Blog Archives

Lawang Sewu: Dari Pintu ke Pintu

Lawang Sewu dari simpang Pemuda

Entah sudah berapa puluh kali kami melewati bangunan ini – dalam perjalanan dari Jakarta menuju ke Yogya atau Surabaya dan sebaliknya – tapi baru kali ini kami menyempatkan diri untuk mampir.  Lawang Sewu yang dalam benak kami selama ini adalah bangunan tua, kumuh dan singup, ternyata merupakan bangunan cantik dengan pesona unik.  

lawang-sewu-0

lawang-sewu-3a

lawang-sewu-4

Bangunan utama Lawang Sewu mulai dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907.  Keseluruhan kompleks dirampungkan pada tahun 1919.  Bangunan ini awalnya diperuntukkan untuk kantor Naderlandsch -Indissche Spoorweg Maatschappij, perusahaan perkeretaapian pertama di India Timur.

lawang-sewu-2

Pada jaman penjajahan Jepang, bangunan ini diduduki dan dijadikan markas tentara Jepang.  Di lantai bawah tanah (basement) dimanfaatkan sebagai penjara.  Konon juga sebagai tempat untuk eksekusi.  Mungkin cerita-cerita mengenai angkernya tempat ini berawal dari kejamnya penjara Jepang.

lawang-sewu-5

lawang-sewu-6

Berjalan-jalan di pagi hari, jauh dari suasana angker.  Saya justru sangat menikmati kecantikan setiap bangunan.  Betapa beruntungnya bila bisa bekerja di tempat dengan arsitektur yang indah seperti ini.

lawang-sewu-7

lawang-sewu-8

lawang-sewu-9

lawang-sewu-10

lawang-sewu-12

lawang-sewu-13

lawang-sewu-14

lawang-sewu-16

lawang-sewu-20

lawang-sewu-17

lawang-sewu-18

Kaca-kaca patri yang asli bergaya Eropa masih dipertahankan hingga hari ini.  Dengan sinar matahari yang berusaha menerobos masuk menjadikan warna-warna kaca pateri semakin cemerlang.

lawang-sewu-19

lawang-sewu-22

lawang-sewu-23

lawang-sewu-24

lawang-sewu-25

Selain untuk mempelajari sejarahnya, tempat ini juga cocok untuk berfoto ria.  Banyak sudut dan lorong yang sangat unik sebagai background foto

lawang-sewu-34b

lawang-sewu-27

lawang-sewu-28

Lantas, apakah benar ada seribu pintu di Lawang Sewu.  Hampir mencapai seribu.  Tapi bukan jumlah pintunya, melainkan daun pintu.  Untuk satu pintu bisa ada 6 daun pintu.  Perhatikan gambar di bawah.  Dalam satu pintu ada 2 daun pintu dalam, dan 4 lembar daun pintu luar.  Nah kalau menghitungnya seperti itu, memang bisa dibilang ada sekitar seribu pintu di Lawang Sewu.

lawang-sewu-30

lawang-sewu-31

lawang-sewu-29

Advertisements

Papeda

Papeda

Lara Djonggrang: Dining in a Private Museum

Lara Djonggrang 2

The main attraction of Lara Djonggrang is the decor, both exterior and interior.  Starting from the large banyan tree in the front yard up to the inside of the home which was converted into a restaurant that is unique and a bit mystical.   The rooms, the tables, the benches, the chairs, the lighting, the floor are all beautiful.  Not to mention innumerable collections of antiques.  The statue of Lara Djonggrang, a visualization of the mythical Javanese girl on her way to heavens is one of the Masterpieces in this Restaurant

Lara Djonggrang 9

This restaurant offers traditional food from all over Indonesia.  All the food that we ordered were delicious.  

Categories:

Indonesia, Traditional

Address:

Jl. Teuku Cik Di Tiro 4

Menteng

Jakarta – 10350

Telp: +62 21 315 3252

Ambience:

 

Lara Djonggrang 8

Attire:

Semi formal

Our Order and Price Range:

 

Lara Djonggrang 3

Lara Djonggrang 4

Lara Djonggrang 2

Lara Djonggrang 5

Lara Djonggrang 1

Lara Djonggrang 6

Lara Djonggrang 7

Date of   Visit:

August 17, 2014.   Dinner with Maga and Junior

Lara Djonggrang 12

Lara Djonggrang 13

Lara Djonggrang 10

Lontong Mie

Lontong Mie

 

This rice cake noodle soup is one of the many traditional dishes of East Java.  I had lontong mie last week in Melati Cafe, Tugu Hotel Malang.

You will need:

250 gr egg noodle, cook and drain
250 gr sprouts, soak in hot water and drain
250 gr shrimps.  Separate the head and the body
1 stalk celery, slice
1 stalk chives, slice
5 cloves of garlic, slice
4 cloves of  shallot, slice
1 table spoon of dried shrimps
1/2  tea spoon of pepper
2 tea spoon of salt
2 table spoon of sweet soy sauce
6 glasses of water
2 table spoon of cooking oil

You will also need:

Shrimp paste (petis udang)
Rice Cake
Fried Tofu
Fried Shallot
Emping or shrimp crackers

How to Cook:

Boil the water.  Put the shrimp heads in.  Keep on the heat until  the shrimps heads floating.  Strain the shrimp broth.

Saute the garlic,  shallot and dried shrimps.  Put it  in the shrimp broth

Cook the shrimp broth, add pepper, salt, After it boils, put in shrimp, celery, chives and soy sauce until the shrimps are cooked.

How to Serve:

Slice rice cake and fried tofu.  Put it in a bowl.  Add egg noodle, sprout and shrimp.  Pour the soup.  Sprinkle with fried shallot.  Serve the shrimp paste and shrimp crackers on separate plate.

Tentang Tami: Tembang Terakhir

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Adegan NCIS lagi tegang-tegangnya, ketika wajah Jethro Gibbs terhalang oleh  munculnya pesan singkat Santi di layar TV-ku.  Agar pesan dan telpon dari pelangganku tidak terlewatkan selagi aku terlena nonton TV, aku sengaja mengkaitkan telpon selulerku ke pesawat TV.  Akibatnya ya seperti ini.  Bukan hanya sms dari pelangganku saja yang sering mengganggu kenikmatanku menonton, tapi juga sms-sms dari teman yang tidak mendatangkan bisnis seperti sms Santi ini.

 JANGAN LUPA  PERTUNJUKAN MEGAN MALAM INI !!!!!!!!  AJAK CLAY JUGA…. AKU SUDAH SIAPKAN MAKANAN TIDAK PEDAS UNTUKNYA !!!!!!!

Tulisannya persis seperti itu.  Dengan huruf besar semua dan dengan belasan tanda seru, seolah untuk menekankan betapa pentingnya pertunjukan Megan ini untuk dirinya.  Kalau sampai aku tidak muncul, dia akan murka sekali.

Mark Harmon seketika kehilangan daya tariknya.  Aku bergegas ke kamar untuk berganti pakaian yang lebih tebal.  Udara di luar lumayan dingin dan untuk menuju ke rumah Santi di Port Orchard aku harus naik feri dulu dari Seattle ke Bremerton selama satu jam dilanjut dengan naik mobil selama kurang lebih dua puluh menit.  Sekarang sudah jam lima lewat.  Mudah-mudahan aku aku bisa naik feri yang enam sore.  Aku harus buru-buru. Tidak ada waktu untuk menghubungi Clay.  Kedua-duanya akan aku lakukan nanti di atas feri saja.

Kukeluarkan Mini Cooperku dari garasi.  Untung kemarin aku sempat mengisi bensin, jadi aku bisa langsung ke terminal feri tanpa harus mampir di pompa bensin terlebih dahulu.  Mobil miniku masuk di terminal feri pada detik-detik teakhir.  Telat semenit saja, aku harus menunggu feri berikutnya satu jam lagi dan pertunjukan Megan sudah pasti akan terlewatkan.  Megan, anak Santi dan Greg, dari umur belia sudah belajar memainkan harpa.  Di usianya yang sekarang, 15 tahun, dia sudah piawai memainkan dawai.  Sesekali ibunya mengundang teman-teman dekatnya untuk makan malam dan Megan akan memainkan dua atau tiga komposisi.

Setelah memarkir mobilku, yang tentu saja terletak di bagian paling belakang feri, aku segera naik ke lantai atas, membeli segelas kopi dan menuju ke anjungan kapal bagian belakang.  Pada bulan Februari seperti ini, tidak ada seorang pun yang beminat untuk duduk di tempat terbuka.  Jadi seluruh anjungan belakang menjadi milikku.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Perlahan dan pasti, MV Sealth, feri yang kutumpangi mulai meninggalkan sandaran dan berlayar menjauhi Seattle, yang mulai memamerkan kerlap-kerlip lampu malamnya.  Bangunan-bangunan tinggi di Seattle yang kalau siang hari kelihatan gagah dan angkuh berubah menjadi romantis di senja hari. Di bagian paling kiri, terisolasi dari bangunan-bangunan tinggi lainnya, menjulang bangunan favoritku, Space Needle, yang di usianya yang ke 50 tahun masih tetap saja kelihatan kontemporer dan mampu bersaing dengan bangunan-bangunan lainnya.

Kucoba menelpon Clay.  Seperti biasa, tidak peduli sesibuk apapun, pada dering yang kedua dia menjawab telponku.

Hi, hon, what’s up?’ sapanya antusias

‘Pertunjukan Megan ternyata malam ini, Clay,’ ucapku.  Lebih dari dua minggu lalu, Santi sudah mengedarkan undangannya lewat sms dan aku benar-benar lupa.

‘Aku masih ada dua pasien, Tam.  Kamu mau menunggu aku atau kamu mau berangkat duluan nanti aku susul?’ tanya Clay.  Aku yakin dia pasti masih sangat sibuk.  Aku tidak ingin mengganggunya.

‘Aku sudah ada di atas feri, Clay,’ sahutku.  ‘Lagi pula kamu tidak harus datang.  Nanti kupamitkan ke Santi kalau kamu masih ada pasien dan kubawakan lemper buatannya,’ janjiku.  Bule satu ini demen sekali lemper isi ayam.  Apalagi buatan Santi.

‘Kamu yakin …

‘Sangat yakin.’

‘OK, hati-hati nyetirnya.  Jalanan licin kalau musim dingin seperti ini.’

‘Ya, kek…,’ sahutku seperti biasa kalau dia sudah mulai dengan nasehat-nasehatnya.

Setelah memasukkan telponku ke dalam tas, aku mulai menikmati indahnya Puget Sound, perairan di depan kota Seattle di saat matahari mulai tenggelam.  Karena bentuknya teluk, perairan disini sangat tenang.  Dari kejauhan menjulang deretan pegunungan Olympic yang berselimutkan salju.  Di kiri dan kananku berderet pulau-pulau kecil yang nampak kabur terhalang kabut.  Sesekali ada pancaran cahaya lampu dari pulau yang menyeruak menembus kabut.

Keheningan Puget Sound tiba-tiba terkoyak oleh derit pintu yang terbuka.  Seorang pemuda keluar dan sontak jantungku berhenti berdetak.  Di depanku berdiri Bara.  Bara dari masa dua puluh tahun silam.  Baraku yang masih berusia remaja. Kugelengkan kepalaku dengan keras untuk memastikan kalau aku tidak sedang bermimpi.   Ada yang salah dengan logikaku..  Remaja di depanku paling banter berusia tujuh belas tahun.  Sementara Baraku sudah menjelang usia 40 tahun.  Mustahil dia Bara.  Kecuali Bara sudah berubah menjadi Edward Cullen dengan keabadian remajanya.

Pemuda di depanku mengembangkan senyumnya.  Senyuman khas Bara.  Bagaimana mungkin ada seseorang yang begitu mirip Bara.  Anak Barakah dia?

‘Indonesia or Filipino?’ tanyaku membuka percakapan, walaupun seribu persen aku yakin kalau dia anak Indonesia dan mempunyai hubungan erat dengan Bara.

‘Indonesia,’ jawabnya hangat dan ramah.

‘Mau ke rumah tante Santi di Port Orchard?’ tebakku

‘Iya. Tante juga mau kesana?’ sahutnya  sambil bersandar di pagar pengaman di depanku.  Kuanggukkan kepalaku ‘Ibu saya teman kuliah tante Santi.  Bunda minta saya untuk datang ke pertunjukan Megan,’ remaja itu menjelaskan. Dia menjelaskan dengan bahasa Indonesia yang lancar, namun aku bisa menangkap kalau bahasa Indonesia bukan bahasa pertamanya.  Anak ini besar atau lahir di Amerika.

‘Teman tante Santi di Bloomington Indiana?’ tanyaku menyelidik  Tiba-tiba muncul keinginanku untuk mengetahui semua tentang anak ini.  Barangkali dengan mengetahui tentang dia, aku bisa mengetahui ihwal Bara.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tanpa ada peringatan terlebih dahulu, sekonyong-konyong anganku melintas balik ke hampir 20 tahun silam.  Balik ke kampus Bulaksumur, Yogya. Balik ke masa remajaku yang penuh dengan kenangan manis yang sekaligus getir.  Umurku waktu itu baru 17 tahun, mahasiswa baru yang jatuh cinta kepada kakak kelasnya,  Bara.  Betapa indahnya cinta remaja.  Betapa tidak adilnya kehidupan.

Di saat dunia luas mulai terbuka di depan mataku, di saat aku begitu mencintai kehidupan dan siap mengepakkan sayap untuk menggapai cita-cita, Leukimia mengincar nyawaku dengan kejam.  Aku yang pemain inti basket di universitas, yang doyan naik turun gunung, yang nilai ujian terendahnya B+, yang punya cowok ganteng bernama Bara, harus berperang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhku.

Pengobatan demi pengobatan kujalani dengan sabar.  Dari chemotherapy yang merontokkan semua rambutku hingga pengobatan alternatif yang tidak jelas juntrungannya.  Di sela-sela pengobatan itu, jalinan cintaku dengan Bara terajut dengan indah dan kokoh.  Bara adalah alasan utamaku untuk mempertahankan hidup yang semakin hari semakin berat.  Bara adalah batu cadasku di saat aku hampir putus asa.  Di saat seluruh tubuhku bengkak dan penuh dengan benjolan, Bara masih menganggapku gadis tercantik dan dengan bangganya memamerkanku ke seluruh dunia.  Bara adalah cahaya yang menerangi kelamnya masa depanku.

Namun, harapan hidupku semakin hari semakin tipis, hingga tidak ada lagi yang tersisa.  Melihat Bara yang tadinya menguatkanku berubah menjadi beban.  Setiap kali penyakitku kumat kulihat penderitaan hebat di mata Bara.  Dia yang pada mulainya tenang, mulai sering panik.  Dia mulai menelantarkan masa depannya.  Dia lebih sering mangkir dari kampus dan beredar di rumah sakit menemaniku.

Di penghujung perjuanganku, di saat tubuhku menolak segala jenis pengobatan, datang undangan dari Universitas Washington di Seattle untuk menjadi salan satu pasien uji coba pengobatan dengan sistem stem-cell.  Semua biaya mereka tanggung.  Karena sudah tidak ada alternatif lain, akhirnya berangkatlah aku ke Seatlle.

Bara masih sempat mengantarku di Bandara Soetta.  Sebelum keberangkatku, aku memaksanya berjanji untuk melupakanku dan melanjutkan hidupnya.  Aku tidak mempunyai apa-apa yang bisa aku janjikan untuknya.  Sama sekali tidak ada.   Jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa tidak mempunyai peluang di Seattle.  Aku pergi untuk tidak kembali

Ternyata, pengobatan di Seattle menunjukkan hasil yang berbeda. Setelah lebih dari tiga tahun aku dinyatakan bersih dari Leukimia.  Aku mendapatkan masa depanku kembali.  Aku punya waktu untuk bercinta lagi. Aku bisa menghubungi Bara kembali.

‘Jangan,’ cegah abangku Tommy saat kuungkapkan keinginanku untuk menghubungi Bara.  ‘Bara sudah melanjutkan hidupnya.  Dia sedang mengambil S2 dan sebentar lagi akan kawin dengan gadis lain.  Kamu sendiri yang menginginkn itu.  Jangan kamu ganggu dia.’

Aku pun maklum.  Inilah harga yang harus kubayar untuk kesembuhanku. Aku mendapatkan hidupku tapi aku harus melepaskan cintaku. Merasa tidak ada lagi alasan untuk balik ke Yogya, akupun memutuskan untuk tinggal di Amerika.   Walaupun pahit dan menyesakkan dada, kukubur dalam-dalam kenanganku bersama Bara.

 OLYMPUS DIGITAL CAMERA

‘Tante ..’ panggilan anak itu menyadarkanku dan menarikku kembali ke masa kini.

‘Maaf, kamu mengingatkanku pada seseorang,’ ucapku.  ‘Pertanyaannya tadi apa?’ lanjutku. Anak itu tertawa.  Gelak tawanya persis seperti gelak tawa Bara kala menertawakan kekonyolanku.

‘Saya tadi bilang ke tante, nama saya Tommy, tante siapa?’ ucapnya sabar.  Untuk beberapa detik aku diam terpana.  Bara menamakan anaknya Tommy, seperti nama kakakku?  Apakah kalau anaknya perempuan dia akan menamakanya Tami?

‘Nama tante Tami.’ ucapku.  Pemuda di depanku yang ternyata bernama Tommy  tertawa membahana.  Jika tadi aku belum yakin kalau dia anak Bara, kini aku yakin sekali.  Seyakin matahari terbit dari timur setiap paginya.

‘Nama kita mirip ya?’ olokku.

‘Bukan itu saja, tante,’ jawab Tommy.  ‘Pacar ayah saya dulu namanya juga Tami, makanya saya dinamakan Tommy.  Dari nama pacar ayah,’ lanjut Tommy.  Aku terkesima.  Bara sama sekali tidak merahasiaka masa lalunya.

‘Bundamu tidak keberatan kamu dinamakan Tommy?’ tanyaku menyelidik.  Tommy terdiam beberapa saat.

‘Ayah saya orangnya sangat keras dan kaku, Tante,’ ucapnya kemudian.  ‘Bunda memilih untuk mengalah.  Bunda selalu mengalah. Mereka pernah mengalami masa-masa sulit.  Sekarang sudah jauh lebih baik,’ sambungnya ringan.  Dia bercerita seolah aku adalah tantenya yang sudah dia kenal sejak lahir.

‘Jangan-jangan tante adalan Tami, cewek ayahmu dulu,’ pancingku juga berlagak ringan.

‘Tidak mungkin, Tante,’ jawab Tommy cepat.  ‘Taminya ayah sudah meninggal sebelum ayah ketemu Bunda.’  Aku terdiam.  Hatiku seketika membeku.  Ternyata bagi Bara aku sudah mati.  Untung saat itu peluit panjang sudah dibunyikan, pertanda kapal mulai merapat di Bremerton.  Karena Tommy tidak membawa mobil, kutawarkan kepadanya untuk ikut bersamaku.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selama dua puluh menit perjalanan dari Brementon ke Port Orchard, aku mencoba menggali informasi dari Tommy.  Mencoba memahami apa yang membuat Bara yang dulu kukenal sangat lembut dan penuh pengertian berubah menjadi kaku dan berkeras untuk menamakan anaknya Tommy, tanpa mempertimbangkan perasaan istrinya.

Sudah banyak mobil yang parkir di halaman rumah Santi ketika kami sampai di sana.  Rumah Santi letaknya terpencil, jauh dari tetangga.  Di kiri dan kanan bangunan utamanya yang besar dipenuhi dengan hutan pinus dan halaman belakangnya adalah pantai pribadi.  Kalau musim panas, kami sering mencari kerang untuk dimasak bersama.  Greg, suami Santi adalah seorang dokter bedah jantung, dan bekerja di rumah sakit yang sama dengan Clay.  Clay lah yang memerkenalkan aku dengan Santi dan Greg, bukan sebaliknya.

Santi sudah menunggu di depan pintu ketika kami datang.  Sama sekali di luar kebiasaanya.  Sambil memelukku dia berkata ke arah Tommy.

‘Ayah dan Bundamu ada di kamar tamu atas, Tom.’

Aku membelalakkan mataku, tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Santi.  Tommy segera menghambur ke dalam.

‘Kamu tahu siapa ayah Tommy?’ tanya Santi berbisik.  Kuanggukkan kepalaku.

‘Bara ada disini?’ tanyaku tidak percaya.  Santi menggangguk, menggamit lenganku dan menggandengku menjauhi rumah menuju pantai.  Lampu-lampu di sepanjang jalan setapak menuju ke pantai sudah menyala dengan terang.

‘Dan kamu tidak memberitahuku kalau dia ada disini?  Kukira kamu temanku, San,’ protesku.

‘Aku temanmu, Tam, percayalah.  ‘Bara memintaku untuk tidak memberitahumu.  Kalau kamu tahu kamu pasti tidak akan datang,’

‘Tentu saja aku tidak akan datang,’ sergahku.  ‘Kamu sadar enggak sih, San, betapa canggungnya pertemuan ini?  Lagian dari mana Bara bisa tahu tentang keberadaanku?’

‘Dari Facebook,’ jawab Santi singkat

‘Aku tidak punya akun Facebook, San’ bantahku sengit.

‘Dari akunku.  Mita mengunggah beberapa foto perkawinannya.  Ada foto kita berdua disana.  Bara melihat foto itu dan menanyakan tentang kamu.  Karena aku tidak tahu kalau aku harus merahasiakan keberadaanmu, ya aku jawab apa adanya,’ Santi menjelaskan.  ‘Bara dan istrinya, Maya ingin bertemu denganmu.  Aku katakan kepada mereka kalau kamu akan datang pada  acara Megan ini.  Dan mereka sengaja datang untuk menemuimu.’

‘Mereka datang jauh-jauh dari Indonesia?’

‘Mereka tinggal di Portland, Tam.  Setelah lulus dari Indiana mereka  kerja di Portland.’  Aku tertegun.  Tidak menyangka kalau selama ini Bara berada hanya tiga jam dari tempat tinggalku.

‘Apa yang kamu ketahui tentang aku dan Bara?’ selidikku.

‘Banyak,’ jawab Santi.  ‘Aku roommate Maya dari tingkat satu hingga lulus, Tam.  Aku menjadi saksi perubahan dramatis Maya sejak kemunculan Bara di Bloomington.  Dia jungkir balik mencoba menggapai cinta Bara yang sudah habis kikis untukmu.  Aku kasihan melihat dia bersaing dengan hantumu.  Seingatku Bara pernah bilang kalau hatinya sudah mati bersamaan dengan kematian gadisnya.  Aku dan Maya mengira kalau kamu benar-benar sudah mati, Tam.  Belasan tahun aku mengenalmu dan aku tidak pernah tahu kalau kamu adalah gadis Bara’

‘Bagi Bara aku sudah lama mati, San,’ bisikku.

‘Omong kosong,’ bantah Santi sengit. ‘Bara tidak pernah bisa melupakanmu.  Di matanya kamu sempurna sehingga Maya harus berjuang keras untuk bersaing dengan bayanganmu.  Dan kurasa kamupun demikian juga.  Bara adalah tolok ukurmu.  Dia juga yang membuatmu menolak lamaran Clay kan?’

‘Clay tidak pernah melamarku..’ bantahku.  Tiba-tiba aku membutuhkan Clay di berada di sampingku saat ini juga.  Membutuhkan dia untuk mengatakan apa yang harus aku lakukan dalam menghadapi Bara yang tiba-tiba berada dalam jangkauanku.  Tanpa aku sadari ternyata selama ini aku banyak mengandalkan Clay dalam memutuskan sesuatu.

‘Untung dia tidak melamarmu,’ sahut Santi.  ‘Kalau sampai dia melamarmu, kamu akan terbirit-birit meninggalkannya.  Dan kamu akan menjadi wanita tua yang kesepian tanpa teman sekaligus kekasih,’ ucap Santi sambil melihat ke arah rumah.

‘Temuilah mereka, Tam,’ lanjut Santi.  ‘Sudah saatnya kalian menghadapi hantu masa lalu kalian dan melangkah maju. Yuk masuk, sudah saatnya untuk makan malam..’ ajaknya mengalihkan pembicaraan.

‘Kamu masuklah dulu, San.  Aku butuh waktu sebentar untuk menyendiri,’ ucapku.  Santi memandangku sejenak kemudian menganggukkam kepalanya.  Setelah berpesan agar aku segera menyusulnya dia meninggalkanku.

Tentang Tami 7

Aku duduk mematung di atas batang pohon yang tumbang terbawa arus. Memandang ke depan.  Ke gelapnya malam yang menggelantung di atas laut yang mendesah halus.  Cepat atau lambat aku harus menemui Bara dan istrinya.  Pada saat aku siap untuk beranjak dan menuju ke rumah utama, aku melihat sesosok bayangan yang berjalan dengan cepat dan pasti ke arahku.  Aku berdiri dan menanti dengan cemas.  Aku kenal betul pemilik bayangan itu.  Seribu tahun dari sekarang pun aku masih akan tetap mengenalinya.

‘Tami…?’ bisiknya ragu.  Hanya sekejab.  Sekejab kemudian dia sudah merengkuhku ke dalam pelukannya yang erat.  Erat sekali hingga aku nyaris tidak bisa bernafas.  Dua puluh tahun yang memisahkan kami sirna sudah. Tanpa bekas. Kami kembali ke masa lalu.  Ke masa dimana pelukan Bara mampu menghilangkan semua ketakutan di dalam diriku. Tidak ada kata-kata yang terucap, takut kalau kata-kata justru akan membuyarkan momen yang indah ini.  Lama kami berada dalam keadaan seperti itu.  Hingga sebutir air mata Bara bergulir menimpa pipiku.  Aku tersadar dan melepaskan diri dari pelukan Bara, mengambil jarak, namun masih tetap menggenggam kedua tangannya.

‘Aku tidak menyangka  kita bisa bertemu lagi, Bar,’ kataku dengan susah payah sambil menghapus air mata dari pipinya.

‘Mereka semua membohongiku, Tam,’ ucapnya serak.  ‘Mereka membohongiku.  Membohongiku,’ ucapnya berkali-kali.

‘Siapa yang membohongimu?’ tanyaku bingung.

‘Semuanya … Ayahmu, ibumu. kakakmu Tommy dan istrinya, Oki.  Kira-kira dua bulan setelah keberangkatanmu ke Amerika, mereka bilang kalau pengobatanmu gagal.  Mereka bilang kalau kamu sudah meninggal.’

‘Mungkin kamu salah mengerti ..’

‘Tidak, Tam,’ sanggah Bara.  ‘Itu yang mereka katakan.  Aku tidak percaya ketika mereka bilang kalau kamu sudah meninggal.  Aku masih merasakan keberadaanmu.  Aku masih merasakan detak jantungmu.  Tapi mereka terus meyakinkanku.  Mereka bahkan mengadakan tahlilan dan peringatan 40 harimu dengan mengundang anak-anak panti asuhan.  Mengapa kamu tidak berusaha untuk menghubungiku, Tam?’

‘Pengobatanku sangat berat, Bar.’ kataku.  ‘Mempertahankan hidupku saja sulit.  Aku tidak punya daya untuk memikirkan hal lainnya.  Aku tidak tahu mengapa mereka membohongimu.  Tapi aku yakin mereka melakukan itu karena mereka menyayangimu, Bar.  Kalau aku di posisi mereka, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.  Aku pasti tidak akan rela melihat kamu menyia-nyiakan hidupmu, menungguku tanpa ada kepastian.  Sekarang lihatlah, kamu punya Maya dan Tommy.  Oh ya, aku ketemu Tommy di atas feri, dia benar-benar mirip kamu.’

Wajah Bara yang tadinya tegang seketika menjadi santai mendengar nama anaknya kusebut.  Dia berusaha untuk tersenyum.

‘Untuk beberapa bulan setelah kepergianmu, aku depresi berat.  Aku sangat menderita.  Aku gila, Tam.   Aku masih merasakan kehadiranmu.    Satu-satunya jalan untuk mengabaikan kehadiranmu hanya belajar dan belajar.  Kuliah kukebut dan aku lulus dengan predikat mahasiswa terbaik.  Aku tidak bahagia, Tam.  Aku juga tidak bahagia ketika mendapat beasiswa penuh tanpa ikatan ke Bloomington.  Untung disana aku ketemu Maya.  Dia yang menyelamatkan hidupku.  Dia yang mengajariku untuk tersenyum lagi dan menunjukkan kepadaku kalau hidup ini masih layak untuk dinikmati,’ tutur Bara.  Untuk pertama kalinya, dalam hatiku, aku berterimakasih kepada Maya yang pantang putus asa dalam mencintai Bara.

‘Kamu cinta Maya, Bar?’ tanyaku terlepas begitu saja.  Tidak pada tempatnya bagiku untuk menanyakan hal itu. Aku sama sekali tidak berhak untuk menanyakannya.  Bara tersenyum.

‘Awalnya tidak, Tam,’ akunya. ‘Hatiku terlampau hampa untuk mencinta.  Tapi aku tahu Maya wanita baik, wanita yang sangat baik.  Aku tahu dia mencintaiku tanpa syarat.  Mencintai aku yang sudah remuk dan tidak lagi memiliki hati. Aku tahu aku tidak akan menemukan wanita sebaik dia.  Setelah selesai kuliah, terdorong naluriku yang kuat kulamar dia untuk jadi istriku.  Aku tidak tahu kapan aku mulai mencintainya.  Yang jelas sejak bersamanya, memikirkanmu tidak lagi menyesakkan dadaku.  Kamu menjadi kenangan yang indah, sementara Maya adalah cintaku yang nyata,’ lanjut Bara sepenuh hati.  Kupeluk dia kembali dan kudaratkan kecupan di pipi kiri dan kanannya untuk menghapus segala kepedihan yang pernah dia derita gara-gara kepergianku.

‘Aku bahagia untukmu, Bar. Benar-benar bahagia untuk kamu, Maya dan Tommy.  Maafkan aku bila aku pernah menjadi sumber penderitaanmu.’

‘Bagaimana dengan dirimu, Tam?  Apakah kamu bahagia?’ tanya Bara konsern.  Bahagiakah aku?

‘Aku tidak tahu, Bar,’ sahutku jujur.  ‘Umurku 38 tahun.  Masih hidup.  Sehat. Punya usaha disain perhiasan sendiri.  Punya rumah yang baru lunas kalau umurku 55 tahun nanti.  Punya teman setia yang bernama Clay, yang kata Santi tidak berani melamarku karena takut aku akan lari terbirit-birit meninggalkannya… Mungkin kalau disimpulkan, ya aku cukup bahagia,’  Bara tersenyum mendengar penuturan singkatku yang sudah mencakup semua yang ingin dia ketahui.

‘Apakah kamu mencintai Clay?’ tanya Bara diluar dugaan.  Kalau aku boleh menanyakan apakah dia mencintai Maya, tentunya dia pun boleh menanyakan hal yang sama kepadaku.

‘Mungkin seperti kamu, Bar, aku agak lamban untuk menyadarinya,’ sahutku.  Clay masih dokter intern ketika aku mulai menjalani pengobatan.  Dokter termuda di dalam tim dokter yang menanganiku, sehingga lebih mudah bagiku untuk berkomunikasi dengannya ketimbang dengan dokter-dokter lainnya.  Setelah aku sembuh pun, Clay selalu berada di dekatku.  Dia yang membantuku untuk kembali kuliah. Membantuku mendirikan usaha sendiri setelah kuliahku selesai.   Ketika rumah di sebelah rumah Clay dijual,  Clay yang mendorongku untuk membelinya.  Jadi secara fisik kami memang dekat.  Sementara secara perasaan, aku tidak pernah menganalisanya.

‘Sebaiknya kita masuk ke rumah, Bar.  Pertunjukan Megan pasti sudah dimulai dan aku ingin ketemu Maya,’ ajakku mengalihkan pembicaraan.  Bara setuju.   Berdua kami mulai melangkah menuju ke rumah utama.  Lengan kanan Bara memeluk pundakku. Kebiasaan lama… berjaga kalau-kalau aku mendadak pingsan selagi berjalan.  Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum.

‘Aku sudah sehat sekarang, Bar.  Kamu tidak perlu menjagaku lagi,’ bisikku.  Dia tertawa pelan, tapi tetap memelukku.  Dia masih juga memelukku ketika kami memasuki ruang keluarga yang luasnya hampir seluas Balairung, kampus Bulaksumur.  Kutebarkan pandangku keseluruh ruangan.  Megan sudah siap dengan harpanya dan sebagian besar  tamu sudah duduk manis membentuk setengah lingkaran di depannya. Beberapa masih berdiri di dekat meja makan.  Megan yang pertama menyadari kehadiran kami.

‘Tante Tami, mau mengiringiku dengan piano?’ Megan menawarkan ke arahku.  Semua   menoleh ke arah kami.  Termasuk seorang wanita cantik yang berdiri di  samping Santi di dekat meja makan, yang memandangku dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.  Inilah Maya.  Istri Bara dan bunda Tommy.  Aku tersenyum ke arahnya.  Melalui senyumku ingin kusampaikan terima kasihku karena telah menyelamatkan Bara.

‘Tidak malam ini, Meg,’ ucapku ke arah Megan sambil melepaskan diri dari pelukan Bara dan menghampiri Maya.  Bara berjalan tepat di belakangku.  Belum sempat Bara memperkenalkan aku dengan Maya.  Aku sudah memeluk Maya dan mencium pipi kirinya.

‘Bunda, ini Tami,’ kata Bara. ‘Tam, ini Maya istriku.’

‘Aku tahu!!’  Aku dan Maya menyahut serentak.  Dengan sahutan itu, kekakuan di antara kami pun mencair.  Hilang tanpa bekas.

‘Kukira kalian sudah berada di atas feri dan melarikan diri berdua,’ seloroh Maya.

‘Rencananya seperti itu,’ sahut Bara.  ‘Ternyata Tami lebih senang melarikan diri dengan orang lain’

‘Makasih, Tam,’ sahut Maya.  ‘Wah, aku harus lebih waspada sekarang.  Sebagai hantu saja, Tami sudah saingan berat, apalagi segar bugar kayak remaja gini,’ lanjutnya ringan.  Baru saja aku mau membalas ucapan Maya, Megan sudah mulai memainkan jari-jari lentiknya.  Aku bergegas mencari tempat duduk yang kosong.  Kulihat sofa satu dudukan di bawah lukisan Thomas Kinkade.  Aku menuju ke sana.  Dengan sudut mataku, aku melihat Bara dan Maya mengambil tempat duduk berdampingan, agak jauh dari tempatku.  Sebelum larut dalam permainan Megan aku panjatkan syukur  kepada Tuhan karena telah menyatukan Bara dan Maya.  Mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi.

Ketika Megan mulai memainkan komposisi kedua, tiba-tiba ada yang duduk di lengan sofaku.  Aku menoleh dan mendongakkan wajahku.  Clay mengembangkan senyum manisnya.  Belum pernah aku segembira ini melihat kehadirannya.  Aku bergeser dan mempersilahkan dia untuk berbagi sofa denganku.

‘Kukira kamu tidak datang, Clay,’ bisikku.

‘Dan membiarkanmu menemui mantan pacarmu seorang diri? Not a chance,’ jawab Clay tepat di telingaku. Aku tersenyum dan otomatis menoleh ke arah Bara dan Maya yang ternyata sedang memandang ke arah kami.  ‘Clay’ kuucapkan nama Clay tanpa suara ke arah Bara dan Maya.   Bara menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempol tangan kanannya seakan memberikan persetujuannya.  Aku bernafas lega.  Kusandarkan kepalaku ke dada Clay.  Kutemukan kedamaian disana.

‘Pertemuanku dengan Bara adalah sebuah encore, Clay.  Tembang terakhir sebelum pertunjukan usai.  Mulai sekarang, hanya ada kita berdua.  Tidak ada lagi hantu masa lalu yang berkeliaran di antara kita,’ janjiku.

Austin, February 2014

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Have a Romantic Valentine, Friend…

 

Barelang Bridge

Barelang Bridge

Barelang Bridge is one of the icons of Batam Island.  This bridge is a series of six bridges, connecting six islands, three of which became the name of this bridge: Batam, Rempang and Galang.

The scenery along the bridge is so amazing.  The calm seas, without waves,  surrounding many sparkling small  islands.

With a relatively quite traffic, you can stop on the bridge to take photos or enjoy the view, like what I and my friend Julie Suroso did.

Batam 2

Mari Masak Kerak Telor

Malam ini tiba-tiba aku ingin sekali makan Kerak Telor.  Diantar Maga, kami mencoba peruntungan pergi ke kawasan Tugu Monas. Ternyata pada malam Minggu seperti malam ini,  banyak abang-abang yang menjajakan makanan khas Betawi ini

Kami berkesempatan untuk menyaksikan proses pembuatannya dengan seksama …, Sepertinya mudah untuk membuatnya sendiri.

Kerak 2

Bahan-bahan yang dibutuhkan.

    1. Ketan putih, rendam selama 2 hingga 3 jam
    2. Telor bebek
    3. Serundeng kelapa
    4. Bawang goreng
    5. Ebi bubuk
    6. Garam, lada bubuk, gula pasir, 
    7. Irisan cabai (bila diperlukan)

Cara Pembuatannya:

Panaskan wajan ukuran sedang di atas anglo dengan arang yang menyala panas.

Kerak 3

Masukkan satu sendok sop ketan yang sudah direndam beserta airnya.  Tutup dan biarkan selama 2 hingga 3 menit di atas anglo.

Kerak 4

Buka tutupnya dan masukkan satu butir telor bebek, satu sendok makan serundeng kelapa gurih, satu sendok teh serundeng kelapa manis,  satu sendok makan bawang goreng, satu sendok teh ebi bubuk, garam, gula dan merica secukupnya.

Kerak 5

Aduk dengan cepat dan merata.

Kerak 6

Bentuk menyerupai telor dadar dengan diameter 20 cm, tutup dan masak hingga harum.

Kerak 7

Buka tutupnya dan balik wajan di atas anglo, hingga lidah api menjilat kerak telor.

Kerak 9

Bolak-balik wajan, hingga kerak telor benar-benar matang dan harum baunya.

Kerak 10

Tambahkan serungdeng dan bawang goreng lagi dan sajikan

Kerak 1

Selamat mencoba dan menikmati.

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Keempat)

ribuanmi4

Cerita Sebelumnya:

Lucinda Stanton adalah gadis yang beribukan wanita Indonesia dan ayah Amerika.  Karena perceraian orang tuanya dia ikut ibunya yang kemudian menikah lagi dan tinggal di Indonesia.  

Setelah lima belas tahun berpisah dengan ayah dan saudara kembarnya, ia dikirim oleh ibunya untuk tinggal di Amerika.  

Ayahnya menyambut Lucinda dengan hangat.  Tetapi David, saudara kembarnya menerimanya dengan kebencian dan Deidre, kekasih David ikut-ikutan.  Kesedihan Lucinda menerima perlakuan David agak terobati karena persahabatannya dengan para pengurus rumah tangga Stanton, terutama Oscar dan Irene.

Tuan Stanton mendapat serangan jantung mendadak.  David menuduh Lucinda sebagai penyebabnya.  Dia juga menuduh Lucinda datang ke Amerika karena menginginkan warisan saja.  David kemudian meminta Lucinda untuk kembali ke Indonesia, tetapi Lucinda melarikan diri ke kota lain

Taksi yang kutumpangi berjalan menyusur pantai meninggalkan keramaian kota Jacksonville.  Pantai yang gersang tanpa pepohonan.   Pasirnya berwarna putih kusam.  Tidak ada yang menarik.  Pantai ini kalah jauh dari pantai-pantai di Indonesia.  Sekitar dua jam kemudian kami memasuki kota kecil Daytona.   Ada sebaris pohon palem yang hampir meranggas di pusat kota.  Walaupun demikian Daytona mempunyai karisma tersendiri.  Suasana liburan serta merta terasa. Di mana-mana kelihatan orang berjalan kaki dengan riang.  Mobil yang lalu lalang bisa di hitung dengan jari.  Tak seorang pun bepenampilan murung, kecuali aku mungkin.

Sesudah agak lama berputar-putar di pusat kota, supir taksi membelokkan mobilnya ke kiri ke arah pantai. Suasanan pantai lebih menunjukkan suasana santai. Penuh dengan manusia yang sedang berenang dan sekedar berjemur di bawah terik matahari. Kemudian taksiku memasuki halaman sebuah hotel yang nampak begitu indah.  Sebuah hotel butik yang ditujukan untuk penyewa jangka panjang dengan pelayanan lengkap, termasuk tiga kali makan.

Seorang room boy mengantarku ke kamar yang kupesan dari airport.  Sebuah kamar yang luas dan  terpisah dari bangunan induk hotel.  Berderet dengan tiga kamar lainnya dan menghadap ke pantai.   Sepanjang siang aku mengurung diri di kamar.   Aku mersasa benar-benar sendirian kini.  Setiap orang saling memiliki. Aku tidak.  Mama memiliki adik-adikku dan Oom No.  David memiliki Papa.  Papa memiliki David.  Tetapi aku?  Tak seorang pun yang kumiliki kini.  Tidak ada seorang pun yang mempedulikan apakah aku masih hidup atau sudah mati.  Mama pasti mengira aku masih bersama Papa.  Papa dan David pasti juga mengira kalau aku sudah kembali ke Mama dan mereka tidak peduli apakah aku benar-benar sudah pulang atau belum.  Aku bukan Stanton lagi.  Tak ada lagi hubungan antara diriku dengan Stanton.  Oh tragisnya hidup ini.   Tapi aku sudah memilih untuk menjalani  hidup yang tragis ini.

ribuanmi4

Pukul tujuh, bel panggilan makan malam berdering.  Aku tidak lapar tetapi bangkit juga dari tempat tidur.  Kulihat diriku di dalam cermin.  Mataku sangat merah dan mataku sembab oleh bekas air mata. Kubasuh mukaku dulu sebelum keluar dari kamar.  Waktu keluar dari kamar, penghuni kamar sebelah kiriku  juga keluar. Seorang gadis yang sangat cantik dengan perawakan yang begitu semampai.

‘Hello!’  sapanya ramah sambil menutup pintu kamarnya.

‘Hai,’   jawabku gugup.

‘Kamu penghuni kamar ini?’ tanyanya.  Kuanggukkan kepalaku.  ‘Sudah lama aku ingin punya tetangga dan baru sekarang kesampaian. Namaku Michelle,’ lanjut gadis itu memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya hangat.

‘Aku Lucy.  Kamu sendirian saja?’  tanyaku sambil kujabat tangannya. Dia mengangguk.

‘Kamu  mau makan malam ‘kan?  Kita bisa duduk semeja,’  usul  Michelle. Aku merasa sedikit terhibur.  Makan sendirian benar-benar tidak nyaman terutama di tempat yang ramai seperti ruang makan di hotel ini.

Kami duduk di teras ruang makan yang menghadap  ke laut lepas. Hembusan angin sore yang hangat kental beraroma garam.   Michelle mulai menceritakan tentang dirinya. Dia seorang peragawati yang berasal dari Boston dan pada musim panas bekerja pada sebuah rumah mode di Daytona.

‘Kamu tinggal di hotel ini sepanjang musim panas?’  tanyaku.

‘Ya.  Itu perjanjianku dengan boss.  Aku tidak mau tinggal di apartemen, membereskan tempat tidur dan mengurusi hal-hal domestik lainnya,” jawab Michelle sambil tertawa.  Aku menyadari gadis di depanku ini begitu banyak tawanya. ‘ Nah, itu waiter kita, Les,…’ ucap Michele sambil menunjuk pada seorang pemuda yang berjalan ke arah kami.

‘Selamat malam, Michelle!’ tegur waiter itu.

‘Malam, Les.  Ada orang baru yang duduk di meja ini.  Kamarnya di sebelah kanan kamarku.  Lucy, kenalkan, Les,’ Michele memperkenalkan kami berdua.

‘Hallo,’  sapaku.

‘Senang berkenalan denganmu, Lucy,’ balas Les sambil tersenyum.   ‘Sekarang apa yang dapat kuambilkan untuk kalian?’ lanjutnya.

‘Seperti biasanya. Dan Lucy, apa yang kamu inginkan?’ tanya Michelle. ‘ Tidak banyak yang dapat kamu pilih di sini,’ sambung Michele berbisik tapi cukup keras untuk didengar Les. Les tersenyum tapi tidak membantah kata-kata Michelle.

‘Apa yang istimewa untuk hari ini?’ tanyaku.

‘Idaho red angus dilumuri mint lalu ditaburi suwiran lobster dan tumis sayuran dan dilengkapi dengan kentang mini kukus,’

‘Itu yang istimewanya apalagi yang biasa,’ komentar Michele diiringi tawanya yang khas.

‘Kamu membuat nafsu makan Lucy hilang,’ Les memperingatkan.

‘Oke, kuambil yang istimewannya tapi tanpa lobster,’ jawabku.   Les tersenyum senang dan segera berlalu.  Sesudah makan malam Michelle mengeluarkan rokoknya.

‘Rokok?’ Michelle menawarkan.

‘Terima kasih.  Aku tidak merokok,’ jawabku. Michelle menyulut sebatang untuknya.  Sisanya di letakkan di atas meja dan di putar-putarkan beberapa kali.

‘Lucy, kamu mempunyai darah Amerika Latin? Mexico atau Cuba?’  tanya Michele tiba-tiba. Kugelengkan kepalaku.

‘Amerika Asli?’ tanyanya tak percaya.

‘Juga bukan. Aku orang Indonesia.’

‘Indonesia?’ ulang Michele untuk meyakinkan.  ‘Sangat jauh dari sini.  Kamu datang ke sini sendirian? Berapa umurmu?’ tanya Michele dengan cepatnya. Aku tertawa mendengar kecepatan bicaranya itu.

‘Sembilan belas dan akan menjadi dua puluh tahun pada musim gugur,’

‘Sembilan belas? Ah, kamu pasti bercanda. Enam belas kukira lebih tepat,’ olok Michelle.

‘Mau lihat pasporku?’ gurauku.

‘Tidak . . . tidak,’ jawab Michelle sambil tertawa.  Kemudian kami bercakap-cakap ringan.  Tentang mode,  tentang remaja,  tentang pantai dan penjaga pantainya.  Selama bercerita itu Michele merokok terus menerus.  Aku heran mengapa giginya masih tetap putih dan bibirnya tidak rusak oleh tembakau.

Lifeguard . . .,” keluh Michele tentang penjaga pantai , ‘mereka benar-benar hebat tetapi juga bajingan’ lanjutnya.

‘Mengapa demikian?’ tanyaku antusias.

‘Kamu akan melihatnya sendiri,’ kilah Michele.  ‘Mereka akan duduk di kursi mereka yang tinggi, begitu gagah dan begitu tampan.  Bertelanjang dada dan berkacamata gekap pura-pura mengawasi keamanan pantai. Padahal yang sesungguhnya mereka awasi adalah gadis-gadis berbikini. Karena kaca mata hitam yang mereka kenakan,  mata mereka bisa bebas berkelana ke sana ke mari,’ Aku terkesima mendengar cerita Michelle bak dengan begitu gadis kecil mendengar dongeng ibunya sebelum tidur.

”Tapi anehnya,’ lanjut Michelle, ‘w alaupun semua orang tahu kalau mereka itu petualang, masih juga mereka dipuja-puja. Dimana pun mereka berada, gadis-gadis cantik akan mengerumuni bahkan mau bermain cinta dengan mereka.’

‘Ah, ‘ cetusku tidak sadar.

‘Jangan heran, Lucy.  Bahkan kalau ada kesempatan mau rasanya aku bercinta dengan mereka.’

‘Kamu mau?’

‘Yah.  Mereka begitu tampan dan gagah. Begitu muda dan crunchy . Sebelum aku terikat dengan perkawinan nanti,  aku mau bermain dengan mereka dulu,’ kata Michelle bermimpi.  ‘Kamu harus hati-hati terhadap mereka.  Mereka jago merayu.  Tanpa kamu sadari kamu sudah masuk dalam perangkap mereka. Dan kalau mereka sudah mendapatkannya, finish.

‘Selalu begitu?’

‘Selalu.  Siang hari  kamu berkenalan dengan salah satu dari mereka.  Sedikit rayuan gombal, malam harinya kamu sudah ada dalam pelukannya. . . Kamu akan membawa kesan itu seumur hidupmu sedang si dia sudah lupa keesokan harinya dan siap dengan gadis yang lain,”

‘Sekejam itu?’

‘Mereka tidak kejam, Lucy. Kalau gadisnya mau, mau di bilang apa?  Tidak ada unsur paksaan dalam hal ini. Dan biasanya yang senang itu justru si gadis. Kalau gadisnya cerdas, dia akan cari lifeguard yang lain.  Mereka benar-benar memikat,”

‘Apakah semua lifeguard demikian?’

‘Wah, tentang hal itu aku tidak tahu.  Tapi kebanyakan, Lucy. Kebanyakan.  Dari pengamatanku yang selalu tinggal disini setiap musim panas, kebanyakan dari mereka ya seperti itu.   Kalau kamu tidak ingin jadi korban, jangan dekati mereka.  Mereka tidak akan mendekatimu bila kamu tidak menunjukkan minat.  Itu salah satu yang kukagumi dari mereka.  Kalau kamu ingin selamat, hindarilah mereka,” nasehat Michele.

‘Engkau membuatku takut pada mereka,’  kataku jujur.

‘He, jangan!!’ teriak Michele.  ‘Mereka tidak apa-apa jika, . . . seperti kataku tadi, engkau tak ada minat terhadap mereka.  Mereka dapat menjadi teman yang baik. Engkau dapat saja bergaul dengan mereka tanpa harus berpacaran,’  jawab Michele blak-blakan.

ribuanmi4

Itulah awal perjumpaanku dengan Michelle.  Aku bersyukur dapat berjumpa dengan gadis seperti dia.  Dengan dia rasa asingku terhadap sekeliling bisa menghilang begitu saja.  Setiap sore sehabis pulang dari kerja, Michelle selalu menemaniku berjalan-jalan sepanjang pantai.  Atau kadang-kadang kami pergi ke kota nonton atau makan di tempat-tempat yang baru.  Sembilan tahun yang membedakan umur kami tidak lagi terasa.  Dengan dia aku dapat berbincang bebas. Dengan dia aku bisa tertawa lepas.  Michelle juga menjanjikan sebuah pekerjaan untukku.  Tapi untuk satu bulan pertama ini aku ingin rileks.  Aku ingin menikmati liburan.  Sesudah itu aku akan mulai memikirkan masa depanku.

‘Kamu benar-benar tidak mau ikut, Lucy?’  tanya Michelle sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.  Sebentar lagi dia akan pergi ke Orlando dalam suatu pegelaran mode selama seminggu.

‘Lucy?’  tanya Michelle lagi.  Rupanya dia tidak melihat aku sudah menggeleng tadi.

‘Tidak, aku cuma akan merepotkanmu saja. Lagipula kamu pasti akan sibuk terus jadi tak ada waktu untuk jalan-jalan. Kamu pun pasti tidak mau mengajakku ke Disney World,’ jawabku. Michele tertawa renyah mendengar jawabanku.

‘Dengar, aku berjanji suatu saat akan mengajakmu ke sana. Oke?’  sahut Michelle.

‘Lucy, aku benar-benar tidak tega meninggalkanmu seorang diri di sini,’ ucap Michelle setelah terdiam beberapa saat.

‘Kamu pikir aku bakal mati bila kamu tinggal?’

‘Mati sih, enggak.  Kalau setengah mati  mungkin,’ ganggu Michelle. ‘Baik-baiklah menjaga diri.  Aku akan selalu menelponmu,’ lanjut Michelle seperti seorang kakak kepada adiknya.

‘Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, Chelle.  Mungkin aku akan mencoba memacari lifeguard selagi kamu pergi’ gurauku.

Sure,’ cibir Michelle menantang.  ‘Apa yang kamu inginkan sebagai oleh-oleh?’ lanjutnya.  Aku menggeleng.

‘Tidak ada?’ tanya Michelle.

‘Kamu kembali dengan selamat saja aku sudah senang,’

‘Jangan ngamuk bila aku benar-benar tidak bawa oleh-oleh?’  pesan Michele sebelum pergi.

Kepergian Michelle ternyata berakibat juga pada diriku.  Aku benar-benar merasa kesepian.  Mau jalan-jalan malas karena tidak ada teman.  Mau mengurung diri di kamar juga tidak enak.  Akhirnya aku cuma duduk di pagar beton di depan kamarku sambil memandang laut dan melamun. Kalau sudah begini aku kembali teringat akan nasibku dan membuatku ingin menangis.  Maka pada hari ketiga kuputuskan diriku untuk berenang sendiri di pantai.

Pakaian renangku sudah siap kupakai, jadi nanti tinggal melepas pakaian luarku saja sebelum berenang.  Aku berjalan menyusur pantai mencari tempat yang agak lapang, tetapi rasanya semua tempat penuh dengan manusia. Aku berjalan terus dan berjalan hingga kudapatkan tempat yang benar-benar sepi.

Kuletakkan tas yang kubawa di pasir dan sebelum melepas pakaian aku berjalan dulu ke dalam air untuk melihat keadaan. Air laut itu begitu segar kontras dengan panasnya udara.

‘Hei, Miss!’  tiba-tiba kudengar sebuah panggilan.  Secara refleks aku menoleh.   Wow, seorang lifeguard.  Persis seperti yang digambarkan Michelle, tampan dan gagah.  Mau apa dia?

‘Memanggilku?’ tanyaku bodoh.

‘Ya.  Sudah berkali-kali kamu kupanggil,  bahkan aku sudah meniup peluit segala, tapi rupanya kamu tidak mendengar,’  jawab sang lifeguard sambil melepas kaca mata hitamnya.  Matanya benar-benar biru, sebiru laut Atlantik kala itu.

‘Memanggilku untuk apa?’  aku bertanya.  Dia mengembangkan sebuah senyum yang sangat menawan.  Pantas mereka begitu di puja-puja.  Gumam hatiku.

‘Kamu melihat buoys  itu?’ tanyanya sambil menunjuk bola-bola karet berwarna jingga yang mengapung di atas air.

‘Ya,’  jawabku bingung.

‘Itu adalah batas daerah yang boleh di gunakan untuk berenang.  Dari sini ke sana adalah daerah terlarang,’  dia menjelaskan dengan sabar. Ouch, alangkah tololnya aku. Mengapa aku tidak melihatnya tadi? Mengapa aku tidak curiga menjumpai daerah yang begini sepi sedang tak jauh dari sini berlimpah ruah manusianya?

Dengan cepat aku beranjak menuju ke tas yang tadi aku tinggalkan, memungutnya dan berlari menuju hotel, Lifeguard tadi masih berdiri di tempatnya ketika aku pergi. Aku begitu malu. Pasti dia menertawakanku dan akan diceritakannya kepada teman-teman sesama lifeguard tentang ketololan yang baru saja kubuat dan mereka akan tertawa bersama.

Sesampai di hotel aku segera mengunci diri di kamar, untung tidak lama kemudian Michelle menelponku sehingga aku bisa sedikit melupakan peristiwa tadi. Tentu saja peristiwa itu tidak kuceritakan kepada Michele.  Bila kuceritakan kepadanya, tentu dia akan tertawa terpingkal-pingkal.

Keesokan harinya aku masih tidak berani keluar, apalagi ke pantai. Lifeguard itu pasti berada di sana dan tentu teman-temannya pun begitu antusias untuk melihat si gadis tolol.  Maka sepanjang siang aku berada di kamar dan nonton drama serial di televisi.  Sesudah dua hari mengurung diri, akhirnya aku bosan juga, maka kulangkahkan kakiku untuk menuju ke pusat kota.  Berjalan-jalan di kompleks pertokoan membuatku teringat pada Irene.  Aku pernah berjalan-jalan di Louisville Mall bersama Irene dan membeli  ransel untuk Adit.

Tiba-tiba aku sadar kalau sudah lama aku tidak berkabar kepada Mama. Aku sadar bahwa aku seharusnya mengirim ransel untuk Adit dan dan sesuatu untuk Anto  dan Yani.  Aku sadar aku telah melalaikan kewajibanku.  Aku akan mekukan hal itu sekarang juga selagi aku masih ingat.

Dengan gaya seorang ahli seperti Irene, aku mulai berbelanja.  Pertama kali, kubeli ransel untuk Adit, karena ranselnya sudah kupakai kemudian sebuah iPod Nanountuk Anto dan Barbie untuk Yani. Sebelum semuanya itu kubungkus dengan rapi, kuselipkan selembar kertas yang kutulisi sedikit kabar tentang Mbak Lucy mereka (kabar bohong tentunya).  Tapi itu sudah cukup untuk mengabarkan bahwa aku masih hidup.

Masalah yang timbul selanjutnya adalah menentukan letak kantor pos. Aku benar-benar tidak tahu, maka aku berjalan tidak tentu arah dengan harapan dapat menemukan kantor pos itu. Tetapi setelah berputar-putar lama dan tanpa petunjuk bakal menemukan kantor pos itu, maka kuberanikan diriku untuk bertanya kepada seorang wanita tua yang sedang berhenti di tepi jalan.

‘Maaf, anak muda, aku sendiri sorang pelancong,’ jawabnya.  Aku hampir putus asa ketika tiba-tiba saja dia datang.  Dia, si lifeguard yang telah melarangku berenang tempo hari.  Sial, mengapa aku harus bertemu lagi dengannya?

‘Ada kesulitan?’ tegurnya ramah sambil tersenyum.

‘Tidak,’  jawabku cepat.

‘Dia ingin tahu letak kantor pos.  Bisakah kamu menolongnya?’  wanita tua itu berkata tanpa kuminta.  Aku kaget, tak menyangka dia akan berkata seperti itu. Si lifeguard sekarang tahu kalau aku telah membohonginya.  Tetapi dia justru  tersenyum lebar.

‘Mari kutunjukkan,’  katanya.

‘Engkau tidak harus mengantarku.  Cukup kau beritahu dimana,’ cegahku.

‘Aku tidak akan menawarkan diri kalau tidak kebetulan saja harus berjalan ke arah yang sama. Aku harus pergi ke rumah temanku dan melewati kantor pos,’ jawabnya.   Sesudah mengucapkan terima kasih kepada wanita tua itu, aku dan si lifeguard berjalan bersama menuju kantor pos. Selama perjalanan itu kami saling berdiam diri.

‘Itu kantor posnya,’ serunya dari seberang kantor pos, setelah kami berjalan bersama hampir selama sepuluh menit.

‘Terima kasih,’ ucapku dan berniat untuk meninggalkannya.

‘Sebentar,  kuantar kamu ke sana,” katanya menawarkan diri.  Aku tidak bisa menolaknya karena dia telah berjalan di sampingku menyeberangi jalan.

Ternyata bungkusan yang akan kukirim ke Indonesia di tolak karena bungkusnya kurang tebal.  Barang itu harus kumasukkan ke dalam karton tebal dan di beri celotape yang kuat. Aku bingung darimana bisa mendapatkan kotak tebal.

‘Kawanku memiliki toko kecil di depan sana, aku yakin dia punya kotak seperti yang kamu butuhkan,’  si lifeguard menyelami kebingunganku. Letak toko temannya satu blok dari kantor pos.  Sebuah toko kecil yang menjual barang-barang souvenir khas Florida.

Seorang gadis berambut keriting pirang sedang memeriksa perhiasan dagangannya ketika kami masuk. Dia tak menyadari kehadiran kami dan masih tetap menunduk. Si lifeguard menekan bel.  Bunyinya benar-benar nyaring. Si gadis kaget dan menoleh ke arah kami.

‘Mark!!’ teriaknya riang. ‘Angin apa yang telah membawamu kemari?’  tanyanya sambil mengawasi si lifeguard yang ternyata bernama Mark. Tiba-tiba dia tertegun waktu menatapku.

‘Dona, kenalkan temanku, Lucy.   Lucy . . . Donna.’ Mark memperkenalkan kami.  Sejenak aku terpana.  Dari mana dia bisa tahu namaku?  Dan dia memperkenalkan aku senbagai temannya?  Fuih sejak kapan pula itu?  Tetapi aku tidak bisa terlalu lama keheranan karena Donna sudah menyapaku.

‘Hai,’  balasku.

‘Ada sesuatu yang dapat kubantu, Mark?’  tanya Donna.

‘Ya. Lucy membutuhkan sebuah kotak untuk mengirim barang lewat pos.  Kamu mempunyainya kan?’

‘Kotak? Kotak macam ini?’  tanya Dona sambil memperlihatkan sebuah kotak berukuran sedang.

‘Ya,’ seruku gembira.

Donna memberikan kotak itu kepadaku dilengkapi pula dengan celotape.  Sementara aku sibuk dengan pekerjaanku, Dona dan Mark asyik mengobrol.  Aku tidak tahu apa yang mereka percakapkan.  Tetapi sebentar-sebentar kudengar derai tawa mereka.  Mudah-mudahan saja mereka tidak sedang mendiskusikan diriku.

Setelah selesai membungkus barang-barangku dan mencantumkan alamat, aku berpamitan kepada Donna dan Mark.  Namun Mark tidak mengijinkan aku pergi ke kantor pos sendiri, dia takut aku tersesat.  Maka kami berjalan beriringan lagi  menuju ke kantor pos.

‘Mark, bagaimana kamu bisa tahu kalau namaku Lucy?’ kutanya dia dalam perjalanan. Mark tersenyum misterius sambil menggoyang-goyangkan kotakku yang dibawanya.

‘Orang sepertimu sangat pantas untuk mempunyai nama Lucy.’

‘Enggak lucu.’

‘Tapi benar kan namamu memang Lucy?’ tanyanya.  Kudiamkan saja pertanyaan itu karena kami sudah masuk ke kantor pos.

‘Terima kasih atas bantuanmu, Mark,’  ucapku sekeluar dari kantor pos. Kemudian aku berjalan meninggalkannya. Baru saja aku berjalan tiga langkah, dia memanggilku.

‘Kamu mau kemana?’  tanyanya.

‘Pulang ke hotel,’

‘Kalau begitu kita dapat jalan bareng,” katanya sambil menyusulku.

‘Bukankah kamu harus pergi ke rumah temanmu?’ tanyaku heran.  Mark tersenyum seakan dia tahu kalau senyumannya sangat menawan.

‘Aku sudah pergi ke sana tadi. Ingat Dona?  Nah, dia itu temanku. Kita sudah pergi ke sana tadi,” jawab Mark seenaknya.  Kutatap dia penuh kedongkolan.  Aku tahu dia tadi sama sekali tidak berniat pergi ke toko Donna. Dia pergi ke sana karena aku butuh kotak.

‘Hei, jangan marah dulu. Kalau tadi kukatakan aku hanya ingin mengantarmu, tentu kamu tidak akan mau, benar kan?’

‘Benar,’  jawabku singkat.  Kudengar Mark tertawa ringan. Sebenarnya apa sih maunya pemuda ini?

‘Mengapa kamu begitu ketakutan bila melihatku, Lucy?’  tanya Mark setelah kami terdiam beberapa saat.  Aku kaget dan menatapnya lama.  Bertemu saja baru dua kali ini bagaimana mungkin dia tahu kalau aku takut terhadapnya.

‘Kamu pantas untuk dicurigai,’  jawabku ngawur.

‘Dicurigai untuk apa?’  tanyanya penasaran.

‘Dicurigai sebagai orang jahat.  Kalau kamu orang baik-baik kamu pasti ngaku dari mana bisa tahu namaku,’ serangku.

‘Jadi kamu masih penasaran?’  sahut Mark sambil tertawa.  ‘Aku pernah dengar kakakmu memanggilmu Lucy,’ akhirnya Mark mengaku. Walau pengakuannya justru makin membingungkanku.

‘Kakakku? Kakakku yang mana?’

‘Gadis pirang yang sering jalan-jalan bersamamu di pantai.’

‘Oh,Michelle maksudmu?  Dia bukan kakakku.’

‘Bukan kakakkmu?’

‘Bukan. Dia penghuni kamar sebelah.’

‘Tapi kalian berdua mirip dan sangat akrab,’  Mark tidak puas.

‘Dari mana kamu tahu kalau kami akrab?’

‘Aku sering melihat kalian berdua di pantai, di kota, di restoran Cina di depan Daytona Fashion Center,’ jawab Mark. Aku begitu terpana karena tempat-tempat yang baru saja disebutkannya memang tempat-tempat yang paling sering kukunjungi bersama Michele.

‘Bagaimana kamu bisa tahu? Aku belum pernah melihatmu disana?’  tanyaku keheranan.

‘Aku bisa tahu karena aku mengawasimu dan kamu tidak melihatku karena memang aku tidak ingin dilihat, jelas?’  tanyanya. Kutatap dia lama sebelum menjawab.

‘Kamu benar-benar pantas untuk dicurigai.  Untuk apa  kamu pakai mengawasi segala?’

‘Karena aku pengawas pantai,’ jawab Mark seenak perutnya. Aku benar-benar dongkol dan kupercepat langkahku untuk meninggalkannya. Mark juga mempercepat langkahnya hingga bisa mengiringi jalanku.

‘Marah?’ tanya Mark.

‘Ya,’

‘Oh, Lucy, aku tidak bermaksud buruk. Aku sendiri tidak sadar mengapa aku begitu suka memperhatikanmu. Mungkin karena . . .’ Mark tidak meneruskan kalimatnya.

‘Karena apa?’

‘Tidak. Kamu akan lebih marah bila kuteruskan.’

‘Teruskanlah.’

‘Oke, kamu yang meminta. Mungkin karena dorongan hati. Waktu aku melihatmu untuk yang pertama kali, hatiku membisikkan bahwa inilah gadis yang bakal menjadi istriku,’ jawab Mark kalem.  Aku kaget setengah mati.  Untung aku cepat teringat kata-kata Michelle sebelum keburu besar kepala, ‘Mereka jagoan merayu, Lucy,  tanpa kamu sadari kamu sudah masuk ke dalam perangkap mereka.” Maka aku cuma tersenyum saja mendengar kata-kata itu.

‘Kok tersenyum?’  tanya Mark. Aku cuma mengangkat bahu saja. Sesudah itu kami saling berdiam diri.

‘Untuk siapa barang-barangmu tadi? Sahabat pena?’  tanya Mark memecah kebisuan.

‘Untuk adik-adikku.’

‘Adik-adikmu? Mereka berada di Indonesia? Dengan siapa mereka pergi ke sana? Mengapa kamu tidak ikut?’ tanya Mark beruntun.

‘Mereka tidak pergi ke Indonesia. Mereka tinggal di sana sejak mereka dilahirkan.  Indonesia  rumah kami,” jawabku.  Aku senang bisa melihat wajah Mark yang kaget dan tidak percaya.

‘Jadi kamu orang Indonesia?’  tanyanya untuk meyakinkan.  Aku mengangguk pasti.  Mata Mark makin membelalak karena terkejut.

‘Dengan siapa kamu datang ke Florida?”

‘Sendiri,’ jawabku. Reaksi Mark benar-benar di luar dugaan. Dia begitu kaget hingga menghentikan langkahnya dan menatapku tidak berkedip.

‘Dengar, Lucy, jangan kau katakan kepada siapapun bahwa kamu berada di sini sendirian. Itu sangat berbahaya bagimu apalagi jika mereka tahu kamu orang asing.”

‘Mengapa?’

‘Mengapa? Karena kejahatan di musim panas seperti ini sangat meningkat, pencurian, perampokan, penodongan . . .”

‘Aku tak mempunyai barang-barang berharga,’potongku cepat.

‘Bagaimana dengan dirimu sendiri? Begitu banyak pemerkosaan yang terjadi setiap minggunya,’ sahut Mark. Aku terdiam mendengar kata-katanya. Apalagi kata-kata tersebut di ucapkan dengan serius seakan dia benar-benar ingin melindungiku.

‘Sorry, Lucy, aku tidak bermaksud menakut-nakutimu, hanya berhati-hatilah. Jangan katakan kepada siapapun bahwa kamu kemari tanpa pengawal.’

‘Aku telah mengatakannya kepadamu,’

‘Kamu dapat mempercayaiku. Aku seorang lifeguard, bertugas untuk menjaga keamanan pantai,’  jawab Mark.

‘Dan lagi, Lucy, bila berada di tempat umum jangan canggung dan takut-takut. Bersikaplah seolah-olah ada seorang yang siap untuk membelaimu,’ nasihat Mark dilanjutkan.

‘Apakah aku kelihatan canggung bila di depan umum?’ tanyaku.  Mark hanya tersenyum mendengar pertanyaanku.

Mark mengantarku hingga ke depan hotel. Sebelum berpisah dia berpesan.

‘Ingat untuk mengunci pintu setiap akan keluar dan begitu masuk kamar walaupun kamu hanya berniat untuk keluar atau masuk sebentar. Jangan langsung kau bukakan pintu bila ada yang mengetuk, lihat dulu orangnya,’

‘Akan kuingat itu,’jawabku sambil tersenyum. Kalau mendengar nada suaranya dia benar-benar serius menasehati. Tapi kalau mengingat reputasi para lifeguard aku menjadi ragu.

ribuanmi4

Aku sering melihat Mark berada di pantai, tetapi terlalu jauh untuk menegurnya, apalagi dia selalu dikerubungi gadis-gadis manis. Kadang kulihat pula seakan dia mau tersenyum kepadaku, tapi aku pura-pura tak melihatnya karena di sampingku ada Michelle. Aku takut Michelle akan mengira kalau aku sudah bermain-main denga lifeguard. Tapi hari itu aku tidak bisa lagi untuk pura-pura tidak melihatnya.

Hari itu tanggal 4 Juli.  Hari kemerdekaan Amerika Serikat.  Sejak hari sebelumnya persiapan-persiapan untuk menyambut hari kemerdekaan itu sudah kentara. Toko-toko kecil sudah menghias diri dengan rumbai-rumbai berwarna biru, merah, serta putih.  Warna bendera Amerika.

Jam lima sore aku dan Michelle sudah menunggu di pagar beton di depan kamar kami bersama dengan ratusan orang lainnya yang ingin menyaksikan karnaval. Semua manusia Daytona tumplek menjadi satu di sepanjang jalan pantai.

Jam setengah enam iring-iringan karnaval itu mulai tampak.  Begitu riuh, begitu gaduh tapi tidak menyebabkan orang jengkel. Barisan pertama adalah barisan Drum Band dari SMA Daytona dengan pakaian yang gemerlapan. Beberapa majoret menari dengan lincahnya di tengah jalan. Dan mereka melangkah dengan lembut ketika ‘Star Spangled Banner’  berkumandang.  Semua orang yang duduk di pinggi jalan berdiri menghormat. Telapak tangan kanan di letakkan di dada.

Drum Band berlalu, disusul dengan sebuah truck berhias dari walikota dan staffnya, diikuti oleh departemen pemadam kebakaran. Kemudian mobil-mobil berhias dari lembaga-lembaga, yayasan-yayasan dan klub-klub lainnya. Barisan itu sangat panjangnya seakan tak akan pernah berakhir. Malam telah turun tapi tak seorangpun ingat akan makan malam yang telah dijadwalkan jamnya.

Tiba-tiba terdengar teriakan dan jeritan-jeritan histeris yang mayoritas berasal dari para gadis remaja. Ternyata mereka meneriaki sebuah truck yang akan lewat yang berisi rombongan Lifeguard.

Aku menahan nafas melihat mereka.  Semuanya gagah dan tampan dalam pakaian kebesaran mereka yang lengkap minus kacamata hitam. Mereka melambai pada gadis-gadis yang mereka lalui dan dibalas dengan teriakan-teriakan histeris.  Betapa hebat daya pikat mereka.

‘Lucy, lihatlah bajingan-bajingan itu,’ bisik Michele di telingaku.  Aku tertawa mendengar komentarnya sebab ada nada kekaguman di dalamnya. Setelah mereka agak dekat, aku melihat Mark ada di antara mereka.  Dia tersenyum dan melambaikan tangannya kearahku.  Aku tidak berani membalas lambaian tangan itu dan pura-pura tak melihatnya. Tapi malangnya rombongan itu berhenti di depan kami agak lama. Aku tidak bisa berpura-pura lagi, kubalas senyumannya.

‘Rupanya si kecil Lucy sudah mulai main-main dengan Lifeguard,’  kata Michelle pelan.  Aku kaget setengah mati.

‘Siapa?’tanyaku pura-pura tidak tahu.

‘Kamu.’

‘Aku?’  tanyaku berusaha mengelak. Michelle tertawa senang.

‘Pura-pura, hmm?’

‘Mengapa harus pura-pura? Dia tidak melambai padaku tapi  padamu,’ucapku. Tawa Michele makin menjadi tapi dia tidak menambah komentar apa-apa. Rombongan demi rombongan berlalu. Kemudian mobil-mobil pribadi berhias membuntuti di belakangnya. Hiasan mobil-mobil itu lucu-lucu, hingga segan rasanya untuk meninggalkan tempat.

‘Michele! Lucy!’  tiba-tiba terdengar panggilan untuk kami. Dan diantara mobil-mobil berhias itu tampak Les, waiter kami dan Ken, temannya yang juga waiter.

‘Ayo ikut!’ teriak les. Aku ragu tapi Michelle segera meloncat turun dan menarikku untuk mengikutinya. Tanpa kusadari aku telah berada di dalam mobil Les dan mengikuti rombongan karnaval.

‘Mau kemana kita?’  tanyaku sesudah agak sadar.

‘Putar-putar,’ jawab Les enak.  Rombongan karnaval itu ternyata berputar-putar mengelilingi setiap jalanan yang ada di Daytona kemudian kembali lagi ke pantai, dan di sana diadakan pesta kembang api dan petasan yang sangat megah.  Pesta itu berlangsung hingga pagi hari.

ribuanmi4

Ombak yang berdebur pagi ini lain dari biasanya.  Lebih keras dan lebih gemuruh.  Biasanya laut di pagi hari sangat tenang, nyaris tanpa suara.  Tapi kali ini mampu membangunkanku dari tidur yang lelap.

Dari jendela kamarku aku dapat melihat air laut yang menggelora. Air laut itu hampir mencapai jalan raya. Sebentar lagi pasti akan sampai ke pagar di depan kamarku. Awan tebal menggelantung berat di atas laut. Burung-burung camar terbang hiruk pikuk kebingungan. Kantukku begitu saja hilang melihat semuanya. Dengan cepat aku keluar kamar. Michelle ternyata sudah bangun. Dia berdiri termangu. Tangannya ditompangkan di pagar beton dan menatap ombak laut.

‘Chelle,’  panggilku. Dia menoleh dan mengisyaratkan agar aku mendekat.  Kudekati dia.

‘Ada anak tenggelam,’  bisiknya.

‘Apa?’

‘Ada anak tenggelam. Di sana!’ tunjuk Michelle ke satu arah. Di tempat yang ditunjuk kulihat ada kerumunan orang yang cukup banyak. Semuanya kelihatan panik dan memandang ke tengah laut.

‘Tidak ada yang memberi pertolongan?’ tanyaku.

‘Ada seorang Lifeguard yang masuk kedalam air tapi sampai kini belum muncul lagi.’

‘Hanya seorang?’

‘Yang lainnya masih tidur kukira. Mereka berpesta sampai pagi dan pasti mabuk-mabukkan,’ jawab Michele. Kemudian dia mengajakku untuk mendekati kerumunan tersebut.

Seorang wanita muda meratap, tentu dia ibu dari si anak yang dibawa ombak.  Beberapa orang berusaha menghiburnya, yang lainnya berharap cemas, menanti munculnya si lifeguard dan anak yang ingin di tolongnya. Hujan mulai turun dan angin berhembus dengan kencangnya. Tak seorang pun yang berniat untuk beranjak dari situ. Tidak juga Michele dan tidak pula aku. Semua ingin tahu nasib si anak dan nasib si lifeguard.

Tiba-tiba nampak sebuah kepala yang menyembul di tengah-tengah ombak.  Beberapa saat kemudian nampak sosok tubuhnya dan lebih kemudian lagi nampak tubuh bocah yang terdekap erat oleh tubuh yang lebih besar.

‘Anakku, . . . anakku,’ jerit si wanita yang tadi menangis sambil berusaha untuk berlari ke laut tapi di cegah oleh orang-orang yang mengelilinginya. Lifeguard yang masuk ke dalam laut tadi berenang mendekati pantai, melawan ombak besar yang berusaha mengembalikan dirinya ke tengah lagi. Tentu sangat sukar baginya untuk mempertahankan diri dengan seorang bocah dalam pelukannya.  Begitu tiba di tempat yang dangkal dia menghentikan renangnya.

‘Mark!’ seruku tidak sadar ketika melihat siapa yang muncul. Dia begitu gagah dalam pakaian renangnya tapi tampak sangat kelelahan. Seorang bocah yang tidak bisa di sebut kecil lagi berada dalam dukungannya. Begitu sampai di pantai dia segera berlari menuju pos PPPK tanpa mempedulikan orang-orang yang berkerumun menantinya.  Orang-orang tersebut kemudian mengikutinya menuju ke pos PPPK.  Sementara itu aku dan Michele dengan pakaian yang sudah basah kuyup berjalan pulang.

Siang harinya cuaca berubah seratus delapan puluh derajat. Langit begitu jernih tanpa secuil awan pun dan laut begitu tenang. Tak ada sisa badai dan pantai kembali dipenuhi oleh manusia.  Michelle menggerutu karena harus pergi ke rumah mode sedang hari sangat indah untuk dinikmati.

Walaupun hari sangat indah tetapi aku benar-benar ngantuk, maka siang itu kugunakan untuk tidur.  Bangun-bangun sudah jam setengah lima. Kemudian aku berjalan-jalan di sepanjang pantai. Setelah lelah berjalan aku duduk di pasir. Pantai sudah agak sepi sehingga bisa melihat tenangnya laut tanpa terhalang oleh punggung atau paha orang di depanku. Kutekuk lututku dan kudekatkan ke dada, dan menikmati angin sore yang berhembus sejuk.

Keadaan sekelilingku membuatku merenungi hidup. Tiba-tiba segumpal kerinduan terhadap ibu dan adik-adikku memenuhi dada membuatku ingin menjerit dan menangis meraung-raung.  Aku tidak menyukai kehidupan yang kutempuh saat ini. Aku benci, benci.  Aku merindukan sebuah keluarga normal. Tetapi tidak ada sebuah keluarga pun yang mau menerimaku. Keluarga Oom No? Itu bukan untukku, aku bukan keturunan Oom No. Keluarga Papa? Apalagi, papa terang-terangan telah mengusirku. Sebenarnya aku ini milik siapa? Aku ingin dimiliki dan memiliki. Ingin sekali, Tuhan tahu itu.

Tiba-tiba sepasang kaki berhenti di depanku. Kutegadahkan wajahku. Mark berdiri di sana tampak begitu tinggi.

‘Boleh aku duduk di sini?’ tanyanya.  Belum lagi sempat kujawab dia sudah menjatuhkan diri di sampingku.

‘Apa yang kamu lamunkan, Lucy?’  tanya Mark sesudah agak lama dia duduk dan kami belum membuka percakapan.

‘Tidak ada,’ jawabku bohong.  ‘Aku sedang menikmati pemandangan di depanku’

‘Dan pikiranmu dimana?’

‘Di sini,’ kataku sambil menunjuk dahi.  Mark tertawa ringan.  Alangkah senangnya aku mendengar tawa itu.  Penampilan Mark kali ini benar-benar berbeda dengan penampilannya pagi tadi.  Tadi pagi dia tampak sangat kelelahan, sedang kali ini dia seakan siap untuk berlari mengelilingi dunia.  Segar bugar.

‘Bagaimana kabar anak yang kamu tolong pagi tadi?’  tanyaku.

‘Sedikit shock.  tapi selebihnya tidak ada masalah,” jawab Mark. “Hei, dari mana kamu tahu tentang anak yang tenggelam?’  lanjut Mark keheranan.

‘Aku melihatmu,’

‘Kamu?’  tanya Mark tidak percaya.  ‘Pagi-pagi sudah bangun dan berhujan-hujan?’

‘Setiap hari aku bangun pagi,’ bantahku.

”Tapi tidak untuk hari ini.  Semalam kulihat kamu berada di pantai hingga larut,’  ucap Mark mengejutkanku.

‘Kamu melihatku?’

‘Ya.  Dengan Michelle dan dua orang pemuda,’ sahut Mark dengan nada aneh yang tidak bisa kumengerti.

‘Aku tidak melihatmu.’

‘Tentu saja tidak, kalian begitu asyik,’ olok Mark sambil tersenyum mengajuk.  Aku tertawa dan tidak memberi ulasan atas pendapatnya.

‘Mengapa dia bisa tenggelam, Mark?’  aku kembali ke masalah semula.

‘Ibunya yang cari penyakit. Sudah tahu langit begitu gelap dan ombak sangat besar, masih juga dia mengajak anaknya untuk berenang. Begitu tahu kalau anaknya menghilang baru dia teriak-teriak  meminta tolong,’  jawab Mark jengkel.

‘Tentu kamu sedang enak-enak tidur,’ tebakku.

Nope. Aku tidak bisa tidur semalam. Aku sedang jalan-jalan ketika kudengar teriakannya,’ sanggah Mark. ‘Kamu tahu mengapa aku tidak bisa tidur? Memikirkanmu, Lucy. Mengapa kamu bisa seakrab itu dengan pemuda-pemuda yang bersamamu semalam sedang denganku kamu selalu menghindar,’ lanjut Mark seenaknya.  Aku tahu dia cuma bergurau maka aku tertawa saja mendengarnya.

‘Sekarang aku bersamamu,’ sahutku masih dengan tawa. Mark juga tertawa. Seorang lifeguard lain lewat di depan kami dengan seorang gadis di lengannya. Dia menyapa Mark. Pasti gadis itu baru saja di kenalnya, pikirku.

‘Lucy, . . ‘ panggil Mark.  Aku sadar bahwa aku telah mengawasi Life Guard yang baru saja lewat dengan mata tidak berkedip.

‘Ya?’ tanyaku.

‘Mengapa kamu  memilih berlibur ke sini bukankah pantai-pantai di Indonesia sangat eksotik?’

‘Mencari sesuatu yang lain,’ bohongku. Mark kelihatannya merenung, aku ragu apakah dia mendengar perkataanku atau tidak.

‘Kalau kamu mencari sesuatu yang lain, mengapa tidak pergi ke Alaska? Di sana kamu akan melihat salju yang aku yakin tak akan kamu jumpai di negerimu.

‘Sebab, . . .’  dan aku tak bisa meneruskan.

‘Apakah Daytona terkenal di Indonesia?’ Mark melepaskanku dari kewajiban untuk menjawab pertanyaannya yang lebih dulu. Aku menggeleng-geleng beberapa kali.

‘Aku belum pernah mendengar nama pantai ini sebelumnya. Aku baru mendengarnya dalam perjalananku ke Jacksonville,’ jawabku. Tanpa kusadari aku telah membongkar rahasiaku sendiri.

‘Jadi kamu berniat ke Jacksonville dan menyimpang kemari?’

‘Tidak juga,’

‘Lalu?’

‘Aku tidak mempunyai tujuan yang pasti,’ jawabku. Aku tahu Mark merasa aneh mendengar jawabanku

to be continued ….

Amankila: a Secluded Nest in Karangasem

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 I should have put this post in the Hotel category, but since I did not stay here, so I did not have the opportunity to view the suites’ accomodations.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

My husband and I stopped by Amankila to enjoy lunch at the coffee shop, overlooking the Lombok Strait.  Great views and outstanding food.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

With the  rates vary from US$ 1,000 to US$ 3,500 per night, this hotel is obviously reserved for those with money.   Hope someday I can stay – or someone will invite me to stay –  here and recount my experience to you all.

 
Amankila
Manggis, Bali
Indonesiatel    (62) 363 41333
fax    (62) 363 41555
email amankila@amanresorts.com
 
mailing address 
PO Box 33, Manggis 80871
Karangesam, Bali, Indonesia

Borobudur

Borobudur 4

Borobudur is the largest Mahayana Buddhist temple in the world, built in the 9th century during the reign of  Sailendra Dinasty.  Located in Central Java, Indonesia, about an hour drive from Yogyakarta.  

Borobudur is listed as a  UNESCO World Heritage Site.

More than two thousand reliefs like these can be found on the walls of the temple.

Borobudur Reliefs

 

To find out the meaning behind these reliefs, you should take advantage of  the tour guides provided by the Borobudur Management for a small fee. 

Borobudur 3

 

Borobudur 6

 

Borobudur 7