Blog Archives

Gotehan

Gotehan

Nita, sepupuku, menentangku ketika kukatakan aku akan menyetir mobil sendiri ke Gotehan.  Dia mengingatkan kalau aku belum terbiasa untuk menyetir di ruas jalan sebelah kiri dan menawarkan sopirnya untuk mengantarku.  Dengan tegas kutolak tawarannya.   Nita tidak kenal putus asa dan terus beragumentasi dengan panjang lebar.   Dia   baru berhenti sesudah kukatakan kalau aku ingin menghadapi masalahku seorang diri.

Namun begitu keluar dari kota Surabaya aku mulai menyesali keputusanku.   Truk-truk, bis-bis serta kendaran-kendaraan lain yang berseliweran tak beraturan benar-benar membuatku ngeri.  Menghadapi kemacetan di depan pasar Krian nyaris membuatku berputar dan mengurungkan niatku.  Untung aku segera sadar kalau jalan yang aku tempuh sudah terlampau panjang.   Aku sadar kalau kehidupanku tidak akan kembali normal sebelum aku pergi ke Gotehan.

Gotehan

Minggu lalu kehidupanku masih berjalan dengan normal.   Senin pagi aku masih menuju ke kantorku yang berada di Embarcadero, San Francisco dengan berbagai proposal investasi yang aku siapkan selama akhir pekan.  Namun kenormalran itu  seakan berhenti di depan meja Pam, resepsionis kami.  Setelah mendesahkan sapaan selamat paginya yang khas, Pam menjelaskan kalau ada seseorang yang sedang menungguku di meeting room.

‘Pam, ini baru jam setengah enam.’ protesku.  ‘Kamu tahu aku tidak pernah menerima tamu sebelum jam sembilan.’

Karena waktu New York yang tiga jam lebih awal  dibanding San Francisco, para fund manager  perusahaan-perusahaan investasi di San Fransisco,  sudah harus siaga di kantor sebelum jam enam pagi untuk menunggu saat dibukanya bursa efek di New York.  Sudah berkali-kali kuingatkan Pam, walaupun aku sudah berada di kantor aku belum mau menemui tamu sebelum jam sembilan pagi.  Tiga jam pertama biasa kumanfaatkan untuk bekerja  di depan monitor.

‘Bukan tamu biasa, Lei,’ kilah Pam,  ‘Dia saudaramu dan dia sudah menunggu lebih dari setengah jam.’

‘Saudara?  Ayolah,  Pam, aku tidak punya saudara disini.’

‘Aku yakin dia saudaramu.  Wajah kalian mirip sekali.’  Jawab Pam pasti.  Aku tidak mau berdebat lagi.  Bagi Pam semua orang berkulit coklat mempunyai wajah yang sama.  Bila bertemu orang Hawaii dia akan bilang kalau mereka mirip aku.  Bertemu orang Thailand dia bilang saudaraku.  Bertemu orang Philipina  apalagi.  Jadi waktu memasuki ruang rapat aku sudah siap untuk bertemu dengan orang yang berasal dari negara manapun.  Bahkan orang Brazil atau Argentina sekalipun.

Ternyata observasi Pam kali ini tepat. Bukannya tamuku mirip aku, tapi dia memang orang Indonesia.  Berusia sekitar empat puluhan dengan postur dan tinggi yang sedang.   Ketika melihat aku masuk ruangan dia segera meletakkan dokumen yang sedang dibacanya, berdiri dan mengulurkan tangannya ke arahku.

‘Leily ?’ tanyanya.  ‘Saya Satrio dari Kantor Pengacara Satrio, Bonar dan……’ siapa aku tidak ingat.  Mungkin gara-gara  terkejut mendengar kelanjutan  kata-katanya.

‘Saya  diminta keluarga Sukarsono untuk menemui Anda…’ lanjut Satrio pelan.  Namun yang pelan itu mampu untuk menggoncangkan diriku dengan dahsyat.  Lututku bergetar dengan hebat.  Cepat-cepat aku duduk di kursi yang terdekat.

‘Leily, Anda masih ingat kan dengan keluarga Sukarsono ?’ tanya Satrio menyalahartikan kebisuanku.  Tentu saja aku masih ingat.  Bagaimana aku bisa melupakan mereka  bila aku pernah sangat mencintai salah satu  di antara mereka.

‘Leily..?’ tanya Satrio.  Kuanggukkan kepalaku sambil menunggu kata-kata selanjutnya.

‘Apakah Anda tahu kalau Bapak dan Ibu Nugra Sukarsono sudah meninggal dunia?’ tanya Satrio tanpa ekspresi.  Aku tersentak.

‘Kenapa  ? Kapan ?’ tanyaku kaget.

‘Ibu Sukarsono meninggal tiga tahun lalu karena sakit jantung dan Bapak meninggal selang beberapa bulan kemudian karena gagal ginjal.’  Aku terpaku.   Apapun yang pernah mereka lakukan terhadapku, kabar tersebut tetap menyedihkanku juga.  Kasihan Pra..  Dia pasti sangat kehilangan mereka.

‘Sejak beliau berdua meninggal dunia, kami berusaha mencari Anda.  Semua keluarga Anda yang kami hubungi tidak ada yang bersedia memberitahu dimana Anda berada.  Keluarga Anda sangat setia.  Beberapa bulan kami sempat menghentikan pencarian kami, karena jejak yang kami telusuri berkali-kali buntu .’

‘Mengapa kalian mencari saya ?  Apakah kalian akan menuduh saya sebagai penyebab kematian mereka ?’ tanyaku defensif.  Satrio menggelengkan kepalanya.

‘Nama Anda tercantum sebagai salah seorang yang mendapatkan pekebunan cengkih di Gotehan, Jombang serta…’

‘Apa ?’ sergahku.

‘Lima tahun yang lalu Bapak dan Ibu Sukarsono membuat wasiat yang mencantumkan Anda dan Pradipta sebagai ahli waris terhadap perkebunan cengkih mereka.  Ada juga beberapa kekayaan lain diserahkan khusus untuk Anda.  Saya membawa daftarnya disini.’ Satrio menjelaskan sambil menunjuk tas kerjanya.

‘Anak-anak keluarga Sukarsono juga heran mengapa Anda masuk sebagai ahli waris.   Tidak dijelaskan alasan mengapa mereka memasukkan nama Anda.  Sekarang, dengan harga cengkih yang jatuh Pradipta berniat untuk menjual kebun tersebut.  Ada seorang pengusaha yang berniat membeli tanah tersebut untuk dijadikan hotel.  Namun, tanpa persetujuan Anda, Pradipta tidak bisa menjualnya.’

‘Saya tidak mau kekayaan mereka.  Mereka boleh melakukan apa saja terhadap kekayaan mereka.   Saya tidak peduli.  Saya akan menulis pernyataan bahwa saya menolak manjadi ahli waris mereka dan Anda bisa menjadi saksinya.’  ucapku cepat.

‘Untuk kekayaan yang lain mungkin bisa kita lakukan,’ ucap Satrio sabar, ‘tapi khusus tanah yang di Gotehan ada klausal khusus yang menyatakan bahwa Anda dan Pra– boleh bersama maupun sendiri– harus menandatangani persetujuan penjualan di depan lurah Gotehan.  Kalau saja lurah Gotehan tidak terlalu tua untuk saya ajak kesini, akan saya ajak kesini sehingga kami tidak harus menyusahkan Anda.  Pradipta berpesan kepada saya agar  kami  tidak menyusahkan Anda.’

‘Bagaima kabarnya ?’ aku tidak kuasa untuk tidak menanyakannya.

‘Pradipta ?  Oh, dia baik-baik saja.  Dia sangat sukses dalam memimpin perusahaan keluarganya,’  cerita Satrio.   ‘Sebelum berangkat kesini saya sempat makan siang di kantornya  dengan dia dan anak…’

‘Anak ?’ potongku tanpa sadar.

‘Oh, Anda belum tahu?   Pra mempunyai anak perempuan berusia empat atau lima tahunan yang sangat dibanggakannya.  Cantik mirip sekali dengan Pra…’ lanjut Satrio tanpa menyadari kebekuanku.  Tiba-tiba wajah  Anggita berkelebatan di kepalaku.   Anggi yang tidak pernah dikenal ayahnya apalagi dibanggakannya.   Hatiku seakan terhimpit batu.  Tiba-tiba muncul tekadku untuk melepaskan diriku dan Anggita dari semua ikatan masa laluku.  Aku ingin bebas sebebas-bebasnya dari pengaruh keluarga Sukarsono.  Bila untuk itu aku harus datang ke Gotehan aku akan datang.

Gotehan

Setelah beberapa kali  jip yang kupinjam dari Nita nyaris tergilas truk gandeng akhirnya sampai juga aku di depan menara air menjelang kota Jombang. Kubelokkan mobil ke kiri meninggalkan kebisingan jalan raya dengan kendaran-kendaraan kelas beratnya.  Beberapa saat kemudian aku mulai memasuki jalan desa yang mulus yang diteduhi rindangnya pohon-pohon yang berjajar di kiri dan kanannya.  Hanya sesekali mobilku berpapasan dengan sepeda motor dan gerobag sapi

Tanpa kusadari anganku membawaku kembali ke masa lampau. Ke masa ketika aku masih begitu naif.  Masa ketika  duniaku berputar di sekeliling Pra. Masa dimana Pra mengajakku melewati jalan-jalan desa ini sambil mengunyah kacang rebus yang kami beli di mulut pinto tol Mojokerto. Sambil sesekali kami ikrarkan cinta dan kesetiaan.

Setamat sekolah aku bekerja di bagian Marketing Perusahaan Keluarga Sukarsono, salah satu perusahaan terbesar di Surabaya.     Pada waktu itu  Perusahan memegang lisensi beberapa sepatu olahraga dari Korea dan sedang mencoba menjajagi kemungkinan untuk sepatu kulitnya.   Karena aku seorang akuntan dan lumayan dalam menulis proposal aku dilibatkan di dalam team Pradipta yang bertanggung jawab terhadap Pengembangan Perusahaan.  Kami sering mengerjakan proyek bersama.

Lama kelamaan, hubungan yang tadinya bersifat profesional berubah menjadi pribadi.  Sangat pribadi.  Agar tidak menjadi gunjingan di kantor, Pradipta meminta agar hubungan kami dirahasiakan. Aku menurutinya.  Pradipta menjelaskan kalau dia tidak bisa mengajakku jalan-jalan di Surabaya karena takut ketahuan orang.  Aku memahaminya.   Sebagai gantinya setiap akhir pekan Pradipta mengajaku menyusuri jalan-jalan desa ini menuju perkebunan cengkihnya.

Alangkah bodohnya aku.  Tentu saja Pradipta tidak menginginkan hubungan kami diketahui orang.  Dia sudah bertunangan dan akan kawin dalam waktu dekat.   Sayangnya aku terlambat mengetahui hal tesebut.    Sangat terlambat.

Seumur hidupku aku tidak akan pernah melupakan hari itu.  Saat itu Pradipta sedang berada di Jepang.  Dari Jepang dia mengabarkan kalau Perusahaan kami telah memenangkan tender. Ayah Pradipta merayakan keberhasilan tersebut dengan mengundang kami semua makan malam bersama keluarganya di rumah mereka.

Pada saat kami tengah menikmati hidangan, Pak Nugra memperkenalkan anggota keluarganya.  Sebagai wakil dari Pradipta yang belum pulang, dia memperkenalkan calon istri Pradipta.  Ratih.  Wanita yang sangat cantik, anggun dan nampak sangat dewasa.  Wanita yang pas sekali dengan Pra.

‘Tiga bulan lagi Pradipta dan Ratih akan melangsungkan perkawinan mereka.  Kami harap kalian semua bisa menghadirinya.’ Pak Nugra mengakhiri sambutannya dan sekaligus mengakhiri hidupku.

Kepedihanku tidak berhenti disitu.  Usai makan malam, pak Nugra meminta aku untuk tinggal.  Kemudian di depan istri,  anak-anak dan calon menantunya dia mengatakan kalau Pradipta telah meminta dia untuk menyampaikan kepadaku agar aku tidak salah menafsirkan perhatian Pradipta.  Pradipta tidak pernah mencintaiku dan berharap agar aku tidak mengejar-ngejar dia lagi.

‘Kami mengerti perasaanmu, Leily.’ ucap ibu Pradipta manis tapi berbisa.  ‘Untuk menghindari rasa malumu di depan teman-teman kantor, mulai besok kamu tidak perlu ke kantor lagi.  Pak Nugra telah menyuruh bagian penggajian untuk mentransfer gaji terakhirmu serta sekedar uang jasa yang dapat kamu pergunakan untuk biaya hidup sebelum kamu mendapatkan pekerjaan lain……’ Aku tidak mendengar kelanjutan kata-katanya.  Aku berlari dan berlari tanpa pernah menoleh lagi.

Enam bulan kemudian kulahirkan Anggita.


Gotehan

Jalan di depanku mulai menanjak dan berkelok.  Kumatikan AC mobil dan kubuka jendela lebar-lebar.  Kubiarkan angin pegunungan yang lembut membelai rambutku.  Sebutir air mata bergulir di pipiku.  Oh, betapa aku mencintai tempat ini.

Karena tidak mengetahui dimana rumah lurah Gotehan, mobil kuarahkan langsung ke rumah kebun keluarga Sukarsono.  Aku akan meminta ibu Warti, perawat rumah itu untuk mengantarku ke rumah pak lurah.

Rumah kayu di atas bukit  berlatar belakang rimbunnya hutan cengkih itu masih persis seperti yang kuingat.  Rasa-rasanya baru minggu lalu aku dan Pra menghabiskan waktu kami disitu.

Kuparkir mobilku di tempat pengeringan cengkih.  Begitu aku meloncat dari mobil, entah dari mana munculnya, ibu Warti telah berdiri di depanku.

‘Non Leily, saya tidak percaya kalau Non benar-benar datang.’ isaknya dengan mata berkaca-kaca.  ‘Mas Pra meminta saya membersihkan dan menyiapkan kamar untuk Non.  Katanya sewaktu-waktu  Non akan datang.’

‘Mas Pra sering kesini ?’

‘Enggak, Non.  Sejak Non pergi mas Pra enggak pernah kesini lagi.’ jawab bu Warti.  ‘Tiba-tiba minggu lalu mas Pra muncul dan bilang kalau Non akan datang.’

Sesudah ditelpon Satrio, pikirku.

Setelah selesai meributkan aku yang tidak membawa koper dan tidak berniat untuk tinggal lama di Gotehan, bu Warti  menuntunku memasuki rumah  Kalau dari luar rumah itu nampak tidak berubah, ternyata di dalamnya banyak perubahan.  Di salah satu sisi ruang tamu yang tadinya hanya jendela-jendela kecil sekarang telah berubah menjadi kaca besar sehingga dengan bebas dapat memandang keluar.  Pohon-pohon cengkih yang tadinya menghadang di depannya sudah ditebang diganti dengan hamparan padang rumput.  Dari tempatku berdiri aku bisa memandang ke bukit seberang.  Di atas bukit seberang ada sebuah rumah peristirahatan dengan kolam renang infinity di bibir tebing.

‘Non, ini ada titipan surat dari ibu,’ ibu Warti muncul kembali memecahkan keheningan.  ‘Ibu berpesan kalau saya harus menyimpan surat ini baik-baik dan hanya memberikannya kepada Non’ lanjutnya sambil mengangurkan sebuah amplop.

‘Kapan diberikannya ?’

‘Sebulan sebelum beliau wafat.’ jawab bu Warti.  Aku duduk dan pelan-pelan kubuka surat tersebut.  Surat dengan tulisan tangan yang indah.

Gotehan

 Leily, anakku (kalau engkau mengijinkan aku untuk memanggilmu demikian)..

Sebenarnya aku berharap dapat mengatakan ini semua langsung kepadamu.  Tapi dengan kondisi kesehatanku yang semakin memburuk, aku tidak yakin kalau Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu lagi denganmu.  Namun aku percaya suatu saat nanti kamu akan datang ke Gotehan dan membaca suratku ini.

Pertemuan kita yang terakhir telah berubah menjadi tragedi.  Bukan hanya untukmu, Leil, tapi juga untuk keluarga kami.  Kami telah lancang mencampuri urusan pribadi kalian.   Kami merasa kamilah yang paling tahu apa yang akan membuat Pradipta berbahagia.  Kami sadar tidak ada alasan apapun yang dapat membenarkan tindakan kami terhadap kalian berdua.

Sewaktu Pra pulang dan mengetahui apa yang terjadi, hidupnya berakhir disitu.  Baginya matahari tidak pernah bersinar lagi.  Seketika Pra menjadi orang asing bagi kami.  Tanpa emosi sama sekali.  Kalau dia marah kepada kami dia tidak tunjukkan kemarahannya.   Tapi sejak saat itu kami tidak pernah lagi mendengar tawa dan candanya.  Kami tidak bisa meraih hatinya. 

Pernah kusarankan kepadanya untuk mencarimu.   Dia tidak mau.  Dia bilang kalau kau benar-benar mencintainya dan mempercayainya, kamu tidak akan meninggalkannya.

Kami tidak menyalahkanmu, Leil.  Kamu masih begitu muda dan kami terlalu kejam terhadapmu.

Karena Pra tidak mau mencarimu, maka aku dan ayah Pra melakukannya untuknya.  Ternyata mencarimu sangat sulit..  Keluargamu tidak ada yang bersedia berbicara kepada kami.   Permintaan maaf kami yang bertubi-tubi tidak menggemingkan mereka.  Itu merupakan awal dari kecurigaan kami kalau hubuganmu dengan Pra lebih dalam dari dugaan kami.

Dari bu Warti kami mendengar kalau kamu dan Pra sering menghabiskan waktu kalian di Gotehan.  Gotehan merupakan rumah cinta kalian berdua.  Firasatku mengatakan kalau pada waktu kamu meninggalkan Surabaya, kamu tengah mengandung anak Pra, cucu kami.

 Aku hampir gila memikirkan itu.  Setelah aku mengemis ribuan kali dan penyakit mulai menggerogotiku, akhirnya ibumu mau mengatakan kalau kamu telah melahirkan anak perempuan.  Tanpa informasi mengenai nama anakmu, dan dimana kamu dan cucuku berada.   Ibumu juga meminta kami untuk tidak mengatakan hal itu kepada Pradipta.   Beliau meminta kami untuk tidak mengganggu ketenanganmu.

Aku hormati permintaan itu, walau dengan hati yang sangat berat.  Ingin rasanya aku menuntut, tapi setelah apa yang kami lakukan terhadapmu apakah kami masih mempunyai hak ?

Leily, anakku..

Sampai saat ini Pra belum tahu mengenai anak kalian.   Aku pulangkan hal itu kepadamu..  Walaupun aku ingin Pra mengetahuinya, mungkin kamu punya alasan untuk tidak melakukannya.  Mungkin pada waktu kamu baca surat ini baik kamu dan Pra sudah punya keluarga sendiri-sendiri.  Dan untuk kebaikan semua orang kamu memilih untuk melupakan semua masa lalu.  Aku hormati itu.

Tapi, Leil, aku dan ayah Pra tahu kalau kami mempunyai cucu.  Kami ingin meninggalkan sesuatu untuknya. Jangan kamu tolak pemberian kami.  Dan mengenai Gotehan….Aku tahu tempat ini akan selalu mempunyai arti khusus bagimu.  Kami memberikannya untukmu dan Pra.

Harapanku yang terakhir, Leil, kamu bisa memaafkan kami semua

Nenek anakmu.

Gotehan

Kucoba untuk mengevaluasi perasaanku setelah membaca surat ibu Pra.  Tidak ada.  Kosong.  Hampa.  Bahkan rasa benci, dendam ataupun sebercik kepuasan yang kuharapkan muncul, ternyata tidak muncul.  Apakah aku sudah terbebas dari masa laluku?

Kuhembuskan nafas panjang dan berdiri termenung di depan jendela.  Rumah peristirahatan di bukit seberang kelihatan cantik.  Perkebunan ini akan segera berubah menjadi rumah-rumah peristirahatan cantik seperti itu, pikirku.

‘Rumah di seberang itu rumah mas Pra ?’ cerita ibu Warti,  ‘Waktu kesini minggu lalu Mas Pra bilang kalau dia akan segera memboyong istri dan anaknya.’

‘Saya kira tanah ini akan dijual untuk dijadikan hotel,’ bisikku.

‘Mas Pra tidak akan mengijinkannya.  Dia menyayangi tempat ini.’

‘Sekarang siapa yang tinggal di tempat itu?’ tanyaku

‘Tidak ada.’  sahut bu Warti.

Tiba-tiba muncul keinginanku untuk mengintip tempat itu.  Aku ingin tahu tempat seperti apa yang disiapkan Pra untuk istri dan anaknya.  Setelah itu aku akan memberikan bagian tanahku untuknya dan benar-benar berlalu dari hidupnya.

Pelan-pelan kudaki bukit untuk menuju ke rumah Peristirahatan Pra.  Aku muncul di samping kiri kolam renang dan langsung berhadapan dengan rumpun anyelir yang sedang berbunga lebat. Aku meneruskan perjalanan menuju teras dengan dipan kayu dan bantal-bantal hiasnya.  Tiba-tiba pintu teras terbuka lebar dan di depanku berdiri Pradipta.  Pradiptaku dulu.  Duniaku tiba-tiba berputar keras.  Aku jatuh sempoyongan dan Pra menangkapku.

‘Jangan berani pingsan sekarang.’  ancam Pra sambil mendudukkanku di dipan.  ‘Banyak yang harus kita bicarakan.  Sesudah itu kamu boleh tidur sesukamu.’ lanjutnya.  Pelan-pelan kubuka mataku.  Pra duduk dekat sekali di sampingku sambil memandangku kuatir.  Kulihat kerinduan di matanya.  Pelan-pelan senyumnya terkuak.

‘Selamat datang kembali ke rumah, Leil. ‘ bisiknya.  ‘Kamu pergi terlalu lama.  Anggi dan aku sangat merindukanmu.’

‘Anggi  ??’ aku tersentak kaget  ‘Kamu tahu tentang Anggi ??’  Pra tersenyum sedih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

‘Secara kebetulan.’ ucap Pra.  ‘Suatu hari adikku Rini bertemu Nita di Tunjungan Plaza sedang jalan-jalan dengan Anggi.  Begitu melihat Anggi yang mirip aku, Rini segera menyadari kalau Anggi adalah anakku.  Rini melaporkannya kepadaku.  Waktu kutemui Nita membantah dan berkeras kalau Anggi adalah anak kandungnya.   Setelah aku yakinkan dan berjanji kalau aku tidak akan mengambil Anggi tanpa persetujuanmu, barulah Nita menyerah.  Aku juga meminta Nita untuk memberitahu kamu kalau aku sudah tahu semuanya.  Melihat reasksimu tadi, aku rasa Nita tidak pernah memenuhi permintaanku.  Kamu belum tahu kalau aku sudah mengetahui tentang Anggi dan Anggi sering menginap di rumahku’

‘Bagiamana reaksi istrimu ?’ tanyaku kuatir.

‘Istri ?’ ulang Pra diikuti tawanya yang nyaring.  ‘Kamu pikir aku akan kawin dengan orang lain selain dirimu ?’

‘Bu Warti bilang kalau kamu akan segera memboyong istri dan anakmu kesini..’ ucapku.

‘Benar.  Aku akan memboyong kamu dan Anggi kesini, Leil.’ bisiknya.  ‘Kalau kamu mau.’

Tentu saja aku mau.

Advertisements

Sushi Zushi: The Joy Of Sushi

Will add photos later.

Categories:

Japanese, Sushi

Address:

1611 W 5th Street

Austin, TX 78703

Telp: +1 512 474 7000

Ambience:

Attire:

Casual

Price Range:

Sushi zushi

Date of   Visit:

January 12, 2014.  Late Lunch with Maga and Junior


Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Keenam)

Ribuan mil dari mama 6

Cerita Sebelumnya:

Lucinda Stanton adalah gadis yang beribukan wanita Indonesia dan ayah Amerika.  Karena perceraian orang tuanya dia ikut ibunya yang kemudian menikah lagi dan tinggal di Indonesia.  

Setelah lima belas tahun berpisah dengan ayah dan saudara kembarnya, ia dikirim oleh ibunya untuk tinggal di Amerika.  

Ayahnya menyambut Lucinda dengan hangat.  Tetapi David, saudara kembarnya menerimanya dengan kebencian dan Deidre, kekasih David ikut-ikutan.  Kesedihan Lucinda menerima perlakuan David agak terobati karena persahabatannya dengan para pengurus rumah tangga Stanton, terutama Oscar dan Irene.

Tuan Stanton mendapat serangan jantung mendadak.  David menuduh Lucinda sebagai penyebabnya.  Dia juga menuduh Lucinda datang ke Amerika karena menginginkan warisan saja.  David kemudian meminta Lucinda untuk kembali ke Indonesia, tetapi Lucinda melarikan diri ke kota Daytona dan tinggal di sebuah hotel dekat pantai.  Di sini dia berkenalan dengan Michelle, seorang peragawati.

Karena kebetulan, Lucy berkenalan dengan Mark Wayne, seorang mahasiswa yang bekerja musiman sebagai penjaga pantai.  Mark berusaha bersahabat dengan Lucy, namun Lucy enggan, mengingat pesan Michelle bahwa semua penjaga pantai adalah play boy.  Pandangan Lucy berubah, ketika pemuda itu menyelamatkan seorang anak yang hampir tenggelam di pantai.

Michelle menikah dan Lucy sendiri di hotel.  Ia kesepian, tetapi Mark sering menemaninya, bahkan dia sudah mengutarakan cintanya.  Ternyata Mark tahu kalau Lucy adalah saudara kembar David, temannya sekampus.  David juga kenal seluruh keluarga Stanton, karena pertaniannya bersebelahan dengan pertanian keluarga Stanton.  Mark juga membuka rahasia kalau Irene adalah adik Lucy, hasil perselingkuhan ayahnya dengan Mimo, adik perempuan Batista bersaudara.  Perselingkuhan yang telah menyebabkan perceraian kedua orang tua Lucy dan David.

‘Kamu bohong,’ desisku tidak yakin.  Aku mulai ragu.  Kalau mendengar nada suara Mark, aku yakin dia telah berkata jujur, tapi untuk mempercayai Irene adalah adikku, anak ayahku, hatiku masih belum mau menerima.  Mark memandangku lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun.  Seakan melalui kediamannya dia ingin meyakinkan hatiku.

‘Mark, katakanlah kalau kamu bohong,’ pintaku.  Mark menggelengkan kepalanya.

‘Jadi …jadi …  Irene benar-benar adikku? Irene anak papa? Oh…  tahukah papa tentang hal ini? Mengapa Irene tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang ini? Mengapa? Mengapa, Mark?’ jeritku tak menentu.  Mark menangkap bahuku kemudian mendekap tubuhku erat.

‘Lucy, tenang,’ bisik Mark lembut.

‘Irene adalah adikku.  Dia adikku,’ bisikku berkali-kali.

‘Jangan salahkan Irene, Lucy.  Dia tidak berdosa.  Dia datang ke keluarga Stanton tanpa maksud buruk.  Dia hanya ingin melihat orang yang menyebabkan dia ada di dunia ini.  Dia tidak ingin menuntut apa-apa dari keluargamu.  Itulah sebabnya tidak seorang pun yang mengetahui siapa dia sebenarnya.   Tidak juga ayahmu,’ Mark menerangkan.  Bayangan Irene berkelebat dalam otakku.  Wajah murungnya. Ketertutupannya.  Tatapan sendunya.  Semua itu mendukung kebenaran cerita Mark.

Lama sekali Mark membiarkan aku tenggelam dalam alam pikiranku yang serba ruwet.  Nasibku sendiri masih tidak menentu, kini harus di tambah dengan persoalan Irene.  Alangkah malangnya anak itu.

‘Lucy,’ panggil Mark.

‘Mark, aku harus mencari Irene,’ kataku cepat.  ‘Walau bagimana pun dia adalah adikku.  Aku takut sesuatu yang buruk telah terjadi padanya.  Dan lagi Irene berhak mendapatkan pengakuan dari Papa.  Terlepas apakah Papa mau atau tidak.  Papa harus bertanggung jawab,’ lanjutku berapi-api.  Mark tersenyum lega.  Sejak tadi dia kuatir aku akan mengutuk Irene karena dia (maksudku ibunya) telah menghancurkan keluargaku.

‘Jangan kuatir, Lucy, Irene pasti selamat.  Dan Manuel tahu dimana dia berada,’ sahut Mark menenangkanku.  ‘Sekarang bagaimana dengan dirimu sendiri.  Kamu tidak akan tinggal di hotel ini untuk selamanya bukan?’ tanya Mark.

‘Aku tidak tahu, Mark.  Aku tidak tahu.’

‘Bagaimana kalau kita pulang ke Kentucky?’ usul Mark.

‘Mark, jangan masukkan ide gila itu ke dalam otakmu.  Aku tidak akan kembali ke Stanton lagi,’ protesku.

‘Aku tidak menyuruh kamu kembali kepada ayahmu.  Aku bilang kita kembali ke Kentucky.  Ke rumahku.  Aku yakin Mommy, Daddy dan adik-adikku akan senang menerima calon istriku.  Bagaimana?  Setuju?’ tanya Mark.  Kutatap dia lama sebelum menjawab.

‘Aku menunggu, Lucy,’ ucap Mark.  Dan tanpa kusadari, kepalaku telah mengangguk dengan sendirinya.  Sekejab kulihat mata Mark berbinar cerah.  Hanya sekejab karena setelah itu Mark memelukku sehingga tidak memungkinkan bagiku untuk melihat ke dalam matanya.

Ribuan mil dari mama 6 b

Sambutan keluarga Mark benar-benar bukan main!  Aku tidak pernah memimpikan adanya keluarga yang akan merangkulku sedemikian hangat.  Dari si bungsu Eric, sampai ke Grannie Sally, begitu gembira menerima kedatanganku, seakan sejak dulu aku adalah bagian dari kelurga ini, yang telah menghilang untuk beberapa tahun dan kini kembali ke pangkuan lagi.  Semua orang menyuguhiku kasih sayang dengan cara yang bermacam-macam.  Grannie mulai merajut sweater untukku dalam menghadapi musim dingin nanti.   Bahkan dia mulai merancang kaos tangan yang akan kukenankan pada pesta perkawinan dengan cucunya.  Daddy menunjukkan perhatiannya dengan menggodaku terus menerus.  Mommy mendekatiku melalui pendekatan batin yang lembut, melalui sikap keibuannya.  Tonny dan Eric berusaha memasukkan aku ke dalam hidup mereka melalui kegiatan-kegiatan, cerita-cerita hangat dan perhatian mereka yang tulus.  Sedang Mark menunjukkan cintanya melalui kedua matanya.  Bila dia sudah menatapku, aku merasa siap untuk menghadapi segala tantangan hidup.

Hari demi hari kulalui dengan ceria.  Kehidupan macam inilah yang sejak dulu ingin kumiliki.  Menjadi bagian dari sebuah keluarga.  Walau belum lagi ada ikatan resmi antara aku dan Mark, tapi aku adalah bagian dari keluarga Wayne ini.  Aku adalah anak gadis satu-satunya dari keluarga Wayne.  Aku dan Mark telah memutuskan untuk tidak menikah dulu sebelum usiakku genap dua puluh tahun.  Kami sama-sama menyadari bahwa kami belum siap untuk mengarungi kehidupan rumah tangga, walau rasanya cinta kami yang menggunung cukup kuat untuk menahan serangan badai yang bagaimanpun besarnya.

Untuk sementara ini Mark akan melanjutkan kuliahnya dan aku sendiri pun juga sedang bersiap-siap untuk mendaftar pada sebuah college.  Tidak ada lagi keinginan untuk masuk Universitas, apalagi Cincinnati.  Kemungkinan berpapasan dengan David terlalu besar, sedang untuk keluar dari perkebunan Wayne saja aku tidak punya keberanian kecuali di malam hari.  Ruang gerakku hanyalah di perkebunan Wayne, tapi cukup untuk membuatku sibuk sepanjang hari.

Sebegitu jauh aku belum mendengar kabar tentang Irene.  Aku sudah yakin bahwa dia adikku.  Malam ini Mommy telah menceritakan semua tentang Mama kepadaku.  Mama mengalami kesukaran ketika mengandung aku dan David sehingga harus sering tinggal di Rumah Sakit.  Pada saat sedang dalam kesulitan itu datanglah Mimo, teman kuliah Mama meminta ijin untuk mengadakan riset di perkebunan Stanton.  Tanpa prasangka apapun Mama menerima Mimo, karena Mimo toh sahabat Mama.  Ketika Mama melahirkan aku dan David, terjadilah apa yang sebenarnya tak boleh terjadi.  Papa mengkhianati Mama! Mama tidak bisa memaafkannya.  Dia terlampau mencintai Papa dan cinta Mama yang terlampau besar itulah yang akhirnya meracuni Mama.

Segala rintangan telah Mama hadapi dengan gigih untuk bisa mendampingi Papa, termasuk harus kehilangan keluarganya, karena keluarga Mama tak pernah menyetujui perkawinan itu.  Mama telah berkoban terlalu besar.  Tapi apa yang Mama peroleh dari pengorbanan itu? Selagi dia berjuang untuk menghidupi dua bocah buah kasih mereka, suaminya tengah main gila dengan sahabatnya.  Demi aku dan David mama berusaha untuk bertahan.  Tapi khirnya pertahanan itu hancur dan terjadilah perceraian itu.  Perceraian yang menyebabkan keluarga Stanton terbagi.

‘Bagaimana dengan Mimo?’ tanyaku.

‘Mimo segera pergi dari perkebunan Stanton begitu dia merasa ibumu telah mencium hubungannya dengan ayahmu.  Dan dia tak pernah muncul-muncul lagi sejak itu.  Ternyata di meninggal ketika melahirkan Irene ke dunia,’ jawab Mommy.  Aku tepekur.  Kasihan Irene.  Dia yang tidak berdosa harus mengalami nasib yang malang sejak dia dilahirkan.

‘Tahukah Papa bahwa Irene anaknya?’ tanyaku.  Mommy menggeleng beberapa kali.

‘Ayahmu benar-benar bertaubat sejak itu.  Tapi  perkawinannya terlanjur tidak bisa lagi dipertahankan.  Dia sebenarnya sangat mencintai ibumu.  Hanya ibumulah satu-satunya wanita yang pernah singgah di hatinya.  Ayahmu benar-benar terpukul dengan perceraian itu.  Tahun-tahun pertama dia sama sekali tidak acuh dengan dirinya sendiri juga dengan David.  Kerjanya hanyalah mengutuk dirinya sendiri karena telah melukai hati ibumu.  Georgie dan Clemmielah yang menjalankan bahtera oleng itu,’ cerita Mommy.  ‘Ayahmu baru sadarkan diri sesudah mendengar ibumu telah kawin lagi.’

‘Menurut saya, Mommy, Papa bukannya menyesali diri, lebih tepat kalau dikatakan Papa dendam terhadap Mama karena Mama tega meninggalkan David dan Papa,’ selaku.

‘Mengapa  kamu berpikiran semacam itu, Lucy?’ tanya Mommy.

‘Kalau Papa ada sedikit saja perhatian terhadap Mama, mengapa Papa tak sekali pun menanyakan keadaan Mama?’

‘Oh, Lucy, menyebut nama ibumu pun, ayahmu merasa tidak pantas apalagi menanyakan keadaanya.’

‘Lalu alasan apa yang tepat untuk mengatakan pengusiran Papa terhadapku? Cinta kepada Mama?’

‘Pengusiran?’ tanya Mommy heran.

‘Mommy, saya pergi dari rumah itu karena Papa tidak menghendaki saya berada di situ,’ aku menjelaskan pelan.

‘Bukan karena David?  Bukankah kalian bertengkar?’ tanya Mommy tak percaya.  Kugelengkan kepalaku.

‘Well …  e …  e …  memang saya dan David tidak bisa akrab.  Tetapi itu tidak cukup untuk membuat saya minggat.  Papa menginginkan saya kembali kepada Mama, tetapi saya tidak bisa melakukan itu.  Terlalu berat bagi Mama.’

‘Lucy, kamu yakin dengan apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mengerti mengapa Bill, ayahmu, bisa berbuat seperti itu?’ Mommy bertanya dengan wajah yang bingung.

‘Mommy, saya pun tidak bisa mengerti.  Tak pernah bisa.  Papa tidak sanggup untuk mengasuhku.  Itu saja yang dikatakan Papa.’

‘Tapi ayahmu begitu bahagia waktu menanti kedatanganmu,’ bantah Mommy.  ‘Dia ceritakan kepada semua orang yang dikenalnya bahwa anak perempuannya akan kembali kepadanya.’

‘Tapi itulah yang dilakukan Papa.  Memberiku uang setas penuh dan menyilahkan saya untuk angkat kaki dan mengatakan antara saya dan Stanton sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.’

‘Lucy, I can’t believe it!’  teriak Mama.  ‘Bill mengatakan itu semua kepadamu? Apakah kamu mendengarnya? I just can’t believe it.’

Ya semuanya memang sulit untuk di percaya, tapi itulah kenyataan yang menimpaku.

Ribuan mil dari mama 6 b

Tidak kujumpai seorang pun di rumah ketika aku terbangun di pagi hari.  Semua ruang telah kumasuki tapi semuanya lengang.  Ke mana mereka semua.

‘Eric! Tonny!’ panggilku dari pintu ruang bawah, karena biasanya mereka sedang mengerjakan tugas musim panas mereka di lantai bawah.  Tidak kudengar sahutan.

‘Eric!’ panggilku lagi sambil berlari keluar.  Aku bertubrukan dengan Mark di depan pintu.  Dia menangkapku kemudian menciumku ringan.

‘Siapa yang kamu cari sweetheart?’ tanyanya.

‘Di mana semua orang, Mark? Sepi sekali?’

‘Ada di Louisville Fair Ground, untuk mempersiapkan pasar malam.  Masa kamu lupa? Kamu sudah di beritahu kan?’ Mark menerangkan.  Aku Cuma bisa geleng-geleng kepal menyadari kealpaanku.  Berkali-kali mereka sudah membicarakan mengenai pasar malam tahunan ini.  Bahkan tadi malam di meja makan mereka berdiskusi seru mengenai stan pameran mereka dan apa saja yang akan mereka gelar di sana.

‘Hei, ada berita gembira untukmu,’ seru Mark, ‘Aku sudah menemukan alamat Irene.’

‘Mark?’ tanyaku untuk meyakinkan.  Mark mengangguk mantap.

‘Antarkan aku ke sana Mark,’ pintaku.

‘Tentu sweetheart, tentu.  Tapi aku harus balik ke fair ground dulu mengantarkan benih-benih.  Atau kamu mau ikut?’ Mark menawarkan.

‘Ikut?’ ulangku sambil menggeleng.  Begitu banyak orang yang berada di sana dan terlalu besar resikonya.

‘Aku segera kembali,Lucy,’ pesan Mark sebelum pergi lagi.  Begitu Mark berlalu aku segera menuju ke kamarku untuk ganti baju.  Tetapi belum lagi sepuluh menit kudengar suara mobilnya berhenti di depan rumah.  Cepat amat, pikirku sambil berlari turun.

‘Kok cepat amat Mark, belum lagi a …’ dan kata-kataku berhenti di ujung lidah.  Yang berdiri di depanku bukan Mark.  Tetapi dia adalah orang yang selama ini kutakutkan untuk berjumpa.  David Stanton.  Ya dia adalah David dengan matanya yang sangat amat dingin.  Tubuhku bergetar hebat.

‘Apa yang kau inginkan?’ tanyaku serak.

‘Ikut aku!’ perintah David dingin.

‘Apa?’

‘Ikut aku!’ ulang David sambil manarik tubuhku ke luar.  Aku meronta, tapi cengkraman David pada pergelangan tanganku terlampau kencang sehingga sia-sia sajalah usahaku.

‘Lepaskan aku! Lepaskan aku!’ protesku berkali-kali.  Tetapi telinga David seakan sudah tuli, dia terus saja menyeretku menuju mobilnya.  Dibukanya pintu mobil dan dengan kasar dia mendorongku untuk duduk di kursi penumpang.  Sebelum dia menuju ke tempat duduk kemudi dia menekan tombol otomatis yang  diset untuk anak-anak sehingga tidak mungkin dibuka dari dalam.  Tidak bakal ada kesempatan bagiku untuk meloncat turun selagi dia asyik dengan kemudinya.

Ribuan mil dari mama 6 b

Mobil David melaju meninggalkan perkebunan Wayne.  Sementara itu aku tak henti-henti memuntahkan makian dan kata-kata kotor ke arahnya.  David tak menggubrisku.  Mulutnya tetap terkatup rapat dan tulang-tulang rahangnya yang kuat mencerminkan kekerasan hatinya.  Aku putus asa.

‘Kamu tidak berhak melakukan ini terhadapku.  Kamu bukan apa-apaku.  Aku bebas menentukan apa-apa yang ingin kujalani dalam hidup ini.  Demi Tuhan aku sangat membencimu.  Kalau toh di dunia ini hanya ada dua orang, kamu dan aku, aku tetap tidak akan sudi bertegur sapa denganmu.  Aku terlampau amat sangat membencimu.  Camkanlah itu, Master Stanton!’ kataku menutup omelanku karena aku menyadari hati David tak akan tergugah dan memulangkanku ke perkebunan Wayne lagi.  Aku sudah pasrah.  Apapun yang akan terjadi, terjadilah.  David menoleh ke arahku sejenak tapi tak berucap apa-apa.

Oh, Mark pasti akan segera menyadari kepergianku.  Tahukah dia kalau David telah membawaku, pikirku sedih.  Hampir saja aku berjumpa dengan Irene, tapi kini David telah menghancurkan harapanku.  Mengap David selalu memadamkan impian indahku?

Aku berdiam diri sesudah itu sambil menatap hutan-hutan buatan di sepanjang highway.  David terus saja melaju meninggalkan negara bagian Kentucky dan masuk ke Ohio.  Mobilnya berjalan kencang seakan tak ’kan pernah berhenti.  Ternyata tiba pula saatnya bagi dia untuk menghentikan mobil itu yaitu di Akron untuk mengisi bensin.

‘Mau ke toilet dulu, Lucy?’ tanya David pelan sesudah tangki mobil terisi penuh.  Aku terkejut mendengar nada suaranya yang lain.  Tapi hanya sejenak.  Cepat-cepat kugelengkan kepalaku sebagai jawabannya.  Kembali dia menjalankan mobilnya.

Kami berhenti lagi di Pittsburg untuk makan siang.  Kami duduk berhadap-hadapan di sebuah meja kecil, tapi hati kami ribuan mil jaraknya.  Tragisnya hidup ini.  Dia saudara kembarku.  Sembilan bulan lebih kami meringkus di rahim yang sama.  Tetapi mengapa aku tidak pernah bisa mendekati hatinya?

‘Apa yang akan kau lakukan terhadapku, David?’ tanyaku tidak segeram tadi.  David mengangkat wajahnya, matanya tidak sesadis pagi tadi kemudian dia menggelengkan kepalanya pelan.

‘Kamu harus kembali ke Indonesia,’ desahnya.

‘Apa bedanya aku berada di sini dan aku berada di Indonesia?’ tanyaku berusaha tenang.  ‘Aku tidak akan mengganggumu.  Bukankah seperti katamu dulu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi antara aku dan Stanton.  Aku tidak mengenakan nama Stanton lagi.’

‘Tidak!’ bantah David.  ‘Lebih baik bagimu untuk tetap berada di Indonesia.’

‘David, aku tidak akan …,’ kataku berusaha protes tetapi David sudah beranjak dari kursinya dan mengajakku segera pergi.

‘Jadi kamu akan mengantarku pulang ke Indonesia?’ tanyaku setelah kembali berada di dalam mobil.

‘Ya, sampai JFK, New York,’ jawab David.  Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku tidak membawa paspor.

‘Kamu tidak akan bisa mengeluarkanku dari Amerika,’ seruku sambil tertawa.  David menoleh.

‘Mengapa tidak?’ tantangnya.

‘Pasporku tertinggal di rumah Wayne.’

‘Tidak jadi masalah,’ jawab David tenang.  ‘Kita pergi dulu ke kedutaan besar Indonesia di Washington dan melaporkan bahwa paspormu telah hilang.’ Aku terdiam.  David telah mempersiapkan segalanya dengan matang.  Semua gertakanku tidak mempan baginya.

‘David, mengapa tak kamu kembalikan saja aku ke keluarga Wayne? Aku berjanji tak ’kan mengusikmu,’ bujukku merubah siasat.

‘Itu pantangan terbesar bagiku.  Wayne adalah saingan Stanton yang paling besar.’

‘Mereka begitu baik tehadapku.’

‘Itu karena kamu sedang jatuh cinta.  Sejak dulu kala sudah terjadi persaingan antara Stanton dan Wayne.  Bahkan dulu Papa dan Mr.  Wayne bersaing hebat dalam memperebutkan Mama,’ ucap David bangga.  Aku terperanjat mendengar dia mengalamatkan Mama bukan ‘ibumu’.

‘Ah, Mr.  Wayne sudah melupakan peristiwa itu,’ belaku.

‘Omong kosong,’ bantah David, ‘Mereka tetap dendam terhadap Stanton, apalagi setelah Deidre akrab denganku.’

‘Apa hubungannya Deidre dengan Wayne?’

‘Dia adalah satu-satunya gadis yang dicintai Mark.’

‘Tidak mungkin.  Mark mencintai aku.’ sanggahku seketika.

‘Tidak sadarkah kau, Lucy, bahwa Mark berusaha membalas dendam melalui dirimu.  Dia sangat mencintai Di tapi Di telah menolaknya.  dan mendekatimu.  Walau bagaimanapun juga kamu mempunyai darah Stanton.  Mark berharap dengan melukai hatimu, dia juga melukai Stanton.’

‘Kamu bohong!’ geramku.

‘No, Lucy, no.  Aku sungguh-sungguh.  Sebelum kamu terlalu dekat dengan Mark, maka sebaiknya kamu menjauh.  Dia tidak bersungguh-sungguh terhadapmu.  Percayalah aku.’

‘Apa maksudmu dengan sebelum aku terlalu dekat dengan Mark? Aku sudah terlalu dekat dengan Mark.  Aku dan dia sudah kawin dan saat ini aku sedang mengandung anaknya, anak yang berdarah Wayne,’ ucapku ingin melihat reaksinya.

‘Apa?!!!’ gelegar David.

‘Kamu telah mendengarnya tadi,’ jawabku berbohong lagi.

‘Oh God, no!’ desis David menyerupai sebuah erangan.  Wajahnya mendadak menjadi pucat pasi dan dadanya turun naik tidak teratur.  Aku tertegun, apalagi setelah melihat ke dalam matanya.  tidak ada lagi ketegaran dan keangkuhan di sana.  Mata itu menggambarkan hati yang sangat terluka, tiada gairah hidup yang ada hanyalah kekecewaan seakan dia telah menderita kekalahan total.

Tiba-tiba kulihat sebuah truck yang memasuki highway dengan kecepatan tinggi.  David tidak melihatnya.

‘David, awas!!’ teriakku memperingatkan.  David berusaha menguasai kemudi.  Tetapi aku melihat tubuh dan tangan David bergetar.  Dia masih shock dengan keteranganku tadi.  Dia berusaha keras untuk menghindari tabarakan tanpa memperhitungkan bahwa di depan kami ada sebuah tikungan yang amat tajam.  David menginjak rem dengan mendadak.  Terdengar bunyi jeletit rem yang keras.  Terlambat!! Mobil kami berguling dan kuteriakkan namanya sebelum sekelilingku menjadi gelap pekat.  Aku tak sadarkan diri.

Ribuan mil dari mama 6 b

‘Lucy …  Lucy …  kamu sudah bangun?’ sayup-sayup kudengar sebuah pertanyaan dari suara yang asing.  Ingin sekali aku membuka mata dan melihat siapa yang bertanya.  Tidak berhasil.

‘Lucy, are you awake?’ kembali suara itu mengiang.  Aku berusaha makin keras untuk membuka mataku.

‘Lucy, kamu mendengar suaraku?’ pertanyaan itu makin gencar.  Hampir.  Mataku hampir terbuka.  Dan ketika mata ini terbuka kulihat siapa pemilik suara itu.  Seorang laki-laki setengah baya berpakaian serba putih.  Rumah sakit! Mengapa aku ada di sini, pikirku kacau.  Kucoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.

‘David!’ teriakku lantang.  ‘Dimana David? Aku telah membunuhnya,’ teriakku berkali-kali setelah berhasil mengingat apa yang menyebabkanku berada di Rumah Sakit ini.

‘David! David! David!’ teriakku histeris.  Aku telah membunuh saudara kembarku sendiri.  Kalau saja aku tidak berbohong padanya tentang Mark, tentu dia tidak akan kehilangan keseimbangan dan peristiwa ini tidak harus terjadi.  Aku benar-benar menyesal hingga tubuhku menjadi tegang setengah mati.

‘David!’ jeritku kalut.

‘Lucy, tenang.  Kakakmu selamat.  Dia sedang berusaha menghubungi ayahmu,’ hibur dokter itu.  Aku tahu dia bohong.

‘Tidak! David telah mati.  Aku yang membunuhnya.  Antarkan aku melihat mayatnya,’ tuntutku sambil berusaha bangun.  Tiba-tiba aku merasakan nyeri yang luar biasa di punggungku.  Aku meringis menahan sakit dan tergeletak kembali.  Tangisku tak lagi terbendung.  Barulah aku menyadari bahwa aku menyayangi David.  Tapi kini David telah tiada sebelum sempat aku nyatakan cintaku.  Kututup mataku rapat untuk mengenangkan bayangan David.

‘David …  David …’ kubisikkan namanya berkali-kali dengan harapan dia bisa mendengarnya.

‘Lucy …’ kudengar sapaan lembut.  Suara David.  Dari surgakah datangnya? Aku takut untuk membuka mataku.  Tiba-tiba tanganku di sentuh dan namaku kembali di bisikkan.  Pelan sekali kubuka mataku kembali.

‘David?’ tanyaku tidak yakin.  Dia memang berdiri di dekatku.  Tapi sadarkah aku atau ini hanya sekedar impian?’

‘Lucy, …’ bisik David serak.

‘David!’ teriakku gembira.  Kupeluk dirinya erat dan takkan kulepaskan lagi.  David menangis sesunggukan di pelukanku.

‘Maafkan aku, Lucy.  Maafkan aku,’ isaknya.

‘David, aku yang salah.  Hampir saja aku membunuhmu.’

‘Tidak, Lucy.  Akulah yang terlalu egoistis.  Hanya diriku saja yang kupikirkan tanpa pernah memikirkan hati dan perasaanmu.  Seminggu ini aku seperti orang gila saja.  Kalau kamu belum juga sadar hari ini aku sudah siap untuk membunuh diri.’

‘Seminggu?’ tanyaku.  ‘Selama itu aku tak sadarkan diri?’

‘Ya dan itu membuatku gila.  Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.  Kamu mau memaafkan aku ‘kan, Lucy? Berilah aku kesempatan untuk memperbaiki diri! Berilah aku kesempatan untuk mencintaimu dengan tulus,’ bisik David.

Kupandang dia lama dan dalam.  Kucari pandangan dingin dalam matanya.  Tidak lagi bersisa.  Mata itu kini berisi cinta dan dan penyesalan.  Mampukah untuk mengecewakan dia sedang sesungguhnya aku sangat mencintainya? Pelan sekali kuanggukkan kepalaku.  Mata david bersinar cerah kemudian dia merengkuhku ke dalam pelukannya dan tangis kebahagiaan kamipun tumpahlah.

‘Aduh!’ jeritku tak tertahan ketika tangan David menyentuh punggungku.

‘Maaf, Lucy,’ ucap David sambil melepaskan pelukannya.

‘Ada apa di punggungku, Dave? Nyeri sekali.’ Tanyaku.

‘Mereka terpaksa memecah kaca mobil waktu menolong kita.  Dan punggungmu tergores pecahan kaca waktu mengeluarkan kamu,’ jawab David.  ‘Sudah di jahit sekarang,’ lanjutnya.

‘David,’ panggilku setelah kami berdiam diri untuk waktu yang agak lama.  Devid menatapku sambil kedua tangannya memainkan tanganku.

‘Ya?’ tanya david.

‘Ah, tak usah saja,’ sahutku ragu.

‘Katakanlah apa yang ingin kau katakan,’ kata David.

‘Tentang Mark.  Benarkah hanya Deidre saja yang dicintainya? Apakah aku sama sekali tidak ada dalam hatinya?’

‘Kamu mencintai dia?’ tanya David sambil memandangku dalam.  Aku mengangguk pasti.  Memang aku mencintai Mark.  David tersenyum lebar.  Sayang aku tidak mengerti arti senyumannya.

‘Tidak ada gadis lain yang dapat mengalahkanmu, Lucy.  Aku yakin Mark pasti mencintaimu.  Lupakan tentang Deidre.  Mark tidak pernah merasa memiliki Deidre, jadi sudah tentu dia tidak merasa kehilangan Deidre.’

‘Tapi …’

‘Tapi apa.  Lucy?’

‘Kamu pernah  bilang bahwa …’

‘Lupakan itu, Lucy, lupakanlah.  Aku tidak sadar dengan apa yang kuucapkan.  Percayalah bahwa Mark mencintaimu.  Sudah berapa bulan usia kandunganmu?’ tanya David mengejutkan.

‘David,’ bisikku lirih, ‘Aku tidak sedang hamil dan antara aku dan Mark belum ada ikatan perkawinan.’

‘Jadi?!’ tanya David sambil menahan tawa.

‘Ya, Dave, kita saling membohongi untuk saling menyakiti,’ jawabku sambil tertawa.  David juga tertawa.  Inilah pertama kalinya kami tertawa bersama.

‘Kita mulai dari awal lagi, Lus.  Marilah kita berjanji untuk senantiasa terbuka satu sama lainnya.  Tidak ada lagi dusta dan sandiwara.  Kita sudah begitu menderita dengan ulah kita sendiri.’

‘Apakah kamu menderita? Kukira hanya aku saja yang menderita.  Kamu begitu keras kepala dan angkuh.’

‘Bukankah hati kita hanya satu, Lus?’ jawab David.  ‘Akupun menderita sepertimu.’

‘Tapi mengapa kamu begitu saja memusuhiku? Aku datang dengan cinta, Dave, tapi kau sambut aku dengan kebencian,’ tanyaku hati-hati.  David terdiam lama sebelum menjawab.

‘Aku tidak sadar dengan diriku sendiri, lucy.  Deidre terlalu mempengaruhiku dengan gagasannya tentang warisan Papa.  Padahal sesungguhnya aku tidak begitu perduli dengan warisan itu.  Hanya …  mungkin …  mungkin, Lucy, aku iri dengan kebahagiaanmu.  Kamu selalu mendapatkan yang terbaik.’

‘Apa maksudmu, Dave?’

‘Mungkin aku terlalu kekanak-kanakan.  Aku begitu sakit hati ketika Mama memilih kamu untuk ikut dia.  Mengapa bukan aku? Mengapa Mama membiarkan aku ikut Papa, padahal Mama tahu pasti Papa tidak akan memperdulikanku?’ ucap David sentimentil.

‘David, kamu ingin tahu jaawbannya? Aku perna bertanya kepada Mama tentang hal ini.  Waktu itu aku bertanya mengapa bukan aku yang iktu Papa.  Mengapa harus David? Lalu jawab Mama, ‘kalau saja aku berhak, maka kalian akan kubawa semua.  Tapi karena aku hanya berhak membawa satu dari kalian mak kupilih kamu, karena aku yakin Davidlah yang kuat mendampingi ayahmu.  Dan lagi kamu dulu sakit-sakitan maka kuputuskan kamu yang kubawa.’

David termenung mendengar kata-kataku.

‘Pernahkah Mama berpikir tentang aku?’ tanya David kemudian.

‘David!’ seruku.  ‘Setiap menit Mama selalu memikirkanmu.  Kau pikir Mama melupakanmu begitu saja?’ David tersenyum malu mendengar teguranku.

‘Seperti kataku tadi, Lucy, aku terlalu berpikir tentang diriku sendiri.  Setiap saat Papa berbicara denganku tentang dirimu maka waktu itu pula aku menyadari bahwa kamu begitu diperhatikan.  Itulah yang membuatku iri, seakan aku tidak berarti apa-apa di mata Papa.  Aku takut bila kamu tetap berada di samping Papa kedudukanku akan tergeser dan aku akan hilang begitu saja.’

‘Masihkah kamu mempunyai perasaan seperti itu?’ tanyaku.

‘Tidak lagi, Lucy.  Tidak lagi.’ Jawab David.  Kuambil tangan david dan kucium.  David tersenyum.

‘Apakah berarti bahwa aku boleh tetap berada di sini?’

‘Tidak!’ jawab David cepat.

‘David!’ protesku tak habis pikir.

‘Kamu tidak boleh tetap berada di sini.  Ingat ini Rumah Sakit, Lucy.  Rumahmu ada di Louisville,’ jawabnya sambil tertawa.  Kucubit dia sekuat tenaga dan David menjerit.  Tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka dan muncullah wajah-wajah terkasih; Papa.  Mark dan Irene.  Aku tidak tahu nama siapa yang harus kuteriakkan pertama kali.  Akibatnya aku hanya menatap mereka tak berkedip tanpa mengucapkan sepatah kata pun.  Tahu-tahu aku telah di hujani ciuman mereka.

‘Bagaimana kalian tahu aku berada di sini?’ akhirnya mampu juga aku untuk bertanya.

‘Orang tua Mark datang menemuiku dan mengatakan bahwa menantu mereka telah menghilang.’ Jawab Papa sambil mengedipkan sebelah matanya.  semua tertawa kecuali aku dan Mark.  ‘Ternyata menantu mereka itu adalah anakku yang juga pernah menghilang dua bulan yang lalu.  Karena waktu menantu mereka menghilang itu bersamaan waktunya dengan menghilangnya anak laki-lakiku, maka kami sepakati untuk menganggap mereka menghilangnya bersama-sama.  Hingga akhirnya kuterima telepon dari anak laki-lakiku tentang kecelakaan yang menimpa mereka.  Nah, cukup jelas sekarang?’ lanjut Papa berbelit-belit.

‘Irene?’ tanyaku untuk menyingkap kehadiran Irene di kamar ini.  Papa menghela nafas sejenak kemudian memandang kami semua silih berganti.

‘Mengapa tak kau katakan kepada Papa begitu kamu mengetahuinya, Lucy? Mengapa orang lain yang harus bercerita kepada Papa?’ Papa ganti bertanya.

‘Saya menanti saat yang tepat, Papa,’ jawabku.  ‘Siapa yang memberitahu Papa?’

‘Menantuku ini dan orang tuanya,’ jawab Papa sambil menepuk bahu Mark.  Mak tersenyum jengah.

‘Hei, apa-apaan ini? Apa yang kalian perbincangkan?’ tanya David kebingungan.

‘Irene adalah adikmu, Dave,’ jawab Papa.  David terperanjat.  Matanya bergerak cepat dari Papa ke Irene, kembali lagi ke Papa kemudian berhenti padaku.  Kuanggukkan kepalaku untuk meyakinkan dirinya.  Dengan cepat dia berdir dari sisiku dan berjalan mendekati Irene yang berdiri dengan tegang.  Diambilnya wajah Irene dengan kedua tangannya dan dipelajarinya lama.

‘Mengapa tak kau katakan dari dulu, Irene?’ bisik David lembut.  Mata Irene berkaca-kaca menatap David dan bibirnya bergetar menahan haru.

‘Irene adikku,’ desah David sambil memeluk Irene.

Angin sore berhembus lembut, mempermainkan pucuk-pucuk pinus di depan sana.  Bunga-bunga Dandelion kuning bergoyang-goyang mengucapkan salam kepada kuda-kuda jantan Kentucky yang sedang bercanda riang.  Dan di atas salah satu punggung kuda itu David bertengger.  Sinar matanya menimpa dadanya yang telanjang hingga dari tubuhnya seakan memancarkan cahaya.

Kutoleh Papa yang duduk di samping Irene, pandangan Papa juga berada pada David.

‘Aku gembira David bisa lepas dari Deidre.  Gadis itu berpengaruh tidak baik padanya,’ bisik Papa.  Aku, Mark dan Irene tidak berkomentar walau dalam hati kami sependapat dengan Papa.

‘Dan, Lucy …  kapan kamu melangsungkan perkawinanmu dan memberi Papa cucu-cucu yang manis?’ tanya Papa kepadaku.  Kulirik Mark yang duduk di sampingku, dia tersenyum lebar ke arahku.

‘Ah, tidak seharusnya Papa bertanya kepadaku.  Lucy sih sudah siap Cuma Mark saja yang belum,’ jawabku.  Mark membelalakkan matanya.

‘Jangan membalikkan fakta, Miss,’ protesnya.  ‘Detik ini pun aku mau,’ lanjutnya.  Papa dan Irene tertawa.

‘Kalau begitu tunggu apa lagi?’ tanya Papa.

‘Begini, Papa,’ aku menerangkan, ‘Mark dan David akan pergi ke Indonesia dulu.  Meminta ijin kepada Mama.  Na, kalau Mama sudah memberi lampu hijau baru …’

‘Kapan kalian akan pergi?’ potong Papa ke arah Mark.

‘Secepatnya,’ jawab Mark pasti.

‘Bagus! Aku yakin Mama Lucy akan mengijinkan,’ jawab Papa.

‘Papa begitu yakin?’ tanyaku.  Papa tidak menjawab.  Tapi seperti juga Papa aku yakin Mama akan mengijinkan perkawinan kami.  Mark terlampau baik untuk di tolak.

‘Nona, Lucinda …’ panggil David yang entah kapan telah ada di depan kami.  ‘Maukah Anda berkuda denganku?’

‘Dengan senang hati, tuan muda,’ jawabku sambil beranjak dari sisi Mark.  ‘Sebentar ya, Mark?’ bisikku pada Mark.  ‘Ngobrol-ngobrollah dulu dengan mertua dan adik ipar,’ Mark mengangguk dan memperhatikan kami berlalu.

Aku duduk di belakang David sambil memeluk tubuhnya erat.  Tiba-tiba terpandang olehku sebuah bekas luka di punggungnya.

‘David, apa ini?’ tanyaku.

‘Setahun yang lalu aku terjatuh dari sepeda motor,’

‘Lucu ya, Dave? Aku juga mempunyai bekas luka dipunggung.’

‘Apanya yang lucu? Bukankah kita saudara kembar? Kalau kamu terluka aku pun ikut terluka,’ jawab David berkelakar sambil mempercepat lari kudanya.

‘David,’ bisikku.

‘Hmm?’ tanya David tanpa berusaha memelankan lari kuda.

‘Aku mencintaimu,’ ucapku.  Aku tahu aku harus mengucapkan kata-kata itu.  Serta merta David menghentikan kudanya, kemudian dia menoleh ke arahku.  Ditatapnya aku lama dan dalam.

‘Siapa yang lebih kau cintai, aku atau Mark?’ tanyanya.

‘Oh, David, engku gila!’ teriakku sambil memukul punggungnya.  ‘Jangan katakan kalau kamu cemburu pada Mark,’ David tertawa terbahak-bahak dan matanya berputar-putar dengan kocaknya.

‘Tentu saja tidak.  Cuma …  rasanya belum lama aku memilikimu kini kamu akan menjadi milik Mark,’ ucap David polos.

‘David, kamu tahu aku akan tetap menjadi milikmu.  Aku akan selalu membutuhkanmu.  Bukankah kita hanya mempunyai satu hati?’ David mengangguk.  Sebuah senyum hangat tersungging di bibirnya.  Kemudian dia mencium dahiku lembut.

‘Akupun mencintaimu, Lucy,’ bisiknya.  Dan entah dari mana datangnya tahu-tahu dunia ini penuh dengan cinta.  Bahkan burung-burng yang terbang bergerombol di atas pun bergerak karena cinta.  Alangkah indahnya dunia ini.     

Tamat.

Cafe du Monde Stands Tall Since 1862

du monde 3

Since 1862, Cafe du Monde has been serving breakfast to residents and visitors of New Orleans.  To this day, people are willing to endure the long queue to enjoy their beignets, the only food that they offer.

Categories:

French, Breakfast

Address:

800 Decatur Street

New Orleans

Louisiana 70116

Telp: +1 504 525-4544

Open:  24 hours

Ambience:

du Monde

Attire:

Casual

Price Range:

Cafe du Monde 1

The menu is printed on the box on the paper holder

Date of   Visit:

December 26, 2013.  Breakfast with Maga and Junior

du monde 2

Barelang Bridge

Barelang Bridge

Barelang Bridge is one of the icons of Batam Island.  This bridge is a series of six bridges, connecting six islands, three of which became the name of this bridge: Batam, Rempang and Galang.

The scenery along the bridge is so amazing.  The calm seas, without waves,  surrounding many sparkling small  islands.

With a relatively quite traffic, you can stop on the bridge to take photos or enjoy the view, like what I and my friend Julie Suroso did.

Batam 2

Mari Masak Kerak Telor

Malam ini tiba-tiba aku ingin sekali makan Kerak Telor.  Diantar Maga, kami mencoba peruntungan pergi ke kawasan Tugu Monas. Ternyata pada malam Minggu seperti malam ini,  banyak abang-abang yang menjajakan makanan khas Betawi ini

Kami berkesempatan untuk menyaksikan proses pembuatannya dengan seksama …, Sepertinya mudah untuk membuatnya sendiri.

Kerak 2

Bahan-bahan yang dibutuhkan.

    1. Ketan putih, rendam selama 2 hingga 3 jam
    2. Telor bebek
    3. Serundeng kelapa
    4. Bawang goreng
    5. Ebi bubuk
    6. Garam, lada bubuk, gula pasir, 
    7. Irisan cabai (bila diperlukan)

Cara Pembuatannya:

Panaskan wajan ukuran sedang di atas anglo dengan arang yang menyala panas.

Kerak 3

Masukkan satu sendok sop ketan yang sudah direndam beserta airnya.  Tutup dan biarkan selama 2 hingga 3 menit di atas anglo.

Kerak 4

Buka tutupnya dan masukkan satu butir telor bebek, satu sendok makan serundeng kelapa gurih, satu sendok teh serundeng kelapa manis,  satu sendok makan bawang goreng, satu sendok teh ebi bubuk, garam, gula dan merica secukupnya.

Kerak 5

Aduk dengan cepat dan merata.

Kerak 6

Bentuk menyerupai telor dadar dengan diameter 20 cm, tutup dan masak hingga harum.

Kerak 7

Buka tutupnya dan balik wajan di atas anglo, hingga lidah api menjilat kerak telor.

Kerak 9

Bolak-balik wajan, hingga kerak telor benar-benar matang dan harum baunya.

Kerak 10

Tambahkan serungdeng dan bawang goreng lagi dan sajikan

Kerak 1

Selamat mencoba dan menikmati.

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Keempat)

ribuanmi4

Cerita Sebelumnya:

Lucinda Stanton adalah gadis yang beribukan wanita Indonesia dan ayah Amerika.  Karena perceraian orang tuanya dia ikut ibunya yang kemudian menikah lagi dan tinggal di Indonesia.  

Setelah lima belas tahun berpisah dengan ayah dan saudara kembarnya, ia dikirim oleh ibunya untuk tinggal di Amerika.  

Ayahnya menyambut Lucinda dengan hangat.  Tetapi David, saudara kembarnya menerimanya dengan kebencian dan Deidre, kekasih David ikut-ikutan.  Kesedihan Lucinda menerima perlakuan David agak terobati karena persahabatannya dengan para pengurus rumah tangga Stanton, terutama Oscar dan Irene.

Tuan Stanton mendapat serangan jantung mendadak.  David menuduh Lucinda sebagai penyebabnya.  Dia juga menuduh Lucinda datang ke Amerika karena menginginkan warisan saja.  David kemudian meminta Lucinda untuk kembali ke Indonesia, tetapi Lucinda melarikan diri ke kota lain

Taksi yang kutumpangi berjalan menyusur pantai meninggalkan keramaian kota Jacksonville.  Pantai yang gersang tanpa pepohonan.   Pasirnya berwarna putih kusam.  Tidak ada yang menarik.  Pantai ini kalah jauh dari pantai-pantai di Indonesia.  Sekitar dua jam kemudian kami memasuki kota kecil Daytona.   Ada sebaris pohon palem yang hampir meranggas di pusat kota.  Walaupun demikian Daytona mempunyai karisma tersendiri.  Suasana liburan serta merta terasa. Di mana-mana kelihatan orang berjalan kaki dengan riang.  Mobil yang lalu lalang bisa di hitung dengan jari.  Tak seorang pun bepenampilan murung, kecuali aku mungkin.

Sesudah agak lama berputar-putar di pusat kota, supir taksi membelokkan mobilnya ke kiri ke arah pantai. Suasanan pantai lebih menunjukkan suasana santai. Penuh dengan manusia yang sedang berenang dan sekedar berjemur di bawah terik matahari. Kemudian taksiku memasuki halaman sebuah hotel yang nampak begitu indah.  Sebuah hotel butik yang ditujukan untuk penyewa jangka panjang dengan pelayanan lengkap, termasuk tiga kali makan.

Seorang room boy mengantarku ke kamar yang kupesan dari airport.  Sebuah kamar yang luas dan  terpisah dari bangunan induk hotel.  Berderet dengan tiga kamar lainnya dan menghadap ke pantai.   Sepanjang siang aku mengurung diri di kamar.   Aku mersasa benar-benar sendirian kini.  Setiap orang saling memiliki. Aku tidak.  Mama memiliki adik-adikku dan Oom No.  David memiliki Papa.  Papa memiliki David.  Tetapi aku?  Tak seorang pun yang kumiliki kini.  Tidak ada seorang pun yang mempedulikan apakah aku masih hidup atau sudah mati.  Mama pasti mengira aku masih bersama Papa.  Papa dan David pasti juga mengira kalau aku sudah kembali ke Mama dan mereka tidak peduli apakah aku benar-benar sudah pulang atau belum.  Aku bukan Stanton lagi.  Tak ada lagi hubungan antara diriku dengan Stanton.  Oh tragisnya hidup ini.   Tapi aku sudah memilih untuk menjalani  hidup yang tragis ini.

ribuanmi4

Pukul tujuh, bel panggilan makan malam berdering.  Aku tidak lapar tetapi bangkit juga dari tempat tidur.  Kulihat diriku di dalam cermin.  Mataku sangat merah dan mataku sembab oleh bekas air mata. Kubasuh mukaku dulu sebelum keluar dari kamar.  Waktu keluar dari kamar, penghuni kamar sebelah kiriku  juga keluar. Seorang gadis yang sangat cantik dengan perawakan yang begitu semampai.

‘Hello!’  sapanya ramah sambil menutup pintu kamarnya.

‘Hai,’   jawabku gugup.

‘Kamu penghuni kamar ini?’ tanyanya.  Kuanggukkan kepalaku.  ‘Sudah lama aku ingin punya tetangga dan baru sekarang kesampaian. Namaku Michelle,’ lanjut gadis itu memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya hangat.

‘Aku Lucy.  Kamu sendirian saja?’  tanyaku sambil kujabat tangannya. Dia mengangguk.

‘Kamu  mau makan malam ‘kan?  Kita bisa duduk semeja,’  usul  Michelle. Aku merasa sedikit terhibur.  Makan sendirian benar-benar tidak nyaman terutama di tempat yang ramai seperti ruang makan di hotel ini.

Kami duduk di teras ruang makan yang menghadap  ke laut lepas. Hembusan angin sore yang hangat kental beraroma garam.   Michelle mulai menceritakan tentang dirinya. Dia seorang peragawati yang berasal dari Boston dan pada musim panas bekerja pada sebuah rumah mode di Daytona.

‘Kamu tinggal di hotel ini sepanjang musim panas?’  tanyaku.

‘Ya.  Itu perjanjianku dengan boss.  Aku tidak mau tinggal di apartemen, membereskan tempat tidur dan mengurusi hal-hal domestik lainnya,” jawab Michelle sambil tertawa.  Aku menyadari gadis di depanku ini begitu banyak tawanya. ‘ Nah, itu waiter kita, Les,…’ ucap Michele sambil menunjuk pada seorang pemuda yang berjalan ke arah kami.

‘Selamat malam, Michelle!’ tegur waiter itu.

‘Malam, Les.  Ada orang baru yang duduk di meja ini.  Kamarnya di sebelah kanan kamarku.  Lucy, kenalkan, Les,’ Michele memperkenalkan kami berdua.

‘Hallo,’  sapaku.

‘Senang berkenalan denganmu, Lucy,’ balas Les sambil tersenyum.   ‘Sekarang apa yang dapat kuambilkan untuk kalian?’ lanjutnya.

‘Seperti biasanya. Dan Lucy, apa yang kamu inginkan?’ tanya Michelle. ‘ Tidak banyak yang dapat kamu pilih di sini,’ sambung Michele berbisik tapi cukup keras untuk didengar Les. Les tersenyum tapi tidak membantah kata-kata Michelle.

‘Apa yang istimewa untuk hari ini?’ tanyaku.

‘Idaho red angus dilumuri mint lalu ditaburi suwiran lobster dan tumis sayuran dan dilengkapi dengan kentang mini kukus,’

‘Itu yang istimewanya apalagi yang biasa,’ komentar Michele diiringi tawanya yang khas.

‘Kamu membuat nafsu makan Lucy hilang,’ Les memperingatkan.

‘Oke, kuambil yang istimewannya tapi tanpa lobster,’ jawabku.   Les tersenyum senang dan segera berlalu.  Sesudah makan malam Michelle mengeluarkan rokoknya.

‘Rokok?’ Michelle menawarkan.

‘Terima kasih.  Aku tidak merokok,’ jawabku. Michelle menyulut sebatang untuknya.  Sisanya di letakkan di atas meja dan di putar-putarkan beberapa kali.

‘Lucy, kamu mempunyai darah Amerika Latin? Mexico atau Cuba?’  tanya Michele tiba-tiba. Kugelengkan kepalaku.

‘Amerika Asli?’ tanyanya tak percaya.

‘Juga bukan. Aku orang Indonesia.’

‘Indonesia?’ ulang Michele untuk meyakinkan.  ‘Sangat jauh dari sini.  Kamu datang ke sini sendirian? Berapa umurmu?’ tanya Michele dengan cepatnya. Aku tertawa mendengar kecepatan bicaranya itu.

‘Sembilan belas dan akan menjadi dua puluh tahun pada musim gugur,’

‘Sembilan belas? Ah, kamu pasti bercanda. Enam belas kukira lebih tepat,’ olok Michelle.

‘Mau lihat pasporku?’ gurauku.

‘Tidak . . . tidak,’ jawab Michelle sambil tertawa.  Kemudian kami bercakap-cakap ringan.  Tentang mode,  tentang remaja,  tentang pantai dan penjaga pantainya.  Selama bercerita itu Michele merokok terus menerus.  Aku heran mengapa giginya masih tetap putih dan bibirnya tidak rusak oleh tembakau.

Lifeguard . . .,” keluh Michele tentang penjaga pantai , ‘mereka benar-benar hebat tetapi juga bajingan’ lanjutnya.

‘Mengapa demikian?’ tanyaku antusias.

‘Kamu akan melihatnya sendiri,’ kilah Michele.  ‘Mereka akan duduk di kursi mereka yang tinggi, begitu gagah dan begitu tampan.  Bertelanjang dada dan berkacamata gekap pura-pura mengawasi keamanan pantai. Padahal yang sesungguhnya mereka awasi adalah gadis-gadis berbikini. Karena kaca mata hitam yang mereka kenakan,  mata mereka bisa bebas berkelana ke sana ke mari,’ Aku terkesima mendengar cerita Michelle bak dengan begitu gadis kecil mendengar dongeng ibunya sebelum tidur.

”Tapi anehnya,’ lanjut Michelle, ‘w alaupun semua orang tahu kalau mereka itu petualang, masih juga mereka dipuja-puja. Dimana pun mereka berada, gadis-gadis cantik akan mengerumuni bahkan mau bermain cinta dengan mereka.’

‘Ah, ‘ cetusku tidak sadar.

‘Jangan heran, Lucy.  Bahkan kalau ada kesempatan mau rasanya aku bercinta dengan mereka.’

‘Kamu mau?’

‘Yah.  Mereka begitu tampan dan gagah. Begitu muda dan crunchy . Sebelum aku terikat dengan perkawinan nanti,  aku mau bermain dengan mereka dulu,’ kata Michelle bermimpi.  ‘Kamu harus hati-hati terhadap mereka.  Mereka jago merayu.  Tanpa kamu sadari kamu sudah masuk dalam perangkap mereka. Dan kalau mereka sudah mendapatkannya, finish.

‘Selalu begitu?’

‘Selalu.  Siang hari  kamu berkenalan dengan salah satu dari mereka.  Sedikit rayuan gombal, malam harinya kamu sudah ada dalam pelukannya. . . Kamu akan membawa kesan itu seumur hidupmu sedang si dia sudah lupa keesokan harinya dan siap dengan gadis yang lain,”

‘Sekejam itu?’

‘Mereka tidak kejam, Lucy. Kalau gadisnya mau, mau di bilang apa?  Tidak ada unsur paksaan dalam hal ini. Dan biasanya yang senang itu justru si gadis. Kalau gadisnya cerdas, dia akan cari lifeguard yang lain.  Mereka benar-benar memikat,”

‘Apakah semua lifeguard demikian?’

‘Wah, tentang hal itu aku tidak tahu.  Tapi kebanyakan, Lucy. Kebanyakan.  Dari pengamatanku yang selalu tinggal disini setiap musim panas, kebanyakan dari mereka ya seperti itu.   Kalau kamu tidak ingin jadi korban, jangan dekati mereka.  Mereka tidak akan mendekatimu bila kamu tidak menunjukkan minat.  Itu salah satu yang kukagumi dari mereka.  Kalau kamu ingin selamat, hindarilah mereka,” nasehat Michele.

‘Engkau membuatku takut pada mereka,’  kataku jujur.

‘He, jangan!!’ teriak Michele.  ‘Mereka tidak apa-apa jika, . . . seperti kataku tadi, engkau tak ada minat terhadap mereka.  Mereka dapat menjadi teman yang baik. Engkau dapat saja bergaul dengan mereka tanpa harus berpacaran,’  jawab Michele blak-blakan.

ribuanmi4

Itulah awal perjumpaanku dengan Michelle.  Aku bersyukur dapat berjumpa dengan gadis seperti dia.  Dengan dia rasa asingku terhadap sekeliling bisa menghilang begitu saja.  Setiap sore sehabis pulang dari kerja, Michelle selalu menemaniku berjalan-jalan sepanjang pantai.  Atau kadang-kadang kami pergi ke kota nonton atau makan di tempat-tempat yang baru.  Sembilan tahun yang membedakan umur kami tidak lagi terasa.  Dengan dia aku dapat berbincang bebas. Dengan dia aku bisa tertawa lepas.  Michelle juga menjanjikan sebuah pekerjaan untukku.  Tapi untuk satu bulan pertama ini aku ingin rileks.  Aku ingin menikmati liburan.  Sesudah itu aku akan mulai memikirkan masa depanku.

‘Kamu benar-benar tidak mau ikut, Lucy?’  tanya Michelle sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.  Sebentar lagi dia akan pergi ke Orlando dalam suatu pegelaran mode selama seminggu.

‘Lucy?’  tanya Michelle lagi.  Rupanya dia tidak melihat aku sudah menggeleng tadi.

‘Tidak, aku cuma akan merepotkanmu saja. Lagipula kamu pasti akan sibuk terus jadi tak ada waktu untuk jalan-jalan. Kamu pun pasti tidak mau mengajakku ke Disney World,’ jawabku. Michele tertawa renyah mendengar jawabanku.

‘Dengar, aku berjanji suatu saat akan mengajakmu ke sana. Oke?’  sahut Michelle.

‘Lucy, aku benar-benar tidak tega meninggalkanmu seorang diri di sini,’ ucap Michelle setelah terdiam beberapa saat.

‘Kamu pikir aku bakal mati bila kamu tinggal?’

‘Mati sih, enggak.  Kalau setengah mati  mungkin,’ ganggu Michelle. ‘Baik-baiklah menjaga diri.  Aku akan selalu menelponmu,’ lanjut Michelle seperti seorang kakak kepada adiknya.

‘Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, Chelle.  Mungkin aku akan mencoba memacari lifeguard selagi kamu pergi’ gurauku.

Sure,’ cibir Michelle menantang.  ‘Apa yang kamu inginkan sebagai oleh-oleh?’ lanjutnya.  Aku menggeleng.

‘Tidak ada?’ tanya Michelle.

‘Kamu kembali dengan selamat saja aku sudah senang,’

‘Jangan ngamuk bila aku benar-benar tidak bawa oleh-oleh?’  pesan Michele sebelum pergi.

Kepergian Michelle ternyata berakibat juga pada diriku.  Aku benar-benar merasa kesepian.  Mau jalan-jalan malas karena tidak ada teman.  Mau mengurung diri di kamar juga tidak enak.  Akhirnya aku cuma duduk di pagar beton di depan kamarku sambil memandang laut dan melamun. Kalau sudah begini aku kembali teringat akan nasibku dan membuatku ingin menangis.  Maka pada hari ketiga kuputuskan diriku untuk berenang sendiri di pantai.

Pakaian renangku sudah siap kupakai, jadi nanti tinggal melepas pakaian luarku saja sebelum berenang.  Aku berjalan menyusur pantai mencari tempat yang agak lapang, tetapi rasanya semua tempat penuh dengan manusia. Aku berjalan terus dan berjalan hingga kudapatkan tempat yang benar-benar sepi.

Kuletakkan tas yang kubawa di pasir dan sebelum melepas pakaian aku berjalan dulu ke dalam air untuk melihat keadaan. Air laut itu begitu segar kontras dengan panasnya udara.

‘Hei, Miss!’  tiba-tiba kudengar sebuah panggilan.  Secara refleks aku menoleh.   Wow, seorang lifeguard.  Persis seperti yang digambarkan Michelle, tampan dan gagah.  Mau apa dia?

‘Memanggilku?’ tanyaku bodoh.

‘Ya.  Sudah berkali-kali kamu kupanggil,  bahkan aku sudah meniup peluit segala, tapi rupanya kamu tidak mendengar,’  jawab sang lifeguard sambil melepas kaca mata hitamnya.  Matanya benar-benar biru, sebiru laut Atlantik kala itu.

‘Memanggilku untuk apa?’  aku bertanya.  Dia mengembangkan sebuah senyum yang sangat menawan.  Pantas mereka begitu di puja-puja.  Gumam hatiku.

‘Kamu melihat buoys  itu?’ tanyanya sambil menunjuk bola-bola karet berwarna jingga yang mengapung di atas air.

‘Ya,’  jawabku bingung.

‘Itu adalah batas daerah yang boleh di gunakan untuk berenang.  Dari sini ke sana adalah daerah terlarang,’  dia menjelaskan dengan sabar. Ouch, alangkah tololnya aku. Mengapa aku tidak melihatnya tadi? Mengapa aku tidak curiga menjumpai daerah yang begini sepi sedang tak jauh dari sini berlimpah ruah manusianya?

Dengan cepat aku beranjak menuju ke tas yang tadi aku tinggalkan, memungutnya dan berlari menuju hotel, Lifeguard tadi masih berdiri di tempatnya ketika aku pergi. Aku begitu malu. Pasti dia menertawakanku dan akan diceritakannya kepada teman-teman sesama lifeguard tentang ketololan yang baru saja kubuat dan mereka akan tertawa bersama.

Sesampai di hotel aku segera mengunci diri di kamar, untung tidak lama kemudian Michelle menelponku sehingga aku bisa sedikit melupakan peristiwa tadi. Tentu saja peristiwa itu tidak kuceritakan kepada Michele.  Bila kuceritakan kepadanya, tentu dia akan tertawa terpingkal-pingkal.

Keesokan harinya aku masih tidak berani keluar, apalagi ke pantai. Lifeguard itu pasti berada di sana dan tentu teman-temannya pun begitu antusias untuk melihat si gadis tolol.  Maka sepanjang siang aku berada di kamar dan nonton drama serial di televisi.  Sesudah dua hari mengurung diri, akhirnya aku bosan juga, maka kulangkahkan kakiku untuk menuju ke pusat kota.  Berjalan-jalan di kompleks pertokoan membuatku teringat pada Irene.  Aku pernah berjalan-jalan di Louisville Mall bersama Irene dan membeli  ransel untuk Adit.

Tiba-tiba aku sadar kalau sudah lama aku tidak berkabar kepada Mama. Aku sadar bahwa aku seharusnya mengirim ransel untuk Adit dan dan sesuatu untuk Anto  dan Yani.  Aku sadar aku telah melalaikan kewajibanku.  Aku akan mekukan hal itu sekarang juga selagi aku masih ingat.

Dengan gaya seorang ahli seperti Irene, aku mulai berbelanja.  Pertama kali, kubeli ransel untuk Adit, karena ranselnya sudah kupakai kemudian sebuah iPod Nanountuk Anto dan Barbie untuk Yani. Sebelum semuanya itu kubungkus dengan rapi, kuselipkan selembar kertas yang kutulisi sedikit kabar tentang Mbak Lucy mereka (kabar bohong tentunya).  Tapi itu sudah cukup untuk mengabarkan bahwa aku masih hidup.

Masalah yang timbul selanjutnya adalah menentukan letak kantor pos. Aku benar-benar tidak tahu, maka aku berjalan tidak tentu arah dengan harapan dapat menemukan kantor pos itu. Tetapi setelah berputar-putar lama dan tanpa petunjuk bakal menemukan kantor pos itu, maka kuberanikan diriku untuk bertanya kepada seorang wanita tua yang sedang berhenti di tepi jalan.

‘Maaf, anak muda, aku sendiri sorang pelancong,’ jawabnya.  Aku hampir putus asa ketika tiba-tiba saja dia datang.  Dia, si lifeguard yang telah melarangku berenang tempo hari.  Sial, mengapa aku harus bertemu lagi dengannya?

‘Ada kesulitan?’ tegurnya ramah sambil tersenyum.

‘Tidak,’  jawabku cepat.

‘Dia ingin tahu letak kantor pos.  Bisakah kamu menolongnya?’  wanita tua itu berkata tanpa kuminta.  Aku kaget, tak menyangka dia akan berkata seperti itu. Si lifeguard sekarang tahu kalau aku telah membohonginya.  Tetapi dia justru  tersenyum lebar.

‘Mari kutunjukkan,’  katanya.

‘Engkau tidak harus mengantarku.  Cukup kau beritahu dimana,’ cegahku.

‘Aku tidak akan menawarkan diri kalau tidak kebetulan saja harus berjalan ke arah yang sama. Aku harus pergi ke rumah temanku dan melewati kantor pos,’ jawabnya.   Sesudah mengucapkan terima kasih kepada wanita tua itu, aku dan si lifeguard berjalan bersama menuju kantor pos. Selama perjalanan itu kami saling berdiam diri.

‘Itu kantor posnya,’ serunya dari seberang kantor pos, setelah kami berjalan bersama hampir selama sepuluh menit.

‘Terima kasih,’ ucapku dan berniat untuk meninggalkannya.

‘Sebentar,  kuantar kamu ke sana,” katanya menawarkan diri.  Aku tidak bisa menolaknya karena dia telah berjalan di sampingku menyeberangi jalan.

Ternyata bungkusan yang akan kukirim ke Indonesia di tolak karena bungkusnya kurang tebal.  Barang itu harus kumasukkan ke dalam karton tebal dan di beri celotape yang kuat. Aku bingung darimana bisa mendapatkan kotak tebal.

‘Kawanku memiliki toko kecil di depan sana, aku yakin dia punya kotak seperti yang kamu butuhkan,’  si lifeguard menyelami kebingunganku. Letak toko temannya satu blok dari kantor pos.  Sebuah toko kecil yang menjual barang-barang souvenir khas Florida.

Seorang gadis berambut keriting pirang sedang memeriksa perhiasan dagangannya ketika kami masuk. Dia tak menyadari kehadiran kami dan masih tetap menunduk. Si lifeguard menekan bel.  Bunyinya benar-benar nyaring. Si gadis kaget dan menoleh ke arah kami.

‘Mark!!’ teriaknya riang. ‘Angin apa yang telah membawamu kemari?’  tanyanya sambil mengawasi si lifeguard yang ternyata bernama Mark. Tiba-tiba dia tertegun waktu menatapku.

‘Dona, kenalkan temanku, Lucy.   Lucy . . . Donna.’ Mark memperkenalkan kami.  Sejenak aku terpana.  Dari mana dia bisa tahu namaku?  Dan dia memperkenalkan aku senbagai temannya?  Fuih sejak kapan pula itu?  Tetapi aku tidak bisa terlalu lama keheranan karena Donna sudah menyapaku.

‘Hai,’  balasku.

‘Ada sesuatu yang dapat kubantu, Mark?’  tanya Donna.

‘Ya. Lucy membutuhkan sebuah kotak untuk mengirim barang lewat pos.  Kamu mempunyainya kan?’

‘Kotak? Kotak macam ini?’  tanya Dona sambil memperlihatkan sebuah kotak berukuran sedang.

‘Ya,’ seruku gembira.

Donna memberikan kotak itu kepadaku dilengkapi pula dengan celotape.  Sementara aku sibuk dengan pekerjaanku, Dona dan Mark asyik mengobrol.  Aku tidak tahu apa yang mereka percakapkan.  Tetapi sebentar-sebentar kudengar derai tawa mereka.  Mudah-mudahan saja mereka tidak sedang mendiskusikan diriku.

Setelah selesai membungkus barang-barangku dan mencantumkan alamat, aku berpamitan kepada Donna dan Mark.  Namun Mark tidak mengijinkan aku pergi ke kantor pos sendiri, dia takut aku tersesat.  Maka kami berjalan beriringan lagi  menuju ke kantor pos.

‘Mark, bagaimana kamu bisa tahu kalau namaku Lucy?’ kutanya dia dalam perjalanan. Mark tersenyum misterius sambil menggoyang-goyangkan kotakku yang dibawanya.

‘Orang sepertimu sangat pantas untuk mempunyai nama Lucy.’

‘Enggak lucu.’

‘Tapi benar kan namamu memang Lucy?’ tanyanya.  Kudiamkan saja pertanyaan itu karena kami sudah masuk ke kantor pos.

‘Terima kasih atas bantuanmu, Mark,’  ucapku sekeluar dari kantor pos. Kemudian aku berjalan meninggalkannya. Baru saja aku berjalan tiga langkah, dia memanggilku.

‘Kamu mau kemana?’  tanyanya.

‘Pulang ke hotel,’

‘Kalau begitu kita dapat jalan bareng,” katanya sambil menyusulku.

‘Bukankah kamu harus pergi ke rumah temanmu?’ tanyaku heran.  Mark tersenyum seakan dia tahu kalau senyumannya sangat menawan.

‘Aku sudah pergi ke sana tadi. Ingat Dona?  Nah, dia itu temanku. Kita sudah pergi ke sana tadi,” jawab Mark seenaknya.  Kutatap dia penuh kedongkolan.  Aku tahu dia tadi sama sekali tidak berniat pergi ke toko Donna. Dia pergi ke sana karena aku butuh kotak.

‘Hei, jangan marah dulu. Kalau tadi kukatakan aku hanya ingin mengantarmu, tentu kamu tidak akan mau, benar kan?’

‘Benar,’  jawabku singkat.  Kudengar Mark tertawa ringan. Sebenarnya apa sih maunya pemuda ini?

‘Mengapa kamu begitu ketakutan bila melihatku, Lucy?’  tanya Mark setelah kami terdiam beberapa saat.  Aku kaget dan menatapnya lama.  Bertemu saja baru dua kali ini bagaimana mungkin dia tahu kalau aku takut terhadapnya.

‘Kamu pantas untuk dicurigai,’  jawabku ngawur.

‘Dicurigai untuk apa?’  tanyanya penasaran.

‘Dicurigai sebagai orang jahat.  Kalau kamu orang baik-baik kamu pasti ngaku dari mana bisa tahu namaku,’ serangku.

‘Jadi kamu masih penasaran?’  sahut Mark sambil tertawa.  ‘Aku pernah dengar kakakmu memanggilmu Lucy,’ akhirnya Mark mengaku. Walau pengakuannya justru makin membingungkanku.

‘Kakakku? Kakakku yang mana?’

‘Gadis pirang yang sering jalan-jalan bersamamu di pantai.’

‘Oh,Michelle maksudmu?  Dia bukan kakakku.’

‘Bukan kakakkmu?’

‘Bukan. Dia penghuni kamar sebelah.’

‘Tapi kalian berdua mirip dan sangat akrab,’  Mark tidak puas.

‘Dari mana kamu tahu kalau kami akrab?’

‘Aku sering melihat kalian berdua di pantai, di kota, di restoran Cina di depan Daytona Fashion Center,’ jawab Mark. Aku begitu terpana karena tempat-tempat yang baru saja disebutkannya memang tempat-tempat yang paling sering kukunjungi bersama Michele.

‘Bagaimana kamu bisa tahu? Aku belum pernah melihatmu disana?’  tanyaku keheranan.

‘Aku bisa tahu karena aku mengawasimu dan kamu tidak melihatku karena memang aku tidak ingin dilihat, jelas?’  tanyanya. Kutatap dia lama sebelum menjawab.

‘Kamu benar-benar pantas untuk dicurigai.  Untuk apa  kamu pakai mengawasi segala?’

‘Karena aku pengawas pantai,’ jawab Mark seenak perutnya. Aku benar-benar dongkol dan kupercepat langkahku untuk meninggalkannya. Mark juga mempercepat langkahnya hingga bisa mengiringi jalanku.

‘Marah?’ tanya Mark.

‘Ya,’

‘Oh, Lucy, aku tidak bermaksud buruk. Aku sendiri tidak sadar mengapa aku begitu suka memperhatikanmu. Mungkin karena . . .’ Mark tidak meneruskan kalimatnya.

‘Karena apa?’

‘Tidak. Kamu akan lebih marah bila kuteruskan.’

‘Teruskanlah.’

‘Oke, kamu yang meminta. Mungkin karena dorongan hati. Waktu aku melihatmu untuk yang pertama kali, hatiku membisikkan bahwa inilah gadis yang bakal menjadi istriku,’ jawab Mark kalem.  Aku kaget setengah mati.  Untung aku cepat teringat kata-kata Michelle sebelum keburu besar kepala, ‘Mereka jagoan merayu, Lucy,  tanpa kamu sadari kamu sudah masuk ke dalam perangkap mereka.” Maka aku cuma tersenyum saja mendengar kata-kata itu.

‘Kok tersenyum?’  tanya Mark. Aku cuma mengangkat bahu saja. Sesudah itu kami saling berdiam diri.

‘Untuk siapa barang-barangmu tadi? Sahabat pena?’  tanya Mark memecah kebisuan.

‘Untuk adik-adikku.’

‘Adik-adikmu? Mereka berada di Indonesia? Dengan siapa mereka pergi ke sana? Mengapa kamu tidak ikut?’ tanya Mark beruntun.

‘Mereka tidak pergi ke Indonesia. Mereka tinggal di sana sejak mereka dilahirkan.  Indonesia  rumah kami,” jawabku.  Aku senang bisa melihat wajah Mark yang kaget dan tidak percaya.

‘Jadi kamu orang Indonesia?’  tanyanya untuk meyakinkan.  Aku mengangguk pasti.  Mata Mark makin membelalak karena terkejut.

‘Dengan siapa kamu datang ke Florida?”

‘Sendiri,’ jawabku. Reaksi Mark benar-benar di luar dugaan. Dia begitu kaget hingga menghentikan langkahnya dan menatapku tidak berkedip.

‘Dengar, Lucy, jangan kau katakan kepada siapapun bahwa kamu berada di sini sendirian. Itu sangat berbahaya bagimu apalagi jika mereka tahu kamu orang asing.”

‘Mengapa?’

‘Mengapa? Karena kejahatan di musim panas seperti ini sangat meningkat, pencurian, perampokan, penodongan . . .”

‘Aku tak mempunyai barang-barang berharga,’potongku cepat.

‘Bagaimana dengan dirimu sendiri? Begitu banyak pemerkosaan yang terjadi setiap minggunya,’ sahut Mark. Aku terdiam mendengar kata-katanya. Apalagi kata-kata tersebut di ucapkan dengan serius seakan dia benar-benar ingin melindungiku.

‘Sorry, Lucy, aku tidak bermaksud menakut-nakutimu, hanya berhati-hatilah. Jangan katakan kepada siapapun bahwa kamu kemari tanpa pengawal.’

‘Aku telah mengatakannya kepadamu,’

‘Kamu dapat mempercayaiku. Aku seorang lifeguard, bertugas untuk menjaga keamanan pantai,’  jawab Mark.

‘Dan lagi, Lucy, bila berada di tempat umum jangan canggung dan takut-takut. Bersikaplah seolah-olah ada seorang yang siap untuk membelaimu,’ nasihat Mark dilanjutkan.

‘Apakah aku kelihatan canggung bila di depan umum?’ tanyaku.  Mark hanya tersenyum mendengar pertanyaanku.

Mark mengantarku hingga ke depan hotel. Sebelum berpisah dia berpesan.

‘Ingat untuk mengunci pintu setiap akan keluar dan begitu masuk kamar walaupun kamu hanya berniat untuk keluar atau masuk sebentar. Jangan langsung kau bukakan pintu bila ada yang mengetuk, lihat dulu orangnya,’

‘Akan kuingat itu,’jawabku sambil tersenyum. Kalau mendengar nada suaranya dia benar-benar serius menasehati. Tapi kalau mengingat reputasi para lifeguard aku menjadi ragu.

ribuanmi4

Aku sering melihat Mark berada di pantai, tetapi terlalu jauh untuk menegurnya, apalagi dia selalu dikerubungi gadis-gadis manis. Kadang kulihat pula seakan dia mau tersenyum kepadaku, tapi aku pura-pura tak melihatnya karena di sampingku ada Michelle. Aku takut Michelle akan mengira kalau aku sudah bermain-main denga lifeguard. Tapi hari itu aku tidak bisa lagi untuk pura-pura tidak melihatnya.

Hari itu tanggal 4 Juli.  Hari kemerdekaan Amerika Serikat.  Sejak hari sebelumnya persiapan-persiapan untuk menyambut hari kemerdekaan itu sudah kentara. Toko-toko kecil sudah menghias diri dengan rumbai-rumbai berwarna biru, merah, serta putih.  Warna bendera Amerika.

Jam lima sore aku dan Michelle sudah menunggu di pagar beton di depan kamar kami bersama dengan ratusan orang lainnya yang ingin menyaksikan karnaval. Semua manusia Daytona tumplek menjadi satu di sepanjang jalan pantai.

Jam setengah enam iring-iringan karnaval itu mulai tampak.  Begitu riuh, begitu gaduh tapi tidak menyebabkan orang jengkel. Barisan pertama adalah barisan Drum Band dari SMA Daytona dengan pakaian yang gemerlapan. Beberapa majoret menari dengan lincahnya di tengah jalan. Dan mereka melangkah dengan lembut ketika ‘Star Spangled Banner’  berkumandang.  Semua orang yang duduk di pinggi jalan berdiri menghormat. Telapak tangan kanan di letakkan di dada.

Drum Band berlalu, disusul dengan sebuah truck berhias dari walikota dan staffnya, diikuti oleh departemen pemadam kebakaran. Kemudian mobil-mobil berhias dari lembaga-lembaga, yayasan-yayasan dan klub-klub lainnya. Barisan itu sangat panjangnya seakan tak akan pernah berakhir. Malam telah turun tapi tak seorangpun ingat akan makan malam yang telah dijadwalkan jamnya.

Tiba-tiba terdengar teriakan dan jeritan-jeritan histeris yang mayoritas berasal dari para gadis remaja. Ternyata mereka meneriaki sebuah truck yang akan lewat yang berisi rombongan Lifeguard.

Aku menahan nafas melihat mereka.  Semuanya gagah dan tampan dalam pakaian kebesaran mereka yang lengkap minus kacamata hitam. Mereka melambai pada gadis-gadis yang mereka lalui dan dibalas dengan teriakan-teriakan histeris.  Betapa hebat daya pikat mereka.

‘Lucy, lihatlah bajingan-bajingan itu,’ bisik Michele di telingaku.  Aku tertawa mendengar komentarnya sebab ada nada kekaguman di dalamnya. Setelah mereka agak dekat, aku melihat Mark ada di antara mereka.  Dia tersenyum dan melambaikan tangannya kearahku.  Aku tidak berani membalas lambaian tangan itu dan pura-pura tak melihatnya. Tapi malangnya rombongan itu berhenti di depan kami agak lama. Aku tidak bisa berpura-pura lagi, kubalas senyumannya.

‘Rupanya si kecil Lucy sudah mulai main-main dengan Lifeguard,’  kata Michelle pelan.  Aku kaget setengah mati.

‘Siapa?’tanyaku pura-pura tidak tahu.

‘Kamu.’

‘Aku?’  tanyaku berusaha mengelak. Michelle tertawa senang.

‘Pura-pura, hmm?’

‘Mengapa harus pura-pura? Dia tidak melambai padaku tapi  padamu,’ucapku. Tawa Michele makin menjadi tapi dia tidak menambah komentar apa-apa. Rombongan demi rombongan berlalu. Kemudian mobil-mobil pribadi berhias membuntuti di belakangnya. Hiasan mobil-mobil itu lucu-lucu, hingga segan rasanya untuk meninggalkan tempat.

‘Michele! Lucy!’  tiba-tiba terdengar panggilan untuk kami. Dan diantara mobil-mobil berhias itu tampak Les, waiter kami dan Ken, temannya yang juga waiter.

‘Ayo ikut!’ teriak les. Aku ragu tapi Michelle segera meloncat turun dan menarikku untuk mengikutinya. Tanpa kusadari aku telah berada di dalam mobil Les dan mengikuti rombongan karnaval.

‘Mau kemana kita?’  tanyaku sesudah agak sadar.

‘Putar-putar,’ jawab Les enak.  Rombongan karnaval itu ternyata berputar-putar mengelilingi setiap jalanan yang ada di Daytona kemudian kembali lagi ke pantai, dan di sana diadakan pesta kembang api dan petasan yang sangat megah.  Pesta itu berlangsung hingga pagi hari.

ribuanmi4

Ombak yang berdebur pagi ini lain dari biasanya.  Lebih keras dan lebih gemuruh.  Biasanya laut di pagi hari sangat tenang, nyaris tanpa suara.  Tapi kali ini mampu membangunkanku dari tidur yang lelap.

Dari jendela kamarku aku dapat melihat air laut yang menggelora. Air laut itu hampir mencapai jalan raya. Sebentar lagi pasti akan sampai ke pagar di depan kamarku. Awan tebal menggelantung berat di atas laut. Burung-burung camar terbang hiruk pikuk kebingungan. Kantukku begitu saja hilang melihat semuanya. Dengan cepat aku keluar kamar. Michelle ternyata sudah bangun. Dia berdiri termangu. Tangannya ditompangkan di pagar beton dan menatap ombak laut.

‘Chelle,’  panggilku. Dia menoleh dan mengisyaratkan agar aku mendekat.  Kudekati dia.

‘Ada anak tenggelam,’  bisiknya.

‘Apa?’

‘Ada anak tenggelam. Di sana!’ tunjuk Michelle ke satu arah. Di tempat yang ditunjuk kulihat ada kerumunan orang yang cukup banyak. Semuanya kelihatan panik dan memandang ke tengah laut.

‘Tidak ada yang memberi pertolongan?’ tanyaku.

‘Ada seorang Lifeguard yang masuk kedalam air tapi sampai kini belum muncul lagi.’

‘Hanya seorang?’

‘Yang lainnya masih tidur kukira. Mereka berpesta sampai pagi dan pasti mabuk-mabukkan,’ jawab Michele. Kemudian dia mengajakku untuk mendekati kerumunan tersebut.

Seorang wanita muda meratap, tentu dia ibu dari si anak yang dibawa ombak.  Beberapa orang berusaha menghiburnya, yang lainnya berharap cemas, menanti munculnya si lifeguard dan anak yang ingin di tolongnya. Hujan mulai turun dan angin berhembus dengan kencangnya. Tak seorang pun yang berniat untuk beranjak dari situ. Tidak juga Michele dan tidak pula aku. Semua ingin tahu nasib si anak dan nasib si lifeguard.

Tiba-tiba nampak sebuah kepala yang menyembul di tengah-tengah ombak.  Beberapa saat kemudian nampak sosok tubuhnya dan lebih kemudian lagi nampak tubuh bocah yang terdekap erat oleh tubuh yang lebih besar.

‘Anakku, . . . anakku,’ jerit si wanita yang tadi menangis sambil berusaha untuk berlari ke laut tapi di cegah oleh orang-orang yang mengelilinginya. Lifeguard yang masuk ke dalam laut tadi berenang mendekati pantai, melawan ombak besar yang berusaha mengembalikan dirinya ke tengah lagi. Tentu sangat sukar baginya untuk mempertahankan diri dengan seorang bocah dalam pelukannya.  Begitu tiba di tempat yang dangkal dia menghentikan renangnya.

‘Mark!’ seruku tidak sadar ketika melihat siapa yang muncul. Dia begitu gagah dalam pakaian renangnya tapi tampak sangat kelelahan. Seorang bocah yang tidak bisa di sebut kecil lagi berada dalam dukungannya. Begitu sampai di pantai dia segera berlari menuju pos PPPK tanpa mempedulikan orang-orang yang berkerumun menantinya.  Orang-orang tersebut kemudian mengikutinya menuju ke pos PPPK.  Sementara itu aku dan Michele dengan pakaian yang sudah basah kuyup berjalan pulang.

Siang harinya cuaca berubah seratus delapan puluh derajat. Langit begitu jernih tanpa secuil awan pun dan laut begitu tenang. Tak ada sisa badai dan pantai kembali dipenuhi oleh manusia.  Michelle menggerutu karena harus pergi ke rumah mode sedang hari sangat indah untuk dinikmati.

Walaupun hari sangat indah tetapi aku benar-benar ngantuk, maka siang itu kugunakan untuk tidur.  Bangun-bangun sudah jam setengah lima. Kemudian aku berjalan-jalan di sepanjang pantai. Setelah lelah berjalan aku duduk di pasir. Pantai sudah agak sepi sehingga bisa melihat tenangnya laut tanpa terhalang oleh punggung atau paha orang di depanku. Kutekuk lututku dan kudekatkan ke dada, dan menikmati angin sore yang berhembus sejuk.

Keadaan sekelilingku membuatku merenungi hidup. Tiba-tiba segumpal kerinduan terhadap ibu dan adik-adikku memenuhi dada membuatku ingin menjerit dan menangis meraung-raung.  Aku tidak menyukai kehidupan yang kutempuh saat ini. Aku benci, benci.  Aku merindukan sebuah keluarga normal. Tetapi tidak ada sebuah keluarga pun yang mau menerimaku. Keluarga Oom No? Itu bukan untukku, aku bukan keturunan Oom No. Keluarga Papa? Apalagi, papa terang-terangan telah mengusirku. Sebenarnya aku ini milik siapa? Aku ingin dimiliki dan memiliki. Ingin sekali, Tuhan tahu itu.

Tiba-tiba sepasang kaki berhenti di depanku. Kutegadahkan wajahku. Mark berdiri di sana tampak begitu tinggi.

‘Boleh aku duduk di sini?’ tanyanya.  Belum lagi sempat kujawab dia sudah menjatuhkan diri di sampingku.

‘Apa yang kamu lamunkan, Lucy?’  tanya Mark sesudah agak lama dia duduk dan kami belum membuka percakapan.

‘Tidak ada,’ jawabku bohong.  ‘Aku sedang menikmati pemandangan di depanku’

‘Dan pikiranmu dimana?’

‘Di sini,’ kataku sambil menunjuk dahi.  Mark tertawa ringan.  Alangkah senangnya aku mendengar tawa itu.  Penampilan Mark kali ini benar-benar berbeda dengan penampilannya pagi tadi.  Tadi pagi dia tampak sangat kelelahan, sedang kali ini dia seakan siap untuk berlari mengelilingi dunia.  Segar bugar.

‘Bagaimana kabar anak yang kamu tolong pagi tadi?’  tanyaku.

‘Sedikit shock.  tapi selebihnya tidak ada masalah,” jawab Mark. “Hei, dari mana kamu tahu tentang anak yang tenggelam?’  lanjut Mark keheranan.

‘Aku melihatmu,’

‘Kamu?’  tanya Mark tidak percaya.  ‘Pagi-pagi sudah bangun dan berhujan-hujan?’

‘Setiap hari aku bangun pagi,’ bantahku.

”Tapi tidak untuk hari ini.  Semalam kulihat kamu berada di pantai hingga larut,’  ucap Mark mengejutkanku.

‘Kamu melihatku?’

‘Ya.  Dengan Michelle dan dua orang pemuda,’ sahut Mark dengan nada aneh yang tidak bisa kumengerti.

‘Aku tidak melihatmu.’

‘Tentu saja tidak, kalian begitu asyik,’ olok Mark sambil tersenyum mengajuk.  Aku tertawa dan tidak memberi ulasan atas pendapatnya.

‘Mengapa dia bisa tenggelam, Mark?’  aku kembali ke masalah semula.

‘Ibunya yang cari penyakit. Sudah tahu langit begitu gelap dan ombak sangat besar, masih juga dia mengajak anaknya untuk berenang. Begitu tahu kalau anaknya menghilang baru dia teriak-teriak  meminta tolong,’  jawab Mark jengkel.

‘Tentu kamu sedang enak-enak tidur,’ tebakku.

Nope. Aku tidak bisa tidur semalam. Aku sedang jalan-jalan ketika kudengar teriakannya,’ sanggah Mark. ‘Kamu tahu mengapa aku tidak bisa tidur? Memikirkanmu, Lucy. Mengapa kamu bisa seakrab itu dengan pemuda-pemuda yang bersamamu semalam sedang denganku kamu selalu menghindar,’ lanjut Mark seenaknya.  Aku tahu dia cuma bergurau maka aku tertawa saja mendengarnya.

‘Sekarang aku bersamamu,’ sahutku masih dengan tawa. Mark juga tertawa. Seorang lifeguard lain lewat di depan kami dengan seorang gadis di lengannya. Dia menyapa Mark. Pasti gadis itu baru saja di kenalnya, pikirku.

‘Lucy, . . ‘ panggil Mark.  Aku sadar bahwa aku telah mengawasi Life Guard yang baru saja lewat dengan mata tidak berkedip.

‘Ya?’ tanyaku.

‘Mengapa kamu  memilih berlibur ke sini bukankah pantai-pantai di Indonesia sangat eksotik?’

‘Mencari sesuatu yang lain,’ bohongku. Mark kelihatannya merenung, aku ragu apakah dia mendengar perkataanku atau tidak.

‘Kalau kamu mencari sesuatu yang lain, mengapa tidak pergi ke Alaska? Di sana kamu akan melihat salju yang aku yakin tak akan kamu jumpai di negerimu.

‘Sebab, . . .’  dan aku tak bisa meneruskan.

‘Apakah Daytona terkenal di Indonesia?’ Mark melepaskanku dari kewajiban untuk menjawab pertanyaannya yang lebih dulu. Aku menggeleng-geleng beberapa kali.

‘Aku belum pernah mendengar nama pantai ini sebelumnya. Aku baru mendengarnya dalam perjalananku ke Jacksonville,’ jawabku. Tanpa kusadari aku telah membongkar rahasiaku sendiri.

‘Jadi kamu berniat ke Jacksonville dan menyimpang kemari?’

‘Tidak juga,’

‘Lalu?’

‘Aku tidak mempunyai tujuan yang pasti,’ jawabku. Aku tahu Mark merasa aneh mendengar jawabanku

to be continued ….

Corcovado in Rio de Janeiro

Rio de Janeiro Collage

In October 2000, during one of my business trips, I had the chance to visit the site of statue of  Christo Redentor (Chist the Redeemer) atop of Corcovado, just outside the city of Rio de Janeiro.

The Blue Mosque

Blue Mosque

Located in the Old City of Istanbul, Sultan Ahmet  Mosque, known as the Blue Mosque was constructed by the 14th Ottoman ruler, Sultan Ahmet I.  The construction of the mosque was started in 1609 by architect Mehmet Agha and completed in 1616.  This mosque is the  most splendid mosque in Istanbul, and the only one with 6 minarets in the city and in the country.  Unfortunately only 4 minarets was captured in the above photograph.

And here is the one with the complete 6 minarets ...

Blue Mosque 3

Blue Mosque 2

Blue Mosque

Blue Mosque 3

Blue Mosque 2

Turkey 4

Date of visit:      22 November 2012

Gateway Arch

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

The Gateway Arch,  is the landmark of St. Louis, Missouri.  With a height of 192 meters, this modern architectural structure  is the tallest monument in the United States.

Gatewat Arch collage

This monument is the most important part of the Jefferson Expansion Memorial Park, built to commemorate the westward expansion of the United States

OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA

Right behind this Monument runs the famous Mississippi River.  At the river bank, there is a statue of Mark Twain.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA