Category Archives: Places

Welcome to Utah

Entering Utah on September 3, 2010 at 5:44 PM.  Part of the long journey from Seattle, Washington to Austin Texas.

Utah 1

Utah 2

Oregon Vortex: Optical Illussions or Paranormal Phenomena?

The Oregon Vortex

The Oregon Vortex’s Phenomena were discovered by John Lister between the year of 1930 to 1946.  The area was known to the Indian as “The Forbidden Ground”.  It was said that Indian horses would not pass the ground, no matter what.

I and my husband were accidently saw the road sign to this place on our way to Crater Lake and decided to check it out.   Though some believed that the phenomena were  merely  optical illussions, but our experience was real.

Look at this picture:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Look at the difference height between me and my husband and than look at the next picture:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Did I shrink or did my husband grow  dramatically?

And look at the following 2 pictures:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

If you decide to check this place out, here is the address:

The Oregon Vortex
4303 Sardine Creek Left Fork Road
Gold Hill, Oregon 97525-9732

Voice+1 (541) 855-1543

E-Mailmystery@oregonvortex.com

Las Vegas, The Glittering Sin City On The Desert

Let me  list the reasons why I like visiting this city on the desert, even though you will not find gambling and drinking  in it since my son was still considered under age for such activities.

First of all, I like the buildings and their decoration on the Strip (it is the main street of Las Vegas).  Some  think that those building are tacky, but regardless what the think, I like them all the same.  Here some of the buildings.

The Aria Resort & Casino

The Dancing Fountain @ Bellagio

The Lobby of The Venetian

Paris Las Vegas

Second, the food.

The wonderful taste of beautifully presented food at the Eiffel Tower Restaurant

The Entertainment.  From musicals such as Phantom of the Opera (the shorter version than the one played in Broadway, New York), to magical show of David Copperfield.  Cirque du Soleil many performances: Elvis Presley, Viva Las Vegas @ The Aria, Beatles’ Love @ The Mirage.  Live Shows such as Donny & Marie @ Flamingo, Barry Manilow @ Paris Las Vegas, Jerry Seinfeld and Bette Middler @ Caesars Palace.  The list can go on and on and on.

The glitters of the night

Caesars Palace at night

The Shopping

Venetian Grand Canal Shopping Center

The luxury of the Hotel we stayed … it was the Vidara

Avenue of the Giants: Betapa Kecilnya Kita

Ada dua jalan utama yang bisa ditempuh bila mau berkendara dari Seattle ke San Francisco atau ke Los Angeles.  Melalui Interstate Highway 5 (I-5) atau US Route 101

Kalau mau cepat, pilihan ada di I-5, karena jalannya lebih lurus, lebar dan melewati pinggiran kota-kota besar seperti Seattle, Tacoma, Olympia,  Portland dan  Salem.  Jadi setiap saat pingin berhenti makan atau menginap, langsung bisa keluar.  Hanya saja menurut saya pribadi, jalan yang menghubungkan Canada di utara dan Mexico di selatan ini  agak membosankan.

Kalau mau menikmati pemandangan alam, US Route 101 jauh lebih menakjubkan.  Highway ini menyusur  pesisir barat Amerika dan melewati tiga negara bagian yakni Washington, Oregon dan California. Di Washington jalan ini bermula di Olympia, walaupun titik paling utaranya ada di Port Angeles dan berakhir di Los Angeles, California).  Salah satu titik wisata yang wajib dikunjungi bila melewati 101 adalah Avenue of the Giants.  Merupakan penggalan jalan 101 lama sepanjang 31 miles paralel dengan US Route 101 yang baru.  Lokasinya sekitar 2 jam dari perbatasan selatan negara bagian Oregon atau sekitar 5 jam dari San Francisco menuju ke utara.

Namanya saja sudah menarik,  Avenue of the Giants… Jalannya para raksasa.  Saya lebih senang mengartikannya sebagai jalan yang dilewati para raksasa.  Walaupun giants disini lebih untuk menggambarkan ribuan pohon redwood raksasa yang umurnya sudah ratusan tahun.

Sepanjang perjalanan di antara pohon-pohon redwood yang menjulang ini, nyaris kami tidak perpapasan dengan mobil lain, sehingga begitu mudah untuk membayangkan kalau kami telah tersesat di habitatnya para raksasa dan raksasi.

Barangkali kalau Raksasanya benar-benar ada, tingginya mungkin seperti gambar di atas.  Bandingkan dengan mobil yang berada di bawahnya.

Melintasi Avenue of the Giants membuat kami sadar betapa kecil dan tidak berartinya kami di tengah-tengah alam semesta ini dan betapa besar, betapa agung, betapa maha sang pencipta kita.

Di antara para raksasa

Rata-rata garis tengah pohonnya lebih dari 2 meter

Untuk memberikan gambaran seberapa besar dan seberapa tingginya rata-rata pohon redwood yang ada di Avenue of the Giants ini dibutuhkan empat frame foto untuk mengabadikannya.

Bagian pohon yang berlubang itu, cukup besar untuk dilewati mobil dan memang sengaja diperuntukkan sebagai obyek pariwisata.  Walaupun sudah dilobangi, pohonnya masih hidup dengan segar bugar.

Mobilpun bisa lewat di bawahnya

Mengendarai mobil melewati pohon ini cukup terkenal di sepanjang Avenue of the Giants.  Berikut adalah melewati pohon di tempat yang lain, yakni di Shrine Drive Thrue Tree.

Lobang alami

Jadi, pada kunjungan Anda ke Amerika Serikat yang akan datang, jangan lupa luangkan waktu Anda untuk mengagumi ciptaan yang Maha Pencipta di Avenue of the Giants ini.

Snoqualmie Falls, Washington

Snoqualmie Falls

Sebenarnya lokasinya tidak jauh – hanya sekitar 45 menit – dari Seattle,  namun setelah tinggal lebih dari satu tahun di kawasan Seattle, kami baru mengunjungi tempat ini untuk pertama kalinya.  Tepatnya pada tanggal 4 April 2009.  Padahal  Snoqualmie Falls ini adalah salah satu atraksi wisata Washington yang paling terkenal.  Lebih dari satu setengah juta orang mengunjungi tempat ini setiap tahunnya.

The Falls from Snoqualmie Falls Park Viewing Point

Pemandangannya pun begitu indah dan spektakuler. Air terjun Snoqualmie atau Snoqualmie Falls ini meluncurkan airnya dari tebing granit setinggi  268 ft atau sekitar 82 meter.  Terletak di antara kota Snoqualmie dan Falls City di Negara Bagian Washington.

Pada kunjungan pertama kami, taman bagian bawah sedang ditutup untuk publik.  Jadi kami hanya bisa menikmati keindahan air terjun ini dari viewing gallery di Snoqualmie Falls Park bagian atas.   Merasa tidak puas dua setengah bulan kemudian, kami melakukan kunjungan kedua ke Snoqualmie Falls.  Kunjungan kedua ini pesertanya lumayan banyak.  Ada keluarga Soehedi yang terdiri dari mas Agung, Yani dan ketiga anak mereka; Sasha, Adi  dan Noval yang sudah tinggal di Amerika selama 10 tahun.  Ada juga adik saya, Meina dan anaknya Widya yang sedang liburan ke Seattle.  Ternyata …… Yani yang sudah tinggal 10 tahun di Seattle dan anak-anaknya belum pernah mengunjungi tempat ini.  Jadi bisa dibayangkan betapa hebohnya mereka.

Selain mengunjungi air terjun, Downtown Snoqualmie juga menarik untuk dikunjungi.  Sekedar untuk  jalan-jalan, ngopi atau makan siang.

One Sunny Afternoon in Paradise

Paradise Inn, Mt. Rainier, Washington

July 20, 2010

A warm sunny afternoon is a rare oppurtunity in Seattle.  We would not going to waste a wonderful afternoon by just staying at home.  My son was even more than willing to leave his computer to join us.

We left our Renton Home and drove through Enumclaw, when we saw a big deer, as big a a cow, crossing the  street.

The distance from our home to Mt. Rainier National Park is about 60 miles.  And the distance between the entrance gate to Paradise Visiting Center is about 20 miles.

A long road among the evergreen trees

Leaving the town of Enumclaw, we drove among the giant evergreen trees.  Once in a while we saw Mount Rainier  all covered with everlasting snow peeking between trees.  Some other times it was standing proudly directly in front of us.

Reflection Lake

We stopped at Reflection Lake to take picture, where Mt. Rainier was reflected on the surace of the lake.

Our final destination was Paradise Visiting Center.  A wonderful place to sip coffee with Mt. Rainier looming over us through tall window.

Cafe inside the Paradise Visitor Center

Yellowstone: Taman Nasional Pertama di Dunia

 

Konon, kalau kita belum pernah ke Yellowstone artinya kita  belum pernah ke Amerika Serikat. Ungkapan tersebut sering didengungkan untuk mengungkapkan betapa pentingnya obyek wisata alam yang satu ini bagi Amerika Serikat.  The Land of Wonders atau Wonderland adalah nama lain untuk Yellowstone. Orang Amerika mendaulat taman ini sebagai salah satu tempat yang harus dikunjungi sebelum mati.

Yellowstone merupakan taman nasional pertama di Amerika Serikat, bahkan pertama di dunia.  Diresmikan pada pada tanggal 1 Maret 1872 oleh Kongres Amerika Serikat.  Sebagian besar kawasan Taman Nasional Yellowstone terletak di Wyoming (96%), sisanya  masuk ke negara bagian Montana (3%) dan Idaho(1%).

Ada lima jalan masuk menuju ke Yellowstone yakni: Gerbang Utara melalui kota Gardiner Montana, Gerbang Timur Laut melewati Cooke City, Montana, Gerbang Timur melewati kota Cody, Wyoming, Gerbang Selatan melalui kota Jackson, Wyoming dan gerbang Barat lewat West Yellowstone, Montana.

Karena kami – saya dan suami – memulai perjalanan dari  San Francisco dan akan meneruskan perjalanan menuju Seattle, maka kami merencanakan  memasuki kawasan ini dari Gerbang Selatan dan keluar dari Gerbang Utara

Dari San Francisco ke Yellowstone

Dari San Fransisco kami mengendari mobil melalui Sacramento, Lake Tahoe, Carson City, Reno, Salt Lake City dan Idaho Falls.  Sebuah perjalanan yang panjang (sekitar 1800 Km), namun sarat dengan petualangan dan pengalaman yang menarik. Untung perjalanan kami dilengkapi dengan  GPS (Global Positioning System) sehingga salah membaca peta dan tersesat tidak kami alami selama pejalanan ini.

Banyak obyek wisata menarik di sepanjang perjalanan menuju Yellowstone seperti: Lake Tahoe, tempat berlangsungnya Olympiade musim dingin tahun 1960,  Reno, kota  casino yang pertama dan terbesar di Amerika sebelum adanya Las Vegas dan tentu saja perjalanan tak terlupakan melintasi gurun Nevada dan gurun garam di Utah.

I-80 melintasi gurun Nevada

Keluar dari Reno, kami mulai memasuki gurun Nevada, melalui Interstate Highway I-80. Melihat jalan yang lebar, lurus, mulus dan lengang membuat saya berani menawarkan diri untuk mengganti suami mengemudikan mobil. Dia menolak, tidak yakin dengan kepiawaian saya.  Dia bilang angin di gurun  bertiup sangat kencang jadi pengangan di kemudi harus kuat dan reaksi harus cepat.  Untung saja dia menolak.  Perjalanan yang tadinya dimulai dengan cuaca cerah, matahari bersinar terang benderang pelan-pelan berubah menjadi mendung, hujan, badai, hujan es padat,  hingga ke badai salju.  Pengalaman mengemudi saya yang terbatas di jalan tol Jagorawi dan Pantura tidak cukup untuk menghadapi perubahan cuaca yang dramatis seperti itu.

Badai salju menghadang di depan

Di sepanjang I-80 yang melintasi gurun Nevada ada beberapa kota kecil seperti Winnemucca, Battle Mountain dan Wendover, sehingga untuk mencari makan atau secangkir kopi tidak menjadi masalah. Uniknya di setiap kota  kecil yang kami lalui tersebut pasti ada pusat casino-nya.

Keluar dari negara bagian Nevada, kami memasuki Utah. Begitu masuk Utah, keadaan alamnya benar-benar berubah drastis.  Bau garam langsung menyengat hidung.  Daratan yang tadinya danau air asin, the Great Salt Lake, yang kemudian mengering menjadi garam ada di kiri dan kanan I-80. Putih bersih menyilaukan mata. Saking putihnya kami seakan berjalan di atas awan.  Mempesona sekaligus mengerikan.  The Great Salt Lake merupakan danau terasin kedua di dunia setelah Laut Mati. Tidak ada sungai yang menuju maupun mengalir dari danau ini.  Danau ini mendapatkan sumber airnya hanya dari salju yang mencair. Karena penguapan, lama kelamaan debit danau ini semakin mengecil.

Gereja Mormon, Salt Lake City, Utah

Rencananya kami hanya mau singgah sejenak di Salt Lake City.  Tapi melihat kotanya yang damai dan penduduknya yang ramah, kami memutuskan untuk tinggal selama dua malam di Salt Lake City.  Suami saya yang gemar mempelajari hal-hal spiritual menggunakan kesempatan untuk mengunjungi Temple Square dan mencari buku mengenai agama Mormon  dan bagaimana Salt Lake City, yang jauh dari mana-mana bisa menjadi pusat agama Mormon sedunia.

Dari Salt Lake City kami melanjutkan perjalanan ke utara ke arah  Idaho Falls,  langsung ke Wyoming.  Sebelum masuk ke Yellowstone kami menginap semalam di Jackson Hole, kota terakhir di Wyoming sebelum memasuki Taman Nasional Yellowstone. Kota ini sebenarnya benama Jackson, namun karena terletak di lembah Jackson Hole orang jadi salah kaprah dan menyebut kota Jackson ini sebagai Jackson Hole.

Downtown Jackson Hole

Pada musim dingin, agak susah untuk mencari hotel di kota kecil ini karena ramai oleh pengunjung yang ingin bermain ski. Ada beberapa ski area di daerah ini. Yang paling terkenal adalah Jackson Hole Ski resort yang terkenal dengan turunan-turunan yang curam dan vertikal. Untung kami datang di saat musim ski sudah berakhir dan sebelum liburan musim panas tiba,  sehingga kami dapat tinggal di The Lodge at Jackson Hole.  Hotel yang dikelola oleh Best Western.  Tarip resmi hotel bergaya kabin ini 300-an dollar, tapi karena kami walk-in guest tanpa reservasi kami justru mendapat diskon 50%.  Lumayan.

Grand Teton: Surganya rusa

Grand Teton

 

Salah satu keuntungan pergi ke Yellowstone melewati Gerbang Selatan adalah melewati taman nasional yang lain yaitu Grand Teton National Park.   Sepanjang 42 mil (sekitar 65 Km) kami mengendari mobil  di dalam taman ini dengan disuguhi panorama yang spektakuler. Taman yang terletak di Rocky Mountains ini didominasi oleh jajaran pegunungan Teton dengan Grand Teton sebagai gunung yang tertinggi.  Di beberapa tempat sengaja disediakan tempat pemberhentian untuk mengamati keindahan alam yang unik.

Salah satu tempat pemberhentian

Pemandangan yang paling menakjubkan dari daerah ini adalah gugusan pegunungan yang puncaknya berselimutkan salju abadi dipantulkan melalui permukaan air danau Jackson.

Selama mengendarai mobil sekali-sekali sekolompok elk (sejenis rusa besar) menyeberangi jalan kemudian berlari bersembunyi di

Pegunungan Teton dari seberang Danau Jackson

semak-semak.  Kalau kita menghentikan mobil dipinggir jalan, mereka akan mengintip dari balik semak-semak, seakan menunggu apa yang akan kita lakukan berikutnya.

Kawanan elk di semak-semak

Di Grand Teton ini setiap akhir musim gugur, menjelang musim dingin terjadi pengungsian elk besar-besaran.  Lebih dari 7500 elk datang dan tinggal di tempat ini selama musim dingin.  Mereka datang dalam kelompok-kelompok kecil menempuh jarak hingga 65 Km. Sebagian dari mereka mengungsi dari Yellowstone. Pada musim semi elk-elk ini kembali ke tempat mereka masing-masing.

Yellowstone: Surganya para fotografer

Yellowstone yang mempunyai areal seluas hampir 9.000 Km2 ini terletak di dataran tinggi dengan ketinggian 7733 ft di atas permukaan laut.  Taman Nasional ini memiliki keunikan alam yang paling lengkap.  Mulai dari sungai, ngarai, danau Yellowstone yang merupakan salah satu danau terbesar di dataran tinggi di  Amerika Utara, Supervolcano paling besar di benua Amerika, kaldera, sumber air panas,  gunung lumpur dan lain-lainnya.

Selain alamnya, binatang penghuni taman ini juga beragam.  Bison (sejenis kerbau buruk muka) dan elk berkeliaran dengan bebas dimana-mana.  Kalau lagi beruntung, atau naas lebih tepatnya bisa bertatap muka dengan beruang.  Berbagai spesies burung, reptil dan ikan ada di taman ini.

Walaupun taman nasional ini luar biasa luasnya, namun untuk menikmatinya tidaklah sulit.  Rute untuk menjelajahi Yellowstone sudah tersedia.  Jalan semacam ring-road sepanjang 86 mil (sekitar 130Km) sudah dibangun melewati obyek-obyek wisata yang menarik.  Jalur hiking maupun bersepeda juta tersedia. Sehingga kita tinggal memilih sarana apa yang akan kita gunakan dan menentukan tempat-tempat mana yang ingin kita kunjungi.  Mana yang ingin kita nikmati lebih lama, atau mana yang mau kita lewatkan, tergantung waktu yang kita miliki.

Kalau kita datang dari Gerbang Selatan maka kita akan memulai petualangan kita dari West Thumb.  Kalau dari West Thumb kita ambil jalan ke kanan, kita akan melewati Fishing Bridge titik awal bagi mereka yang masuk dari Gerbang Timur.  Memutar lagi kita akan sampai di Canyon yang merupakan titik awal bagi yang masuk dari timur laut dan seterusnya

Walaupun jarak untuk mengitari Yellowstone bagian dalam hanya 130 Km, namun karena banyaknya tempat menarik yang pantas ikunjungi, serta kadang terjadi hambatan di jalan seperti terjadi migrasi bison besar-besaran,  jarak tersebut kami tempuh dalam waktu lebih dari 6 jam

Migrasi bison dengan pengawalan polisi dan park rangers

Pada waktu mengelilingi Yellowstone ini ada satu hal yang menarik untuk dicatat:  seperti halnya bison dan elk, fotografer juga ada dimana-mana.  Lengkap dengan kamera mereka yang super besar, super panjang dan super canggih.  Mereka berada dimana-mana, di tepi jalan, di pojok-pojok, di bawah pohon, di atas jembatan ngarai menunggu saat yang tepat.  Kalau di dekat geyser  mereka menunggu memancarnya air.  Di ngarai mereka menunggu matahari membiaskan warna emas ke bebatuan.  Di padang
rumput, mereka menunggu awan yang tepat. Begitu banyak yang bisa dibidik kamera di tempat ini.

Tempat-tempat yang harus dikunjungi di Yellowstone National Park

Sumber air panas dengan danau Yellowstone di latar belakang

Yellowstone memproklamirkan dirinya sebagai kawasan gunung berapi yang memiliki ladang geyser (air mancur panas)  terbesar di dunia. 60% dari geyser di dunia berada di kawasan ini.  Lebih dari 10,000 titik geyser, panas bumi, sumber air panas, gunung lumpur terdapat  di taman ini. Yang patut mendapat acungan jempol, tidak satupun sumber daya alam tersebut yang dikomersialkan dan dirubah menjadi energi seperti PLTU.  Bahkan tidak ada satupun pemandian air panas yang layak kita jumpai bila berkunjung ke Ciwidey, atau Garut di Jawa Barat.  Alam benar-benar dilestarikan di tempat ini

Geyser-geyser itu ada yang menyemburkan air panasnya secara berkala, ada juga  yang secara tiba-tiba.  Yang waktu penyemburannya hampir bisa dijadwalkan adalah Old Faithful Geyser.  Dia akan menyemprotkan air panas  dengan suhu sekitar 95 derajat Celcius setinggi hingga 40 meter setiap 60 hingga 110 menit.    Setiap muntahan berlangsung sekitar 1,5 menit hingga  5 menit.

 

Menunggu Old Faithful beraksi

Old Faithful menyemburkan air hingga 40 meter

Old Faithful menyemburkan air hingga 40 meter

 

Tepat di samping Old Faithful Geyser ini ada Old Faithful Inn, tempat kami menginap.  Hotel yang dibangun menggunakan kayu glondongan ini didirikan pada tahun 1903 dan merupakan salah satu bangunan favorit di Amerika. Walaupun hotel ini tidak memiliki fasilitas modern seperti TV, kolam renang, maupun internet, tapi hotel ini sangat pas untuk lingkungannya serta memiliki kemewahan tersendiri seperti perapian setinggi lima lantai, dan restaurant yang sangat luas.  Untuk olahraga ada sarana berjalan kaki untuk mengelillingi Old Faithful Geyser, Geyser Hill dan Grand Geyser dengan jarak tempuh yang bermacam-macam.  Untuk
hiburan, duduk di teras menikmati secangkir kopi sambil memandang Old Faithful geyser menyemburkan air diiringi denting piano dari lobby rasa-rasanya lebih dari cukup.

Tidak jauh dari Fishing Bridge, titik awal bagi mereka yang masuk dari Gerbang Timur, terdapat Mud Volcano (gunung lumpur panas) yang terdiri dari serangkaian kolam-kolam lumpur panas. Mud Volcano ini mengingatkan kami pada lumpur Lapindo, meskipun kalau dilihat dari ukurannya, kolam lumpur di Mud Volcano ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lumpur Sidoarjo. Di Mud Volcano  ini tidak mungkin untuk tinggal lama karena bau belerangnya yang menyengat mirip bau telor busuk.  Selain kolam lumpur panas, di area Mud Volcano ini juga ada obyek menarik lainnya yaitu sumber air panas Dragon Mouth.  Diberi nama itu karena goa yang terletak di bukit ini kalau mengeluarkan uap menggelegar seperti gelegar naga.

Kolam lumpur panas

 

Di seberang Mud Volcano, kita juga bisa menikmati kaldera dengan kolam-kolam lumpur panas yang lain.  Tempat ini mengingatkan kami pada kawah gunung Tankuban Prahu.

Grand Canyon of Yellowstone dan Mammoth Hot Springs

Menyerupai dan tak kalah menariknya dengan ngarai di Grand Canyon National Park, Arizona, Yellowstone juga memiliki Grand Canyon, Grand Canyon of Yellowstone.  Ngarai ini dilengkapi dengan dua buah air terjun:  the Upper Waterfall dan the Lower Waterfall.  Warna ngarai di bagian atas lebih menyolok dibandingkan warna ngarai  di bagian bawah.  Sinar matahari juga memainkan peran dalam permainan warna di bebatuan ngarai ini, sehingga banyak sekali fotografer yang rela duduk berjam-jam menunggu sinar yang tepat.

The Grand Canyon of Yellowstone

Obyek wisata lainnya yang pantas dan sebaiknya dikunjungi adalah Mammoth Hot Springs.  Tempat ini tidak lagi berada di ring-road dalam taman, tapi sudah dekat dengan Gerbang Utara.  Sumber air panas disini mengalir ke bawah melalui bebatuan yang mirip anak tangga.  Sayang debit air di sumber air panas ini mulai berkurang, sehingga efek air terjunnya tidak lagi seindah di brosur-brosur wisata.  Sebaiknya Anda mengunjugi tempat ini sebelum airnya benar-benar habis.

Mammoth Hot Spring yang dabit airnya mulai berkurang

Mengunjugi Yellowstone, taman wisata nasional pertama di dunia ini merupakan pengalaman yang sangat mengesankan.  Mudah-mudahan saya berkesempatan untuk mengunjuginya lagi. Dan mudah-mudahan hancur-lebur dan luluh-lantaknya Yellowstone seperti yang digambarkan di dalam film 2012 itu tidak terjadi, sehingga anak cucu kita bisa menikmati dan belajar darinya.

Good morning, Rae Mea

210

Wouldn’t it be great if everyday we wake up and greet a different place of the world?

Let me start today by greeting RAE MEA. A beautiful beach on the east side of Savu Island, East Nusa Tenggara, Indonesia. This beach may not be found in google earth. Dispite its exotic tropical virgin beauty, not too many people know its existance. Most Savuneses that I know – and I know a lot of them, since I married one – don’t know this hideout.

Rae Mea has it all. A blue crystal clear water. White silky sandy beach. A daring red canyon as daring as the one in Zion National Park, Utah, United States. A deep Savu Sea, the home of the Blue Whales and Sperm Whales.

It takes time to get to Rae Mea, but it is not difficult. From Jakarta you can fly to Kupang, East Nusa Tenggara. Batavia has a direct 3 hour flight from Jakarta to Kupang. Garuda has a once a day flight to Kupang with one stopover in Denpasar, Bali. From Kupang there are three times a day flight to Savu Island using a 12 passanger aircrafts. The flying time is around 45 minutes. Once you arrive in Tardamu airport of Savu, you only need another hour to get to Rae Mea.

Believe me, the time you spend travelling to get there is very much worth it.

025