Category Archives: Arts, Cultures and Collectibles

“Bunga Teratai Pakem di Kolam Teratai Kaki Gunung Merapi” oleh Rukmini

“Bunga Teratai Pakem di Kolam Teratai Kaki Gunung Merapi”

Artist             :   Rukmini

Material       :   Acrylic on Canvas

Year                :   1998

Size                  :   90 cm       x         100 cm

Collector       :  Laily Lanisy

Displayed @ Vega Marina Indonesia’s Office

“Kampung Nelayan” oleh Kartika Affandi

Kartika Affandi. Oil on Canvas. Laily Lanisy's Collection

Kartika Affandi-Koberl

From Wikipedia, the free encyclopedia

 Kartika Affandi-Koberl (born November 27, 1934), is an Indonesian artist born into a family of artists

Kartika Affandi – the daughter of Affandi and Maryati,  both were painters -was born in Jakarta in 1934.  Kartika became engaged to a young Javanese artist, Sapto, at the age of fourteen and when she was seventeen they were married. She bore Sapto eight children.

Kartika never received formal art instruction. From the age of seven, she was instructed by Affandi in how to paint with fingers and tubes directly on the canvas. Any mixing of colours is done on her hands and wrists. Kartika has no permanent studio; like Affandi, she prefers to paint outside in the village environment where she interacts directly with her subjects and on-lookers. This contrasts with most contemporary Indonesian painters, who work in their studios from mind-images, memory, photographs or sketches.

In a modern art world born in 1930s, in which men were still the predominant actors, Kartika is one of a small group of women who from the mid-1980s have succeeded in exhibiting their work on a regular basis and in gaining limited critical recognition. Even in this context, Kartika’s art emerges as unique, ranging as it does from conventional to subversive.

Following in the populist footsteps of Affandi, Kartika also has a long history of painting rural and dispossessed people such as fishermen, farmers, workers and beggars. Since these individuals pose while interacting with her and exchanging life histories as she paints, these must be considered portraits. Although narrative, her paintings when viewed close up dissolve into strong, abstract statements in energetically applied impasto oils. Kartika’s work ranges from the sweet and idyllic to an expressive realism that can be harsh. The latter is evident in her paintings of beggars, handicapped people and suffering animals and in her uncompromising depiction of the progress of old age, whether painting a stranger, her father, or herself.

 

“Pemain Tifa” oleh Tresna Suryawan

"Pemain Tifa", 2004, Oil on Canvas

Pada tahun 2004, Di Pasar Seni Ancol, kami berkesempatan untuk berkenalan dengan pelukis dari kota Bandung, almarhun  Tresna Suryawan.  Bahkan kami menunggu beliau menyelesaikan dua lukisan yakni ” Ibuku Cantik Sekali” dan “Pemain Tifa”, yang sampai hari ini kedua lukisan ini masih menjadi koleksi kami.

Junior, Me, Tresna Suryawan and Alfred @ Pasar Seni Ancol tahun 2004

Tresna Suryawan Wafat pada tanggal  26 Juni 2007 dalam usia 63 tahun karena komplikasi penyakit diabetes dan ginjal

 

“Ibuku Cantik Sekali” oleh Tresna Suryawan

"Ibuku Cantik Sekali", Oil on Canvas, 2004

Berburu Cap Batik

Berawal dari keinginan untuk menghiasi apartment di Seattle dengan hiasan yang benar-benar khas Indonesia, tetapi unik. Dan setelah melewati proses yang panjang dan diburu deadline karena harus selesai sebelum kembali ke Seattle, sampailah pada keputusan untuk membeli “cap batik”. Yang aku maksud dengan cap batik adalah cetakan atau alat yang terbuat dari tembaga yang dipakai untuk membuat batik cap. Aku yakiin, setelah dibingkai dengan manis, cap batik ini akan menjadi hiasan yang benar-benar menawan.

Mencari cap batik dengan motif tradisional, ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Untuk memesan cap yang baru memakan waktu lama. Terpaksa harus menggunakan networking untuk membeli yang bekas. Untung dari lahir hingga remaja aku tinggal di Karangkajen, Yogyakarta. Rumah ibuku dikelilingi juragan batik. Namun tidak serta merta aku bisa mendapatkan cap batik. Sebagian besar juragan batik ini sudah meninggalkan batik tulis dan batik cap dan beralih ke batik printing.

Namun dengan persistensi yang tinggi, bantuan tak terhingga dari keluarga, akhirnya berhasil juga kudapatkan beberapa cap batik tradisional bekas dengan kondisi yang masih bagus. Berikut adalah cap batik yang berhasil aku dapatkan. Mengingat susahnya untuk mendapatkan benda-benda ini, jangan-jangan sebentar lagi cap-cap batik ini menjadi barang antik yang diburu kolektor.

Motif Truntum:

Motif ini termasuk kelompok motif ceplok dari golongan geometris. Konon berasal dari kata “Taruntum” yang berarti senantiasa tumbuh bersemi, semarak lagi. Diciptakan sebagai simbol ungkapan rasa cinta yang tulus tanpa syarat dari istri kepada suaminya. Abadi dan semakin lama semakin subur berkembang biak (tumaruntum)

Motif Sido Luhur:

Berasal dari kata Sido (jadi) dan luhur. Motif tersebut mengandung harapan agar hidup menjadi luhur, berpangkat tinggi, berbudi luhur dan tabah menghadapi segala cobaan hidup

Motif Jlamprang:

Motif khas Pekalongan yang merupakan pengembangan dari patola India yang mendeformasi stilisasi bunga-bunga yang disusun melingkar atau berkeliling secara seimbang dan simetris. Motif ini simbol dari penjuru mata angin dan mempunyai makna kedamaian, kesejahteraan dalam keseimbangan.

Motif Semen Gurdo:

Semen atau bersemi/tumbuh. Semen mengutamakan bentuk tanaman dengan kar dan sulur atau sering disebut pohon hayat, bermakna kehidupan. Lar atau sayap garuda merupakan simbol perlindungan dari kekuatan Sang Pemelihara.

Makna dari motif tersebut adalah untuk mengingatkan bahwa manusia hidup di tengah-tengah lingkungan habitatnya yang sangan mempengaruhi jalan hidupnya. Berdamailah dlama kebaikan dengan laam sekitar sebagai sesama ciptaan Yang Maha Kuasa

Motif Kawung Brendi:

Motif kawung disarikan dari buah kawung, atau kolang-kaling yang dibelah melintang. Motif kawung terdiri dari kawung yang bertajuk empat dan mlinjon berbentuk segi empat yang garis luarnya terdiri dari garis lengkung. Motif ini mengandung pengharapan agar si pemakai adalah seorang manusia yang mempunyai ari suci (bibt unggul) yang dalam hidupnya berguna bagi nusa dan bangsa.

Motif Kawung Kopi Pecah:

Kawung yang diiris-iris sehingga bentuknya menjadi kecil-kecil seperti biji kopi. Motif ini mengandung makna kesedihan atau kesusahan. Untuk mengingatkan manusia bahwa kesedihan adalah salah satu lakon hidup yang harus dijalani.

Motif Beras Wutah:

Sering disebut juga sebagai Wos Wutah. Bermakna mudah mencari rejeki dan hidup berkelimpahan