tom, dia langsung terdiam,’ sambung Antonio dengan tawa gelinya.

‘Mengapa kamu katakana itu kepadanya? Dia sudah cukup marah kepadaku karena aku menyelundup tadi,’ tanya Indi.

‘Indi dia sudah marah sebelum kamu menyelundup.  Justru kamu sendiri yang menambah kemarahannya,’ bela Luis.  Tiba-tiba Indi merasa lelah bukan main.  Ah aku memang banyak menimbulkan kesulitan bagi Tom.  Belum habis kekuatiran Tom terhadap Luis dan kawan-kawannya muncul aku dengan masalah yang lain.  Dan kesemuanya akulah yang menyebabkannya, tak heran kalau dia marah seperti siang tadi.  Maafkan aku, Tom.

‘Indi…’   panggil Antonio

‘Pergi dari sini semua.  Aku lelah,’ usir Indi.

‘Kamu marah?’ tanya Antonio.

‘Marah sekali,’ kata Indi sambil tersenyum.

‘Na sana pergi aku mau tidur.’   Teman-temannya menurutinya dan meninggalkannya dia seorang diri di deretan kursi paling belakang.  Dia tidak main-main ketika mengatakan dia lelah.  Lelah pikiran dan badan.  Sekejab saja dia sudah jatuh tertidur.  Suara berisik teman-temannya yang bergurau tak mampu menganggunya.

Lama sekali dia tertidur.  Ketika dia terbangun, malam sudah tiba.  Teman-temannya telah tertidur kelelahan.  Tiba-tiba Indi merasa kalau ada sebuah tangan yang melingkar akrab di bahunya.  Tangan yang sudah sangat dikenalnya.  Dengan cepat Indi menoleh ke wajah si pemilik tangan.

‘Apa yang kamu lakukan disini?’ tanya Indi lirih.

‘Memelukmu,’ jawab Tom pendek.  Indi menahan nafas sambil berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Tom.  Tetapi Tom justru makin mempererat pelukannya. ‘Mau lari kemana kamu, Indi?’

‘Tom, apakah Ursula mengatakan sesuatu kepadamu?’ tanya Indi.  Tom tidak segera menjawab.  Indi menanti.  Akhirnya Tom mengangguk.

‘Apa yang dia katakan kepadamu?’

‘Untuk apa kamu tahu?’

‘Penting sekali.’

‘Kamu akan marah kepada Ursula?’ tanya Tom. ’Dia bermaksud baik, In.  Dia melihat kamu dan aku bertengkar di Jackson Port, dia tahu aku sangat menyayangimu maka dia ceritakan kisahmu sesudah kamu pergi dengan polisimu.’

‘Apa yang dia katakan kepadamu?’ tuntut Indi berusaha menjaga agar nada suaranya tidak meninggi.

‘Kalau kamu mencintaiku dan membutuhkanku,’ bisik tom sambil menatap Indi dalam.

‘Apa lagi?’

‘Sudah.’

‘Pasti ada lagi,’ desak Indi.

‘Dengar baik-baik Indiku, aku sangat mencintaimu.  Kembalilah kepadaku dan aku berjanji untuk tidak merubah dirimu.  Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan asal jangan tinggalkan aku.  Kamu mau mengambil rokok di mesin rokok, aku tidak akan melarangmu atau bahkan kalau kamu akan menyelundup ke Canada.’

‘Bagaimana kalau tertangkap?’ tanya Indi tolol.

‘Aku akan menyertaimu di penjara.  Berilah aku kesempatan untuk mencintaimu, Indi, oke?’

‘Apakah Ursula tidak menceritakan kalau aku pernah gila?’

‘Apa?’

‘Aku pernah gila Tom,’ bisik Indi sambil menceritakan tentang masa lalunya.  Semuanya itu diceritakan dengan berbisik karena Indi tidak ingin Juan yang duduk di depannya ikut mendengar.  Kalau sewaktu menceritakan tentang hal tersebut kepada Ursula Indi menangis kali ini dia tidak bahkan kadang-kadang dia justru tertawa.

‘Kamu tidak rindu kepada orang tuamu?’ tanya Tom setelah Indi selesai dengan ceritanya.

‘Tentu saja aku rindu mereka.’

‘Mengapa tidak kamu kabari mereka tentang keberadaanmu dirimu.  Mereka akan gembira mendengar kabar tentang anak tunggal mereka.’

‘Apakah kamu mulai mengaturku, Tom?’

‘Oh, Indi.  Ini lain.  Pernahkah Kamu membayangkan bagaimana bingungnya hati mereka? ataukah Kamu menyalahkan mereka atas nasib buruk yang menimpamu dan tindakanmu ini sebagai tindakan balas dendam?’ tanya Tom.’   Padahal mereka melakukan semuanya itu demi kebahagianmu.’

‘Tom, aku tidak tahu.  Jangan kau desak aku.’

‘Oke, lakukan apa yang kamu anggap tepat.  Tapi kamu mau kembali kepadaku kan?’ tanya Tom.  Indi tidak menjawab.

‘Indi?’ desak Tom.

‘Aku akan tanya ayah dan ibuku dulu.  Aku akan menelpon mereka sesampai kita di Kent,’

‘Indi?’  Tom tak percaya.

‘Ya, Tom.  Aku akan mengabari mereka.  Biarlah mereka ikut bahagia bersama kita.  Aku tahu mereka akan bahagia,’  kata Indi terharu.  Matanya berkaca.  Tom mendongakkan wajah Indi dan menciumnya dengan lembut.  Tiba-tiba entah disengaja atau tidak Mauricio menyanyikan Besame Mucho.

 Tamat

Melintas Perbatasan (Bagian 1)

Melintas Perbatasan

          KENT STATE UNIVERSITY terletak di kota kecil Kent di Ohio.  Seperti kampus-kampus di Amerika lainnya kampus ini begitu tenang dan damai.  Padang-padang rumput yang luas mengelilingi setiap bangunan serta pohon-pohon oak rindang berada di sepanjang jalan-jalan kampus yang mulus.  Hijau merupakan warna dominan selama musim semi, musim panas dan permulaan musim gugur seperti sekarang ini.  Dua bulan lagi daun-daun oak yang berwarna hijau itu akan berubah menjadi kuning, oranye dan merah yang cerah yang akan memberi warna pada kampus.  Untuk saat ini yang menjadi hiasan kampus adalah tubuh-tubuh molek berbikini yang berbaring di padang rumput di depan asrama-asrama mahasisiwa yang sedang menikmati sisa-sisa matahari musim panas.

Indi baru saja keluar dari salah satu bangunan tua yang merupakan tempat kuliah bagi mahasiswa yang memperdalam ilmu ekonomi.  Tubuhnya yang ramping terbungkus oleh jeans berwarna biru tua dan kemeja berwarna putih dengan gambar-gambar abstrak yang sewarna dengan celananya.  Langkahnya ringan melintasi padang rumput yang berhiaskan bunga-bunga dandelion.  Tas yang tergantung di pundaknya bergoyang seirama dengan gerak tubuhnya.  Sekali-sekali dia membenahi rambut yang tergerai hingga pundaknya, tetapi angin sore yang berhembus agak kencang akan merusaknya kembali.

Indi  berniat untuk pulang ke asrama dengan bis, tetapi ketika melihat banyaknya orang yang berkerumun di halte, maka niatnyapun urung.  Dia memutuskan untuk berjalan kaki.  Untung asramanya tidak begitu jauh hanya beberapa blok dari tempatnya berdiri sekarang dan masih berada di lingkungan kampus.  Tetapi baru saja dia berjalan beberapa meter, sebuah Subaru berhenti di dekatnya.  Juan, mahasiswa dari Spanyol menjulurkan kepalanya keluar.

‘ Hallo, Indi!  Ayo kuantar,’ ajaknya.  Indi membalas salam Juan dan mengangguk pasti.  Hmm … kebetulan, pikirnya.

Juan membukakan pintu untuknya dan Indi masuk dengan santai.  Diletakkannya buku-buku yang tebal yang dibawanya di antara dirinya dan Juan.

Juan membukakan pintu untuknya dan Indi masuk dengan santai.  Diletakkannya buku-buku yang tebal yang dibawanya di antara dirinya dan Juan.

Cómo estás, Juan? Cuánto tiempo sin verte,’ Indi menanyakan kabar Juan ketika Juan  siap untuk menjalankan mobilnya kembali.

‘Hahaha..muy bien.  Dari mana kamu bisa bahasa itu,’ tanya Juan penasaran

‘Kamu yang mengajariku, masa lupa,’ jawab Indi.  Juan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum hangat.  Mobil yang mereka naiki melewati auditorium yang penuh dengan patung-patung kontemporer.  Indi paling senang melewati daerah ini karena patung-patung itu mengingatkan dirinya pada taman Ismail Marzuki.  Sebuah spanduk besar tergantung di dekat sebuah patung telanjang dengan tulisan    ‘Kita bakar Akron Malam Ini’.

‘Kamu datang ke stadion nanti malam?’ tanya Juan yang juga membaca spanduk tersebut.  Indi menggeleng sambil menarik nafas panjang.

Aku harus bekerja nanti malam,’  jawabnya sedih.  Ada pertandingan sepak bola nanti malam dan lawannyapun tak tanggung-tanggung, Akron, musuh bebuyutan Kent.  Berarti Kenny’s, rumah makan dimana dia bekerja akan penuh dan dia terpaksa harus kerja keras.  Itu yang tidak disukainya.

‘Kamu masih bekerja di Kenny’s?’ tanya Juan.

‘Kemana lagi?’ keluh Indi.’   Jarang yang  mau memperkerjakan mahasiswa asing macam kita, Juan.

‘Jam berapa kamu bisa bebas?’

‘Sekitar jam sembilan.  Memangnya kenapa?’

‘Ada pertemuan KFS seusai pertandingan.’

‘Dimana?’ tanya Indi antusias.

‘Apartemen Tom.’

‘Apartemen Tom?’ ulang Indi.  Nada suaranya mengherankan Juan.  Setelah diam beberapa saat dia bertanya.

‘Ada apa, Indi?’

‘Hmm?’ Indi berlagak tidak mengerti pertanyaan Juan

‘Ada apa dengan Tom dan kamu? Kalian sekarang jarang terlihat bersama lagi.  Ada masalah?’

‘Tidak ada apa-apa, Juan.  Mengapa kamu tanyakan itu?’

‘Kamu tidak datang ke Home Coming dan ketika kulihat Tom datang bersama Ursula, kupikir …’

‘Oh, Tom berhak untuk bergaul dengan siapa saja,’ potong Indi kalem walau  sebenarnya dia agak kaget juga.  Tepat saat itu mobil yang mereka tumpangi telah berada di depan asrama Indi.  Juan menghentikan mobilnya.

Gracias, Juan,’ ucap Indi sambil keluar.  ’Te veré esta noche.’

‘Kamu akan datang?’ tanya Juan mendengar Indi berjanji untuk bertemu dengannya nanti malam.  Indi tergelak

‘Kamu pikir aku tidak berani untuk datang?’ goda Indi.  Juan mengangkat kedua bahunya.

‘Perlu kujemput?’  tanya Juan.

‘Tidak perlu, Juan, aku akan datang sendiri,’ sahut Indi.

‘Indi, …!’  panggil Juan ketika Indi mulai memasuki halaman asrama.

‘Ya?’  Indi memutar tubuhnya dengan indah.

‘Beri tahu aku kalau kamu benar-benar putus dengan Tom.  Aku tidak keberatan untuk menggantikan kedudukannya.’

I’ll keep it in mind,’ jawab Indi sambil tertawa keras.  Juan juga tertawa kemudian menjalankan subarunya.  Sesudah mobil Juan menghilang dari pandangan barulah Indi memasuki halaman asrama.

Tom sudah mendapatkan ganti.  Ursula memang tepat untuk Tom, pikir Indi sambil berjalan.  Tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang kosong pada dirinya.  Indi, bukankah itu yang kamu kehendaki? Mengapa kamu kecewa sekarang?  tanya otak Indi.  Indi menggelengkan kepalanya dengan keras.  Kemudian matanya memandang ke atas ke mega-mega yang berarak.  Yah … Mengapa aku harus bersedih?  Bergegas dia memasuki asrama lewat pintu samping.  Melihat-lihat kalau-kalau ada surat untuknya walau dia tahu pasti tidak akan ada sepucuk surat pun yang dialamatkan untuk dirinya.  Sesudah itu dia masuk lift menuju ke kamarnya di tingkat empat.

Diane, teman sekamar Indi belum datang ketika Indi sampai di kamarnya.  Diletakkannya semua buku serta tasnya di lantai yang beralaskan karpet berwarna beige, pilihannya bersama Diane.  Kemudian dia membaringkan dirinya di tempat tidur sambil matanya menerawang ke seluruh penjuru kamar.  Tiba-tiba matanya terpaut pada meja kecil yang terletak di antara tempat tidurnya dengan tempat tidur Diane.  Di atas meja kecil itu ada sebuah figura dompet untuk dua foto ukuran postcard.  Salah satunya sudah terisi foto Jimmy, pacar Diane yang mengenakan seragam sepak bola Kent dengan sebuah bola di tangan dan senyum lebar di bibirnya.  Dia tampak begitu gagah.  Sedang figura yang satunya kosong.  Disitu dulu dipasang foto Tom yang juga mengenakan seragam sepak bola Kent dengan bola di tangan serta senyum lebar di bibirnya.  Dan dia juga begitu gagah.  Tetapi foto itu dilepas Indi pada akhir musim semi yang lalu.

‘Indi, mengapa kamu lepas foto Tom?’ Indi ingat Diane bertanya dengan heran waktu melihat dia melepas foto Tom.

‘Aku ingin suasana baru.  Itu saja.’

‘Kamu bertengkar dengan Tom?’ tebak Diane.  Indi menggeleng.

‘Tidak.  Tidak ada pertengkaran.  Hanya aku dan Tom sudah memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri.  Kamu tahu aku dan Tom sangat bertolak belakang.’

‘Karena dia putih dan kamu kuning?!‘ jerit Diane emosi.  ’Demi Tuhan, Indi, sekarang bukan jamannya lagi’

‘Bukan masalah kulit, Diane.  Bukan masalah dia Eropa dan aku Asia. Tapi lihatlah aku dan Tom.  Kami sangat berlainan.  Tom begitu sabar, pendiam, setia, penuh pengertian sedang aku … Aku adalah kebalikannya tak bisa tenang, cerewet, besar mulut dan mau menang sendiri.  Apakah mungkin dua kutub dipersatukan?’

‘Aku ingin tanya dari mana ide konyol itu berasal?  Darimu atau dari Tom?’

‘Dari kami berdua,’ jawab Indi bohong.  Ide itu seratus persen berasal darinya.  Tom sama sekali tidak setuju.  Dia terlampau mencintai Indi dan ide untuk berpisah itu begitu menggusarkan hatinya.  Mereka bertengkar hebat ketika Indi mengemukakan keinginannya.  Tapi bukanlah Indi kalau dia mau menyerah.  Dia mengemukakan berbagai alasan dari yang masuk akal hingga yang asal ngomong.  Keputusannya adalah mutlak dan tak dapat diganggu gugat.  Sekali dia berkata putus maka putuslah hubungan itu.  Beberapa hari kemudian Tom pulang ke Swiss dan berada disana selama musim panas tanpa pamit pada Indi dan kembali lagi ke Kent pada permulaan semester juga tanpa memberi tahu kedatangannya pada Indi.  Mereka belum bertemu lagi sejak pertengkaran hebat itu.

Dan kini Tom telah mendapatkan ganti,  bisik Indi.

Dengan malas dia bangkit dari tempat tidurnya kemudian membuka laci meja dan mengambil sebuah potret.  Bukan potret Tom tetapi potret Diane.  Potret itu lalu dipasang di figura yang kosong di samping potret Jimmy.  Sekarang di figura itu yang nampak adalah sepasang remaja yang sangat serasi, bukan lagi dua pemuda tampan dan gagah yang sedang memegang bola dengan senyum lebar di bibir mereka

Sesudah puas memandang foto Diane dan Jimmy, Indi bersiap-siap untuk pergi bekerja.  Ditatap wajahnya lama di kaca.  Dia merasa ada sesuatu yang lain dalam wajah itu tetapi tidak berhasil menemukan dimana letak kelainannya.  Kemudian dia menyambar jacket yang tergantung di belakang pintu dan berjalan keluar.

Melintas Perbatasan

KENNY’S memiliki semua persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi salah satu restaurant cepat saji favorit.  Letaknya begitu strategis, berhadapan dengan pintu gerbang utama Universitas Kent.   Bangunannya dirancang secara malang, apik dan artistik yang memaksa mata untuk terpukau bila memandangnya.   Menunya lumayan beragam dengan harga mahasiswa.  Dan yang terpenting Kenny’s mempunyai pelayan-pelayan yang prima dan terpilih.   Semuanya tampan dan cantik.  Mungkin inilah faktor utama yang menyebabkan pengunjung Kenny’s selalu berlimpah.

 Setiap malam halaman parkir di sisi kiri dan belakang rumah makan selalu penuh apalagi setiap akhir pekan dan hari-hari dimana Unversitas Kent menjadi tuan rumah pertandingan sepak bola.  Pelayan-pelayan yang terlatih itu sempat dibuat kelabakan oleh tamu yang tumplek yang puas hanya bisa duduk di dalam mobil mereka sendiri di tempat parkir karena tempat duduk yang disediakan di dalam dan diluar bangunan induk telah terisi oleh orang-orang yang datang lebih awal.

Malam ini termasuk salah satu malam yang padat.  Disamping Kent menjadi tuan rumah pertandingan sepak bola, malam ini adalah malam minggu.  Indi yang bertugas melayani pembeli bersama gadis lainnya hampir-hampir tak sempat untuk bernafas lagi.  Sebentar-sebentar dia harus menggunakan interkom yang menghubungkan dirinya dengan dapur untuk mendiktekan kembali makanan yang dipesan pembeli sementara itu jari-jari tangannya bermain lembut di atas mesin hitung dan dia dituntut pula untuk selalu mengembangkan senyum profesionalnya.  Belum selesai dia melayani seorang pembeli, pembeli yang lain sudah berteriak tak sabar.

‘Sibuk, Indi?’  tanya seorang gadis yang sudah berdiri di depan Indi.

‘Ya Tuhan, Cecil!’ jerit Indi.   ’Hampir aku tidak mengenalimu,’  lanjut Indi sambil tersenyum.   Bukan senyum profesionalnya lagi tapi senyum seorang gadis yang kelelahan.  Cecil tertawa sambil menyebutkan makanan yang diinginkannya.

‘Dua double cheeseburger, medium well dengan onion panggang dan lettuce, dua frenchfries sedang, dua strawberry pie, Bob.’   Ulang Indi melalui interkom.

‘Delapan belas dolar enam puluh lima sen, Cecil,’ katanya pada Cecil.   ‘Kamu nonton pertandingan tadi?’ tanya Indi sambil menanti Cecil mengambil uangnya.

‘Wah hebat sekali Swiss kita… dia mencetak dua touch down.  Seharusnya Kamu melihatnya bermain tadi,’  jawab Cecil sambil mengulurkan satu lembar dua puluh dollar.  Indi tersenyum lucu.  Sebenarnya dia tidak memerlukan komentar Cecil tadi.  Semua orang di restaurant itu telah membicarakannya.  Tom, si pirang dari Swiss dapat mencetak dua touch down berturut-turut di saat pertandingan hampir berakhir sehingga permainan yang tadinya draw bisa dimenangkan Kent dengan empat belas angka.

‘Kamu tidak datang ke apartemen Tom?’ ganti Cecil yang bertanya.

‘Begitu tugasku disini selesai aku akan kesana.  Nancy seharusnya sudah datang untuk menggantikanku sekarang.’   Jawab Indi sambil meyerahkan uang kembalian.

’Kamu tidak datang?’ tanya Indi.  Sementara itu makanan yang dipesan Cecil datang melalui roda berjalan.  Indi meraihnya dan diletakkan di atas baki.  Sesudah ditambahkan dengan dua gelas minuman, baki itu diserahkan pada Cecil.

‘Aku tidak bisa datang, ada date yang agak serius.  Aku akur-akur saja putusan rapat nanti,’ jawab Cecil sambil mengedipkan sebelah matanya.  Indi tersenyum senang.  Mereka tidak bisa ngobrol lama karena pembeli di belakang Cecil sudah menanti dengan tak sabar.

Nancy yang ditunggu-tunggu Indi baru muncul jam sembilan lebih sepuluh menit.  Sepuluh  menit terlambat dari waktu yang seharusnya.

‘Dari mana saja, Miss Nancy Drew?  Ada misteri yang harus dipecahkan?’ tanya Indi dongkol.  Nancy tersenyum malu dan berdiri di samping Indi siap mengambil alih tugas.

‘Maaf, Indi aku tidak bisa keluar dari stadion tadi.  Penuh sesak,’  Nancy mencoba menjelaskan keterlambatannya.  ’Oh ya, aku ketemu Tom tadi.  Dia titip salam dan cintanya buatmu,’ sambungnya.  Indi mencibir, dia tahu Tom tidak bakalan titip salam lagi untuk dirinya, apalagi cinta.  Kemudian dia menepuk bahu Nancy sebagai tanda tugas telah diserahkan.

‘Indi!’   panggil Nancy.

‘Kerja yang baik,’ sahut Indi tidak menoleh.

Sesudah mengganti pakaian kerja Kenny’s dengan pakaian biasanya, Indi segera keluar dari kamar ganti dan mau pergi diam-diam lewat pintu belakang.  Ternyata di depan dapur dia dihadang oleh Kenneth Finch, si pemilik restaurant.

‘Mau kemana?’ tanya Ken  heran.

‘Pulang tentu saja,’ sahut Indi

‘Tidak sekarang, Indi.  Kamu lihat kita begitu memerlukan tenaga saat ini,’ kata Ken menghiba.  Indi menggerakkan kepalanya dengan gerakan yang lucu.

‘Sorry, boss.  Sekarang sudah jam sembilan lewat seperempat dan tugasku sudah berakhir tadi jam sembilan,’ jawab Indi acuh sambil melewati Ken.

‘Jangan jual mahal kamu!’ teriak Ken.  Indi membalikkan badannya dan tersenyum kocak.

‘Aku ada keperluan penting, Ken.  Ada rapat KFS.’

‘Apa itu?’  Bob si juru masak yang ikut mendengar pembicaraan mereka ikut nimbrung.

‘KFS.  Kent’s Foreign Students.  Kumpulan mahasiswa-mahasiswa asing,’ jawab Indi.  ‘Aku harus hadir di sana karena aku salah seorang pengurusnya,’ sambungnya

‘Baiklah,’ Ken mengalah, ’aku tahu kemauanmu tidak bisa dicegah.  Dimana rapat itu diadakan?’

‘Apartemen Raintree,’ jawab Indi jujur.  Ken dan Bob terbahak mendengar jawaban itu.

‘Mengapa kalian tertawa?’ tanya Indi curiga.

‘Di apartemen Tom kan?’ goda Bob masih dengan tawa.

‘Masa bodoh!’ jawab Indi sambil berlalu.  Dia baru saja akan membuka pintu belakang ketika Ken memanggilnya kembali.

‘Ada apa?’ tanya Indi jengkel.

‘Gaji minggu ini tidak kamu ambil?  Tidak butuh uang?’ tanya Ken.  Wajah Indi yang tadinya keruh kini menjadi cerah kembali.  Kelelahannya hilang mendengar kata-kata itu.

‘Gila, hampir lupa aku kalau hari ini hari Sabtu,’ gumamnya sambil mengikuti Ken memasuki ruang kerjanya.  Ruang itu berbeda dengan ruang-ruang lain yang berada di restaurant, kecil dan penuh dengan buku-buku literatur.  Jika restaurant itu tidak seramai seperti sekarang ini, Ken akan menenggelamkan dirinya dalam buku-buku tersebut.  Dia adalah mahasiswa Arsitektur, teman kuliah Tom.

Sementara Ken menuliskan cek untuknya, Indi duduk di kursi putar sambil menggerak-gerakkan kursi itu ke kiri dan ke kanan.

‘Indi, Kamu benar-benar seruis dengan Tom?’ tanya Ken, mendongakkan wajahnya dari buku cek yang sedang dihadapinya.

‘Sorry tidak bisa memberi jawaban.  Itu masalah pribadi.’

‘Woi, jadi aku belum kamu anggap cukup dekat untuk mengetahui rahasiamu.’

‘Kalau rahasiaku kuberitahukan kepadamu, boss, namanya bukan rahasia lagi,’ jawab Indi.  Ken tertawa sambil menandatangani cek yang tadi tertunda.  Cek itu kemudian diulurkan kepada Indi yang segera disahut Indi dengan cepat.

‘Makasih, Ken,’  teriak Indi dan menghilang meninggalkan Ken yang termenung di depan buku ceknya.

Melintas Perbatasan

Indi keluar melalui pintu belakang kemudian berjalan lewat jalan samping menuju ke jalan raya.  Angin malam berhembus dingin.  Indi merapatkan jacketnya dan mempercepat langkahnya untuk mengurangi dinginnya malam.

Di langit ada sepotong bulan yang berusaha untuk mengirimkan sinarnya ke bumi, tetapi kalah oleh terangnya lampu-lampu sepanjang jalan itu.  Sisa-sisa pertandingan masih terlihat.  Bar-bar dan restaurant-restaurant penuh dengan warga Kent yang sedang merayakan kemenangan timnya.  Di depan setiap Bar dan Restaurant terdapt tulisan-tulisan dengan lampu berwarna-warni yang intinya memberi semangat kepada kesebelasan Kent.  Tetapi yang membuat Indi tersenyum adalah tulisan di depan Dorado Bar.  Disitu tertulis, Tom, kutraktir kau disini.

Setelah melewati Ramada Inn, Indi belok ke kanan.  Jalan di depannya kini gelap, hanya lampu-lampu mercury kecil saja yang menjadi penerang jalan.  Indi agak gentar.  Tom melarangnya jalan di tempat ini sendirian.  Tapi itu dulu.  Dulu sebelum dia sadar bahwa dia bukan pasangan yang baik bagi Tom.  Sekarang Tom tak berhak untuk melarangnya lagi.  Dia adalah dia.

Ketika melewati sebuah bangunan yang siangnya digunakan untuk bengkel dan malamnya dibiarkan kosong, ketakutan Indi tak tertahankan lagi.  Pernah seorang mahasiswa Kent diperkosa di tempat ini.  Indi bergidik.  Dipercepat langkahnya, setengah berlari.  Dia baru bisa bernafas lega ketika melihat apartemen Raintree yang terang di hadapannya.

Setelah menenangkan nafasnya barulah Indi memasuki lobby apartemen itu.  Disana ada beberapa pasang muda-mudi yang sedang pacaran.  Indi segera menuju ke deretan anak tangga.  Apartemen Tom ada di tingkat tiga dan biasanya Indi menggunakan lift untuk menuju ke sana, tapi kali ini Indi memilih untuk menggunakan tangga biasa.  Dia baru saja menyadari bahwa sebenarnya dia enggan dan takut untuk berjumpa dengan Tom, tetapi untuk berbalik dan melewati daerah yang baru saja dia lewati dia lebih tidak mau lagi.  Jadi untuk mengulur-ulur waktu digunakannya tangga itu.

Keraguan Indi mencapai puncaknya ketika dia telah berdiri di depan pintu apartemen Tom.

Masuk… Tidak… Masuk… Tidak… Masuk.  Ya Tuhan mengapa aku sebegini pengecut?  Mengapa aku tidak berani menghadapi Tom?  Bukankah aku sendiri yang memilih keadaan macam ini?  Aku harus menunjukkan pada Tom bahwa aku konsekwen dengan putusanku dulu untuk tetap berkawan.  Kemudian pelan-pelan diketuknya pintu itu.  Suara langkah terdengar mendekat sejenak kemudian pintu terkuat.  Antonio, mahasiswa dari Italia yang membukakan pintu untuknya.

Buon giorno, Tonino!’ Indi memberi salam dalam bahasa Italia sambil tersenyum manis, dia sama sekali tidak tampak gundah.  Tonino adalah panggilan akrab bagi Antonio.  Antonio membalas salam Indi dalam bahasa Italia pula dan mempersilahkan Indi masuk.  Di dalam sudah banyak mahasiswa dan mahasisiwi yang berkumpul.  Indi melihat Tom duduk di samping Ursula, gadis Austria yang pergi ke pesta Home Coming dengan Tom.  Tom tampak agak kaget melihat siapa yang datang.

‘Hallo semua!’ seru Indi berusaha untuk bersikap biasa walau sebenarnya dia canggung setengah mati.  Kemudian dia duduk disamping Kahar mahasiswa dari Malaysia dan berbisik-bisik dalam bahasa Melayu.

‘Hei Tom, kudengar Kamu baru pulang dari Swiss ada oleh-oleh untukku?’ tanya Indi selang beberapa saat.  Tom terhenyak mendengar pertanyaan Indi yang tak disangka-sangka itu.  Dia hanya bisa tersenyum kecut dan memandang Indi tajam.  Indi tersenyum penuh kemenangan.  Kau lihatlah aku, Tom, aku bisa sesantai ini dan Kamu tidak.  Kemudian diraihnya keripik kentang yang ada di depannya dan mulai makan.  Sementara itu matanya mengawasi seluruh apartemen.  Tak banyak yang berubah.

‘Bisa kita teruskan pembicaraan kita?’  Hans Norwegia, si ketua KFS memulai.

‘Boleh aku tahu ini tentang apa?’ sela Indi.

‘Lebih baik kuulangi dari awal sehingga yang tadi belum datang bisa mendengarnya,’ kata Ursula sambil melihat ke tablet yang dibawanya.

Gadis itu begitu manis dan feminin.  Mata biru dan rambut pirangnya mirip milik Tom.  Mereka berdua sangat serasi, pikir Indi sambil memandang Ursula yang duduk di samping Tom.

‘Kita merencanakan untuk pergi ke Jackson Port, Canada pada akhir pekan yang akan datang,’ ucap Ursula lembut.  Indi harus iri pada kelembutan suara Ursula. ’Yang bertanggung jawab dalam perjalanan ini adalah Tom dengan dibantu oleh Tonino, Alberto dan Juan.’   Selama Ursula berbicara itu Indi melihat kalau mata Tom selalu memandang Ursula.  Dan pandangannya lain , pikir Indi yang tiba-tiba merasa berduka.  Cemburu? Tidak, bantah Indi sengit.

‘Oke, Tom, Kamu mau membicarakan rencanamu?’ Ursula memberi Tom kesempatan.  Sebelum Tom memulai berbicara dia memandang semua teman-temannya, tetapi ketika sampai pada Indi dengan cepat dipindahkan ke yang lainnya seakan memandang Indi begitu menusuk hatinya.  Indi menyadari hal itu pula tetapi pura-pura tidak tahu.

‘Begini…  Kita berangkat hari Jum’at pagi jam 8 dari Auditorium.  Juan telah menyewa greyhound untuk kita.  Kita akan makan siang di Cleveland.  Saya kira Indi bersedia mengurusi makanan kita seperti waktu-waktu yang lalu.’   Katanya, kali ini Indi terpaksa harus memandang Tom tanpa ekspresi.

‘Bukannya aku menolak, tapi aku ingin menjadi wisatawan biasa.  Setiap kali kita mengadakan acara, aku selalu sibuk.  Bahkan aku sering harus mengeluarkan uang dari sakuku sendiri,’ kata Indi.  Kalimat terakhir cuma gurauan saja.  Luis, temannya dari Chile tertawa ngakak mendengar penolakan Indi.

‘Apalagi harus berurusan dengan anak-anak Amerika Selatan macam Luis,’ sambung Indi tidak mengacuhkan tawa Luis.  ’Makannya banyak dan tidak  ingat  jatah teman-temannya.  Bagaimana kalau kali ini kita serahkan saja pada gadis Amerika Selatan.  Nibia misalnya?’ usul Indi.  Nibia yang namanya disebut berteriak  protes.

‘Ayo Nibia, terima usul itu,’ dorong Luis.  ‘Nanti kubantu kau.  Kita bisa mendapatkan untung dari kerja ini seperti yang biasa Indi terima.’    Indi tersenyum lebar mendengar olok-olok Luis.

‘Bagaimana, Nibia?’ tanya Tom.  Dia merasa Indi menolak tugas itu karena kali ini dia yang bertanggung jawab.  Nibia bimbang.

‘Tentu saja kamu tidak akan bekerja sendirian.  Aku pasti membantumu demikian pula Wiwan, Keiko dan yang lain-lainnya.  Kamu hanya mengkoordinasikan saja, oke?’  bujuk  Indi.

‘Si,’ jawab Nibia akhirnya setuju.

 Sesudah urusan perjalanan selesai, maka pertemuan dilanjutkan dengan obrolan santai.  Indi berjalan ke dapur untuk mencari minuman.  Tanpa disengaja ketika melewati meja belajar Tom , dia melihat kalau foto dirinya yang biasanya dipasang disitu sudah tidak ada lagi.  Indi tercenung.  Kemudian dia membuka lemari es untuk mencari minuman yang diinginkannya dan berusaha melupakan hal tersebut.

‘Aku tidak mempunyainya,’ tiba-tiba terdengar suara Tom.  Indi tidak menyangka kalau Tom sudah berdiri di belakangnya.  Waktu dia berjalan menuju dapur tadi dia melihat Tom masih bercakap-cakap dengan Ursula.

’Sudah lama aku tidak membeli gingerale,’ lanjut Tom.  Gingerale adalah minuman kegemaran Indi dan Tom dulu selalu menyimpan di lemari es untuknya.  Indi memaksakan diri untuk tersenyum

‘Tidak apa-apa, susupun jadi,’ jawab Indi sambil mengeluarkan karton susu.  Dia menuangkan sedikit ke dalam gelas yang dibawanya dan menawarkan pada Tom kalau dia juga mau.  Tom menggeleng sambil matanya menatap langsung ke mata Indi.  Indi melihat mulut Tom terbuka siap untuk mengatakan sesuatu, tetapi mulut itu kembali terkatup lagi.

Mengapa jadi begini kaku?  keluh Indi.  Bukan ini yang kukehendaki.  Aku tidak ingin Tom mencintaiku lagi tapi tidak lantas jadi begini jauh.

‘Bagaimana keluargamu di Swiss, Tom?’ tanya Indi berusaha mencairkan suasana.

‘Baik-baik,’ jawab Tom sambil memandang Indi lama.  Indi kecut menyadari bahwa pandangan Tom masih seperti dulu, dalam dan lembut.  Indi menghindari pandangan itu, tetapi tangan Tom lebih cekatan diraihnya bahu Indi dan memaksanya untuk menatap matanya.

‘Indi,…’   suara Tom bergetar.  Indi menggelengkan kepalanya.

‘Mengapa kamu membohongi dirimu sendiri? Kamu masih mencintaiku,’ bisik Tom sambil matanya tak lepas dari mata Indi.

‘Tidak !’ jawab Indi sambil melepaskan diri dari tangan Tom.  Kemudian dia berjalan setelah  memberikan sebuah senyum yang tidak bisa ditafsirkan artinya oleh Tom.

Melintas Perbatasan

‘Bangun! Bangun! Bangun!’  teriak Diane sambil membuka tirai jendela kamarnya.  Sinar matahari menyerbu masuk.  Indi terpaksa membuka matanya karena silau.

‘Hei, apa yang kamu lakukan?!’ teriak Indi dongkol.  Diane tertawa senang.  Biasanya yang membuka tirai jendela adalah Indi dan biasanya dia yang berteriak-teriak protes.

‘Bangun,  non, sudah jam enam.’

‘Diane, kamu masih waras? Ini hari Minggu, tolol!’ gerutu Indi.

‘Mau kemana kamu?’ tanya Indi ketika melihat Diane sudah rapi.  Indi menggeliatkan badannya beberapa kali dan duduk bersila di atas tempat tidurnya.  Kantuknya masih belum hilang.  Semalam dia tidak bisa tidur.  Resah! Dia masih terjaga ketika Diane masuk ke kamar dengan mengendap-endap takut mengagetkannya tetapi dia terlalu malas untuk menegurnya.

‘Enggak ke kamar mandi?’ Saran Diane ketika melihat Indi tak beranjak dari tempat tidurnya.  Indi menguap kemudian pelan-pelan dia turun dan seperti kapal oleng berjalan ke kamar mandi.

Ketika kembali ke kamarnya lagi, Indi kaget melihat sebuah figura dempet yang lain di samping figura dempet yang berisi foto Jimmy dan Diane.  Di figura itu dia lihat dirinya sendiri dan.  ..  Tom.  Diane tersenyum melihat kekagetan Indi.

‘Surprise!’ teriaknya.

‘Lelucon konyol,’ komentar Indi sambil menuju meja dimana figura itu berada dan membaliknya.  Diane mengambil figura itu dan diamatinya.

‘Kalian begitu serasi.  Cantik dan tampan.  Tahukah kau, In, kalian mempunyai senyum yang sama?’ kata Diane.  Indi tidak menanggapinya, dia sedang berganti pakaian dan membelakangi Diane.

‘Indi…’   panggil Diane.

‘Ya?’

‘Pemuda seperti apakah yang kamu cari? Apakah Tom tidak cukup baik bagimu? Apakah Kamu merasa orang Asia lebih berkualitas dari lainnya?’

‘Ya,’  jawab Indi pendek sambil meletakkan pakaian kotornya di kolong tempat tidur.

‘Indiiiiiiii…  ,’teriak Diane.

‘Jangan sewot.  Dia terlalu baik buatku,’ ralat Indi.  ’Aku akan pergi sekarang dan bila aku pulang nanti aku tidak ingin melihat foto itu masih berada di atas meja,’ sambungnya.  Diane memandangnya nanar.

‘Mau kemana kamu? Aku mau mengajakmu pergi.’

‘Kamu? Kamu mau mengajakku pergi pada hari Minggu?’ tanya Indi tidak percaya.  Mereka sering pergi bersama, tetapi hari Minggu adalah hari khusus Diane dan Jimmy.

‘Ya,’ jawab Diane mantap.’   Aku dan Jimmy merencanakan untuk pergi ke luar kota dan berkuda.  Kamu harus ikut.’

‘Aku tidak mau mengganggumu.  Pergilah kalian berdua, jangan risaukan aku.  Aku akan jalan-jalan ke auditorium, banyak acara yang menarik pagi ini.’

‘Indi aku dan Jimmy benar-benar mengharap Kamu mau ikut.’

‘Terima kasih atas perhatian kalian.  Tapi pagi ini George Robbins akan mengadakan konsert pertamanya sebagai orang yang bisa melihat.  Dia baru saja menjalani operasi mata.  Aku ingin melihatnya.’

‘Indi, ikutlah aku, please?’ bujuk Diane.  Indi heran, biasanya kalau dia malas untuk diajak pergi,  Diane tidak akan mengajaknya pergi.

‘Ada apa sebenarnya.  Aku ingin kamu jujur?’ tanya Indi.

‘Emmm.. Jimmy juga akan mengajak Tom, jadi…’   jawab Diane, tapi sebelum dia selesai, Indi telah keluar dari kamar.

‘Indi!  Indiii!’ teriak Diane sambil membuka pintu kamarnya.  Indi pura-pura tidak mendengar panggilan Diane, dia berjalan sepanjang koridor yang masih senyap.

‘Indii…  !’teriak Diane lebih keras.

‘Indi !’

‘Indi, Kamu keras kepala, sombong, tolol, …’ omel Diane keras.  Indi tersenyum mendengar omelan Diane tersebut, kemudian dia masuk ke lift.  Sebelum pintu lift tertutup Indi melambai dan tersenyum pada Diane yang memandangnya dengan dongkol kemudian membalas Indi dengan kepalan tangan.

Indi tidak langsung menuju auditorium.  Dia berjalan-jalan di sekitar stadion kemudian duduk di sebuah bukit kecil di dekat sebuah batu peringatan yang dipasang untuk mengenang lima mahasiswa Kent yang tertembak dan terbunuh pada waktu mengadakan demontrasi dan bentrok dengan polisi federal beberapa puluh tahun yang lalu.  Di dekat batu itu setiap hari ada beberapa tangkai bunga segar entah siapa yang meletakkannya.

 Dari tempat Indi duduk sekarang, dia bisa melihat pemandangan ke segala jurusan.  Gedung arsitektur berada di sebelah kirinya.  Di depannya agak kebawah adalah taman dengan bunga-bunga mawar yang sedang berkembang.  Di sebelah kanan jauh adalah asrama mahasiswa bagi mahasiswa yang telah berkeluarga.

Jam sembilan Indi baru meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju auditorium.  Dia hanya berada di auditorium sejenak kemudian pergi ke sanggar tari Guy Lumbardo di pusat kota.  Sudah lama Indi tak menjejakkan kakinya disana.  Pelatihnya sangat senang melihat Indi datang dan menawarkan peran dalam pertujukkan ballet yang akan datang.  Tetapi ditolak Indi.  Dia belum mau menari lagi.  Dia melihat latihan hingga sore hari.  Dan ketika pelatihnya mengajaknya untuk makan siang bersamanya, Indi tidak tega untuk menolaknya lagi.  Ketika hari hampir malam barulah Indi ingat untuk pulang.

Diane telah menantinya ketika dia masuk.  Dia tidak membalas sapaan Indi.  Masih marah, pikir Indi sambil mengeluarkan pakaian-pakaian kotornya yang berada di jemari bagian bawah dan di kolong tempat tidurnya.

‘Semoga Kamu puas dengan dirimu sendiri,’ ucap Diane rendah.  Indi memandang Diane tidak berkomentar.

‘Kasihan Tom,’ lanjut Diane.

‘Diane, itu masalah pribadi…’

‘Dan aku tak perlu campur tangan.’ Diane meneruskan. ’Tapi kali ini aku terpaksa harus berpihak pada Tom, karena kamu sudah kelewatan’

‘Aku tidak melakukan kesalahan apapun.’

‘Kesalahanmu terlalu banyak.’

‘Tolong sebutkan,’ tantang Indi.

‘Indi, bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu dan Tom masih akan tetap bersahabat walau kalian tidak pacaran lagi?  Tapi apakah tindakanmu itu tindakan seorang sahabat?’ tanya Diane. ’Berapa patah kata yang kau ucapkan semalam di apartemen Tom?  Dan alasan apa yang akan kau kemukakan untuk tidak ikut berkuda tadi pagi?  Konsert George Robbins? Konsert itu baru akan diadakan minggu depan dan tadi pagi hanyalah konsert seniman-seniman kampus yang aku tahu pasti kamu tidak menyukainya,’ sambung Diane cepat.  Indi terdiam.  Mati kutu.

‘Indi kalau kamu sudah tak mau bersahabat dengan Tom, mengapa Kamu datang ke apartemennya semalam? Tom heran atas kedatanganmu.’

‘Karena ada pertemuan KFS.  Apakah dia tak mengatakannya?’

‘Indi, jangan munafik! Bukan itu tujuan utamamu.  Kamu hanya akan melihat keadaan Tom.  Kamu akan tersenyum puas bila melihat Tom menderita karena ulahmu.  Dan itu telah kau buktikan semalam.  Kamu ingin melihat dia menderita lagi dengan tidak memenuhi ajakanku tadi pagi.’

‘Aku tidak sejahat yang kamu kira,’ sanggah Indi.

‘Lebih jahat?  Indi, kalau kamu tidak mencintai Tom lagi mengapa tidak kamu biarkan dia mencintai wanita lain?’

‘Aku tidak  pernah menghalang-halangi dia untuk mencintai siapapun.  Apakah dia merasa aku menghalang-halanginya?’

‘Bukan dia yang merasa, tapi Ursula?’

‘Ursula?’

‘Dia mencintai Tom.  Dia bilang kepadaku tadi pagi.  Dan dia merasa hampir berhasil mendapatkan cinta Tom andai saja kamu tidak masuk lagi di dalam kehidupan Tom.  Sudah empat bulan kamu tidak berhubungan lagi dengan Tom, tetapi tiba-tiba saja kamu muncul di apartemen Tom seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan menghancurkan segalanya,’ Indi terpana mendengar kata-kata Diane.

‘Indi, apakah kamu masih mencintai Tom?’

‘Tidak lagi kurasa,’ jawab Indi tak pasti.

‘Kamu tahu aku sangat menyayangimu’ Indi.  Aku ingin kamu kembali kepada Tom kalau kamu masih mencintainya.  Tetapi jika memang kamu tidak mencintainya lagi…  tolonglah bebaskan mereka.  Tom dan Ursula sama-sama terombang-ambing atas sikapmu.’

‘Maksudmu?’ tanya Indi tidak mengerti.

‘Pilihlah salah satu, kembali kepada Tom atau jauhi dia sama sekali.’

‘Baik.  Akan kujauhi dia sejauh-jauhnya,’ kata Indi sambil memasukkan pakaian-pakaian kotornya ke dalam tas kertas.  Dia tidak berani memandang Diane takut dari matanya bisa terbaca isi hati yang sesungguhnya.

‘Indi…’

‘Aku mau mencuci pakaian.  Kamu ikut?’ tanya Indi tidak memberi kesempatan Diane untuk melanjutkan kata-katanya.  Diane segera bangkit dari tempatnya dan mengeluarkan pakaian-pakaian kotornya dari kolong tempat tidur.

‘Indi…’

‘Cepatlah Diane, ini hari Minggu biasanya ruang cuci akan penuh,’ ajak Indi tidak sabar.

‘Indi biarkan aku menyelesaikan omonganku terlebih dulu.’

‘Kalau mau membicarakan tentang Tom, aku tidak mau dengar,’ kata Indi sambil membuka pintu.

‘Kamu menyakiti hatimu sendiri,’ bisik Diane.  Indi tidak menyahut.  Dia menyuruh Diane keluar dulu kemudian dia menutup pintu dan menguncinya dari luar.  Berdua mereka berjalan menuju ke ruang cuci di lantai paling bawah.  Canda mereka tidak terdengar.

Istana Pasir

Senja telah  turun  dan menyemburatkan  warna  merah tembaga  pada  langit kota  Yogya.  Jalanan mulai  memamerkan  kerlap-kerlip lampunya.  Sementara angin  yang bertiup  membawa  serta suara  adzan  Maghrib

Tisa  melihat jam  yang  melilit di  pergelangan  tangannya. Jam  enam  kurang seperempat.  Sudah  waktunya untuk  pulang.  Tetapi nampaknya  dosen  muda  yang  berada di  atas mimbar  sana  masih enggan  untuk  mengakhiri kuliahnya.  Suaranya  yang membahana  masih  juga  terdengar.  Tisa  benar-benar resah.  Semakin  malam berarti  semakin  jarang Colt  yang  melewati kampus.

‘Tisa,’  Numpy  yang  duduk di  belakangnya  memanggilnya dengan  berbisik.  Tisa  menoleh. Dengan  cepat  Numpy mengulurkan  kertas  yang ada  dalam  genggamannya.

‘Dari  Tegar,’ Numpy  menjelaskan.  Tisa  langsung  memasukkan  lipatan  kertas  tersebut  ke  dalam  tasnya.  Tanpa  membukanya  pun  dia  sudah  tahu  apa  isinya.  Setiap  ada   kuliah  sore,  Tegar  selalu  memberinya  lipatan  kertas  semacam  itu.  Lipatan  kertas  bertuliskan  ‘Tis,  kuantar  pulang  ya?’   Dan  setiap  ada  kuliah  sore, Tisa  selalu  menghindari  Tegar.

Begitu  Pak  Iskandar  mengemasi  buku-bukunya,  Tisa  segera  menyelinap  keluar.  Setengah  berlari  dia  menuju  ke  sayap  selatan  dan  turun  di  Cemara  Tujuh.  Dia  bernafas  lega  ketika  melihat  sebuah  Colt  kampus  yang  berhenti  di  depan  Perpustakaan  Sarjana  Muda.

‘Tamansiswa,  mbak?’ tanya  Kernet  Colt  kampus  tersebut.  Tisa  mengangguk  sambil  mempergegas  langkahnya.

‘Duduk  di  depan  saja,  mbak.  Belakang  sudah  penuh,’ saran  sang  kernet  ketika  melihat  Tisa  menuju  ke  pintu  belakang.  Tisa  mengikuti  saran  tersebut.  Baginya,  duduk  di  depan  tidak  jadi  masalah.  Yang  penting  dia  bisa  segera  meninggalkan  Gedung  Pusat  sebelum  Tegar  melihat  dan  menyusulnya.

Sang  kernet  membukakan  pintu  depan.  Dengan  sigap  Tisa  meloncat  naik  dan  duduk  di  samping  sopir.  Setelah  Tisa  duduk  dengan  rapi,  Colt  tersebut  mulai   berjalan  dengan  lembut.  Ketika  melewati  tempat  parkir,  Tisa  sempat  menoleh  untuk  mencari  Tegar  dengan  matanya.  Tegar  tidak  kelihatan.  Tisa  menghembuskan  nafas  panjang  dan  meluruskan  pandangannya  ke  depan.

‘Tadi  Pak  Is  nerangkan  apa,  Tis?’ tiba-tiba  sopir  Colt  yang  duduk  di  samping  Tisa  bertanya.  Jantung  Tisa  melonjak  ke  kerongkongannya.  Dia  kaget  setengah  mati  mendengar  pertanyaan  itu.

‘Kamu?!’ tanyanya  tidak  percaya.  Matanya  membulat.  Dia  hampir  pingsan  ketika  menyadari  siapa  yang  duduk  di  sampingnya.  Ternyata  sopir  itu  adalah  Tegar,  manusia  yang  ingin  dihindarinya.

‘Ya.  Kaget?’ ucap  Tegar  sambil  tersenyum  lebar.  Dia  benar-benar  bangga,  seakan-akan  baru  saja  memenangkan  sebuah  pertandingan  besar.  Sudah  lebih  dari  enam bulan  dia  berusaha  mendekati  Tisa,  tetapi  gadis  pendiam  itu  selalu  berhasil  melarikan diri  darinya.    Kini dia  berhasil menjeratnya.  Tetapi …  bahagiakah aku ?  Tegar  bertanya pada  dirinya  sendiri. Lihat  dia  sangat  ketakutan. Dia  sangat  tersiksa berada  di  dekatmu. Rasa  bersalah  membuat Tegar  bungkam.

Di  depan  Panti  Rapih  lampu  sinyal  di depan  Tegar  menyala  merah.   Ada  penumpang
yang  akan  turun.  Tegar  menepikan  Coltnya.  Hatinya  merasa  yakin  kalau  Tisa  juga  akan  turun  di  tempat  itu.  Ternyata  Tisa  tidak  beranjak  dari  tempatnya.  Beban  berat  di  hati  Tegar  agak  berkurang  sedikit.

‘Rumahmu  di  mana,  Tis?’ tanya  Tegar  sambil  menjalankan  kendaraannya  kembali.  Bukan  sekedar  pertanyaan  basa-basi.  Walaupun  sudah  lebih  dari  setahun dia menjadi
kawan  kuliah  Tisa,  tetapi  tak  ada  satu pun  yang  dia  ketahui  tentang  gadis  ini.

‘Tamansiswa,’ jawab Tisa  pelan.

‘Sebelah  mana?’

‘Guest  House  Sailendra  ke  timur. “

‘Kalau  pulang  kamu  selalu  naik  Colt?’ tanya  Tegar  persis  seperti  petugas  sensus.  Tisa  mengangguk.

‘Kenapa  kamu  tidak  pernah  mau  kuantar?’ akhirnya  Tegar  mengeluarkan  pertanyaan  yang  sudah  berbulan-bulan  menggumpal  di  dadanya.  Tisa  tidak  menyahut.

‘Kamu  takut  padaku?’ selidik  Tegar. Tisa  menggeleng.

‘Benci  padaku?’ kejar  Tegar.  Kembali  Tisa  menggeleng.

‘Lalu?’ Pertanyaan  itu  tidak  terjawab.  Susahnya  mengajakmu  bicara,  keluh  Tegar  dalam  hati.  Barangkali  kalau  aku  dosen  Kamu  akan  menjawab  semua  pertanyaanku  dengan  lancar.

Sesudah  itu  mereka  berdiam  diri,  Tegar  pura-pura  sibuk dengan kemudinya.  Sekali-kali  dia  menurunkan  penumpang.   Di  pertigaan  Sentul  penumpang  terakhir  turun.   Kini  satu-satunya  penumpang  yang  masih  ada  hanyalah  Tisa.  Sepanjang  perjalanan  tadi  Tegar  tidak  menaikkan  penumpang  lain.  Sekarang  dia  bisa  melaju  sepanjang  jalan  Tamansiswa  tanpa  harus  menurunkan  penumpang.

‘Turunkan  aku  di  depan  Guest  House.‘  Tisa  memecahkan  kebisuan  di  antara mereka.  Guest  House  Sailendra  masih  beberapa  puluh  meter  lagi.

‘Nanti  kuantar  masuk  ke  timur,’ sahut  Tegar.

‘Tidak  usah.   Aku  turun  di  depan  Guest  House  saja,’ tolak Tisa.

‘Sudah  tidak  ada  penumpang  lain,  jadi  aku  bebas  membel … “

‘Tidak.   Aku  turun  di  sini,’ potong  Tisa  begitu  mereka  tiba  di  depan  Guest  House.   Nada  suaranya  membuat  Tegar  menuruti  permintaannya.  Dia  menghentikan  Coltnya  dan  menatap  Tisa  dengan  heran.  Tisa  ingin  mengucapkan  sesuatu  kepada  Tegar,  tetapi  diurungkannya.  Dia  turun  dari  Colt  dengan  hati-hati.

‘Terima  kasih,’ ucapnya  sebelum  menutup  pintu.

‘Tis!’ panggil  Tegar  sebelum  Tisa  melangkah.   Tisa  menoleh.

‘Boleh  pinjam  catatan  kuliahmu  tadi?’ ucap  Tegar  ragu.  Tisa  mengangguk  dan  mengulurkan  buku  catatannya  lewat  jendela.

‘Besok  kukembalikan,’ janji  Tegar.   Tisa  mengangguk  kemudian  mulai  melangkah   pelan-pelan  ke  timur.  Tegar  memperhatikannya  hingga  hilang  ditelan  kegelapan  malam.

‘Mau  di  sini  terus, boss’ tiba-tiba kernetnya  berteriak  dari  belakang.  Tegar  tersadar.  Dia  tertawa  dan  menjalankan  kendaraannya  kembali.  Tisa  tidak  lagi  berada di sampingnya,  tetapi bayangannya  masih  memenuhi pikiran  Tegar.

Tisa  merasa  tidak  enak  ketika  melihat  lampu  halaman  depan  belum  dinyalakan. Ini  benar-benar  di  luar  adat.   Biasanya  jam  lima  sore  lampu  itu  sudah  menyala.  Hatinya  semakin  tidak  enak  ketika  mendapatkan  pintu  rumah  terkunci.

‘Pa!’ panggil  Tisa  sambil  menggedor  pintu.  Tidak  terdengar  sahutan.

‘Pa,  ini  Tisa  pulang,  pa,’ seru  Tisa  lebih  keras.  Masih  tidak  ada  sahutan.  Tisa  baru  saja  akan  memanggil  ayahnya  sekali  lagi  ketika  mendengar  tante  Narti,  tetangga  sebelah  memanggil  namanya.

‘Tisa,’  panggil  tante  Narti  sambil  mendatangi Tisa.

‘Ya,  Tante,’ sahut  Tisa.

‘Ini  kunci  rumah  tante  bawa.’

‘Lho,  memangnya  Papa  ke  mana?’ tanya  Tisa  heran.

‘Tadi  dibawa  Oom  Darma  ke  Puri  Nirmala.  Papamu  kambuh  lagi,’ cerita  tante  Narti.  Tisa  terpana.   Begitu  banyak  pertanyaan yang ingin diajukannya,  tetapi  lehernya  tiba-tiba  menjadi  kering  sehingga  suara tidak  mau  keluar.   Dia  menggigit  bibir  bawahnya  untuk  menahan  tangis  yang  ingin  tumpah.

Tanpa  bersuara  Tisa  menerima  kunci  yang  diulurkan  tante  Narti  ke arahnya.  Kemudian  dia  membuka  pintu  dan  masuk.  Tante  Narti  menguntit  di  belakangnya.  Karena  Tisa  tidak  berniat  menyalakan  lampu,  maka  tante  Nartilah  yang  menekan  tombol  sehingga  ruangan  menjadi  terang.

Tisa  memperhatikan  keadaan  rumahnya  dengan  hati  yang  teriris.   Meja  yang  terbalik.   Kursi-kursi  yang  kehilangan  kaki.  Vas  bunga  yang  hancur.  Ensiklopedia  yang  berserakan  di lantai.   Piring-piring  porselin  antik  yang  remuk.  Keadaan  yang  dulu  hanya  dilihatnya  dalam  filem-filem  detektif,  kini  menimpa  kehidupannya.

‘Ya  Tuhan,  apa  salah  kami?’ bisik  Tisa  lirih.   Sukar  dipercaya  bahwa  ayahnya  yang  biasanya  lembut  dan  penuh  kasih  sekali-sekali  bisa  berubah  sangat  buas  seperti  ini.  Ini  bukan  kali  yang  pertama  ayahnya  kehilangan  kontrol.  Bukan  kali  yang  kedua,  ketiga  atau  keempat.  Tapi  sudah  belasan  kali.   Dan  setiap  kali  terjadi,  Tisa  selalu  shock.

‘Sudahlah,  Tisa.  Sekarang  sholat  dan  istirahat  dulu.  Nanti  biar  mbok  Siyem  yang  membereskan  rumah  ini,’ bujuk  tante  Narti  ketika  melihat  Tisa  membungkuk  dan  mengumpulkan  pecahan  kaca.

‘Tidak  usah,  tante.  Tisa  bisa  membereskannya  sendiri.  Terima  kasih  atas  bantuan  tante  dan  Oom,’ Tisa  menolak  jasa  tante  Narti.  Sudah  terlalu  banyak  pertolongan  mereka  untuk  kami, pikir Tisa.

Sesudah  rumahnya  beres,  Tisa  segera  menuju  ke  Puri  Nirmala  untuk  melihat  keadaan  ayahnya.  Untung  rumah  sakit  itu  tidak  begitu jauh dari rumahnya,  sehingga
Tisa  bisa  berjalan  kaki  ke sana.

Sebelum  memasuki  rumah  sakit,  Tisa  berhenti  lama  di luar.  Setelah  merasa  yakin  kalau  dia  kuat  menghadapi  kemungkinan  yang  paling  buruk  barulah  dia  melangkah  masuk.

‘Tisa!’  seru  dokter  Sayekti  ketika  kedatangan  Tisa.  Dokter  wanita  inilah  yang  biasa  merawat  pak  Haryanto,  ayah  Tisa.

‘Bagaimana  papa?’ tanya  Tisa.    Tanpa  menjawab,  dokter  Sayekti  membimbing  Tisa  masuk.  Setelah  melewati  lorong-lorong  yang  muram  akhirnya  mereka  berhenti  di  depan  sebuah  kamar  bercat  kelabu.  Dari  jendela  kaca  mereka  bisa  melihat  ke  dalam  kamar.  Tisa  menutup  kedua  matanya  dengan  erat.  Pemandangan  di dalam  sangat  melukai  hatinya.  Di  tempat  tidur,  Tisa  melihat  ayahnya  terbaring  dengan  lemah.  Kedua  kaki  dan  tangannya  diikat  dengan  erat  tak  ubahnya  seperti  penjahat  yang  baru  saja  ketangkap  polisi.   Ayahnya  yang  biasanya  sekuat  Hercules,  kini  lemah  bagai  boneka  karet  yang  bocor.   Hati  Tisa  tidak  rela  melihat  ayahnya  diperlakukan  seperti  itu.   Tiba-tiba  Tisa  merasa  lelah  luar  biasa.   Dia  terduduk  di  bangku  di  depan  kamar  dengan  lesu.   Dokter  Sayekti  mendekati  dan  duduk  di sampingnya.

‘Ayahmu  tidak  apa-apa,  Tisa,’  hiburnya.

‘Ya,’ sahut Tisa  sumbang.

‘Sekarang  papamu  sedang  tidur  dan   tidak  akan  bangun sampai besok pagi.   Mengapa  kamu  tidak  pulang  saja dan kembali kemari  bila papamu sudah bangun?’ saran  dokter  Sayekti.  Tisa  menahan  nafas.

‘Akan  kupanggil  Pak  Santo  untuk  mengantarmu  pulang,’ lanjut  dokter  Sayekti  sambil  bangkit.   Kemudian  dia  melangkah  ke belakang.  Selang  beberapa  saat  kemudian  dokter  itu  muncul  kembali  bersama  seorang  laki-laki  tua  berjalan  di  belakangnya.

Tisa  tidak  membantah  ketika  sekali  lagi  dokter  Sayekti  menyuruhnya  untuk  pulang.
Betapa  pun  inginnya  dia  menemani  ayahnya,  tetapi  Tisa  sadar  kalau  tenaganya  tidak
dibutuhkan  di sini.  Dia  tidak  bisa  melakukan  apa-apa  untuk  ayahnya.

 ‘Nggak  usah  diantar,  Pak  Santo,  Tisa  berani  pulang  sendiri,’ ucap  Tisa  kepada  Pak  Santo  ketika  mereka  sudah  berada  di  luar  rumah  sakit.

‘Bu  dokter  menyuruh  saya  untuk  mengantar  nak  Tisa  sampai  di  rumah.  Lagi  pula  bapak  tidak  ada  pekerjaan.  Bapak  senang  bisa  keluar  dari  rumah  sakit.  Terus  menerus  berada  di  dalam  sana  bikin  sumpek  pikiran.  Bisa-bisa  bapak  jadi  pasien  bu  dokter,’ ujar  Pak  Santo  lugu.  Tisa  tersenyum  dan  membiarkan  Pak  Santo mengantarnya  pulang.   Berdua  mereka  berjalan  dengan  berdiam  diri  di  bawah  taburan  berjuta  bintang.

Selama  tiga  hari  Tisa  tidak  berhasil  menemui  ayahnya.   Dia  hanya  bisa  melihat  ayahnya  dari  kaca  jendela.  Keadaan  pada  hari  pertama.  Justru  kelihatan  semakin  parah.  Tidak  ada  yang  bisa  Tisa  lakukan  kecuali  berdoa  kepada  Tuhannya.

Pada  hari  keempat  dokter  Sayekti  memberinya  kabar  gembira.   Pak  Haryanto  sudah  boleh  dijenguk.  Tisa  benar-benar  bahagia.  Dengan  berlari-lari  kecil  dia  menuju  ke kamar  ayahnya.

Sebelum  memasuki  kamar  itu,  Tisa  mengintip  dulu  lewat  jendela.   Dia  melihat ayahnya  tengah  berbaring  dengan  mata  mengembara  di  langit-langit  kamar.  Kaki  dan  tangannya  tidak  lagi  diikat. Tisa  tersenyum.

‘Pagi,  pa,’ sapa  Tisa  sambil  membuka  pintu.   Kemudian  dia  mendekati  ayahnya  dan  memberinya  ciuman  lembut  di  pipi.  Ayahnya  membalas  dengan  mencium  dahi Tisa.

‘Tidak  kuliah, Tis?’ tanyanya.

‘Dosennya  lagi  ikut  seminar,  jadi  kuliah  ditiadakan,’ jawab  Tisa  berbohong.   Sudah  empat  hari  ini  dia  ngabur  dari  kampus.  Kuliah  jadi  tidak  berarti  bila  dibandingkan  dengan  keselamatan  ayahnya.

‘Bagaimana  dengan Papa?  Masih  pusing?’ tanya Tisa.

‘Sedikit,’ jawab  Pak  Haryanto.  Dia  pandang  Tisa  dengan  penuh  cinta.   Tisa  tersenyum  kemudian  mulai  memijit  kaki  ayahnya.

‘Tisa,’  panggil  Pak  Haryanto.

‘Ya?’ sahut  Tisa  sambil  memandang  ayahnya.

‘Apa  yang  telah  papa  lakukan  sebelum  dibawa  ke  tempat  ini?’

‘Tisa  tidak  tahu.  Tisa  sedang  kuliah  waktu  itu,’ jawab  Tisa  dengan  menundukkan  wajahnya.

‘Kamu  mengerti  maksud  papa.  Apakah  papa  merusaki  barang-barang  kita  lagi?’

‘Sudahlah, pa,’ sela  Tisa.  Dia  tidak  ingin  ayahnya  mengungkit-ungkit  peristiwa  yang  sudah  berlalu.  Dia  tidak  ingin  ayahnya  merasa  bersalah  dan  menyesali  dirinya  sendiri.   Sekarang  ayahnya  sudah  sadar  kembali,  itu  yang  paling  penting  bagi  Tisa.

‘Ini  bukan  masalah  biasa, Tis.  Masalah  yang  sangat  serius.   Kita  musti membicarakannya  sekarang  juga,’ bantah  Pak  Haryanto.

‘Kita  tidak  harus  membicarakannya  sekarang,  Pa.  Nanti  kalau Papa  sudah  sehat  benar  baru  kita  bicarakan,’ bujuk  Tisa.  Pak  Haryanto  memandang  Tisa  lama.   Kemudian  menggeleng-geleng  kepalanya  seperti  orang  yang  tengah  putus  asa.

‘Papa  rasa  papa  tidak  bakal  sembuh  lagi.  Sudah  berapa  kali  papa  keluar  masuk  rumah  sakit  ini?  Sudah  berapa  kali  papa  menghancurkan  rumah  kita  tanpa  papa sadari?  Sudah  berapa  kali  Kamu  ngeri  menghadapi  ayahmu  sendiri?   Kamu  akui  atau  tidak,  Tis,  papamu  sudah  gila.  Sudah  gila  dan  tidak  bisa  disembuhkan  lagi.’

‘Pa!’ pekik  Tisa.  ‘Papa  tidak  gila.’

‘Betapa  inginnya  papa  mempercayai  ucapanmu  itu,’ keluh  ayah Tisa.

‘Tetapi  papa  tidak  bisa.  Setiap  waktu  ayahmu  bisa  kumat  lagi.  Gila.  Ngamuk!  Bahkan  papa  pernah  hampir  membunuhmu.   Kamu  ingat!  Hanya  orang  gila  saja  yang  punya  niat  untuk  membunuh  anaknya. “

‘Jangan  diteruskan, pa,’ Tisa  memohon  dengan  memelas.  Air  mata  mulai  membanjir
di  pipinya.  Melihat  tangis  anaknya,  Pak  Haryanto  terpukamu.  Betapa  aku  mencintainya,  pikirnya.

‘Tisa,’  panggil  Pak  Haryanto  setelah  terdiam  untuk  beberapa  saat.  Tisa mendongakkan  wajahnya  dan  menatap  ayahnya.  Sisa  air  mata  di  pipi  dia  hapus  dengan  punggung  tangan.

‘Kamu  ingat  Oom  Heru?’ tanya  Pak  Haryanto.  Tisa  mengangguk.   Oom  Heru  adalah
satu-satunya  adik  ayahnya  yang  sudah belasan tahun menetap  di  Jerman  Barat.

‘Kamu  ingat  alamatnya?’ tanya  Pak  Haryanto  lagi.  Kembali  Tisa  mengangguk.

‘Sekarang  dengar  papa  baik-baik,’ pesan  Pak  Haryanto  sebelum  mulai  memberikan  order.  ‘Papa  minta  Kamu  menulis  surat  kepada  Oommu.  Ceritakan  kepada  Oommu  keadaan  papa  yang  sesungguhnya.  Sesungguhnya.  Bagaimana  papa  merusak  rumah  kita.  Bagaimana  tetangga-tetangga  mulai  takut  sama  papa.  Bagaimana  papa  hampir  membunuhmu.   Ceritakan  semuanya.  Juga  mengenai  papa  yang  keluar  masuk  rumah
sakit  syaraf  ini.   Lalu  bilang  pada  Oommu  kalau  papa  menginginkan  agar  Kamu  tinggal  bersamanya. “

‘Pa!’ teriak Tisa  protes.

‘Jangan  menyela,  Tis,’ Pak  Haryanto  memperingatkan.’  Dengar  dulu  penjelasan  papa.   Sekarang  ini  papa  sedang  waras.  Besok  mungkin  sudah  tidak  lagi.  Itulah  sebabnya  papa  ingin  menyelesaikan  persoalan  ini  selagi  masih  ada  kesempatan,’ Pak  Haryanto  menerangkan.  ‘Papa  menyayangimu,  Tis.  Kamu  tahu  itu.  Papa  tidak  ingin  kamu  menjadi  korban  kebuasan  papa  di  saat  papa  kehilangan  pikiran  sehat …  di  saat  papa gila.  Papa  ingin  kamu  mempunyai  kehidupan  normal seperti  remaja-remaja
lainnya,  tanpa  harus  mengurusi  ayah  yang  seperti  papa  ini.   Setelah  kamu  tinggal  dengan  Oommu  papa  akan  tinggal  di  rumah  sakit  jiwa  selamanya.  Di  sini  papa  tidak  akan  membahayakan  orang  lain.’

‘Tisa  tidak  mau.  Tisa  akan  terus  bersama  papa.   Papa  sama  sekali  tidak  gila.  Papa  hanya  sakit.  Dokter  Sayekti  akan  menyembuhkan  papa,’ bantah  Tisa  sambil menubruk  ayahnya  dan  memeluknya  dengan  erat.   Pak  Haryanto  menggeleng-gelengkan  kepalanya.

‘Tisa  Kamu  tahu  Oom  Heru  menyayangimu  seperti  papa  menyayangimu.  Kamu  tidak
akan  terlantar  di  sana,  Tis.   Sedang  kalau  Kamu  tetap  tinggal  bersama  papa  …  Ya  Allah  …  Untung  sore  itu  Kamu  ada  kuliah,  kalau  tidak,  papa  tidak  berani untuk membayangkannya.  Tisa,  turutilah  permintaan  papa,’ desah  Pak  Haryanto. Tisa  menggeleng.

‘Tidak, pa.  Tisa  akan  selalu  bersama  papa. “

‘Tisa..’

‘Papa,  jangan  bicarakan  itu  lagi.  Tisa  tidak  mau  mendengarnya.  Papa  tidak  gila  dan  Tisa  akan  selalu  bersama  papa.  Itu  keputusan  Tisa.   Papa  tidak  berhak  memaksa  Tisa,’  kata  Tisa  mantap.   Sia-sia  Pak  Haryanto  membujuk  Tisa  untuk  melakukan  perintahnya.  Kalau  sudah  keras  kepala.   Tisa  bisa  keras  dari  batu  hitam.

Tegar  duduk  di  anak  tangga  teratas  Balairung  sambil  memperhatikan  mahasiswa-mahasiswa  yang  lalu  lalang.  Dia  berharap  dapat  menemukan  wajah  Tisa  di  antara  mereka.  Namun  harapannya  sia-sia.  Sudah   lebih  dari  satu  jam  dia  menunggu  di  sana,  tetapi  Tisa  tidak  muncul-muncul  juga.

‘Ke  mana  anak  itu?’ tanya  Tegar  dalam  hati  sambil  menimang-nimang  catatan  Moneter  yang  dipinjamnya  dari  Tisa  delapan  hari  yang  lalu.  Dia  heran  mengapa  sejak  malam  itu  Tisa  tidak  pernah  menampakkan  dirinya  di  kampus.  Ingin  benar  Tegar  mengetahui  keadaan Tisa,  tetapi  tidak  tahu  kepada  siapa  dia  harus  bertanya.  Tisa  tidak  mempunyai  kawan  akrab.  Dia  selalu  menyendiri  dan  mengambil  jarak  dari  siapa pun.

Setelah  merasa  pasti  kalau  hari  ini  Tisa  juga  tidak  datang,  Tegar  kemudian  bangkit  dan  berjalan  menuju  ke  lantai  tiga.  Langkah  kakinya  membawa  dia  ke  perpustakaan.
Di  depan  pintu  langkahnya  terhenti  dengan  sendirinya.  Dia tertegun.  Di  sana,  di  pojok  selatan  dia  melihat  Tisa  yang  tengah  menekuni  sebuah  buku  teks.

Pelan-pelan  Tegar  mendekati  Tisa  dan  duduk  di depannya.  Menyadari  kalau  ada   seorang  yang  mendatanginya.  Tisa  mendongakkan  wajahnya.  Matanya  bertemu  dengan  mata  Tegar.

‘Hai,’ sapa  Tegar.   ‘Kok  lama  tidak  kelihatan?  Kemana?’

‘Repot,’ jawab  Tisa  tanpa  senyum.

‘Aku  ingin  mengembalikan  bukumu.  Sebenarnya  aku  bisa  mengantarkannya  ke  rumahmu,  tetapi  aku  tahu  kamu  tidak  senang  kukunjungi,’ ucap  Tegar  sambil  berharap  kalau  Tisa  akan  membantah  ucapannya  dan  mengundangnya  untuk  datang  ke rumahnya.   Tetapi  seperti  biasanya,  Tisa  cuma  membisu.

Terima  kasih,’ ucap  Tegar  sambil  mengangsurkan  buku  Tisa.  Tisa  mengangguk.  Tak  ada  harapan  bagimu,  Gar,  keluh  Tegar  dalam  hati  sambil  gadis  di  depannya  dengan  gemas.  Tetapi  yang   dipandang  acuh  saja  dan  tetap  menekuni  bukunya.

‘Kamu  mestinya  membutuhkan  catatan  kuliah  selama  delapan  hari ini.  Mau  pinjam  catatanku?’ Tegar  menawarkan  dengan  manis.  Tisa  memandang  Tegar  sejenak  dan  berpikir.

‘Tulisanku  memang  tidak  sebagus  tulisanmu, tetapi masih bisa dibaca kok,’ sambung  Tegar  cepat  ala  penjual  jamu  di  Malioboro  yang  tengah  menawarkan  minyak  kalajengking.  Tisa  tersenyum.   Tegar  terpukamu.  Belum  pernah  Tisa  melemparkan  senyum  ke arahnya.

‘Siasat  yang  bagus!’ sorak  hati  di  dalam  dada  Tegar.  Cepat-cepat  dikeluarkannya  semua  buku  catatan  yang  ada  di  dalam  tasnya  dan  digelar  di  depan  Tisa.  Tisa  menggelengkan  kepalanya.

‘Aku  tidak  mungkin  menyalin  semuanya  dalam  satu  hari.   Sebaliknya  aku  pinjam  dua  catatan  dulu.   Moneter  dan  Cost.   Kapan-kapan  aku  pinjam  yang  lain,’ ucap  Tisa.  Kalimat  terpanjang  pertama  yang  pernah  kamu  ucapkan  kepadaku,  Tegar  menyadarinya.   Seratus  persen  dia  menyetujui  keinginan  Tisa.  Semua  terserah  kamu,  Tis.  Terserah  kamu.

‘Oh,  iya,’ Tegar  teringat  sesuatu.  ‘Minggu  yang  lalu  kita  mendapat  tugas  untuk  membuat  paper  Cost.  Tugas  beregu.  Satu  regu  empat  anak.   Karena  Kamu  tidak  masuk,  aku  langsung  mendaftarmu  ke  dalam  reguku  bersama  Numpy  dan  Yoyok,’ ujar  Tegar  hati-hati.  Dia  kuatir  jangan-jangan  Tisa  akan  menuduhnya  lancang.

‘Numpy  dan  Yoyok  tidak  keberatan  aku  ikut  regu  kalian?’ tanya Tisa  kuatir.

‘Mengapa  mereka  harus  keberatan?’  Tegar  balik  bertanya.’  Lagian  justru  Numpy  yang  usul  agar  kamu  masuk  regunya,’ lanjut  Tegar.   Tisa  paham  sekarang.  Sejak  SMA  dulu  Tisa  selalu  satu  regu  dengan  Numpy.  Regu  Pramuka.  Regu  Prakarya.   Regu  bahasa.  Sejak  dulu  Numpy  selalu  baik.  Seorang  sahabat  sejati.  Sayang  aku  tidak  bisa  membalas  persahabatannya,  sesal  Tisa  dalam  hati.

‘Kapan  kita  akan  mengerjakan  paper  itu?’ tanya Tisa.

‘Rencananya  besok  siang  sehabis  kuliah  Internasional  kita  akan  membahasnya.  Kamu  ada  waktu?’ jawab  Tegar  diikuti  pertanyaan.  Tisa  mengangguk.   Bagus!  pekik  Tegar  dalam  hati.  Tidak  salah  aku  memasukkan  Kamu  ke  dalam  reguku.  Sebuah  awal  yang  baik.  Dan  Tegar  serasa  ingin  terbang  ke  langit.

Tisa  berdiri  bersandar  pada  pagar  pengaman  menanti  Numpy,  Tegar  dan  Yoyok
yang  masih  ribut  di  ruang  I.   Tadi  Pak  Alex  memberikan  responsi  mendadak.
Tidak  ada  seorang pun  yang  siap  dan  sekarang  mereka  tengah  membicarakan  hasil  responsi  mereka  yang  kedodoran.

Yoyok  keluar  lebih  dahulu  dan  berdiri  di  samping  Tisa.

‘Bisa?’ tanyanya  pada Tisa. Tisa  menggeleng.

‘Keterlaluan  sekali  deh  dosen  satu  itu,’ gerutu  Yoyok.  ‘Kuliah  sering  kosong. Eh,  sekalinya masuk,  ngasih  responsi,’ lanjutnya  geram.  Tisa  tersenyum .  Belum  lagi  gerutuan  Yoyok  habis,  Numpy  sudah  keluar  lengkap  dengan  makian-makian  kotornya.  Tisa  sudah  hafal  dengan  kebiasaan  Numpy  yang  satu  ini.  Setiap  menghadapi  persoalan-persoalan  yang  agak  rumit,  Numpy  selalu  mengumpat.

‘Sekarang  kita  mau  kemana?’ Tegar  muncul  dengan  pertanyaan.

‘Dikerjakan  di  rumahku  saja  yuk,’ Numpy  menawarkan  tempat.  Semua  setuju.  Berempat  mereka  kemudian  menuju  rumah  Numpy.  Numpy  nggonceng  Yoyok  dan  Tisa  nggonceng  Tegar.  Jangan  ditanya  bagaimana  senangnya  hati  Tegar  bisa memboncengkan  Tisa.

‘Entah  karena  grogi  memboncengkan  Tisa  atau  entah  karena  memikirkan  responsi  Ekonomi  Internasionalnya  yang  gagal  di  Bunderan  Bulaksumur  tiba-tiba  Tegar  tidak
bisa  menguasai  sepeda  motornya.  Hampir  saja  dia  menabrak  bis  kota  yang  melaju  dari  arah  timur.  Dia  menggapai  rem  dengan  mendadak.  Akibatnya  fatal.   Sepeda  motornya  selip  dan  terbalik.  Untuk  beberapa  detik  Tegar  sempat  kehilangan  kesadarannya.   Ketika  tersadar,  dia  melihat  Tisa  yang  tengah  ditolong  oleh  para  penjual  majalah  yang  membuka  kios  di sekitar  Bunderan.

‘Ya  Tuhan,’ keluh  Tegar  sambil  berusaha  untuk  bangkit.   Lututnya  terasa  sangat nyeri.  Dia  meringis  kesakitan.  Tepat  saat  itu  Yoyok  datang  menolong.  Sementara  itu
beberapa  orang  tengah  berusaha  meminggirkan  sepeda  motor  Tegar.

‘Bagaimana  keadaan  Tisa?’ tanya  Tegar  pada  Yoyok.

‘Parah,’ jawab  Yoyok  sambil  tersenyum  lebar.

‘Babi  kamu!  maki  Tegar. ‘Aku  serius,’ lanjutnya  geram.   Yoyok  terbahak  melihat  Tegar  sewot.

‘Lain  kali  hati-hati,’ nasehat  Yoyok  bergurau  ketika  mereka  sudah  berada  di pinggir  jalan,  di dekat  Numpy  dan  Tisa.  Seorang  penjual  majalah  menawari  Tegar  segelas  teh,  Tegar  menolaknya  dengan  halus.   Dia  memandang  Tisa  yang  duduk  di  dekat  Numpy.  Wajahnya  seputih  kapas.

‘Bagaimana,  Tis?’ tanya  Tegar  sambil  berjongkok  di  depan  Tisa.  Nyeri  di  lututnya  tidak  dia  hiraukan.

‘Tidak  apa-apa.   Hanya  lecet  sedikit,’ jawab  Tisa  sambil  menunjukkan  tangan  kanannya.   Tegar  ternganga.  Dari  siku  sampai  ujung  tangan  Tisa  nampak  baret  merah  bekas  gesekan  aspal  jalan  yang  keras.  Dan  kulit  sikunya  megelupas.

‘Ke  Panti  Rapih  dulu  yuk  minta  suntikan  ATS,’ usul  Tegar.  Dia  takut  kuman  tetanus
ada  yang  menempel  di  luka  Tisa.

‘Nggak  perlu.   Kelihatannya  saja  ini  mengerikan,  tapi  tidak  apa-apa.  sungguh,’ Tisa  berusaha  meyakinkan  Tegar.  Tegar  memandang  Numpy  untuk  mencari  dukungan  agar  Tisa  mau  di bawa  ke  dokter,  Numpy  mengangkat  bahu  dan  memasrahkan  semuanya  pada  Tegar.

Sesudah  beristirahat  sejenak  dan  sesudah  mengucapkan  terima  kasih  kepada  para  penolong,  mereka  kembali  meneruskan  perjalanan.  Tegar  kini  berada  di  goncengan  Yoyok  dan  Numpy  memboncengkan  Tisa.

‘Pantas  Tisa  tidak  pernah  mau  kamu  antar.   Sekali  nggonceng  kamu  sudah  kamu  jatuhkan.   Tiga,  empat  kali  pasti  sudah  kamu  ajak  melanglang  ke  akherat,’   komentar  Numpy  ke  arah  Tegar  sambil  menjalankan  sepeda  motor  Tegar  yang  untung  tidak  rusak.   Tegar  tidak  membalas  komentar  itu.  Dia  lebih  senang  memperhatikan  Tisa  yang  duduk  di  belakang  Numpy.   Tiba-tiba  Tegar  melihat  barut  merah  yang  memanjang  di  pipi  Tisa.  Astaga,  aku  telah  merusak  pipimu  pula,  sesalnya  dalam  hati.

Ibu  Numpy  sedang  membuat  macramé  di  teras  ketika  mereka  berempat  datang.  Padangannya  segera  terpaku  pada Tisa.

‘Tisa!’ serunya  gembira.   ‘Ngumpet  di  mana  selama  ini?’

‘Di  rumah  saja,  tante,’ jawab  Tisa  dengan  senyum.

‘Bagaimana  papamu?’ tanya  Ibu  Numpy  kemudian.

‘Baik,’ jawab  Tisa  ragu  sambil  mengulurkan  tangannya  untuk  menyalami  ibu  Numpy.   Wanita cantik itu melihat  luka  di  tangan  Tisa.

‘Kena  apa  ini?’ tanyanya  kaget.

‘Jatuh,  tante,’ kali  ini  Yoyok  yang  menjawab.

‘Duh,  Gusti  Numpy!!’ teriak  ibu  Numpy.    Numpy yang  tengah  membuka  pintu  paviliun  menghentikan  pekerjaannya  dan  menoleh  ke  arah  ibunya.

 ‘Sudah  berapa  kali  mama  peringatkan  jangan  ugal-ugalan  di jalan. “

‘Bukan  Numpy, Ma.  Tapi  pemuda  ganteng  yang  sekarang  berdiri  di  depan  mama  itu  yang  ngejatuhin  Tisa,’ Numpy  membela  diri.  Tegar  tersenyum  kecut.  Ibu  Numpy  menggeleng-gelengkan  kepalanya.

‘Nggak  disengaja,  tante,’ Tisa  menyumbang  suara.

‘Aduh  anak  muda  sekarang.  Ayo  tante  bersihkan  dulu  lukamu,’ ucap  Ibu  Numpy  sambil  mengajak  Tisa  masuk  dan  meninggalkan  Tegar  serta  Yoyok  berdua  di  luar.  Untung  Numpy  segera  memanggil  mereka  untuk  masuk  ke  paviliun.

Semenit  kemudian  Ibu  Numpy  menyusul  ke  paviliun.  Tanpa  Tisa.

‘Tante  harap lain  kali  kalau  di  jalan  hati-hati.  Lebih-lebih  bila  dengan  Tisa,’ ucap  Ibu  Numpy.  Ucapan  yang  lebih  ditujukan  buat  Tegar.

‘Rasanya  saya tadi  sudah  ekstra hati-hati,  tante  nggak tahu  kenapa  sepeda  motor  saya  nggak mau  diatur,’ Tegar  memberikan alasan.

‘Yah,  namanya  kecelakaan,’ gumam  Ibu  Numpy.   ‘Kamu  tidak  apa-apa?  Luka   barangkali?’

‘Enggak  tante,’ jawab  Tegar  melupakan  nyeri  di  lututnya.  Ibu  Numpy  mengangguk  kemudian  menanyakan  kepada  Numpy  di  mana  alkohol  yang  dipakai  Numpy  beberapa  hari  yang  lalu.  Numpy  bangkit  dan  mengambilkan  alkohol  yang  diminta  ibunya.

Sesudah  Ibu  Numpy  berlalu,  Tegar  bertanya  pada  Numpy.

‘Kok  tadi  mamamu  bilang  agar  hati-hati  di  jalan  lebih-lebih  bila  dengan  Tisa.  Apa  sih  maksudnya?’

‘Oh,  itu,’ desah  Numpy.  ‘Mama  tidak  ingin  Tisa  mengalami trauma …  Gimana  sih  ngomongnya.   Gini  nih,  dulu  Ibu  Tisa  meninggal  dunia  karena  kecelakaan  lalu  lintas. “

‘Maksudmu  Tisa  sudah  tidak  punya  ibu  lagi?’ tanya  Tegar.   Numpy  mengangguk.

‘Kejadiannya  sekitar  dua …  emm …  lebih, hampir tiga tahun yang lalu,’ cerita  Numpy.   ‘Mobil  yang  dikendarai  ayah  Tisa  tabrakan  dengan tangki minyak.  Tisa  selamat,  ayahnya  cidera  agak  berat,  tapi  ibunya  tidak  tertolong  lagi.   Tisa  yang  melihat  ibunya  meninggal  dan  ayahnya  terluka,  sangat  shock.  Untuk  beberapa  waktu  dia  tidak  berani  keluar  ke  jalan.  Dia  ngeri  setiap  kali  melihat  kendaraan.  Apalagi  kecelakaan.  Kamu  lihat  betapa  pucatnya  dia  tadi?   Aku  sudah  mengira  kalau  dia  akan  histeris.  Untung  tidak,’ Numpy menutup ceritanya.  Tegar  dan  Yoyok  terpana.   Baru  sekali  ini  mereka  mendengar  cerita  tentang  Tisa,  si  gadis  pemurung.

Kalau  saja  aku  tahu …  sesal  Tegar.  Saat  itu  Tisa  muncul  di  paviliun.  Luka  di  tangan  dan  barut  di  pipinya  sudah  dibersihkan  dan  diberi  obat  merah.

Sebelum  duduk.  Tisa  memandang  ke  setiap  sudut  paviliun.  Dulu  tempat  itu  sangat  akrab  dengannya.  Tiba-tiba  mata  Tisa  terpaku  pada  pesawat  CB  yang  ada  di  atas  meja  di  depan  jendela.   Numpy  menyadari  ke  arah  mana  mata Tisa  tertuju.

‘Kok  Kamu  tidak  pernah  ngebreak  lagi,  Tis?’ tanyanya.

‘CB-ku  rusak,’ jawab  Tisa  pendek  sambil  duduk  di  samping  Yoyok.

‘Apanya  yang  rusak?’ kejar  Numpy.

‘Nggak  tahu.   Nggak  bisa  dipakai   lagi,’ jawab  Tisa  seakan-akan  tidak  ingin  subyek
itu  diangkat  menjadi  topik.

‘Heran  kok  aku  belum  pernah  memonitormu,’ sela  Tegar.

‘Sudah  lama  aku  tidak  muncul,’Tisa  menerangkan.

‘Sebelum  Kamu  datang  ke  Yogya  Tisa  sudah  tidak  muncul  lagi,’ tambah  Numpy.

 ‘Apanya  sih  yang  rusak,  Tis?  Apa  enggak  bisa  direparasi?’ tanya  Numpy  beruntun.  ‘Hei,  Gar  Kamu  bisa  kan  memperbaiki  pesawat?  Punya  Ade  Kamu  kan  yang ‘mbetulin?’ Numpy  beralih  ke  Tegar.

‘Lihat-lihat  dulu  rusaknya.  Kalau  cuma  yang  enteng-enteng  sih  bisa  aja,’ jawab   Tegar.

‘Nah  tuh,  Tisa,  ada  tenaga  nganggur,’ ujar  Yoyok,  ’Suruh  aja  dia  mbetulin  pesawatmu.’

‘Nggak  tahu  apa  masih  bisa  dibetulin atau tidak,’ ucap Tisa. ‘Barangkali  antenanya  sudah  berkarat.  Lagian  aku  sudah  tidak  tertarik  lagi  untuk … ‘

‘Ya  ampun,  Tis,  sekarang  ini  lagi  ramai-ramainya,’ potong  Numpy.

‘Tanya  aja  pada  Yoyok  dan  Tegar.  Banyak  deh  sekarang  teman  kita.   Minggu  lalu  kita  rujakan  di  rumah  Ade.  Ayo  dong,  Tis.  Banyak  yang  menanyakan  kamu  lho,’ bujuk  Numpy  gencar.  Dia  ingat  Tisa  dulu  teman  di  udaranya  yang  paling  setia.   Kalau  sudah  ngobrol  mereka  sering  lupa  waktu.

‘Iya  deh  kapan-kapan.  Sekarang  mari  kita  pikir  tentang  Cost,’ Tisa  mengakhiri  pembicaraan  mereka  tentang  CB.  Walaupun  dulu  dia  sangat  gandrung  dengan  benda
yang  satu  itu,  tetapi  saat  ini  dia  tidak  berniat  untuk  menggunakannya  lagi.   Selain  pernah  memuaskan  hatinya  pesawat  itu  juga  pernah  menghancurkan  hidupnya.

Sepulang  dari  rumah  Numpy,  Tisa  langsung  masuk  ke  ruang  kecil  di  samping  kamar  tidurnya.   Sudah  setahun  lebih  dia  tidak  masuk  ke  ruang  itu.   Di  dekat  jendela,   dia  melihat   pesawat  CB-nya  yang  penuh  dengan  debu.  Pesawat  itu  hadiah  dari  Oom  Heru  ketika  dia  merayakan  ulang  tahunnya  yang  ketujuh  belas.

Tisa  membuka  jendela.  Udara  segar  memasuki  ruang  yang  pengap  itu.  Dengan  jari-jari  tangannya  Tisa  menyentuh  debu  yang  menyelimuti  pesawatnya.  Dia  sengaja  mengatakan  kepada  Numpy  kalau  CB-nya  rusak  agar  dia  tidak  didesak  untuk  menjawab  mengapa  sudah  sekian  lama  dia  tidak  berhandai-handai  di  udara.

Tisa  mendudukkan  dirinya  di  kursi.  Ditariknya  mike,  dan  didekatkannya  ke  wajahnya.

‘C.Q.  calling …  C.Q.  calling …  apakah  ada  yang memonitor?’ bisiknya  pelan.  ‘C.Q.  calling …  apakah  ada  yang  bisa  memonitor?’ ulangnya.  Tentu  saja  tidak  seorang pun  yang  bisa  menangkap  suaranya.   Pesawat  itu  tidak  dihidupkannya.

Pelan-pelan  Tisa  bersandar  di  kursi  dan  memejamkan  matanya.  Sebuah  peristiwa  menyakitkan  kembali  tergambar  di  pikirannya.

Waktu  itu  Tisa  berniat  untuk  mencari  teman  ngobrol  di  udara.  Seperti  biasanya  sebelum  ngebreak,   Tisa  memonitor  dulu  percakapan  para  breakers  yang  sudah  mengudara.

‘Modulasi  anda  lantang  sekali.  Roger.   Di  mana  sih  lokasi   anda?  Ganti,’ terdengar  sebuah  pertanyaan.

‘Roger …   Nyutran  gitu.  Guest  House  Sailendra  ke  timur  dua  ratus  meteran …  Ganti,’ jawaban  pertanyaan  itu  terdengar  lantang  sekali.   Tisa  tersenyum.  Dia   mengenali  suara  si  penjawab.   Agus,  tetangga  di  depan  rumah.

‘Dekat  rumah  Tisa,  correct ?’ si  suara  pertama  kembali  bertanya.   Senyum  Tisa  semakin  lebar.  Dia  juga  mengenali  suara  yang  satu  ini.  Suara  milik  Donny  teman  sekelasnya.

‘Correct.  Kok  anda  tahu Tisa?  Ganti. “

‘Dia  kan  tanggo  mike  saya …  Roger …  Lebih  tepat  papa  charlie  saya  gitu …  ganti,’ sahut  Donny.   Tak  salah  lagi  pasti  Donny.  Hanya  Donny  yang  berani  mengaku  di  depan  umum  kalau  Tisa  adalah  pacarnya.  Saat  itu  pula  Tisa  ingin  masuk  ke  dalam  percakapan,  tetapi  dia  menunggu  apa  yang  akan  mereka  obrolkan  selanjutnya.

‘Roger,’ sahut  Agus.  ‘Tapi  hati-hati  lho.  Cantiknya  sih  cantik,  tapi  kalau  saya  harus  mikir  seribu  kali  dulu  sebelum  jadi  pacarnya.   Ganti. “

‘Roger …  Memangnya  kenapa?’ tanya  Donny.  Tisa  semakin  memasang  telinga.   Percakapan  semakin  hangat.  Agus  tidak  langsung  menjawab.   Tisa  penasaran.

‘Ayah  Tisa  itu  golf  lima.  Ganti,’ bisik  Agus.

‘Gila,  correct?’ Donny  menegaskan.

‘Correct.  Sedang  anda  tahu  kan  golf  lima  itu  penyakit  menurun.  Jadinya  ya  hati-hati  aja,  Tisa  pasti  juga  agak-agak  gitu.  Ganti. “

‘Roger …  anda  jangan  main  fitnah  lho,’ ancam  Donny.

‘Sumpah  mati …  Roger …  Kemarin  siang  beliaunya  masuk  Puri  Nirmala  setelah  hampir  membunuh  Tisa.  Untung  tetangga  pada  meli …’  Tisa  tidak  mendengar  kelanjutan  kata-kata  Agus.  Dia  matikan  pesawat  CB-nya.  Wajahnya  merah  menahan  marah.   Dia  keluar  dari  ruang  itu  dan  tak  pernah  kembali  lagi  ke  sana.   Sejak  saat  itu  pula  dia  tidak  pernah  menyentuh  lagi  hadiah  ulang  tahun  dari  Oom  Heru  tersebut.

Tisa  tidak  menyalahkan  Agus.  Dia  tidak  menyalahkan  siapa-siapa.   Dia  juga  tidak  menyalahkan  Donny,  bila  sejak  saat  itu  Donny  yang  biasanya  selalu  membanggakan  Tisa,  tidak  lagi  menyapanya.   Tisa  seakan-akan  mengidap  penyakit  menular  yang harus  disingkiri.  Kabar  telah  tersebar.  Tisa  tidak  bisa  menariknya  kembali.   Ingin  benar  dia  berteriak  kepada  semua  orang  bahwa  ayahnya  tidak  gila.  Tetapi  siapa  yang  mau  mempercayainya?

Sejak  saat  itulah Tisa  mulai  menarik  diri  dari  pergaulan.  Sebelum dia  disingkirkan  lebih  baik  dia  menyingkirkan  diri.  Dan  mulailah  dia  membangun  dunianya sendiri.  Dunia  yang  mirip  istana  pasir.   Kelihatannya  kokoh,  tetapi  setiap  saat  selalu  ketakutan  akan  datangnya  ombak.  Ombak  yang  paling  kecil pun  akan  mampu  merobohkan  istananya.

 ♣

Kaki  Tegar  ternyata  membengkak.  Walaupun  sudah  dikompres,  namun  bengkak  itu  tidak  kempes  juga.  Kalau  tidak  ingat  absensinya  yang  harus  diselamatkan,  mau rasanya  Tegar  meninggalkan  kuliah  dan  tinggal  di  rumah.  Untung  sepupunya,  Nies,  mau  mengantarkannya  ke  fakultas,  sehingga  dia  tidak  harus  naik  motor  sendiri.

‘Bisa  naik  tidak?’ kata  Nies  sambil  menghentikan  mobilnya  di  depan  Balairung.  Tegar  melayangkan  matanya  ke  lantai  III  dan  mengeluh  dalam  hati.

‘Jangan  kuatir,  Nies.  Aku  pasti  sampai  ke  sana,’ ucap  Tegar  sambil  turun  dari  mobil.  Nyeri  di  lututnya  terasa  menikam.  Dia  meringis  sejenak,  kemudian  melambai
ke  arah  Nies.

Menaiki  anak-anak  tangga  ke  Balairung  merupakan  siksaan  bagi  Tegar.  Beberapa  kali  dia  terpaksa  berhenti  untuk  meredakan  nyeri  di  kakinya.  Dia  benar-benar  merasa  lega  ketika  akhirnya  bisa  sampai  di  Balairung.  Baru  di  Balairung,  belum  di  tingkat  III.  Tegar  merasa  tidak  sanggup  lagi  untuk  berjalan.  Dia  bersandar  pada  salah  satu  pilar.

‘Tegar,  kenapa  kakimu?  Tadi  kulihat  Kamu  terpincang-pincang,’ entah  dari mana  tiba-tiba  Tisa  muncul  di  depannya.  Sebuah  kejutan  yang  manis  buat  Tegar.

‘Emm …  bengkak,’ jawab  Tegar  sambil  berusaha  untuk  tersenyum.

‘Karena  jatuh  kemarin?’ tanya Tisa  kuatir.

‘Iya. “

‘Ada  tulangmu  yang  patah?’

‘Enggak  cuma  memar  saja,’ sahut  Tegar.  Dia  melepaskan  diri  dari  pilar  yang  disandarinya  dan  mulai  berjalan.  Tisa  mengikuti  di  sampingnya.  Di  depan  anak-anak  tangga  yang  menuju  ke  lantai  atas  Tegar  menghentikan  langkahnya.  Tisa  memandang  sejenak.

‘Mari  kubantu,’ katanya  sambil  mengulurkan  tangan  ke  arah  Tegar.  Tegar  terpukau.  Tetapi  tidak  lama.  Tisa  sudah  mengambil  lengannya  dan  membantunya  untuk  menaiki  anak-anak  tangga.  Tegar  tidak  pernah  menyangka  kalau  dia  bisa  sedekat  ini  dengan  Tisa.  Mimpi  apa  aku  semalam?  Salah.   Salah!  Mimpi  apa  Tisa  semalam  sehingga  pagi  ini  mau  beramah  tamah  denganku?

‘Seharusnya  kamu  istirahat  di  rumah.   Tidak  usah  kuliah,’ Tisa  membuyarkan  lamunannya.

‘Itu  niatku  tadi.  Tapi  absensiku  untuk  Pak  Kris  payah.  Sudah  empat  kali  aku  ngabur.   Sekali  lagi  berarti  tidak  boleh  ikut  ujian.’  Tegar  menerangkan  sambil  menatap Tisa  lekat-lekat.   Barut  di  pipi  Tisa  masih  nampak.   Untung  tidak  dalam.   Kalau  dalam  pasti  akan  meninggalkan  bekas  yang  mengerikan.

Sesampai  di lantai  tiga  mereka  berhenti.  Dengan  cepat  Tegar  meraih  tangan  Tisa  yang  tadinya  digunakan  untuk  menuntunnya  agar  gadis  itu  tidak  melarikan  diri.   Sesaat  Tisa  nampaknya  akan  protes,  Tetapi  kemudian  membiarkan  tangan  Tegar  menggenggam  tangannya.

‘Aku  belum  meminta  maaf  kemarin,’ bisik  Tegar.

‘Meminta  maaf?’

‘Ya,  karena  telah  menjatuhkanmu  serta  telah  membuat  tangan  dan  pipinya  terluka,’  awab  Tegar  sambil  menatap  langsung  ke  mata  Tisa.  Tisa  gugup  setengah  mati.   Rona  merah  menjalar  di  pipinya  yang  membuatnya  nampak  semakin  cantik  di  mata  Tegar.

‘Lupakanlah.  Kecelakaan  bisa  terjadi  di  mana-mana,’ kata  Tisa  setelah  reda  kegugupannya.  Tegar  tersenyum.  Dan  dalam  hati  Tisa  harus  mengakui kalau  senyum  itu  sangat  menawan.

Karena  mereka  datangnya  bersama,  mereka  dapat  duduk  bersebelahan.   Sehingga  selama  kuliah  berlangsung  Tegar  bebas  untuk  memperhatikan  Tisa.  Setiap  gerakan  Tisa,  bahkan  yang  paling  kecil pun  tak  luput  dari  mata  Tegar.  Dia  melihat  Tisa  menghapus  keringat  di  keningnya  dengan  tissue  berwarna  merah  muda.  Dan  melihat  Tisa  mengeluarkan  Tipp-Ex  untuk  menutup  tulisan  yang salah.  Dia  melihat  Tisa  menjejakan  kakinya  ke  depan  karena  capai.  Dia  melihat  Tisa  meringis  kesakitan  ketika  luka  di  tangannya  terbentur  pada  sisi  bangku.  Dia  melihat  semuanya.   Tisa  bukannya  tidak  menyadari  ke  mana  perhatian  Tegar  di  arahkan.  Dalam  keadaan  seperti  itu  muncul  sifat  istana  pasirnya.   Dia  seakan  melihat  ombak  besar  yang  mendekat  dan  mengancam  istananya .  Akankah  kamu  memandangku  dengan  sebelah  matamu  bila  kamu  sudah  tahu  keadaan  papa?

Satu  seperempat  jam  berlalu  dengan  cepat.  Rasanya  terlalu  berlebihan  bila  Tegar  berharap  Tisa  akan  menggandengnya  turun.  Dia  tetap  duduk  di tempatnya  dan  memperhatikan  Tisa  bangkit  dari  kursinya.

‘Kamu  mau  pulang  naik  apa?’ tanpa  disangka-sangka  Tisa  mengeluarkan  pertanyaannya.

‘Sepupuku  berjanji  akan  menjemputku,’ jawab  Tegar.

‘Kamu  bisa  turun  sendiri?’

‘Entahlah.  Mungkin  bisa.’

‘Kamu  membutuhkan  bantuanku?’

‘Kalau  kamu  tak  keberatan,’ jawab  Tegar  penuh  harapan.  Tisa  tersenyum.   Tegar  tertawa.

‘Baiklah,  tapi  tunggu  hingga  anak-anak  turun  semua  dulu,’ janji  Tisa.

Sesudah  semua  bayangan  teman-teman  mereka  menghilang,  Tisa  mengajak  Tegar  untuk  meninggalkan  ruang  kuliah.

Nies  yang  sudah  menunggu  Tegar  di depan  Balairung  terheran-heran  ketika  melihat  sepupunya  itu  muncul  dalam  gandengan  seorang  gadis  cantik.   Nies  mengernyitkan  dahinya.   Rasa-rasanya  aku  kenal  dia.  Ya.  Tentu  saja  aku  kenal  dia.  Bukankah  dia Tisa?

‘Tisa!’  seru  Nies  riang.   Matanya  berbinar  cerah.   Jadi  ini  dia  gadis  yang  selalu  dibangga-banggakan  Tegar  kepadaku.

Tisa  yang  berdiri  beberapa  langkah  dari  Nies  terpaku  di  tempatnya.   Terror  membayang  di  matanya.

‘Nies,’ gumamnya  lirih  sambil  melepaskan  tangannya  dari  tangan  Tegar.

‘Kalian  sudah  saling  kenal?’ tanya  Tegar  heran.  Nies  dan  Tisa  mengangguk  bersama.  Kalau  Nies  mengangguknya  penuh  semangat,  maka  Tisa  adalah  kebalikannya.

‘Aku  tidak  menyangka  kalau  ‘Tisa‘ yang  sering  diceritakan  Tegar  kepadaku  adalah  kamu,’ celoteh  Nies.   Tegar  mendelik  sengit  ke arah  sepupunya.

‘Yuk  pulang  sama-sama ,  Tis,’ ajak  Nies  tak  mempedulikan  Tegar.  Tisa menggelengkan  kepalanya.

‘Terima  kasih,  aku  bisa  naik  Colt. “

‘Hei,  nggak  usah  sungkan.  Kita  kan  saudara,‘ dalih  Nies  sambil  mengerling  Tegar.

‘Nggak  usah  repot-repot,  Nies,’ tolak Tisa.

‘Nggak  ngerepotin  kok.  Kebetulan  aku  juga  harus  jemput  mama  di  rumah  sakit,’ bujuk  Nies  gencar.   Tegar  tidak  ikut  membujuk,  karena  dia  tahu  hasilnya  akan  sia-sia.

‘Bukan  begitu.   Aku  masih  harus  ke  perpustakaan.  Pulanglah kalian dulu,’ jawab  Tisa  yang  tidak  mungkin  mau  ikut  bersama  Nies  dan  Tegar.   Pulang  sendiri  bersama Tegar  saja  dia  harus  mikir  apalagi  ditambah  dengan  Nies.

Sesudah  dibujuk  berkali-kali  dan  Tisa  tetap  pada  pendiriannya,  akhirnya  Nies  dan  Tegar  meninggalkannya  seorang diri.  Tisa  memperhatikan  mobil  mereka  hingga  hilang  dari  pandangan  matanya.  Tiba-tiba  dia  merasa  terluka.  Ombak  itu  telah  datang.   Istanaku  telah  roboh.   Pelan-pelan  dia  melangkah  dan  terus  melangkah.

Dalam  kepalanya  muncul  suatu  bayangan  yang  jelas.  Sangat  jelas.  Dia  melihat  Tegar  yang  duduk  berdekatan  dengan  Nies.  Dia  melihat  Tegar  yang  bertanya  kepada
Nies  bagaimana  Nies  bisa  kenal  dengan  Tisa.  Dan  dia  melihat  Nies  yang  menjawab  sambil  tertawa :  ‘Ayah  Tisa  kan  pasien  mama  yang  paling  setia. “

‘Memangnya  ayah Tisa sakit  apa?’

‘Lha  mama  dokter  apa?  Dokter jiwa kan?  Masa  kamu  lupa?’

‘Jadi  ayah Tisa  sakit  jiwa?’

‘Iya.  Gila! “

Tisa  menggelengkan  kepalanya  dengan  keras.   Dadanya  terasa  sangat  sesak.  Sekarang  semuanya  sudah  berubah.  Tegar  sudah  tahu  latar belakang  kehidupannya,  tentu  dia  akan  menilainya  dengan  pandangan  yang   berbeda.  Bahkan  mungkin  akan  mencoret  namanya  dari  daftar  regu  Costnya.  Lebih  buruk  lagi  bila  dia  akan  menceritakan  riwayatnya  kepada  teman-temannya  yang  belum  tahu  menahu  tentang  dirinya.  Kejadian  dua  tahun  yang  lalu  kembali  terulang.   Ombak  kembali  datang  menggempur  istana  pasirnya  yang  rapuh.  Dulu  Tisa  sudah  menduga
akan  datangnya  hari  seperti  ini,  tetapi  dia  tidak  menyangka  kalau  hari  itu  datangnya  begitu  cepat.

Sebutir  air mata  bergulir  di  pipi  Tisa.  Tisa  tidak  berniat  untuk  menghapusnya.   Dia  terus  saja  berjalan  dan  membiarkan  angin  yang  bertiup  mengeringkan  matanya.

Pagi  itu  Tisa  terbangun  dengan  kepala  yang  sangat  berat.   Dengan  merayap  dia  berhasil  sampai  ke  dapur.  Mbok  Jah,  wanita  tua  yang  bekerja  pada  keluarga  Tisa  dari  pagi  hingga  sore  sudah  datang  dan  berada  di  dapur.  Dia  sangat  terkejut  melihat  Tisa  yang  muncul  dengan  wajah  pucat  pasi  dan  tubuh  menggigil.

‘Duh  Gusti,  mbak  Tisa,  kena  apa?’ tanyanya  kuatir.

‘Pening,’ sahut  Tisa  sambil  memegang  keningnya  dan  mendudukkan  dirinya  di  kursi.

‘Tentu  masuk  angin.  Mari  mbok  keriki. “

‘Tidak  usah,  mbok  Jah.  Tisa  minta  air  hangat  saja,’ jawab  Tisa  lesu.  Cepat-cepat  mbok  Jah  menyiapkan  segelas  susu  hangat  yang  kemudian  dicampurnya  dengan  dua  sendok  madu.   Lalu  diulurkannya  ke  arah  Tisa.  Dia  memperhatikan Tisa  meminum  susu  itu,  kemudian  berjalan  ke  belakang  Tisa  dan  mulai  memijit-mijit  tengkuknya.

‘Nih  kaku  sekali.  Pasti  mbak  Tisa  terlalu  banyak  pikiran,’ komentar  mbok  Jah.  ‘Jangan  terlalu  dipikirkan,  mbak  Tisa,  bapak  akan  segera  sembuh  kembali,’ lanjutnya  menghibur.

‘Mbok  Jah,’ panggil  Tisa  lirih.

‘Menurut  mbok  Jah  apakah  papa  gila?’ tanya Tisa.

‘Hush!  Jangan  bicara  seperti  itu  tentang  bapak,’ mbok  Jah  menegurnya.

‘Tisa  hanya  ingin  mendengar  pendapat  mbok  Jah,’ tuntut  Tisa  dengan  suara  berat.   Untuk  beberapa  saat  mbok  Jah  terdiam.   Dia  sadar  anak  asuhannya  ini  sedang terombang-ambing  jiwanya  dan  membutuhkan  tempat  untuk  berpijak  yang  kokoh.

‘Tentu  saja  bapak  tidak  gila,’ akhirnya  mbok  Jah  mengeluarkan  pendapatnya.  ‘Menurut  embok  yang  bodoh  ini,  bapak  hanya  dilanda  kekecewaan  dan  rasa  bersalah  karena  kecelakaan  yang  menewaskan  ibu  dahulu.   Bapak  sangat  mencintai  ibu  dan  bapak  merasa  bahwa  bapaklah  yang  mengakibatkan  kecelakaan  itu.  Mbak  Tisa  ingat,  bapak  mulai sakit  beberapa  saat  sesudah  kecelakaan.  Tapi  embok  yakin  bapak  akan  sembuh  dengan  berjalannya  waktu.  Percayalah  pada  embok.  Jangan  sekali-kali  mendengarkan  omongan  usil  para  tetangga.  Mbok  Jah  sudah  bekerja  pada  keluarga  bapak  sejak  duluuu …  Sejak  eyang  buyut  mbak  Tisa  masih  sugeng.  Tidak  ada  seorang pun  dari  keluarga  bapak  yang  sakit  jiwa.  Tetangga-tetangga  itu  hanya  mengada-ada.  Jangan  didengarkan,’ nasehat  mbok  Jah.  Tisa  merasa  lega  luar  biasa.   Ternyata  ada  juga  seseorang  yang  sependapat  dengannya.

‘Terima  kasih,  mbok,’ bisik  Tisa.  Mbok  Jah  tersenyum  senang.

Sekarang  mbak  Tisa  kembali  saja  ke  kamar  dan  bobo  lagi.   Embok  yakin  semalam  mbak  Tisa  pasti  tidak  tidur.  Nanti  kalau  mbak  Tisa  bangun  mbok  bikinkan  sup  ayam,’ tutur  mbok  Jah  seperti  membujuk  anak  kecil.  Tisa  tersenyum  dan  menuruti  anjuran  mbok  Jah.  Tisa   tidak  seperti  tadi  malam,  kali  ini Tisa  cepat  terlelap.

Beberapa  jam  kemudian  ketika  dia  terbangun,  dia  merasa  kepalanya  sudah  ringan  dan  dadanya  tidak  sesak  lagi.  Dia  seakan  mempunyai  kekuatan  untuk  menghadapi  dunia.

Sesudah  makan.   Tisa  pamit  pada  mbok  Jah  untuk  menjenguk  ayahnya.  Mbok  Jah  mengantarnya  hingga  ke halaman  depan.  Dia  lega  ketika  melihat  wajah  Tisa  tidak  sekelabu  tadi  pagi.  Dia  ikut  merawat  Tisa,  sejak  gadis  itu  baru  berumur  beberapa  hari.  Luka  di  hati  gadis  itu  merupakan  lukanya  pula.

Pak  Haryanto  sedang  tidur  ketika  tiba  di  sana.  Dengan  hati-hati,  agar  tidak  membangunkan  ayahnya.  Tisa  menarik  sebuah  kursi  dan  duduk  di  atasnya.   Dari  tempatnya  Tisa  menatap  wajah  ayahnya  dengan  segenap  cintanya.

Alangkah  tololnya  aku  membiarkan  orang-orang  mengira  kalau  papa  gila,’ dengan  hatinya  Tisa  mencoba  berbicara  dengan  ayahnya.  ‘Dan  alangkah  tololnya  aku  membiarkan  pikiran  picik  mereka  mengacaukan  hidupku.  Papa,  Tisa  bangga  kepada  papa.  Justru  dengan  keadaan  papa  yang  sekarang  ini  papa  menunjukkan  betapa  besar  cinta  papa  terhadap  mendiang  mama.  Tisa  tidak  malu  menjadi  anak  papa. “

Pak  Haryanto  menggeliat  dan  membuka  matanya.  Tisa  telah  siap  dengan  senyum
manisnya.

‘Tisa,’  gumam  Pak  Haryanto  tidak  jelas.  ‘Kapan  datang?’

‘Barusan,  pa,’ sahut  Tisa.

‘Papa  sudah  lama  menunggumu.  Saking  capainya  papa  sampai  tertidur,’ ucap  Pak  Haryanto  sambil  bangkit  dari  posisi  berbaringnya  dan  duduk  menghadapi  Tisa.

‘Papa  nunggu  Tisa?’Tisa  meyakinkan.

‘Ya,’ seru  Pak  Haryanto  mantap.  ‘Ada  kabar  gembira  untukmu,’ sambungnya  sambil
tersenyum.

‘Tisa  siap  mendengarnya.’

‘Oke,  sekarang  dengar  baik-baik.  Papa  minta  Kamu  segera  menulis  surat  untuk
Oom  Heru …  ‘

‘Papa,  sudah  Tisa  katakan  Tisa  tidak  mau  hidup  bersama  Oom  Heru  walau  sebaik  apa pun  dia.  Tisa  tetap  akan  hidup  bersama  papa.  Papa  tidak  boleh  membuang  Tisa  begitu  saja,’ potong Tisa  emosi.

‘Nah  itu.  Belum-belum  sudah  menyela,’ goda  Pak  Haryanto.  ‘Bukan  kamu  yang  akan  tinggal  bersama  Oom  Heru.  Melainkan  papa,’ lanjut  Pak  Haryanto  berteka-teki.

‘Bagaimana, pa?  Tisa  tidak  jelas,’ cerocos  Tisa.  Pak  Haryanto  tertawa.

‘Semalam  dokter  Sayekti  memberi  tahu  papa  bahwa  papa  tidak  menderita  kelainan
jiwa.  Bukan  jiwa  papa  yang  sakit.   Papa  tidak  gila. “

‘Na, kan  sejak  dulu  sudah Tisa  katakan,’ sela Tisa.

‘Nona  muda,  Kamu  mau  mendengarkan  papa  atau  mau  membuat  diagnosa  sendiri?’ tegur  Pak  Haryanto  sambil  tersenyum.

‘Maaf,  pa.   Sekarang  Tisa  mau  mendengarkan,’ ucap Tisa.

‘Bukan  psychis  papa  yang  sakit  tetapi  fisik  papa.  Kamu  ingat  kecelakaan  yang  menimpa  kita  tiga  tahun  yang  lalu?  Waktu  itu  otak  papa  mengalami  pendarahan.  Setelah  sembuh  ternyata  ada  penyempitan  pada  pembuluh  tersebut  yang   menyebabkan  papa  diserang  rasa  pening  yang  luar  biasa  dan  papa  tidak  lagi  bisa  mengendalikan …  mengendalikan  apa  sih  istilah  dokter  Sayekti  semalam?  Pokoknya  semacam  emosi  begitulah  sehingga  papa  sering  ngamuk  dan  tidak  terkontrol.   Nah,  satu-satunya  jalan  untuk  menyembuhkan  penyakit  papa  ini  adalah  dengan  operasi,’ Pak  Haryanto  menerangkan.   Tisa  mendengarkannya  dengan  penuh  perhatian.  Harapan  yang  besar  membayang  di  wajahnya.

‘Papa  akan  menjalani  operasi  itu?’ tanya  Tisa  antusias.

‘Operasi  itu  merupakan  operasi  yang  berat,  Tis.  Karena  menyangkut otak.  Dan  di  Indonesia  belum  tersedia  peralatan  yang  memadai.’

‘Oh,’ keluh  Tisa.  Harapannya  yang  tadi  melambung tiba-tiba  terhempas  lagi.  Melihat  kekecewaan  di  wajah  Tisa  Pak  Haryanto  segera   mengulurkan  tangannya  dan  meraih
Tisa  ke  dalam  pelukannya.

‘Kamu  belum  mendengarkan  kelanjutan  cerita  papa,’ bisik  Pak    Haryanto  di  telinga  Tisa.  Tisa  menengadahkan  wajahnya  untuk  memandang  ayahnya.  Matanya  meminta  penjelasan.  Pak  Haryanto  tersenyum.

‘Kamu  tahu  negara  yang  sering  mengadakan  operasi  semacam  itu?  Jerman  Barat,
Tis.  Tempat  Oommu  berada.  Itulah  sebabnya  papa  menyuruhmu  untuk  menyurati  Oom  Heru  dan  mengabarkan  kepadanya  bahwa  papa  akan  berobat  di  sana.  Kamu  mau  melakukannya  untuk  papa?’

‘Oh, pa!’ pekik  Tisa  sambil  memeluk  ayahnya  dengan  erat.

‘Oh, pa,’ ulangnya.  Tak  ada  kata-kata  lain  yang  mampu  diucapkannya  kecuali  Oh, pa.  Tangis  bahagia  membanjir  dari  kedua  matanya  seakan-akan  semua  butir  air  mata  dan  semua duka  yang  masih  tersisa  di  dalam  dirinya  ingin  ditumpahkannya   sekarang  juga.  Dadanya  terasa  sangat  lapang.  Batu  besar  yang  menindih  hatinya  selama  tiga  tahun  kini  terhempaslah  sudah.

Untuk  beberapa menit  berikutnya  Tisa masih  juga  belum mampu  untuk  berkata apa-apa.  Kabar  yang baru  saja  didengarnya terlampau  berharga  untuk didiskusikan  dengan  kata-kata.  Sekali-sekali  dia  memandang ayahnya  dan  tersenyum.

‘Sekarang  Tisa  mau  pulang,’ tiba-tiba  Tisa  berseru  sambil  bangkit  dari  sisi  ayahnya.   Tentu  saja  Pak  Haryanto  memandangnya  tak  percaya.  ‘Sekarang  juga  Tisa  mau  menulis  surat  buat  Oom  Heru. Tisa  tidak  mau  menundanya,  ‘lanjut  Tisa  sambil  mengambil  pakaian  kotor  ayahnya  untuk  dibawa  pulang.  Sebelum  keluar,  Tisa  menghadiahi  ayahnya  dua  buah  ciuman  manis  di  pipi  kiri  dan  pipi  kanan.

‘Tisa,’ panggil  Pak Haryanto  ketika  Tisa  sudah  memegang  gerendel  pintu  siap  untuk  membukanya.

‘Ya?’ sahut  Tisa  sambil  memutar   badannya  dengan  indah.

‘Temui  dokter  Sayekti  dulu  sebelum  pulang.  Beliau  tadi  ingin  bicara  denganmu,’ pesan  Pak Haryanto.  Tisa  mengangguk.  Tanpa  dipesan pun  sebenarnya  Tisa  sudah  berniat  untuk  menemui  dokter  itu.  Begitu  banyak  pertanyaan  yang  ingin  diajukannya.  Mudah-mudahan  saja  aku  tidak  lupa  dengan  pertanyaan-pertanyaan  yang  ingin  kuajukan.

Dokter  Sayekti  sedang  menerima  tamu  ketika  Tisa  mengintip  ke kamar  kerjanya.  Tisa  memutuskan  untuk  menunggunya.  Untung  tamu  itu  tidak  mengobrol  terlalu  lama dengan  dokter  Sayekti.   Begitu  tamu  itu  keluar,  Tisa  segera  menjulurkan  kepalanya  melalui  pintu  yang  terbuka  sedikit.  Dokter  Sayekti  yang  melihatnya  segera
memberikan  isyarat  agar  Tisa  mendekat.

‘Mau  bicara  dengan  saya,  tante  dokter?’ tanya  Tisa  begitu  dia  sudah  berada  di depan  dokter  Sayekti.  Hanya  Tisa  seorang  yang  mengalamatkan  dokter  Sayekti  dengan  sebutan  ‘tante dokter “.  Entah  dari  mana  sebutan  aneh  itu  didapatnya.  Namun  yang  terang  dokter  Sayekti  sangat  menyukainya.

‘Iya,  Tis,’ jawab dokter  Sayekti.  ‘Duduklah dulu,’ lanjutnya  menyilakan  Tisa.  Sementara dia  membereskan  mejanya yang  penuh  dengan kertas.

‘Ayahmu  sudah bercerita  kepadamu?’ tanya  dokter Sayekti  setelah  mejanya rapi

‘Sudah.  Apakah  yang  dikatakan  papa benar?  Saya  kuatir jangan-jangan  papa  hanya
merekanya  untuk  menggembirakan  hati saya,’ ucap  Tisa.  Dokter  Sayekti  tertawa  ramai.  Setelah  tawanya  surut,  mulailah  dia  bercerita.

Sebenarnya  pihak rumah  sakit  sudah lama  mengetahui  keadaan ayah  Tisa  yang sebenarnya.  Tetapi  seperti yang  telah  diceritakan  ayah Tisa  tadi,  untuk menjalani  operasi  tersebut di  Indonesia  masih belum  mungkin.  Sedang untuk  menyarankan  agar Pak  Haryanto  berobat di luar  negeri  tidak pernah  terpikirkan  oleh para  dokter  yang merawatnya. Mereka  tidak  ingin menambah  beban  di pundak  Tisa.  Beban yang  saat  ini berada  di  pundak Tisa  sudah  terlampau berat  untuk  di tanggung  gadis  seusia
dia.

Memang  Tisa  tidak  memikirkan  masalah  keuangan,  karena  semua  biaya  pengobatan  ditanggung  perusahaan  ayahnya.  Tetapi  justru  beban  mentalnya  itu  yang  berat.  Kalau  pihak  rumah  sakit  memberi  tahu  perihal  keadaan  ayahnya  yang  tidak  bakal  tersembuhkan  bila tanpa  melalui operasi,  maka  sudah  dapat  dipastikan  kalau  Tisa  akan  tersiksa.  Sedang  kalau  untuk  membawanya  ke  luar  negeri,  akan  mampukah  dia?  Akhirnya  para  dokter  sepakat  untuk  tidak  menceritakannya  kepada  Tisa  maupun  kepada  Pak  Haryanto  sendiri,  sementara  itu  mereka  tetap  berusaha  untuk  penyembuhan  Pak  Haryanto.

‘Lalu  apa  yang  membuat  tante  dokter  berubah  pikiran  dan  menceritakan  kepada  kami,’ tanya  Tisa.

‘Sebenarnya  tidak  sengaja, Tisa,’ jawab  dokter  Sayekti.  ‘Selama  ini  kami  menyangka  hanya  Kamulah  satu-satunya  kerabat  ayahmu.  Well…  Kamu  sendiri  sewaktu  membawa  ayahmu  ke  sini  pertama  kali  mengatakan  bahwa  kalian  tidak  mempunyai  famili  yang  bisa  dihubungi.   Lalu  Kamu  sendiri  yang  mengurusi  ayahmu.   Kamu  sendiri  pula  yang  selalu  menjenguknya  dan  menguatirkan  keadaannya.   Jadi  kami  menyimpulkan  bahwa  kami  telah  melakukan  kebijaksanaan  yang  paling  baik  dengan
merahasiakan  penyakit  ayahmu.   Baru  kemarin  pagi  kami  mengetahui  kalau  ayahmu  mempunyai  adik  kandung  yang  tinggal  di  Jerman.”

‘Papa  bercerita  tentang  Oom  Heru?’ tanya  Tisa.   Dokter  Sayekti  menggeleng.

‘Kemarin  pagi,  ayahmu  meminta  tolong  tante  untuk  menuliskan  surat  buat  adiknya.
Papamu  bilang  Kamu  tidak  mau  menulis  surat  untuknya,’ kisah  dokter  Sayekti.   ‘Tentu  saja  tante  kaget  setengah  mati  ketika  mengetahui  hal  itu.  Tapi  tante  tulis  juga  permintaan  ayahmu. “

‘Ya,  ampun!’ seru  Tisa  kaget.  ‘Pasti  deh  papa  punya  rencana  untuk  menitipkan  saya  pada  Oom  Heru,  iya  kan?  Heran,  sudah  puluhan  kali  saya  katakan  pada  papa  saya  tidak  mau  ikut  Oom  Heru.  Jadi  tante  dokter  sudah  menulis  surat  buat  Oom  Heru?’

‘Menulisnya  sudah.   Mengirimkannya  belum,’ jawab  dokter  Sayekti.

‘Setelah  tahu  kalau  ayahmu  punya  adik  yang  tinggal  di  Jerman,  kami  segera   mengadakan  rapat  kilat  dan  memutuskan  untuk  memberitahu  ayahmu  tentang  penyakitnya.  Nah  yang  ingin  tante  bicarakan  denganmu  sekarang  adalah  apakah  tante  harus  mengirimkan  surat  ayahmu  yang  kemarin  atau  tidak?’

‘Tentu  saja  tidak,’ sahut  Tisa  cepat.   ‘Saya  akan  menulis  surat  untuk  Oom  Heru.  Kapan  kira-kira  papa  bisa  berangkat  ke sana?’

‘Jangan  terlalu  antusias, Tis,’ dokter  Sayekti  memperingatkan.

‘Secepat  mungkin  kami  akan  menghubungi  rumah  sakit  di  sana  dan  mengirimkan
catatan  kondisi  ayahmu  selama  ini.  Nah  kalau  sana  sudah  oke,  bolehlah  ayahmu  berangkat. “

‘Tante  dokter  tahu,  saya  ingin  sekali  melihat  ayah  sembuh.’

‘Iya,  tante  juga,’ jawab  dokter  Sayekti.  ‘Kamu  ingin  melihat  surat  yang  kemarin  tante  tulis?’

‘Nggak  usah,  tante  dok.  Saya  sudah  tahu  apa  isinya.  Saya  tidak  bisa  mengerti   mengapa  papa  sampai  berniat  untuk  membuang  saya  seperti  itu.’

‘Tante  rasa  alasan  ayahmu  tepat  juga, Tis.  Menurut  ayahmu,  sejak  beliau  sakit  Kamu  menjadi  sangat  berubah.  Kamu  menjadi  pemurung,  pendiam  dan  tidak  mempunyai  teman.  Padahal  ayahmu  bilang,  dulu  temanmu  sangat  banyak  dan  Kamu  termasuk  remaja-remaja  yang  agak  ribut  dan  cerewet,  itu  kata  ayahmu  lho.  Nah  dengan  mengirimkan  Kamu  kepada  oommu,  ayahmu  berharap  agar  Kamu  bisa  menemukan  kembali  duniamu  yang  hilang. “

‘Itulah  yang  tidak  saya  mengerti.  Papa  pikir  bila  saya  sudah  berpisah  dengan  papa  dan  hidup  bersama  keluarga  Oom  Heru  saya akan  bisa  melupakan  papa.  Padahal  justru  sebaliknya.  Saya  akan  sangat  menderita.  Saya  tidak  bisa  membayangkan  papa  berada  di  rumah  sakit  jiwa.  Walau  bagaimanapun  juga  papa  adalah  ayah  saya.  Dan  saya  sangat  mencintainya,’ keluh  Tisa  panjang.   ‘Tapi  yah…  sebentar  lagi  papa  akan  sembuh,’ sambungnya  diiringi  senyum.   Semuanya  akan  kembali  seperti  sedia  kala, pikir  Tisa  tenang.

Melihat  kegembiraan  di  wajah  Tisa,  mau  tidak  mau  dokter  Sayekti  ikut  bergembira  pula.  Sejak  pertama  bertemu  dokter  Sayekti  sudah  mengagumi  gadis  di  depannya  ini.  Tisa  begitu  telaten  dan  penuh  cinta  dalam  merawat  ayahnya.  Alangkah  sukarnya  membayangkan  Nies  bersikap  seperti  Tisa  dalam  menghadapi  ayahnya,  suami  dokter  Sayekti.  Apalagi  Tegar.  Tegar?

‘Astaga,  hampir  tante  lupa!’ seru  dokter  Sayekti  tiba-tiba.  ‘Tadi  Tegar  menitipkan  surat  untukmu,’ sambungnya  sambil  mencari-cari  ke  dalam  tasnya.

‘Surat  apa?’ tanya Tisa  heran.

‘Emm…, apa  dia  bilang  tadi?  Oh  iya…. mau  minta  tolong untuk  menandatangankan  absensinya,’ jawab  dokter  Sayekti  sambil  mengulurkan  sebuah  amplop  surat  yang  tertutup  rapat.

‘Apakah  kakinya  masih  bengkak?’ tanya Tisa.

‘Dia  masuk  Panti  Rapih  kemarin  sore,’ sahut  dokter  Sayekti.  ‘Kakinya  ternyata  retak  dan  perlu  digibs. “

‘Retak,’ ulang  Tisa  tidak  percaya.  ‘Kemarin  siang  dia  bilang  kakinya  tidak  apa-apa.  cuma  bengkak  saja. “

‘Oh,  Tegar  sok  tahu.  Dia  pikir  dia  lebih  ahli  dari  dokter.   Sewaktu  mau  tante  periksa  dia  menolak.  Baru  kemarin  sore,   setelah  sakitnya  tidak  tertahankan  lagi,  dia
berlari  ke  tante.  Langsung  deh  tante  jewer  kupingnya  dan  tante  seret  ke  rumah  sakit,’ cerita  dokter  Sayekti. Tisa  tersenyum.

‘Tante  heran,  Tis,  bagaimana  Kamu  akrab  dengan  anak  sableng  itu,’ lanjut  dokter  Sayekti. Tisa  terdiam.  Dia  tidak  tahu  harus  berkomentar apa. Akrab?  Rasa-rasanya  tidak.

Surat  Tegar  untuk  Tisa  benar-benar  menggambarkan  sifat  sablengnya.   Pada  kertas  resep  dengan  kop  nama  dokter  Sayekti  di  pojok  kiri  atas,  dia  menulis :

Pro :
Tisa  Aribowo ( Namamu  lebih  keren  deh  bila  digabungkan  dengan  namaku)

Begini,  Tis,  Kamu  kan  tahu  absensiku  untuk  Pak  Kris  sangat  rawan.  Sekali  lagi  aku  tidak  kuliah  berarti  aku  tidak  diijinkan  untuk  ikut  ujian  akhir.  Dus  aku  harus  ngulang  tahun  depan.   Nah  demi  masa  depan  kita  bersama,  kuharap  Kamu  mau  mengisikan  daftar  presensiku.  Tulisannya  kira-kira  seperti  di  bawah  ini.  Usahakan  deh  yang  agak  mirip  sehingga  beliaunya  tidak  curiga.
Tegar  Aribowo.

Di  bawah  nama  itu  Tegar  mencantumkan  nomor  mahasiswanya,  kemudian  sebuah  tanda  tangan.  Tanda  tangan  yang  simpel  sehingga  kelihatannya  mudah  untuk  ditiru  atau  dipalsukan.  Di  bawahnya  lagi ,  Tegar  menyambung  suratnya.  Oh  ya,  Tis,  sewaktu  abangku  sakit  dulu  dan  harus  diopname  pacarnya  nungguin  dia  terus.  Aku
tahu  aku  tidak  boleh  mengharapkanmu  untuk  menungguiku  harus.  Tetapi  kalau  aku  berharap  agar  sekali-sekali  kamu  kunjungi  boleh  kan?

Tisa  tertawa  ketika  membaca  surat  itu.  Pantas  dokter  Sayekti  mengira  kalau  aku  dan  Tegar  akrab.  Pasti  Tegar  bercerita  yang  tidak-tidak  kepada  tantenya   itu.   Sesudah  membaca  ulang,  Tisa  kemudian  mengambil  selembar  kertas  dan  mulai  belajar  menuliskan  nama ‘ Tegar   Aribowo ‘  hingga  tulisannya  mirip  dengan  tulisan  tangan  Tegar.   Sebersit  perasaan  aneh  tiba-tiba  muncul  di  hatinya.  Perasaan  yang  belum  pernah  dia  rasakan  sebelumnya.  Dia  merasa  seakan-akan  sejak  dulu  dia  dan  Tegar  selalu  berjalan  bahu  membahu.   Dia  merasa  seakan-akan  masalah yang dihadapi  Tegar  adalah  masalahnya  juga.  Dan  saat  ini  dia  sedang  berusaha  membantu  Tegar  untuk  menghadapi  salah  satu  masalah  tersebut.

Usaha  Tisa  agar  bisa  menuliskan  nama  Tegar  mirip  dengan  tulisan  yang  punya  nama  ternyata  tidak  ada  gunanya.  Pak  Kris  kosong.  Berarti  tidak  ada  daftar  presensi  yang  harus  diisinya.   Dalam  perjalanan  pulang,   sewaktu  Colt  yang  ditumpanginya  lewat  di  depan  Panti  Rapih  tanpa  disadarinya  Tisa  melambaikan  tangannya  kepada  kernet  untuk  memberinya  isyarat  kalau  dia  ingin  turun  di  tempat  itu.  Dan  setengah  sadar  pula  dia  berjalan  memasuki  Panti  Rapih.  Tahu-tahu  dia  sudah  berada  di  depan  paviliun  Albertus.

‘Apa  yang  kulakukan  di  sini?’ tanya  Tisa  pada  dirinya  sendiri.   Serta  merta  Tisa  sadar  bahwa  dia  sebenarnya  tidak  mempunyai  kewajiban  untuk  mengunjungi  Tegar.  Tetapi  untuk  keluar  lagi  dari  Rumah  Sakit  itu  rasanya  lucu.  Akhirnya  dia  memutuskan  untuk  menemui  Tegar.

‘Hanya  sekali  ini,’ janjinya  dalam  hati  sambil  meneliti  nama-nama  para  pasien  dan  kamar  masing-masing.   Tegar  benar-benar  surprise  ketika  tahu-tahu  melihat  Tisa  sudah  berdiri  di  depan  pintu  kamarnya.  Dia  tersenyum  lebar  dan  menyilakan  Tisa  masuk.  Tisa  mendekati  tempat  tidur  Tegar  dengan  ragu.

‘Aku  senang  kamu  mau  datang,  Tis,’ ucap  Tegar.

‘Emm…  Kebetulan  Pak  Kris  kosong,’ ucap  Tisa  yang  tidak  tahu  harus  berkata  apa.

‘Kosong?  Kalau  begitu  kamu  tidak  harus  mengisikan  presensiku  dong,’ seru  Tegar  gembira.  Tisa  mengangguk  sambil  memperhatikan  kaki  kanan  Tegar  yang  terbalut  gibs.

‘Seumpama  Pak  Kris  tadi  masuk,  Tis,  apakah  kamu  akan  menandatangankan  resensiku?’ sambung  Tegar  dengan  sebuah  pertanyaan.

‘Kurasa  aku  tidak  punya  pilihan  lain.  Kalau  sampai  Kamu  tidak  boleh  ikut  ujian,  kamu  pasti  akan  menyalahkan  aku,’ sahut  Tisa. Tegar  tergelak.

‘Aku  memang  brengsek  dan  tukang  paksa,’ Tegar  mengaku.  ‘Soalnya  kalau  tidak  kupaksa  kamu  tidak  pernah  mau  melakukannya  dengan  suka  rela.  Coba  kalau  sore  itu  aku  tidak  bolos  kuliah  dan  pura-pura  jadi  sopir  Colt,  tentu  kamu  tidak  mau  pulang  bersamaku.   Coba  kalau  aku  tidak  langsung  menuliskan  namamu  dalam  regu  Costku,  tentu  kamu  tidak  mau  seregu   denganku.  Coba  kalau  aku  tidak  langsung  menuliskan  namamu  dalam  regu  Costku,  tentu  Kamu  tidak  mau  seregu  denganku. Coba  kalau  aku  tidak  memaksamu  untuk  mencintaiku,  tentu  Kamu  tidak  mau  jadi  pacarku.’

‘Apa?’  sergah  Tisa  sambil  membelalakkan  matanya.

‘Kamu  sudah  mendengarnya,  Tis.  Benar kan?’

‘Tidak  lucu,’ desah  Tisa.

‘Hei,  ini  memang  bukan  lelucon.  Ini  serius,  Tis,  Coba  kalau  tidak  kupaksa,  maukah  Kamu  jadi  pacarku?’ bantah  Tegar  seenaknya.  Tisa  terdiam.   Dia  menyadari  bahwa  dia  tidak  mungkin  bisa  menghadapi  Tegar  bila  dia  tetap  menggunakan  caranya  yang
sekarang  ini.  Dia  harus  menggunakan  cara  yang  sama  sekali  lain.  Setelah  berpikir  beberapa  saat,  akhirnya  Tisa  menganggukkan  kepalanya.

‘Mau,’  jawabnya  mantap.  Kini  giliran  Tegar  yang  terkejut.  Dia  menatap  Tisa  tidak  percaya.  Sama  sekali  dia  tidak  menyangka  kalau  Tisa  akan  menjawab  seperti  itu.  Pelan-pelan  Tegar  mengembangkan  senyumnya.  Matanya  menatap  mata  Tisa  dengan
lembut  dan  dalam.  Tisa  segera  menyadari  kesalahannya.

‘Tegar,  aku  cuma  bercanda.  Tidak  serius,’ ucapnya  cepat.  Tetapi  sudah  terlambat.  Tegar  seakan  tidak  mendengar  suara  Tisa.  Dia  masih  juga  menatap  Tisa  dengan  segala  cintanya.  Tangannya  terulur  dan  tahu-tahu  tangan  Tisa  sudah  berada  dalam
genggaman  tangannya.

Siang  itu  matahari  bersinar  dengan  garangnya  seakan-akan  ingin  menghanguskan  semua  yang  ada  di  atas  permukaan  bumi  ini.  Pohon-pohon  mulai  melayu  daunnya  dan  burung-burung  kehilangan  nyanyiannya.   Sementara  orang  lain  memilih  untuk  tinggal  di  dalam  rumah  dan  melindungi  diri  dari  sengatan  matahari,  Tegar  justru   bertengger  gagah  di  atas  atap  rumah  Tisa.  Matahari  yang  menggumuli  kulitnya  tidak.  Hanya  sekali-sekali  saja  dia  menghapus  keringat  yang membasahi  wajahnya.  Dengan  tekun  dia  memasang  booster  di  antena  pesawat  CB  Tisa.   Dengan  booster  itu  dia  berharap  agar  kalau  menghubungi  Tisa  di  udara.  Tisa  bisa  menangkap  suaranya  dengan  jernih.   Tegar  baru  saja  selesai  mengencangkan  antena  ketika  dia  mendengar suara lain  di  atas  genteng  itu.   Ketika  menoleh,  dia  melihat  Tisa  yang  tengah  berjalan  ke  arahnya.

‘Ya  ampun,  Tis,  apa  yang  kamu  lakukan  di  sini?  Kamu  bisa  jatuh,’ seru  Tegar  kaget. Apalagi sewaktu melihat langkah Tisa  yang terhuyung-huyung.  Tisa  tidak  menyahut  hanya  melambai-lambaikan  selembar  kertas.

‘Dari  Oom  Heru.  Kamu  harus  membacanya,’ ucapnya  setelah  dekat  dengan  Tegar.  Kertas  yang  ternyata  surat  dari  pamannya  diulurkan  kepada  Tegar.  Setelah  menggeleng-gelengkan  kepalanya  berkali-kali  mulailah  Tegar  membaca  surat  itu. Sebuah  surat  yang  sangat  singkat.   Oom  Heru  hanya  menulis  kalau  operasi  ayah  Tisa  telah  berhasil  dengan  baik.   Minggu  depan  Ayah  Tisa  sudah  diijinkan  keluar  dari  rumah  sakit.  Hanya  itu  isi  surat  tersebut.  Oom  Heru  bahkan  tidak   menyebutkan  kapan.  Pak  Haryanto  akan  kembali  ke  tanah  air.  Tapi  surat  yang  singkat  itu  sangat  berharga  bagi  Tisa.  Juga  bagi  Tegar.  Tegar  menatap  Tisa  yang  berada  di  dekatnya  dengan  kasih.  Wajah  yang  biasanya  diliputi  mendung  itu  kini  nampak  secerah  langit di  atas  sana.   Tiba-tiba  Tegar  menyadari  di  mana  mereka  berada.

‘Tis,  Kamu  harus turun  sekarang. Tempat  ini  terlalu berbahaya untukmu,’ perintahnya  pada  Tisa.  Tisa  memandangnya  protes.

‘Aku  tidak  ingin  melihat  Kamu  jatuh.  Seharusnya  Kamu  tadi  tidak  usah  naik   kemari.  Kamu  memanggilku  saja  pasti  aku  akan  segera  turun,’ sambung  Tegar.

‘Aku  begitu antusias  tadi,’ Tisa  memberikan  alasannya   Tegar  tersenyum.  Seratus  persen  dia  memakluminya.

‘Oke,  tapi  Kamu  harus  turun  sekarang.  Sebentar  lagi  aku  selesai  dan  menyusulmu,’ kata  Tegar.  Tisa mengangguk.

‘Aku  turun  sekarang,’ ucapnya.

‘Hati-hatilah,’  pesan  Tegar  sambil  memperhatikan  Tisa  berjalan  menjauhinya.  Ketika  tiba  di  tepi  atap  Tisa  menghentikan  langkahnya  dan  berseru  kaget.

‘Ada  apa, Tis?’ tanya  Tegar.  ‘Kita  tidak  bisa  turun,’ jawab  Tisa  ragu  dan  kecut.

‘Apa?’

‘Kita  tidak  bisa  turun,’ ulang  Tisa.  ‘Kemari  dan  lihatlah,’ lanjutnya.  Tegar  meletakkan  kawat  yang  dibawanya  dan  berjalan  mendekati  Tisa.  Matanya  terbelalak  lebar.  Tangga  yang  mereka  gunakan  untuk  naik  tadi  kini  tersangkut  di  rumpun  melati  jauh  di  bawah  sana.

Ijinkanlah Aku Berjalan Di Atas Duniamu