Blog Archives

Goodwood Park : Hotel Cantik Kaya Sejarah

Sudah belasan kali aku melewati hotel ini dan mengagumi bangunannya dari luar, namun tidak pernah berkesempatan untuk tinggal.  Pernah sekali, 4 tahun yang lalu diundang makan siang disana.  Tapi ya itu tadi, cuma sebatas makan siang.  Tidak benar-benar menikmatinya.  Akhirnya kesempatannya muncul juga.  Suami ikut seminar yang diadakan di Goodwood Park Hotel.  Mana boleh kesempatan langka ini disia-siakan.  Ternyata sejarah hotel ini tidak kalah menariknya dari bangunan fisiknya.

Sejarah hotel ini dimulai pada tahun 1900 dengan  didirikannya Teutonia Club, Klub elit untuk warga Jerman yang bermukim di Singapura.

Pada tahun 1918, tiga kakak beradik Yahudi dari keluarga Manasseh membeli properti ini dan merubah namanya menjadi Goodwood Hall.  Pada tahun 1922, Goodwood Hall didaftarkan sebagai restaurant dan tempat hiburan.  Salah satu pertunjukan yang dibanggakan pada tahun-tahun itu adalah pertunjukan salah satu balerina dunia yang tersohor yakni Anna Pavlova.  Baru pada tahun 1929 Goodwood Hall dirubah menjadi Goodwood Park Hotel.

Pada masa Perang Dunia II,  selama pendudukan Jepang di Singapura, Goodwood Park Hotel dirubah menjadi tempat tinggal bagi serdadu Jepang yang berpangkat tinggi.  Setelah perang berakhir, bangunan ini difungsikan oleh Inggris sebagai Pengadilan Kejahatan Perang sebelum dikembalikan kepada Vivian Bath, ahli waris Manasseh pada tahun 1947.

Pada tahun 1963, Goodwood Park Hotel dibeli oleh Group Bank dari Malaysia dan pada tahun 1968 berpindah tangan lagi menjadi milik Tan Sri Khoo Teck Puat,  mantan Managing Director dari bank tersebut.  Sejak dipegang oleh Mrs. Mavis Oei, anak perempuan  almarhun Tan Sri Khoo Teck Puat yang  saat ini juga merupakan chairman dari hotel tersebut Goodwood Park Hotel telah mengalami panyak sekali renovasi dan perkembangan yang pesat.

Pada bulan September tahun lalu, bangunan hotel ini merayakan ulang tahunnya yang ke 110.

Address:

22 Scotts Road
Singapore 228221.

Tel: +65 6737 7411
Fax: +65 6732 8558

Room Rate:

S$.  300,-   –  S$ 700

Dates of  Stay

June 15 – 18, 2011

Room Number:  132

Separate living room

Direct access to the Main Pool

High ceiling and fan

daily complimentary fruit and chinese tea

Kembang Goela: The Isles of Colourful Spice

Soup Buntut Bakar

Categories:

Indonesian Fine Dining

Address:

Plaza Central Parking Lot

Jl. Jend. Sudirman Kav 47-48

Jakarta 12930

Indonesia

Telp: +62 21 520 5651

Opening Hours:

11:00 am  –  11:00 pm

Ambience:

Javanese-Colonial

Attire:

Formal

Price Range:

Rp  50.000 – Rp 100.000,- (USD 6 – 12) per person

Dates of   Visit:

June12, 2011,  dinner with Alfred, Junior, Ina Noe, Yosina HH, Lexi, Bella, Afnan, Neneng  and Aileen

Our Orders and the Prices:

Sosis 1 meter - Rp. 85.000,-

Iga Bakar Cabai Hijau   (Rp 95.000,-)
Nasi Bakar Cakalang   (Rp.  65.000,-)

Risjt Koening - Rp 65.000,-

Soup Buntut Bakar   (Rp.  87.500)

Oedang Kapitan Jongker   (Rp.  135.000,-)

Oseng Kecipir   (Rp.   40.000,-)

Nasi Langgi Lima Serangkai - Rp 60.000,-

Coffee    (Rp. 25.000,-)

Tea   (Rp.  25.000,-)

Rujak Iris - Rp. 25.000,-

Home Made Ice Cream  (Rp. 25.000,-)
Brownies Marble   (Rp.  45.000,-)

De Javanese Tape - Rp. 22.000,-

Snoqualmie Falls, Washington

Snoqualmie Falls

Sebenarnya lokasinya tidak jauh – hanya sekitar 45 menit – dari Seattle,  namun setelah tinggal lebih dari satu tahun di kawasan Seattle, kami baru mengunjungi tempat ini untuk pertama kalinya.  Tepatnya pada tanggal 4 April 2009.  Padahal  Snoqualmie Falls ini adalah salah satu atraksi wisata Washington yang paling terkenal.  Lebih dari satu setengah juta orang mengunjungi tempat ini setiap tahunnya.

The Falls from Snoqualmie Falls Park Viewing Point

Pemandangannya pun begitu indah dan spektakuler. Air terjun Snoqualmie atau Snoqualmie Falls ini meluncurkan airnya dari tebing granit setinggi  268 ft atau sekitar 82 meter.  Terletak di antara kota Snoqualmie dan Falls City di Negara Bagian Washington.

Pada kunjungan pertama kami, taman bagian bawah sedang ditutup untuk publik.  Jadi kami hanya bisa menikmati keindahan air terjun ini dari viewing gallery di Snoqualmie Falls Park bagian atas.   Merasa tidak puas dua setengah bulan kemudian, kami melakukan kunjungan kedua ke Snoqualmie Falls.  Kunjungan kedua ini pesertanya lumayan banyak.  Ada keluarga Soehedi yang terdiri dari mas Agung, Yani dan ketiga anak mereka; Sasha, Adi  dan Noval yang sudah tinggal di Amerika selama 10 tahun.  Ada juga adik saya, Meina dan anaknya Widya yang sedang liburan ke Seattle.  Ternyata …… Yani yang sudah tinggal 10 tahun di Seattle dan anak-anaknya belum pernah mengunjungi tempat ini.  Jadi bisa dibayangkan betapa hebohnya mereka.

Selain mengunjungi air terjun, Downtown Snoqualmie juga menarik untuk dikunjungi.  Sekedar untuk  jalan-jalan, ngopi atau makan siang.

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Ketiga)

Ribuan Mil Dari Mama Bagian 3

Kuhitung kancing bajuku; pulang, . . . tidak, . . . pulang, . . . tidak, . . . pulang tidak. Tidak pulang! Ya.  Seharusnya aku tidak pulang. Pulang berarti permusuhan kembali dengan ibu Oom No dan itu akan membuat Mama berduka.

Lama aku merenung mencari jalan keluar.   Aku harus pergi dari tempat ini tetapi aku tidak boleh pulang. Aku harus bisa meyakinkan Mama bahwa aku masih tetap tinggal bersam Papa. Bagaimana caranya? Kupandang pucuk-pucuk pinus untuk mencari jawab. Tidak kudapat. Sebagai gantinya kulihat tupai-tupai yang berloncat-loncatan dari dahan yang satu ke dahan yang lainnya dan tiba-tiba ide itu datang. Aku harus pergi dari sini tetapi aku akan tetap tinggal di Amerika.

Kucoba untuk menekan sakit hatiku dan memikirkan apa yang harus kulakukan kemudian.  Besok pagi aku harus sudah pergi ke kota lain. Kupilih New York sebagai tempat pelarianku.

‘Tidak, itu telalu jauh dan penuh risiko,’ bantahku sendiri.   ‘Colombus lebih dekat dan tidak terlampau bising,’ aku memutuskan.   Di sana aku akan mencoba mencari pekerjaan dan melupakan bahwa aku pernah mempunyai ayah dan saudara kembar.

Sesudah itu hatiku menjadi lebih tenang. Tak ada masalah! Akan kubuktikan kepada David bahwa aku bisa berdiri sendiri dan tidak tergantung kepada ‘ayahnya’.   Kemudian aku bangkit dari tempatku. Aku harus segera pulang.

‘Denver, pulanglah dulu, aku akan jalan kaki,’ kubisikkan kata-kata itu di dekat telinga Denver. Denver tidak bergeming.

‘Dengar, besok aku sudah tidak ada di sini lagi.   Aku ingin berjalan melintasi padang rumput ini untuk terakhir kalinya.  Kamu mengerti, bukan?  Nah, pulanglah!’ Denver masih tetap tidak bergerak.  Telinganya terangkat ke atas seakan mencoba untuk menyelami arti kata-kataku.

‘Pulanglah, Denver,’  kataku mulai tak sabar sambil kutepuk paha Denver.  Denver memandang padaku, tetap tak bergerak.

‘Denver, go home!’ jeritku.  Denver mengerti kemudian mulai melangkah pelan-pelan.   ‘Run!’ teriakku nyaring.  Dia menurut dan berlari tapi sejenak kemudian dia berhenti lagi dan menoleh. Kuisyaratkan dengan tangan agar dia tetap berlari.  Denver berlari kencang tapi berkali-kali dia menolehkan kepalanya.  Mungkin dia heran atas sikapku yang lain dari biasanya. Biasanya aku dan dia selalu pergi dan pulang bersama.

Ketika Denver sudah tidak nampak lagi, aku mulai melangkah pelan-pelan seperti prajurit yang kalah perang.   Ya, aku telah kalah.  Harapan inilah yang kubawa dari Indonesia telah hancur berkeping-keping. Kentucky bukan untukku. Tanah dan padang rumput yang kuinjak ini bukan punyaku.  Mister Stanton bukan ayahku.  Dia ayah David.  Tak ada lagi kekagumanku padanya.  Kekaguman yang pernah singgah sejenak di hatiku.

Tiba-tiba aku melihat kuda yang datang dari arah yang berlawanan. David?  Bukan!  Kuda itu bukan kuda yang di tunggangi David tadi. Tetapi kuda itu adalah Blue Berry.  Beberapa saat kemudian aku melihat pengendaranya, Irene. Mau apa dia?

‘Lucy, apa yang terjadi denganmu?  Aku melihat Denver pulang sendiri,’ tanya Irene sambil menghentikan Blue Berry di sampingku.  Alangkah penuh perhatiannya dia, pikirku.

‘Tidak apa-apa, Irene.   Aku ingin jalan kaki saja.’

‘Oh, . . .’  Irene bernafas lega,   ‘kusangka kamu mendapat kecelakaan.  Oscar dan Georgie belum pulang. Terpaksa kuberanikan diri untuk naik kuda.’

 ‘Terima kasih, Irene,’  bisikku.

‘Untuk apa?’

 ‘Untuk perhatianmu,’ jawabku sambil berusaha untuk  tersenyum.  ‘Sekarang kamu boleh pulang.  Kau lihat aku tidak apa-apa.’

‘Kamu  benar-benar berniat untuk jalan kaki? Terlalu jauh, Lucy.’

‘Tidak  apa-apa,’ jawabku.  Irene mengangguk kemudian memacu Blue Berry pulang tanpa  bertanya-tanya lagi.

Λ

Aku sedang mengepak barang-barangku ketika kudengar suara ban yang berdenyit kencang karena direm dengan mendadak.   David telah pulang.   Ingin benar aku keluar dan bertanya tentang keadaan Papa – Dari Clemmie aku mengetahui bahwa David terbang ke Colombus untuk menjenguk Papa –  tetapi otakku melarang tubuhku untuk bergerak.  Kalau memang ada sesuatu yang harus kuketahui tentu dia akan datang memberitahuku.

Sejenak kemudian kudengar langkah-langkah kaki David menaiki anak tangga.  Lewat di depan kamarku.  Berhenti di sana lama.  Aku tegang.  David tidak mengetuk pintu, dia kemudian berlalu.  Kudengar suara pintu yang terbuka dan di tutup kembali, berarti David sudah masuk ke dalam kamarnya sendiri.  Keadaan Papa tidak mengkhawatirkan, kesimpulanku, dan kuteruskan pekerjaanku lagi.

Semua barang-barangku sudah siap ketika ketukan pintu itu terdengar.  Mula-mula lirih kemudian makin keras. Kutenangkan hatiku sebelum membuka pintu.  David berdiri di depanku.

‘Boleh aku masuk?’ tanyanya pelan.  Kuperlebar pintu yang kubuka tanpa menjawab.  David masuk dengan canggung. Dia tampak heran melihat kedua koperku yang terbuka dengan isi yang sudah rapi, namun tidak berkomentar.  Kubiarkan dia dalam keheranannya.  Sesudah David duduk barulah aku melihat David membawa sebuah tas kecil.

‘Aku baru saja melihat Papa,’ dia membuka percakapan.   Aku diam saja tak memberi tanggapan.  ‘Papa memberikan ini untukmu,’ lanjut David sambil membuka tas yang di bawanya.  Nampak beberapa bundelan uang ratusan dollar.   Semuanya masih baru dan berbau bank.

‘Untuk apa?’ tanyaku parau penuh kecurigaan.

‘Untuk hidupmu yang akan datang.  Papa memutuskan untuk menafkahimu hingga kamu bisa berdiri sendiri.  Uang ini cukup untuk kau gunakan selama lima belas tahun bila kamu bisa sedikit berhemat,’  ucap David lancar.   ‘Sesudah itu . . .’

‘Kamu bohong,’ potongku geram.

‘Aku tidak bohong,’ bantah David sambil menahan agar suaranya tidak meninggi.  ‘Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak ini?  Papa mengakui bahwa kedatanganmu telah menggoncangkan jiwa Papa,’ lanjut David begitu kejamnya.

‘Dan Papa menginginkan agar aku segera angkat kaki?’

‘Ya.  Besok sore Batista bersaudara akan mengantarmu sampai New York dan dari sana kamu ter . . .’

‘Tidak perlu!’ bantahku sakit hati.  ‘Aku sudah siap untuk pergi sendiri tanpa perlu kau usir.’

‘Jangan konyol.  Papa menyuruh aku untuk menemanimu hingga New York,’  kata David.  Berarti ini bukan main-main.  Papa memang tak menginginkan kehadiranku di sini.  Aku benar-benar sakit hati.  Ayah kandungku tak menginginkan aku.  Apa artinya uang? Aku tak membutuhkan uangnya.  Dan apa pula arti dari kebahagiaan yang diperlihatkan Papa ketika menyambut kedatanganku?  Apakah itu semua hanya sebuah sandiwara? Berpacu di atas pelana dan obrolan-obrolan sesuai makan malam, tidak ada artinyakah itu?

‘Kamu dan ayahmu benar-benar manusia tanpa hati. Binatang!’ desisku.   David tak mengubris omonganku.  Dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.

‘Bawalah uangmu.  Aku tidak membutuhkannya,’ teriakku.

‘Itu uangmu, Lucy.  Kamu berhak untuk menggunakan sesuka hatimu.  Mau kau bakar pun boleh,’ toleh David.  Kudekati dia dan . . . Plaar!  Tanganku melayang di pipinya. David menatap nanar padaku.

‘Lucy, aku kasihan padamu.  Ibumu telah kawin lagi dan mau enaknya sendiri dengan menyuruh kamu datang kemari.’

 ‘Tutup mulutmu!’

‘Ibumu benar-benar licik.  Dia tahu Papa akan segera membuat surat wasiat.  Dengan hadirnya kamu di sini, ibumu mengira kamu akan mendapat bagian,’ oceh David tak mengacuhkan laranganku.

 ‘Itu hanya pikiran kotormu.’

 ‘Tapi Papa segera menyadari.  Kamu jangan berharap lagi.  Bagianmu hanyalah yang ada di dalam tas itu.  Kamu tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi dengan kami.’ tutup David dan bergegas meninggalkanku.

Sesudah David berlalu, aku berdiam tidak begeming.  Mematung dan tidak bisa melakukan  apa-apa.   Bahkan untuk menangispun aku tak mampu.  Tuduhan yang mereka lontarkan kepada Mama benar-benar tidak manusiawi. Dan ironinya tuduhan itu yang melancarkan anak kandung Mama sendiri.

Kubuka jendela kamarku.  Malam benar-benar pekat.  Tak ada sebuah bintang pun yang bersinar.  Mendung yang menggelantung di langit menggambarkan kesedihanku.  Dimana Oscar? Dimana Irene? Mengapa mereka tidak memainkan biolanya?  Mengapa tidak kudengar Il Silenzio mereka?

Uang yang di berikan Papa terlampau banyak.  Hampir saja semuanya kubakar tapi untung otak warasku masih bekerja.  Begitu banyak hal-hal yang dapat kulakukan dengan uang sebanyak itu. Papa telah melicinkan jalanku.  Kubongkar kembali koperku.  Kupilih pakaian-pakaian santaiku dan kumasukkan ke dalam ransel yang kubeli bersama Irene tempo hari yang sedianya kukirim untuk Adit tapi belum jadi.  Tas kecil dari David kuselipkan di antara baju-baju itu setelah terlebih dahulu kuambil beberapa lembar dan kumasukkan kedalam tas tanganku.   Rencanaku sudah matang.   Stanton boleh membenciku tetapi tidak boleh mengatur jalan hidupku.  Aku mempunyai kehidupan sendiri yang harus kujalani sendiri pula.

Semalaman  aku tak berhasil memejamkan mata. Terlampau tegang dan kuatir jika rencanaku  gagal.  Begitu langit di sebelah timur bersemu merah aku segera mandi dan ganti  pakaian.  Kuperiksa sekali lagi ranselku.  Aku harus cepat atau David akan segera  terbangun dan menggagalkan rencanaku.

‘Missy,  mau kemana?’ tegur Clemmie di lantai bawah ketika melihatku sudah siap.

‘Dimana  Georgie?’ bissikku.

‘Di  garasi,’ jawab Clemmie ikut berbisik.

‘Aku  akan ke Colombus menjenguk Papa,’ bohongku.  ‘Aku membutuhkan Georgie untuk mengantarku ke airport,’

‘Kenapa  tidak bilang dari kemarin hingga saya bisa menyiapkan sarapan untukmu.’

 ‘David  baru memberitahu tadi malam dan sudah terlalu larut untuk membicarakan  denganmu,’ jawabku setengah betul.   ‘Clemmie, aku harus segera pergi,’ lanjutku  memutuskan pembicaraan. Clemmie nampak agak bingung. Kubiarkan saja dan aku  berlari menuju ke garasi. Kujumpai Georgie di sana sedang membersihkan mobil.

‘Georgie,  maukah kamu mengantarku ke airport?’ tanyaku.

 ‘Airport?’

 ‘Ya.  Aku harus terbang ke Colombus,’ jawabku.  Georgie tidak bertanya untuk apa aku  ke Colombus jadi aku tidak harus membohonginya.  Dia tentu mengira aku akan  menjenguk Papa.

Λ

Selamat  tinggal, Stanton.   Selamat tinggal semua dan selamat tinggal padang rumput,  bisik hatiku ketika aku dan Georgie sudah berada di tengah-tengah padang rumput  dan mulai menjauhi rumah.   Untung  hari masih terlalu pagi sehingga lalu lintas tidak begitu penuh dan Georgie  dapat mengendarai mobilnya dengan bebas.  Louisville masih tidur berselimut  kabut pagi.

‘Terima  kasih, Georgie,’ ucapku sambil meloncat turun dari mobil begitu sampai di  airport.  Georgie tampak sedikit heran.  Dia berniat untuk mengantarku masuk  tetapi segera kucegah.  Kalau dia sampai masuk dia akan tahu kalau aku telah  membohonginya.

‘Sampai  di sini saja, Georgie, biarkan aku masuk sendiri.’

‘Tapi  . . .’

‘Tidak  apa-apa.  Lihat aku tidak membawa barang berat jadi aku bisa membawanya sendiri,’  dustaku. Georgie bimbang.  Dia pasti curiga sekarang.

‘Dengar,  Georgie, kalau aku diantar masuk, rasanya aku akan pergi lama.  Aku benci  perpisahan,’ sambungku meyakinkan.  Georgie tersenyum.

‘Paling  tidak ijinkan aku mengantarmu hingga kamu bertemu dengan Batista. Sesudah itu  aku akan pergi.’

‘Georgie  . . .’

‘Oke,  kalau itu maumu,’ sambung Georgie kecewa.

‘Terima  kasih, Georgie.  Sampai jumpa nanti malam,’  kataku untuk membunuh kecurigaannya.   Georgie mengangguk dan menjalankan mobilnya.  Begitu dia tak nampak lagi, aku  segera masuk ke airport. Untuk pertama kalinya aku merasa terbebas dari tekanan  yang menghimpit batinku.  Kini aku bebas untuk menjalani kehidupanku.  Bebas  menentukan apa yang akan kujalani.  Tak seorang pun yang akan merintangi jalanku.   Tidak ibu Oom No, tidak Papa, tidak pula David. Aku adalah Lusi, bukan Lucinda  Stanton lagi.

Begitu  masuk ke airport segera kulihat jadwal penerbangan yang tergantung di atas meja  informasi.  Paling atas adalah flight nomor 304 dari pesawat United yang akan  menuju ke Jacksonville, Florida. Kuteliti penerbangan yang ke Colombus, tidak  ada!  Aku mulai panik.  Kalau Georgie sampai di rumah, David akan segera tahu  kalau aku telah melarikan diri . Dia tentu akan menyusulku kemari.   Aku harus  segera keluar dari Louisville.

Penerbangan  ke Jacksonville dijadwalkan pada jam 6.45.   Kulihat jam yang melilit  dipergelangan tanganku.  Jam enam seperempat.  Segera kuhubungi penjualan tiket.   Aku harus keluar dari Louisville secepatnya.  Tidak peduli tempat mana yang akan  kutuju.

Sambil  menunggu waktu yang di tentukan, aku berdiri mematung menatap para petugas  airport yang sedang membersihkan dan membenahi ruangan.

‘Lucy!’  tiba-tiba kudengar sebuah panggilan.  Panggilan itu begitu lirihnya tapi sanggup  untuk membuat tubuhku terlonjak kaget.  Secepat kilat aku memutar tubuh.  Irene  berdiri di depanku.

‘Irene,  apa yang kamu lakukan di sini?’ bisikku.

‘Membuntutimu, Lusy,’

‘Membuntutiku?   Aku tak mengerti maksudmu . Aku akan terbang ke Colombus menjenguk Papa,’  bohongku mulai tenang.

‘Kamu  tidak akan ke Colombus, Lucy, aku melihat kamu membeli ticket untuk ke  Jacksonville.  Kamu tidak berniat untuk pergi ke Jaksonville, bukan?’  desak  Irene. Aku benar-benar mati kutu. Irene telah mengetahui begitu banyak.
Sekarang apa yang akan di lakukannya?

‘Lucy,’  panggil Irene.  Kutengadahkan wajahku dan menatap langsung ke matanya.  Tidak ada  niat jahat di mata itu.

‘Kita  masih berteman, ‘kan?’ tanya Irene.

‘Ya,’  gumamku.

‘Kalau  begitu dengarkan aku.  Kamu tidak harus pergi ke Jacksonville.  Aku bisa  mencarikan kamu sebuah rumah di sekitar Louisville.’

‘Aku harus keluar dari  Louisville, Irene,’

‘Siapa  yang mengharuskanmu? Master David?’

‘Irene,  bagaimana kamu bisa tahu?’ tanyaku benar-benar kaget.

‘Lucy,  semua orang akan tahu dengan seketika.  Kamu dan Master david adalah dua saudara  kembar yang seharusnya bahagia bila di satukan lagi.  Tapi tak pernah sekali pun  kulihat kalian berbicara akrab.  Dan aku tahu pula bukan kamu yang menyebabkan  ketidakakraban itu. Master David terlalu sinis.  Jadi sudah sewajarnya jika kamu  tidak betah di rumah itu.  Tapi kamu tidak harus melarikan diri.  Hakmu atas  rumah itu sebesar hak Master David. Kamu tidak akan mengalah terhadapnya ‘kan,  Lucy,’ Irene menerangkan.  Oh, jadi Irene tidak tahu.  Dia tidak tahu kalau Papa  pun telah mengusirku pula.

‘Irene, kamu keliru.’

‘Tidak, Lucy.  Kemarin siang kamu bertengkar dengan Master David di hutan pinus ‘kan?  Aku tidak tahu apa yang kalian pertengkarkan tapi aku melihat wajahmu begitu murung ketika aku menyusulmu. Saat itu aku yakin kamu bakal melakukan hal-hal nekat, maka kuputuskan diriku untuk mengawasimu.  Jangan biarkan Master David menyakitimu,Lucy.  Tetap tinggallah di Louisville,’ pinta Irene.   Kugelengkan kepalaku.

‘Tidak bisa, Irene.   Tidak bisa.’

‘Mengapa  Lucy?’

‘Mereka  akan mengirimku kembali ke Indonesia nanti sore,’ jawabku jujur.  Dengan Irene rasa-rasanya tak ada yang perlu kurahasiakan lagi.

 ‘Siapa  mereka?’

‘Papa  dan David.’

‘Mister  Stanton?’ tanya Irene tak percaya, ‘Mengapa?’

‘Aku  tidak tahu.  Mungkin Papa dendam kepada Mama karena Mama meninggalkan  Papa.  Menurut keputusan pengadilan, aku adalah tanggung jawab Mama.  Aku  tidak mau pulang ke Indonesia.  Itulah sebabnya aku harus segera pergi dari  Louisville.’ Irene terdiam mendengar penjelasanku. Tiba-tiba kulihat mata Irene  berkaca-kaca.

‘Mengapa  harus kamu yang mnderita?  Mengapa bukan aku padahal aku yang berdosa,’ gumam  Irene lirih.  Aku tak mengerti makna dari ucapan itu.  Tapi aku sudah tidak punya waktu untuk menganalisanya.  Panggilan untuk menuju ke
pesawat sudah terdengar.

‘Irene,  aku harus pergi,’ bisikku.

‘Lucy,  jangan pergi, please?’ pinta Irene.

‘Kamu  tahu aku tidak bisa.’

‘Lucy,  kamu sama sekali tidak tahu daerah yang akan kau tuju,’ ucap Irene kuatir.

‘Jangan  takut, Irene.  Aku di lahirkan di Amerika. Ingat?’

‘Kamu  yakin ini yang terbaik bagimu?’

‘Ya,  Irene.’

‘Kalau  begitu aku akan  pergi menyertaimu.  Aku tidak punya siapa-siapa disini.  Aku bisa pergi kemana saja.  Aku akan menemanimu.’

‘Apa?!’  teriakku tak percaya.

 ‘Aku  akan pergi denganmu, Kita bisa cari kerja bersama.’

‘Irene,  tidak!’ jawabku seketika.

‘Lucy,. . . ‘

‘Tidak,  Irene.  Aku akan pergi sendiri.  Aku butuh waktu untuk diriku sendiri.’

‘Aku  tidak akan menyulitkanmu. Aku akan menghidupi diriku sendiri. Tapi biarkan aku menjagamu.’

‘Menjagaku?  Tidak! Aku tidak akan mengijinkanmu . Kamu kembalilah ke Stanton dan jangan  katakan kemana aku pergi. Mereka akan curiga bila kita lari bersama.’

‘Lucy,…’

‘Tidak, Irene.   Sekali lagi tidak!’

‘Lucy  biarkan aku menebus dosa?

‘Menebus  dosa?  Irene, ini tidak ada hubungannya denganmu.   Irene, jangan ngelantur.  Aku bisa berdiri sendiri.  Kamu akan  benar-benar menolongku bila kamu mau pulang ke Stanton lagi. Aku akan  menghubungimu, Irene. Kuminta kamu menyimpankan surat-surat yang datang dari  Indonesia untukku.  Mungkin suatu saat aku akan memintamu untuk mengirimkannya  kepadaku.  Oke?’

‘Kamu berjanji untuk menghubungiku dan memberi kabar?’

‘Ya, Irene, aku berjanji.   Nah sekarang aku harus pergi.’

‘Lucy,’ panggil Irene. ‘Boleh aku memelukmu?’ tanyanya.  Berdua kami berpelukan lama sekali. Enggan rasanya untuk melepaskan diri dari Irene.

 ‘Tuhan menyertaimu, Lucy,’ bisik Irene di tengah sedanya.  Kupandang dia dari mataku yang mulai mengabur. Irene satu-satunya orang yang paling dekat denganku sesudah Mama.  Aku tidak tahu apa yang telah mendekatkan kami berdua.  Mengapa dengan David yang saudara kembarku sendiri aku tidak bisa sedekat ini.  Mengapa?

to be continued ….

May Star

Baby Cumi Goreng Special

Categories:

Chinese and Seafood

Address:

Gandaria Mall

Sultan Iskandar Muda

Jakarta

Indonesia

Telp: +62 21 2905 2922

Opening Hours:

— am  –  — pm

Ambience:

Friendly

Attire:

Smart Casual

Price Range:

Rp 100.000 – Rp 200.000,- (USD 12,50 – 25) per person

Dates of   Visit:

June 02, 2011, Dinner with Maga, Junior, Ina Noe, Yanto, Ina, Sasya and Nanda

Our Orders and their Prices:

Baby Cumi Goreng Special   (Rp.  66.000,-)

Poh Cay Jamur Hitam  ( Rp. 75.000,-)

Udang Mayonaise  (Rp  117.000,-)

Lobster Goreng Telur Asin - Rp 1.079.000,-

Lobster Goreng Telor Asin   (Rp.  1.079.000,-)

Kepiting Soka Goreng Abon   (Rp.  102.000,-)

Tumis Ikan Iris - Rp. 177.000,-

Tumis Ikan Iris  (Rp. 177.000,-)

Asparagus Saus Belacan  (Rp.  96.000,-)

Sapi Lada Hitam - Rp 192.000,-

Sapi Lada Hitam  (Rp. 192.000,-)

Jus Buah Naga Merah  (Rp 29.800,-)

Orange Juice (Rp. 27.800,-)

Jus Buah Naga Merah - Rp. 29.800,-

My Personal Notes:

If your order exceeding Rp 1.000.000,- you  will get free Peking Duck and desert for all the members of your party.

You better check the prices before you order.  The waiters have the tendency to offer their rare fish or expensive  menus

Bunga Rampai: A Natural Retreat of Fine Cuisine

Bunga Rampai

Categories:

Indonesian Fine Dining

Address:

Jl.  Cik Ditiro No. 35

Menteng

Jakarta 10310

Indonesia

Telp: +62 21 3192 6224,  +62 21 3192 6225

Opening Hours:

11:00 am  –  11:00 pm

Ambience:

Old Indo-Dutch Style

Attire:

Formal

Price Range:

Rp 150.000 – Rp 200.000,- (USD 18 – 25) per person

Dates of   Visit:

June 03, 2011, lunch with Maga and Ina Noe

Our Orders and the Prices:

Otak-otak Batang Tebu

Nasi Hijau

Otak-otak Tangkai Tebu   (Rp. 47.000,-)

Coto Makassar   (Rp. 42.000,-)

Dendeng Rumahan    (Rp.  62.000,-)

Tahu Telor   (Rp.  45.500,-)

Tumis Kangkung Balacan   (Rp.  45.000,-)

Ayam Bakar Seruni   (Rp. 63.500)

Sego Tungku   (Rp. 60.000,-)

Nasi Ijo   (Rp.  15.000,-)

Es Jelly Lengkeng   (Rp.  25.000,-)

 Es Durian Kopyor   (Rp. 45.000,-)

Service Counter

Across Jakarta Eye Center

Bunga Rampai

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian Kedua)

Ribuan Mil Dari Mama (Bagian2)

Di luar gelap sekali sehingga sia-sia saja usahaku. Tapi aku tahu dengan pasti dari mana datangnya suara itu, dari pohon oak di depan sana. Siapakah dia? Aku makin penasaran. Makin lama kudengarkan makin yakin aku kalau yang menggesek biola itu tidak hanya seorang. Dua orang telah memainkannya bersama dengan penuh penghayatan. Perasaanku pun ikut terhanyut. Il Silenzio, lagu kematian.

Tiba-tiba mereka menghentikan permainan mereka dan menoleh.

 ‘Maaf jika aku mengganggu kalian,’ ucapku pelan.

 ‘Miss Lucinda!’ tegur Irene dan Oscar berbarengan.  Tak heran kalau Oscar memainkan Il Silenzio.  Lagu itu pasti dipersembahkan untuk orang tua dan adik-adiknya yang telah tiada.  Bagaimana dengan Irene? Apakah orang tua Irene juga sudah  meninggal?

‘Tidak keberatan jika aku ikut mendengarkan di situ?’ tanyaku.

‘Kemarilah, Miss Lucinda,’ ajak Oscar.   Aku mendekat dan duduk di samping Irene.

‘Belum tidur?’  tanya Irene halus

‘Hampir saja aku tertidur ketika mendengar permainan kalian.”

‘Apakah kami telah mengganggu tidurmu?’

‘Oh,  sama sekali tidak.  Kalian bermain begitu indahnya,” pujiku. “Kenapa kalian tidak main lagi? Anggap saja aku tidak ada di sini,’ lanjutku.  Oscar segera mengangkat biolanya yang di susul oleh Irene. Sesaat kemudian mengalunlah Green Sleeves. Indah sekali. Menghias malam yang senyap. Wajah murung Irene tampak semakin murung ketika membawakan lagu itu.

‘Indah sekali,’  bisikku ketika mereka selesai bermain.

‘Anda tahu lagu tadi, Miss Lucinda?” tanya Oscar penuh minat.

‘Aku pernah mendengarnya,’

‘Engkau pasti mengerti musik,” kejar Oscar tidak puas.

‘Aku tidak mengerti, Oscar.  Aku penggemar musik.  Aku  tahu mana musik yang baik dan mana musik yang tidak. Itu saja.”

“Bisa main biola?”

No…,”

‘Anda pasti bisa. Tidak ada orang yang mau menyempatkan diri untuk datang kemari jika dia tidak bisa main biola,’  debat Oscar.

‘Itu karena permainan kalian bagus sekali hingga mampu mengundangku untuk datang,’

‘Aku tahu Anda bohong, Miss Lucinda.  Ambillah biola ini dan mainkanlah sebuah lagu,’  desak Oscar sambil menyodorkan iolanya.

‘Oscar, aku tidak bisa,’

‘Anda bisa, Miss Lucinda.   Anda  juga pernah bilang kalau Anda tidak  berkuda padahal Anda mahir.  Mainkanlah sebuah lagu.’

‘Dengar baik-baik, Oscar, aku tidak bisa bermain sebagus kalian,’

‘Nah, benarkan? Anda bisa bermain. Mainkanlah lagu Indonesia, Miss Lucinda. Engkau mau ‘kan?’ pinta Oscar.  Matanya benar-benar mengharapkanku. Kuturuti permintaannya dan kumainkan ‘Melati dari Jayagiri’. Aku berusaha untuk tidak membuat kesalahan. Irene dan Oscar pasti akan segera mengetahui jika kesalahan itu kubuat. Telinga mereka pasti sudah benar-benar terlatih.

‘Apa nama lagu itu, Miss Lucinda?’  tanya Oscar begitu aku menurunkan biola kembali.

‘Melati dari Jayagiri.  Melati adalah nama sebuah bunga sejenis jasmine dan dalam lagu ini digunakan sebagai lambang untuk seorang gadis.  Jayagiri adalah nama sebuah tempat,’ jawabku asal-asalan.

‘Mainkanlah sekali lagi,’ pinta Irene mengejutkan.

‘Kamu  sungguh-sungguh memintaku?’ tanyaku tak percaya

‘Ya,” jawab Irene mantap.  Kumainkan Melati dari Jayagiri sekali lagi.  Aku tidak menyangka Irene bakal ikut bermain bersamaku. Daya tangkapnya luar biasa.  Begitu aku selesai, kuminta dia untuk memainkannya sendiri.  Dia menuruti tanpa cela.

 ‘I’ve got it,’  cetus Oscar tiba-tiba.

‘Engkau mau bermain pula, Oscar? Ini biolamu,’

‘Tidak perlu, Miss Lucinda . Aku membawa harmonika.  Mengapa tidak kita mainkan sekali lagi bersama?’  usul Oscar.   Aku dan Irene menyetujuinya.  Maka mengalunlah lagu itu di malam yang sepi di tengah padang rumput, seakan lagu itu tercipta khusus  untuk dimainkan di sini. B egitu pas dan sesuai dengan keadaan.  Begitu mengena.  Tentu pada waktu mencipta lagu ini Bimbo sedang berada di tengah-tengah padang rumput.

‘Apakah banyak komponis di Indonesia?’ tanya Oscar.

‘Ya, banyak juga.  Cuma . . . mereka jarang yang bisa muncul ke dunia Internasional. Masalahnya bukan tak mampu tapi tidak ada kesempatan.’

‘Aku percaya’  bisik Irene dengan suaranya yang lembut.  ‘Kalau mereka bisa mencipta lagu seindah tadi pasti masih ada lagi karya-karya lain yang indah.  Aku berharap dapat ke Indonesia nanti di suatu saat,’ lanjutnya penuh harapan.   Aku senang mendengar kata-kata Irene itu.

‘Nanti kita pergi bersama, Miss Irene,’ sela Oscar sambil tertawa. Giginya yang putih masih tetap tampak walau malam begitu pekat. Irene ikut tersenyum

‘Aku takut aku harus menunggumu terlalu lama,’ desah Irene.

‘Tidak,’  potong Oscar cepat. ‘Mulai besok aku akan menabung. Tidak ada lagi majalah sport yang kubeli begitu juga CD.’

‘Bukan itu, Oscar.  Tetapi menunggu kamu hingga jadi musikus dan mempunyai cukup uang untuk membiayaiku,’ canda Irene.

‘Membiayaimu?’ tanya Oscar serius.

‘Ya, mengapa tidak?   Aku yang mengajarimu main biola.  Kamu nanti pasti akan menjadi pemain biola handal. Pasti nanti uangmu berlimpah,’ hibur Irene.  Oscar berdecak senang.  Oscar boleh mempunyai cita-cita setinggi itu. Dia mempunyai sesuatu yang kuat untuk menunjukkan cita-citanya. Usia muda, bakat, dan satu lagi, dia hidup di Amerika yang membuka banyak kesempatan untuk dirinya.  Irene tahu itu, dia tidak hanya sekedar bergurau.

Kami masih bermain lagi, membawakan lagu-lagu ringan sebelum kami saling mengucapkan selamat malam karena kantuk yang tidak dapat di tahan lagi. Maka berlalulah sebuah malam yang indah.

Λ

Pagi itu aku kaget setengah mati ketika menjumpai Papa masih di rumah padahal aku sudah bangun terlambat.

‘Belum  pergi, Papa?’

‘Aku sengaja  menunggu hingga kamu bangun,’ jawab Papa.

‘Menungguku?  Mengapa?’ tanyaku tak habis pikir sebab belum pernah Papa pamitan padaku  sebelum pergi.

‘Aku  harus pergi untuk beberapa hari, jadi kurasa aku wajib untuk memberitahumu.   Semalam aku lupa mengatakannya.’

‘Mengapa  Papa tidak membangunkanku?’

‘Tidak perlu tergesa-gesa. Konperensinya baru dibuka sore nanti.’

‘Konperensi?’

‘Ya.  Konperensi di Universitas Ohio di Colombus.’

‘Universitas Ohio?’  tanpa kusadari aku telah membeo setiap ucapan Papa dan rupanya Papa menyadarinya.

‘Universitas Ohio memiliki fakultas pertanian yang terbaik di seluruh Amerika dan sering mengadakan konperensi dengan para petani. Karena Papa kebetulan seorang petani dan kebetulan pula Alumni dari sana, maka Papa mendapat undangan.”

‘O, . . . ‘ aku Cuma bisa melongo. Kemudian Papa mengeluarkan dompetnya dan menarik beberapa lembar ratusan dollar yang segera di ulurkannya kepadaku.

‘Belilah sesuatu.  Kamu belum pergi ke mana-mana sejak kedatanganmu kemari.  Besok pagi Irene akan ke kota, kamu bisa ikut dengannya.’

‘Terimakasih, Papa, tapi aku masih mempunyai sisa uang pemberian Mama,’  tolakku sok aksi.

‘Lucy, kali ini pemberian Papa,” Papa memaksa.  Kuterima juga akhirnya uang itu dan kumasukkan ke saku celanaku.

‘Aku sudah membuka rekening bank untukmu.  Dua  atau tiga hari lagi kamu akan menerima kartu ATM.  Sementara itu, kalau engkau kekurangan uang, bisa meminta pada David.  Oke, Lucy, Papa pergi dulu,” kata Papa.   Meminta pada David? Huu . . . rasanya lebih baik aku mati kelaparan daripada meminta darinya. Kuantar Papa sampai ke mobilnya.  Begitu mobil itu  menghilang aku segera mencari Denver dan memacunya ke hutan pinus.

Λ

Irene  begitu cekatan dalam membeli barang-barang yang di butuhkannya.  Dia telah  mencatat apa-apa yang akan dibelinya  sehingga dia tinggal memberi tanda  barang-barang apa saja yang sudah di ambilnya. Untuk berbelanja sebanyak empat  kereta belanja dia tidak memerlukan waktu lebih dari satu jam. Sedang aku . . .  mencari sebuah ransel untuk Adit saja telah menghabiskan waktu beberapa jam!   Mungkin karena kecekatannya itulah Irene di beri tugas untuk berbelanja ke kota  seminggu sekali.

Sebelum  ke kasir, irene mengeluarkan bundelan kertas yang ternyata merupakan kupon discount yang di kumpulkannya dari  majalah-majalah atau bekas pembungkus yang lama.

‘Cara  untuk mendapatkan uang ekstra,” bisik Irene lugu sambil tersenyum. Potongan  harga yang di dapat Irene lebih dari sepuluh persen dari jumlah seluruh  belanja. Dari uang itu dia membeli sebuah majalah sport dan CD untuk Oscar.

‘Irene, kamu begitu memperhatikan Oscar,’ cetusku tak bertahan dalam perjalanan pulang.   Irene memandangku sejenak sebelum menjawab.

‘Saya tidak tahu mengapa,  tapi saya menyayanginya.’

‘Yah,  kurasa semua orang menyayangi Oscar,” pendapatku.  ‘Apakah kamu mempunyai adik,  Irene?’ tanyaku kemudian. Lama dia tak menjawab. Hampir saja aku mengira Irene tak  mendengar apa yang kutanyakan kepadanya ketika tiba-tiba saja dia menghembuskan  nafas panjang. Aku tahu Irene tak suka menceritakan tentang dirinya. Seharusnya  aku tak bertanya tadi.

‘Engkau  tidak harus menjawab,’  kataku. Aku sama sekali tak mengira hal itu ternyata  justru memancing Irene untuk menjawab.

‘Tidak  ada yang perlu di sembunyikan, Miss Lucinda.  Aku tidak mempunyai siapa-siapa di  dunia ini.  Tidak saudara dan tidak pula orang tua,”  kata Irene datar. Astaga,  . . sadisnya aku.  Mengapa aku selalu ingin tahu urusan orang lain. Kalau tadi  aku tak  ertanya tentu Irene tidak harus menjawab dan kalau Irene tidak harus  menjawab dia tidak akan teringat kisah sedihnya.

‘Irene,’ panggilku lirih,  ‘Kamu mempunyai seseorang di dunia ini,. . .  aku. Maukah engkau menjadi temanku, Irene?’  Irene menatapku tak percaya.

‘Miss Lucinda?’

‘Panggil aku Lusi.  Kita sekarang  adalah teman,’

‘Miss … ‘

‘Lusi,’  potongku cepat.

‘Oke,  Lusi.’  Irene tergagap tetapi sebuah senyum manis tersinggung di bibirnya yang  tipis.  Ya Tuhan aku sangat kenal dengan senyum itu.  Tetapi senyum siapa? Irene  jarang tersenyum.  Lalu senyum siapa yang persis dengan senyum itu?

Λ

Aku  sedang membenamkan diri dalam lamunan di tepi telaga ketika kudengar kaki kuda  berderap mendekatiku. Kulirik Denver. Dia masih berada di tempatnya semula.   Lalu siapa? Georgie dan Oscar sejak tadi pagi sudah pergi ke ladang apel.  Derap  kaki kuda itu makin mendekat. Kusibakkan daun pinus yang ada dibelakangku dan  mengintip. David?!! Mau apa dia kemari? Ingin benar aku melarikan diri tapi  sudah tak mungkin lagi karena David sudah terlalu dekat. Dia akan segera  melihatku. Kuurungkan niatku dan duduk lagi dengan cemas. Apa pun yang akan  terjadi, terjadilah.

David  dan kudanya muncul di dekat Denver. Dia tidak kaget ketika melihatku, berarti  dia sudah tahu aku berada di sini. Tapi mengapa dia masih datang juga? Apa yang  ingin dia lakukan? David meloncat turun dari kudanya dan berjalan ke arahku.   Dia menatapku tajam. Kutantang matanya. Aku tidak mau menunjukkan rasa takutku,  dia akan menertawakannya. Akibatnya kami saling memberingaskan mata berusaha  menundukkan satu sama lainnya.

‘Aku  membawa kabar buruk buatmu.’  David memulai tanpa emosi.  Bayangan Mama melintas  dalam pikiranku.  Ada apa dengan Mama?

‘Ada  apa?’  tanyaku lemah.  Tidak lagi kuingat untuk menentang matanya. Aku tidak  ingin apa-apa lagi.

‘Papa terkena serangan jantung  sewaktu konperensi,’

‘Papa?’  tanyaku sumbang.   Jadi bukan Mama.

‘Ya.’

‘Papa  terkena serangan jantung?’ ulangku.   ‘Apakah Papa sering mendapat serangan  jantung seperti itu?’

‘Ya  dan tidak,’ jawab David. “Ya, Papa mendapat serangan jantung tapi Papa belum  pernah mendapat serangan jantung hingga kamu datang kemari.’

‘Apa  maksudmu?’

‘Untuk  apa sebenarnya engkau datang kemari?’ tanya David tak menjawab pertanyaanku.

‘Untuk apa kamu datang kemari, Lucinda?’  tanya David lagi ketika aku tidak  menjawab pertanyaannya.

‘Apa  hubungan antara kedatanganku dengan penyakit Papa?’ tanyaku keheranan.

‘Kamu  belum menjawab pertanyaanku. Untuk apa kau datang kemari?’ sahut David congkak.

‘Aku  takkan menjawab sebelum engkau menjawab pertanyaanku.’

‘Aku  yang bertanya lebih dahulu,’ bantah David keras.

‘Aku  tidak harus menjawab pertanyaanmu,’ aku tidak mau kalah.  Hutan yang tadi sepi kini mulai gaduh. Burung-burung mulai berterbangan dengan hingarnya, terganggu  oleh pertengkaran kami.

‘Oke,  dengar baik-baik, Miss Lucinda. Dokter Papa baru saja menelponku, bahwa Papa  sudah dalam perawatan. Dan dokter tadi juga menanyakan apakah ada peristiwa  mengejutkan yang terjadi dalam hidup Papa. Tak ada! Kecuali kedatanganmu  kemari.’

‘Itu bukan alasan yang  sesungguhnya.  Engkau hanya menduga,’

‘Lalu apa?’  tantang David.  ‘Bisakah kamu menamakan peristiwa yang telah mengejutkan Papa selain kedatanganmu?

‘Aku tidak tahu. Tapi aku yakin bukan aku penyebabnya.”

“Bukan  kau? Lalu siapa? Aku?” David tertawa sinis.

‘Hentikan  tuduhanmu yang tidak relevan itu,’ jeritku panas.

‘Memang  tidak relevan, tapi masuk akal,’ bantah David geram.  “Enam belas tahun yang  lalu ibumu juga telah berlaku kejam terhadap Papa, meninggalkannya tanpa pesan.   Dan sekarang kamu mau mengusik kehidupan Papa yang sudah tentram. Apa maumu,  Lucinda?’

David mengalamatkan Mama dengan ‘ibumu’ bukan ibu kita atau Mama. Hal  itu benar-benar menyakitkan hatiku.

‘Mama punya alasan kuat untuk meninggalkan Papa,’ belaku.

‘Alasan  kuat? Bah!!  Ibumu telah tergila-gila dengan pria hingga dia tega meninggalkan  keluarganya. Apakah itu alasan kuat?’ kecam David. Aku seperti kena tampar  mendengar kata-katanya yang kejam. Dia mengomentari wanita yang telah  melahirkannya dengan kata-kata serendah itu. Kemarahanku mencapai puncaknya.  Mama telah di hina, aku harus membelanya.

‘Tarik kembali  kata-katamu yang kurang ajar itu!’  hardikku

‘Aku  hanya mengatakan sebuah fakta tentang ibumu,’  ucap David begitu tenangnya.

‘Dia  ibumu juga dan dia tidak serendah itu.’

‘Dia  ibumu, bukan ibuku.  Dia talah memailih untuk menjadi ibumu dan Papa telah memilih untuk menjadi ayahku.  Aku tidak pernah mempunyai seorang ibu,’ sahut David.  Tuhan  apa jadinya jika Mama mendengar apa yang baru saja di ucapkan David?

‘Sekarang kamu harus menjawab pertanyaanku.  Untuk apa kau datang kemari?’  Tanya David  lagi.   Aku tidak menjawabnya. Tidak ada gunanya bercakap-cakap dengan manusia setan  seperti dia.

‘Berarti  dugaan Deidre benar,’  gumam David.

‘Apa  dugaannya?’  tanyaku benar-benar ingin tahu.

‘Engkau  datang untuk mencari warisan,’ jawab David seenaknya. Oh, dia mengira aku  serendah itu? ‘Tapi harap kau ingat, Lucy. Engkau tak bakal menerima sesen pun  dari Papa,’  lanjut David.

Kemarahanku  sudah tak terkendalikan lagi. Bukan karena mendengar aku tak bakal menerima  warisan, tetapi karena David mempercayai omongan wanita murahan macam Deidre.

‘Aku  tidak datang untuk itu. Aku tak butuh uang ayahmu,’ teriakku. Aku pun  ikut-ikutan dengan memanggil Papa sebagai ‘ayahmu’.

‘Oh  ya? Lalu untuk apa?’ tanya David tak percaya.

‘Untuk  menemui Ayahku.’

“Dia  bukan ayahmu lagi.”

‘Hubungan  Ayah dan anak tidak bisa hilang begitu saja sebagaimana hubungan ibu dan anak,”  sanggahku. David tertawa sinis. Alangkah bencinya aku mendengar tawanya.

‘Kamu salah. Lucinda.  Hubunganmu dengan Papa sudah putus sejak pengadilan memutuskan  perceraian ibumu dengan ayahku dan kamu menjadi tanggung jawab ibumu.  Kalau kamu masih menerima kiriman uang dari Papa itu karena Papa bermurah hati  kepadamu dan kamu harus berterimakasih untuk itu.’

‘Sudah kewajibannya untuk membesarkanku..’

‘Benarkah itu?  Apakah engkau belum besar sekarang? Berapa umurmu? Sembilan belas tahun. Padahal batas usia besar itu delapan belas tahun.  Papa tidak mempunyai kewajiban lagi terhadapmu.  Fair is fair, Miss Lucinda,’ kata David sambil tersenyum penuh kemenangan.  Aku tidak bisa menjawab.  Ingin benar aku menangis tapi sekuat tenaga kutahan.  David akan lebih girang lagi bila dapat melihat aku menangis.

‘Maaf aku telah menghancurkan harapanmu,’ kata David sinis. Kemudian dia berjalan menjauhiku.

‘Aku benci kamu! Benci sekali!’ teriakku. David menoleh.

‘Sama-sama,  Miss Lucinda.   Aku juga membencimu.  Benci sekali,’ ucapnya angkuh.  Inilah dia … dua  saudara kembar yang telah disatukan tetapi apa yang diucapkan adalah  kata-kata penuh kebencian.

Setelah  David berlalu barulah aku teringat kembali kepada Papa.  Mengapa kami harus  bertengkar sementara Papa sedang menderita?  Apakah benar aku telah mengejutkan  Papa? Tetapi mungkinkah itu? Bagaimanapun juga aku adalah anak Papa dan Mama toh  sudah meminta persetujuan Papa apakah aku boleh tinggal bersamanya atau tidak.

Kembali aku teringat penghinaan David tadi. Dia begitu keras kepala dan angkuh. Apakah dengan kata-katanya tadi dia  telah mengusirku secara tak langsung? Apakah aku harus pulang kepada Mama?  Tuhan, jangan biarkan hal itu terjadi.  Bukannya aku tidak mau bertemu dengan Mama.  Tetapi jika aku pulang, Mama akan segera tahu apa yng sesungguhnya terjadi. Mama akan tahu aku tidak diinginkan di sini.  Mama akan tahu anak sulungnya tidak menganggap Mama sebagai ibunya lagi.  Tetapi jika aku tidak pulang, tidak malukah aku?  Haruskah aku menebalkan muka dengan tetap tinggal di sini dan membiarkan David melakukan penghinaan seenak perutnya?  Aku benar-benar bingung.

to be continued …

IWS : For Those Who Prefer Light Noodle

Mie Ayam Komplit

Categories:

Noodle, Mie Ayam

Address:

Dharmawangsa Square, ground floor

Kebayoran Baru

Jakarta Selatan

Indonesia

Telp: +62 21 727 80853

Ambience:

Casual

Attire:

Casual

Price Range:

Rp 50,000 –  60,000  (US$ 6) per person

Dates of   Visit:

  • May 30, 2011, lunch with Maga
  • July 11, 2011, with Maga.  Met pak Dody (Thanks pak Dody for paying our food)

Our Order

Mie Ayam Komplit

Es Mangga Serut

Es Mangga Serut

This is the place we always go, when  we are hungry but we do not know what we want to eat

Soto Kudus Blok M

Soto Kudus

Categories:

Javanese Fast Food, Rice

Address:

Jl.  Wijaya No 44

Kebayoran Baru

Jakarta Selatan

Indonesia

Telp: +62 21 72800656

Ambience:

Clean and simple

Attire:

Casual

Price Range:

Rp 25.000,- (US$ 3,-) per person

Dates of   Visit:

May 29, 2011, dinner with Maga and Junior

Our Orders:

Nasi Soto Kudus Pisah, Perkedel, Dadar Telor, Bakwan Jagung, Otak Goreng Telur

Goreng-gorengan

Es Kelapa Muda, Es Tape Ketan

Es Tape Ketan

Mbah Jingkrak: A Dancing Granny Who Cooks Well

Dancing Granny

Categories:

Javanese Traditional Food, Rice

Address:

Jl. Panglima Polim IX  No. 19 A

Kebayoran Baru

Jakarta Selatan

Indonesia

Telp: +62 21 720 3772

Opening Hours:

Ambience:

Casual

Attire:

Casual

Price Range:

Rp 40.000,- (US$ 5,-) per person

Dates of  Visit:

May 29, 2011, lunch with Maga and Junior

Our Orders:

Oseng Genjer, Ayam Wewe, Oseng Kangkung, Tempe Lombok Ijo, Ayam Rambut Setan, Boiler Bakar, Mendoan, Tempe Bacem, Sambel Bawang, Oseng Kikil, Teri Buto Ijo

Teh Botol and Es Tobat.

Our Personal Notes”

“Ayam Rambut Setan”  is one of Mbah Jingkrak’s favorites, but beware, it is very very very hot!!!!  If you still want to order, you must order a lot of  teh botol with it.

Most of the food we ordered were yummy, except Es Tobat.  It had an unexpressable funny taste.